#16 Cerita Dibalik Touring Indonesia Harmoni: Rute Sumatera

Kamaruzzaman Bustamam Ahmad

 


Tepat
tanggal 26 November 2021 Nyak Ver menyentuh aspal di pulau Sumatera. Rute
pulang ini memang masih memerlukan beberapa hari. Karena perjalanan kami agak
pagi dari Cilegon, maka penyeberangan yang kami pada pukul 8 pagi WIB. Setelah
dua jam menyeberang, begitu sampai di Bakauheni, kami langsung menuju ke kota
Bandar Lampung, untuk mencari penginapan. Rute ini tidak begitu jauh, hanya
berjarak 90 km saja.

Rute
lintas timur memang dikenal cukup ramai, walaupun sudah ada jalan tol di
beberapa provinsi yang dilewati. Di samping itu, kami juga selalu diingatkan akan
adanya kawasan yang rawan begal. Sebab, ada biker
yang mengalami begal, ketika melewati Lintas Timur.[1]
Karena itu, sangat disarankan untuk tidak riding
di malam hari atau berhenti di tempat sunyi, jika mengalami masalah dengan
kendaraan. Karena itu, kami pun menghindari jalan pada malam hari, selama
Touring Indonesia Harmoni. Cerita begal di Pulau Sumatera selalu menghantui
kami, sebab rute yang dilewati kerap sepi dari rumah penduduk.


Ketika
sampai di Bandar Lampung, kami langsung memesan penginapan untuk beristirahat.
Keesokan harinya, kami harus berangkat lebih pagi, sebab jarak Lampung –
Palembang agak lumayan jauh. Keesokan harinya, kami pun bergegas untuk memulai riding. Rute Lampung Palembang memang
dikenal rawan dan juga, kalau pun ramai jalan, lebih banyak ditemui truk-truk
sembako, yang membawa barang ke Pulau Sumatera. Perjalanan kami memang harus
banyak bersabar, sebab asap truk dan barisan kendaraan ini terkadang sangat
membahayakan jika memotong, tanpa perkiraan yang matang.

See also  #35 Cerita Dibalik Touring Indonesia Harmoni: Rute Pulau Jawa

Sore
hari, kami pun sampai di kota Palembang. Ketika hendak masuk provinsi Sumatera
Selatan, Nyak Ver agak sedikit saya pacu, supaya kawasan-kawasan yang rawan di
sekitar itu, terlewati dengan tidak ada kendala. Sang istri bertanya, mengapa
saya mengebut di jalur ini. Padahal sebelumnya, saya jarang memaju Nyak Ver
dengan begitu kencang. Saya hanya mengatakan bahwa jalur ini jalur yang rawan
bagi para rider, terlebih lagi
tampilan Nyak Ver kami akan mencolok, bagi mereka yang memiliki niat jahat.
Karena itu, ketika Nyak Ver sudah naik di atas jembatan Ampera Sungai Musi Kota
Palembang, perasaan saya begitu bahagia, sebab jalur yang rawan telah kami
lewati.


Namun,
kota Palembang adalah salah satu kota di Sumatera yang paling ramai. Macet
adalah pemandangan yang lumrah, mulai pagi hingga malam hari. Karena itu, saya
tidak punya niat untuk berlama-lama di jalan raya di kota ini. Bahkan untuk
mencapai penginapan pun kami harus berputar-putar untuk bisa mendapatkan titik lokasi
penginapan pada sore itu. Intinya, kota Palembang bukanlah ibu kota provinsi 20
tahun yang lalu. Sekarang kota ini memiliki jalur kereta api di tengah kota.
Jalanan yang macet, disertai dengan perilaku para pengendara, sebagian
penggunan jalan raya.




[1]

See also  The Stories of Perantau in Nusantara (#03)
Rahmat
Atjeh, “KENAK BEGAL!!! DI LINTASAN SUMATERA
😱😭
disuruh pilih nyawa atau harta, semua diambil Anj**Ng!,” 23 November 2020,
https://www.youtube.com/watch?v=aBrJFA-T9GM.

Also Read

Bagikan:

Tags

Leave a Comment