Oleh Kamaruzzaman Bustamam Ahmad
Sebuah Pembelaan dari Jawa
Pada Juli 1884, di suatu tempat di Jawa, seorang mantan perwira menengah tentara Hindia Belanda menyelesaikan sebuah risalah yang tidak ia bubuhi namanya. Ia hanya menandatangani kata pengantarnya dengan satu huruf, S., dan memperkenalkan diri sebagai “een oud-hoofdofficier”. Risalah itu terbit di Rotterdam oleh penerbit Nijgh & Van Ditmar dengan judul De Generaal J. H. B. Köhler: eene nalezing van feiten tijdens de eerste expeditie tegen het Rijk van Atjeh, yang kira-kira berarti “Jenderal J. H. B. Köhler: sebuah pemeriksaan ulang atas fakta-fakta selama ekspedisi pertama melawan Kerajaan Aceh”. Tebalnya sekitar enam puluh empat halaman, ditambah sebuah lampiran berjudul “Atjeh-zaken” yang sebelumnya dimuat dalam suplemen harian De Locomotief di Semarang pada 12, 19 dan 22 Maret 1884. Salinan yang kini beredar dalam bentuk pindaian berasal dari koleksi perpustakaan KITLV di Leiden.
Membuka risalah ini, kita segera merasakan nadanya: getir, defensif, kadang sinis, dan sangat pribadi. Penulisnya mengaku pernah beberapa bulan bertugas langsung di bawah perintah Jenderal Köhler, panglima ekspedisi militer pertama Belanda ke Aceh yang gugur di depan Masjid Raya Banda Aceh pada 14 April 1873. Sebelas tahun setelah peristiwa itu, ia merasa terpanggil untuk membela nama baik komandannya dari apa yang ia anggap sebagai penilaian yang tidak adil dalam sebuah buku sejarah resmi. Ia menulis bahwa perlindungan atas kenangan seorang laki-laki seperti Köhler baginya lebih tinggi nilainya daripada rasa tidak enak membuka kembali sejarah lama kekurangan-kekurangan militer Belanda.
Bagi pembaca Aceh, risalah ini menawarkan sesuatu yang lain dari apa yang dimaksudkan penulisnya. Ia memang ditulis untuk membela seorang jenderal Belanda, tetapi di sela-sela pembelaan itu tersimpan potret yang sangat jelas tentang bagaimana Kesultanan Aceh berhasil mempertahankan pusat kedaulatannya pada April 1873. Di dalamnya ada serbuan klewang di pantai, benteng-benteng pesisir yang menembaki perahu-perahu lawan, laguna yang menjebak kuda dan amunisi, Masjid Raya yang terbakar dan direbut bergantian, serta para pemimpin lokal yang terbelah sikapnya. Tulisan ini mencoba membaca risalah itu melawan arus: bukan sebagai kisah kegagalan seorang jenderal, melainkan sebagai kesaksian tidak sengaja tentang kemenangan sebuah masyarakat.
Perang Pena Sesudah Perang Senjata
Risalah ini lahir dari sebuah perdebatan. Sasarannya adalah karya E. B. Kielstra, seorang mayor zeni tentara Hindia Belanda, berjudul Beschrijving van den Atjeh-oorlog, sebuah uraian panjang tentang Perang Aceh yang salinannya kini juga tersimpan di Perpustakaan Tun Seri Lanang Universiti Kebangsaan Malaysia. Kielstra kemudian dikenal sebagai penulis produktif tentang sejarah Hindia, dengan tulisan-tulisan yang tercatat dalam Digitale Bibliotheek voor de Nederlandse Letteren, mulai dari soal tentara Hindia, Diponegoro, pantai barat Sumatra sampai perluasan kekuasaan Belanda di Sumatra. Dalam bukunya tentang Perang Aceh, Kielstra menyertakan sebuah biografi singkat Köhler yang menggambarkannya sebagai perwira yang tertutup, enggan berunding dengan bawahan, dan kurang percaya diri karena merasa pendidikannya tidak setara dengan rekan-rekannya.
Pemicu langsung risalah ini adalah rapat Indisch Genootschap di Den Haag pada 7 November 1883. Dalam rapat itu Kielstra memaparkan pandangannya bahwa panglima ekspedisi pertama telah bertindak terburu-buru. Seorang peserta bernama Bosscher, yang mengaku bukan militer, justru berpendapat sebaliknya: ekspedisi itu terlalu banyak membuang waktu berharga dan kurang bertindak dengan tenaga dan kecepatan. Penulis risalah berpihak pada pendapat kedua. Menurutnya, rencana Köhler untuk segera bergerak ke dalam setelah mendarat adalah keputusan yang benar, dan kegagalan ekspedisi lebih banyak disebabkan oleh lemahnya dukungan kepala staf, komandan zeni dan komandan artileri di sekeliling sang jenderal.
Penulis risalah juga menunjukkan bahwa sumber-sumber tentang ekspedisi pertama sudah sangat banyak dalam satu dasawarsa setelah peristiwa itu. Ia mengutip dokumen resmi pemerintah tentang asal-usul Perang Aceh, laporan penyelidikan rahasia atas kegagalan ekspedisi, laporan Jenderal Whitton atas penyelidikan itu, majalah militer De Militaire Spectator dan Indisch Militair Tijdschrift, majalah De Indische Gids dan De Tijdspiegel, serta buku-buku seperti Onze oorlog met Atsjin dan Heldenfeiten in Oost-Indië. Ia menyebut bahwa perang sesudah perang, yang dilakukan dengan pena, tidak menyisakan sebutir debu pun yang dianggap berguna oleh pihak-pihak yang berselisih. Ungkapan ini menarik, karena memperlihatkan bahwa kekalahan di Aceh telah menjadi luka yang terus dibuka di kalangan perwira Belanda, dan bahwa sejarah Perang Aceh sejak awal adalah medan pertarungan tafsir.
Ironisnya, Kielstra sendiri beberapa tahun kemudian masih membela keputusan perang itu. Dalam ulasan buku yang dimuat De Tijdspiegel tahun 1887, ketika menilai Geschiedenis van den Atjeh-oorlog karya P. Brooshooft, Kielstra membela pernyataan perang tahun 1873. Sementara itu penulis risalah 1884 menyebut pernyataan perang yang tergesa-gesa itu sebagai kesalahan besar. Dua perwira yang sama-sama mengalami ekspedisi itu sampai pada penilaian berbeda tentang awal perang. Bagi kita, perbedaan ini mengingatkan bahwa sumber-sumber kolonial bukanlah suara tunggal, dan bahwa di dalamnya sendiri terdapat retakan yang dapat dimanfaatkan untuk membaca ulang sejarah.
Aceh Menjelang Perang: Sultan, Sagi dan Mukim
Penulis risalah membuka uraiannya dengan gambaran tentang keadaan politik Aceh sebelum perang. Ia menulis bahwa kekuasaan sultan, yang disebut tak terbatas, sebenarnya jauh dari kenyataan. Para kepala sagi berusaha sebisa mungkin merdeka dari sultan, bahkan sering berperang satu sama lain, dan sultan kadang ikut memihak. Terutama di Sagi XXII Mukim dan XXVI Mukim, pemerintahan sultan kerap dipersulit. Bagi penulis, gambaran singkat ini sudah cukup untuk menjelaskan keadaan politik di dalam kerajaan menjelang perang.
Gambaran ini perlu dibaca dengan dua mata. Di satu sisi, ia sejalan dengan pemahaman umum tentang struktur politik Aceh Besar yang bertumpu pada tiga sagi, yaitu XXII, XXV dan XXVI Mukim, masing-masing dipimpin seorang panglima sagi, dengan para uleebalang dan imeum mukim di bawahnya. Struktur ini memberi otonomi luas kepada para pemimpin lokal, dan karena itu kekuasaan sultan lebih bersifat simbolik dan moral daripada administratif. Di sisi lain, penulis kolonial punya kepentingan untuk menekankan perpecahan. Dengan menggambarkan Aceh sebagai kerajaan yang terbelah, mereka dapat membenarkan strategi memecah belah dan berharap perang dapat dimenangkan dengan cepat. Maklumat Gubernur Jenderal Loudon pada 7 Juni 1873, yang telah saya bahas dalam entri Maklumat Perang Aceh 7 Juni 1873, dibangun di atas logika yang sama, yaitu memisahkan para kepala negeri dari sultan.
Kenyataan April 1873 justru membantah harapan itu. Meskipun ada perbedaan sikap di antara para pemimpin, pertahanan pusat kerajaan dapat dihimpun dengan efektif. Kepala XXVI Mukim, menurut risalah, berada di dalam istana bersama pasukan dari rakyatnya untuk membantu mempertahankannya. Para kepala sagi yang menghendaki perlawanan mengambil alih benteng-benteng pantai. Pasukan dari XXII Mukim, yang oleh penulis disebut wilayah paling getir memusuhi Belanda di seluruh Aceh, aktif dalam pertahanan dan bahkan menghukum pemimpin yang dicurigai bersekongkol dengan lawan. Kerajaan yang digambarkan terbelah itu ternyata mampu menyatukan kekuatannya ketika ancaman datang dari laut.
Teuku Nek Meuraxa di Antara Dua Api
Salah satu tokoh Aceh yang paling sering disebut dalam risalah ini adalah Teuku Nek, Raja Muda Setia, kepala negeri Meuraxa di pesisir dekat istana. Pada 23 Maret 1873, sehari setelah kapal Citadel van Antwerpen yang membawa komisaris pemerintah tiba di perairan Aceh, seorang utusan Teuku Nek naik ke kapal. Ia menunjukkan cincin cap tuannya sebagai bukti keabsahan tugasnya dan menyampaikan sikap damai Teuku Nek. Keesokan harinya utusan itu kembali dengan surat tanpa tanggal, yang menyatakan bahwa Teuku Nek dan rakyatnya tidak menghendaki perang dan justru ingin bergabung dengan Belanda. Seorang Melayu bernama Sidi Tahil, yang membawa pesan raja Belanda kepada sultan, melaporkan bahwa ia sendiri melihat keinginan kepala dan rakyat Meuraxa untuk bersekutu dengan Belanda, dan bahwa di kalangan Aceh tidak ada kesepakatan tentang perlunya perang.
Risalah ini juga mencatat bahwa Teuku Nek memiliki jaringan kekerabatan yang luas. Ia adalah menantu Raja Troenon dan kerabat kepala XXVI Mukim, yang justru berada di dalam istana untuk mempertahankannya. Dari satu keluarga besar, sebagian memilih jalan damai dan sebagian lain berdiri di garis depan pertahanan. Ketika diminta membantu memasok bahan makanan bagi pasukan Belanda, Teuku Nek menjawab dengan berbagai alasan. Ia juga menyatakan bahwa ia dipaksa para kepala sagi lain menyerahkan benteng-benteng pantai kepada mereka. Penulis risalah menilai bahwa Teuku Nek tidak mungkin berpihak secara terbuka karena belum tahu bagaimana perang akan berakhir.
Sikap ini membawa akibat pahit. Segera setelah pasukan Belanda mundur ke perkemahan pantai, sebagian pasukan dari dalam istana yang berasal dari XXII Mukim membakar kampung-kampung Teuku Nek, karena ia dicurigai bersekongkol dengan Belanda. Tindakan yang disebut hukuman itu, menurut risalah, membuat kepala XXVI Mukim, kerabatnya, begitu tersinggung sehingga ia meninggalkan dalam bersama rakyatnya untuk mempertahankan wilayahnya sendiri bila perlu. Penulis menduga Teuku Nek berhasil selamat berkat pengaruh kekerabatannya. Ia juga mencatat bahwa dalam hubungan dengan panglima ekspedisi kedua, kerja sama dengan Teuku Nek adalah fakta yang sudah pasti, dan bahwa komisaris pemerintah menyebutnya orang kepercayaan.
Saya menyusun data tentang tokoh ini dalam entri Teuku Nek Meuraxa (Raja Muda Setia). Bagi studi Aceh, Teuku Nek adalah contoh tokoh perantara, pemimpin lokal yang berdiri di antara pusat kerajaan dan kekuatan luar, menjadi saluran informasi dan menanggung tekanan dari kedua belah pihak. Kita tidak memiliki keterangan langsung dari Teuku Nek sendiri tentang alasan-alasannya. Sikapnya dapat dibaca sebagai upaya melindungi rakyat Meuraxa yang paling dekat dengan pantai dan paling terancam oleh meriam kapal, sebagai bagian dari persaingan lama di antara sagi, atau sebagai perhitungan politik seorang pemimpin yang melihat kekuatan lawan lebih besar. Ketiga kemungkinan itu tidak saling meniadakan, dan justru bersama-sama menggambarkan beratnya pilihan para pemimpin pesisir pada awal perang.
Sketsa, Pohon Besar dan Pengetahuan yang Rapuh
Salah satu bagian paling menarik dari risalah ini adalah uraian tentang apa yang diketahui Belanda tentang Aceh sebelum mendarat. Ekspedisi berbekal “Marine-schetsjes”, sketsa medan yang disusun terutama dari keterangan dua pemandu Tionghoa dan juru bahasa Sidi Tahil, dengan garis pantai berdasarkan pengukuran Angkatan Laut. Sketsa lain, tentang dalam, dibuat berdasarkan keterangan seorang asal Bengkulu bernama Mohamet Akifin. Semua pemandu sepakat bahwa dalam terletak di tempat sebuah pohon besar berdiri, dan pohon itu diukur dari laut berjarak sekitar 3.600 meter. Sketsa itu memperlihatkan dua jalan menuju dalam dan tembok tanah di belakang istana, tetapi tidak mencantumkan Masjid Raya dan medan berbukit di sekitarnya.
Gambaran ini memperlihatkan betapa rapuhnya pengetahuan kolonial pada awal perang. Sebuah kerajaan yang telah berdiri berabad-abad, dengan jaringan diplomasi yang menjangkau Istanbul, sebagaimana tampak dalam surat Sultan Alauddin Manshur Syah kepada Sultan Abdulmajid tahun 1850, didekati oleh sebuah tentara yang menentukan arah serangannya berdasarkan sebatang pohon besar yang dilihat dari laut. Pada tahun yang sama, sebuah risalah tipis berbahasa Belanda tentang Aceh juga terbit di Batavia, sebagaimana saya catat dalam entri Beschrijving van Atjeh. Pengetahuan semacam itu disusun tergesa-gesa dari keterangan para perantara, yaitu pemandu Tionghoa, juru bahasa Melayu dan informan dari Bengkulu, yang masing-masing membawa pengetahuan terbatas dan kepentingannya sendiri.
Penulis risalah juga mencatat bahwa sketsa-sketsa itu tampaknya dikenal luas di kalangan ekspedisi, bahkan dijual kepada pelanggan harian De Indiër pada 26 April 1873 dalam bentuk peta kecil. Ia juga mencatat bahwa instruksi kepada panglima menekankan perlunya mencapai ibu kota dan dalam secepat mungkin setelah mendarat, dengan mempertimbangkan datangnya musim hujan. Dari situ ia menyimpulkan bahwa serangan kilat adalah pilihan yang masuk akal. Namun bagi kita, rangkaian keterangan ini justru memperlihatkan sumber utama kegagalan ekspedisi: kesombongan sebuah kekuatan yang merasa dapat menaklukkan kerajaan berdaulat dengan sketsa seadanya dan perhitungan yang terburu-buru.
Sarang Tawon dan Lima Puluh Ribu Orang
Di tengah pembelaannya, penulis risalah menyelipkan kesaksian menarik tentang sikap Köhler sendiri terhadap Aceh. Menurut kenalan sang jenderal di Padang pada masa akhir tugasnya di sana, Köhler biasa menyebut Aceh sebagai sarang tawon, mengutip Michiels, dan menilai perang yang direncanakan terhadap kerajaan itu lebih sebagai kecerobohan politik. Kesaksian ini, bila benar, sangat bermakna. Ia memperlihatkan bahwa panglima ekspedisi pertama sendiri menyadari bahwa Aceh bukan lawan yang mudah, dan bahwa keputusan perang lebih banyak ditentukan oleh pertimbangan politik di Batavia dan Den Haag daripada oleh penilaian militer di lapangan.
Risalah ini juga menyinggung sebuah percakapan antara Köhler dan kontrolir Kraijenhoff pada malam setelah ekspedisi tiba di perairan Aceh. Kraijenhoff memperingatkan bahwa kekuatan orang Aceh dapat diperkirakan mencapai lima puluh ribu orang, dan bahwa mereka akan mengorbankan perempuan dan anak-anak untuk mencegah Belanda menginjakkan kaki di pantai. Köhler menanggapi peringatan itu dengan nada mengejek. Penulis risalah membela sang jenderal dengan mengatakan bahwa percakapan itu mirip anekdot dalam surat kabar tentang pemburu yang menceritakan kisah hebat lalu dibalas kisah yang lebih hebat lagi. Namun sejarah membuktikan bahwa peringatan Kraijenhoff lebih dekat dengan kenyataan daripada ejekan Köhler. Perang yang dimulai pada 1873 itu berlangsung puluhan tahun dan menelan korban yang sangat besar di kedua belah pihak.
Kutipan lain dalam risalah ini memperkuat ironi tersebut. Penulis mengutip Kolonel A. J. A. Gerlach, seorang perwira artileri pensiunan, yang menulis dalam De Tijdspiegel pada Januari 1874 bahwa berdasarkan sejarah Aceh dan penyelidikan seteliti mungkin atas kekuatan pasukan Aceh, kekuatan Belanda jauh melebihi kekuatan Aceh. Keyakinan semacam ini, yang tetap dipegang bahkan setelah kekalahan April 1873, memperlihatkan betapa sulitnya kekuasaan kolonial menerima kenyataan bahwa mereka menghadapi masyarakat yang siap berperang lama. Kesombongan itu kelak dibayar mahal dalam perang yang berlarut-larut.
6 dan 8 April 1873: Pantai yang Tidak Pernah Tenang
Jalannya ekspedisi diuraikan risalah ini dengan rinci, meskipun selalu dalam bingkai pembelaan. Perang telah dinyatakan pada 26 Maret 1873 melalui surat Sekretaris Pemerintah kepada Sultan Aceh, sehingga Aceh mempunyai waktu lima belas hari untuk bersiap sebelum pertemuan pertama di pedalaman. Pada 6 April pasukan Belanda melakukan peninjauan pantai. Mereka mendarat tanpa banyak perlawanan, mempelajari medan dan benteng Kuta Pantai Cermin, lalu kembali ke kapal. Ketika perahu-perahu kembali, benteng Kuta Mugat di sebelah timur laguna membuka tembakan meriam dan senapan yang cukup kuat, yang dibalas oleh kapal Djambi dan Citadel. Pada hari itu juga beberapa pejuang Aceh melakukan serangan terbuka dan meninggalkan delapan orang gugur, dan sekitar seratus pejuang lain dengan klewang terangkat menerobos sampai ke dalam garis tirailleur Belanda.
Penulis risalah menyesalkan keputusan kembali ke kapal. Menurutnya, meninggalkan pantai untuk kembali lagi kemudian membuat pihak Aceh merasa berhasil memaksa Belanda mundur, dan kemunduran semacam itu tidak pernah baik bagi semangat pasukan sendiri. Pendaratan sesungguhnya baru dilakukan pada 8 April. Perahu-perahu bersenjata Angkatan Laut berjajar dalam satu garis dan lebih dekat dengan tembakan benteng-benteng pantai, sehingga seorang kadet laut bernama B. H. Zimmer tewas dan dua kelasi terluka. Dari Kuta Pantai Cermin datang tembakan senapan yang sangat ramai, kemudian sekitar empat ratus pejuang Aceh melancarkan serbuan klewang terhadap pasukan yang baru mendarat. Menurut penulis, lebih dari seperlima dari mereka gugur di tempat. Serbuan itu berlangsung paling lama lima menit, tetapi memperlihatkan bahwa Belanda akan menghadapi lawan yang berani.
Saya mengumpulkan data tentang garis pertahanan pantai ini dalam entri Kuta Pantai Cermin dan Kuta Mugat: benteng pantai Aceh 1873. Serbuan klewang di pantai adalah ekspresi dari logika perang yang kelak terus muncul dalam Perang Aceh: memaksa pertarungan jarak dekat ketika keunggulan senjata api lawan berkurang. Enam belas tahun kemudian, sebagaimana saya uraikan dalam tulisan Hikayat Prang di Edi, logika yang sama tampil dalam bentuk lebih matang di padang alang-alang Idi, pesisir timur Aceh, ketika para pejuang menunggu di lubang-lubang tersembunyi lalu menyerbu dengan klewang. Dari pantai Banda Aceh 1873 sampai pesisir Idi 1889, kita melihat kesinambungan cara berperang yang lahir dari pengenalan mendalam atas medan dan keberanian menghadapi senjata yang lebih unggul.
Laguna yang Menjebak
Bagian yang paling banyak menyedot energi penulis risalah adalah kisah penyeberangan laguna pada 10 April 1873. Untuk bergerak dari pantai ke dalam, pasukan harus menyeberangi laguna yang memisahkan pantai dari persawahan. Jembatan yang ada sempit dan curam. Alat dan bahan jembatan zeni belum diturunkan dari kapal rumah sakit, karena bahan itu harus diturunkan dengan hati-hati agar tidak mengganggu para pasien. Ketika kolone menyeberang, kuda-kuda yang pertama mencoba melintas tergelincir dan jatuh ke parit bersama muatannya sehingga amunisi hilang. Kuda-kuda itu harus dilepaskan dari pelana dan bebannya lalu disuruh berenang ke seberang, sementara para serdadu terpaksa memikul beban yang semestinya diangkut kuda. Sebuah kutipan yang dipakai penulis menggambarkannya sebagai jerih payah, memikul dan bergulat tanpa akhir.
Perdebatan tentang siapa yang bersalah atas kekacauan ini menjadi inti pertikaian antara penulis risalah dan Kielstra. Kielstra, yang ketika itu adalah komandan kompi zeni, menyatakan bahwa ia baru pada sore 9 April mengetahui rencana bergerak ke arah itu, bahwa membangun jembatan yang layak membutuhkan sedikitnya beberapa hari, dan bahwa di dekat jembatan tidak tumbuh kayu yang cocok. Penulis risalah membantah dengan argumen yang sangat konkret. Ia menyebut bahwa di dekat titik pendaratan terdapat kebun-kebun kelapa yang batangnya dapat dipakai untuk memperbaiki jembatan, ada tenaga kerja, parang dan gergaji yang melimpah, tali tersedia di kapal, dan cahaya bulan sampai pukul dua malam. Ia bahkan menyebut bahwa rumah-rumah orang Aceh di sekitar laguna, yang terdiri atas balok-balok mendatar dan tegak, lantai papan, bilah pinang atau nibung dan dinding ploepoe ganda, dapat dibongkar untuk bahan jembatan.
Usulan membongkar rumah-rumah penduduk untuk bahan jembatan ini, yang disampaikan begitu saja dalam sebuah perdebatan teknis, memperlihatkan dengan telanjang bagaimana perang kolonial memandang ruang hidup masyarakat Aceh. Rumah, kebun kelapa dan kampung bukan dipandang sebagai tempat tinggal manusia, melainkan sebagai bahan yang dapat dihabiskan demi kepentingan militer. Pada saat yang sama, uraian penulis tentang bahan bangunan rumah Aceh adalah catatan etnografis kecil yang berharga tentang arsitektur pesisir Banda Aceh pada 1873. Dari sudut pandang Aceh, laguna dan kampung-kampung di sekitarnya adalah bagian dari lanskap pertahanan alami yang memperlambat dan melelahkan lawan bahkan sebelum ia mencapai medan pertempuran utama.
Masjid Raya yang Terbakar
Setelah menyeberangi laguna dengan susah payah, kolone utama tiba di depan Masjid Raya dalam keadaan lelah di bawah terik matahari. Köhler sendiri, dalam laporannya kepada pimpinan tentara pada 11 April, menulis bahwa perlawanan dimulai di masjid yang diperkuat, agak di depan dalam, dan bahwa pasukan di dalam masjid ditembaki dari dalam dan dari kubu-kubu di seberang sungai. Masjid direbut setelah pertempuran, tetapi api yang membakar bangunan membuat panas di dalamnya tak tertahankan. Satu kompi infanteri tidak sanggup bertahan di dalam dan memilih berdiri di belakangnya. Dua perwira, seorang letnan laut dan seorang ajudan batalion, meninggal karena kelelahan, dan banyak serdadu jatuh pingsan.
Para pembela Köhler kemudian memberi tiga alasan mengapa masjid dikosongkan menjelang malam. Pertama, masjid adalah tempat suci terbesar orang Aceh, yang pasti akan dicoba direbut kembali, dan memang sekitar pukul lima sore para pejuang sudah mencoba merebutnya. Kedua, masjid adalah pos terdepan dari dalam yang ditembaki dengan senapan dan meriam dari arah istana. Ketiga, masjid adalah posisi yang baik bagi orang Aceh tetapi buruk bagi Belanda, karena terbuka ke arah lawan, di mana tembok baratnya yang runtuh membentuk lereng yang mudah didaki, sementara sisi lainnya tertutup tembok dan alat untuk membongkarnya tertinggal di kapal. Penulis risalah juga mencatat bahwa Köhler sempat berpikir menempatkan pasukan barisan, pasukan bantuan pribumi yang paling sedikit lelah, untuk menjaga masjid semalaman, tetapi kemudian membatalkannya karena tidak percaya pada keteguhan pasukan itu.
Dalam entri Masjid Raya Banda Aceh dalam pertempuran April 1873 saya mencoba membaca episode ini dari sudut pandang Aceh. Pengakuan penulis Belanda bahwa masjid itu adalah tempat suci terbesar orang Aceh menunjukkan bahwa perang yang mereka mulai menyentuh langsung jantung kehidupan keagamaan masyarakat. Para pembela memahami nilai simbolik dan militer masjid sebagai perisai istana. Mereka memanfaatkan tembok dan bangunannya, menembak dari dalam istana dan dari seberang sungai, dan berulang kali menyerang balik. Dari sinilah Masjid Raya menjadi titik temu antara dua poros kekuasaan Aceh, yaitu istana dan agama, dan sejak itu menjadi bagian sentral dari ingatan perlawanan.
14 April 1873: Gugurnya Seorang Jenderal
Hari-hari antara 11 dan 13 April dihabiskan pasukan Belanda di persawahan di depan masjid. Pada 11 April mereka beristirahat, menguburkan yang gugur dan membenahi perkemahan. Pada 12 April dilakukan peninjauan untuk melihat apakah dalam dapat diserang dari belakang. Jenderal Whitton, dalam laporannya, mencatat bahwa peninjauan itu baru berangkat pukul delapan, tidak dijalankan dengan cukup tenaga, dan kembali ketika pasukan ditembaki, padahal seorang kapten bernama von Balluseck ingin terus maju ke timur. Pada hari yang sama perkemahan Belanda harus menangkis serangan pejuang Aceh dari utara, timur dan selatan. Köhler melaporkan bahwa bagian belakang dalam tidak dapat didekati karena medan berupa rangkaian pagar dan celah sempit. Pada 13 April hujan lebat selama lebih dari satu jam mengubah perkemahan yang hampir tanpa pelindung di tanah liat menjadi kubangan lumpur. Hari itu diputuskan untuk menyerang masjid sekali lagi, dan para zeni diperintahkan membuat tangga serbu.
Pada 14 April 1873 masjid diserbu untuk kedua kalinya, dan segera setelah itu Jenderal Köhler gugur. Seluruh pasukan dari persawahan kemudian berkumpul di dalam masjid. Kepala staf mengumpulkan para komandan, dan keadaan dinilai sangat genting. Sebagian komandan bahkan cenderung meninggalkan posisi. Komandan batalion ketiga mengusulkan serangan dari masjid ke kubu yang menembaki mereka dengan dukungan artileri, tetapi kepala staf menjawab bahwa infanteri saja sudah cukup. Penulis risalah menutup kisah itu dengan satu kalimat pahit: dan begitulah, lagi-lagi tidak terjadi apa-apa. Menurutnya, setelah kematian sang jenderal tidak seorang pun tampak tahu pasti rencana operasi selanjutnya maupun letak dalam, padahal istana itu hanya beberapa ratus langkah jauhnya.
Komando beralih kepada Kolonel van Daalen. Pada 16 April dilakukan satu serangan lagi yang tidak berhasil. Ekspedisi akhirnya ditarik kembali ke perkemahan pantai dan kemudian ke Jawa. Penulis risalah yakin bahwa bila Köhler masih hidup, ekspedisi tidak akan kembali ke Jawa. Namun keyakinan itu adalah pengandaian sejarah yang tidak dapat diuji. Kenyataannya, pertahanan Aceh berhasil memukul mundur ekspedisi yang bersenjata modern, menewaskan panglimanya, dan mempertahankan pusat kedaulatan. Saya menyusun kronologi lengkap peristiwa ini dalam entri Ekspedisi militer pertama Belanda ke Aceh (April 1873).
Kekalahan yang Dicari Kambing Hitamnya
Membaca risalah ini dari awal sampai akhir, kita menemukan pola yang menarik: kekalahan Belanda pada April 1873 terus dicari kambing hitamnya. Penulis risalah menyalahkan kepala staf, Kolonel Egter van Wissekerke, yang menurutnya terus mendorong untuk maju tetapi lalai menyiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan. Ia menyalahkan komandan zeni, yaitu Kielstra sendiri, yang menurutnya tidak siap dengan alat untuk membuat celah di tembok, dan tidak terlihat mengawasi pekerjaan jembatan. Ia menyalahkan komandan artileri, yang membiarkan setengah baterai meriam lapangan berat tetap menganggur di pantai, padahal meriam itu dapat menjangkau sampai 2.700 meter dan dapat membantu meredam tembakan dari seberang sungai. Ia juga menyinggung hubungan buruk antara Köhler dan Kolonel van Daalen, wakil panglima, serta antara van Daalen dan kepala staf.
Ada satu hal yang hampir tidak pernah disebut sebagai penyebab kekalahan dalam perdebatan ini, yaitu kekuatan dan kecerdasan pertahanan Aceh. Bagi para perwira Belanda, kekalahan hanya dapat dijelaskan melalui kesalahan internal: jembatan yang buruk, tangga serbu yang tidak ada, meriam yang tertinggal, staf yang lalai, dan hubungan pribadi yang retak. Penulis risalah bahkan menulis bahwa anggapan bahwa pasukan yang telah melewati jembatan dapat dipukul mundur oleh musuh pribumi adalah sebuah kemustahilan, dan bila hal itu dapat diharapkan dari musuh pribumi, Belanda sebaiknya menyerahkan kekuasaannya atas Hindia. Kalimat ini memperlihatkan dengan jelas cara pandang kolonial: kemenangan lawan pribumi tidak dapat dibayangkan sebagai hasil kekuatan lawan itu sendiri.
Padahal data yang disajikan risalah itu sendiri bercerita lain. Pejuang Aceh menembaki perahu-perahu dari benteng pantai, menyerbu dengan klewang ketika lawan mendarat, mempertahankan masjid dengan tembakan dari istana dan seberang sungai, menyerang perkemahan Belanda dari utara, timur dan selatan, dan memanfaatkan medan berupa pagar, celah sempit dan rumpun tanaman yang membuat bagian belakang istana tidak dapat didekati. Mereka juga memiliki waktu lima belas hari untuk bersiap sejak pernyataan perang, dan memanfaatkannya dengan baik. Kekalahan Belanda pada April 1873 bukan semata buah dari kesalahan teknis, melainkan juga buah dari perlawanan yang terorganisasi dan terencana.
Membaca Melawan Arus: Dari Banda Aceh sampai Idi
Dalam tulisan sebelumnya tentang Hikayat Prang di Edi, saya menekankan perlunya membaca sumber kolonial melawan arus, yaitu memisahkan lapis fakta dari lapis wacana. Risalah tentang Köhler ini memberi kesempatan yang sama, bahkan dengan lebih jelas. Lapis fakta berisi tanggal, nama benteng, jarak, jumlah pejuang, nama kapal dan urutan peristiwa yang dapat diuji silang dengan sumber lain. Lapis wacana berisi upaya membela seorang jenderal, mencari kambing hitam, dan menolak kemungkinan bahwa lawan pribumi menang karena kekuatannya sendiri. Ketika kedua lapis itu dipisahkan, lapis fakta dapat disusun ulang dalam bingkai yang menempatkan masyarakat Aceh sebagai subjek sejarahnya.
Perbandingan antara kedua teks juga memperlihatkan dua jenis tulisan kolonial tentang Perang Aceh. Hikayat Prang di Edi adalah bacaan tangsi berbahasa Melayu rendah untuk serdadu pribumi, penuh pujian bagi prajurit Ambon dan caci maki bagi pejuang Aceh, ditulis untuk menanamkan kesetiaan. Risalah tentang Köhler adalah perdebatan antarperwira dalam bahasa Belanda, penuh istilah teknis dan kutipan laporan resmi, ditulis untuk membela kehormatan seorang komandan. Keduanya berbeda pembaca dan tujuan, tetapi sama-sama memperlihatkan bahwa sejarah Perang Aceh pertama-tama ditulis oleh pihak penakluk, dan bahwa dalam tulisan mereka orang Aceh hampir selalu tampil tanpa nama, kecuali bila berguna bagi penakluk. Dalam risalah 1884, satu-satunya tokoh Aceh yang disebut namanya dengan rinci adalah Teuku Nek, justru karena ia membuka hubungan dengan Belanda.
Genre perdebatan semacam ini juga tidak berdiri sendiri. Pada 1889, W. Cool dan G. B. Hooijer menerbitkan di Den Haag karya Eene schoone bladzijde uit Atjeh’s geschiedenis, yang memuliakan sebuah ekspedisi tahun 1879, dan majalah militer seperti Indisch Militair Tijdschrift terus memuat kajian tentang ekspedisi-ekspedisi di Aceh. Dari tumpukan tulisan inilah gambaran Eropa tentang Perang Aceh dibangun. Tugas kita adalah membaca tumpukan itu dengan teliti, memeras data dari dalamnya, dan mempertemukannya dengan sumber-sumber Aceh, termasuk hikayat, tradisi lisan dan catatan ulama, sebagaimana juga didokumentasikan dalam terbitan Perang Kolonial Belanda di Aceh oleh Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh.
Lima Belas Hari dan Pasukan Barisan
Dua detail kecil dalam risalah ini layak mendapat perhatian lebih. Detail pertama adalah soal waktu. Penulis risalah mencatat bahwa perang telah dinyatakan sejak 26 Maret 1873, sehingga ketika pasukan Belanda pertama kali bertemu lawan di pedalaman, Aceh telah memiliki lima belas hari untuk bersiap. Ia menyebut pernyataan perang yang tergesa-gesa itu sebagai kesalahan besar, karena menghilangkan unsur kejutan yang sangat dibutuhkan bagi sebuah serangan kilat. Dari sudut pandang Aceh, lima belas hari itu adalah waktu yang dimanfaatkan dengan cermat. Benteng-benteng pantai diambil alih dan diisi pasukan, kepala XXVI Mukim membawa pasukannya ke dalam istana, Masjid Raya diperkuat sebagai pos terdepan, dan kubu-kubu di seberang sungai disiapkan. Persiapan dalam waktu sesingkat itu memperlihatkan adanya mekanisme mobilisasi yang hidup di dalam struktur sagi dan mukim, yang mampu menggerakkan orang dan senjata dengan cepat ketika kerajaan terancam.
Detail kedua adalah tentang pasukan barisan, pasukan bantuan pribumi yang ikut dalam ekspedisi. Risalah ini menyebut bahwa Köhler sejak awal tampak tidak terlalu percaya kepada barisan, dan bahwa pasukan itu dikirim melebihi kebutuhan yang diperkirakan. Penulis juga mencatat bahwa ketika benteng Kuta Mugat yang telah ditinggalkan diduduki, pasukan barisan merayakannya dengan tarian tandak yang tidak mudah dikendalikan. Ketika menjelang malam 10 April Köhler sempat berpikir menempatkan barisan untuk menjaga Masjid Raya karena paling sedikit lelah, ia segera membatalkannya. Detail-detail ini memperlihatkan wajah tentara kolonial yang tidak homogen, dengan hierarki kepercayaan di antara pasukan Eropa, pasukan reguler pribumi dan pasukan bantuan. Seperti dalam Hikayat Prang di Edi, di mana serdadu Ambon dipuji setinggi langit, di sini kita melihat sisi lain dari politik kepercayaan itu: sebagian pasukan pribumi dipandang dengan curiga dan diremehkan.
Kedua detail ini, bila dibaca bersama, memperlihatkan ketimpangan yang mendasar antara penyerang dan pembela. Pihak Aceh bertempur di tanahnya sendiri, dengan pasukan yang mengenal medan dan termotivasi untuk mempertahankan kerajaan dan agamanya, serta memiliki waktu untuk bersiap. Pihak Belanda datang dengan pasukan campuran yang tidak sepenuhnya saling percaya, dipimpin perwira yang saling bersaing, berbekal sketsa seadanya, dan dikejar musim hujan. Dalam keadaan semacam itu, kemenangan Aceh pada April 1873 bukanlah kebetulan, melainkan hasil yang dapat dipahami dari perbandingan kekuatan yang sesungguhnya, yaitu kekuatan yang tidak hanya diukur dari jumlah senapan dan meriam, tetapi juga dari pengetahuan, kesiapan dan semangat.
Pelajaran dari April 1873
Setidaknya ada empat pelajaran yang dapat dipetik dari risalah ini. Pelajaran pertama menyangkut harga dari pengetahuan yang dangkal. Ekspedisi pertama datang dengan sketsa seadanya, menentukan arah dengan sebatang pohon besar, tidak mengetahui letak Masjid Raya, dan setelah kematian panglimanya tidak tahu pasti letak istana. Kekuatan senjata tidak dapat menggantikan pengetahuan tentang masyarakat dan medan. Pelajaran ini relevan sampai hari ini, ketika berbagai kebijakan tentang Aceh masih sering dirumuskan dari jauh, tanpa pemahaman memadai tentang struktur sosial, sejarah dan cara berpikir masyarakatnya.
Pelajaran kedua menyangkut kekuatan masyarakat yang dipandang terbelah. Belanda berharap perpecahan di antara sagi, uleebalang dan sultan akan memudahkan penaklukan. Kenyataannya, ketika ancaman datang dari luar, pertahanan pusat kerajaan dapat dihimpun dengan efektif. Perbedaan sikap seperti yang ditunjukkan Teuku Nek memang ada dan membawa akibat pahit, tetapi tidak cukup untuk meruntuhkan pertahanan. Masyarakat Aceh, dengan otonomi lokalnya yang luas, memperlihatkan kemampuan bertindak bersama ketika kedaulatan terancam, sebuah kemampuan yang kelak terus muncul sepanjang Perang Aceh.
Pelajaran ketiga menyangkut makna ruang suci. Masjid Raya pada April 1873 menjadi perisai istana dan tempat pertempuran paling menentukan. Pengakuan penulis Belanda bahwa masjid itu adalah tempat suci terbesar orang Aceh menunjukkan bahwa perang kolonial menyentuh langsung jantung kehidupan keagamaan. Dari sini kita memahami mengapa wacana perang sabil begitu kuat menggerakkan perlawanan selama puluhan tahun. Serangan terhadap Masjid Raya dipahami bukan hanya sebagai serangan terhadap kerajaan, tetapi juga terhadap agama, dan karena itu mempertahankannya adalah kewajiban yang melampaui kepentingan politik.
Pelajaran keempat menyangkut kuasa narasi. Risalah tahun 1884 memperlihatkan bahwa sejarah tidak hanya ditentukan oleh apa yang terjadi, tetapi juga oleh siapa yang menuliskannya dan untuk tujuan apa. Para perwira Belanda berdebat panjang tentang jembatan, tangga dan meriam, sementara kemenangan Aceh nyaris tidak disebut sebagai kemenangan. Bagi generasi peneliti Aceh hari ini, tantangannya adalah merebut kembali narasi itu, menempatkan April 1873 bukan sebagai catatan kaki dalam riwayat seorang jenderal, melainkan sebagai salah satu halaman paling gemilang dalam sejarah pertahanan Kesultanan Aceh.
Penutup: Halaman yang Hilang dari Sejarah Aceh
Penulis risalah tahun 1884 menutup tulisannya dengan pengakuan bahwa ia tidak menghasilkan sesuatu yang baru, hanya mengolah lebih jauh data yang sudah dikenal. Ia juga menyesalkan bahwa Köhler gugur pada saat yang begitu genting, sehingga rencananya untuk segera menyerbu istana tidak terlaksana. Bagi penulis itu, kematian Köhler adalah tragedi seorang prajurit yang baik yang tidak mendapat dukungan dari orang-orang di sekelilingnya. Bagi kita, kematian itu adalah tanda bahwa pertahanan Aceh berhasil, bahwa sebuah kerajaan yang dipandang lemah dan terbelah sanggup memaksa lawan yang jauh lebih kuat secara teknologi untuk mundur.
Membaca ulang risalah ini adalah bagian dari kerja panjang memulihkan Aceh sebagai subjek pengetahuan. Kita tidak perlu menolak sumber kolonial, tetapi juga tidak boleh membiarkan diri kita membaca sejarah Aceh hanya melalui kacamata mereka. Di balik keluhan tentang jembatan yang buruk dan meriam yang tertinggal, ada pejuang Aceh yang gugur di pantai dengan klewang di tangan, ada pembela Masjid Raya yang bertahan di tengah api, ada rakyat Meuraxa yang kampungnya terbakar, dan ada para pemimpin yang harus memilih di antara dua api. Mereka semua adalah bagian dari halaman sejarah Aceh yang sering hilang dalam tumpukan arsip penakluk. Tugas kita adalah menemukan kembali halaman itu, membacanya dengan jernih, dan menempatkannya di tempat yang semestinya dalam ingatan bersama masyarakat Aceh.
Referensi
- Een Oud-Hoofdofficier (1884). De Generaal J. H. B. Köhler: eene nalezing van feiten tijdens de eerste expeditie tegen het Rijk van Atjeh, naar aanleiding van het werk “Beschrijving van den Atjeh-oorlog” door E. B. Kielstra. Met een aanhangsel. Rotterdam: Nijgh & Van Ditmar. Salinan koleksi Bibliotheek KITLV. Ringkasan isi: acehnologi.com/entri/de-generaal-kohler-nalezing-van-feiten-1884.
- Kielstra, E. B. Beschrijving van den Atjeh-oorlog. Koleksi digital PTSL, Universiti Kebangsaan Malaysia.
- Kielstra, E. B. (1887). Ulasan atas P. Brooshooft, Geschiedenis van den Atjeh-oorlog, 1873-1886. De Tijdspiegel, Jaargang 44. DBNL.
- E. B. Kielstra, daftar karya. Digitale Bibliotheek voor de Nederlandse Letteren.
- Cool, W. dan Hooijer, G. B. (1889). Eene schoone bladzijde uit Atjeh’s geschiedenis. ‘s-Gravenhage: Martinus Nijhoff. Leiden University Digital Collections.
- Indisch Militair Tijdschrift. Catatan koleksi: Perpustakaan Nasional RI.
- Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh. Perang Kolonial Belanda di Aceh = The Dutch Colonial War in Aceh. Banda Aceh: PDIA.
- Acehnologi. Maklumat Perang Aceh 7 Juni 1873.
- Acehnologi. Beschrijving van Atjeh (1873).
- Acehnologi. Teuku Nek Meuraxa (Raja Muda Setia); Masjid Raya Banda Aceh dalam pertempuran April 1873; Kuta Pantai Cermin dan Kuta Mugat; Ekspedisi militer pertama Belanda ke Aceh.
- Kamaruzzaman Bustamam Ahmad. Hikayat Prang di Edi: Membaca Ulang Perang Idi 1889 dari Balik Bacaan Tangsi Kolonial. KBA13 Insight.
- Kamaruzzaman Bustamam Ahmad. Peta untuk Menaklukkan: Membaca Beschrijving van Atjeh (1873) dan Lanskap Aceh Besar di Ambang Perang. KBA13 Insight.
About The Author
- Series · Seri
- KBA13 Insight
- Volume · Number
- Vol. 6, No. 176 (November 2026)
- Cumulative issue · Edisi ke-
- 615
- Reference · Nomor rujukan
KBA13-KI-2026-06-176- Author · Penulis
- Kamaruzzaman Bustamam Ahmad
- Published · Terbit
- 5 November 2026
- Section · Rubrik
- Aceh & Local Wisdom (Indonesian Edition), Acehnology, History, Culture & Society
- Keywords · Kata kunci
- Acehnologi, Ekspedisi 1873, Köhler, Kolonialisme, Masjid Raya Baiturrahman, Perang Aceh, sejarah Aceh, Teuku Nek Meuraxa
- Language · Bahasa
- Bahasa Indonesia
- Length · Panjang
- 5,158 words · ±23 min read
- Publisher · Penerbit
- KBA13 Insight, Banda Aceh, Indonesia
- Permalink
- www.kba13.com/gugurnya-kohler-masjid-raya-risalah-1884-april-1873/
- How to cite · Cara mengutip
- Kamaruzzaman Bustamam Ahmad. (2026, November 5). Gugurnya Köhler di Depan Masjid Raya: Membaca Risalah 1884 dan Kemenangan Aceh pada April 1873. KBA13 Insight, 6(176). https://www.kba13.com/gugurnya-kohler-masjid-raya-risalah-1884-april-1873/
- Rights · Hak cipta
- © 2026 KBA13 Insight. Quotation permitted with full attribution and link.







Leave a Reply