Membaca Hidup
Saya sedang di ruang kelas siang ini. Dan seloroh pertanyaan dari murid-murid saya. Mereka sedari tadi bisik-bisik berdua, maju mundur mau tanya ke saya. Kau tahu? Ternyata duduk di bangku guru bisa membuatmu menjadi helikopter. Karena semuanya kelihatan. Murid paling depan, tengah, pojok kanan-kiri-depan-belakang. Sungguh semua kelakuan mereka kelihatan. Ini terjadi padaku siang ini. Saya ‘ngeh’ dua muridku ingin bertanya. “Iya. Kalian berdua.” Saya menunjuk mereka. Semua murid terhenyak kaget. “Kalian mau tanya apa ke ibu?”.
Sungguh kasian mereka berdua kagetnya minta ampun. “Ini bu. Ini bu. Dia yang mau tanya.” Jawab murid saya yang cerdas, Fazri. “Ngga bu. Bukan saya. Bukan saya. Ini nih bu yang mau.” Fazri menunjuk ke temannya. “Ya, kalian berdua mau tanya, kan? Silakan tanya. Jangan gemetar.” Kataku. “Hehe.. ibu, hidup ini sebenarnya bagaimana sih, bu? Susah sekali saya.”
Saya diam beberapa saat. Seketika ingatan saya merayap pada papan tulis hitam dan tulisan kapur oleh guruku saat sekolah madin sore waktu kecil. Kami sedang belajar akidah akhlak. Saya ingat betul guruku menulis jumlah malaikat dan nabi. Lalu aku ceritakan pada muridku. Selanjutnya akan aku tulis tidak dengan kalimat langsung.
Pernahkah kau mempertanyakan kehidupan ini dengan 5W1H? Setidaknya seperti muridku tadi. Kita hidup untuk apa? Kenapa kita hidup? Kenapa Allah membuat kehidupan ini?
Baiklah. Dalam hadis qudsi Allah berfiman bahwa, “Aku adalah perbendaharaan yang tersembunyi. Dan aku senang untuk dikenal. Dengan anugerah-Ku makhluk itu dapat mengenal-Ku.” Artinya, Allah menciptakan kehidupan ini untuk dikenal, untuk disembah dan memperlihatkan kasih sayang dan pengetahuan yang luar biasa. Sedangkan pada ayat terakhir surah al-Kafh Allah juga bilang bahwa siapapun makluk yang ingin berjumpa dengan-Nya maka hendaklah melakukan kebaikan dan tidak menduakan Allah.
Sekilas terlihat tujuan ada kehidupan itu sederhana, ya? Namun karena yang menciptakan semua ini adalah Allah taala, jadilah luar biasa kompleks dan penuh paradoks. Ingat hadis qudsi yang saya sebutkan di atas. Allah menyembunyikan diri-Nya. Dia menciptakan nama, sifat, af’al (gerak) dan dzat yang berserakan di alam semesta ini. Baik yang tampak maupun yang tersembunyi halus sekali. Mengagumkan sekali, bukan? Betapa tegas sekaligus lembut-Nya Allah ini.
Tapi toh jangan takut jika kita tidak bisa mengenal-Nya dengan baik. Karena kasih sayang-Nya telah Dia tampakkan sejak awal. Kapan? Minimal yang kita ketahui adalah zaman bapak jasad manusia, Nabi Adam AS. Konon sebelum turun ke bumi Allah sudah memberikan bekal ilmu untuk beliau (Cek al-Baqarah:31). Pun dengan kita sekarang. Apalagi ditambah sejarah panjang apa yang telah terjadi di bumi ini.
Sepertinya jika harus belajar semua sejarah itu bikin puyeng. Mari kita berhenti sejenak unutk meregangkan ingatan dan akal pikiran.
Saya menarik pembaca pada cerita masa kecil saya di atas. Guru saya itu menulis jumlah malaikat dan nabi. Seingat saya jumlah malaikat ada 125.000 dan nabi 313 (silakan koreksi saya jika ada keliru jumlah). Banyak juga, ya? Kalian curiga, tidak? Kok jumlah sebanyak itu yang wajib kita ketahui hanya 10 Malaikat dan 25 kisah Nabi? Kalau saya, sih, curiga.
Kita bersama tahu bawah sedang di bumi. Kalau kalian tahu, kehidupan ini berlapis-lapis, bertahap tapi kembali ke awal lagi. Wah, bagaimana itu? Di dunia ini ada seorang yang diutus untuk menyampaikan ini. Saya sendiri belajar dari guru saya di kitab Futuhat al-Makiyyah dan Tuhfah al-Mursalah. Itu adalah konsep Martabat Tujuh.
Lapis tujuh itu adalah alam ahadiyah (Ini hanya ada Allah), Wahdah (Allah menciptakan Nur Muhammad), Wahidiyah (Allah mendesain segala sesuatu yang akan menjadi kenyataan wujud-Nya), Arwah (Alam roh), Alam Mitsal (Ide, pikiran dan proses ruh masuk ke rahim ibu), Ajsam (Bumi yang material ini) dan Insan Kamil (Manusia yang telah mencapai kedekatan dengan Allah dan bersaksi bahwa Allah yang Maha Menggerakkan segala sesuatu).
Manusia memulai dari alam roh. Dulu di alam roh kita semua bersaksi bahwa kita melihat Tuhan itu nyata dan menciptakan kita semua (al-A’raf ayat 172). Lalu ruh kita lolos melewati alam Mitsal dan sampai pada bumi tercinta ini. Apakah kita akan sampai pada martabat selanjutnya, itu tergantung seberapa jeli dan kuat kita membaca tanda-tanda yang Allah berikan.
Salah satu tanda itu tercermin pada jumlah 10 malaikat dan kisah 25 nabi yang wajib kita ketahui. Pertama, malaikat Jibril tugasnya menyampaikan wahyu kepada Nabi dan Rasul. Wahyu ini adalah ilmu untuk umat nabi. Kita dikasih tahu bagaimana sampai pada tujuan akhir hidup ini dan cara menghadapi tantangannya. Kedua, malaikat Mikail tugasnya mengatur rezeki. Kita diberi ilmu dan rezeki untuk sampai pada tujuan. Ketiga, malaikat Israfil tugasnya meniup sangkakala. Menandakan bahwa semua yang diciptakan Allah ada masanya. Keempat, malaikat Izrail tugasnya mengambil nyawa manusia yang sudah habis waktunya. Kelima, malaikat Munkar & Nakir tugasnya menanyai ruh manusia ketika di alam kubur, kita semua diwawancara laporan pertanggungjawaban kehidupan kita di bumi.
Selanjutnya ada malaikat Raqib dan Atid tugasnya mencatat amal baik dan buruk kita. Jadi ketika ditanya kita bohong itu tidak bisa. Ini juga untuk mengingatkan kita bahwa hidup selalu menawarkan pilihan: baik atau buruk, ke kanan atau kiri semua ada laporan detailnya. Terakhir ada malaikat Malik dan Ridwan sang penjaga pintu neraka dan surga. Jika laporan amal baik dan buruk kita sudah diterima malaikat ini, hasil akhir kita telah ditentukan dan beliau yang akan menyambut di pintu gerbang. Entah surga atau neraka.
25 kisah nabi juga begitu. Kita ambil contoh Nabi Yusuf AS. Bayangkan kamu adalah putra Nabi Ya’kub, cucu Nabi Ishaq As dan cicit dari Nabi Ibrahim AS alias para tokoh besar itu. Nabi Yusuf dibenci oleh saudaranya hanya karena apa yang ada pada dirinya: ganteng dan soleh. Semua saudara kandungnya kompak membuang Yusuf ke sumur dan bilang ke orang tuanya bahwa nabi Yusuf meninggal karena dimakan serigala. Karena kejadia itu beliau jadi seorang budak. Jadi budak raja Mesir kala itu.
Sudah kerja dengan cerdas dan berintegritas malah kena fitnah oleh istri raja: Zulaikha. Masuklah Nabi Yusuf ke penjara tanpa kesalahan yang beliau perbuat. Ternyata keheningan di penjara itu membawanya pada kemenangan: Nabi Yusuf terbukti tidak salah lalu diangkat jadi pejabat penting dan berprestasi. Setelah itu malah saudara beliau datang minta tolong. Inilah yang dimaksud Allah dalam hadis qudsi bahwa Allah adalah perbendaharaan yang tersembuyi. Allah sengaja mendatangkan ujian berat untuk manusia supaya hanya bergantung dan percaya kepada-Nya, hanya menyebut-nyebut nama-Nya ketika kita dalam kegelapan dan hilang arah. Wah, romantis, ya?
Kehidupan ini sudah termaktub di lahul mahfudz. Allah sendiri yang menyusun dan itu yang sedang berjalan sekarang. Keadaan apapun yang ada pada dirimu itu: baik-buruk, bingung-tercerahkan, hitam-putih, galau-senang, puas-menderita adalah sarana Allah mengenalkan wujud-Nya terhadapmu. Kendalikan khawatir dan ragumu, bersyukurlah dan bacalah tanda-tanda-Nya. Insyaallah kita akan sampai dengan selamat. Sampai bertemu di martabat selanjutnya.
Dengan cinta, Silvia Bidayah Nafsani.
Bekasi, 30 Januari 2026.
