KBA13 INSIGHT

Religion · Geopolitics · Intelligence · CivilizationAgama · Geopolitik · Intelijen · Peradaban

·

Sebelum Google: Bagaimana Saya Membangun Kebiasaan Membaca

Dari koran pembungkus dagangan di Krueng Mane hingga perpustakaan di Langsa: pengalaman KBA membangun kebiasaan membaca, mencatat, dan mengingat.

KBAAuthorPenulis
,
ContentsDaftar Isi

    KeywordsKata Kunci

    Bahasa Indonesia · English

    Sebelum mengenal Google, saya menemukan dunia melalui koran bekas. Kertas yang dibeli ayah untuk membungkus dagangan menjadi pintu masuk saya menuju kebiasaan membaca. Pengalaman ini menunjukkan bagaimana rasa ingin tahu dapat tumbuh dari bahan sederhana.

    Koran bekas sebagai jendela dunia

    Minat membaca saya dimulai sejak kecil. Salah satu pemicunya adalah serial ACI di TVRI. Dalam ingatan saya, ada anak yang unggul dalam cerdas cermat karena gemar membaca koran lama. Saya mengingat tokohnya sebagai Aji atau Sangaji, meskipun tidak memastikan detail episode tersebut hanya melalui ingatan.

    Ayah saya berjualan pakaian dan membeli koran secara kiloan untuk membungkus barang dagangannya. Saya membuka halaman-halaman itu sebelum kertas dipotong, menyisihkan lembar yang masih utuh, dan menyimpan rubrik yang menarik, termasuk cerita pendek.

    Ketika membantu berjualan pada akhir pekan, saya membaca sambil menunggu pembeli. Koran lama menjadi semacam “Google” bagi saya: tempat pertama menjumpai sesuatu yang belum diketahui. Bahan pembungkus memberi akses kepada dunia yang tidak saya alami langsung.

    Latihan kecil bersama paman

    Di Krueng Mane, Aceh Utara, paman saya meminta saya menemukan kata tertentu dalam halaman koran dengan cepat. Latihan itu membuat saya akrab dengan susunan teks. Ia juga menyediakan buku pengetahuan umum, termasuk Buku Pintar karya Iwan Gayo dan RPUL.

    Sekarang saya membedakan menemukan informasi dengan memahami argumen. Menemukan kata secara cepat belum membuktikan pemahaman, tetapi latihan tersebut membuat saya lebih percaya diri menghadapi bacaan. Ketertarikan pada fakta dan cerdas cermat mendorong saya untuk terus membaca.

    Perpustakaan di Langsa

    Saat belajar di Madrasah Ulumul Qur’an, Langsa, saya sering mengisi waktu luang di perpustakaan. Majalah yang dijilid dalam beberapa edisi memperkenalkan laporan utama, tokoh, serta persoalan politik dan ekonomi. Dalam diskusi kelas, saya memakai kembali informasi yang telah dibaca.

    Membaca beberapa edisi secara berurutan memberi konteks: suatu peristiwa mempunyai kelanjutan. Rasa ingin tahu juga membawa saya kepada buku yang lebih sulit, termasuk Islam Aktual karya Jalaluddin Rakhmat. Tidak semua bacaan langsung saya pahami. Sebagian buku harus dibaca di perpustakaan karena tidak dapat dibawa ke asrama.

    Mencatat untuk mengikat bacaan

    Saya membeli buku tulis besar dan merangkum hal-hal yang dibaca. Pada mulanya kegiatan ini juga berkaitan dengan keinginan memperbaiki tulisan tangan. Lama-kelamaan, catatan menjadi tempat menyimpan informasi yang ingin saya ingat.

    Ketika menghadapi cerdas cermat, saya membuka kembali rangkuman tersebut. Saya tidak perlu mencari dari awal di semua sumber. Menulis ulang membantu memilih pokok informasi dan menghubungkan bacaan yang tersebar.

    Pelajaran yang saya tarik adalah perbedaan antara menyalin dan merangkum. Menyalin menyimpan kalimat; merangkum dengan kata sendiri membantu memeriksa pemahaman. Catatan sebaiknya juga mencantumkan sumber agar informasi dapat diperiksa kembali.

    Rasa ingin tahu sebelum kewajiban

    Kebiasaan saya tidak bermula dari jadwal membaca yang ketat. Ia tumbuh dari tontonan yang menginspirasi, bahan yang tersedia, dan dorongan keluarga. Saya bahkan tidak selalu tertarik pada buku pelajaran ketika tujuannya hanya menjawab ujian.

    Pengalaman itu memberi pelajaran bagi pendidikan. Orang yang merasa berat membaca satu jenis teks mungkin antusias terhadap bacaan lain. Minat yang sudah ada dapat menjadi pintu masuk menuju bacaan yang lebih menantang.

    Membawa kebiasaan itu ke era digital

    Google mempermudah penemuan bahan, tetapi memahami bacaan tetap membutuhkan perhatian. Jawaban singkat perlu ditempatkan dalam konteks; sumber dibuka, argumen ditelusuri, dan bagian yang belum dipahami dicatat.

    Dari pengalaman pribadi, saya menyarankan langkah sederhana: mulai dari satu pertanyaan; baca satu sumber sampai selesai; tutup sumber dan jelaskan kembali intinya; tuliskan ketidakjelasan; lalu cari bacaan pembanding. Pembaca dapat menyesuaikannya dengan keadaan masing-masing. Ini bukan klaim bahwa satu metode cocok bagi semua orang.

    Koran pembungkus dagangan tidak lagi menjadi sumber utama saya, tetapi pelajarannya bertahan. Membaca menjadi kebiasaan ketika rasa ingin tahu terus menemukan tempat untuk bekerja. Lanjutkan pembacaan melalui buku-buku Kamaruzzaman Bustamam Ahmad.


    Before Google: How Reading Became Part of My Life

    Before I knew Google, I discovered the world through old newspapers. Paper bought to wrap my father’s merchandise became a doorway into reading. This personal recollection shows how curiosity can grow from ordinary materials.

    Newspapers meant for wrapping

    My interest began in childhood. One influence was the TVRI series ACI. I remember a child succeeding in quiz competitions because he read old newspapers. I recall the character as Aji or Sangaji, although memory alone cannot establish the episode’s details.

    My father sold clothes and bought newspapers by weight for wrapping. I opened them before they were cut, put intact pages aside, and kept sections that interested me, including short stories.

    At weekends, I helped with selling and read while waiting for customers. Old newspapers were something like my first “Google”: a place to encounter what I did not yet know. Wrapping paper opened a world beyond my immediate surroundings.

    Small exercises with my uncle

    In Krueng Mane, North Aceh, my uncle asked me to locate particular words on a newspaper page quickly. The exercise made printed text familiar. He also provided general knowledge books, including Iwan Gayo’s Buku Pintar and RPUL.

    Today I distinguish finding information from understanding an argument. Locating a word quickly does not demonstrate comprehension, but the practice made reading feel approachable. An interest in facts and quiz competitions encouraged me to keep returning to books.

    The library in Langsa

    At Madrasah Ulumul Qur’an in Langsa, I often spent free time in the library. Bound volumes of magazines introduced main reports, profiles, politics, and economics. I returned to that information during classroom discussions.

    Reading several issues in sequence provided context: events had developments and consequences. Curiosity also drew me towards more demanding books, including Jalaluddin Rakhmat’s Islam Aktual. I did not understand everything immediately. Some books had to be read in the library because they could not be taken to the dormitory.

    A notebook to hold the reading together

    I bought large notebooks and summarised what I read. At first, the practice also reflected a wish to improve my handwriting. Over time, the notebooks became a place to gather information I wanted to remember.

    Before quiz competitions, I reviewed those summaries instead of searching every source again. Writing helped me select important points and connect material from different places.

    The distinction between copying and summarising matters. Copying preserves sentences; explaining an idea in one’s own words helps test understanding. Recording a source also makes later checking possible.

    Curiosity before obligation

    My reading habit did not begin with a strict timetable. It grew through an inspiring programme, accessible materials, and family encouragement. I was not always equally interested in textbooks when I saw them only as preparation for examinations.

    This offers a lesson for education. Someone who struggles with one kind of text may enjoy another. Beginning with an existing interest can lead towards more demanding reading.

    Bringing the habit into digital life

    Search engines make materials easier to find, but understanding still requires attention. Brief answers need context. Sources should be opened, arguments followed, and uncertainties recorded.

    A routine drawn from my experience is to begin with a question, finish one source, close it and explain its main idea, write down what remains unclear, and find a comparison. Readers can adapt this approach to their own circumstances; it is not a universal prescription.

    Newspapers meant for wrapping no longer supply most of my reading, but their lesson remains. A habit develops when curiosity keeps finding somewhere to work. Explore Kamaruzzaman Bustamam Ahmad’s books for further reading.

    Catatan editorial / Editorial note: disunting dari memoar dalam draft asli. Pengulangan dihapus dan versi Indonesia–Inggris disiapkan tanpa menambahkan pengalaman hidup baru.

    About The Author

    ◆ ◆ ◆

    How to citeCara mengutip

    KBA

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    Ekosistem KBA13KBA13 InsightKBA13 AcademyAcehnologiArsip & PustakaPeta Ekosistem →