Latar Belakang Aceh Utara dan Bireuen merupakan dua wilayah di Aceh yang belakangan menjadi sorotan karena maraknya pembukaan lahan dan deforestasi untuk perkebunan sawit. Aktivitas ini terjadi di kawasan yang berdekatan dengan Kawasan Ekosistem Leuser (KEL), salah satu hutan hujan tersisa yang sangat penting. Investigasi Rainforest Action Network (RAN) mengungkap bagaimana pemasok lokal di Aceh terhubung dengan rantai pasok global kelapa sawit. Misalnya, Apical Group (unit bisnis kelapa sawit grup Royal Golden Eagle/RGE) diketahui memasok minyak sawit dari PT Syaukath Sejahtera – pabrik kelapa sawit milik pengusaha Aceh Lukman Zam Zam – yang menerima buah sawit dari PT Tualang Raya. PT Tualang Raya sendiri kedapatan merusak hutan hujan dataran rendah Leuser, habitat kritis gajah dan orangutan Sumatra yang terancam punah[1]. Temuan ini menunjukkan bahwa komitmen Nol Deforestasi, Nol Gambut, Nol Eksploitasi (NDPE) yang dideklarasikan perusahaan besar belum ditegakkan di lapangan. Bahkan, merek-merek global seperti Colgate-Palmolive, Nestlé, Mondelēz, Unilever, dan Kao serta bank internasional (MUFG, ABN AMRO, ICBC) turut terseret karena terhubung pendanaan atau pasokan dengan grup usaha perusak hutan tersebut[2]. Dengan kata lain, deforestasi lokal di Aceh Utara/Bireuen memiliki dampak dan kaitan strategis hingga tingkat internasional, sekaligus mengundang perhatian lembaga lingkungan global. Aktor dan Perusahaan Perusak Hutan di Aceh Utara & Bireuen Beberapa perusahaan perkebunan sawit dan tokoh pengusaha lokal teridentifikasi terlibat aktif dalam pembukaan lahan hutan di Aceh Utara dan Bireuen. Berikut profil singkat aktor-aktor kunci beserta pemiliknya: PT Syaukath Sejahtera – Perusahaan sawit yang beroperasi di Kecamatan Juli (Krung Simpo/Gandapura, Bireuen). Pemilik: Lukman Zam Zam (alias Lukman Kande Agung), seorang pengusaha besar Aceh[3]. PT Syaukath Sejahtera memiliki HGU perkebunan sawit seluas ratusan hektare yang terbit tahun 2014 dan berlaku hingga 2039[4]. Lukman mengelola jaringan bisnis sawit (termasuk PT Syaukath Agro, PT Kande Agung, PT Kaye Adang Ekspress) dan perusahaannya memiliki pabrik pengolahan sawit sendiri[3]. Temuan RAN menghubungkan PT
Artikel ini tersedia untuk pelanggan. Silakan berlangganan untuk membaca selengkapnya.
Leave a Reply