Religion โ€ข Geopolitics โ€ข Intelligence โ€ข Civilization

Suara dari Laut Indonesia: Krisis Identitas Maritim Nusantara

Suara dari Laut Indonesia: Krisis Identitas Maritim

Bacaan pendukung: telusuri buku & referensi terkait di Periplus, Shopee, atau Blibli. (tautan afiliasi)

Suara dari Laut Indonesia

Silvia Bidayah Nafsani

Sebagai warga negara Indonesia, apa yang terlintas dalam benakmu saat kapal Virgo tenggelam dan tahu fakta menyedihkannya bahwa ia adalah kapal lama yang dipaksa untuk melaju?

Saya berpikir: apa yang hendak dikatakan oleh laut Indonesia? Apalagi kejadiannya ada di tengah Laut Jawa. Laut yang kalau kita berenang di tengah-tengahnya, kita punya harapan akan terdampar dan ditemukan di seluruh pulau-pulau besar Indonesia. Dan Virgo tenggelam di sana.

Saat kelas 5 SD saya sempat bingung menjawab soal pilihan ganda IPS, โ€œApa bentuk negara Indonesia?โ€

  1. Maritim
  2. Hukum
  3. Agraris
  4. Demokrasi

Saat itu ingatan saya bergulir pada nyanyian anak-anak: nenek moyangku seorang pelaut. Jadi, jawabanku di soal itu adalah Indonesia adalah negara maritim. Meski saat itu, sebagai anak kecil, aku bingung. Apa benar Indonesia negara maritim? Kenapa di sekolah tidak diwajibkan anak-anak โ€œminimalโ€ bisa berenang?

Pertanyaan kecil itu terjawab ketika saya tumbuh dewasa. Kapal Jung Jawa adalah kapal layar kuno raksasa asli Nusantara yang digunakan pelaut Jawa dan Sunda untuk perdagangan dan militer. Tercatat kapal itu ada sejak abad ke-11 dan mencapai kejayaannya pada abad ke-14 hingga ke-16. Dari era Raja Hayam Wuruk hingga Ratu Kalinyamat. Bahan baku kapal ini kayu jati dan ukurannya besar-besar. Kalau dipikir sederhana, jangan-jangan Nabi Nuh dulunya yang mewarisi keahlian ini. (Siapa tahu, kan?)

Sejarah Kapal Jung Jawa itu membuat pikiran saya ketika melihat sungai-sungai besar di Indonesia berubah. Saya mulai bertanya, apakah kapal zaman dulu masuk perkampungan menggunakan sungai? Saya pernah dengar cerita dari Sungai Brantas. Konon katanya, lebar sungainya tidak segitu, dulu kapal-kapal berlalu lalang di atasnya. Jadi, bagaimana kita melihat Siak sekarang yang semakin hari sungainya semakin dangkal? Atau saya mendengar cerita dari KH. Ahmad Baso bahwa dulu nenek moyang orang Bugis sudah berinteraksi dengan suku Aborigin di Australia. Dan dari ujung barat sampai timur Indonesia kita punya saudara yang hidup di lautan, yaitu suku Sampan dan Bajo.

Dari segala kemungkinan itu, saya percaya bahwa Indonesia adalah negara maritim. Selanjutnya, hal itulah yang membuat Indonesia menjadi bangsa yang kosmopolit dan tentu saja kaya raya.

Kedekatan orang-orang Nusantara dengan kapal-kapal besar pasca abad ke-16 mulai menipis. Amangkurat I berbeda dengan ayahnya yang menentang VOC. Sebaliknya, dia memilih dekat dengan asing daripada rakyatnya sendiri. Kebijakan perdagangan dan perkapalannya di pesisir pantai utara mengubah cara berpikir maritim bangsa ini menjadi daratan-sentris. Dia menutup galangan kapal dan pembuatan kapal mati total. Di sebelah sana, VOC senang dengan ini karena mendapat jalan yang lapang untuk memonopoli komoditas rempah dan beras serta menyingkirkan saingan dagang terberat mereka: armada dagang orang Jawa.

Lalu, apakah menjadi bangsa yang daratan-sentris lantas membuat Indonesia lumpuh? Menurut saya, itu tidak sepenuhnya menjadi masalah. Kita hidup di wilayah tropis yang tanahnya subur dan memungkinkan pertanian berkembang. Padi adalah bagian penting dari kehidupan kita. Persoalannya bukan apakah kita harus memilih menjadi bangsa agraris atau maritim, melainkan apakah kita masih mengenali laut sebagai bagian dari identitas dan kekuatan kita sendiri.

Jangan sampai kita benar-benar kehilangan identitas sebagai bangsa lautan. Sebab, ketika itu terjadi, kita bukan hanya kehilangan kemampuan mengarungi laut, melainkan juga kehilangan kemampuan membaca alam Indonesia beserta tanda-tanda yang diberikannya.

Tradisi adalah salah satu hasil dari cara leluhur berkomunikasi dengan alam. Pengalaman yang terkumpul selama ratusan tahun itu membentuk cara mereka berpikir, mengambil keputusan, dan hidup bermasyarakat. Mereka mengamati, mencoba, mengalami, lalu mewariskan pengetahuan kepada generasi berikutnya. Jika kita kehilangan hubungan dengan pengetahuan itu, kita kehilangan salah satu sumber daya untuk memahami diri sendiri. Kita menjadi mudah goyah, kehilangan pijakan, dan lebih mudah menerima cara pandang dari luar tanpa sempat mengujinya dengan pengalaman serta kebutuhan kita sendiri.

Jika kita kehilangan unsur dasar kebudayaan kita, dalam hal ini kebudayaan maritim, tanpa sadar kita juga kehilangan sebagian makna bernegara. Sebab, Indonesia bukan sekadar tanah yang kita tinggali dan batas wilayah yang kita pertahankan. Indonesia juga merupakan hubungan panjang antara manusia, daratan, lautan, dan pengetahuan yang tumbuh dari hubungan tersebut.

Saya melihat keadaan Indonesia hari ini, setidaknya sebagian, sebagai akibat dari ketercerabutan kita dari akar budaya dan cara berpikir yang tumbuh di Nusantara sendiri. Kita belum sepenuhnya memahami kebudayaan kita dengan baik, sehingga sering kali kesulitan mengelola kehidupan di atas tanah air ini sesuai dengan karakter dan kebutuhan kita. Kita seperti kehilangan kemampuan untuk mendengarkan alam.

Padahal, sejak lama kita mengenal berbagai pandangan yang menghubungkan bentang alam Indonesia. Dalam tradisi Mataram Islam, misalnya, terdapat kepercayaan tentang keterhubungan Gunung Merapi dan Pantai Selatan. Hubungan itu jangan buru-buru hanya dimaknai sebagai sesuatu yang mistis. Kita juga bisa membacanya sebagai pengetahuan simbolis tentang keterhubungan antara gunung, daratan, laut, dan kehidupan manusia. Ada cara pandang yang mengingatkan kita bahwa manusia Indonesia tidak hidup terpisah dari alamnya. Daratan dan lautan bukan dua dunia yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari satu kesatuan kehidupan.

Kira-kira, sampai kapan kita mau begini?

Laut kembali memberi kita isyarat. Belum lama ini, kita mendengar kabar tentang kasus anak buah kapal (ABK) yang diduga mengalami penyiksaan yang kapalnya berangkat dari Muara Angke. Sementara itu, tenggelamnya Virgo mengingatkan kita bahwa laut bukan hanya ruang ekonomi dan jalur transportasi, tetapi juga ruang hidup manusia yang menuntut keselamatan, pengetahuan, dan penghormatan terhadap martabat pekerjanya.

Di tengah keadaan itu, saya melihat program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai salah satu peluang untuk kembali memikirkan hubungan antara daratan dan lautan. Bukankah menarik jika padi dan ikan bertemu dalam satu piring yang disajikan kepada anak-anak Indonesia? Padi mewakili kekuatan pertanian kita, sedangkan ikan mengingatkan kita pada kekayaan laut yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan bangsa.

Dari situ, kita bisa membangun kesadaran bahwa kebutuhan pangan, termasuk protein dan karbohidrat, semestinya semakin mampu kita penuhi melalui potensi sendiri. Tentu saja, hal ini membutuhkan pengelolaan yang baik, rantai pasok yang adil, perlindungan terhadap petani dan nelayan, serta perhatian pada keberlanjutan sumber daya alam. Jika dijalankan dengan sungguh-sungguh, program pangan bukan hanya urusan memberi makan, melainkan juga kesempatan untuk menggerakkan ekonomi dari desa, sawah, pesisir, hingga meja makan anak-anak kita.

Kemandirian pangan adalah bagian dari kemandirian bangsa. Indonesia memiliki potensi yang besar untuk memenuhi kebutuhannya sendiri. Kita bahkan telah mencatat capaian tidak mengimpor beras konsumsi sepanjang 2025. Ini tentu patut disyukuri, sembari tetap memastikan keberlanjutan produksi, kesejahteraan petani, keterjangkauan harga, dan ketahanan pangan di masa mendatang. Kemandirian bukan berarti kita menutup diri dari dunia, melainkan memiliki kemampuan untuk berdiri tegak ketika berhubungan dengan negara lain.

Begitu pula dengan laut. Kita tidak bisa hanya bangga menyebut Indonesia sebagai negara kepulauan jika kekayaan lautnya belum sepenuhnya menjadi sumber kesejahteraan rakyat. Kita tidak bisa mengaku sebagai bangsa maritim jika keselamatan awak kapal masih terabaikan, nelayan kecil kesulitan hidup, dan potensi laut belum dikelola untuk kepentingan bersama.

Dalam hubungan internasional, kemampuan maritim juga berkaitan dengan kemandirian strategis. Setiap kerja sama dengan negara lain perlu dilihat dari manfaat, kepentingan, dan konsekuensinya bagi Indonesia. Ketika ada perkembangan kerja sama pertahanan atau pengadaan kapal dari negara lain, kita perlu bertanya: apa yang sedang kita bangun? Apakah itu memperkuat kemampuan kita sendiri, meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir, dan menjaga kedaulatan laut, atau justru membuat kita semakin bergantung pada pihak lain?

Menurut saya, Indonesia perlu benar-benar bangkit dari ketercerabutan identitasnya. Kita perlu kembali mengenali siapa diri kita, bagaimana leluhur membangun pengetahuan, dan bagaimana pengetahuan itu bisa digunakan untuk menjawab persoalan hari ini. Bukan untuk memuja masa lalu, melainkan untuk menjadikannya pijakan dalam membangun masa depan.

Sebab, seperti manusia, sebuah negara juga perlu belajar berdiri di atas kakinya sendiri. Kita tetap membutuhkan kerja sama, persahabatan, dan pertukaran pengetahuan dengan bangsa lain. Namun, kita tidak bisa menggantungkan seluruh masa depan kepada mereka.

Pada akhirnya, pertanyaan saya kembali ke awal: apa yang hendak dikatakan oleh laut Indonesia ketika Virgo tenggelam?

Laut sedang mengingatkan kita bahwa menjadi bangsa maritim bukan sekadar soal memiliki ribuan pulau, kapal besar, atau garis pantai yang panjang. Menjadi bangsa maritim berarti memahami laut sebagai ruang hidup, sumber pengetahuan, jalur peradaban, dan bagian dari identitas kita.

Jangan sampai kita baru mengingat laut ketika kapal tenggelam, nelayan kehilangan penghidupan, atau awak kapal mengalami kekerasan. Jangan sampai kita baru menyadari betapa pentingnya laut ketika kepentingan negara lain hadir lebih dahulu di sana.

Kita perlu kembali mendengarkan laut. Bukan dengan romantisme semata, melainkan dengan pengetahuan, kebijakan yang berpihak kepada rakyat, dan keberanian untuk mengelola kekayaan sendiri.

Jika kita kehilangan hubungan dengan laut, jangan-jangan yang sebenarnya sedang tenggelam bukan hanya sebuah kapal, melainkan juga sebagian dari cara kita memahami Indonesia.

 

About The Author

Rekomendasi Bacaan KBA13 INSIGHT

Jika tulisan ini bermanfaat, dukung jurnal ini dengan mencari bukunya melalui tautan berikut:

Daftar lengkap: Rekomendasi Buku, Alat Tulis & Layanan. Tautan di atas adalah tautan afiliasi — KBA13 INSIGHT dapat memperoleh komisi kecil tanpa biaya tambahan bagi Anda.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Rekomendasi Buku, Alat Tulis & Layanan Pilihan KBA13 INSIGHT →