Author: Qaishar Kamaruzzaman
-

Antara Ayah dan Ibu: Dekat ke Satu, Jauh dari yang Lain
Tidak semua anak tumbuh dengan hubungan sempurna bersama orang tuanya. Ada yang lebih dekat dengan salah satu orang tua, ada yang justru sering bentrok dengan salah satu dari mereka juga. Dalam esai ini, Qaishar mengajak kita melihat sisi lain keluarga: tentang cinta yang tidak selalu lembut, jarak yang bisa disembuhkan, dan pelajaran untuk memahami tanpa…
-

Media Sosial: Antara Seru dan Palsu
Media sosial memang seru, tapi juga bisa bikin kita kehilangan diri sendiri. Qaishar menulis refleksi jujur tentang hidup di era digital—antara kesenangan dan kepalsuan.
-

Persahabatan di Sekolah Itu Tidak Selalu Mulus: Belajar Arti Tulus dari Konflik dan Kejujuran
Persahabatan di sekolah itu nggak selalu mulus. Ada salah paham, gengsi, dan chat yang kebaca salah, tapi dari situ kita belajar bedain mana teman sejati dan mana yang hanya numpang momen. Qaishar menulis jujur tentang dinamika pertemanan: dari ketawa bareng di kantin, ribut kecil yang bikin renggang, sampai arti kejujuran dan hadir di saat susah.…
-

Dunia Sekolah: Antara Tugas, Teman, dan Drama yang Tak Terlupakan
Sekolah bukan cuma tempat belajar, tapi panggung penuh warna tempat semua kenangan tercipta. Dalam esai ini, Qaishar Kamaruzzaman menulis dengan gaya khasnya tentang dunia sekolah: tugas yang menumpuk, teman yang kocak, dan drama yang kadang bikin capek tapi juga dirindukan. Dari PR yang bikin stres sampai tawa di kantin, semuanya jadi bagian dari perjalanan remaja…
-

Keberagaman di Aceh: Harmoni di Ujung Barat Nusantara
Aceh bukan hanya dikenal karena syariat Islamnya, tapi juga karena keberagamannya. Dari suku Gayo, Aneuk Jamee, hingga Lamno, masing-masing membawa warna, bahasa, dan tradisi yang berbeda. Dalam tulisan ini, Qaishar Kamaruzzaman menggambarkan Aceh sebagai ruang di mana perbedaan menjadi kekuatan — bukan pemisah. Nilai agama, adat, dan sejarah panjang perdagangan menjadikan Aceh simbol harmoni di…
-

Dunia Malam di Peunayong Banda Aceh: Kehidupan, Kuliner, dan Jejak Tionghoa Setelah Senja
Peunayong adalah denyut malam Banda Aceh yang tak pernah padam. Dari aroma mie Aceh pedas, kopi saring yang menggoda, hingga bangunan tua bergaya Tionghoa, kawasan ini menyimpan sejarah dan kehidupan yang tetap hangat setelah senja.
-

Masuknya Islam ke Aceh: Awal dari Cahaya di Nusantara
Islam pertama kali masuk ke Indonesia lewat Aceh, menjadikannya gerbang utama penyebaran Islam di Nusantara. Dari abad ke-7 Masehi, pedagang Arab, Gujarat, dan Persia membawa ajaran Islam dengan damai melalui perdagangan dan interaksi sosial. Lahirnya Kerajaan Samudra Pasai menjadi tonggak awal perkembangan Islam di Asia Tenggara. Dalam esai ini, Qaishar, siswa SMA Banda Aceh, menulis…
-

Islam di Aceh: Identitas, Budaya, dan Kehidupan Sehari-Hari Masyarakat Serambi Mekah
Islam di Aceh bukan sekadar agama, tapi identitas dan cara hidup. Sejak masa kerajaan Samudera Pasai, nilai-nilai Islam sudah mengakar dalam budaya, tradisi, dan perilaku masyarakat. Dari azan di setiap sudut, doa dalam setiap kegiatan, hingga seni seperti rapa’i dan peusijuek, semuanya mencerminkan kedekatan Aceh dengan Islam. Dalam esai ini, Qaishar, siswa SMA Banda Aceh,…
-

Guru Zaman Now: Lebih dari Sekadar Pengajar, Mentor Hidup untuk Generasi Muda
Guru zaman now bukan sekadar pengajar, tapi mentor hidup yang bisa jadi inspirasi, motivator, bahkan tempat curhat bagi murid. Esai ini ditulis oleh Qaishar, siswa SMA Banda Aceh, yang melihat bagaimana guru memberi lebih dari sekadar pelajaran: mereka hadir dengan arahan, perhatian, dan sikap yang mengubah jalan hidup siswa. Dari guru sejarah yang bikin belajar…
