Religion • Geopolitics • Intelligence • Civilization

Charles Taylor dan Etika Autentisitas: Mengurai Relativisme dan Debat Inartikulatif.

Charles Taylor dan Etika Autentisitas: Mengurai Relativisme dan Debat Inartikulatif

Pengantar Debat Inartikulatif Charles Taylor membuka bab “The Inarticulate Debate” dengan membahas resonansi besar yang muncul setelah terbitnya buku Allan Bloom, The Closing of the American Mind. Buku ini menggemparkan Amerika Serikat pada akhir 1980-an dengan kritik pedas terhadap generasi muda yang dianggap terlalu mudah menerima relativisme nilai. Menurut Bloom, mahasiswa saat itu terbiasa berpikir bahwa setiap orang memiliki “values” sendiri, dan tidak ada alasan untuk memperdebatkan kebenarannya. Taylor melihat bahwa fenomena ini bukan sekadar fenomena sosial, melainkan gejala mendalam dari kebingungan moral yang melanda masyarakat modern. Kekuatan buku Bloom bukan hanya terletak pada argumentasi, tetapi pada keberhasilannya menyentuh sesuatu yang memang sedang mengakar di dalam kesadaran kolektif. Ia mengangkat keresahan yang dirasakan banyak pihak: bahwa ada yang salah dengan cara generasi muda memandang nilai, kebenaran, dan kehidupan yang baik. Taylor mengakui bahwa Bloom menyentuh persoalan penting, tetapi ia juga menilai bahwa Bloom gagal membaca nuansa moral yang terkandung di balik fenomena tersebut. Inilah titik awal bagi Taylor untuk masuk lebih dalam ke apa yang ia sebut sebagai “debat inartikulatif.” Debat yang tidak terartikulasikan ini terjadi karena para pengkritik dan para pendukung budaya modern berbicara dalam bahasa yang tidak saling bersinggungan. Para pengkritik, seperti Bloom, menyoroti bahaya relativisme dan kehilangan standar bersama. Sebaliknya, para pendukung menekankan bahwa kebebasan individu adalah nilai tertinggi yang tidak boleh dilanggar. Akibatnya, tidak ada pertukaran argumen yang sejati. Yang terjadi hanyalah dua monolog yang berjalan sejajar tanpa titik temu. Fenomena relativisme sendiri lahir dari tradisi liberal yang menekankan penghormatan terhadap kebebasan memilih. Pada awalnya, prinsip ini mendorong toleransi dan saling menghormati. Namun, seiring perkembangan budaya modern, ia meluas menjadi pandangan bahwa semua gaya hidup memiliki kedudukan yang sama, tanpa bisa diperdebatkan. Taylor melihat bahwa inilah salah satu bentuk degradasi dari ideal autentisitas yang lebih mendalam. Debat menjadi tidak terartikulasikan karena kekurangan kosakata filosofis untuk membedakan

Artikel ini tersedia untuk pelanggan. Silakan berlangganan untuk membaca selengkapnya.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *