Peran Aceh dalam dunia Melayu dapat dibaca melalui dua jalur yang saling berhubungan: persaingan kekuasaan di Selat Melaka dan peredaran pengetahuan melalui ulama serta naskah. Keduanya penting, tetapi tidak membentuk cerita tunggal bahwa Aceh selalu menjadi pelindung semua kerajaan Melayu atau bahwa satu pusat sendirian menciptakan identitas kawasan.
Hubungan sejarah lebih rumit daripada pembagian antara pihak yang memberi dan pihak yang menerima. Kerajaan dapat bersaing sekaligus berbagi bahasa intelektual. Sebuah pusat politik dapat kehilangan pengaruh militer sementara teks-teks yang berhubungan dengannya terus dibaca.
Sesudah jatuhnya Melaka pada 1511
Penaklukan Melaka oleh Portugis pada 1511 mengubah lingkungan politik Selat Melaka. Dalam pembacaan Leonard Y. Andaya mengenai hubungan Melayu dan Aceh, Johor serta Aceh muncul sebagai dua pesaing yang menuntut kedudukan penerus Melaka. Kerangka ini menunjukkan bahwa tidak ada satu garis pewarisan yang diterima tanpa persaingan.
Agama berperan dalam bahasa legitimasi, tetapi perdagangan, pelabuhan, dan kekuasaan juga perlu diperiksa. Menafsirkan seluruh perang sebagai tindakan menyelamatkan satu identitas akan menyembunyikan kepentingan yang berbeda di antara kerajaan-kerajaan kawasan.
Perlawanan, persaingan, dan batas kekuatan
Kajian mengenai pengepungan Melaka pada 1629 dan 1640–1641 memperlihatkan bahwa serangan Aceh dan pengambilalihan Melaka oleh VOC merupakan rangkaian yang berbeda. Kegagalan Aceh pada 1629 tidak boleh ditulis seolah-olah Aceh kemudian berhasil mengusir Portugis pada peristiwa yang sama.
Penelitian tentang rencana hubungan Aceh–VOC pada 1640–1641 juga memperlihatkan pentingnya diplomasi dan ketidakpastian persekutuan. Hubungan tidak dapat dipetakan hanya berdasarkan agama para pelakunya. Untuk memahami keputusan politik, kita perlu menelusuri korespondensi, kondisi militer, dan kepentingan setiap pihak.
Karena itu, istilah pelindung atau penyelamat harus diperlakukan sebagai penafsiran yang membutuhkan bukti. Bagi wilayah yang diserang, ekspansi kerajaan dapat berarti kekerasan dan pemindahan penduduk. Sejarah kebesaran perlu tetap memberi ruang bagi pengalaman masyarakat yang menghadapi kekuasaan tersebut.
Jalur lain: ulama dan penulisan dalam bahasa Melayu
Peran Aceh juga tampak melalui lingkungan keilmuan. Penelitian Annabel Teh Gallop tentang manuskrip Islam dari Aceh di British Library menyoroti naskah berbahasa Arab, Melayu, dan Aceh. Keberagaman itu membantu kita melihat Aceh sebagai ruang kerja intelektual yang tidak dibatasi satu bahasa.
Namun, keberadaan sebuah salinan di perpustakaan tidak otomatis membuktikan di mana karya pertama kali disusun atau sejauh apa ia dibaca. Penelusuran pengaruh membutuhkan perhatian terhadap pengarang, penyalin, tempat penyimpanan, kolofon, serta riwayat peredaran.
Hamzah Fansuri dan warisan sastra keagamaan
UNESCO menempatkan karya-karya Hamzah Fansuri dalam Memory of the World pada 2025 melalui pengusulan Indonesia dan Malaysia. Uraiannya menekankan peran prosa dan syair Hamzah dalam pemikiran keagamaan serta perkembangan sastra Melayu. Pengakuan bersama ini menawarkan contoh bagaimana warisan intelektual dapat dipelihara melintasi batas negara.
Hamzah perlu dibaca melalui karya dan gagasannya, bukan hanya gelar kehormatan. Membahas warisannya berarti menelaah cara bahasa digunakan untuk menjelaskan pengalaman spiritual serta membuka perdebatan. Pembaca juga perlu membedakan pengaruh suatu karya dari persetujuan semua orang terhadap ajarannya.
Al-Raniri, al-Singkili, dan keluasan bidang keilmuan
Katalog British Library mencatat karya fikih Nuruddin al-Raniri dalam bahasa Melayu serta salinan Mir’at al-Tullab karya Abdur Rauf al-Singkili dari Aceh. Contoh ini menunjukkan bahwa tradisi penulisan tidak terbatas pada syair atau tasawuf, tetapi juga mencakup persoalan hukum.
Hubungan ulama, penguasa, penyalin, dan pembaca perlu diteliti secara terpisah. Sebuah teks dapat disusun dalam lingkungan istana, disalin kemudian, dan dibaca dalam keadaan politik yang berbeda. Masa produktif keilmuan tidak harus dimulai tepat ketika kegiatan militer berhenti; kedua proses dapat bertumpang tindih.
Bahasa Aceh, bahasa Melayu, dan aksara Jawi
Bahasa dan aksara merupakan kategori berbeda. Dalam tradisi manuskrip Melayu, Jawi merujuk pada sistem tulisan berbasis aksara Arab yang disesuaikan untuk bahasa Melayu. Menyebut Jawi sebagai sekadar nama lama sebuah bahasa akan mengaburkan perbedaan tersebut.
Penggunaan bahasa Melayu dalam karya keilmuan tidak meniadakan bahasa Aceh atau bahasa lain di kawasan. Untuk mengetahui hubungan keduanya, peneliti perlu menanyakan siapa pembacanya, dalam lingkungan apa teks digunakan, serta bagaimana istilah diterjemahkan atau dijelaskan.
Pengaruh regional tanpa menghapus perbedaan
Perdagangan, kekuasaan, dan naskah memberi jalan yang berbeda untuk memahami pengaruh Aceh. Ketiganya tidak boleh disatukan menjadi ukuran tunggal. Kemenangan militer tidak otomatis menentukan bahasa sehari-hari masyarakat, sementara penggunaan sebuah kitab tidak dengan sendirinya menunjukkan ketundukan politik.
Kesimpulan yang lebih kuat adalah bahwa Aceh merupakan salah satu pusat penting dalam sejarah hubungan kawasan. Pengaruh itu dapat diteliti tanpa menyatakan semua identitas Melayu berasal dari Aceh, dan tanpa menyangkal kekhasan identitas Aceh. Keterhubungan dan perbedaan justru perlu diterangkan secara bersamaan.
Artikel pendamping: Pasai, Sejarah Melayu, dan Tun Seri Lanang; jalur migrasi orang Aceh ke Malaysia.
Aceh’s Role in the Malay World: Power, Scholars, and Manuscripts
Aceh’s role in the Malay world can be examined through two connected pathways: competition for power in the Straits of Melaka and the circulation of knowledge through scholars and manuscripts. Neither supports a simple story in which Aceh always protected every Malay kingdom or one centre created the region’s identity alone.
Courts could compete while sharing an intellectual language. Political influence could diminish while texts continued to circulate. A relationship between giver and recipient is therefore insufficient to describe the region’s history.
After the conquest of Melaka in 1511
The Portuguese conquest of Melaka in 1511 changed the straits’ political setting. Leonard Y. Andaya’s discussion of Malayu and Aceh identifies Johor and Aceh as competing claimants to Melaka’s succession. This points to contested authority rather than a universally accepted line of inheritance.
Religion mattered to political legitimacy, but commerce, ports, and power also require attention. Reading every war as the rescue of a shared identity obscures differences among regional rulers and their interests.
Resistance and competition
Research comparing the sieges of 1629 and 1640–1641 distinguishes Aceh’s unsuccessful campaign from the later VOC takeover of Melaka. These must not be merged into a single episode in which Aceh expelled the Portuguese.
Research on the attempted Aceh–VOC relationship in 1640–1641 also highlights diplomacy and uncertain alliances. Religious affiliation alone cannot map political relationships. Correspondence, military conditions, and each party’s interests help explain decisions.
Terms such as protector and saviour are interpretations that need evidence. For communities facing an expanding kingdom, conquest could involve violence and forced movement. Narratives of greatness should leave room for those experiences.
Scholars and writing in Malay
Intellectual work offers another route into Aceh’s regional significance. Annabel Teh Gallop’s study of Islamic manuscripts from Aceh in the British Library discusses material in Arabic, Malay, and Acehnese. This diversity suggests an intellectual environment not confined to one language.
A surviving copy does not automatically establish where a work was first composed or how widely it was read. Tracing influence requires attention to authors, scribes, colophons, provenance, and circulation.
Hamzah Fansuri’s literary inheritance
UNESCO registered the works of Hamzah Fansuri in Memory of the World in 2025 following a joint Indonesian–Malaysian nomination. Its account highlights his religious prose and poetry and their importance for Malay literature. Joint stewardship provides an example of preserving intellectual heritage across national boundaries.
Hamzah deserves engagement through his works and ideas rather than honorary titles alone. His legacy invites study of language, spiritual experience, and debate. A work’s influence must also be distinguished from universal agreement with its teachings.
Al-Raniri, al-Singkili, and fields of knowledge
The British Library catalogue records a Malay legal work by Nuruddin al-Raniri and an Acehnese copy of Abdur Rauf al-Singkili’s Mir’at al-Tullab. Such examples show a written tradition extending beyond poetry and Sufism into legal questions.
Relations among scholars, rulers, scribes, and readers require separate investigation. A work could be composed in one political setting, copied later, and read under different circumstances. Intellectual production did not necessarily begin only after military activity stopped; the processes could overlap.
Languages and the Jawi script
A language and its writing system are different categories. In Malay manuscript culture, Jawi is an adapted Arabic-based script used to write Malay. Treating it simply as an older name for a language confuses those categories.
Malay scholarly writing does not erase Acehnese or other regional languages. Researchers should ask who read a text, where it was used, and how concepts were translated or explained.
Connections without uniformity
Commerce, political power, and manuscripts are distinct ways of investigating influence. Military victory does not automatically determine everyday language, while reading a religious text does not establish political subordination.
Aceh can be recognised as an important regional centre without claiming that every Malay identity originated there. Its connections can likewise be acknowledged without denying Acehnese particularities. Explaining both connection and difference produces a stronger historical account.
Companion articles: Pasai, the Malay Annals, and Tun Seri Lanang; Acehnese migration to Malaysia.
Rujukan / References
- Andaya, L. Y. (2008). From Malayu to Aceh. In Leaves of the Same Tree. University of Hawai‘i Press.
- Two Sieges of Portuguese Melaka: 1629 and 1640–1641. NOVA research repository.
- Ties That Unbind: The abortive Aceh–VOC alliance for the conquest of Melaka 1640–1641. Indonesia and the Malay World.
- Gallop, A. T. (2022). Islamic Manuscripts from Aceh in the British Library. Journal of Islamic Manuscripts.
- UNESCO. The Works of Hamzah Fansuri. Memory of the World, 2025.
- British Library. Malay manuscript catalogue; Malay manuscript art: the British Library collections.






Leave a Reply