Memahami Eskalasi Timur Tengah: Israel, Iran, dan Gaza

KBA

Pendahuluan

Dalam beberapa hari belakangan, saya mencermati eskalasi baru antara Iran dan Israel. Eskalasi ini menarik bagi saya, sebab Iran adalah salah satu negara yang masih diincar oleh pihak Barat, untuk ditundukkan. Hemat saya, Amerika Serikat belum sepenuhnya menguasai Timur Tengah, jika belum menghancurkan Iran, sebagaimana negara-negara lain yang sudah diporak-porandakan selama hampir beberapa dekade terakhir. Saya malah memprediksi bahwa Amerika Serikat akan mencari cara menyerang Iran pada tahun awal tahun 2020-an hingga memerlukan waktu sekitar 2-3 tahun untuk meluluhlantakkan negara Persia ini. Namun Covid-19 yang muncul di Wuhan, malah membelokkan sedikit demi sedikit sinyal Amerika untuk mengganyang Iran.

Tentu saja prediksi saya di atas tidak akan mungkin terjadi, mengingat kondisi Iran saat ini, berbeda tentunya dengan negara-negara yang pernah dihancurkan sebelumnya di rantau Timur Tengah. Akan tetapi, begitu pengiriman rudal dan drone pada tanggal 14 April 2024 sebagai respon terhadap pengiriman bom oleh Israel, saya langsung mencoba membuka kembali beberapa catatan dan bacaan saya tentang Timur Tengah. Apakah eskalasi ini akan membuat pintu Barat untuk mengeroyok Iran, sebagaimana dilakukan di Irak, Libya, Afghanistan, dan negara-negara “boneka baru” di Timur Tengah. Respon dari Iran kepada Israel dalam pengiriman ratusan amunisi perang (drone, misil, dan rudal balistik) memberikan sinyal kuat, bahwa permusuhan antara Iran dan Israel dalam era kontemporer, juga representasi permusuhan abadi antara Barat dengan yang lainnya (the Others).

Dapat dikatakan bahwa ampir semua “mata dunia” mengarah kepada kedua negara ini. Akankah Israel membalas penyerangan dari Iran? Apakah sikap Barat yang ingin menghapus kekuatan baru di Timur Tengah akan terus berlanjut? Apakah Iran akan mendapatkan simpati dunia? Bagaimana sebenarnya arah masa depan Timur Tengah dan dampak eskalasi ini secara global?

Beberapa Akar Masalah

Akar masalah dari penyerangan Iran ke Israel adalah karena Konsulat Iran di Syria dibom oleh Israel pada bulan Ramadhan 1445 yang lalu. Iran menunggu hingga beberapa hari, setelah Idul Fitri untuk mengirimkan “pesan” kepada Israel untuk tidak mengganggu wilayah teritori mereka. Adapun Israel sudah merasakan “frustasi” kepada Iran, karena dianggap bahwa negara Iran berkontribusi aktif dalam organisasi HAMAS, Hizbullah, Houthi, dan milisi pro-Iran di Irak. Alasan ini ingin mengatakan bahwa Iran melakukan proses Proxy War di Timur Tengah untuk menyerang Israel, yang dimulai sejak resmi sejak 7 Oktober 2023. Dalam beberapa bulan terakhir, Israel mendapatkan tekanan internasional bahwa pemerintah Netanyahu telah melakukan genosida di Gaza. Akan tetapi, setelah penyerangan Iran, pihak Barat tentunya berbalik arah berdiri di samping Israel.  Paska-serangan tersebut, Amerika Serikat dan sekutunya akan berdiri di samping, namun tidak mau melibatkan diri dalam penyerangan balik, jika Israel ingin melakukannya.

Perihal sikap Israel yang tidak memerdulikan seruan dunia terhadap perlakuannya kepada warga Gaza juga ikut menyulut kemarahan Iran, tampaknya. Terhadap persoalan ini, Iran tampaknya tidak ingin terlihat langsung terlibat dalam persoalan di Palestina. Persoalan pemboman Israel ini menjadi salah satu tipikal pemerintahan ini untuk selalu menyerang siapapun dan dimanapun, jika mereka mencurigai, telah mengganggu keamanan nasional Israel. Tentu pertimbangan intelijen telah diperhitungkan, sebelum melakukan aksi tersebut, sebagaimana aksi Israel sebelumnya yang membunuh ilmuwan Iran yaitu Mohsen Fakhrizadeh, yang dilakukan oleh Mossad. Sebelumnya, Israel juga memfasilitasi pembunuhan salah seorang petinggi militer Iran, yaitu Qassim Sulaimeni melalui pengiriman drone oleh pemerintah Amerika Serikat sebagai bagian dari operasi rahasia CIA.

Pola pembunuhan demi pembunuhan oleh Mossad tampaknya tidak terpungkiri. Bahkan beberapa pentolan HAMAS juga pernah menjadi sasaran Mossad di dalam menjalankan pembunuhan berseri oleh dinas intelijen Israel ini. Model pembunuhan oleh Mossad memang dikenal sebagai targeted killing. Mereka akan diterjunkan untuk membunuh target, dimanapun berada dan dalam keadaan apapun sang target, dimana mereka harus dilenyapkan. Model pembunuhan atau pemboman Konsulat Iran, tidak akan lepas dari hasil perkiraan Mossad yang menyisir semua posisi petinggi militer Iran selama ini. Menurut laporan, Mossad telah membunuh hampir 3000 jiwa selama operasi targeted killing mereka di berbagai tempat.

See also  Indonesia After Jokowi

Kemarahan Iran sangat wajar, kendati mereka sudah memperhitungkan resiko terburuk, ketika menyerang Israel. Simpati terhadap negara Israel akan naik. Masyarakat internasional akan sedikit bergeser perhatian mereka dari Gaza. Reputasi Netanyahu akan naik di dalam kancah politik dalam negeri Israel. Pamor Biden akan juga naik menjelang pemilu pada tahun ini. Sekutu Amerika akan semakin yakin untuk mencari waktu yang tepat untuk melakukan aneksasi terhadap Iran. Hanya saja, pihak Amerika Serikat tetap memutuskan untuk tidak melakukan proses aneksasi Iran sebagaimana dilakukan pada negara-negara lainnya di Timur Tengah. Inilah dilemma bagi Israel, bahwa mereka harus “bersabar” untuk membalas aksi Iran terhadap wilayah kedaulatan mereka.

Israel: Duri Kecil dalam Kestabilan Global?

Israel adalah salah satu negara para imigran dari kelompok Yahudi di Eropa yang pulang kampung dalam satu abad terakhir. Disebutkan bahwa:

The creation of the State of Israel was the result of a Jewish-European idea.

Karena itu di Israel, selain ada penduduk asli, tampaknya penduduk imigran yang sangat boleh jadi memiliki dual citizenship tidak dapat dipungkiri. Dalam konteks ini, penduduk Palestina juga memiliki komposisi tersendiri yang tidak dapat dikesampingkan. Israel adalah negara yang nyaman, tetapi selalu muncul perasaan tidak aman di kalangan penduduknya. Secara geografis, Israel harus melakukan pengaruhnya, untuk dapat bertahan sebagai “tamu” di negara-negara Arab. Karena itu, geografi yang “nyaman dan selalu merasa tidak aman”, maka faktor utama adalah mengamankan wilayah udara mereka dari serbuan musuhnya, yaitu Iran. Tim Marshall dalam The Power of Geography (2021:112) sudah mengatakan bahwa:

Its Iron Dome missile defence system is coveted, especially because of the perceived threat from Iran.

Karena perasaan yang selalu merasa tidak aman, maka secara geo-politis, mereka akan selalu mencoba melakukan berbagai hal supaya dapat diterima dalam pentas global, tetapi bukan dalam perasaan kedamaian, melainkan untuk perasaan yang tidak aman selalu. Mereka mampu bertahan dalam konteks ini, khususnya ketika negara-negara asal para imigran ini, memberikan dukungan penuh, terhadap pemerintah Israel. Persenjataan selalu terdepan. Akses terhadap bantuan keamanan dari Amerika Serikat mengalir. Jaringan Intelijen pun sepertinya tidak terbatas. Pola Lobi Yahudi pun selalu dilakukan, demi menjaga kedaulatan Jewish State dari kepungan Arab.

Negara yang secara geografi, wilayahnya seperti mata pedang ini selalu melakukan penindasan terhadap negara-negara yang tidak setuju dengan kebijakan politik global. Di sini, Palestina ketika Israel berdiri, langsung menjadi negara yang dijajah sepanjang masa oleh Israel. Tidak ada kekuatan mana pun yang dapat menghadang laju pembantaian. Hal ini disebabkan perasaan yang tidak aman, yang selalu diincar oleh para pejuang dari Palestina. Proses pengambilan tanah dan pengusiran warga Palestina yang mempersempitkan ruang gerak masyarakatnya, telah menyebabkan Gaza sebagai the largest open air prison in the world.

Karena Palestina berhasil dijajah sepanjang masa oleh Israel, maka musuh bebuyutan yang menganggunya adalah Iran. Selama ini, Israel memang ingin mengajak Iran untuk berperang secara terbuka. Berbagai aksi di atas, pembunuhan demi pembunuhan, yang disertai oleh pemboman adalah bukti kuat bahwa, Israel yang memandang bahwa mereka mendapatkan “restu” dari Amerika dan sekutunya, adala bentuk pancingan supaya Taheran meresponnya. Sebab begitu Taheran merespon, maka provoksi Israel tersebut berhasil memancing Amerika dan Sekutunya untuk menyerang Iran.

See also  What the Chinese Government Did to the Australian Economy: A Painful Lesson

Iran: Pemain Baru di Timur Tengah?

Iran adalah Pemain Baru di Timur Tengah. Setelah beberapa negara Arab lainnya hancur dan Sebagian lainnya tunduk pada Amerika dan sekutunya, maka negara Persia inilah yang masih kokoh berdiri tegak di pentas internasional dari Timur Tengah. Mereka merupakan aliansi dekat dengan Russia dan Cina, dimana dalam konteks global, mereka adalah negara-negara yang berani mensejajarkan diri dengan negara adi daya, Amerika Serikat. Sebagai pemain baru, Iran harus berperan langsung maupun tidak di kawasan Timur Tengah. Mereka kerap mendapatkan sanksi dari negara-negara Barat. Memiliki masalah dalam negeri dalam hal hubungan pemerintah sekarang dengan keluarga yang pernah terusir sebelumnya sejak Revolusi Iran tahun 1979.

Negara Israel juga sudah mulai membuka diri dengan negara-negara yang tidak begitu senang dengan negara ini. Persenjataan nuklir adalah salah satu kunci utama, kenapa Iran disegani. Perihal minyak di Timur Tengah juga tidak kalah pentingnya, untuk melihat Iran sebagai negara yang paling punya nilai tawar di pentas global. Selat Hormuz, sebagai selat paling sempit di dunia, merupakan lalu lintas perjalanan minyak dari Timur Tengah ke luar kawasan tersebut. Sehingga, siapapun yang menganggu Iran, maka Iran akan “meletakkan wibawa keamanan nasionalnya” di Selat Hormuz. Jika “wibawa” ini dimplementasikan oleh Iran, maka ekonomi global akan berdampak cukup signifikan, khususnya pada Amerika Serikat dan sekutunya.

Karena itu, Iran dipandang sebagai Pemain Baru dan sekaligus menjadi incaran Amerika Serikat sepanjang masa, untuk ditaklukkan. Karena itu, Amerika Serikat sangat menunggu kapan terjadi pelemahan di dalam pemerintah Iran, untuk kemudian menggerakkan proxy war-nya, untuk menggantikan rezim di tampuk pemerintahan tertinggi. Tidak mengherankan keluarga Syah yang pernah menguasai Iran, sampai sekarang masih “terpelihara” dan “terjaga” secara baik di beberapa negara Barat. Mereka tentu saja, tidak akan pernah setuju dengan apapun kebijakan pemerintah Iran di dalam menyerang Israel baru-baru ini.

Gaza: The Largest Open Air Prison in the World?

Gaza adalah salah satu kawasan penjara kemanusiaan yang terbesar sepanjang abad. Saat ini, ada jutaan manusia yang menderita kelaparan, akibat daripada perang antara HAMAS dan IDF. Operasi darat IDF saat ini memang masih jauh dari kata berhasil, sebab perlawanan HAMAS masih terus berlanjut. Di sini, HAMAS memperlambat kemenangan Israel di dalam upaya mereka untuk memperlebar wilayah okupasi Gaza secara bertahap. Oleh karena itu, persoalan Gaza saat ini menjadi bencana kemanusiaan terbesar di dunia. Kata ‘damai’ masih jauh daripada impian penduduk di Gaza.

Ketika ada upaya untuk menekan Israel, maka angin segar bagi penduduk di kawasan tersebut. Saat ini, upaya perluasan dan kontrol penuh terhadap Gaza oleh Israel sedang masih dilakukan. Keinginan untuk mengontrol ini tentu saja bersamaan untuk menggantikan posisi HAMAS di Jalur Gaza. Keadaan ini tentu saja bukan hanya menyulitkan bagi warga Gaza, tetapi membuat masa depan warga ini tidak begitu mencerahkan. Sebab, ketika kontrol dan kekuasaan dari Israel berlaku di dalam kehidupan mereka, maka mereka benar-benar berada dalam suatu penjara yang sangat luar, dimana di dalamnya terdapat keluarga-keluarga yang super terbatas ruang geraknya.

See also  The Most Important Things to Keep in Mind if There is a War in Southeast Asia

Keadaan di atas tentu akan memunculkan sentimen global yang memaksa suatu keadaan Israel harus meyakinkan bahwa mereka mampu mengatur dan mengontrol Gaza. Sementara itu, kampanye HAMAS sebagai organisasi teroris akan terus didengungkan, supaya masyarakat internasional dapat mengecam aksi gerakan ini, tentunya. Karena masyarakat berada di tengah-tengah, maka sebagai penjara, mereka dibuat seperti terong yang dapat digulir kemana-mana, di setiap sudut Gaza, seperti yang terlihat hari ini. Karena tidak pilihan, sebab Israel akan terus memperkuat kontrol dan kuasa mereka di Jalur Gaza.

Akibatnya, sentimen global dan dibarengi dengan keadaan di Gaza sendiri, dimana antara kesabaran dan keputusasaan saling Bersatu dalam keadaan yang memilukan bagi warga Gaza. Saat ini, bantuan terus berdatangan, tetapi bagaimana arah masa depan generasi di Gaza, menjadi pertanyaan yang sukar dijawab. Pembantaian atau lebih tepatnya genosida, atas nama memburu teroris, oleh IDF tentu memiliki catatan lain, untuk mengatakan bahwa niat ingin mengontrol dan menguasai Gaza, akan menghapus dosan bagi IDF, untuk terus melakukan operasi darat dan membantai siapapun, yang dipandang berkaitan dengan HAMAS.

Beberapa Kemungkinan ke Depan

Setelah serangan Iran ke Israel, tampaknya dapat dipastikan bahwa Israel akan membalas atas serangan ini. Hanya saja, model penyerangan Israel, melalui operasi dari Mossad, akan menargetkan hal-hal tertentu yang menjadi punca dari keputusan Iran menyerang mereka. Inilah tradisi operasi targeted killing selama puluhan tahun, setiap mereka menjalankan operasi balas dendam. Karena itu, punca target dari Mossad dapat dipastikan fasilitas, individu, dan penguatan kekuatan proxy mereka di dalam maupun luar negara Iran.

Sebagai aksi balas dendam, biasanya Israel tidak akan mendengar nasihat darimanapun, kecuali meminta pertimbangan dari aliansi mereka, baik sesudah maupun sebelum. Tingkat resiko yang diambil pun biasanya sudah diperhitungkan. Dalam hal ini, menunjukkan bahwa Iran tidak akan tinggal diam, jika mereka diserang dari sisi manapun oleh Israel. Iran juga memberikan pesan tertentu, kepada Amerika Serikat dan Sekutunya, jika terlibat secara langsung dalam operasi balas dendam, jika nantinya Israel membalas.

Dalam hal ini, Israel sangat boleh jadi membidik tokoh-tokoh penting tertentu, baik di dalam maupun diluar negeri Iran. Demikian pula, fasilitas yang memperkuat persenjataan juga dapat menjadi incaran Israel. Karena itu, balas dendam dari kedua negara ini akan menjadi drama baru konflik di Timur Tengah. Di samping itu, keberadaan Biden dalam konflik ini juga akan memberikan pesan dua arah, terhadap situasi di Israel dan Amerika Serikat. Biden dan Pemilu adalah hal yang tidak dapat dielakkan. Demikian pula, persoalan popularitas Netanyahu terhadap situasi politik di Israel, juga akan menjadi semakin runyam dan rumit. Sebab setiap perdana Menteri yang menggiring perang di Israel, selalu menghadapi tekanan, tidak hanya dari dalam maupun dari luar.

Saat ini, beberapa warga Israel yang memiliki dua citizen pun sudah mulai meninggalkan Israel. Dengan kata lain, negara ini sudah tidak begitu aman untuk ditinggali. Karenanya, pulang ke kampung halaman adalah pilihan terbaik bagi mereka, sambil menunggu keadaan Kembali membaik. Pada saat yang sama, jika terjadi eksodus besar-besaran ekspatriat dari Iran ke luar negeri, maka dapat dipastikan sinyal aksi saling balas dendam antara Iran dan Israel, hanya menunggu waktu saja. Dalam hal ini, peran Amerika dan Sekutunya akan menjadi hal yang cukup penting, yaitu apakah mereka ingin membantu Israel menyerang, karena sebelumnya mereka membantu Israel untuk bertahan, atau mereka ingin menghadapi Krisi ekonomi global, jika terhadap perang terbuka dengan Iran.

Also Read

Bagikan:

KBA

Tags

Leave a Comment