KBA13 INSIGHT

Religion · Geopolitics · Intelligence · CivilizationAgama · Geopolitik · Intelijen · Peradaban

·

7 Pahlawan Perempuan Aceh: Dari Istana hingga Medan Perang

Tujuh pahlawan perempuan Aceh: Safiatuddin, Malahayati, Cut Nyak Dhien, Cut Nyak Meutia, Fakinah, Pocut Meurah Intan, Pocut Baren.

KBAAuthorPenulis
Para tokoh perempuan Aceh—dari Sultanah Safiatuddin hingga Pocut Baren—menjadi simbol kepemimpinan, keberanian, dan pengorbanan yang terus menginspirasi generasi bangsa.
ContentsDaftar Isi

    KBA13 Insight · Analysis & Opinion · History, Culture & Society

    7 Pahlawan Perempuan Aceh:Dari Istana hingga Medan Perang

    Tujuh pahlawan perempuan Aceh: Safiatuddin, Malahayati, Cut Nyak Dhien, Cut Nyak Meutia, Fakinah, Pocut Meurah Intan, Pocut Baren.

    NS

    PenulisNico Simahate
    • Analysis & Opinion
    • 28 Agustus 2025
    • ± 12 menit baca
    7 Pahlawan Perempuan Aceh: Dari Istana hingga Medan Perang

    Ringkasan

    Tujuh pahlawan perempuan Aceh: Safiatuddin, Malahayati, Cut Nyak Dhien, Cut Nyak Meutia, Fakinah, Pocut Meurah Intan, Pocut Baren.

    Kata Kunci

    • cut nyak dhien
    • datu empu beru
    • inspirasi generasi muda
    • kepemimpinan perempuan
    • laksamana malahayati
    • pahlawan wanita nusantara
    • pocut baren
    • sejarah Aceh
    • sultanah safiatuddin
    • tokoh perempuan aceh
    I

    Pendahuluan

    Pahlawan perempuan Aceh yang diakui negara antara lain Cut Nyak Dhien, Cut Nyak Meutia, dan Laksamana Malahayati. Di luar tiga nama itu, Aceh juga punya Sultanah Safiatuddin yang memerintah 1641–1675, Teungku Fakinah, Pocut Meurah Intan, dan Pocut Baren — tujuh perempuan, dua jalur perjuangan: takhta dan medan perang.

    Nama Tahun hidup Peran utama Status Pahlawan Nasional
    Sultanah Safiatuddin 1612–1675 Sultanah Aceh, berkuasa 18 Februari 1641 – 23 Oktober 1675 Tidak tercatat
    Laksamana Malahayati (Keumalahayati) 1 Januari 1550 – 30 Juni 1606 Panglima armada laut Kesultanan Aceh; menewaskan Cornelis de Houtman pada 11 September 1599 Ya — Keppres No. 115/TK/2017, 6 November 2017
    Cut Nyak Dhien 12 Mei 1848 – 6 November 1908 Pemimpin gerilya di Aceh Besar dan Meulaboh; wafat dalam pengasingan di Sumedang Ya — SK Presiden No. 106 Tahun 1964, 2 Mei 1964
    Cut Nyak Meutia 15 Februari 1870 – 24 Oktober 1910 Panglima perang Keureutoe, Aceh Utara; gugur di Alue Kurieng Ya — SK Presiden No. 107 Tahun 1964, 2 Mei 1964
    Teungku Fakinah sekitar 1856–1938 Ulama perempuan, pembangun lembaga pendidikan, dan pemimpin pasukan di Aceh Besar Tidak tercatat
    Pocut Meurah Intan wafat 19 September 1937 Bangsawan Biheue; diasingkan ke Blora berdasarkan surat keputusan Hindia Belanda 6 Mei 1905 Tidak tercatat
    Pocut Baren tidak terdokumentasi pasti Uleebalang Gome dan panglima gerilya, rekan seperjuangan Cut Nyak Dhien Tidak tercatat

    Catatan: kolom terakhir merujuk pada penetapan resmi Pahlawan Nasional Republik Indonesia. “Tidak tercatat” berarti nama tersebut tidak kami temukan dalam daftar penetapan yang kami periksa, bukan penilaian atas besar-kecilnya jasanya.

          Aceh merupakan sebuah daerah dengan sejarah yang panjang baik itu di bidang politik hukum, agama, dan perjuangan melawan kolonialisme. Dalam perjalanan sejarah tertulis bahwa terdapat banyak sekali tokoh yang memberikan perjuangan besar untuk melindungi daerah tanah air. Di Aceh adalah sebuah wilayah dimana perempuan tidak hanya diposisikan di ranah domestik tetapi dipercaya untuk memegang kekuasaan memimpin pasukan dan bahkan mengorbankan jiwa demi tegaknya kedaulatan bangsa. Jika menelusuri lembaran sejarah Aceh yang panjang maka kita akan menemukan sederet nama tokoh perempuan yang menginspirasi dunia. Mereka adalah sosok yang bukan hanya bertugas untuk mendampingi laki-laki melainkan tokoh utama yang diakui perannya secara lokal maupun internasional. Sosok-sosok ini menunjukkan bahwa semangat kepahlawanan dan kepemimpinan bukan merupakan monopoli kaum lelaki.

    Tulisan ini menguraikan tujuh tokoh perempuan berpengaruh dalam sejarah Aceh — Sultanah Safiatuddin, Laksamana Malahayati, Cut Nyak Dhien, Cut Nyak Meutia, Teungku Fakinah, Pocut Meurah Intan, dan Pocut Baren — beserta biografi, jalur perjuangan yang mereka tempuh, dan warisan yang masih bisa dipelajari generasi sekarang.

    II

    Cut Nyak Dhien

    Cut Nyak Dhien, lahir pada 12 Mei 1848 dan wafat pada 6 November 1908, merupakan salah seorang Pahlawan Nasional Indonesia yang berasal dari Aceh. Beliau dikenal sebagai tokoh perempuan yang berani tangguh dan penuh semangat juang dalam melawan kolonialisme Belanda pada masa Perang Aceh. Jenazahnya dimakamkan di Gunung Puyuh Sumedang Jawa Barat.  Cut Nyak Dien adalah seorang wanita tangguh yang juga ikut serta dalam perjuangan mempertahankan harga diri negeri. Beliau adalah istri dari seorang pahlawan asal Aceh bernama Teuku Umar, beliau berperan bukan hanya sebagai seorang istri tetapi sebagai orang yang memperkuat barisan perjuangan untuk mengusir para penjajah.

    Dalam kondisi usia yang semakin menua dan tubuh yang melemah akibat penyakit  Cut Nyak Dhien tetap gigih melawan dengan pasukan kecilnya di pedalaman Meulaboh. Namun kondisi kesehatan yang semakin memburuk terutama karena penyakit encok dan rabun membuat seorang pengikut setianya Pang Laot melaporkan keberadaannya kepada pihak Belanda. Cut Nyak Dhien pun ditangkap dan dibawa ke Banda Aceh. Yang berujung pada penangkapan sang pahlawan  Aceh pada tahun 1905. Awal nya tindakannya didasari oleh rasa iba terhadap kondisi Cut Nyak Dien yang sakit dan kelelahan, namun perbuatan nya itu dianggap sebagai pengkhianatan karena ia seharusnya tidak bekerja sama dengan Belanda.

    III

    Cut Nyak Meutia

    Cut Nyak Meutia lahir pada 15 Februari 1870 di Keureutoe, Pirak, Aceh Utara, anak dari Teuku Ben Daud Pirak. Ia tumbuh di lingkungan uleebalang — lapisan penguasa lokal yang justru paling terjepit ketika Perang Aceh berubah dari pertempuran terbuka menjadi pengejaran tanpa akhir di hutan.

    Perjalanan hidupnya terikat pada tiga laki-laki yang semuanya berujung pada perang. Suami keduanya, Teuku Muhammad, ditangkap dan dieksekusi Belanda di tepi pantai Lhokseumawe. Sebelum ajal, ia berpesan kepada sahabatnya, Pang Nanggroë, agar menikahi Cut Meutia dan merawat anak mereka, Teuku Raja Sabi. Pesan itu dijalankan, dan Cut Meutia meneruskan perang bersama suami ketiganya.

    Cara berperangnya bukan bertahan di satu benteng, melainkan berpindah terus: menyerang pos kecil, menghilang, lalu muncul di tempat lain. Ia gugur pada 24 Oktober 1910 di Alue Kurieng, Aceh Utara, setelah tiga butir peluru menembus tubuhnya dalam pertempuran terakhirnya. Umurnya empat puluh tahun.

    Pemerintah Republik Indonesia menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional melalui Surat Keputusan Presiden Nomor 107 Tahun 1964 pada 2 Mei 1964 — hari yang sama dengan penetapan Cut Nyak Dhien. Pada 19 Desember 2016 wajahnya dicetak pada uang kertas seribu rupiah. Sejak itu ia berpindah dari tangan ke tangan setiap hari di seluruh Indonesia, tanpa banyak orang tahu siapa dia.

    IV

    Laksamana Malahayati

    Laksamana Malahayati adalah sosok yang tangguh yang tertulis dalam sejarah peradaban Nusantara bahkan dunia, beliau adalah sosok perempuan yang sangat berani dan tangguh dalam memperjuangkan harga diri bangsa. Beliau adalah perempuan pertama yang menjadi  pemimpin pertempuran di atas laut semangat itu semakin berkobar membara setelah suaminya gugur dalam pertempuran melawan portugis. Dari peristiwa sejarah itu beliau berdiri sebagai perempuan yang kuat dan mendirikan sebuah sebuah pasukan besar bernama dari kalangan wanita bernama Inong Balee (Pasukan janda) pasukan ini adalah pasukan yang sangat kuat dari kalangan wanita pemberani yang siap mati untuk mempertahankan harga diri tanah air dari serangan para pencuri yang ingin merampas kekayaan negeri ini.

    Keberanian itu terbukti ketika ia memimpin pasukannya untuk menghadapi para armada laut Belanda. Pada tahun 1599, ia bertempur melawan Cornelis De Houtman merupakan salah satu dari pemimpin belanda dalam pertempuran selat malaka. Tertulis di dalam sejarah bahwa dalam duel sengit itu Malahayati tampil sebagai seorang wanita pemberani layaknya singa yang hendak memangsa buruan nya, setelah itu malahayati tampil sebagai seorang pemenang dan berhasil membunuh  Cornelis De Houtman.  Selain memiliki kekuatan fisik yang luar biasa memukau Malahayati juga merupakan seorang yang cerdas dalam berdiplomasi Ia mampu menegosiasikan perjanjian damai dengan Belanda setelah pertempuran besar tersebut. Dengan keberanian dan kebijaksanaannya ia menunjukkan bahwa seorang pemimpin tidak hanya dituntut untuk kuat dalam peperangan, tapi juga cerdas dalam menjaga stabilitas politik dan keamanan negeri. Perjuangan seorang  Malahayati menjadi teladan bagi generasi muda khususnya kaum wanita bahwa keberanian ilmu dan kepemimpinan bukan hanya milik kaum laki-laki. Ia membuktikan bahwa perempuan mampu memimpin pasukan besar mempertahankan negeri, dan membuat lawan segan. Hingga kini Malahayati dikenang sebagai laksamana wanita pertama di dunia yang namanya harum dalam sejarah Nusantara dan dunia.

    V

    Sultanah Safiatuddin

    Sultanah Safiatuddin memiliki gelar kehormatan lengkap Paduka Sri Sultanah Tajul Alam Safiatuddin Syah Johan Berdaulat Zhillullahi fil Alam binti Almarhum Sri Sultan Iskandar Muda Mahkota Alam Syah. Ia adalah putri sulung dari Sultan Iskandar Muda, penguasa terbesar dalam sejarah Kesultanan Aceh Darussalam, dan dilahirkan pada tahun 1612 dengan nama Putri Sri Alam. Nama Safiatuddin Tajul Alam memiliki makna mendalam yaitu kemurnian iman, mahkota dunia. Sultanah Safiatuddin naik tahta pada tahun 1641 setelah wafatnya Sultan Iskandar Tsani suaminya dan memimpin Kesultanan Aceh hingga tahun 1675. Masa pemerintahannya berlangsung selama lebih dari tiga dekade menjadikannya salah satu penguasa perempuan terlama dalam sejarah Nusantara. Pemerintahannya dikenal stabil dan penuh wibawa meskipun ia memerintah pada masa yang penuh tantangan setelah kejayaan besar ayahandanya.Dalam bidang kebudayaan, Sultanah Safiatuddin dikenal gemar menulis beliau turut mendorong perkembangan intelektual dengan mendirikan perpustakaan di negerinya. Perhatian beliau terhadap ilmu pengetahuan, khususnya literatur Islam, sangat besar.

    Sultanah Safiatuddin juga tercatat sebagai salah satu penguasa perempuan yang memberikan ruang besar bagi ulama untuk berperan dalam kehidupan masyarakat dan pemerintahan. Hubungan erat antara istana dan ulama memperkuat identitas Aceh sebagai kerajaan Islam yang berpengaruh di Asia Tenggara. Setelah memerintah selama 34 tahun, Sultanah Safiatuddin wafat pada tanggal 23 Oktober 1675. Kepemimpinannya meninggalkan warisan penting, tidak hanya dalam bidang politik, tetapi juga dalam perkembangan ilmu pengetahuan, kebudayaan, dan perdagangan. Figur beliau menjadi teladan bahwa perempuan mampu memainkan peran strategis dalam kepemimpinan, tanpa kehilangan identitas religius dan nilai-nilai budaya.

    VI

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah lahir sekitar tahun 1856 di Lam Diran, kampung Lam Beunot atau Lam Krak, Aceh Besar. Ayahnya, Datuk Mahmud, seorang pejabat pemerintahan pada masa Sultan Alaidin Iskandar Syah; dari pihak ibu mengalir garis ulama. Dua garis itu — kekuasaan dan ilmu — bertemu dalam dirinya, dan itulah sebabnya perannya sulit dimasukkan ke satu kategori.

    Ia dikenal dengan nama singkat Teungku Faki dan disebut sebagai ulama besar perempuan. Tetapi ia juga memimpin pasukan dalam perang melawan Belanda, dan ketika perang mereda ia membangun lembaga pendidikan. Masjid Teungku Fakinah di Lamjamee masih berdiri sampai hari ini sebagai penanda namanya.

    Ia wafat pada 1938. Namanya tidak tercatat dalam penetapan Pahlawan Nasional dan hampir tidak pernah muncul dalam daftar populer pahlawan perempuan Aceh — padahal justru ia yang paling jelas menunjukkan bahwa kepemimpinan perempuan Aceh tidak berhenti di medan perang.

    VII

    Pocut Meurah Intan

    Pocut Meurah Intan berasal dari keluarga bangsawan Kesultanan Aceh; ayahnya Keujruen Biheue. Ia lebih sering dipanggil Pocut Di Biheue, mengikuti nama tempat kelahirannya. Biheue adalah kenegerian di bawah Sagi XXII Mukim, Aceh Besar, yang setelah krisis politik akhir abad ke-19 terpecah ke wilayah Pidie, Batee, Padang Tiji, Kale, dan Laweueng.

    Dalam catatan Belanda sendiri ia disebut heldhaftig, gagah berani. Sebutan itu tidak diberikan dengan murah hati: ia menghadapi pasukan Veltman dalam keadaan berlumuran darah dan menolak disentuh, lalu ditinggalkan karena Belanda yakin ia akan mati sendiri di hadapan bangsanya. Ia tidak mati.

    Untuk memutus pengaruhnya, pemerintah Hindia Belanda mengasingkannya ke Blora, Jawa Tengah, melalui surat keputusan bernomor 24 tanggal 6 Mei 1905. Ia meninggal di tempat pengasingan itu pada 19 September 1937 — jauh dari Aceh, sebagaimana Cut Nyak Dhien yang wafat di Sumedang. Pengasingan adalah senjata yang dipakai Belanda ketika peluru tidak berhasil.

    VIII

    Pocut Baren

    Pocut Baren lahir di Pidie sekitar tahun 1850 dari keluarga bangsawan. Sejak muda ia dikenal sebagai wanita yang cerdas dan berwibawa serta memiliki semangat juang yang tinggi. Didikan keluarga yang berpegang pada adat dan agama membentuk kepribadiannya sebagai sosok perempuan yang tegas dan berani. Karakter inilah yang kemudian membawanya tampil sebagai salah satu tokoh penting dalam perlawanan rakyat Aceh melawan penjajahan Belanda. Pada paruh kedua abad ke-19 Belanda semakin gencar memperluas kekuasaan ke wilayah Aceh. Kondisi ini menimbulkan gelombang perlawanan rakyat dari berbagai lapisan termasuk kaum perempuan. Di tengah situasi tersebut, Pocut Baren tampil ke depan tidak sekadar mendukung tetapi memimpin pasukan. Keberanian dan kecerdasannya dalam mengatur strategi membuat ia dihormati oleh rakyat maupun para pejuang yang berjuang bersamanya.

    Sebagai seorang pemimpin Pocut Baren dikenal tegas dan berwibawa. Ia tidak hanya memberi perintah dari belakang melainkan turun langsung ke medan pertempuran. Keberanian itu menjadikannya teladan terlebih bagi kaum perempuan Aceh, bahwa mempertahankan tanah air adalah tanggung jawab bersama. Beliau memiliki  Iman yang kuat dan keyakinannya kepada Allah menjadi sumber keteguhan hati sehingga ia tidak gentar menghadapi Belanda yang memiliki persenjataan lebih modern. Perjuangan panjang Pocut Baren pada akhirnya menghadapi ujian berat. Belanda dengan kekuatan militernya berhasil memperkuat cengkraman di Aceh hingga dalam sebuah operasi besar Pocut Baren tertangkap. Ia lalu diasingkan ke Sumatera Barat, jauh dari tanah kelahirannya yang dicintai. Meski harus hidup di rantau semangat juangnya tidak pernah padam. Hingga akhir hayatnya pada tahun 1933 ia tetap dikenang sebagai sosok perempuan yang teguh dan pantang menyerah. Warisan perjuangan Pocut Baren memberikan teladan berharga bagi generasi penerus. Dari dirinya, kita belajar arti keberanian, pengorbanan, dan kesetiaan kepada tanah air. Ia membuktikan bahwa perempuan memiliki peran yang sama pentingnya dalam perjuangan bangsa. Pocut Baren bukan hanya pejuang Aceh, tetapi juga simbol kekuatan dan keteguhan hati seorang perempuan Indonesia yang berani melawan penjajahan.

    IX

    Datu Empu Beru: Catatan dari Tradisi Lisan Gayo

    Catatan editor: berbeda dari tujuh nama di atas, jejak Datu Empu Beru sejauh ini hanya ditemukan dalam tradisi lisan dan penuturan lokal Gayo, tanpa rujukan arsip atau kajian sejarah yang dapat diverifikasi. Bagian ini kami pertahankan sebagai catatan budaya, bukan sebagai klaim historis yang setara dengan tujuh nama di atas.

    Datu Empu Beru merupakan wanita tangguh dan pemberani yang memberikan inspirasi besar bagi kehidupan yang membaca kisah nya. Beliau bagaikan matahari yang bersinar menerangi kegelapan pahitnya perjuangan. Beliau lahir di masa kekuasaan kerajaan Linge. Menurut beberapa catatan Beliau sangat cerdas, menguasai ilmu agama, politik, falsafah dan hukum. Oleh sebab itu Raja Linge mengutus Datu Empu Beru  (Qurrata’aini) sebagai wakil resmi dari Kerajaan Linge dalam Parlemen Aceh di Kutaraja. Prestasi gemilangnya sempat menggemparkan dunia peradilan Aceh pada kala itu, hanya saja tidak diketahui secara meluas karena kurangnya tulisan para pakar sejarah khususnya dari Gayo untuk meneliti dan menulis demi memperkaya khazanah sejarah Aceh. Di daerah Aceh Tengah Datu Empu Beru diabadikan sebagai nama sebuah rumah sakit Daerah.

    X

    Mengapa Aceh Melahirkan Begitu Banyak Perempuan Pemimpin

    Dari Sultanah Safiatuddin di atas takhta sampai Pocut Baren yang bertahan di rimba, ketujuh nama di atas memperlihatkan satu pola yang sama: kepemimpinan perempuan Aceh tumbuh karena ruangnya memang tersedia — istana, meunasah, dan medan perang sekaligus. Dari mereka kita dapat belajar bahwa perjuangan bukan hanya dilakukan dengan kekuatan fisik tetapi juga melalui kecerdasan, iman, dan keteguhan hati. Para tokoh perempuan Aceh tersebut menunjukkan bahwa kepemimpinan dan keberanian tidak mengenal batas gender. Mereka membuktikan bahwa perempuan mampu memegang peranan strategis dalam bidang politik militer maupun sosial sejajar dengan kaum laki-laki. Selain itu keteladanan mereka mengajarkan arti pentingnya pengorbanan demi bangsa dan tanah air. Walaupun harus menghadapi penderitaan pengasingan hingga kehilangan orang-orang tercinta semangat juang mereka tidak pernah padam. Hal ini menjadi pelajaran bahwa cinta tanah air harus diwujudkan dengan kesediaan untuk berkorban menjaga kehormatan bangsa, serta menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi.

    Bagi Kita generasi muda, nilai perjuangan para tokoh perempuan Aceh tersebut perlu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Jika dahulu mereka melawan kolonialisme dengan senjata maka saat ini generasi penerus dapat berjuang melalui pendidikan kreativitas serta penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan meneladani semangat kepahlawanan para pejuang wanita yang telah penulis sebutkan diatas bahwa kita sebagai generasi muda tidak hanya menjaga warisan sejarah tetapi juga membawa bangsa menuju kemajuan yang lebih besar di masa depan.

    Pembahasan yang lebih panjang tentang sejarah, pengetahuan, dan peradaban Aceh dapat dibaca dalam buku-buku Kamaruzzaman Bustamam Ahmad.

    XI

    Pertanyaan yang Sering Diajukan

    Siapa pahlawan wanita yang terkenal dari Aceh?

    Yang paling dikenal adalah Cut Nyak Dhien. Ia memimpin pasukan gerilya di Aceh Besar dan Meulaboh setelah suaminya, Teuku Umar, gugur pada 1899. Ia ditangkap pada 1906, diasingkan ke Sumedang, dan wafat di sana pada 6 November 1908 dalam usia enam puluh tahun.

    Siapa panglima perempuan di Aceh?

    Laksamana Malahayati, atau Keumalahayati. Ia memimpin armada laut Kesultanan Aceh beserta pasukan Inong Balee, dan pada 11 September 1599 menewaskan Cornelis de Houtman dalam pertempuran satu lawan satu di geladak kapal di perairan Aceh. Gelar Laksamana ia peroleh karena peristiwa itu.

    Siapa saja pahlawan nasional wanita yang berasal dari Aceh?

    Tiga nama sudah ditetapkan resmi: Cut Nyak Dhien melalui SK Presiden No. 106 Tahun 1964, Cut Nyak Meutia melalui SK Presiden No. 107 Tahun 1964 — keduanya pada 2 Mei 1964 — dan Laksamana Malahayati melalui Keppres No. 115/TK/2017 pada 6 November 2017.

    Siapa panglima perang perempuan dari Aceh yang namanya tujuh huruf?

    Fakinah. Teungku Fakinah dari Aceh Besar memimpin pasukan melawan Belanda sekaligus dikenal sebagai ulama perempuan dan pembangun lembaga pendidikan. Dua nama lain yang sering dicari, Malahayati dan Meutia, masing-masing sepuluh dan enam huruf, sehingga tidak cocok untuk pertanyaan tujuh huruf.

    Apakah Cut Nyak Dhien benar seorang perempuan?

    Benar. Cut adalah gelar bagi perempuan bangsawan Aceh, sementara Teuku dipakai untuk laki-laki. Kebingungan biasanya muncul karena ejaan lama namanya, Tjoet Nja Dhien, terasa asing bagi pembaca sekarang, bukan karena ada keraguan sejarah tentang jenis kelaminnya.

    XII

    Kesimpulan

    Tokoh pejuang Aceh itu bukan hanya dari kalangan laki-laki saja namun juga dari kalangan perempuan, mereka bukanlah hanya sebagai simbol keberanian dan pengorbanan namun mereka juga merupakan  simbol dari sebuah kejayaan dan  perjuangan. Pengorbanan yang mereka lakukan tidak boleh dibiarkan sia-sia, kita sebagai generasi muda  haruslah bangkit melawan rasa malas dan membangkitkan rasa ingin tahu yang tinggi terhadap ilmu pengetahuan. Kita sebagai generasi muda haruslah menciptakan sejarah baru yang memberikan angin segar untuk kemajuan bangsa dan negara ini. Kita sebagai generasi muda  bukan hanya meneladani tetapi juga bisa melampaui capaian mereka dalam konteks kekinian.

    XIII

    Bacaan Lanjutan di KBA13

    ◆

    Cara Mengutip

    Simahate, Nico. (2025). 7 Pahlawan Perempuan Aceh: Dari Istana hingga Medan Perang. Banda Aceh: KBA13 Insight.
    https://www.kba13.com/tokoh-perempuan-hebat-aceh/

    NS

    Nico Simahate

    Nico Simahate adalah alumni Fakultas Syariah dan Hukum UIN Ar-Raniry, Darussalam Banda Aceh. Saat ini, Nico merupakan pegiat literasi dan penulis enam buku. Aktif menginspirasi lewat tulisan bertema sejarah, sosial dan pendidikan. Kerap tampil sebagai pembicara di berbagai forum literasi.

    Artikel lain di kategori ini → ↑ Kembali ke atas


    About The Author

    ◆ ◆ ◆

    How to citeCara mengutip

    KBA

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    Ekosistem KBA13KBA13 InsightKBA13 AcademyAcehnologiArsip & PustakaPeta Ekosistem →