KBA13 INSIGHT

Religion · Geopolitics · Intelligence · CivilizationAgama · Geopolitik · Intelijen · Peradaban

Nusantaranologi: Membangun Ilmu Sosial dan Humaniora dari Pengetahuan Lokal

Nusantaranologi sebagai agenda ilmu sosial dan humaniora: pengetahuan lokal, konsep, dan metode penelitian. Edisi Indonesia–Inggris.

KBAAuthorPenulis
ContentsDaftar Isi

    KeywordsKata Kunci

    Bahasa Indonesia · English · Abstrak dan rujukan asli

    Nusantaranologi: dari pengetahuan lokal menuju teori

    Nusantaranologi mengajak kita memandang masyarakat Nusantara sebagai sumber gagasan yang dapat ikut membangun ilmu sosial dan humaniora. Adat, kosmologi, dan praktik sosial dapat melahirkan pertanyaan serta konsep, selain menjadi bahan ilustrasi bagi teori yang telah tersedia.

    Draft ini semula memuat abstrak dan bibliografi artikel Kamaruzzaman Bustamam Ahmad dan Fitri Zulfidar Ibrahim, “Construction of Social Sciences and Humanities towards Nusantaranology”, dalam Al-A’raf, volume 17, nomor 2 (2020). Pembahasan berikut merupakan pengembangan editorial untuk pembaca web. Abstrak dan rujukan dari draft dipertahankan di bagian akhir; naskah jurnal tersedia melalui DOI artikel.

    Persoalan: bahan berlimpah, penjelasan belum terhubung

    Pengetahuan tentang masyarakat tersebar dalam monografi, laporan penelitian, tuturan, dan dokumen lembaga. Kekayaan bahan belum otomatis menjadi percakapan teoretis. Kita dapat mengetahui nama banyak upacara, tetapi belum memahami bagaimana upacara mengatur kewajiban dan kewenangan.

    Pertanyaan yang produktif adalah bagaimana masyarakat membangun, menyampaikan, dan menguji pengetahuan tentang dunianya. Dengan pertanyaan itu, penelitian bergerak dari inventarisasi tradisi menuju penjelasan tentang cara tradisi bekerja.

    Pertemuan ilmu sosial dan humaniora

    Ilmu sosial menelaah institusi, relasi, dan perubahan. Humaniora membantu membaca makna, sejarah, bahasa, dan nilai. Kajian ritual memerlukan keduanya: pembacaan simbol disertai perhatian terhadap orang yang menanggung biaya, menetapkan aturan, dan memperoleh kedudukan melalui pelaksanaannya.

    Memperhatikan pengetahuan lokal tidak berarti menganggap semua praktik lokal adil atau tidak berubah. Tradisi dapat menyimpan solidaritas sekaligus ketimpangan. Peneliti perlu mendengar perempuan, generasi muda, pendatang, dan kelompok di luar otoritas, selain juru bicara resmi.

    Dari istilah menjadi konsep

    Pertahankan istilah dalam bahasa pemiliknya dan dokumentasikan situasi pemakaiannya. Terjemahan yang terlalu cepat dapat menghapus perbedaan makna. Selanjutnya, telusuri tindakan serta hubungan yang diatur oleh istilah itu.

    Konsep memperoleh kekuatan ketika dapat menjelaskan pola sekaligus batasnya. Jika sebuah istilah menerangkan kewajiban timbal balik, penelitian perlu menunjukkan kapan kewajiban berlaku, siapa yang dapat menolak, dan bagaimana sengketa diselesaikan. Hasilnya kemudian dapat dibandingkan dengan konsep lain tanpa menghapus konteks asal.

    Lima langkah penelitian

    1. Petakan pustaka: catat penelitian, bahasa, lokasi, dan kelompok yang belum terwakili.
    2. Telusuri konsep: kumpulkan istilah dan contoh penggunaannya; bedakan penjelasan informan dari tafsir peneliti.
    3. Lakukan kerja lapangan: bandingkan ucapan dengan praktik dan perubahan antargenerasi.
    4. Uji penjelasan: cari kasus yang membantah dugaan awal dan tentukan batas berlakunya konsep.
    5. Kembalikan pengetahuan: bagikan hasil dalam bentuk yang dapat digunakan dan dikritik komunitas terkait.

    Menghindari penyederhanaan

    Dua jalan pintas perlu dihindari: memaksa data mengikuti teori yang tidak boleh dibantah, dan menganggap asal lokal sudah menjamin kebenaran. Penelitian yang kuat menguji keduanya melalui bukti, perbandingan, dan kesediaan memperbaiki penjelasan.

    Nusantara juga tidak merupakan satu kebudayaan yang seragam. Perbandingan antara Aceh, Jawa, Bali, Papua, dan wilayah lain memerlukan perhatian terhadap perbedaan sejarah serta kosmologi. Kerangka bersama berguna ketika membantu percakapan sambil mempertahankan perbedaan tersebut.

    Agenda universitas

    Universitas dapat mengembangkan seminar lintas disiplin, dokumentasi istilah, pembacaan arsip, dan penelitian bersama komunitas. Mutu agenda ini dinilai melalui ketelitian sumber serta daya penjelasan, selain banyaknya bahan yang dikumpulkan.

    Bagi pembaca umum, lingkungan sosial terdekat menyimpan pertanyaan ilmiah yang serius. Mengembangkan Nusantaranologi berarti menghubungkan bahan lokal dengan persoalan yang dapat diperdebatkan lebih luas. Jelajahi Acehnology dan buku-buku KBA untuk melanjutkan pembacaan.


    Nusantaranology: From Local Knowledge to Theory

    Nusantaranology invites researchers to treat the societies of the Indonesian archipelago as sources of concepts that can contribute to the social sciences and humanities. Customs, cosmologies, and social practices can generate questions and explanations as well as illustrate existing theories.

    This draft originally contained the abstract and bibliography of Kamaruzzaman Bustamam Ahmad and Fitri Zulfidar Ibrahim’s 2020 article, “Construction of Social Sciences and Humanities towards Nusantaranology”, in Al-A’raf, volume 17, issue 2. This edition adds an editorial discussion while preserving the draft’s scholarly material below. The journal paper can be identified through its DOI.

    Abundant materials, disconnected explanations

    Knowledge about a society may be scattered across monographs, reports, oral accounts, and archives. Collecting these materials does not automatically create a connected theoretical discussion. Listing ceremonies differs from explaining how they organise obligations and authority.

    A useful shift is to ask how people build, communicate, and contest knowledge about their world. Research can then move from identifying traditions towards explaining how they work.

    Bringing disciplines into conversation

    Social science examines institutions, relationships, and change. The humanities investigate meanings, histories, languages, and values. Research on ritual benefits from both: it interprets symbols while asking who pays, who defines the rules, and who gains standing through participation.

    Taking local knowledge seriously also requires criticism. A tradition may generate solidarity and preserve unequal relationships. Women, young people, newcomers, and those outside formal authority should be heard alongside recognised spokespersons.

    Developing concepts from local terms

    Begin by recording a term in its own language and documenting its use. Translating too quickly can erase distinctions that matter locally. Next, trace the actions and relationships organised through that term.

    A concept becomes useful when research identifies both its explanatory value and its limits. If it describes reciprocal duties, show when those duties apply, who can refuse them, and how disputes are addressed. Comparison can then deepen understanding without erasing context.

    Five research steps

    1. Map existing work: identify publications, languages, locations, and missing perspectives.
    2. Document concepts: gather terms and examples; distinguish participants’ accounts from researchers’ interpretations.
    3. Undertake fieldwork: compare statements with practice and investigate generational change.
    4. Test explanations: seek cases that challenge the initial interpretation and establish its limits.
    5. Return knowledge: share findings in forms participating communities can use and question.

    Avoiding shortcuts

    One shortcut forces evidence into a theory that cannot be questioned. Another assumes that local origins guarantee truth. Careful research tests both imported explanations and local claims through evidence, comparison, and revision.

    The archipelago should not be treated as one uniform culture. Comparing Aceh, Java, Bali, Papua, and other places requires attention to distinct histories and cosmologies. A shared framework should enable conversation while keeping differences visible.

    Implications for universities

    Universities can develop interdisciplinary reading groups, concept documentation, archival study, and community partnerships. Success should be judged through the quality of evidence and explanation as well as the volume of materials assembled.

    For general readers, the central invitation is to recognise serious questions within familiar social worlds. Developing Nusantaranology connects local materials with wider scholarly debate. Explore Kamaruzzaman Bustamam Ahmad’s books for further reading.


    Abstrak dan bibliografi dari draft / Abstract and bibliography from the draft

    Bagian berikut mempertahankan bahan ilmiah dari draft. Artikel web ini bukan salinan lengkap naskah jurnal. / The following section preserves the scholarly material from the draft. This web article does not reproduce the full journal paper.

     

    Source: https://ejournal.iainsurakarta.ac.id/

     

    Abstract

    This study is the first attempt to introduce the concept of Nusantaranology in Indonesia. Based on a bibliographic survey and the authors’ experiences in research development, it appears that Indonesia has a very strong scientific foundation compared to other countries. Besides, the fact that the wealth of local treasures in Nusantara can be utilized as a first step to develop the scientific concept of Nusantaranology. In this study, the authors conducted a bibliographic survey on how the influence of Western social sciences and humanities on several studies or research in Indonesia. The authors argue that the influence of the Western scientific tradition needs to be re-examined in understanding the various local knowledge found in Nusantara. The authors also found that various research results from local researchers have shown that the products of knowledge in Nusantara are very profound if they are framed under a scientific umbrella, i.e Nusantaranology. Finally, this study is expected to be the first step for researchers in Indonesia to carry out various studies on local issues, while continuing to strengthen the philosophical foundations of science, to reinforce the concept of Nusantaranology or Indonesian Studies.

    Keywords

     

    Nusantaranology, Local cultural treasures, Social sciences and humanities, Scientific traditions, Indonesian studies
    AHMAD, Kamaruzzaman Bustamam; IBRAHIM, Fitri Zulfidar. CONSTRUCTION OF SOCIAL SCIENCES AND HUMANITIES TOWARDS NUSANTARANOLOGY. Al-A’raf : Jurnal Pemikiran Islam dan Filsafat, [S.l.], v. 17, n. 2, p. 205-226, dec. 2020. ISSN 2527-5119. Available at: <https://ejournal.iainsurakarta.ac.id/index.php/al-araf/article/view/3006>. Date accessed: 13 mar. 2022. doi:https://doi.org/10.22515/ajpif.v17i2.3006.

    References

     

    Abdullah, Irwan. Konstruksi dan Reproduksi Kebudayaan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2006.

    Afif, Afthonul, ed. Matahari dari Mataram: Menyelami Spiritualitas Jawa Rasional Ki Ageng Suryomentaram. Yogyakarta: Kepik, 2012.

    Ahimsa-Putra, Heddy Shri. Struktruralisme Levi-Strauss Mitos dan Karya Sastra. Yogyakarta: Kepel Press, 2012.

    Apituley, Peter M., Abdul R. Macap, dan Dian Fatot. Tradisi Wala Orang Matbat di Kampung Temulol Distrik Misool Timur Kabupaten Raja Ampat. Yogyakarta: Penerbit Amara Books dan BPNB Papua, 2016.

    Bottignolo, Bruno. Celebrations with the Sun: An Overview of Religious Phenomena among the Badjaos. Manila: Ateneo de Manila University Press, 1995.

    Bustamam-Ahmad, Kamaruzzaman. Acehnologi. 6 vol. Banda Aceh: Bandar Publishing, 2018.

    ———. “Imajinasi Kebangsaan di Nusantara: Suatu Kajian Bibliografis.” Afkaruna: Indonesian Interdisciplinary Journal of Islamic Studies 13, no. 17 (2018): 168–203.

    ———. Kontribusi Charles Taylor, Syed Muhammad Naquib al-Attas dan Henry Corbin dalam Studi Metafisika & Meta-Teori Islam Nusantara di Indonesia. Banda Aceh: Bandar Publishing, 2016.

    ———. “Kosmologi Jawa.” Dalam Dunia Kali Code: Partisipasi, Pengetahuan Lokal, dan Pengembangan Masyarakat Sungai, disunting oleh Dicky Sofjan dan John Haba, 66–75. Yogyakarta: Sekolah Pascasarjana UGM, 2018.

    ———. “Mempertimbangkan Kontribusi Charles Taylor terhadap Studi Agama di Indonesia.” Epistemé: Jurnal Pengembangan Ilmu Keislaman 11, no. 2 (2016): 225–59.

    ———. Strategi Kebudayaan untuk Bangsa. Banda Aceh: Ar-Raniry Press, 2014.

    Cibro, Ramli. Rekonstruksi Pemikiran Kamaruzzaman Bustamam Ahmad: Dari Islam Politik ke Acehnologi 1996-2018. Banda Aceh: Bandar Publishing, 2019.

    Connel, Raewyn. The Good University: What Universities Actually Do and Why it’s Time for Radical Change. London: Zed Books, 2019.

    Covarrubias, Miguel. Island of Bali. Singapore: Periplus, 1973.

    Djunatan, Stephanus. “Kekosongan yang Penuh: Sebuah Tafsiran atas Kosmologi Sunda.” Melintas: An International Journal of Philosophy and Religion 29, no. 3 (2013): 288–314.

    Eiseman, Fred B. Bali Sekala & Niskala: Essays on Religion, Ritual, and Art. Singapore: Periplus, 1990.

    Endraswara, Suwardi. Etnologi Jawa: Penelitian, Perbandingan, dan Pemaknaan Budaya. Yogyakarta: CAPS, 2015.

    ———. Mistik Kejawen: Sinkretisme, Simbolisme dan Sufisme dalam Budaya Spiritual Jawa. 4 ed. Yogyakarta: Narasi, 2006.

    ———. Revolusi Mental dalam Budaya Jawa: Percikan Upaya Mawas Diri Menjadi Manusia Berkarakter Mulia. Yogyakarta: Narasi, 2015.

    Eriksen, Thomas Hylland. Ethnicity and Nationalism: Anthropological Perspectives. New York: Pluto, 2010.

    Evawarni, Nuraini, dan Jauhar Mubarok. Tradisi Kumpul Sanak di Sekernan, Muaro Jambi. Tangjungpinang: BNPB Kepulauan Riau, 2017.

    Evers, Hans-Dieter. “Nusantara: History of a Concept.” Journal of the Malaysian Branch of the Royal Society 89, no. 310 (2016): 3–14.

    Fakih, Mansour. Sesat Pikir Teori Pembangunan dan Globalisasi. Yogyakarta: INSIST Press dan Pustaka Pelajar, 2001.

    Geertz, Clifford. Negara: The Theatre State in Nineteenth-Century Bali. Princeton: Princeton University Press, 1980.

    ———. The Interpretation of Cultures: Selected Essays by Clifford Geertz. New York: Basic Books. New York: Basic Books, 1973.

    Gerth, H.H., dan C. Wright Mills, ed. From Max Weber: Essays in Sociology. London: Routledge, 1974.

    Goomans, Mikhail. Manusia Daya: Dahulu, Sekarang, Masa Depan. Jakarta: Gramedia, 1987.

    Gouda, Frances. Dutch Culture Overseas: Praktik Kolonial di Hindia Belanda, 1900-1942. Diterjemahkan oleh Jugiarnie Soegiarto dan Suma Riella Rusdiarti. Jakarta: Serambi Ilmu Semesta, 2007.

    Hapsari, Windy, Muh Jundullah Dzia Ulhaq, dan Emillie Mansoben. Tradisi Waintuk Kala Suku Bangsa Moi di Kabupaten Sorong. Yogyakarta: Penerbit Amara Books dan BPNB Papua, 2018.

    Hidayat, Setia, dan N. Syamsuddin Ch. Haesy. Sangkakala Padjajaran: Upaya Awal Mengeja dan Menyingkap Makna Rumpaka. Bandung: Bina Rena Pariwara, 2004.

    Hurgronje, C. Snouck. Mekka in the Latter Part of the 19th Century: Daily Life, Customs and Learning, The Moslims of the East-Indian Archipelago. Leiden: Brill, 2007.

    Insani, Nur Hanifah. “Serat Nitimani: Pendidikan Seks Berdasarkan Etika Jawa.” Metasastra: Jurnal Penelitian Sastra 1, no. 1 (2018): 73–90.

    Irmayanti, Meliono. “Understanding the Nusantara Thought and Local Wisdom as an Aspect of the Indonesian Education.” Tawarikh: International Journal for Historical Studies 2, no. 2 (2011): 221–34.

    Kahn, Joel S. Other Malays: Nationalism and Cosmopolitanism in the Modern Malay World. Singapore: Singapore University Press, 2006.

    King, Victor T., dan William D. Wilder. The Modern Anthropology of South-East Asia: An Introduction. New York: RoutledgeCurzon, 2003.

    Kleden, Ignas, dan Taufik Abdullah, ed. Paradigma Ilmu Pengetahuan dan Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial dan Humaniora di Indonesia. Jakarta: LIPI Press, 2017.

    Koentjaraningrat. Manusia dan Kebudayaan di Indonesia. 20 ed. Jakarta: Djambatan, 2007.

    Kondolongit, Enrico Y., Veibe R. Assa, dan Windy Hapsari. Mumi dalam Budaya Suku Hubula di Lembah Balim Kabupaten Jayawijaya. Yogyakarta: Penerbit Amara Books dan BPNB Papua, 2017.

    Lemhanas. Bunga Rampai Wawasan Nusantara. Jakarta: LEMHANAS, 1981.

    Lombard, Denys. Nusa Jawa: Silang Budaya. Diterjemahkan oleh Winarsih Partaningrat Arifin, Rahayu S. Hidayat, dan Nini Hidayati Yusuf. Vol. 1. 2 vol. Batas-Batas Pembaratan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2008.

    Luthfi, Khabibi Muhammad. “Islam Nusantara: Relasi Islam dan Budaya Lokal.” SHAHIH: Journal of Islamicate Multidisciplinary, 2016.

    Maarif, Ahmad Syafii. Islam dalam Bingkai Keindonesiaan dan Kemanusiaan: Sebuah Refleksi Sejarah. Bandung: Mizan, 2015.

    Magnis-Suseno, Franz. Etika Jawa: Sebuah Analisa Falsafi tentang Kebijaksanaan Hidup Jawa. 9 ed. Jakarta: Gramedia, 2003.

    Malo, Masse, ed. Pengembangan Ilmu-Ilmu Sosial di Indonesia sampai Dekade ’80-an. Jakarta: Pusat Antar Universitas Ilmu-Ilmu Sosial UI dan Rajawali Press, 1989.

    Merduati, Hasbullah, Fariani, Nurhayati, dan Siti Mawar. Tradisi Berpantun dalam Masyarakat Minang. Banda Aceh: Balai Pelestarian Nilai Budaya, 2012.

    Mignolo, Walter D. The Darker Side of the Renaissance: Literacy, Territoriality, and Colonization. Michigan: The University of Michigan Press, 1995.

    Muali, Chusnul. “Rasionalitas Konsepsi Budaya Nusantara dalam Menggagas Pendidikan Karakter Bangsa Multikultural.” Jurnal Islam Nusantara 1, no. 1 (2017): 105–17.

    Mustapa, Hasan. Adat Istiadat Sunda. Diterjemahkan oleh M. Maryati Sastrawijaya. Bandung: Alumni, 2010.

    Nordholt, Nico Schulte, dan Leontine Visser, ed. Ilmu Sosial di Asia Tenggara: Dari Partikularisme ke Universalisme. Diterjemahkan oleh H. Setiawan. Jakarta: LP3ES, 1997.

    Nurhayati, Enung. Gajah Mada: Sistem Politik dan Kepemimpinan. Yogyakarta: Narasi, 2018.

    Poespowardojo T., Michael Soerjanto. “Kata Pengantar.” Dalam Filsafat Ilmu Pengetahuan: Hakikat Ilmu Pengetahuan, Kritik terhadap Visi Positivisme Logis, serta Implikasinya, oleh T. M. Soerjanto Poespowardojo dan Alexander Seran, vii–xxiii. Jakarta: Kompas, 2015.

    Purwadi. Ensiklopedi Adat-Istiadat Budaya Jawa. Yogyakarta: Pura Pustaka, 2012.

    Riana, I Ketut. Kakawin Dēśa Warṇnana uthawi Nāgara Kṛtāgama. Jakarta: Kompas, 2009.

    Rohana, Sita. Porari: Sistem Kerjasama Tradisional di Rokan Hulu, Riau. Tangjungpinang: BNPB Kepulauan Riau, 2017.

    Rohana, Siti, Novendra, dan Dedi Arman. Tradisi Togak Tonggol di Langgam, Pelalawan. Tangjungpinang: BPNP Kepulauan Riau, 2017.

    Rudyansjah, Tony. Emile Durkheim: Pemikiran Utama dan Percabangannya ke Radcliffe-Brown, Fortes, Levi-Strauss, Turner, dan Holbraad. Jakarta: Kompas, 2015.

    Rumansara, Enos H., Enrico Y. Kondolongit, Cahya Putra I, dan J. Budi B. Irianto. “Mbitoro” Patung Leluhur Suku Kamoro. Yogyakarta: Penerbit Amara Books dan BPNB Papua, 2018.

    Rustandi, Yuyus, dan Langgeng Prima Anggradinata. “Representasi Etos Kerja Orang Sunda dalam Ungkapan dan Folklor Sunda.” Jurnal Salaka: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Budaya Indonesia 1, no. 1 (2019): 33–40.

    Saberia, Yudha N. Yapsenang, dan Yeheskiel Indamarei. Kajian Makna dan Fungsi “Karamo” Tarian Tradisional Orang Isirawa/Saveri di Kampung Siaratesa Kabupaten Sarmi Papua. Yogyakarta: Penerbit Amara Books dan BPNB Papua, 2017.

    Saiful Mustofa. “Meneguhkan Islam Nusantara untuk Islam Berkemajuan: Melacak Akar Epistemologis dan Historis Islam (di) Nusantara.” Epistemé: Jurnal Pengembangan Ilmu Keislaman 10, no. 2 (6 Desember 2015). https://doi.org/10.21274/epis.2015.10.2.405-434.

    Samuel, Hanneman. Genealogi Kekuasaan Ilmu Sosial Indonesia: Dari Kolonialisme Belanda Hingga Modernisme Amerika. Jakarta: Kepik Ungu, 2010.

    Sedyawati, Edi. Budaya Indonesia: Kajian Arkeologi, Seni, dan Sejarah. 5 ed. Jakarta: Rajawali Press, 2012.

    Sembiring, Sri Alem Br., Agustrisno, Rytha Tambunan, Titit Lestari, dan Hotli Simanjuntak. Tradisi Masyarakat Parmalim di Toba Samosir. Banda Aceh: Balai Pelestarian Nilai Budaya, 2012.

    Smith, Linda Tuhiwai. Decolonizing Methodologies: Research and Indigenous Peoples. New York: Zed Books, 2012.

    Smith, Linda Tuhiwai, Eve Tuck, dan K. Wayne Yang, ed. Indigenous and Decolonizing Studies in Education. New York: Routledge, 2019.

    Subagya, Rachmat. Agama Asli Indonesia. Jakarta: Sinar Harapan, 1981.

    Sumardjo, Jakob. Khazanah Pantun Sunda: Sebuah Interpretasi. Bandung: Kelir, 2006.

    ———. Simbol-Simbol Artefak Budaya Sunda: Tafsir-Tafsir Pantun Sunda. Bandung: Kelir, 2009.

    ———. Sunda: Pola Rasionalitas Sunda. Bandung: Kelir, 2011.

    Swasono, Meutia F. “Antropologi dan Integrasi Nasional.” Antropologi Indonesia 30, no. 1 (2006): 101–22.

    Teguh Pranoto, Tjaroko HP. Tata Upacara Adat Jawa. Yogyakarta: Kuntul Press, 2009.

    Vlekke, Bernard H.M. Nusantara: A History of Indonesia. 5 ed. Bruxelles: Les Edition A. Manteau S.A., 1961.

    Weber, Max. The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism. Diterjemahkan oleh Talcott Parsons. New York: Routledge, 2007.

    Widyawati, Wiwien. Etika Jawa: Menggali Kebijaksanaan dan Keutamaan demi Ketentraman Hidup Lahir Batin. Yogyakarta: Shaida, 2012.

    Yapsenang, Yudha N., Arie Januar, dan Muh Jundullah Dzia Ulhaq. Perkembangan Cerita Rakyat Came Menjadi Nyanyian dan Tari di Kabupaten Sarmi. Yogyakarta: Penerbit Amara Books dan BPNB Papua, 2016.

    Zuska, Fikarwin, Gustanto, Irini Dewi Wanti, Harvina, dan Hendra Mulia. Kearifan Lokal Masyarakat Simalungun. Banda Aceh: BNPB Banda Aceh, 2012.

    About The Author

    ◆ ◆ ◆

    How to citeCara mengutip

    KBA

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    Ekosistem KBA13KBA13 InsightKBA13 AcademyAcehnologiArsip & PustakaPeta Ekosistem →