#14 Cerita Dibalik Touring Indonesia Harmoni: Rute Sumatera

 

Namun begitu
memasuki jalur perbatasan Sumatera Barat, kami memilih tidak mengikuti jalur ke
Bukit Tinggi, melainkan melewati Lubuk Basung, kemudian masuk ke Pariaman dan
langsung sampai di Kota Padang, ibukota provinsi Sumatera Barat. Perjalanan di
atas aspal di Sumatera Barat memang mengasyikkan, sebab jalanan yang mulus dan
minim lobang dan gelombang. Demikian pula, pemandangan hutan dan pegunungan di
jalur Sumatera Barat merupakan sesuatu yang amat mahal untuk dilewatkan.

            Setelah sampai di Kota Padang,
perjalanan dilanjutkan menuju Bengkulu. Namun, karena waktu dimulai perjalanan
dari Padang, agak kesiangan, maka jalur yang ditempuh hanya Padang – Air Hadji.
Jalur ini memang melewati areal pemandangan laut dan perkampungan di Sumatera
Barat. Mulai jalur ini, kami memang sudah mendapatkan jalur baru, yang belum
pernah kami lewati sebelumnya. Sebab, ketika sampai di Padang, saat bersama
keluarga, kami memutar ke arah Bukit Tinggi – Pekan Baru. Jalur menuju Air
Hadji juga melewati beberapa kabupaten di provinsi Sumatera  Barat.

        


   

    Setelah menginap di Air Hadji, maka
target berikutnya adalah kota Bengkulu. Perjalanan menuju ke kota Bengkulu
adalah jalur yang cukup menantang, karena kita akan beriringan dan berhadapan
dengan truk-truk perusahaan kelapa sawit dan batu bara. Selain itu, jalanannya
juga banyak yang rusak dan berlobang. Hal ini disebabkan jalur ini memang jalur
yang hanya satu-satunya untuk mencapai kota Bengkulu. Namun demikian,
pemandangan yang disungguhkan selama perjalanan menuju Kota Bengkulu memiliki
arti tersendiri bagi pengalaman Touring Indonesia Harmoni.

            Sesampai di kota Bengkulu, kami pun
melanjutkan ke arah provinsi Lampung. Di sini, target yang hendak dituju adalah
kota Bandar Lampung, di mana tidak begitu jauh dari kota Bengkulu. Namun,
karena kami berangkat dari Bengkulu agak kesiangan, maka diputuskan kota untuk
menginap pada malam itu adalah Manna. Jalur dari Bengkulu ke Manna memang tidak
jauh, namun kami dihadang oleh hujan deras selama perjalanan. Mulai jalur ini,
kami sudah diingatkan akan bahaya begal di jalur-jalur yang sepi atau ketika
masuk ke hutan. Dalam keadaan basah kuyup, kami akhir sampai di salah satu
penginapan di Manna.


          Pagi harinya, kami melanjutkan
perjalananan ke arah Lampung. Karena kehujanan selama perjalanan dari Bengkulu
pada hari sebelumnya, maka di dalam menempuh rute ini, saya mulai kurang fit.
Demam, flu, dan batuk pun mulai menyerang. Selama perjalanan badan kurang
bersahabat dengan dengan jalur yang ditempuh. Tubuh ingin rasanya tergeletak di
atas ranjang. Namun, jarak harus terus dikurangi demi mencapai tujuan. Setelah
sampai di satu warung makan, karyawan mengatakan bahwa ada kota kabupaten
terdekat di depan kami. Mereka menyebutnya Peringsewu.

            Begitu maghrib, kami pun sampa di
salah satu penginapan. Suara sudah tidak begitu jernih. Hidung meler. Badan
menggigil. Kami hanya ingin mendapatkan penginapan untuk beristirahat. Beberapa
obat yang disiapkan pun saya minum, demi menjaga kesehatan, agar tidak drop. Di
penginapan saya hanya berharap bahwa ini merupakan sakit yang biasa. Karena
rute yang akan dilalui masih sangat jauh. Malam itu kami pun istirahat total. Dalam
benak istri saya, kalau kami demam dan ada hal-hal lain, maka sangat
dikhawatirkan akan terkena Covid-19. Jika hal ini terjadi, maka yang paling
menakutkan adalah saya harus dikarantina.


Touring Indonesia Harmoni: Menyusuri Pantai Barat Selatan Aceh hingga Padang

Touring Indonesia Harmoni: Dari Aceh ke Papua, Menyusuri Pantai Barat Selatan dengan panorama laut dan jalan sepi yang memanjakan mata.

 

 

Istirahat sejanak di Pantai @ Bakongan, Aceh Selatan

Pendahuluan

Istirahat sejenak di Pantai Bakongan, Aceh Selatan, menjadi momen yang menenangkan sebelum melanjutkan perjalanan jauh. Dalam touring jarak jauh, hal yang paling penting adalah memilih rute perjalanan yang tepat. Touring Indonesia Harmoni menargetkan perjalanan dari Aceh hingga Papua, menempuh jalur darat sejauh ribuan kilometer. Karena itu, perencanaan rute, waktu, serta anggaran menjadi hal utama agar perjalanan efektif, sekaligus memungkinkan untuk singgah di berbagai provinsi sepanjang jalur kepulauan Indonesia: Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Halmahera, hingga Papua.

Menyusuri Pantai Barat Selatan Aceh

Saya memulai perjalanan dari Banda Aceh dengan rute pantai barat selatan hingga ke Aceh Singkil. Rute ini sengaja dipilih karena saat kembali ke Aceh, saya akan menempuh jalur pantai utara. Jalanan pantai barat selatan terkenal sebagai jalur favorit para biker: jalan lurus yang panjang, lalu lintas relatif sepi, serta pemandangan laut dan pegunungan yang menawan. Sepanjang perjalanan, keindahan alam Aceh menjadi teman setia, menghadirkan pengalaman touring yang tak terlupakan.

Perjalanan ke Padang Sidempuan

Dari Aceh Singkil, perjalanan berlanjut menuju Padang Sidempuan di Sumatera Utara. Jalur ini pernah saya lalui saat road trip keluarga dari Aceh ke Medan. Jalanan aspal di perbatasan Aceh tergolong mulus, membuat perjalanan lebih nyaman. Sejak tahun 2015, Aceh Singkil menjadi salah satu rute yang sering saya lintasi. Begitu melewati perbatasan Aceh–Sumatera Utara, perjalanan menghadirkan suasana baru dengan perkampungan khas Batak dan suasana pedesaan yang otentik.

Dari Padang Sidempuan ke Padang

Setelah beristirahat di Padang Sidempuan, perjalanan Touring Indonesia Harmoni dilanjutkan menuju Padang, Sumatera Barat. Jalanan Sumatera Utara penuh dengan tantangan: penyempitan ruas, tikungan tajam, serta jalanan yang kadang kurang bersahabat. Namun, panorama kampung-kampung Batak, suasana pedesaan, serta keunikan transportasi lokal seperti becak motor memberi warna tersendiri. Angkutan kota di kawasan ini berjalan dengan ritme yang khas, seolah hanya dipahami oleh pengendara dan penumpangnya.

Selfie di Perbatasan antara Aceh dengan Sumatera Utara

 

 

Membentuk Tim Persiapan untuk Touring Keliling Indonesia Harmoni

        


     

        Melakukan perjalanan jarak jauh juga
memerlukan persiapan tim yang solid. Sebab, tanpa tim yang solid maka sebuah
perjalanan yang akan amburadul. Karena itu, untuk kesuksesan Touring Indonesia
Harmoni, maka dari FKPT Aceh dibentuk tim kecil yang juga diisi oleh anggota
dan satuan tugas FKPT Aceh. Tim inilah yang menyusun dan melaksanakan berbagai
kegiatan mulai dari penyusunan proposal hingga kepulangan Touring Indonesia
Harmoni.

            Tim ini diketuai oleh Dr.
Mukhlisuddin Ilyas, kabid Penelitian dan Pengkajian FKPT Aceh. Di markasnya,
Bandar Publishing, semua persiapan dilakukan. Untuk teknis surat menyurat
dipercayakan pada Joko Sutranto, yang selalu piawai di dalam persoalan
administrasi. Kami juga didukung penuh oleh adik-adik dari Bandar Publishing.
Mereka bekerja sesuai dengan fungsi masing-masing.


            Selain persoalan di atas, persiapan
persetujuan juga diperlukan dari keluarga besar. Sebab, mereka tentu punya
perspektif tersendiri mengenai naik sepeda motor dalam kadar waktu yang lama.
Mereka juga khawatir dengan keselamatan kami selama di dalam perjalanan.
Kemudian bagaimana dengan anak-anak yang ditinggal selama berbulan-bulan.
Karena itu, kami harus meyakinkan keluarga besar demi terlaksana Touring
Indonesia Harmoni. Sengaja kami memilih tanggal 28 Juli 2021, sebagai tanggal
keberangkatan, sebab anak kami yang ketiga sudah masuk ke pesantren.

            Adapun untuk dua anak
kami (Qyara dan Qinar), kami titipkan sama nenek mereka dan juga kakak istri
serta adik saya yang merupakan dosen di UIN Ar-Raniry. Di samping itu, Dr.
Mukhlisuddin Ilyas akan “mengawal” anak-anak kami yang di pesantren. Sebab,
anak dia dan anak kakak istri berada di satu pesantren dengan tiga anak kami.
Setelah itu, kami juga memberitahukan secara sepintas kepada guru atau ustaz
yang ada di pondok pesantren. Semua urusan persiapan dengan keluarga besar
tuntas. Bahkan, mereka ikut melepaskan kami pada hari keberangkatan kami pada
tanggal 28 Juli 2021.