#47 Cerita Dibalik Touring Indonesia Harmoni: Rute Pulau Jawa

Kamaruzzaman Bustamam Ahmad

 

Dalam
diskusi ini, saya ingin mengakrabkan dunia biker
dengan gerakan sosial yang dilakukan oleh para aktifis NGO. Karena itu,
para peserta yang juga para biker
diminta untuk memberikan komentar bagaimana pesaudaraan salam satu aspal,
sejuta saudara. Selama ini, komunitas biker
memang jarang dilirik, khususnya untuk upaya penanggulangan radikalisme, ekstrimisme,
intoleran, dan terorisme. Pertemuan ini, pada gilirannya, menjadi momen untuk
menautkan filosofi persaudaraan dunia komunitas motor dengan GENDER (Gerakan
Deradikalisasi) di Indonesia.


Selepas
itu, kami makan siang bersama dan melakukan foto bersama di pelataran parkir.
Di sini persaudaraan mulai tumbuh. Motor para biker menarik perhatian para peserta dari NGO dan wartawan. Masing-masing
peserta sudah mulai memahami antara satu sama lain. Di antara mereka ada yang
saling menukar nomor kontak. Bahagia rasanya bisa mempertemukan dua komunitas
yang berbeda latarbelakang. Setelah acara ini, kami pamit langsung menuju ke
Tangerang.


Adapun
acara yang harus saya hadiri adalah ACRP (Annual
Conference Research Proposal
), yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama.
Inilah alasan mengapa kami tidak melanjutkan riding ke arah Kupang. Sebab kalau kami ke Kupang, dikhawatirkan
agak susah kembali lagi ke Tangerang, untuk mengikuti acara ini, sampai dengan
tanggal 24 November. Di sini Nyak Ver kami putar haluan menuju kota Tangerang,
untuk bertemu dengan para reviewer Kementerian Agama, yang akan menilai
proposal penelitian di lingkungan Kemenag.

See also  #33 Cerita Dibalik Touring Indonesia Harmoni: Rute Pulau Jawa

Kedatangan
kami ke acara ini memang menjadi hal keunikan tersendiri, sebab para reviewer
datang dengan pesawat terbang dari tempat asal kami. Sedangkan kami datang
dengan menunggangi sepeda motor. Selama acara ini, kami kemudian dapat
bersilaturrahmi dengan para dosen yang bertindak sebagai penilai proposal. Kali
ini, ACRP dilakukan secara daring dan luring. Seluruh tim penilai proposal
dikumpulkan di Tangerang, di salah satu hotel. Adapun peserta dari seluruh
Indonesia mengikuti acara ini secara luring.


Selama
3 hari, kami berjibaku dengan proposal peneliti. Menyimak proposal, lalu
mengkonfirmasi kepada peserta tentang isi proposal mereka. Pekerjaan ini memang
agak melelahkan, tetapi selalu mengasyikkan. Sebab, dari berbagai proposal yang
dinilai, paling tidak ada berbagai hal baru yang terjadi di Nusantara, yang
diangkat sebagai tema atau topik penelitian oleh calon peneliti. Oleh sebab itu,
proposal tetap disimak secara baik, sambil menyapa para calon dari berbagai
daerah di Indonesia. Pekerjaan ini adalah menilai proposal untuk tingkat Pusat,
sementara untuk level Perguran Tinggi, seperti pengalaman saya di UIN Imam Bonjol.


Also Read

Bagikan:

Tags

Leave a Comment