Religion • Geopolitics • Intelligence • Civilization

Hegel dan Dialektika Absolut: menelusuri gerak Being, Nothing, dan Becoming menuju kesadaran, sejarah dunia, dan puncak kebebasan universal.

Hegel dan Dialektika Absolut: Dari Being–Nothing–Becoming hingga Kebebasan Universal

Pendahuluan: Hegel dan Jalan Panjang Menuju Absolut Membicarakan filsafat Jerman pada akhir abad ke-18 hingga awal abad ke-19 tidak mungkin dilepaskan dari nama Georg Wilhelm Friedrich Hegel (1770–1831). Sosok ini bukan hanya seorang filsuf yang produktif, tetapi juga pemikir yang berusaha menutup jurang besar yang ditinggalkan oleh Kant. Jika Kant menegaskan batas-batas rasio manusia, Hegel justru ingin melampauinya dengan membangun sebuah sistem yang mampu menampung seluruh kenyataan. John Shand dalam Philosophy and Philosophers menggambarkan bahwa inti dari filsafat Hegel adalah usaha untuk menunjukkan bahwa realitas sepenuhnya dapat dipahami, dan bahwa seluruh realitas pada akhirnya adalah ekspresi dari Roh Mutlak yang berpikir tentang dirinya sendiri (hal. 179–182). Kelahiran Hegel di Stuttgart pada 1770, latar belakang pendidikannya dalam filsafat dan teologi di Universitas Tübingen, serta persahabatannya dengan Hölderlin dan Schelling, telah membentuk horizon intelektual yang luas. Shand menyebutkan bahwa Revolusi Prancis meninggalkan kesan mendalam baginya: revolusi itu menunjukkan daya rasio dalam sejarah, tetapi sekaligus memperlihatkan kegagalan jika rasio dipraktikkan secara abstrak, terlepas dari kondisi sosial riil (hal. 179). Dari sini Hegel mulai mengembangkan gagasan bahwa rasio tidak boleh dipisahkan dari sejarah, masyarakat, dan kehidupan bersama. Di tangan Hegel, filsafat menjadi usaha untuk memahami kenyataan sebagai totalitas yang rasional. Ia menolak gagasan Kant tentang “things-in-themselves” yang tidak dapat diketahui. Menurut Hegel, apa yang dikatakan tak terjangkau itu justru kontradiktif, sebab dengan menyebut sesuatu sebagai “tak terjangkau” kita sudah mengaplikasikan konsep kepadanya. Dengan demikian, “noumenon” Kantian runtuh ke dalam kategori yang dapat diketahui. Shand menekankan, “The collapse through contradiction of the conception of the thing-in-itself leads inexorably to absolute idealism, and to the complete knowability of everything” (hal. 180). Inilah jalan menuju idealism absolut yang menjadi ciri khas sistem Hegel. Bagi Hegel, kebenaran tidak ditemukan dalam fragmen-fragmen, melainkan dalam keseluruhan. Ia merumuskan adagium yang terkenal: “The truth is the whole.” Artinya, setiap bagian realitas

Artikel ini tersedia untuk pelanggan. Silakan berlangganan untuk membaca selengkapnya.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *