Harlan dalam Masyarakat Aceh: Dari Premanisme Jalanan ke Kekuasaan Politik, Ekonomi, dan Agama
Harlan dalam masyarakat Aceh adalah cermin gelap ketika keberanian kehilangan adab, backing mengalahkan hukum, dan kekuasaan informal hidup dari rasa takut.
Daftar Isi
TogglePendahuluan: Harlan sebagai Konsep Sosial yang Hampir Hilang, tetapi Jejaknya Masih Bekerja
Harlan adalah salah satu istilah sosial dalam masyarakat Aceh yang semakin jarang terdengar, tetapi jejak wataknya belum benar-benar lenyap dari kehidupan sehari-hari. Istilah ini menyimpan satu lapisan pengalaman sosial tentang orang kuat, orang kasar, orang yang ditakuti, orang yang mampu menguasai sudut ruang publik, dan orang yang kehadirannya dapat mengubah perilaku orang lain. Harlan bukan sekadar nama bagi preman jalanan. Di dalam istilah ini terdapat memori sosial tentang bagaimana kekerasan, keberanian, reputasi, dan jaringan informal bekerja dalam masyarakat. Karena itu, harlan perlu dibaca bukan sebagai istilah pinggiran, melainkan sebagai pintu masuk untuk memahami cara masyarakat Aceh mengenali, menilai, menakuti, sekaligus kadang-kadang memanfaatkan figur kekuasaan informal.
Dalam pengertian paling dasar, Harlan menunjuk pada figur yang memiliki kemampuan menekan. Tekanan itu bisa datang dari tubuh, suara, tatapan, sejarah perkelahian, reputasi membawa parang, kedekatan dengan kelompok tertentu, atau hubungan dengan orang-orang yang dianggap memiliki pengaruh. Harlan hadir sebagai figur yang tidak selalu membutuhkan jabatan. Kekuatannya justru terletak pada pengakuan sosial yang tidak tertulis. Orang mengetahui siapa yang harus dihindari, siapa yang tidak boleh diganggu, siapa yang mampu membuat masalah menjadi panjang, dan siapa yang memiliki backing. Dalam masyarakat seperti ini, kekuasaan tidak hanya berada di kantor, lembaga, atau struktur resmi. Kekuasaan juga beredar di warung kopi, terminal, pasar, simpang jalan, pangkalan angkutan, area parkir, dan tempat-tempat ketika manusia berhadapan langsung dengan risiko sosial.
Karena itu, harlan tidak dapat dipahami hanya dengan bahasa hukum pidana. Hukum mungkin menyebut sebagian tindakan Harlan sebagai pemerasan, pengancaman, penganiayaan, penyalahgunaan pengaruh, atau bagian dari ekonomi gelap. Namun, antropologi sosial melihat sesuatu yang lebih dalam: mengapa figur seperti ini bisa muncul, mengapa masyarakat mengenalnya, mengapa sebagian orang takut, mengapa sebagian lain mencari perlindungan, dan mengapa elit tertentu dapat memakainya. Di sinilah Harlan menjadi fenomena budaya. Harlan bukan hanya pelaku, tetapi juga gejala. Harlan adalah tanda bahwa ada ruang sosial yang tidak sepenuhnya diatur oleh hukum, adat, agama, dan kepemimpinan moral. Ketika ruang itu kosong, kabur, atau lemah, figur yang memiliki reputasi kekerasan akan masuk sebagai pengatur tidak resmi.
Konsep Harlan juga menunjukkan bahwa masyarakat memiliki bahasa sendiri untuk menamai kekuasaan jalanan. Setiap masyarakat memiliki istilah lokal untuk figur seperti ini. Di Madura dikenal istilah blater. Di Banten dikenal sebagai jawara. Dalam masyarakat Aceh, harlan dapat ditempatkan dalam keluarga konsep yang serupa, meskipun tidak boleh disamakan sepenuhnya. Blater, Jawara, dan Harlan sama-sama berada di wilayah pertemuan antara keberanian, kekerasan, kehormatan, jaringan sosial, dan kuasa informal. Namun, Harlan memiliki konteks Aceh sendiri. Harlan tumbuh dalam masyarakat yang memiliki sejarah keberanian, adat yang kuat, agama yang menjadi pusat moral, pengalaman konflik, serta ruang sosial yang panjang berhubungan dengan perang, kehormatan, dan resistensi. Karena itu, membaca Harlan harus dilakukan dengan hati-hati. Tidak semua keberanian Aceh adalah harlan. Tidak semua orang kuat adalah Harlan. Harlan justru muncul ketika keberanian kehilangan adab, ketika kekuatan kehilangan tujuan moral, dan ketika simbol kehormatan berubah menjadi alat menakut-nakuti orang lain.
Di sinilah letak pentingnya membedakan antara tradisi keberanian dan tradisi kekerasan. Aceh mengenal keberanian sebagai bagian dari sejarah sosial. Keberanian pernah menjadi bahasa perlawanan, bahasa mempertahankan martabat, dan bahasa menjaga wilayah dari dominasi luar. Tetapi dalam dunia harlan, keberanian mengalami penyempitan. Keberanian tidak lagi diarahkan untuk membela kehormatan kolektif, melainkan untuk menguasai orang lain. Parang, pedang, rencong, atau senjata tajam tidak lagi berdiri sebagai simbol kehormatan, melainkan menjadi tanda intimidasi. Tubuh yang gagah tidak lagi menjadi lambang perlindungan, tetapi menjadi sumber ketakutan. Suara yang tegas tidak lagi menjadi bahasa kepemimpinan, tetapi berubah menjadi ancaman. Harlan hidup dari pergeseran makna ini: dari keberanian sebagai nilai menjadi keberanian sebagai tekanan.
Karena itu, harlan adalah konsep yang perlu dihidupkan kembali sebagai alat analisis. Bukan untuk meromantisasi premanisme. Bukan pula untuk menghidupkan kembali istilah yang mungkin sudah dianggap usang. Tetapi istilah ini mampu menangkap sesuatu yang sering luput dari bahasa akademik modern. Dalam kehidupan sosial, kekuasaan tidak selalu bekerja melalui regulasi, undang-undang, atau institusi formal. Kekuasaan sering bekerja melalui rasa takut. Rasa takut itu tidak selalu ditulis. Rasa takut beredar melalui cerita, bisikan, pengalaman, reputasi, tubuh, senjata, hubungan kekerabatan, organisasi, dan backing. Harlan adalah nama lokal bagi jaringan rasa takut itu.
Dalam pada itu, perkembangan paling penting hari ini adalah transformasi Harlan. Pada masa tertentu, Harlan mungkin lebih mudah dikenali melalui ruang fisik: terminal, pasar, pangkalan, area parkir, tempat bongkar muat, atau warung kopi tertentu. Kini watak Harlan dapat berpindah ke ruang yang lebih luas. Ada harlan politik, yaitu ketika tekanan, intimidasi, dan penguasaan massa digunakan untuk kepentingan elektoral atau perebutan kekuasaan. Ada harlan ekonomi, yaitu ketika akses proyek, distribusi sumber daya, pungutan informal, pengamanan usaha, dan rente dikendalikan melalui rasa takut. Ada harlan agama, yaitu ketika simbol moral dipakai untuk menekan, mempermalukan, atau menguasai orang lain. Ada pula harlan yang masuk ke ekonomi gelap, terutama ketika narkotika menjadi sumber uang, jaringan, dan kekebalan sosial.
Transformasi ini memperlihatkan bahwa Harlan bukan hanya orang yang berdiri di pinggir jalan dengan wajah keras. Harlan bisa memakai pakaian rapi, membawa proposal, duduk di meja rapat, berbicara tentang pembangunan, tampil dalam forum politik, atau memakai bahasa moral. Wataknya tetap sama: menguasai melalui tekanan. Harlan lama menakutkan karena tubuhnya. Harlan baru menakutkan karena jaringan, uang, backing, informasi, dan kemampuan merusak kehidupan orang lain secara diam-diam. Pada titik ini, premanisme tidak lagi hanya tampak sebagai tindakan kasar, tetapi sudah masuk ke dalam struktur sosial. Kekerasan tidak selalu hadir sebagai pukulan. Kekerasan dapat hadir sebagai akses yang ditutup, proyek yang dikuasai, suara yang dibungkam, pemuda yang dijerat narkotika, atau masyarakat yang dibuat diam.
Di sinilah backing menjadi kunci. Harlan hampir tidak pernah hidup sendirian. Orang kasar tanpa backing hanya menjadi gangguan kecil. Tetapi orang kasar yang memiliki backing berubah menjadi kekuasaan informal. Backing membuat masyarakat menghitung sebelum melawan terhadap keadaan yang dikuasai. Backing membuat hukum tampak jauh. Backing membuat orang memilih diam daripada berhadapan dengan risiko. Backing juga menyambungkan dunia bawah dengan dunia atas. Harlan menyediakan tekanan di bawah. Elite menyediakan perlindungan di atas. Ketika dua lapisan ini bertemu, lahirlah satu sistem yang lebih berbahaya daripada premanisme biasa. Masyarakat tidak hanya takut kepada harlan, tetapi takut kepada jaringan yang berdiri di belakang harlan.
Masuknya sebagian harlan ke bisnis narkotika memperlihatkan bentuk paling rusak dari transformasi ini. Jika premanisme lama menguasai ruang publik melalui ancaman, maka narkotika menguasai masa depan melalui ketergantungan, uang gelap, jaringan diam, dan kerusakan generasi. Harlan yang masuk dalam ekonomi narkotika tidak hanya menekan pedagang, sopir, atau warga pasar. Harlan seperti ini menghancurkan keluarga, melemahkan anak muda, merusak moral kampung, menciptakan ketakutan baru, dan membuat masyarakat kehilangan keberanian untuk berbicara. Uang narkotika dapat membeli loyalitas. Uang narkotika dapat memperkuat backing. Uang narkotika dapat membuat harlan naik kelas dari preman lokal menjadi bagian dari jaringan kriminal yang lebih luas. Karena itu, narkotika bukan hanya isu hukum. Dalam konteks harlan, narkotika adalah bentuk baru kekuasaan gelap yang merusak struktur sosial dari dalam.
Maka, membaca Harlan berarti membaca cermin gelap masyarakat Aceh. Cermin ini tidak dimaksudkan untuk mempertanyakan keotentikan budaya Aceh, melainkan untuk melihat sisi yang sering disembunyikan oleh bahasa kehormatan. Masyarakat tidak dapat hanya berbicara tentang adat, agama, sejarah perlawanan, dan martabat, tanpa berani melihat bagaimana sebagian simbol keberanian dapat diselewengkan menjadi bahasa intimidasi. Harlan memperlihatkan bahwa kekerasan tidak selalu datang dari luar masyarakat. Kekerasan juga dapat tumbuh dari dalam, melalui pembiaran, ketakutan, kebutuhan praktis, backing, ekonomi gelap, dan kegagalan institusi menjaga keadilan. Karena itu, esai ini akan membaca harlan sebagai figur, sebagai watak, sebagai sistem, dan sebagai tanda. Harlan adalah nama bagi satu kenyataan sosial: ketika kekuasaan tidak lagi memerlukan kebenaran, sebab cukup membuat orang lain takut.
Tradisi Kekerasan dalam Masyarakat Aceh: Antara Sejarah Perlawanan, Kehormatan, dan Bahasa Tubuh Sosial
Ketika memahami Harlan tidak dapat dilepaskan dari persoalan yang lebih tua, yaitu bagaimana kekerasan hadir dalam tradisi sosial masyarakat Aceh. Kekerasan di sini tidak boleh dipahami secara sempit sebagai tindakan melukai tubuh orang lain. Dalam antropologi sosial, kekerasan juga dapat hadir sebagai bahasa, simbol, ingatan, ancaman, reputasi, dan cara mengatur relasi sosial. Masyarakat Aceh memiliki sejarah panjang yang berdekatan dengan perang, perlawanan, harga diri, kehormatan, dan ketegangan politik. Dari sejarah seperti ini lahir satu jenis sensitivitas sosial terhadap martabat. Orang Aceh mengenal pentingnya harga diri, keberanian, dan keteguhan dalam kehidupan mereka. Namun, di titik tertentu, nilai keberanian dapat mengalami penyimpangan ketika tidak lagi dipandu oleh adab, adat, ilmu, dan agama. Pada titik penyimpangan itulah Harlan muncul sebagai bayangan gelap dari tradisi keberanian.
Harus diakui bahwa Harlan tumbuh dalam masyarakat yang mengenal bahasa keberanian sebagai bagian dari struktur kehormatan. Dalam banyak masyarakat, lelaki yang berani sering memperoleh tempat khusus dalam imajinasi sosial. Keberanian dipandang sebagai kemampuan menjaga diri, keluarga, kampung, dan kehormatan. Tetapi Harlan mengambil unsur keberanian itu, lalu menurunkannya menjadi kekuatan intimidatif. Yang dahulu bermakna mempertahankan martabat berubah menjadi cara menguasai orang lain. Yang dahulu terkait dengan perlindungan berubah menjadi tekanan. Yang dahulu dekat dengan heroisme berubah menjadi premanisme. Karena itu, harlan bukan kelanjutan murni dari tradisi keberanian Aceh, melainkan deformasi sosial dari keberanian yang kehilangan ukuran moral.
Di sinilah pentingnya membandingkan Harlan dengan jawara di Banten dan blater di Madura. Jawara dalam masyarakat Banten tidak hanya dipahami sebagai orang kuat secara fisik, tetapi juga sebagai figur yang historisnya berhubungan dengan jaringan lokal, bela diri, kharisma, patronase, dan kedekatan tertentu dengan dunia keagamaan atau kekuasaan tradisional. Blater dalam masyarakat Madura juga tidak dapat direduksi menjadi preman, karena blater berhubungan dengan kehormatan, keberanian, jaringan sosial, reputasi, dan struktur patronase lokal. Harlan berada dalam medan yang mirip: bukan sekadar orang kasar, tetapi figur yang memperoleh kekuatan dari reputasi sosial. Bedanya, harlan dalam konteks Aceh tidak memiliki artikulasi kultural sekuat jawara atau blater dalam studi-studi sosial yang lebih dikenal. Harlan lebih banyak hidup sebagai istilah percakapan, sebagai penanda sosial, sebagai nama yang diberikan masyarakat kepada figur keras yang berada di antara ketakutan dan pengaruh.
Perbandingan ini penting supaya Harlan tidak dibaca secara dangkal. Jika jawara dapat menjadi penjaga tradisi sekaligus aktor kekuasaan lokal, dan blater dapat menjadi simbol keberanian sekaligus pelaku kekerasan sosial, maka harlan juga memiliki ambiguitas yang sama. Harlan dapat dibenci, tetapi juga dicari. Harlan dapat ditakuti, tetapi juga dipakai. Harlan dapat dianggap pengganggu, tetapi dalam situasi tertentu dapat dianggap pelindung. Masyarakat tidak selalu berhubungan dengan figur seperti ini secara hitam putih. Ada pedagang yang takut kepada Harlan, tetapi ada juga pedagang yang merasa aman karena Harlan tertentu melindungi lapaknya dari gangguan kelompok lain. Ada warga yang mengutuk kekerasan, tetapi diam-diam mencari orang kuat ketika menghadapi sengketa tanah, utang, konflik pasar, atau urusan politik lokal. Inilah wilayah abu-abu yang harus dibaca secara antropologis.
Tradisi kekerasan dalam masyarakat Aceh juga tidak dapat dilepaskan dari simbol senjata. Parang, pedang, pisau, rencong, dan senjata tajam lainnya memiliki kedudukan yang berbeda-beda dalam imajinasi sosial. Dalam tradisi kehormatan, senjata dapat tampil sebagai lambang harga diri, keberanian, dan kesiapan membela martabat. Tetapi dalam dunia Harlan, senjata berubah menjadi bahasa intimidasi. Senjata tidak perlu selalu digunakan. Kehadirannya saja sudah cukup menjadi pesan. Sebilah parang yang terselip, pedang yang terlihat, atau cerita bahwa seseorang biasa membawa senjata, dapat menciptakan efek sosial yang luas. Orang menjadi berhati-hati, menurunkan suara, menghindari konflik, atau memilih membayar daripada melawan. Pada titik ini, senjata bekerja sebagai simbol sebelum bekerja sebagai alat.
Inilah yang membedakan kekerasan fisik dan kekerasan simbolik. Kekerasan fisik melukai tubuh secara langsung. Kekerasan simbolik bekerja melalui ketakutan yang sudah tertanam dalam pikiran masyarakat. Harlan kuat bukan hanya ketika memukul orang, tetapi juga ketika orang lain sudah takut sebelum pukulan terjadi. Dalam dunia jawara dan blater, reputasi juga bekerja dengan cara serupa. Nama seorang jawara dapat membuat orang segan. Riwayat seorang blater dapat membuat orang berhitung. Demikian pula Harlan. Nama, cerita, dan sejarah kekerasan membentuk aura sosial. Harlan menjadi besar karena masyarakat mengingat, menceritakan, membesar-besarkan, atau mewariskan kisah tentang keberanian dan kekasarannya. Maka, kekuatan Harlan tidak hanya terletak pada tubuh, tetapi juga pada cerita yang mengelilingi tubuh itu.
Namun, ada satu sisi khas yang perlu dibaca dalam konteks Aceh, yaitu hubungan antara kekerasan dan martabat. Dalam masyarakat yang memiliki ingatan kolektif tentang perjuangan, konflik, dan tekanan politik, bahasa keberanian sering memperoleh legitimasi yang tinggi. Orang yang tidak takut dianggap memiliki nilai. Orang yang berani melawan dianggap memiliki harga diri. Tetapi ketika nilai ini tidak dibedakan dengan kekerasan liar, maka lahirlah kekacauan moral. Harlan memanfaatkan celah itu. Harlan memakai bahasa “berani”, “tidak takut”, “siap mati”, “jaga marwah”, atau “jangan diinjak”, tetapi substansinya bukan lagi perlindungan martabat, melainkan dominasi terhadap orang lain. Di sinilah harlan menyamar di balik kosa kata kehormatan.
Jawara dan blater juga memperlihatkan pola yang sama dalam masyarakat masing-masing. Figur-figur ini sering hidup di antara kehormatan dan kekerasan, antara perlindungan dan dominasi, antara kharisma dan intimidasi. Namun, dalam konteks harlan, persoalannya menjadi lebih tajam karena Aceh memiliki struktur moral yang sangat kuat melalui adat dan agama. Ketika harlan muncul, berarti ada jarak antara nilai normatif masyarakat dan praktik sosial di lapangan. Masyarakat mengatakan bahwa agama mengajarkan adab, tetapi harlan memakai ancaman. Masyarakat mengatakan adat menjaga kehormatan, tetapi harlan memperdagangkan rasa takut. Masyarakat memuliakan keberanian, tetapi harlan mengubah keberanian menjadi alat menekan orang lemah. Harlan menjadi tanda bahwa tidak semua nilai luhur berhasil mengendalikan perilaku sosial.
Tradisi kekerasan juga bekerja melalui tubuh. Tubuh harlan bukan tubuh biologis semata. Tubuh itu adalah teks sosial. Cara berjalan, cara menatap, cara duduk di warung kopi, cara memegang rokok, cara memanggil orang, cara diam, cara tertawa, cara masuk ke pasar, semuanya dapat menjadi bagian dari pertunjukan kuasa. Dalam dunia sosial seperti ini, tubuh tidak pernah netral. Tubuh membaca tubuh lain. Orang segera tahu siapa yang harus dihormati, siapa yang harus dihindari, siapa yang berbahaya, siapa yang sedang membawa masalah, dan siapa yang datang dengan backing. Harlan tidak selalu harus mengucapkan ancaman. Dalam banyak situasi, tubuhnya sudah menjadi ancaman.
Karena itu, tradisi kekerasan dalam pembahasan harlan harus dipahami sebagai sistem tanda. Kekerasan tidak hanya terjadi ketika darah tumpah. Kekerasan sudah bekerja ketika masyarakat tidak berani bicara benar. Kekerasan sudah hadir ketika pedagang kecil membayar pungutan karena takut diganggu. Kekerasan sudah hidup ketika pemuda kampung memilih bergabung dengan orang kuat karena melihat jalan itu lebih cepat memberi status. Kekerasan sudah menjadi budaya ketika backing lebih dipercaya daripada hukum, ketika reputasi kasar lebih efektif daripada nasihat, dan ketika orang baik memilih diam karena tidak mau berurusan. Harlan hidup di dalam sistem tanda seperti ini.
Maka, harlan adalah bentuk lokal dari satu fenomena yang lebih luas di Nusantara: kekuasaan informal berbasis keberanian, reputasi, kekerasan, dan patronase. Jawara menunjukkan bagaimana figur orang kuat dapat berkelindan dengan sejarah lokal Banten. Blater menunjukkan bagaimana kehormatan, keberanian, dan patronase bekerja dalam masyarakat Madura. Harlan menunjukkan bagaimana masyarakat Aceh mengenali figur yang menguasai ruang melalui rasa takut, senjata, backing, dan reputasi. Ketiganya tidak identik, tetapi berada dalam satu medan antropologis yang sama: ketika negara formal tidak sepenuhnya mengatur kehidupan sosial, maka orang kuat lokal muncul sebagai mediator, pelindung, pemaksa, penguasa bayangan, sekaligus ancaman.
Dengan demikian, tradisi kekerasan dalam masyarakat Aceh bukan alasan untuk membenarkan harlan. Justru tradisi itu perlu dibaca untuk membedakan antara keberanian yang bermartabat dan kekerasan yang merusak. Aceh memiliki sejarah keberanian yang besar, tetapi harlan adalah bentuk kecil, gelap, dan menyimpang dari keberanian itu. Harlan mengambil simbol keberanian, lalu mengosongkannya dari nilai. Harlan mengambil bahasa kehormatan, lalu menggunakannya untuk kepentingan sempit. Harlan mengambil reputasi tubuh, lalu menjadikannya alat tekanan. Karena itu, membaca harlan berarti menyelamatkan makna keberanian Aceh dari penyempitan premanistik. Harlan harus diletakkan sebagai objek kritik budaya, bukan sebagai romantisme orang kuat.
Parang, Pedang, dan Senjata Tajam sebagai Bahasa Simbolik Harlan
Parang, pedang, rencong, pisau, atau senjata tajam lain dalam dunia harlan tidak boleh dibaca hanya sebagai benda. Dalam kehidupan sosial, benda dapat berubah menjadi bahasa. Benda dapat menyampaikan pesan sebelum kata-kata diucapkan. Benda dapat menciptakan rasa takut sebelum tubuh disentuh. Di tangan harlan, senjata tajam tidak sekadar alat untuk menyerang. Senjata tajam adalah tanda bahwa kekerasan selalu mungkin terjadi. Justru kemungkinan itulah yang membuat masyarakat menyesuaikan diri. Harlan tidak harus selalu mengayunkan parang. Cukup masyarakat mengetahui bahwa parang itu ada, bahwa tubuh itu pernah memakainya, bahwa nama itu pernah dikaitkan dengan kekerasan, maka kuasa harlan sudah bekerja.
Dalam antropologi kekerasan, senjata memiliki dua dimensi. Pertama, dimensi material, yaitu benda tajam yang dapat melukai tubuh. Kedua, dimensi simbolik, yaitu pesan sosial yang melekat pada benda tersebut. Harlan hidup pada dua dimensi ini sekaligus. Pada tingkat material, senjata tajam memberikan kemampuan melukai. Pada tingkat simbolik, senjata tajam memberikan kemampuan menguasai imajinasi orang lain. Yang paling berbahaya dari harlan bukan selalu tindakan kekerasannya, tetapi kemampuan membuat orang percaya bahwa kekerasan itu dapat dilakukan kapan saja. Di sinilah parang atau pedang menjadi bahasa. Bahasa itu tidak memerlukan kalimat panjang. Pesannya sederhana: jangan melawan.
Senjata tajam dalam dunia harlan bekerja sebagai perpanjangan tubuh. Tubuh harlan menjadi lebih besar daripada tubuh biologisnya karena senjata memperluas jangkauan ancaman. Seorang harlan mungkin duduk diam di sudut warung kopi, tetapi jika masyarakat mengetahui bahwa orang itu biasa membawa parang, maka tubuh diam itu tidak lagi netral. Diamnya mengandung risiko. Tatapannya mengandung pesan. Kehadirannya mengandung peringatan. Dalam situasi seperti ini, kekuasaan tidak lagi bekerja melalui instruksi langsung, tetapi melalui bayangan kemungkinan. Orang menghindar bukan karena disuruh, tetapi karena sudah membaca tanda.
Di sinilah letak perbedaan antara kekerasan yang terjadi dan kekerasan yang dibayangkan. Banyak orang hanya melihat kekerasan ketika luka tampak di tubuh. Padahal dalam masyarakat yang dikuasai oleh figur seperti harlan, kekerasan sudah bekerja jauh sebelum luka muncul. Kekerasan bekerja ketika pedagang kecil menurunkan suara. Kekerasan bekerja ketika sopir angkutan memberi uang karena tidak ingin diganggu. Kekerasan bekerja ketika pemuda kampung memilih diam walaupun melihat kesalahan. Kekerasan bekerja ketika warga tidak berani menjadi saksi. Senjata tajam menjadi simbol yang menanamkan disiplin sosial melalui rasa takut. Harlan mengatur orang bukan selalu dengan serangan, tetapi dengan kemungkinan serangan.
Parang dan pedang juga menjadi bagian dari reputasi. Dalam dunia harlan, reputasi sering lebih kuat daripada fakta. Tidak semua cerita harus benar. Tidak semua riwayat harus pernah terjadi. Yang penting masyarakat percaya. Seseorang disebut pernah membacok, pernah berkelahi, pernah mengejar orang, pernah membawa pedang ke pasar, atau pernah membuat lawan lari. Cerita seperti ini beredar dari warung ke warung, dari pasar ke terminal, dari pangkalan ke kampung. Lama-lama cerita itu menjadi modal simbolik. Harlan dibesarkan oleh narasi. Nama menjadi lebih tajam daripada parang. Reputasi menjadi lebih panjang daripada pedang.
Fenomena ini juga tampak dalam figur jawara dan blater. Jawara di Banten tidak hanya dikenal karena kemampuan fisik, tetapi karena aura keberanian yang dilekatkan pada tubuh dan sejarahnya. Blater di Madura juga hidup melalui reputasi, jaringan, dan cerita tentang keberanian. Harlan berada dalam medan yang sama, tetapi memiliki artikulasi lokal Aceh. Dalam ketiganya, kekerasan tidak hanya dinilai dari tindakan, melainkan dari kemampuan menciptakan efek sosial. Orang kuat lokal menjadi kuat karena orang lain percaya bahwa orang tersebut memiliki kapasitas melakukan kekerasan, memiliki jaringan, dan memiliki keberanian melewati batas yang tidak berani dilewati orang biasa.
Namun, dalam konteks Aceh, senjata tajam memiliki beban makna yang lebih kompleks. Rencong, misalnya, dalam imajinasi budaya Aceh sering dikaitkan dengan kehormatan, perlawanan, sejarah, dan identitas. Pedang dalam memori perjuangan dapat dibaca sebagai simbol pertahanan diri dan keberanian kolektif. Tetapi ketika senjata masuk ke dunia harlan, maknanya bergeser. Yang semula dapat berdiri sebagai simbol martabat berubah menjadi instrumen intimidasi. Pergeseran ini sangat penting. Harlan tidak menciptakan simbol dari nol. Harlan meminjam simbol yang sudah memiliki daya budaya, lalu mengubahnya menjadi alat penguasaan jalanan.
Karena itu, harlan melakukan penyempitan makna atas tradisi keberanian Aceh. Senjata yang dahulu dapat dibayangkan sebagai lambang perlawanan terhadap penindasan, dalam dunia harlan berubah menjadi alat menekan orang kecil. Parang yang seharusnya menjadi alat kerja atau alat bela diri dalam keadaan tertentu, berubah menjadi tanda kuasa liar. Pedang yang dalam ingatan sejarah dapat diasosiasikan dengan perjuangan, berubah menjadi properti ketakutan. Di sinilah terjadi penurunan moral simbol. Harlan mengambil benda yang memiliki kemungkinan makna luhur, lalu menariknya ke dalam logika premanisme.
Masyarakat sering kali memahami bahasa ini tanpa perlu penjelasan. Ketika seorang harlan muncul dengan parang, atau ketika kabar menyebar bahwa seseorang membawa senjata, orang langsung memahami struktur pesan di dalamnya. Tidak ada seminar. Tidak ada peraturan tertulis. Tidak ada surat ancaman resmi. Tetapi semua orang tahu apa yang harus dilakukan. Ini menunjukkan bahwa kekerasan simbolik bekerja melalui pengetahuan bersama. Masyarakat belajar membaca tanda-tanda bahaya melalui pengalaman panjang. Siapa yang datang, dengan siapa orang itu datang, apa yang dibawa, bagaimana cara berbicara, siapa backing-nya, dan apa sejarahnya. Semua itu menjadi tata bahasa sosial.
Dalam tata bahasa harlan, senjata tajam juga berfungsi sebagai alat negosiasi. Harlan tidak selalu datang untuk melukai. Sering kali senjata menjadi cara menaikkan posisi tawar. Dalam sengketa kecil, perebutan lahan, konflik pasar, masalah utang, rebutan lapak, atau pertengkaran politik lokal, kehadiran senjata membuat percakapan berubah. Orang tidak lagi berdebat secara setara. Satu pihak membawa argumen, pihak lain membawa rasa takut. Dalam keadaan seperti itu, keputusan tidak lahir dari kebenaran, tetapi dari tekanan. Inilah kerusakan paling dalam dari dunia harlan: kebenaran kalah bukan karena salah, tetapi karena tidak punya senjata dan backing.
Di sini kita melihat bagaimana senjata tajam menghubungkan tubuh, ruang, dan kekuasaan. Tubuh harlan membawa senjata. Senjata menguasai ruang. Ruang mengubah perilaku orang. Perilaku orang kemudian memperkuat reputasi harlan. Siklus ini membuat harlan semakin berkuasa. Semakin banyak orang menghindar, semakin kuat nama harlan. Semakin kuat nama harlan, semakin sedikit kekerasan yang perlu dilakukan. Pada tingkat tertentu, harlan bahkan tidak perlu lagi membawa senjata secara terbuka. Nama dan ingatan masyarakat sudah cukup menjadi senjata.
Fenomena ini memperlihatkan bahwa kekerasan tidak selalu meningkat ketika senjata sering digunakan. Justru dalam banyak kasus, kekerasan menjadi mapan ketika senjata jarang digunakan, tetapi selalu dibayangkan. Masyarakat hidup dalam ketertiban yang palsu. Pasar tampak berjalan. Terminal tampak biasa. Warung kopi tetap ramai. Orang tetap tertawa. Tetapi di bawah permukaan, ada kalkulasi ketakutan. Siapa boleh berkata apa. Siapa tidak boleh disentuh. Siapa harus diberi bagian. Siapa tidak boleh dilawan. Inilah tatanan harlan: ketertiban yang dibangun di atas rasa takut.
Pada titik ini, perbandingan dengan jawara dan blater kembali membantu. Jawara, blater, dan harlan sama-sama memperlihatkan bahwa kekuasaan informal membutuhkan simbol. Tidak cukup hanya kuat. Orang kuat harus dikenali sebagai orang kuat. Pengenalan itu dibentuk oleh tubuh, cerita, senjata, jaringan, tempat duduk, cara bicara, dan hubungan dengan elite. Dalam masyarakat lokal, simbol-simbol itu sering lebih cepat dipahami daripada bahasa hukum. Masyarakat mungkin tidak hafal pasal, tetapi tahu siapa yang berbahaya. Masyarakat mungkin tidak membaca undang-undang, tetapi tahu siapa yang punya backing. Di situlah kekuasaan informal bekerja dengan sangat efektif.
Namun, harus tetap kita membedakan antara simbol budaya dan simbol premanisme. Tidak semua senjata dalam kebudayaan Aceh adalah tanda harlan. Tidak semua rencong adalah ancaman. Tidak semua pedang adalah premanisme. Senjata dapat menjadi pusaka, simbol seni, simbol sejarah, bagian dari identitas, atau lambang kehormatan. Yang membuatnya menjadi bahasa Harlan adalah konteks penggunaan, relasi kuasa, dan tujuan sosialnya. Ketika senjata dipakai untuk menjaga martabat bersama, maknanya berbeda. Ketika senjata dipakai untuk menekan orang lemah, menguasai pasar, menagih rente, membungkam lawan, atau memperkuat bisnis gelap, senjata berubah menjadi simbol harlan.
Karena itu, persoalan Harlan bukan pada benda tajam semata, tetapi pada moralitas penggunaan benda. Parang di tangan petani adalah alat kerja. Pedang dalam sejarah perjuangan adalah simbol resistensi. Rencong dalam tradisi adalah lambang identitas. Tetapi benda yang sama, ketika masuk ke dalam logika intimidasi, berubah menjadi bahasa kekuasaan liar. Harlan lahir ketika benda-benda itu dipakai untuk menciptakan ketakutan sosial. Harlan tidak hanya membawa senjata. Harlan membawa tafsir kekerasan atas senjata.
Di sinilah masyarakat harus membaca kembali batas antara keberanian dan premanisme. Keberanian tidak memerlukan penindasan. Kehormatan tidak memerlukan pemerasan. Martabat tidak memerlukan ancaman terhadap orang lemah. Jika parang hanya membuat orang kecil takut, maka itu bukan keberanian. Jika pedang hanya menjaga rente, maka itu bukan kehormatan. Jika senjata hanya melindungi bisnis gelap, maka itu bukan martabat. Harlan harus dikritik karena merusak makna keberanian Aceh dari dalam. Harlan mengambil simbol-simbol yang memiliki akar budaya, lalu menjadikannya perangkat intimidasi sosial.
Pada akhirnya, parang, pedang, dan senjata tajam dalam dunia Harlan adalah pintu untuk membaca satu hal yang lebih besar: bagaimana kekerasan menjadi bahasa sosial. Masyarakat yang sehat menyelesaikan sengketa melalui hukum, adat, musyawarah, dan keadilan. Masyarakat yang mulai dikuasai watak harlan menyelesaikan sengketa melalui siapa yang lebih ditakuti. Ketika senjata menjadi argumen, maka akal sehat mundur. Ketika reputasi kekerasan menjadi modal, maka keadilan menjadi rapuh. Ketika orang lebih takut kepada parang daripada percaya kepada hukum, maka harlan bukan lagi individu. Harlan sudah menjadi gejala kerusakan sosial.
Dari Rencong sebagai Simbol Kehormatan ke Parang sebagai Simbol Intimidasi
Rencong, pedang, parang, dan senjata tajam lain dalam masyarakat Aceh tidak berada dalam satu lapisan makna yang sama. Benda-benda itu dapat berada dalam wilayah adat, sejarah, kerja, pertahanan diri, pusaka, seni, identitas, atau kekerasan sosial. Karena itu, pembacaan terhadap harlan harus dimulai dari kehati-hatian simbolik. Tidak semua senjata adalah tanda premanisme. Tidak semua orang yang mengenal senjata adalah harlan. Tidak semua tradisi keberanian dapat disamakan dengan kekerasan jalanan. Namun, dalam dunia harlan, senjata mengalami pergeseran makna. Benda yang dalam satu konteks bisa menjadi lambang kehormatan, dalam konteks lain berubah menjadi alat intimidasi. Pergeseran inilah yang menjadi pusat pembahasan.
Rencong dalam imajinasi Aceh memiliki kedudukan simbolik yang tidak sederhana. Senjata ini sering dibayangkan sebagai lambang martabat, keberanian, sejarah perlawanan, dan identitas kultural. Rencong bukan hanya besi tajam. Rencong membawa ingatan tentang manusia yang tidak mau tunduk begitu saja pada penindasan. Dalam pengertian ini, rencong berdiri sebagai tanda kehormatan kolektif. Nilainya tidak terletak pada kemampuan melukai semata, tetapi pada makna yang ditempelkan masyarakat kepadanya. Rencong menjadi bagian dari cara masyarakat Aceh mengingat diri sendiri sebagai masyarakat yang memiliki harga diri, keberanian, dan sejarah panjang mempertahankan marwah.
Namun, harlan tidak bergerak di wilayah kehormatan kolektif semacam itu. Harlan mengambil energi simbolik dari tradisi keberanian, lalu menariknya ke dalam kepentingan sempit. Di tangan harlan, senjata tidak lagi berbicara tentang martabat bersama. Senjata berbicara tentang siapa yang lebih ditakuti. Di tangan harlan, parang bukan lagi alat kerja. Pedang bukan lagi lambang keberanian sejarah. Rencong bukan lagi simbol identitas luhur. Semua dapat turun menjadi perangkat intimidasi jika dipakai untuk menekan orang lain, menguasai ruang, memaksakan kehendak, atau menjaga ekonomi gelap. Di sinilah terjadi profanisasi simbol. Sesuatu yang memiliki makna budaya diturunkan menjadi alat tekanan sosial.
Pergeseran ini penting karena banyak masyarakat sering terjebak dalam romantisme simbol. Sesuatu yang tampak berasal dari tradisi dianggap otomatis mulia. Padahal simbol tidak pernah suci oleh dirinya sendiri jika dipakai untuk tujuan yang rusak. Rencong bisa menjadi lambang kehormatan ketika ditempatkan dalam adat, sejarah, dan identitas. Tetapi jika senjata tajam dipakai untuk menakut-nakuti pedagang, memaksa orang membayar, menjaga bisnis narkotika, atau menekan lawan politik, maka maknanya sudah berubah. Yang menentukan bukan hanya bentuk benda, tetapi relasi kuasa yang menyertainya. Dalam dunia harlan, relasi kuasa itu adalah ketakutan.
Harlan hidup dari kemampuan mengubah simbol menjadi ancaman. Sebilah parang di tangan petani memiliki makna kerja. Parang di pinggang harlan memiliki makna lain. Pedang di ruang adat memiliki makna kehormatan. Pedang di tangan orang yang datang menagih rente memiliki makna lain. Rencong dalam upacara budaya dapat menjadi lambang identitas. Rencong yang dipamerkan untuk menekan orang kecil telah kehilangan ketinggian maknanya. Dengan demikian, antropologi harlan bukan sekadar membaca benda, tetapi membaca perubahan makna benda ketika masuk ke dalam jaringan kekuasaan informal.
Di sini harlan memperlihatkan satu pola yang juga dapat dilihat pada figur jawara dan blater. Jawara di Banten sering hidup di antara dunia simbolik keberanian, ilmu bela diri, kharisma lokal, dan kuasa sosial. Blater di Madura juga berada di antara kehormatan, keberanian, reputasi, dan kekerasan. Dalam kedua figur itu, senjata, tubuh, dan nama sering menjadi bagian dari modal simbolik. Tetapi ketika modal simbolik itu dilepaskan dari tanggung jawab moral, yang tersisa adalah intimidasi. Harlan berada dalam pola yang sama. Bedanya, dalam konteks Aceh, simbol keberanian selalu berhadapan dengan norma agama dan adat yang kuat. Karena itu, penyimpangan harlan menjadi lebih tajam: harlan bukan hanya merusak ketertiban sosial, tetapi juga mencemari simbol-simbol kehormatan.
Pada titik ini, harlan harus dibaca sebagai pencuri makna. Harlan mencuri bahasa keberanian, tetapi menggunakannya untuk kepentingan kekuasaan sempit. Harlan mencuri simbol martabat, tetapi memakainya untuk menciptakan rasa takut. Harlan mencuri ingatan sejarah, tetapi tidak membawa etika perjuangan. Harlan sering tampil seolah-olah keras karena menjaga harga diri, padahal yang dijaga adalah wilayah pengaruh, rente, proyek, lapak, jaringan, atau bisnis gelap. Di sinilah kekerasan harlan berbeda dari keberanian yang bermartabat. Keberanian sejati menanggung risiko untuk melindungi yang benar. Harlan menciptakan risiko bagi orang lain supaya kepentingannya aman.
Pergeseran dari rencong sebagai simbol kehormatan menuju parang sebagai simbol intimidasi juga menunjukkan perubahan dari kekerasan yang dianggap memiliki tujuan kolektif menuju kekerasan privat. Dalam sejarah perlawanan, senjata dibayangkan berada dalam horizon pembelaan. Dalam dunia harlan, senjata berada dalam horizon penguasaan. Tujuannya bukan membela masyarakat, melainkan mengendalikan masyarakat. Bukan menjaga kampung, melainkan membuat kampung takut. Bukan membela orang kecil, melainkan mengambil keuntungan dari kelemahan orang kecil. Ini perubahan yang sangat penting. Ketika senjata kehilangan horizon moralnya, senjata berubah menjadi bahasa premanisme.
Masyarakat sering mengetahui perbedaan ini, tetapi tidak selalu berani mengatakannya. Orang tahu mana keberanian yang beradab dan mana kekasaran yang memakai nama keberanian. Orang tahu mana orang kuat yang melindungi dan mana orang kuat yang memeras. Orang tahu mana tokoh yang menjaga martabat dan mana harlan yang hanya mencari bagian. Namun, pengetahuan sosial itu sering tertahan oleh rasa takut. Di sinilah harlan menang. Harlan tidak selalu menghapus pengetahuan masyarakat tentang benar dan salah. Harlan membuat masyarakat tidak berani menyuarakan pengetahuan itu. Maka, kerusakan yang dihasilkan harlan bukan hanya kerusakan fisik, tetapi kerusakan moral kolektif: masyarakat tahu, tetapi memilih diam.
Dalam ruang seperti pasar, terminal, pangkalan, atau area ekonomi informal, pergeseran simbol ini tampak sangat jelas. Parang tidak harus selalu muncul secara terbuka. Kadang cukup disebut dalam cerita. Cukup orang tahu bahwa kelompok tertentu biasa membawa senjata. Cukup orang tahu bahwa harlan tertentu pernah melakukan kekerasan. Cukup orang tahu bahwa di belakang harlan itu ada backing. Setelah itu, interaksi sosial berubah. Uang diberikan bukan sebagai transaksi adil, melainkan sebagai biaya keselamatan. Diam bukan tanda setuju, melainkan strategi bertahan. Hormat bukan tanda penghargaan, melainkan bentuk ketakutan yang disamarkan.
Pola seperti ini membuat kekuasaan harlan sering terlihat lebih halus daripada yang dibayangkan. Orang luar mungkin melihat keadaan tampak biasa. Pasar tetap berjalan. Terminal tetap ramai. Warung kopi tetap penuh. Orang tetap bercanda. Tetapi di bawah keseharian itu ada peta rasa takut. Ada nama yang tidak disebut keras-keras. Ada kelompok yang tidak disentuh. Ada wilayah yang tidak boleh dimasuki tanpa izin informal. Ada orang yang selalu mendapat bagian walaupun tidak bekerja. Ada kasus yang tidak dilaporkan karena dianggap percuma. Inilah wilayah ketika parang tidak lagi perlu diayunkan. Parang sudah berubah menjadi struktur sosial.
Perubahan simbol ini juga menjadi pintu untuk memahami mengapa harlan dapat masuk ke politik, ekonomi, dan agama. Dalam politik, “parang” tidak selalu berupa senjata tajam. Parang berubah menjadi massa, tekanan, ancaman, fitnah, mobilisasi, atau kekuatan mengganggu acara lawan. Dalam ekonomi, “parang” berubah menjadi kontrol akses, proyek, pungutan, jasa pengamanan, atau penguasaan distribusi. Dalam agama, “parang” berubah menjadi klaim moral yang menekan, mempermalukan, dan menghakimi orang lain tanpa adab. Artinya, parang dalam dunia harlan adalah metafora kekuasaan intimidatif. Bentuknya dapat berubah, tetapi logikanya tetap sama: membuat orang takut agar tunduk.
Di sinilah harlan baru lebih berbahaya daripada harlan lama. Harlan lama mungkin mudah dikenali karena tubuhnya kasar, bahasanya keras, dan senjatanya terlihat. Harlan baru bisa hadir dengan pakaian rapi, bahasa formal, kedekatan dengan elite, akses ke proyek, hubungan dengan aparat nakal, atau posisi dalam organisasi. Senjata tidak selalu ada di pinggang. Senjata bisa berupa jaringan. Senjata bisa berupa informasi. Senjata bisa berupa uang. Senjata bisa berupa backing. Tetapi akar simboliknya tetap serupa dengan parang di dunia lama: alat untuk membuat orang lain menghitung risiko sebelum melawan.
Maka, pembacaan terhadap rencong, parang, dan pedang tidak boleh berhenti pada benda. Yang harus dibaca adalah perubahan moral dari simbol itu. Aceh memiliki simbol keberanian yang luhur. Tetapi harlan memperlihatkan bagaimana simbol luhur dapat dikuasai oleh watak rendah. Inilah pekerjaan antropologi budaya: menunjukkan bahwa benda, tubuh, dan tradisi selalu berada dalam perebutan makna. Tidak ada simbol yang otomatis tetap mulia jika pemakainya merendahkan maknanya. Tidak ada bahasa kehormatan yang tetap terhormat jika dipakai untuk menindas orang kecil. Tidak ada keberanian yang dapat dibanggakan jika hanya melahirkan ketakutan.
Karena itu, kritik terhadap harlan harus sekaligus menjadi upaya menyelamatkan makna keberanian Aceh. Yang dikritik bukan keberanian, bukan rencong, bukan sejarah perlawanan, bukan adat, bukan identitas. Yang dikritik adalah penyalahgunaan semua itu oleh watak harlan. Harlan merusak simbol karena mengambil kehormatan tanpa tanggung jawab. Harlan merusak keberanian karena menggunakannya untuk intimidasi. Harlan merusak masyarakat karena menjadikan rasa takut sebagai alat pengaturan. Pada titik ini, harlan bukan hanya persoalan keamanan. Harlan adalah persoalan kebudayaan.
Akhirnya, pergeseran dari rencong sebagai simbol kehormatan menuju parang sebagai simbol intimidasi memperlihatkan satu krisis makna dalam masyarakat. Ketika simbol martabat dipakai untuk memeras, masyarakat sedang kehilangan kemampuan membedakan antara keberanian dan kekasaran. Ketika senjata budaya dipakai untuk menjaga bisnis gelap, masyarakat sedang menyaksikan keruntuhan nilai dari dalam. Ketika orang kuat lebih dihormati daripada orang benar, harlan telah berubah dari figur pinggiran menjadi logika sosial. Di sinilah esai ini harus berdiri: membaca harlan bukan sebagai nostalgia terhadap masa lalu premanisme, tetapi sebagai kritik terhadap cara kekerasan menyamar di balik simbol kehormatan.
Tubuh Harlan: Cara Duduk, Cara Menatap, Cara Diam, dan Cara Menguasai Ruang
Tubuh harlan bukan tubuh biasa. Dalam antropologi sosial, tubuh tidak hanya dipahami sebagai unsur biologis, tetapi sebagai medium tanda, kuasa, pengalaman, dan reputasi. Tubuh dapat berbicara sebelum mulut terbuka. Tubuh dapat menciptakan jarak sebelum perintah diberikan. Tubuh dapat membuat orang lain menyesuaikan posisi duduk, nada suara, arah pandang, bahkan keputusan ekonomi. Harlan bekerja melalui tubuh seperti ini. Tubuh harlan adalah tubuh yang sudah dibaca oleh masyarakat sebagai kemungkinan ancaman. Karena itu, kehadiran harlan tidak pernah netral. Ketika harlan masuk ke terminal, pasar, warung kopi, pangkalan, atau ruang politik lokal, tubuh itu membawa sejarah, cerita, backing, luka, keberanian, dan kekerasan yang pernah atau dipercaya pernah dilakukan.
Cara duduk harlan juga mengandung bahasa. Di warung kopi, misalnya, tempat duduk tidak selalu sekadar tempat tubuh beristirahat. Tempat duduk bisa menjadi penanda posisi sosial. Siapa duduk di sudut tertentu, siapa duduk menghadap pintu, siapa datang lalu semua orang memberi ruang, siapa tidak perlu memesan dengan sopan tetapi tetap dilayani, semua itu merupakan bagian dari tata kuasa informal. Harlan sering menguasai ruang bukan dengan banyak bicara, melainkan dengan cara mengambil posisi. Tubuh duduk, tetapi ruang bergerak mengikutinya. Orang lain menyesuaikan suara, topik pembicaraan, pilihan kata, dan gerak tubuh. Ini menunjukkan bahwa tubuh harlan bekerja sebagai pusat gravitasi sosial.
Cara menatap juga menjadi bagian dari tata bahasa harlan. Tatapan harlan bukan sekadar fungsi mata. Tatapan itu dapat menjadi alat pemeriksaan, peringatan, atau tekanan. Dalam masyarakat yang sudah mengenal reputasi seseorang, tatapan dapat terasa seperti pertanyaan: “engkau berani?” Tatapan dapat membuat orang menunduk, mengalihkan wajah, atau menghentikan pembicaraan. Di sini kekerasan tidak terjadi secara langsung, tetapi tubuh orang lain sudah dikendalikan. Kekuasaan paling halus dari harlan justru tampak ketika orang lain mengatur dirinya sendiri karena merasa sedang diawasi. Harlan tidak perlu memerintah; masyarakat yang takut memerintah dirinya sendiri.
Cara diam harlan lebih menarik lagi. Diam dalam kehidupan sosial biasa bisa berarti tenang, berpikir, atau tidak ingin ikut campur. Namun diam harlan sering dibaca sebagai tanda bahaya. Diamnya bukan kosong. Diamnya penuh kemungkinan. Masyarakat bertanya-tanya: apakah diam itu tanda marah, tanda sedang mengukur lawan, tanda menunggu waktu, atau tanda sudah ada perhitungan lain. Karena reputasi mendahului tubuh, diam harlan menjadi lebih kuat daripada teriakan orang biasa. Orang yang tidak memiliki reputasi dapat berteriak panjang, tetapi tidak mengubah apa-apa. Harlan dapat diam, tetapi membuat ruang menjadi berat. Inilah kuasa simbolik tubuh.
Tubuh harlan juga bekerja melalui gaya berjalan. Cara masuk ke pasar, cara turun dari sepeda motor, cara berdiri di dekat lapak, cara menghampiri orang, cara meletakkan tangan di pinggang, atau cara memanggil nama seseorang dapat menjadi isyarat sosial. Dalam dunia harlan, gerakan kecil dapat memiliki makna besar. Masyarakat yang hidup lama dalam ekologi ketakutan memahami isyarat-isyarat tersebut. Mereka tahu kapan harus menjauh, kapan harus diam, kapan harus pura-pura tidak melihat, kapan harus menyapa lebih dulu, dan kapan harus menghindari kontak mata. Ini bukan aturan tertulis, tetapi aturan tubuh yang dipelajari melalui pengalaman.
Dalam konteks ini, tubuh harlan mirip dengan tubuh jawara dan blater. Jawara tidak hanya dikenali dari kemampuan berkelahi, tetapi dari pembawaan tubuh yang memancarkan keberanian, kharisma, dan kemungkinan kekerasan. Blater juga hidup melalui tubuh yang dibalut reputasi, keberanian, jaringan, serta kemampuan menguasai suasana. Harlan memiliki pola serupa. Tubuh menjadi arsip sosial. Orang tidak hanya melihat badan, tetapi membaca riwayat yang melekat pada badan itu. Pernah berkelahi dengan siapa. Pernah membawa senjata ke mana. Pernah didukung siapa. Pernah menekan siapa. Pernah lolos dari apa. Semua cerita itu menempel pada tubuh, lalu tubuh menjadi lebih besar daripada ukuran fisiknya.
Namun, tubuh harlan di Aceh memiliki konteks yang berbeda karena selalu berhadapan dengan lapisan adat, agama, dan memori konflik. Dalam masyarakat yang memuliakan adab, tubuh yang kasar sebenarnya bukan tubuh ideal. Dalam masyarakat yang menghormati ilmu dan agama, tubuh yang mengintimidasi bukan tubuh mulia. Akan tetapi, dalam kenyataan sosial, tubuh seperti itu kadang lebih efektif daripada tubuh beradab. Orang alim dihormati dalam mimbar, tetapi harlan ditakuti di pasar. Orang tua didengar dalam nasihat, tetapi harlan dipatuhi dalam sengketa. Ini bukan karena harlan lebih benar, melainkan karena rasa takut sering lebih cepat bekerja daripada nasihat moral. Di sinilah krisis sosial mulai tampak.
Tubuh harlan adalah tubuh yang memproduksi disiplin. Orang lain menjadi disiplin bukan karena kesadaran hukum, tetapi karena takut. Pedagang membuka ruang. Sopir memberi jalan. Pemuda kampung menjaga ucapan. Warga menghindari laporan. Lawan politik memilih menghitung langkah. Semua ini menunjukkan bahwa tubuh harlan menciptakan tata tertib semu. Terlihat tertib, tetapi bukan karena keadilan. Terlihat aman, tetapi bukan karena hukum. Terlihat damai, tetapi karena orang yang lemah memilih tidak berbicara. Tertib seperti ini rapuh, sebab berdiri di atas ketakutan, bukan kepercayaan.
Dalam ruang publik Aceh, terutama di tempat-tempat yang memiliki ekonomi informal, tubuh harlan dapat menjadi semacam “pos keamanan” tidak resmi. Kehadiran harlan di pasar dapat dibaca sebagai pengawasan. Kehadiran harlan di terminal dapat dibaca sebagai kontrol. Kehadiran harlan di warung kopi dapat dibaca sebagai penanda bahwa ruang itu berada dalam lingkar pengaruh tertentu. Orang yang baru datang harus membaca situasi. Siapa yang disalami lebih dulu. Siapa yang tidak boleh dilangkahi. Siapa yang menentukan boleh tidaknya suatu urusan berjalan. Harlan mengubah ruang publik menjadi ruang bertingkat: ada yang tampak bebas, tetapi sesungguhnya dikendalikan oleh peta kuasa informal.
Dalam dunia narkotika, tubuh harlan bahkan memperoleh dimensi baru. Tubuh tidak hanya mewakili kekerasan, tetapi juga akses ke ekonomi gelap. Tubuh yang dahulu hanya ditakuti karena parang, sekarang ditakuti karena jaringan uang, barang terlarang, backing, dan kemungkinan balasan yang lebih rumit. Tubuh seperti ini tidak berdiri sendiri. Ada uang di belakangnya. Ada jaringan di belakangnya. Ada informasi di belakangnya. Ada orang-orang yang mungkin melindunginya. Maka, tubuh harlan narkotika lebih berbahaya daripada tubuh harlan lama, karena tubuh itu membawa logika kriminal yang lebih luas. Masyarakat tidak hanya takut dipukul, tetapi takut terseret, difitnah, dijebak, dibungkam, atau dijadikan musuh jaringan.
Tubuh harlan juga menjadi tontonan bagi anak muda. Ini bagian yang sering tidak dibaca dengan serius. Anak muda melihat bahwa tubuh yang keras dapat memperoleh tempat. Tubuh yang ditakuti dapat memperoleh hormat. Tubuh yang memiliki backing dapat melampaui aturan. Tubuh yang dekat dengan uang gelap dapat tampil lebih menarik daripada tubuh yang bekerja pelan-pelan. Dari sini lahir pendidikan sosial yang buruk. Anak muda belajar bukan dari ceramah, tetapi dari apa yang tampak menang dalam kehidupan sehari-hari. Jika harlan tampak menang, maka nilai sosial sedang kalah. Jika harlan tampak kaya, maka kerja halal tampak lambat. Jika harlan tampak ditakuti, maka adab tampak tidak berguna.
Karena itu, tubuh harlan adalah pedagogi gelap. Tubuh itu mengajarkan kepada masyarakat tentang cara memperoleh pengaruh melalui tekanan. Tubuh itu mengajarkan bahwa suara keras lebih cepat daripada argumentasi. Tubuh itu mengajarkan bahwa backing lebih penting daripada kebenaran. Tubuh itu mengajarkan bahwa ketakutan dapat dipakai sebagai modal. Inilah bahaya terdalam dari harlan. Harlan tidak hanya melakukan tindakan kekerasan. Harlan memproduksi contoh sosial. Ketika contoh itu ditiru, harlan berubah dari individu menjadi budaya.
Di sisi lain, tubuh harlan sering menyembunyikan kerapuhan. Banyak harlan membangun kekuasaan karena tidak memiliki legitimasi lain. Tidak memiliki ilmu yang cukup, tidak memiliki otoritas moral, tidak memiliki karya, tidak memiliki kemampuan memimpin dengan adab, lalu tubuh dijadikan modal terakhir. Kekerasan menjadi jalan pintas untuk memperoleh pengakuan. Dalam hal ini, harlan adalah tubuh yang luka, tetapi luka itu dilampiaskan kepada masyarakat. Yang tidak sanggup membangun martabat melalui pengetahuan dan kerja, membangun rasa takut melalui ancaman. Ini bukan kekuatan sejati. Ini adalah kompensasi sosial.
Perbandingan dengan jawara dan blater kembali berguna di sini. Dalam beberapa konteks, jawara dan blater dapat memiliki dimensi perlindungan sosial, patronase, bahkan kepemimpinan lokal. Namun ketika unsur moralnya lepas, yang tersisa adalah tubuh intimidatif. Harlan berada pada sisi gelap dari spektrum ini. Harlan dapat mengklaim diri sebagai pelindung, tetapi perlindungan yang ditawarkan sering lahir dari ancaman yang diciptakan sendiri. Harlan dapat mengaku menjaga wilayah, tetapi wilayah itu dijaga agar rente tetap mengalir. Harlan dapat mengaku membela orang tertentu, tetapi pembelaan itu sering terkait kepentingan backing. Tubuh harlan dengan demikian tidak pernah dapat dibaca hanya dari klaimnya, melainkan harus dibaca dari akibat sosialnya.
Akibat sosial tubuh harlan adalah penyempitan kebebasan. Orang tidak bebas berbicara. Orang tidak bebas berdagang. Orang tidak bebas memilih politik. Orang tidak bebas menolak. Orang tidak bebas menjadi saksi. Orang tidak bebas mengatakan benar sebagai benar. Semua kebebasan itu menyempit bukan karena hukum melarang, tetapi karena tubuh tertentu membuat risiko sosial terlalu mahal. Di sinilah harlan bertentangan dengan masyarakat yang sehat. Masyarakat yang sehat membiarkan orang lemah merasa aman. Masyarakat yang dikuasai watak harlan membuat orang lemah belajar diam.
Maka, tubuh harlan harus dibaca sebagai medan pertarungan makna. Tubuh dapat menjadi alat perlindungan, tetapi dapat juga menjadi alat penindasan. Tubuh dapat menjadi simbol keberanian, tetapi dapat juga menjadi simbol kesombongan jalanan. Tubuh dapat menjaga martabat, tetapi dapat juga merampas martabat orang lain. Dalam dunia harlan, tubuh telah dipakai untuk tujuan kedua: menguasai melalui rasa takut. Karena itu, kritik terhadap harlan juga merupakan kritik terhadap cara masyarakat memberi nilai pada tubuh. Jangan sampai tubuh yang ditakuti lebih dihormati daripada tubuh yang beradab. Jangan sampai tubuh yang kasar lebih berpengaruh daripada tubuh yang berilmu. Jangan sampai tubuh yang punya backing lebih menentukan daripada tubuh yang membawa kebenaran.
Pada akhirnya, cara duduk, cara menatap, cara diam, dan cara menguasai ruang memperlihatkan bahwa harlan bukan hanya pelaku kekerasan, tetapi produsen atmosfer sosial. Harlan menciptakan udara tertentu dalam masyarakat: udara curiga, udara takut, udara penuh perhitungan, udara yang membuat orang tidak berbicara apa adanya. Jika atmosfer ini dibiarkan, masyarakat akan terbiasa hidup dalam kepatuhan palsu. Orang tampak sopan, tetapi karena takut. Orang tampak hormat, tetapi karena menghindari masalah. Orang tampak setuju, tetapi karena tidak punya perlindungan. Di sinilah harlan menjadi penyakit kebudayaan: ketika tubuh seseorang atau sekelompok orang mampu menciptakan rasa takut yang lebih kuat daripada suara keadilan.
Terminal, Pasar, Simpang Jalan, dan Warung Kopi: Ekologi Sosial Kemunculan Harlan
Harlan selalu membutuhkan ruang. Tidak ada harlan yang lahir hanya dari tubuh keras dan watak kasar. Harlan tumbuh karena ada ruang sosial yang memungkinkan kekerasan menjadi berguna. Terminal, pasar, simpang jalan, pangkalan angkutan, area parkir, tempat bongkar muat barang, pelabuhan kecil, warung kopi, dan titik-titik ekonomi informal adalah ekologi awal tempat harlan memperoleh fungsi sosial. Ruang-ruang ini bukan sekadar lokasi fisik. Ruang-ruang ini adalah medan relasi, medan perebutan, medan transaksi, medan ketegangan, dan medan ketergantungan. Di tempat seperti itu, orang datang membawa kepentingan, uang, barang, tubuh, waktu, dan risiko. Ketika aturan formal tidak mampu mengatur seluruh gerak kecil kehidupan, figur seperti harlan masuk sebagai pengatur bayangan.
Terminal adalah ruang yang keras karena di sana manusia bertemu dengan mobilitas, uang tunai, antrean, perebutan penumpang, ketegangan antar-sopir, dan penguasaan jalur. Terminal tidak hanya diatur oleh papan nama dan petugas resmi. Terminal sering memiliki hukum tidak tertulis. Siapa boleh menarik penumpang. Siapa lebih dulu berangkat. Siapa harus membayar. Siapa punya hak atas titik tertentu. Siapa yang boleh menegur orang baru. Dalam ruang seperti ini, harlan dapat muncul sebagai orang yang “mengerti lapangan.” Namun, pengertian lapangan itu sering berarti kemampuan menekan, memaksa, dan membuat orang lain mengikuti aturan informal yang sudah dikuasai oleh kelompok tertentu.
Pasar juga merupakan ruang yang subur bagi kemunculan harlan. Pasar adalah tempat uang kecil bergerak cepat. Ada lapak, utang, barang masuk, barang keluar, timbang-menimbang, parkir, bongkar muat, pelanggan, pedagang lama, pedagang baru, dan rebutan posisi. Di pasar, konflik kecil dapat terjadi setiap hari. Konflik tentang tempat, harga, akses, barang, pelanggan, atau hutang dapat berubah menjadi ketegangan sosial. Harlan masuk ke titik-titik itu, kadang sebagai penengah, kadang sebagai penjaga, kadang sebagai pemalak, kadang sebagai penguasa tidak resmi. Di sinilah ambiguitas harlan terlihat. Harlan bisa dipandang sebagai pengganggu, tetapi dalam situasi tertentu juga dipakai sebagai alat penyelesaian cepat.
Simpang jalan adalah ruang yang lebih simbolik. Simpang adalah tempat orang lewat, berhenti, menunggu, melihat, dan dilihat. Dalam masyarakat lokal, simpang sering menjadi titik pengamatan sosial. Siapa lewat dengan siapa. Siapa berhenti di mana. Siapa bertemu siapa. Siapa menghindari siapa. Harlan sering menguasai simpang bukan karena memiliki sertifikat tanah, tetapi karena kehadirannya berulang dan diakui secara informal. Simpang menjadi semacam pos sosial. Dari sana informasi mengalir. Dari sana orang dipanggil. Dari sana tekanan dikirim. Dari sana reputasi dijaga. Harlan yang menguasai simpang tidak hanya menguasai tempat, tetapi menguasai arus pandang masyarakat.
Warung kopi memiliki kedudukan yang lebih kompleks dalam masyarakat Aceh. Warung kopi bukan hanya tempat minum. Warung kopi adalah ruang percakapan, ruang politik, ruang ekonomi kecil, ruang rumor, ruang negosiasi, ruang mencari informasi, ruang membangun jaringan, dan ruang membaca kekuatan sosial. Di warung kopi, harlan tidak selalu tampil dengan kekerasan langsung. Harlan tampil melalui posisi duduk, jaringan orang yang datang menyalami, cara pelayan memperlakukan, topik yang boleh dan tidak boleh dibicarakan, serta bagaimana orang lain menyesuaikan suara. Warung kopi menjadi panggung tempat reputasi harlan dipertahankan. Kekuasaan harlan diuji bukan hanya ketika ada perkelahian, tetapi ketika nama harlan disebut dan orang lain diam.
Ekologi harlan muncul ketika ruang publik tidak sepenuhnya publik. Secara hukum, pasar, terminal, jalan, dan warung kopi adalah ruang yang dapat diakses banyak orang. Tetapi secara sosial, ruang itu sering memiliki pemilik informal. Ada orang yang merasa paling berhak mengatur. Ada kelompok yang merasa paling lama berada di sana. Ada jaringan yang merasa punya kuasa atas akses. Harlan hidup dari privatisasi informal atas ruang publik. Yang seharusnya menjadi milik bersama berubah menjadi wilayah pengaruh. Orang boleh masuk, tetapi harus membaca siapa yang menguasai suasana. Orang boleh berdagang, tetapi harus tahu kepada siapa memberi hormat. Orang boleh bekerja, tetapi harus tahu aturan tidak tertulis.
Di sinilah perbandingan dengan jawara dan blater kembali penting. Jawara di Banten sering terkait dengan penguasaan wilayah sosial tertentu, baik dalam bentuk pengaruh lokal, perlindungan, maupun hubungan dengan kekuasaan. Blater di Madura juga hidup dalam jaringan ruang sosial yang dipenuhi kehormatan, patronase, dan reputasi keberanian. Harlan di Aceh bergerak dalam pola serupa: ruang tidak hanya dilihat sebagai tempat, tetapi sebagai wilayah pengaruh. Terminal, pasar, simpang, dan warung kopi menjadi arena ketika tubuh, cerita, senjata, backing, dan uang bertemu. Figur orang kuat lokal memperoleh kekuasaan karena dapat membaca ruang lebih cepat daripada lembaga resmi.
Namun, harlan tidak akan kuat jika ruang itu tertata secara adil. Harlan tumbuh ketika ada celah. Celah itu bisa berupa lemahnya pengawasan, ketidakpercayaan kepada aparat, lambatnya penyelesaian sengketa, ketimpangan ekonomi, kebutuhan perlindungan, atau kebiasaan masyarakat menyelesaikan masalah melalui orang kuat. Di terminal, orang mencari siapa yang dapat menyelesaikan pertengkaran antar-sopir. Di pasar, pedagang mencari siapa yang dapat mengamankan lapak. Di warung kopi, orang mencari siapa yang dapat membawa pesan kepada pihak tertentu. Di simpang jalan, orang mencari siapa yang mengetahui situasi. Harlan menjadi berguna karena sistem resmi tidak selalu hadir dalam bentuk yang dipercaya.
Tetapi kegunaan harlan selalu beracun. Harlan mungkin menyelesaikan satu masalah, tetapi menciptakan ketergantungan baru. Harlan mungkin mengamankan satu pedagang, tetapi menekan pedagang lain. Harlan mungkin melerai satu konflik, tetapi menaikkan posisi tawarnya. Harlan mungkin menjaga satu wilayah, tetapi menjadikan wilayah itu sumber rente. Inilah yang membedakan perlindungan sosial dari premanisme. Perlindungan sosial membebaskan orang dari rasa takut. Premanisme membuat orang merasa aman hanya jika tunduk kepada sumber ketakutan baru. Harlan menjual keamanan dalam ruang yang sering ikut dibuat tidak aman oleh logika harlan itu sendiri.
Ruang-ruang seperti terminal dan pasar juga menghasilkan ekonomi harlan. Uang kecil yang beredar setiap hari dapat menjadi sumber kuasa. Pungutan parkir, uang bongkar muat, jasa pengamanan, bagian dari lapak, biaya “koordinasi”, dan berbagai bentuk pembayaran informal dapat menjadi aliran ekonomi. Jumlahnya mungkin tampak kecil per orang, tetapi menjadi besar jika berlangsung terus-menerus dan mencakup banyak titik. Harlan ekonomi lahir dari akumulasi kecil yang dipaksakan. Orang membayar bukan karena ada kontrak jelas, tetapi karena tidak ingin diganggu. Di sinilah ruang publik berubah menjadi mesin rente.
Dalam perkembangan kontemporer, ruang ekonomi harlan dapat terhubung dengan ekonomi gelap yang lebih berbahaya, termasuk narkotika. Pasar, terminal, simpang, dan warung kopi dapat menjadi ruang informasi, ruang pengamatan, ruang rekrutmen sosial, atau ruang perlindungan jaringan. Ini harus dibaca dengan hati-hati. Tidak berarti setiap ruang publik seperti itu terkait narkotika. Tetapi dalam ekologi harlan, ruang-ruang informal yang sulit diawasi dapat dimanfaatkan oleh aktor gelap. Harlan yang memiliki reputasi kekerasan, jaringan lokal, dan backing dapat menjadi pengendali diam. Masyarakat tahu ada sesuatu, tetapi tidak mudah berbicara. Ketakutan menjadi pagar sosial bagi ekonomi gelap.
Narkotika mengubah kualitas ruang harlan. Jika sebelumnya terminal dan pasar menjadi tempat pungutan dan intimidasi, maka ketika ekonomi narkotika masuk, ruang itu dapat menjadi bagian dari jaringan kerusakan generasi. Anak muda yang sering berada di warung kopi, simpang, pangkalan, atau ruang kosong kota dapat masuk dalam orbit harlan karena membutuhkan pengakuan, uang cepat, perlindungan, atau rasa menjadi bagian dari kelompok kuat. Di sini harlan tidak hanya menguasai ruang, tetapi menguasai imajinasi anak muda. Harlan menjadi model keberhasilan palsu: punya uang, punya motor, ditakuti, dikenal, dan tidak mudah disentuh. Inilah kehancuran sosial yang lebih dalam daripada sekadar premanisme jalanan.
Ekologi harlan juga menghasilkan budaya diam. Di pasar, orang tahu siapa yang memungut. Di terminal, orang tahu siapa yang mengatur. Di warung kopi, orang tahu siapa yang menjadi penghubung. Di simpang, orang tahu siapa yang membawa kabar. Tetapi pengetahuan itu sering tidak menjadi keberanian kolektif. Orang memilih diam karena takut urusan menjadi panjang. Diam ini bukan kebodohan. Diam ini strategi bertahan. Namun, jika terlalu lama, diam berubah menjadi budaya. Masyarakat menjadi ahli membaca bahaya, tetapi kehilangan kemampuan melawan bahaya. Harlan bertahan karena masyarakat tahu, tetapi tidak merasa aman untuk mengatakan yang diketahui.
Dalam ruang seperti ini, backing bekerja sebagai bayangan yang selalu hadir. Harlan di terminal tidak hanya ditakuti karena tubuhnya, tetapi karena siapa yang mungkin dihubungi jika terjadi masalah. Harlan di pasar tidak hanya ditakuti karena parang, tetapi karena hubungan dengan orang yang punya pengaruh. Harlan di warung kopi tidak hanya ditakuti karena suara keras, tetapi karena informasi yang dimiliki dan jaringan yang dapat digerakkan. Backing menjadikan ruang harlan lebih kompleks. Yang dilihat hanya satu tubuh, tetapi yang dibayangkan adalah jaringan. Yang datang hanya satu orang, tetapi yang ditakuti adalah kelompok di belakangnya. Ini membuat masyarakat menghitung risiko secara berlapis.
Pada titik ini, terminal, pasar, simpang jalan, dan warung kopi memperlihatkan bagaimana harlan tidak dapat dilepaskan dari struktur sosial sehari-hari. Harlan bukan selalu peristiwa besar. Harlan justru hidup dalam rutinitas kecil. Uang kecil. Ancaman kecil. Sapaan kecil. Diam kecil. Ketakutan kecil. Semua itu bertumpuk menjadi sistem. Karena itu, analisis harlan tidak boleh hanya mencari peristiwa kekerasan yang spektakuler. Yang lebih penting adalah membaca bagaimana kekerasan menjadi kebiasaan sosial yang tampak biasa. Premanisme paling kuat justru ketika masyarakat tidak lagi menyebutnya premanisme, melainkan “begitulah di lapangan.”
Inilah alasan mengapa konsep harlan masih penting walaupun istilahnya jarang digunakan. Istilah itu menangkap kenyataan bahwa ruang publik dapat dikuasai oleh orang kuat informal. Istilah itu menjelaskan mengapa hukum formal sering kalah oleh aturan jalanan. Istilah itu memperlihatkan bagaimana pasar, terminal, simpang, dan warung kopi dapat menjadi tempat produksi rasa takut. Istilah itu juga membantu membedakan antara tokoh lokal yang benar-benar melindungi masyarakat dan orang kuat yang menggunakan perlindungan sebagai kedok rente. Tanpa konsep seperti harlan, banyak gejala sosial hanya akan dibaca sebagai gangguan keamanan biasa, padahal akar budayanya lebih dalam.
Maka, ekologi sosial kemunculan harlan memperlihatkan satu kesimpulan penting: harlan lahir ketika ruang publik kehilangan keadilan. Ketika pasar tidak tertata, terminal tidak adil, sengketa tidak selesai, aparat tidak dipercaya, adat melemah, dan masyarakat lebih cepat mencari orang kuat daripada mencari aturan, harlan memperoleh tempat. Harlan bukan penyebab tunggal kerusakan sosial. Harlan adalah gejala sekaligus penguat kerusakan itu. Harlan lahir dari ruang yang retak, lalu memperlebar keretakan tersebut. Karena itu, menghadapi harlan tidak cukup dengan menangkap tubuhnya. Yang harus diperbaiki adalah ruang sosial yang membuat tubuh harlan selalu dibutuhkan.
Backing: Sistem Perlindungan yang Membuat Harlan Tidak Berdiri Sendiri
Harlan jarang berdiri sendiri. Seorang harlan mungkin tampak hadir sebagai tubuh tunggal di pasar, terminal, simpang jalan, warung kopi, atau ruang politik lokal. Namun, kekuatan sebenarnya tidak selalu berada pada tubuh yang tampak. Kekuatan harlan sering berada pada jaringan yang tidak terlihat. Di belakang tubuh yang keras ada hubungan, perlindungan, informasi, akses, dan kedekatan dengan orang-orang yang dianggap memiliki kuasa. Inilah yang dalam bahasa sosial sering disebut backing. Tanpa backing, harlan hanya menjadi orang kasar yang dapat dilawan oleh hukum, masyarakat, atau kelompok lain. Dengan backing, harlan berubah menjadi simpul kekuasaan informal yang jauh lebih sulit disentuh.
Backing adalah arsitektur perlindungan. Dalam dunia harlan, backing membuat kekerasan tidak berdiri sebagai tindakan liar semata, tetapi menjadi bagian dari sistem kuasa. Orang takut kepada harlan bukan hanya karena harlan mampu memukul, membawa parang, atau mengintimidasi. Orang takut karena tidak tahu siapa yang berada di belakangnya. Masyarakat menghitung risiko bukan hanya dari tubuh yang tampak, tetapi dari jaringan yang dibayangkan. Apakah harlan ini dekat dengan tokoh tertentu. Apakah ada aparat nakal yang melindungi. Apakah ada pengusaha yang membiayai. Apakah ada kelompok politik yang memakai. Apakah ada jaringan narkotika di belakangnya. Pertanyaan-pertanyaan seperti ini membuat rasa takut menjadi berlapis.
Dalam antropologi kekuasaan informal, backing bekerja seperti bayangan. Bayangan itu tidak selalu harus dibuktikan. Cukup dipercaya. Harlan sering menjadi kuat bukan karena semua backing-nya nyata, tetapi karena masyarakat percaya bahwa backing itu ada. Kepercayaan sosial terhadap backing sudah cukup untuk mengubah perilaku. Orang menjadi berhati-hati. Pedagang enggan melapor. Sopir memilih membayar. Warga memilih diam. Lawan memilih mundur. Di sini backing menjadi modal simbolik. Ia tidak selalu tampak dalam dokumen, tetapi hadir dalam imajinasi sosial. Harlan hidup dari imajinasi itu.
Backing juga menciptakan kekebalan sosial. Kekebalan ini bukan kekebalan hukum secara formal, tetapi kekebalan dalam praktik sehari-hari. Harlan yang punya backing lebih sulit ditegur. Lebih sulit ditolak. Lebih sulit dilaporkan. Lebih sulit diasingkan. Masyarakat tahu bahwa berhadapan dengan harlan bukan hanya berhadapan dengan satu orang, melainkan dengan lingkaran relasi. Jika satu orang melawan, masalah dapat merambat. Bisa muncul tekanan balik. Bisa ada ancaman. Bisa ada pembalasan. Bisa ada fitnah. Bisa ada gangguan ekonomi. Bisa ada urusan keluarga. Karena itu, backing memperpanjang jangkauan tubuh harlan. Tubuh harlan mungkin berada di satu tempat, tetapi efek backing-nya menyebar ke banyak ruang.
Di sinilah harlan berbeda dari pelaku kekerasan biasa. Pelaku kekerasan biasa dapat bertindak spontan, lalu selesai sebagai peristiwa. Harlan yang memiliki backing menjadi struktur. Tindakannya tidak selesai pada satu kejadian. Ada sistem yang membuatnya berani bertindak, ada sistem yang membuat orang takut melawan, dan ada sistem yang membuat akibatnya tidak selalu kembali kepadanya. Backing mengubah kekerasan menjadi investasi kuasa. Setiap tindakan intimidasi bukan hanya menakuti korban langsung, tetapi memperkuat reputasi bahwa harlan ini tidak boleh disentuh. Lama-lama, masyarakat tidak perlu lagi melihat kekerasan baru. Ingatan tentang kekebalan sudah cukup.
Perbandingan dengan jawara dan blater membantu menjelaskan hal ini. Jawara dalam masyarakat Banten sering tidak hanya kuat karena kemampuan fisik atau ilmu bela diri, tetapi karena berada dalam jaringan sosial, politik, ekonomi, dan kadang-kadang keagamaan. Blater dalam masyarakat Madura juga tidak hanya hidup dari keberanian individual, tetapi dari patronase, kehormatan, hubungan kelompok, dan jaringan perlindungan. Harlan bergerak dalam pola serupa. Figur orang kuat lokal selalu membutuhkan jaringan agar pengaruhnya bertahan. Tubuh memberi ancaman. Reputasi memberi rasa takut. Backing memberi daya tahan. Tanpa daya tahan itu, harlan cepat menjadi sasaran hukum atau balasan sosial.
Namun, backing dalam konteks harlan di Aceh memiliki lapisan yang khas. Aceh memiliki sejarah konflik, struktur lokal yang kuat, relasi kampung yang rapat, jaringan politik pasca-konflik, serta hubungan antara ekonomi informal dan kekuasaan lokal. Dalam situasi seperti ini, backing tidak selalu berbentuk satu aktor tunggal. Backing dapat berupa hubungan lama, jasa masa lalu, kedekatan kampung, jaringan organisasi, ikatan politik, hubungan bisnis, atau hutang budi. Seseorang dapat menjadi sulit disentuh bukan karena memiliki jabatan, tetapi karena memiliki hubungan dengan banyak simpul. Harlan hidup di antara simpul-simpul itu.
Backing juga membuat batas antara harlan dan elite menjadi kabur. Harlan membutuhkan elite untuk perlindungan. Elite membutuhkan harlan untuk pekerjaan kotor yang tidak ingin dilakukan secara terbuka. Harlan dapat mengamankan wilayah, menekan lawan, mengatur massa, menjaga proyek, mengontrol pasar, atau mengirim pesan ancaman. Elite dapat memberikan akses, proyek, uang, perlindungan, informasi, atau pembiaran. Relasi ini saling menguntungkan, tetapi merusak masyarakat. Ketika elite memakai harlan, kekerasan naik kelas. Premanisme tidak lagi berada di pinggir jalan. Premanisme masuk ke dalam mekanisme kekuasaan.
Dalam politik lokal, backing membuat harlan menjadi aktor yang dapat dipakai untuk mobilisasi. Harlan tidak selalu menjadi kandidat, tidak selalu tampil di panggung, tidak selalu memegang jabatan. Tetapi harlan dapat menentukan suasana. Harlan dapat membuat acara lawan tidak nyaman. Harlan dapat memengaruhi siapa yang berani memasang spanduk. Harlan dapat mengatur siapa yang boleh masuk wilayah tertentu. Harlan dapat mengirim pesan bahwa pilihan politik memiliki risiko sosial. Pada titik ini, backing politik menjadikan harlan bagian dari teknologi kekuasaan elektoral. Demokrasi tampak berjalan, tetapi di bawahnya ada rasa takut yang mengatur pilihan orang.
Dalam ekonomi, backing menjadikan harlan sebagai penjaga rente. Proyek, lahan, pasar, parkir, bongkar muat, distribusi barang, dan jasa pengamanan informal dapat dikendalikan melalui orang-orang yang memiliki backing. Harlan tidak perlu menjadi pemilik resmi. Cukup menjadi pengendali akses. Orang yang ingin masuk harus berkomunikasi. Orang yang tidak mengikuti aturan informal akan diganggu. Orang yang menolak membayar akan dibuat tidak nyaman. Dalam situasi seperti ini, ekonomi tidak lagi diatur oleh kemampuan, kualitas, atau keadilan pasar, tetapi oleh jaringan tekanan. Backing membuat rente tampak seperti kewajaran lapangan.
Dalam dunia narkotika, backing menjadi lebih berbahaya. Ekonomi gelap tidak dapat bertahan hanya dengan keberanian jalanan. Ia membutuhkan perlindungan, informasi, jalur diam, pembungkaman sosial, dan kemampuan menghindari tekanan hukum. Harlan yang masuk dalam orbit narkotika memerlukan backing lebih kuat daripada harlan pasar atau terminal. Uang gelap memperbesar daya beli pengaruh. Uang gelap dapat membeli diam. Uang gelap dapat membeli loyalitas. Uang gelap dapat membuat orang kecil takut dan orang berpengaruh tergoda. Di sini backing bukan lagi sekadar perlindungan sosial, tetapi bagian dari mekanisme kerusakan generasi.
Backing dalam narkotika juga menciptakan kebisuan kolektif. Masyarakat sering mengetahui tanda-tanda. Ada perubahan gaya hidup yang mendadak. Ada anak muda yang mulai bergerak dalam lingkaran tertentu. Ada orang yang tiba-tiba punya uang. Ada rumah yang ramai pada jam tertentu. Ada figur yang semakin ditakuti. Namun, pengetahuan ini sering berhenti sebagai bisikan. Orang tidak berani membawa pengetahuan itu ke ruang terbuka karena takut kepada jaringan. Bukan hanya takut kepada pemakai atau pengedar kecil, tetapi takut kepada siapa yang melindungi, siapa yang mendapat bagian, dan siapa yang akan marah jika jaringan itu terganggu. Backing membuat narkotika menjadi lebih dari kejahatan; ia menjadi ekosistem ketakutan.
Di sini terlihat bahwa backing memperlemah hukum bukan selalu dengan cara menyerang hukum secara langsung, tetapi dengan membuat masyarakat tidak percaya bahwa hukum akan melindungi mereka. Jika warga melapor tetapi merasa tidak aman setelah melapor, maka backing sudah menang. Jika korban memilih diam karena merasa pelaku punya orang kuat, maka backing sudah bekerja. Jika pedagang membayar karena merasa percuma melawan, maka backing sudah menjadi hukum bayangan. Jika anak muda melihat harlan narkotika tetap bebas dan hidup mewah, maka backing sudah menjadi pendidikan sosial yang sangat buruk. Hukum formal masih ada, tetapi wibawanya dikalahkan oleh pengalaman sosial.
Backing juga merusak adat. Dalam masyarakat Aceh, adat seharusnya menjadi mekanisme pengaturan moral dan sosial. Adat menjaga hubungan, menyelesaikan sengketa, menempatkan orang tua, memberi ruang musyawarah, dan menahan kekerasan agar tidak menjadi liar. Namun, ketika backing lebih kuat daripada adat, maka adat menjadi formalitas. Orang tua kampung dapat dihormati secara simbolik, tetapi keputusan sebenarnya ditentukan oleh jaringan orang kuat. Musyawarah dapat dilakukan, tetapi hasilnya sudah dipengaruhi oleh ketakutan. Ini menjadikan adat kehilangan daya pengatur. Adat masih disebut, tetapi harlan yang menentukan rasa aman.
Backing juga dapat merusak agama. Dalam masyarakat yang kuat nilai agamanya, orang seharusnya takut kepada dosa, malu kepada Allah, dan menjaga kehormatan sesama. Tetapi dalam dunia harlan, rasa takut sosial sering mengalahkan rasa takut moral. Orang yang memakai backing dapat berani melanggar adab karena merasa ada yang melindungi. Lebih parah lagi, sebagian watak harlan dapat memakai simbol agama untuk memperkuat posisi. Ketika kekerasan dibungkus bahasa moral, backing tidak hanya datang dari jaringan sosial, tetapi juga dari klaim kesalehan. Ini bentuk yang lebih halus dan berbahaya, karena orang yang melawan dapat dituduh melawan agama, padahal yang dilawan adalah watak intimidatif.
Maka, backing adalah inti dari daya tahan harlan. Parang dapat disita. Tubuh dapat ditangkap. Suara keras dapat dibungkam. Tetapi selama backing tetap hidup, harlan akan muncul lagi dalam bentuk lain. Orang baru dapat menggantikan orang lama. Pakaian dapat berubah. Lokasi dapat berpindah. Bahasa dapat menjadi lebih rapi. Tetapi logika dasarnya tetap sama: ada aktor yang menekan, ada jaringan yang melindungi, ada masyarakat yang takut, dan ada keuntungan yang mengalir. Karena itu, menghadapi harlan tidak cukup hanya menghadapi tindakan kekerasan di permukaan. Yang harus dibongkar adalah relasi perlindungan yang membuat kekerasan merasa aman.
Pada akhirnya, backing memperlihatkan bahwa harlan bukan sekadar masalah moral individu. Harlan adalah masalah struktur sosial. Jika seorang harlan berani menekan pasar, mungkin karena ada yang mendapat bagian. Jika seorang harlan berani mengganggu lawan politik, mungkin karena ada yang memesan. Jika seorang harlan berani masuk ke narkotika, mungkin karena ada jaringan yang melindungi. Jika seorang harlan berani memakai simbol agama untuk mengintimidasi, mungkin karena ada massa yang dapat digerakkan. Dengan kata lain, harlan adalah ujung yang tampak dari jaringan yang lebih dalam. Masyarakat hanya melihat tubuh di depan, padahal tubuh itu berdiri di atas panggung backing yang luas.
Karena itu, kritik terhadap harlan harus bergerak dari tubuh ke jaringan. Tubuh harlan memang mengganggu. Parang harlan memang menakutkan. Suara harlan memang kasar. Tetapi backing adalah akar yang membuat semuanya bertahan. Tanpa backing, harlan kehilangan daya tahan. Tanpa backing, kekerasan menjadi tindakan yang dapat dihentikan. Tanpa backing, masyarakat lebih berani berbicara. Tanpa backing, hukum memiliki ruang untuk bekerja. Maka, jika harlan ingin dibaca secara serius, backing harus diletakkan sebagai jantung analisis. Harlan bukan hanya orang yang membuat orang lain takut. Harlan adalah orang yang berani membuat orang lain takut karena merasa dirinya tidak sendirian.
Backing sebagai Jembatan antara Dunia Jalanan dan Dunia Elite
Backing tidak hanya melindungi harlan. Backing juga mengangkat harlan dari dunia jalanan menuju dunia elite. Inilah perubahan paling penting dalam memahami harlan sebagai fenomena sosial. Jika harlan hanya hidup di pasar, terminal, simpang jalan, atau warung kopi, maka pengaruhnya terbatas pada ruang-ruang kecil. Tetapi ketika harlan memiliki backing dari elite politik, pengusaha, aparat nakal, tokoh organisasi, atau pemilik modal, maka harlan tidak lagi menjadi sekadar preman lokal. Harlan berubah menjadi perpanjangan tangan kekuasaan yang bekerja di bawah permukaan. Di sinilah dunia jalanan dan dunia elite bertemu.
Pertemuan ini tidak selalu tampak secara terang-terangan. Elite tidak perlu selalu berdiri di samping harlan. Harlan juga tidak perlu selalu menyebut nama elite secara terbuka. Cukup ada isyarat, kedekatan, foto, cerita, akses, telepon, atau kabar bahwa harlan tertentu “punya orang.” Dalam masyarakat yang terbiasa membaca tanda-tanda kuasa, isyarat seperti ini sudah cukup. Orang tidak menunggu bukti tertulis. Orang membaca relasi. Siapa datang ke acara siapa. Siapa duduk bersama siapa. Siapa mudah masuk ke kantor tertentu. Siapa tidak pernah tersentuh walaupun sering membuat masalah. Dari tanda-tanda itu masyarakat menyusun peta kekuasaan informal.
Dunia jalanan memberikan kepada elite sesuatu yang tidak dapat dilakukan secara resmi: tekanan langsung. Elite yang ingin tampak bersih sering membutuhkan aktor yang dapat bekerja di wilayah abu-abu. Harlan dapat mengatur massa, menekan lawan, mengamankan proyek, menjaga wilayah ekonomi, menghalangi pesaing, atau membuat orang tertentu merasa tidak nyaman. Semua itu dilakukan tanpa harus muncul sebagai kebijakan resmi. Dengan begitu, elite dapat tetap berbicara tentang aturan, sementara pekerjaan tekanan dilakukan oleh aktor informal. Ini adalah pembagian kerja yang gelap: elite menyediakan perlindungan, harlan menyediakan tekanan.
Sebaliknya, dunia elite memberikan kepada harlan sesuatu yang tidak dimiliki oleh kekerasan jalanan biasa: legitimasi, akses, dan kekebalan. Harlan yang dekat dengan elite tidak hanya ditakuti karena tubuhnya, tetapi karena dianggap memiliki pintu masuk ke kekuasaan. Harlan seperti ini dapat berubah gaya. Dari orang yang hanya mengandalkan suara keras, harlan naik menjadi orang yang membawa nama, membawa surat, membawa proposal, membawa pesan, atau membawa klaim kedekatan. Premanisme menjadi lebih rapi. Kekerasan tidak selalu tampil sebagai ancaman terbuka, tetapi sebagai akses yang tidak dapat ditolak.
Di sinilah harlan berbeda dari gambaran preman lama. Harlan lama mungkin terlihat di terminal dengan tubuh kasar dan bahasa jalanan. Harlan baru dapat hadir di lobi kantor, ruang proyek, rapat politik, pertemuan organisasi, bahkan forum agama. Harlan baru tidak selalu membawa parang. Harlan baru membawa jaringan. Harlan baru tidak selalu menakut-nakuti dengan suara keras. Harlan baru menekan melalui kedekatan. Harlan baru tidak selalu meminta uang di jalan. Harlan baru mengatur bagian dalam proyek. Harlan baru tidak selalu memblokir jalan. Harlan baru memblokir akses. Kostumnya berubah, tetapi logikanya tetap sama: menguasai melalui rasa takut dan ketergantungan.
Fenomena ini memiliki kesamaan dengan transformasi jawara dan blater dalam konteks masing-masing. Jawara dalam masyarakat Banten tidak hanya berada di pinggir kekuasaan, tetapi dalam banyak periode dapat berhubungan dengan elite politik, jaringan birokrasi, dan otoritas lokal. Blater dalam masyarakat Madura juga sering dibaca dalam kerangka patronase, kehormatan, dan kekuasaan lokal yang melampaui kekerasan fisik semata. Harlan di Aceh dapat dibaca dalam jalur yang sama, meskipun istilahnya tidak sepopuler jawara dan blater dalam kajian akademik. Ketiganya menunjukkan pola yang berulang: orang kuat lokal menjadi penting ketika elite membutuhkan kontrol sosial yang tidak selalu dapat dilakukan oleh negara secara formal.
Namun, dalam konteks Aceh, jembatan antara harlan dan elite memiliki dimensi yang lebih sensitif karena masyarakat Aceh memiliki pengalaman konflik dan pasca-konflik. Dalam masyarakat pasca-konflik, ada banyak jaringan lama, memori kekerasan, relasi perjuangan, relasi politik, dan relasi ekonomi yang tidak mudah dipisahkan. Sebagian aktor sosial memiliki nama karena masa lalu. Sebagian memiliki akses karena hubungan lama. Sebagian memiliki pengaruh karena pernah berada dalam jaringan kekuatan tertentu. Dalam kondisi seperti ini, harlan dapat menempel pada sejarah, atau setidaknya memakai bayangan sejarah, untuk memperkuat posisi. Ini membuat batas antara keberanian masa lalu dan premanisme masa kini sering menjadi kabur.
Kekaburan itu sangat berbahaya. Ketika harlan memakai simbol perjuangan, masyarakat menjadi ragu untuk mengkritik. Ketika harlan membawa narasi jasa masa lalu, orang menjadi sungkan menolak. Ketika harlan menempel pada tokoh politik, orang takut dianggap melawan kekuasaan. Ketika harlan masuk ke jaringan ekonomi, orang takut kehilangan akses pekerjaan. Di sini backing tidak hanya melindungi tubuh harlan, tetapi juga melindungi narasi harlan. Harlan dapat membungkus diri dengan bahasa jasa, loyalitas, keamanan, perjuangan, pembangunan, atau kepentingan masyarakat, padahal praktiknya tetap tekanan.
Relasi antara harlan dan elite juga menciptakan politik rasa takut yang sulit dibuktikan secara hukum. Banyak tekanan tidak meninggalkan jejak tertulis. Tidak ada surat perintah untuk menakut-nakuti. Tidak ada kontrak resmi untuk mengintimidasi. Tidak ada dokumen yang menyebut pembagian tugas kekerasan. Yang ada adalah pesan lisan, isyarat, panggilan, kedatangan mendadak, tatapan, atau kehadiran massa. Dalam dunia seperti ini, kekuasaan bekerja melalui kode sosial. Masyarakat mengerti, tetapi hukum kesulitan menangkapnya. Harlan menjadi efektif karena bergerak di antara yang diketahui masyarakat dan yang sulit dibuktikan secara formal.
Dalam ekonomi proyek, jembatan ini tampak lebih jelas. Harlan dapat menjadi penghubung antara pemilik modal dan ruang lokal. Pengusaha yang ingin masuk ke suatu wilayah membutuhkan orang yang memahami medan. Harlan menawarkan diri sebagai penjaga jalan masuk. Bahasa yang dipakai bisa sangat halus: koordinasi, pengamanan, komunikasi masyarakat, fasilitasi, atau mediasi lapangan. Namun, di balik bahasa itu sering ada tekanan. Siapa yang menolak dapat dibuat sulit. Siapa yang tidak memberi bagian dapat diganggu. Siapa yang mencoba bersaing dapat ditekan. Dengan cara ini, ekonomi formal dimasuki oleh logika harlan.
Di dalam politik elektoral, harlan dapat menjadi mesin yang tidak resmi. Harlan tidak selalu berada dalam struktur partai, tetapi dapat menentukan getaran sosial di tingkat bawah. Harlan mengetahui siapa yang berpengaruh di kampung, siapa yang bisa dikumpulkan, siapa yang dapat ditekan, siapa yang bisa dibujuk, dan siapa yang harus dibuat diam. Elite membutuhkan pengetahuan lapangan seperti ini. Harlan membutuhkan akses politik untuk menaikkan posisi. Pertukaran terjadi. Politik memberi ruang kepada harlan. Harlan memberi jasa tekanan kepada politik. Akibatnya, demokrasi kehilangan kebebasan dari bawah.
Dalam kehidupan agama, jembatan antara dunia jalanan dan elite dapat tampil lebih halus. Ada figur yang memakai dukungan massa, simbol moral, dan relasi kuasa untuk menekan pihak lain. Tidak semua ini disebut harlan secara langsung, tetapi wataknya dapat serupa. Ketika bahasa agama dipakai bukan untuk menuntun, tetapi untuk menguasai; ketika massa dipakai bukan untuk mengajak kepada kebaikan, tetapi untuk mempermalukan dan mengintimidasi; ketika klaim moral dipakai untuk menutup ruang dialog, maka logika harlan sudah masuk ke wilayah agama. Harlan agama tidak selalu membawa senjata. Senjatanya adalah tekanan moral tanpa adab.
Sementara itu, dalam ekonomi narkotika, hubungan harlan dan elite menjadi jauh lebih berbahaya. Jaringan narkotika membutuhkan perlindungan dan ruang aman. Harlan menyediakan kontrol sosial di bawah. Backing menyediakan rasa aman di atas. Uang gelap menjadi lem yang menghubungkan keduanya. Jika pola seperti ini terbentuk, masyarakat akan sangat sulit melawan. Bukan hanya karena takut kepada kekerasan, tetapi karena takut kepada struktur yang lebih besar. Orang kecil melihat bahwa jaringan ini punya uang, punya orang, punya informasi, dan punya kemampuan membalas. Maka, diam kembali menjadi pilihan paling aman.
Kondisi seperti ini menjadikan harlan bagian dari ekonomi politik ketakutan. Ketakutan tidak lagi hanya menjadi emosi pribadi. Ketakutan menjadi alat produksi keuntungan. Orang membayar karena takut. Orang memilih karena takut. Orang diam karena takut. Orang mundur dari persaingan karena takut. Orang tidak melapor karena takut. Ketakutan menghasilkan uang, posisi, suara, proyek, perlindungan, dan pengaruh. Harlan adalah aktor yang mengelola ketakutan itu di tingkat bawah, sementara backing dan elite tertentu dapat menikmati hasilnya di tingkat atas.
Namun, relasi harlan dan elite tidak selalu stabil. Hubungan ini bersifat transaksional. Harlan dipakai selama berguna. Elite dilayani selama memberi perlindungan. Jika salah satu pihak kehilangan manfaat, hubungan dapat retak. Harlan dapat menjadi ancaman bagi elite yang dahulu memakainya. Elite dapat membuang harlan ketika harlan menjadi beban. Tetapi masyarakat tetap menjadi korban, karena selama hubungan itu berlangsung, ruang sosial sudah rusak. Orang telanjur belajar bahwa kekuasaan berjalan melalui tekanan. Anak muda telanjur melihat bahwa jalan cepat menuju pengaruh adalah kedekatan dengan orang kuat. Pedagang telanjur membayar. Warga telanjur diam.
Di sinilah pentingnya melihat harlan bukan hanya sebagai residu masa lalu, tetapi sebagai produk modernitas lokal yang gagal. Ketika pembangunan tidak disertai keadilan, harlan masuk sebagai broker. Ketika demokrasi tidak disertai kebebasan warga, harlan masuk sebagai pengendali suara. Ketika pasar tidak disertai aturan yang adil, harlan masuk sebagai penjaga rente. Ketika agama tidak disertai adab, watak harlan dapat masuk sebagai tekanan moral. Ketika hukum tidak dipercaya, backing menjadi hukum bayangan. Harlan bertahan bukan karena masyarakat tradisional, tetapi karena modernitas membuka celah baru bagi premanisme yang lebih rapi.
Maka, backing sebagai jembatan antara dunia jalanan dan dunia elite adalah inti transformasi harlan. Harlan tidak lagi hanya berada di bawah. Harlan bergerak naik melalui jaringan. Elite tidak lagi hanya berada di atas. Elite turun melalui aktor informal. Di titik pertemuan itu, lahirlah kekuasaan yang sulit dilihat tetapi sangat terasa. Orang tahu ada tekanan, tetapi tidak tahu harus menunjuk siapa. Orang tahu ada pengaruh, tetapi tidak memiliki bukti. Orang tahu ada ketidakadilan, tetapi takut melawan. Inilah bentuk paling matang dari kekuasaan harlan: ketika kekerasan tidak terlihat sebagai kekerasan, tetapi hadir sebagai atmosfer sosial.
Karena itu, membongkar harlan tidak cukup dengan menyebut nama orang kuat di jalan. Yang harus dibongkar adalah jembatan yang menghubungkan orang kuat itu dengan elite. Siapa yang memakai. Siapa yang melindungi. Siapa yang mendapat bagian. Siapa yang membiarkan. Siapa yang memberi legitimasi. Siapa yang menjadikan harlan berguna. Selama jembatan ini tetap berdiri, harlan akan terus berganti wajah. Hari ini menjadi pengatur terminal. Besok menjadi pengaman proyek. Lusa menjadi operator politik. Setelah itu menjadi bagian dari ekonomi gelap. Harlan tidak hilang karena selalu ada jalan naik menuju kekuasaan.
Pada akhirnya, backing memperlihatkan bahwa harlan adalah persoalan relasi, bukan hanya persoalan karakter. Seorang harlan dapat kasar, tetapi kekasarannya menjadi kuat karena ada relasi. Seorang harlan dapat membawa parang, tetapi parang itu menjadi berbahaya karena ada relasi. Seorang harlan dapat masuk narkotika, tetapi jaringan itu bertahan karena ada relasi. Seorang harlan dapat menekan warga, tetapi tekanan itu efektif karena ada relasi. Maka, antropologi harlan harus membaca jaringan di balik tubuh, kepentingan di balik kekerasan, dan elite di balik premanisme. Tanpa itu, harlan hanya tampak sebagai orang kasar. Padahal yang sedang bekerja adalah satu sistem kekuasaan informal yang menjadikan rasa takut sebagai mata uang sosial.
Harlan Politik: Ketika Intimidasi Menjadi Modal Elektoral
Harlan politik lahir ketika watak premanisme bergerak dari ruang jalanan menuju ruang kekuasaan. Pada tahap ini, harlan tidak lagi hanya menguasai terminal, pasar, simpang jalan, atau warung kopi. Harlan masuk ke dalam arena pemilihan, partai, tim sukses, perebutan jabatan, proyek politik, mobilisasi massa, dan pengendalian suara. Tubuhnya mungkin sama, tetapi fungsinya berubah. Jika harlan jalanan mengatur ruang ekonomi kecil melalui rasa takut, maka harlan politik mengatur ruang demokrasi melalui tekanan. Di sini premanisme tidak lagi sekadar mengganggu ketertiban umum. Premanisme mulai merusak kedaulatan warga.
Harlan politik tidak selalu menjadi politisi. Ini penting. Banyak harlan politik justru bekerja di luar struktur resmi. Tidak ada nama dalam daftar kandidat. Tidak ada jabatan formal dalam partai. Tidak ada posisi resmi dalam pemerintahan. Tetapi pengaruhnya terasa di bawah. Harlan politik mengetahui siapa yang bisa ditekan, siapa yang bisa digerakkan, siapa yang bisa dibungkam, siapa yang dapat dipakai untuk mengumpulkan massa, siapa yang harus didekati, dan siapa yang harus dibuat takut. Dalam politik lokal, pengetahuan seperti ini sangat mahal. Elite membutuhkan orang yang memahami medan sosial bawah. Harlan menawarkan kemampuan itu.
Pada titik ini, demokrasi menjadi tampak normal di permukaan, tetapi tidak sehat di dalam. Baliho terpasang. Kampanye berjalan. Pemilih datang ke TPS. Partai berbicara tentang program. Kandidat menyampaikan janji. Namun, di bawah semua itu, warga dapat hidup dalam kalkulasi ketakutan. Orang bertanya bukan hanya siapa kandidat terbaik, tetapi siapa yang aman untuk dipilih. Orang bukan hanya mempertimbangkan program, tetapi juga mempertimbangkan risiko sosial. Inilah kerusakan yang dibawa harlan politik. Pilihan warga tidak sepenuhnya lahir dari kesadaran, tetapi dari rasa aman yang dinegosiasikan dalam bayang-bayang tekanan.
Harlan politik bekerja melalui berbagai bentuk intimidasi. Tidak semua intimidasi berbentuk kekerasan fisik. Ada intimidasi melalui kedatangan massa. Ada intimidasi melalui pesan lisan. Ada intimidasi melalui tatapan di warung kopi. Ada intimidasi melalui pembatalan acara. Ada intimidasi melalui penguasaan lokasi kampanye. Ada intimidasi melalui penyebaran rumor. Ada intimidasi melalui fitnah dan pembunuhan karakter. Ada intimidasi melalui tekanan terhadap keluarga, pekerjaan, atau akses ekonomi. Dalam bentuk seperti ini, kekerasan politik menjadi sulit dilihat, tetapi sangat terasa. Luka tidak selalu muncul di tubuh. Luka muncul pada kebebasan warga.
Perbandingan dengan jawara dan blater kembali membantu membaca hal ini. Dalam beberapa konteks, jawara di Banten dapat menjadi aktor politik lokal karena memiliki jaringan, massa, kharisma, dan kemampuan menguasai ruang. Blater di Madura juga dapat berhubungan dengan perebutan pengaruh politik karena memiliki reputasi keberanian, patronase, dan jaringan sosial. Harlan politik dalam masyarakat Aceh berada dalam pola yang sebanding: orang kuat lokal masuk ke arena demokrasi bukan selalu karena gagasan, melainkan karena kemampuan menciptakan efek sosial. Demokrasi membutuhkan suara. Harlan menyediakan jalan untuk mengendalikan suara melalui rasa takut, loyalitas, hutang budi, atau ketergantungan.
Namun, harlan politik di Aceh memiliki lapisan tersendiri karena masyarakat Aceh memiliki sejarah politik yang sangat padat. Pengalaman konflik, perjanjian damai, transformasi gerakan bersenjata ke politik, partai lokal, jaringan kampung, dan memori kekerasan membuat politik Aceh tidak dapat dibaca hanya sebagai kompetisi elektoral biasa. Di banyak tempat, politik bukan sekadar urusan program, tetapi juga urusan sejarah, loyalitas, luka, jasa masa lalu, dan jaringan sosial. Dalam medan seperti ini, harlan politik dapat muncul dengan memanfaatkan ingatan masyarakat terhadap kekuatan, keberanian, dan ketakutan. Harlan politik sering tidak membutuhkan banyak kata karena masyarakat sudah memahami kode-kodenya.
Bahaya terbesar harlan politik adalah perubahan makna kepemimpinan. Dalam masyarakat yang sehat, pemimpin dihormati karena keadilan, ilmu, integritas, kemampuan mengurus rakyat, dan keberanian moral. Dalam masyarakat yang mulai dikuasai watak harlan, pemimpin dihormati karena ditakuti, punya massa, punya backing, punya uang, dan punya orang yang bisa digerakkan. Ini perubahan yang sangat merusak. Kepemimpinan berubah dari amanah menjadi dominasi. Politik berubah dari pelayanan menjadi penguasaan. Warga berubah dari subjek demokrasi menjadi objek mobilisasi.
Harlan politik juga merusak musyawarah. Dalam budaya Aceh, musyawarah seharusnya menjadi ruang untuk mendengar, menimbang, dan mencari jalan yang bermartabat. Namun, ketika harlan masuk, musyawarah berubah menjadi panggung tekanan. Orang tidak berbicara apa adanya karena takut salah bicara. Orang tua kampung mungkin hadir, tetapi suara mereka dikalahkan oleh kehadiran orang kuat. Keputusan seolah-olah lahir dari kesepakatan, padahal dibentuk oleh rasa takut. Ini adalah musyawarah yang kehilangan ruh. Bentuknya ada, tetapi kebebasannya hilang.
Di tingkat kampung, harlan politik dapat hadir sebagai pengendali sosial yang lebih dekat daripada negara. Negara mungkin hadir melalui aturan, tetapi harlan hadir melalui tubuh. Negara mungkin hadir melalui surat, tetapi harlan hadir melalui tatapan. Negara mungkin hadir melalui aparat, tetapi harlan hadir melalui jaringan harian. Karena itu, warga sering lebih cepat merasakan tekanan harlan daripada merasakan perlindungan negara. Inilah yang membuat harlan politik efektif. Harlan bekerja dalam jarak dekat. Harlan tahu keluarga orang. Harlan tahu pekerjaan orang. Harlan tahu kelemahan orang. Harlan tahu siapa yang bisa ditekan dari sisi ekonomi, sosial, atau moral.
Dalam politik uang, harlan politik dapat berperan sebagai penjaga distribusi dan pengendali loyalitas. Uang yang masuk ke masyarakat tidak selalu bergerak melalui jalur terbuka. Ada orang yang mengatur siapa menerima, siapa menolak, siapa dianggap tidak loyal, dan siapa harus diberi pelajaran sosial. Ketika uang bertemu intimidasi, politik menjadi lebih rusak. Warga tidak hanya dibeli, tetapi juga diawasi. Pilihan tidak lagi menjadi rahasia moral, tetapi dianggap sebagai hutang yang harus dibayar dengan kesetiaan. Harlan politik memastikan bahwa uang berubah menjadi kendali.
Relasi antara harlan politik dan backing sangat erat. Harlan politik membutuhkan perlindungan dari kandidat, partai, pejabat, pengusaha, atau jaringan kekuasaan. Sebaliknya, elite membutuhkan harlan untuk pekerjaan lapangan yang tidak ingin terlihat. Relasi ini membuat harlan politik memiliki rasa percaya diri yang tinggi. Harlan merasa tidak sendirian. Harlan merasa ada yang akan membela jika terjadi masalah. Harlan merasa jasanya diperlukan. Karena itu, harlan politik sering bertindak melampaui batas. Bukan karena sangat kuat secara pribadi, tetapi karena merasa berada dalam perlindungan struktur.
Harlan politik juga dapat menjadi pintu masuk narkotika ke dalam politik lokal. Ini bagian yang harus dibaca dengan hati-hati. Uang dari ekonomi gelap dapat dipakai untuk membeli pengaruh, membangun jaringan, membiayai mobilisasi, dan memperkuat posisi sosial. Harlan yang terhubung dengan narkotika memiliki sumber daya yang lebih berbahaya karena uang gelap tidak selalu tunduk pada etika politik. Uang seperti ini mencari perlindungan. Politik menyediakan perlindungan. Maka, ketika harlan narkotika bertemu dengan harlan politik, lahir simbiosis yang sangat merusak: ekonomi gelap membutuhkan kekuasaan, kekuasaan membutuhkan uang dan tekanan.
Dampaknya sangat panjang. Politik tidak lagi menjadi jalan memperbaiki masyarakat, tetapi menjadi alat melindungi jaringan. Orang masuk politik bukan untuk membangun keadilan, tetapi untuk mendapatkan tameng. Jabatan menjadi perisai. Kedekatan dengan pejabat menjadi pelindung. Partai menjadi tempat berlindung. Massa menjadi alat tawar. Dalam kondisi seperti ini, harlan politik tidak hanya memenangkan kandidat tertentu. Harlan politik ikut menentukan jenis moralitas publik yang akan berkuasa. Jika yang menang adalah logika takut, maka masyarakat akan dipimpin oleh rasa takut.
Harlan politik juga memukul kaum terdidik dan orang baik. Banyak orang yang memiliki kapasitas, gagasan, dan integritas enggan masuk ke politik karena medan dianggap terlalu kasar. Mereka melihat bahwa politik bukan lagi adu program, tetapi adu jaringan keras. Bukan adu kecerdasan, tetapi adu backing. Bukan adu pelayanan, tetapi adu kemampuan mengendalikan massa. Akibatnya, ruang politik ditinggalkan oleh orang-orang yang seharusnya mengisinya. Harlan politik membuat politik menjadi tempat yang mahal secara moral. Orang baik mundur bukan karena tidak mampu berpikir, tetapi karena tidak mau hidup dalam logika intimidasi.
Di sini tampak satu paradoks besar. Masyarakat mengeluh tentang buruknya politik, tetapi sering membiarkan orang kuat menjadi penentu politik. Masyarakat ingin pemimpin bersih, tetapi takut melawan mesin kotor. Masyarakat ingin demokrasi, tetapi masih tunduk pada figur yang menguasai rasa takut. Masyarakat ingin perubahan, tetapi memilih aman di bawah bayang-bayang harlan. Paradoks ini membuat harlan politik bertahan. Harlan politik tidak hanya kuat karena dirinya, tetapi karena masyarakat belum memiliki keberanian kolektif untuk memutus ketergantungan pada orang kuat.
Karena itu, membaca harlan politik harus sampai pada akar moral demokrasi. Demokrasi bukan hanya pemungutan suara. Demokrasi adalah keberanian warga untuk memilih tanpa takut. Demokrasi adalah ruang ketika warga dapat berbeda pendapat tanpa ancaman. Demokrasi adalah kemampuan masyarakat menolak intimidasi meskipun pelakunya punya backing. Jika warga tidak bebas dari rasa takut, demokrasi hanya menjadi prosedur. Surat suara ada, tetapi kebebasan batin hilang. Kotak suara ada, tetapi ruang sosial sudah dikendalikan. Di sinilah harlan politik menjadi musuh diam-diam demokrasi.
Harlan politik tidak selalu menang dengan kekerasan besar. Harlan politik sering menang melalui pembiasaan kecil. Warga dibiasakan diam. Lawan dibiasakan hati-hati. Aparat dibiasakan kompromi. Elite dibiasakan memakai jasa tekanan. Anak muda dibiasakan melihat politik sebagai jalan uang dan kekuasaan. Lama-lama, premanisme menjadi bagian dari mekanisme politik. Orang tidak lagi terkejut ketika politik memakai orang kuat. Orang tidak lagi marah ketika kampanye diwarnai tekanan. Orang tidak lagi merasa aneh ketika proyek politik dijaga oleh jaringan harlan. Ketika masyarakat tidak lagi terkejut, harlan politik telah menjadi budaya.
Pada akhirnya, harlan politik adalah bentuk perluasan paling berbahaya dari harlan jalanan. Harlan jalanan merusak pasar atau terminal. Harlan politik merusak masa depan keputusan publik. Harlan jalanan mengambil uang kecil dari ruang ekonomi. Harlan politik mengambil kebebasan warga dari ruang demokrasi. Harlan jalanan membuat orang takut berdagang. Harlan politik membuat orang takut memilih dan berbicara. Karena itu, harlan politik harus dibaca sebagai ancaman terhadap martabat masyarakat. Bukan hanya karena menggunakan intimidasi, tetapi karena menjadikan intimidasi sebagai modal untuk mengatur arah kekuasaan.
Harlan Ekonomi: Rente, Proyek, Akses, dan Penguasaan Sumber Daya
Harlan ekonomi lahir ketika watak premanisme masuk ke dalam urusan sumber daya. Pada tahap ini, kekerasan tidak lagi hanya berada di terminal, pasar, simpang jalan, atau warung kopi. Kekerasan masuk ke dalam proyek, distribusi barang, akses lahan, jasa pengamanan, parkir, bongkar muat, kontrak kecil, tender, bantuan, dan jaringan ekonomi lokal. Harlan ekonomi tidak selalu muncul dengan wajah kasar. Kadang-kadang tampil sebagai “penghubung,” “koordinator lapangan,” “pengaman kegiatan,” “orang yang bisa menyelesaikan urusan,” atau “wakil masyarakat.” Bahasa berubah menjadi lebih rapi, tetapi logikanya tetap sama: siapa yang ingin masuk ke ruang ekonomi tertentu harus melewati aktor yang punya kuasa informal.
Dalam dunia harlan ekonomi, akses menjadi komoditas. Orang tidak lagi hanya menjual barang atau jasa. Orang menjual jalan masuk. Siapa yang dapat membuka pintu kepada pejabat, proyek, lahan, pasar, gudang, pelabuhan kecil, terminal, atau jaringan distribusi, dapat memperoleh keuntungan tanpa harus memproduksi sesuatu. Inilah ekonomi rente. Harlan ekonomi berdiri pada titik ini. Bukan selalu sebagai pemilik modal, bukan selalu sebagai pengusaha resmi, tetapi sebagai pengendali akses. Ketika akses sudah dikendalikan oleh orang kuat informal, ekonomi kehilangan keadilan. Orang yang mampu bekerja belum tentu mendapat ruang. Orang yang punya kualitas belum tentu diterima. Yang menentukan sering kali adalah siapa yang punya hubungan dengan harlan, siapa yang berani membayar, dan siapa yang tidak takut berhadapan dengan backing.
Rente dalam dunia harlan tidak selalu besar pada awalnya. Sering kali rente dimulai dari uang kecil. Uang parkir, uang keamanan, uang rokok, uang bongkar muat, uang lapak, uang koordinasi, uang jalan, uang tanda terima kasih, uang supaya urusan tidak diganggu. Bahasa yang dipakai tampak ringan, tetapi tekanannya berat. Orang memberi bukan karena benar-benar rela. Orang memberi karena tidak ingin urusan menjadi sulit. Di sinilah harlan ekonomi bekerja secara halus. Pemerasan tidak selalu tampil sebagai pemerasan. Ia sering disamarkan sebagai kebiasaan lapangan. Masyarakat akhirnya berkata, “memang begitu aturannya,” padahal aturan itu tidak pernah lahir dari hukum atau musyawarah yang adil.
Proyek adalah ruang yang sangat menarik bagi harlan ekonomi. Proyek membawa uang, pekerjaan, material, kendaraan, pekerja, kontraktor, subkontraktor, dan peluang mengambil bagian. Dalam banyak ruang lokal, proyek tidak hanya dilihat sebagai kegiatan pembangunan, tetapi sebagai sumber pembagian. Harlan ekonomi masuk dengan bahasa pengamanan, dukungan masyarakat, tenaga lokal, atau koordinasi wilayah. Pada satu sisi, pelibatan masyarakat lokal memang penting. Namun, dalam logika harlan, pelibatan itu berubah menjadi tekanan. Kontraktor harus memberi bagian kepada aktor tertentu. Pekerjaan harus melalui orang tertentu. Material harus dibeli dari jaringan tertentu. Jika tidak, proyek dapat diganggu, diperlambat, atau dibuat tidak nyaman.
Di sini pembangunan kehilangan makna substantifnya. Jalan, gedung, saluran air, fasilitas umum, atau program ekonomi tidak lagi hanya dibaca sebagai kebutuhan masyarakat, tetapi sebagai arena perebutan rente. Harlan ekonomi tidak bertanya apakah proyek itu berkualitas, apakah masyarakat benar-benar membutuhkan, apakah anggarannya tepat, atau apakah manfaatnya panjang. Pertanyaan utamanya adalah siapa mendapat bagian. Ketika logika ini menguasai pembangunan, kualitas menjadi korban. Pekerjaan dapat asal selesai. Anggaran dapat bocor. Masyarakat hanya memperoleh sisa dari perebutan aktor-aktor yang lebih sibuk menghitung keuntungan daripada manfaat publik.
Harlan ekonomi juga menguasai pasar melalui ketergantungan. Pedagang kecil sering berada dalam posisi rentan. Modal terbatas, ruang terbatas, perlindungan terbatas, dan waktu terbatas. Mereka harus berdagang setiap hari. Jika lapak diganggu sehari saja, pendapatan keluarga dapat jatuh. Harlan memahami kerentanan ini. Karena itu, tekanan terhadap pedagang kecil sangat efektif. Pedagang lebih baik membayar sedikit daripada kehilangan banyak. Lebih baik diam daripada bertengkar. Lebih baik mengikuti aturan informal daripada berhadapan dengan risiko kekerasan. Di sini harlan ekonomi hidup dari ketakutan orang kecil yang tidak memiliki banyak pilihan.
Dalam konteks ini, harlan ekonomi sebanding dengan sisi gelap dari jawara dan blater ketika figur orang kuat lokal masuk ke dalam penguasaan sumber daya. Jawara dapat menjadi aktor yang menghubungkan wilayah sosial dengan kekuasaan politik dan ekonomi. Blater dapat menjadi figur yang menguasai patronase, perlindungan, dan akses lokal. Harlan di Aceh memiliki pola yang serupa ketika reputasi kekerasan, jaringan, dan backing dipakai untuk memperoleh bagian ekonomi. Perbedaannya terletak pada konteks sosial Aceh yang memiliki struktur adat, agama, dan memori konflik yang kuat. Harlan ekonomi di Aceh sering bergerak bukan hanya sebagai preman pasar, tetapi sebagai aktor yang dapat menempel pada narasi lokal, jaringan politik, atau hubungan pasca-konflik.
Penguasaan sumber daya oleh harlan ekonomi sering terjadi melalui bahasa perlindungan. Perlindungan adalah kata yang tampak baik. Tetapi dalam dunia harlan, perlindungan dapat berarti dua hal sekaligus: melindungi dari gangguan orang lain, atau melindungi dari gangguan yang mungkin diciptakan oleh jaringan sendiri. Di sinilah muncul paradoks premanisme. Harlan menawarkan keamanan dalam ruang yang tidak aman. Namun, ketidakamanan itu sering menjadi alasan agar harlan tetap dibutuhkan. Jika semua berjalan tertib, harlan kehilangan fungsi. Karena itu, harlan ekonomi membutuhkan sedikit kekacauan, sedikit ketakutan, sedikit ancaman, agar jasa perlindungannya tetap dianggap perlu.
Ekonomi seperti ini sangat merusak etos kerja. Dalam masyarakat yang sehat, orang dihargai karena kerja, keahlian, kejujuran, kualitas, dan pelayanan. Dalam ekonomi harlan, orang dihargai karena mampu menekan, punya backing, menguasai akses, dan bisa membuat orang lain takut. Akibatnya, anak muda dapat belajar nilai yang salah. Mereka melihat bahwa kerja keras tidak selalu cepat menghasilkan, tetapi menjadi orang kuat dapat membuka jalan. Mereka melihat bahwa ilmu tidak selalu dihargai, tetapi jaringan intimidatif dapat membuat orang tunduk. Mereka melihat bahwa integritas sering kalah oleh kedekatan dengan aktor kuat. Ini adalah pendidikan sosial yang buruk dan berbahaya.
Harlan ekonomi juga menciptakan distorsi dalam persaingan. Pelaku usaha yang jujur dipaksa bersaing bukan hanya dalam kualitas, harga, dan pelayanan, tetapi juga dalam kemampuan menghadapi tekanan. Orang yang tidak memiliki backing dapat kalah sebelum bertanding. Usaha kecil dapat mati bukan karena tidak mampu bekerja, tetapi karena tidak sanggup membayar biaya informal. Kontraktor baik dapat mundur karena tidak mau berurusan dengan jaringan tekanan. Pedagang baru dapat takut masuk pasar karena merasa ruang sudah dikuasai kelompok tertentu. Dengan demikian, harlan ekonomi membunuh kesempatan. Ia membuat ekonomi lokal menjadi tertutup bagi orang-orang yang tidak berada dalam jaringan kuasa informal.
Masalah ini menjadi lebih rumit ketika harlan ekonomi masuk ke wilayah bantuan sosial, dana publik, atau program pemberdayaan. Bantuan yang seharusnya sampai kepada masyarakat dapat berubah menjadi arena pengaruh. Siapa yang dekat dengan jaringan tertentu mendapat prioritas. Siapa yang tidak sejalan dapat tersisih. Program ekonomi yang seharusnya mengangkat warga miskin dapat menjadi alat memperkuat loyalitas. Di sini harlan ekonomi tidak hanya mengambil uang, tetapi mengatur ketergantungan. Orang yang membutuhkan bantuan dibuat merasa berutang budi kepada jaringan, bukan kepada sistem keadilan sosial. Ketergantungan seperti ini sangat efektif untuk kepentingan politik berikutnya.
Dalam lahan dan properti, harlan ekonomi dapat muncul sebagai pengendali sengketa. Sengketa tanah adalah wilayah yang sangat rawan karena menyentuh harta, sejarah keluarga, batas kampung, dokumen, dan emosi. Ketika hukum tidak dipercaya atau prosesnya terlalu lambat, orang mencari orang kuat. Harlan masuk sebagai penekan. Pihak yang memiliki harlan di belakangnya merasa lebih berani. Pihak yang tidak punya perlindungan merasa terancam. Sengketa yang seharusnya diselesaikan melalui hukum dan adat berubah menjadi adu kekuatan. Di sini harlan ekonomi mengubah tanah dari ruang kehidupan menjadi ruang dominasi.
Masuknya narkotika membuat harlan ekonomi semakin gelap. Narkotika menyediakan uang cepat yang dapat dipakai untuk membeli pengaruh, membiayai gaya hidup, memperkuat backing, dan menakut-nakuti masyarakat. Harlan yang terhubung dengan narkotika tidak lagi hanya hidup dari rente kecil. Harlan seperti ini dapat memiliki sumber daya yang lebih besar dan jaringan yang lebih sulit dibaca. Uang gelap dapat masuk ke usaha legal, proyek kecil, kendaraan, hiburan, atau aktivitas sosial. Masyarakat mungkin melihat permukaan ekonomi yang tampak biasa, tetapi di baliknya ada aliran yang merusak generasi. Inilah bentuk paling berbahaya dari harlan ekonomi: ketika uang kotor dipakai untuk membeli wajah sosial yang tampak normal.
Narkotika juga mengubah relasi harlan dengan anak muda. Jika ekonomi harlan lama menarik anak muda melalui keberanian dan solidaritas kelompok, ekonomi narkotika menarik melalui uang cepat, gaya hidup, dan rasa menjadi bagian dari jaringan kuat. Anak muda yang tidak memiliki pekerjaan, tidak memiliki arah, atau tidak merasa dihargai oleh sistem dapat mudah masuk ke orbit ini. Harlan menjadi model. Uang menjadi magnet. Kekerasan menjadi perlindungan. Backing menjadi kebanggaan. Dalam keadaan seperti ini, narkotika bukan hanya barang terlarang. Narkotika menjadi mekanisme sosial yang merekrut generasi ke dalam dunia harlan.
Harlan ekonomi juga melemahkan moral masyarakat melalui normalisasi. Ketika pungutan liar dianggap biasa, ketika uang pengamanan dianggap wajar, ketika proyek harus memberi bagian dianggap aturan lapangan, ketika narkotika dibicarakan hanya sebagai rahasia umum, maka masyarakat sedang mengalami penurunan ambang moral. Hal yang salah tidak lagi membuat marah. Hal yang rusak tidak lagi mengejutkan. Orang hanya berkata, “begitulah keadaan.” Kalimat seperti ini berbahaya. Ia menandakan bahwa masyarakat tidak lagi memiliki energi moral untuk menolak. Harlan ekonomi bertahan karena kesalahan berubah menjadi kebiasaan.
Di titik ini, agama dan adat seharusnya menjadi benteng. Namun, harlan ekonomi sering mampu melewati keduanya dengan dua cara. Pertama, melalui rasa takut. Orang adat dan tokoh agama bisa saja tahu, tetapi enggan berhadapan langsung karena risiko sosial tinggi. Kedua, melalui pemberian. Harlan ekonomi dapat memberi sumbangan, membantu acara, hadir dalam kegiatan sosial, atau membangun citra sebagai dermawan. Uang yang sumbernya gelap dapat membersihkan wajah sosial di permukaan. Masyarakat yang membutuhkan bantuan dapat menjadi sungkan mengkritik. Di sinilah uang harlan membeli bukan hanya barang, tetapi juga diam.
Perbandingan dengan jawara dan blater sekali lagi menunjukkan bahwa figur orang kuat lokal sering mengalami ambiguitas. Di satu sisi dapat menjadi pelindung sosial. Di sisi lain dapat menjadi pemilik rente. Harlan ekonomi harus ditempatkan dalam ambiguitas itu, tetapi tidak boleh dimaafkan dengan alasan fungsi sosial. Jika perlindungan berubah menjadi pemaksaan, jika keberanian berubah menjadi rente, jika jaringan berubah menjadi pemerasan, maka yang terjadi bukan kepemimpinan lokal, melainkan premanisme ekonomi. Masyarakat harus mampu membedakan tokoh yang membantu dengan harlan yang menjual rasa aman.
Pada akhirnya, harlan ekonomi adalah bentuk premanisme yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari. Ia menyentuh uang belanja, biaya parkir, harga barang, kualitas proyek, peluang kerja, akses pasar, lahan, bantuan, dan masa depan anak muda. Karena itu, harlan ekonomi lebih berbahaya daripada yang tampak. Ia tidak selalu menghasilkan ledakan kekerasan, tetapi menggerogoti masyarakat secara perlahan. Ia membuat biaya hidup lebih mahal. Ia membuat usaha menjadi tidak adil. Ia membuat pembangunan bocor. Ia membuat anak muda melihat jalan gelap sebagai jalan cepat. Ia membuat masyarakat kehilangan kepercayaan bahwa kerja jujur dapat menang.
Maka, membaca harlan ekonomi berarti membaca bagaimana rasa takut diubah menjadi uang. Inilah inti persoalannya. Harlan ekonomi tidak hanya mengambil sumber daya. Harlan ekonomi mengubah struktur ekonomi menjadi struktur ketakutan. Siapa yang takut membayar. Siapa yang tidak punya backing mundur. Siapa yang punya jaringan maju. Siapa yang jujur menjadi lemah. Siapa yang kasar menjadi kuat. Ketika logika ini dibiarkan, ekonomi lokal kehilangan ruh keadilan. Pasar tidak lagi menjadi tempat pertukaran yang sehat. Proyek tidak lagi menjadi alat pembangunan. Bantuan tidak lagi menjadi hak sosial. Semua berubah menjadi arena ketika harlan mencari bagian.
Harlan dan Narkotika: Transformasi Premanisme ke Ekonomi Gelap
Harlan dan narkotika bertemu pada satu titik yang sama: keduanya hidup dari kerusakan ruang sosial. Harlan membutuhkan ketakutan agar dapat menguasai orang lain. Narkotika membutuhkan kerentanan agar dapat masuk ke tubuh, keluarga, kampung, dan jaringan anak muda. Ketika keduanya bertemu, lahirlah bentuk premanisme yang lebih gelap daripada harlan jalanan. Harlan tidak lagi hanya menguasai terminal, pasar, warung kopi, simpang jalan, proyek, atau lahan. Harlan mulai menguasai kelemahan manusia. Di sinilah premanisme berubah dari penguasaan ruang menjadi penguasaan masa depan.
Dalam bentuk lama, harlan mungkin hidup dari pungutan kecil, jasa pengamanan, pengaruh jalanan, penguasaan lapak, atau tekanan terhadap orang yang dianggap lemah. Dalam bentuk baru, sebagian harlan menemukan bahwa narkotika memberi uang lebih cepat, jaringan lebih luas, dan kekuasaan lebih keras. Ini bukan lagi premanisme yang hanya mengandalkan parang atau suara keras. Ini premanisme yang masuk ke dalam ekonomi gelap. Di dalamnya ada uang, ketergantungan, rahasia, ancaman, backing, dan pembungkaman sosial. Harlan yang terhubung dengan narkotika tidak hanya menakutkan karena tubuhnya, tetapi karena jaringan yang mengelilinginya.
Narkotika mengubah kualitas kekuasaan harlan. Jika sebelumnya harlan menguasai orang melalui rasa takut langsung, maka dalam ekonomi narkotika penguasaan dilakukan melalui kombinasi rasa takut, kebutuhan, ketergantungan, dan uang. Ada orang yang takut karena ancaman. Ada yang terikat karena hutang. Ada yang terjebak karena pemakaian. Ada yang diam karena mendapat bagian. Ada yang tidak bicara karena keluarga sudah terlibat. Ada yang pura-pura tidak tahu karena merasa terlalu berisiko. Inilah bentuk kekuasaan yang lebih rumit. Harlan narkotika tidak hanya berdiri di depan masyarakat. Harlan masuk ke dalam urat sosial masyarakat.
Dalam antropologi sosial, narkotika tidak hanya dapat dibaca sebagai barang terlarang. Narkotika adalah gejala keruntuhan relasi sosial. Ia masuk ketika keluarga melemah, sekolah tidak memberi arah, ekonomi tidak membuka peluang, kampung kehilangan pengawasan moral, agama menjadi nasihat tanpa pendampingan, dan negara hadir lebih sebagai penindakan daripada pemulihan. Harlan memanfaatkan celah-celah itu. Anak muda yang tidak memiliki pekerjaan, tidak memiliki pengakuan, tidak memiliki masa depan yang jelas, mudah melihat dunia harlan sebagai ruang alternatif. Di sana ada uang, solidaritas palsu, keberanian palsu, perlindungan palsu, dan rasa menjadi bagian dari kelompok yang ditakuti.
Di sini terlihat bahwa harlan narkotika bukan hanya pelaku kriminal, tetapi juga produsen budaya rusak. Harlan menawarkan model hidup yang berbahaya: cepat punya uang, cepat dikenal, cepat ditakuti, cepat memiliki gaya, cepat memiliki kelompok. Dalam masyarakat ketika jalan kerja halal terasa lambat, pendidikan tidak selalu menjamin pekerjaan, dan ketimpangan sosial terlihat setiap hari, model seperti ini dapat menggoda anak muda. Maka, narkotika tidak hanya menyebar melalui barang. Narkotika menyebar melalui imajinasi. Anak muda tidak hanya mengejar zat, tetapi mengejar status yang dibayangkan melekat pada jaringan harlan.
Harlan narkotika juga berbeda dari pengguna atau pengedar kecil yang berdiri di ujung jaringan. Yang berbahaya dari harlan adalah kemampuan mengorganisasi rasa takut di tingkat lokal. Harlan tahu siapa yang dapat direkrut, siapa yang dapat ditekan, siapa yang dapat dibeli diamnya, siapa yang dapat dipakai sebagai perantara, siapa yang punya keluarga rentan, dan siapa yang tidak berani melapor. Harlan membaca masyarakat seperti peta. Dalam dunia narkotika, kemampuan membaca peta sosial ini sangat berbahaya. Sebab yang dipakai bukan hanya jalur barang, tetapi jalur kepercayaan, jalur ketakutan, jalur hutang, jalur malu, dan jalur keluarga.
Pada titik ini, backing menjadi semakin penting. Harlan narkotika tidak mungkin bertahan lama hanya dengan keberanian jalanan. Ekonomi gelap memerlukan perlindungan, informasi, dan ruang aman. Perlindungan itu bisa berbentuk pembiaran, bocoran, hubungan dengan aktor tertentu, atau sekadar keyakinan masyarakat bahwa jaringan ini terlalu kuat untuk disentuh. Backing membuat narkotika menjadi lebih dari sekadar kejahatan. Backing mengubahnya menjadi sistem. Masyarakat tidak hanya takut kepada orang yang menjual atau memakai, tetapi kepada lingkaran yang tidak terlihat di belakangnya. Inilah yang membuat kampung bisa mengetahui gejala, tetapi tidak sanggup mengubah keadaan.
Narkotika juga menciptakan ekonomi diam. Di dalam ekonomi diam, banyak orang mengetahui, tetapi sedikit yang berbicara. Ada keluarga yang malu. Ada tetangga yang takut. Ada pemuda yang terikat. Ada tokoh yang ragu. Ada aparat yang mungkin tidak dipercaya. Ada orang tua yang menangis dalam rumah, tetapi tidak tahu harus ke mana. Harlan narkotika memakan semua kelemahan itu. Semakin masyarakat diam, semakin jaringan merasa aman. Semakin jaringan merasa aman, semakin banyak orang yang masuk. Semakin banyak orang yang masuk, semakin sulit masyarakat membedakan antara korban, pelaku kecil, pelindung, dan pengendali.
Kondisi ini membuat narkotika menjadi bentuk kekerasan yang tidak selalu berdarah, tetapi sangat menghancurkan. Kekerasan narkotika bekerja perlahan. Ia merusak tubuh, pikiran, keluarga, ekonomi rumah tangga, hubungan orang tua dan anak, kepercayaan antartetangga, dan masa depan kampung. Jika harlan lama menimbulkan luka di tubuh korban, harlan narkotika menimbulkan luka pada generasi. Anak muda kehilangan arah. Keluarga kehilangan ketenangan. Kampung kehilangan kepercayaan. Masyarakat kehilangan keberanian. Ini adalah kekerasan sosial yang lebih dalam karena kerusakannya tidak selalu terlihat dalam satu peristiwa, tetapi menyebar dalam waktu panjang.
Perbandingan dengan jawara dan blater dapat membantu membaca perubahan ini. Dalam masyarakat Banten, jawara dalam sisi gelapnya dapat masuk ke jaringan kekuasaan, ekonomi, dan patronase. Dalam masyarakat Madura, blater juga dapat bergerak dalam wilayah kehormatan, patronase, dan kekerasan. Harlan di Aceh, ketika masuk ke narkotika, mengalami transformasi serupa tetapi dengan substansi yang lebih destruktif. Jika jawara atau blater dapat diperdebatkan dalam relasi antara perlindungan dan kekuasaan, maka harlan narkotika lebih sulit dibela secara moral. Sebab narkotika tidak hanya menekan orang dewasa dalam perebutan kuasa, tetapi menyerang masa depan anak muda dan merusak rumah tangga dari dalam.
Di sinilah agama dan adat menghadapi ujian besar. Aceh memiliki sistem nilai yang kuat. Agama berbicara tentang penjagaan akal, jiwa, keluarga, dan martabat. Adat berbicara tentang kehormatan, keteraturan, dan tanggung jawab sosial. Namun, harlan narkotika sering hidup justru karena nilai-nilai itu tidak sanggup diterjemahkan menjadi perlindungan konkret. Ceramah ada, tetapi pendampingan lemah. Larangan ada, tetapi pengawasan sosial rapuh. Rasa malu ada, tetapi sering membuat keluarga menyembunyikan masalah daripada mencari penyelesaian. Akibatnya, narkotika bergerak di antara retakan nilai: diketahui salah, tetapi tidak selalu dilawan secara efektif.
Harlan narkotika juga dapat membeli citra sosial. Ini bagian yang sangat penting. Uang gelap dapat dipakai untuk tampil dermawan, membantu acara, memberi sumbangan, membangun hubungan dengan tokoh, atau menunjukkan gaya hidup yang tampak berhasil. Masyarakat yang sedang membutuhkan bantuan dapat menjadi bingung. Di satu sisi tahu ada sesuatu yang rusak. Di sisi lain menerima manfaat kecil. Di sinilah uang kotor bekerja secara simbolik. Ia bukan hanya membeli barang. Ia membeli diam, membeli sungkan, membeli citra, membeli jarak kritik. Harlan yang seharusnya dikucilkan dapat berubah menjadi orang yang disegani karena memiliki sumber daya.
Fenomena ini membuat batas moral masyarakat menjadi kabur. Orang mulai memisahkan sumber uang dari pemakaian uang. “Yang penting membantu.” “Yang penting dermawan.” “Yang penting tidak mengganggu kita.” Kalimat-kalimat seperti ini memperlihatkan krisis moral yang dalam. Jika uang narkotika dapat membersihkan wajah sosial seseorang, maka masyarakat sedang membiarkan racun menjadi kosmetik. Harlan narkotika sangat memahami celah ini. Dengan sedikit bantuan sosial, sedikit kemurahan, sedikit gaya religius, atau sedikit kedekatan dengan tokoh, wajah gelap dapat dilapisi wajah baik. Ini bukan kedermawanan. Ini strategi sosial untuk mempertahankan ruang aman.
Dalam politik lokal, uang narkotika dapat menjadi sumber pengaruh yang sangat berbahaya. Uang gelap membutuhkan perlindungan. Politik menyediakan akses perlindungan. Harlan menyediakan tekanan. Ketika tiga hal ini bertemu, masyarakat berada dalam bahaya besar. Pemilihan dapat dibiayai oleh uang gelap. Mobilisasi dapat ditopang oleh jaringan harlan. Setelah kekuasaan diperoleh, perlindungan dapat diberikan kembali kepada jaringan ekonomi gelap. Siklus ini membuat narkotika tidak lagi hanya menjadi isu kepolisian, tetapi menjadi isu demokrasi, tata kelola, dan ketahanan sosial.
Dalam konteks Aceh, persoalan ini harus dibaca sebagai ancaman terhadap ketahanan generasi. Aceh tidak dapat hanya berbicara tentang sejarah besar, agama yang kuat, adat yang mulia, dan politik identitas, jika pada saat yang sama anak muda dihancurkan oleh narkotika yang dilindungi oleh jaringan harlan. Tidak ada martabat kolektif yang dapat bertahan jika generasi mudanya rusak. Tidak ada pembangunan yang bermakna jika uang gelap menguasai ruang sosial. Tidak ada syariat yang kuat jika kampung-kampung kehilangan keberanian untuk menolak pengedar yang punya backing. Narkotika menguji apakah nilai-nilai besar itu benar-benar hidup dalam tindakan sosial.
Harlan narkotika juga memperlihatkan bahwa kekerasan modern tidak selalu datang dengan perang terbuka. Dulu masyarakat membayangkan ancaman sebagai serangan dari luar. Hari ini ancaman dapat datang dari dalam kampung sendiri. Bukan dengan pasukan, tetapi dengan jaringan kecil yang merusak anak muda. Bukan dengan senjata api, tetapi dengan ketergantungan. Bukan dengan pendudukan wilayah, tetapi dengan penguasaan tubuh dan pikiran. Dalam pengertian ini, narkotika adalah perang sosial yang sunyi. Harlan menjadi aktor lokal dalam perang sunyi itu.
Karena itu, membaca harlan dan narkotika harus dilakukan tanpa romantisme. Harlan lama kadang masih dibicarakan dengan nada setengah kagum: orang berani, orang kuat, orang yang ditakuti, orang yang punya nama. Tetapi Harlan narkotika tidak menyisakan ruang kekaguman apa pun. Ia bukan penjaga martabat. Ia bukan simbol keberanian. Ia bukan pelindung masyarakat. Ia adalah agen perusak generasi. Jika masih ada orang yang menganggap harlan narkotika sebagai orang hebat karena punya uang dan backing, maka masyarakat sedang mengalami kerusakan penilaian. Yang merusak anak muda tidak boleh diberi aura kehormatan.
Pada akhirnya, transformasi harlan ke ekonomi narkotika menunjukkan perubahan paling gelap dari premanisme. Dari pungutan kecil menuju uang besar. Dari terminal menuju jaringan. Dari parang menuju narkotika. Dari rasa takut fisik menuju ketergantungan sosial. Dari penguasaan ruang menuju penghancuran generasi. Ini bukan sekadar perubahan modus. Ini perubahan skala kerusakan. Harlan narkotika tidak hanya membuat orang takut. Harlan narkotika membuat masyarakat kehilangan masa depan.
Maka, esai ini menempatkan narkotika sebagai titik kritis dalam pembacaan harlan. Jika masyarakat masih mampu menertawakan harlan pasar sebagai bagian dari cerita lama, masyarakat tidak boleh menertawakan harlan narkotika. Di sini taruhannya terlalu besar. Yang dipertaruhkan bukan hanya ketertiban, tetapi akal sehat generasi, kehormatan keluarga, keberanian kampung, dan masa depan Aceh. Harlan narkotika adalah tanda bahwa premanisme telah memasuki fase paling merusak: ketika rasa takut, uang gelap, backing, dan kehancuran anak muda membentuk satu jaringan yang saling melindungi.
Narkotika, Backing, dan Kekebalan Sosial
Narkotika tidak pernah berdiri hanya sebagai barang. Dalam masyarakat yang sudah disentuh oleh jaringan harlan, narkotika berubah menjadi sistem relasi. Ada orang yang memakai, ada yang mengedarkan, ada yang melindungi, ada yang mengetahui tetapi diam, ada yang mendapat bagian, ada yang takut, ada yang malu, dan ada yang menjadikan kerusakan ini sebagai sumber kekuasaan. Karena itu, narkotika harus dibaca bukan hanya sebagai kejahatan hukum, tetapi sebagai gejala sosial yang menunjukkan bagaimana ketakutan, uang gelap, backing, dan kebisuan masyarakat saling mengikat. Di titik inilah harlan narkotika memperoleh kekebalan sosial.
Kekebalan sosial berbeda dari kekebalan hukum. Kekebalan hukum berarti seseorang tidak tersentuh karena perlindungan formal atau penyalahgunaan struktur resmi. Kekebalan sosial lebih halus. Seseorang tidak tersentuh karena masyarakat takut berbicara, keluarga malu membuka masalah, tetangga tidak ingin terlibat, tokoh lokal ragu mengambil risiko, dan aparat tidak selalu dipercaya. Harlan narkotika hidup di dalam kekebalan semacam ini. Bahkan sebelum hukum bekerja, masyarakat sudah mundur terlebih dahulu. Bahkan sebelum laporan dibuat, orang sudah menghitung bahaya. Bahkan sebelum kebenaran disampaikan, rasa takut sudah menutup mulut.
Backing memperkuat kekebalan sosial itu. Harlan yang memiliki backing tidak hanya dilihat sebagai pelaku yang dapat ditindak. Harlan dilihat sebagai pintu masuk menuju masalah yang lebih besar. Orang tidak bertanya, “apa kesalahannya?” Orang bertanya, “siapa di belakangnya?” Pertanyaan kedua ini menunjukkan kerusakan sosial yang sangat dalam. Jika masyarakat lebih sibuk membaca jaringan daripada menimbang benar dan salah, berarti struktur moral sudah dikalahkan oleh struktur takut. Harlan narkotika menang bukan hanya karena memiliki uang, tetapi karena masyarakat percaya bahwa jaringan di belakangnya terlalu berbahaya untuk disentuh.
Dalam dunia narkotika, backing dapat berbentuk banyak lapisan. Ada backing dari orang kuat lokal. Ada backing dari jaringan ekonomi. Ada backing dari relasi politik. Ada backing dari kedekatan dengan aparat nakal. Ada backing dari keluarga besar yang berpengaruh. Ada backing dari organisasi tertentu. Ada pula backing yang sebenarnya tidak jelas, tetapi sengaja dibangun sebagai rumor agar masyarakat takut. Dalam banyak kasus, rumor backing sudah cukup untuk menciptakan kepatuhan. Harlan tidak perlu membuktikan semua relasi. Cukup membuat orang percaya bahwa relasi itu ada. Ketakutan yang dipercaya sering bekerja lebih cepat daripada fakta yang belum terbukti.
Kekebalan sosial ini membuat narkotika menjadi penyakit yang hidup di antara pengetahuan dan kebisuan. Banyak masyarakat mengetahui gejalanya. Mereka melihat perubahan perilaku anak muda. Mereka melihat perubahan gaya hidup yang tidak sesuai dengan pekerjaan. Mereka melihat rumah tertentu menjadi ramai pada waktu tertentu. Mereka mendengar nama-nama yang beredar. Mereka tahu siapa yang tiba-tiba memiliki uang, kendaraan, atau pengaruh. Tetapi pengetahuan itu berhenti di percakapan pelan. Ia tidak naik menjadi tindakan bersama. Pengetahuan sosial berubah menjadi bisikan. Bisikan berubah menjadi ketakutan. Ketakutan berubah menjadi pembiaran.
Di sinilah masyarakat menjadi korban dua kali. Pertama, menjadi korban narkotika karena generasi mudanya rusak. Kedua, menjadi korban kekebalan sosial karena tidak mampu melawan jaringan yang merusak itu. Dalam kondisi seperti ini, kampung tampak hidup, tetapi di dalamnya ada kecemasan yang tidak selesai. Orang tua mengawasi anak dengan rasa takut. Pemuda yang baik menjadi curiga kepada pemuda lain. Tetangga tidak lagi percaya sepenuhnya kepada lingkungan. Warung kopi menjadi ruang rumor. Masjid menjadi tempat doa, tetapi tidak selalu mampu menjadi pusat pemulihan. Kepercayaan sosial retak perlahan.
Narkotika juga menciptakan hierarki ketakutan. Di bawah ada pengguna yang sering menjadi korban paling tampak. Di atasnya ada pengedar kecil yang dekat dengan lingkungan. Di atasnya lagi ada pengendali yang tidak selalu muncul. Di belakangnya ada backing. Masyarakat biasanya hanya melihat lapisan bawah, tetapi takut kepada lapisan atas. Ketika ada penindakan terhadap pengguna atau pengedar kecil, masyarakat mungkin merasa ada aksi. Tetapi jika lapisan backing tidak tersentuh, sistem tetap hidup. Harlan narkotika sering berada pada posisi yang menghubungkan lapisan bawah dengan lapisan atas. Di sinilah bahayanya.
Harlan narkotika tidak hanya memakai kekerasan fisik. Harlan memakai rasa malu keluarga. Dalam masyarakat Aceh, nama baik keluarga sangat penting. Ketika seorang anak terjerat narkotika, keluarga sering menanggung malu yang berat. Rasa malu ini dapat dipakai oleh jaringan untuk membungkam. Keluarga takut masalah terbuka. Keluarga takut anak masuk penjara. Keluarga takut nama besar rusak. Keluarga takut perkawinan, pekerjaan, dan posisi sosial terganggu. Akhirnya, masalah disembunyikan. Penyembunyian ini dapat dimanfaatkan oleh harlan narkotika. Selama keluarga malu, jaringan aman.
Selain rasa malu, Harlan narkotika juga memakai utang. Hutang bukan hanya hutang uang, tetapi hutang barang, hutang loyalitas, hutang bantuan, hutang perlindungan, dan hutang diam. Orang yang sudah terikat utang akan sulit keluar. Anak muda yang sudah menerima uang atau barang akan lebih mudah dikendalikan. Orang kecil yang pernah dibantu akan sungkan berbicara. Tokoh lokal yang pernah menerima sumbangan akan berhati-hati mengkritik. Dengan cara ini, narkotika membangun ekonomi moral yang terbalik. Kebaikan palsu dipakai untuk menutup kejahatan nyata.
Uang gelap adalah unsur utama dalam kekebalan sosial. Uang dapat mengubah wajah seseorang. Orang yang semula dikenal keras dapat tampil sebagai dermawan. Orang yang dicurigai terlibat dalam jaringan gelap dapat menyumbang kepada kegiatan sosial. Orang yang merusak anak muda dapat hadir dalam acara publik sebagai pemberi bantuan. Masyarakat yang sedang membutuhkan uang sering menjadi bingung. Mereka tahu ada yang salah, tetapi bantuan itu nyata. Di sinilah uang narkotika membeli ruang sosial. Bukan hanya membeli barang, tetapi membeli penerimaan, membeli diam, membeli wajah baik, dan membeli jarak dari kritik.
Dalam situasi seperti ini, agama menghadapi ujian berat. Agama tidak cukup hanya hadir sebagai larangan. Larangan memang penting, tetapi jaringan narkotika tidak runtuh hanya karena orang tahu bahwa narkotika haram dan merusak. Semua orang sudah tahu. Persoalannya adalah bagaimana mengubah pengetahuan moral menjadi keberanian sosial. Bagaimana masjid menjadi pusat pemulihan, bukan hanya pusat kutukan. Bagaimana tokoh agama melindungi keluarga korban, bukan hanya menyalahkan. Bagaimana masyarakat membuka ruang rehabilitasi sosial, bukan sekadar mempermalukan. Jika agama hanya menjadi bahasa malu, keluarga akan menyembunyikan masalah. Jika agama menjadi bahasa perlindungan, keluarga lebih berani mencari jalan keluar.
Adat juga menghadapi ujian yang sama. Adat tidak boleh hanya menjadi simbol seremoni. Adat harus menjadi mekanisme perlindungan kampung. Jika ada jaringan narkotika, adat harus mampu membangun musyawarah, pengawasan, pemulihan, dan keberanian kolektif. Namun, adat akan lumpuh jika tokoh adat takut kepada backing. Adat juga akan lumpuh jika sebagian tokoh adat sudah dibeli oleh uang gelap. Dalam situasi seperti ini, harlan narkotika tidak hanya merusak pemuda, tetapi juga merusak wibawa adat. Kampung kehilangan pusat kendali moralnya.
Backing yang terhubung dengan politik membuat masalah semakin berat. Ketika harlan narkotika memiliki hubungan dengan aktor politik, masyarakat semakin takut. Politik seharusnya menjadi ruang memperjuangkan kepentingan publik, tetapi dapat berubah menjadi tameng bagi jaringan gelap. Orang yang dekat dengan kekuasaan dapat merasa aman. Orang yang punya akses ke pejabat dapat merasa kebal. Orang yang dapat menggerakkan massa dapat menekan kritik. Dalam kondisi seperti ini, narkotika bukan hanya penyakit sosial, tetapi ancaman terhadap tata kelola. Ia menciptakan negara kecil di dalam masyarakat: negara bayangan yang memiliki uang, orang, informasi, dan ketakutan.
Perbandingan dengan jawara dan blater kembali memberikan pelajaran. Dalam beberapa konteks, figur orang kuat lokal dapat menjadi pelindung masyarakat jika tunduk pada moral kolektif. Tetapi ketika orang kuat lokal masuk ke ekonomi gelap, patronase berubah menjadi perlindungan kejahatan. Jawara yang kehilangan etika dapat menjadi alat kekuasaan. Blater yang kehilangan kehormatan dapat menjadi penguasa ketakutan. Harlan yang masuk narkotika kehilangan seluruh kemungkinan pembelaan moral. Tidak ada kehormatan dalam merusak generasi. Tidak ada keberanian dalam menjual ketergantungan. Tidak ada kejantanan dalam membuat keluarga menangis diam-diam.
Kekebalan sosial juga muncul karena masyarakat sering memisahkan pelaku dari struktur. Seorang pengguna dianggap sebagai masalah pribadi. Seorang pengedar kecil dianggap sebagai masalah kriminal. Tetapi jaringan yang membuat semua itu mungkin tidak selalu dibaca. Padahal narkotika tidak menyebar hanya karena satu orang rusak. Ia menyebar karena ada jalur, ada perlindungan, ada pasar, ada permintaan, ada ketakutan, ada uang, dan ada pembiaran. Harlan adalah salah satu aktor yang menjaga agar struktur itu tidak mudah disentuh. Selama struktur tidak dibaca, masyarakat hanya akan memotong ranting, bukan mencabut akar.
Di sini perlu ditegaskan bahwa tidak semua orang yang terjerat narkotika harus diperlakukan sama. Ada korban yang membutuhkan pemulihan. Ada pengguna yang perlu diselamatkan. Ada keluarga yang perlu didampingi. Ada anak muda yang tersesat karena lingkungan. Namun, harlan narkotika yang mengendalikan, melindungi, dan mengambil keuntungan dari kerusakan orang lain harus dibaca sebagai aktor yang berbeda. Antropologi sosial tidak boleh kehilangan ketegasan moral. Memahami struktur bukan berarti membenarkan pelaku. Memahami kerentanan bukan berarti menutup mata terhadap aktor yang memanfaatkan kerentanan itu.
Kekebalan sosial paling berbahaya terjadi ketika masyarakat mulai percaya bahwa melawan tidak ada gunanya. Ini adalah titik kematian moral. Ketika orang berkata “percuma,” harlan menang. Ketika orang berkata “semua sudah tahu,” tetapi tidak ada tindakan, jaringan menang. Ketika orang berkata “jangan cari masalah,” padahal masalah sedang menghancurkan anak muda, narkotika menang. Kalimat-kalimat pasrah ini adalah tanda bahwa ketakutan sudah menjadi kebudayaan. Harlan tidak perlu lagi mengancam setiap hari. Masyarakat sudah mengancam dirinya sendiri agar tetap diam.
Karena itu, melawan harlan narkotika bukan hanya tugas aparat. Ini tugas sosial, adat, agama, keluarga, sekolah, dan kepemimpinan lokal. Aparat dapat menindak, tetapi masyarakat harus memulihkan keberanian. Agama dapat memberi nilai, tetapi harus diterjemahkan menjadi perlindungan nyata. Adat dapat memediasi, tetapi harus bebas dari uang gelap. Keluarga dapat menyelamatkan anak, tetapi tidak boleh dibiarkan sendirian menanggung malu. Sekolah dapat memberi pengetahuan, tetapi harus membaca tanda-tanda kerentanan. Kepemimpinan lokal harus memutus backing, bukan sekadar berpidato.
Pada akhirnya, narkotika, backing, dan kekebalan sosial membentuk segitiga gelap dalam dunia harlan. Narkotika memberi uang. Backing memberi perlindungan. Kekebalan sosial memberi ruang diam. Ketiganya saling menguatkan. Uang membuat backing lebih kuat. Backing membuat masyarakat lebih takut. Ketakutan membuat jaringan lebih aman. Jaringan yang aman menghasilkan uang lebih banyak. Siklus ini harus dipahami sebagai struktur, bukan sekadar kumpulan kasus. Jika tidak, masyarakat hanya akan marah sesaat, lalu kembali diam.
Maka, pembacaan terhadap harlan narkotika harus berakhir pada satu kesadaran: kekebalan sosial adalah musuh yang paling halus. Selama masyarakat masih takut, malu, sungkan, tergantung, dan tidak percaya bahwa kebenaran dapat dilindungi, harlan narkotika akan terus hidup. Yang harus dipatahkan bukan hanya jalur barang, tetapi juga jalur ketakutan. Yang harus dihentikan bukan hanya transaksi gelap, tetapi juga transaksi diam. Yang harus dibongkar bukan hanya pelaku bawah, tetapi backing yang membuat mereka berani. Di sinilah Aceh diuji: apakah keberanian yang selalu dibanggakan dalam sejarah masih mampu hadir untuk melindungi generasi dari kekuasaan gelap yang tumbuh dari dalam masyarakat sendiri.
Harlan Agama: Ketika Watak Kekerasan Memakai Bahasa Moral
Harlan agama adalah bentuk paling halus dari transformasi Harlan dalam masyarakat Aceh. Jika harlan jalanan mudah dikenali melalui tubuh keras, suara kasar, parang, pedang, atau reputasi kekerasan, maka harlan agama tidak selalu tampak seperti preman. Harlan agama dapat hadir melalui bahasa nasihat, bahasa kebenaran, bahasa amar makruf nahi mungkar, bahasa kesalehan, bahasa menjaga moral masyarakat, atau bahasa membela agama. Namun, di dalam bahasa yang tampak mulia itu dapat tersembunyi watak yang sama: memaksa, menekan, mempermalukan, menguasai, dan membuat orang lain takut. Karena itu, harlan agama bukan kritik terhadap agama. Harlan agama adalah kritik terhadap watak kekerasan yang memakai agama sebagai pakaian sosial.
Dalam masyarakat Aceh, agama memiliki kedudukan yang sangat penting. Agama bukan hanya urusan ibadah pribadi. Agama menjadi dasar moral, identitas kolektif, hukum sosial, adat, pendidikan, politik, dan imajinasi publik. Justru karena agama memiliki posisi yang tinggi, setiap orang yang berbicara atas nama agama dapat memperoleh pengaruh besar. Di sinilah ruang harlan agama dapat muncul. Ketika seseorang memakai simbol agama bukan untuk membimbing, tetapi untuk menguasai, maka agama berubah dari cahaya menjadi alat tekanan. Yang rusak bukan agama, melainkan cara manusia memperalat agama untuk kepentingan kuasa.
Harlan agama bekerja melalui kekerasan simbolik. Kekerasan ini tidak selalu memukul tubuh. Ia memukul martabat. Ia membuat orang malu di depan umum. Ia membuat orang merasa tidak cukup saleh. Ia membuat seseorang takut bertanya. Ia membuat orang takut berbeda pandangan. Ia membuat masyarakat lebih sibuk menghakimi daripada memahami. Dalam bentuk seperti ini, kekerasan agama tidak meninggalkan luka fisik, tetapi meninggalkan luka sosial. Orang menjadi diam, bukan karena paham. Orang tunduk, bukan karena yakin. Orang ikut, bukan karena tercerahkan. Orang takut, karena merasa akan dipermalukan jika dianggap tidak sejalan.
Di sinilah perbedaan antara dakwah dan harlan agama harus ditegaskan. Dakwah mengajak. Harlan agama menekan. Dakwah membuka jalan pemahaman. Harlan agama menutup ruang dialog. Dakwah menyentuh hati. Harlan agama menyerang harga diri. Dakwah memakai ilmu dan hikmah. Harlan agama memakai massa dan rasa takut. Dakwah menguatkan manusia agar lebih dekat kepada Allah. Harlan agama membuat manusia takut kepada manusia lain yang merasa berhak menjadi penjaga tunggal kebenaran. Perbedaan ini sangat penting agar kritik terhadap harlan agama tidak disalahpahami sebagai kritik terhadap dakwah.
Harlan agama sering muncul ketika kebenaran dilepaskan dari adab. Dalam tradisi Islam, kebenaran tidak hanya diukur dari isi, tetapi juga dari cara menyampaikan. Nasihat memiliki etika. Teguran memiliki ukuran. Amar makruf nahi mungkar memiliki syarat ilmu, hikmah, kemaslahatan, dan kemampuan mencegah kerusakan yang lebih besar. Namun, watak harlan tidak sabar dengan proses itu. Watak harlan ingin segera menguasai keadaan. Ia ingin orang tunduk seketika. Ia ingin ruang publik bergerak sesuai kehendaknya. Maka, bahasa agama dipakai seperti parang simbolik. Tidak melukai tubuh, tetapi membelah martabat sosial.
Jika dalam harlan jalanan parang menjadi simbol intimidasi, dalam harlan agama klaim kesalehan menjadi parang simbolik. Seseorang tidak perlu membawa senjata. Cukup membawa label moral. Cukup menyebut orang lain kurang Islam, kurang taat, kurang menjaga syariat, kurang beradab, kurang menghormati ulama, atau kurang mencintai agama. Label-label seperti ini dapat menjadi alat yang sangat tajam. Dalam masyarakat yang sangat menghormati agama, tuduhan moral dapat lebih menyakitkan daripada serangan fisik. Orang bisa kehilangan nama baik, posisi sosial, kepercayaan, bahkan keberanian untuk berbicara. Inilah kekerasan simbolik yang bekerja melalui bahasa agama.
Harlan agama juga dapat memakai massa sebagai backing. Dalam harlan jalanan, backing bisa berupa tokoh politik, aparat nakal, pengusaha, atau jaringan kriminal. Dalam harlan agama, backing bisa berupa kelompok moral, komunitas pengikut, organisasi, jaringan pengajian, atau massa yang siap digerakkan. Ketika seseorang berbicara atas nama agama dan merasa memiliki massa di belakangnya, suara itu dapat berubah menjadi tekanan. Yang berbahaya bukan banyaknya orang yang beragama. Yang berbahaya adalah ketika massa dipakai untuk menutup akal, menekan dialog, dan membuat orang takut berbeda pendapat. Agama yang seharusnya mendidik jiwa berubah menjadi alat mobilisasi sosial yang keras.
Dalam konteks ini, harlan agama memiliki kemiripan struktural dengan jawara dan blater dalam sisi gelapnya. Jawara dapat memakai kharisma lokal untuk menguasai ruang. Blater dapat memakai reputasi kehormatan untuk menekan lawan. Harlan agama memakai kharisma moral untuk mengendalikan masyarakat. Ketiganya berbeda bentuk, tetapi memiliki logika yang sama ketika jatuh ke dalam penyimpangan: orang kuat menempatkan diri di atas orang lain, lalu memakai simbol yang dihormati masyarakat untuk memperoleh kepatuhan. Pada jawara, simbolnya bisa keberanian dan ilmu kanuragan. Pada blater, simbolnya bisa kehormatan dan keberanian. Pada harlan agama, simbolnya adalah kesalehan dan kebenaran.
Bahaya harlan agama lebih halus karena sering sulit dikritik. Jika orang mengkritik harlan jalanan, masyarakat dapat memahami bahwa yang dikritik adalah premanisme. Jika orang mengkritik harlan ekonomi, masyarakat dapat memahami bahwa yang dikritik adalah rente. Tetapi jika orang mengkritik harlan agama, kritik itu dapat dipelintir sebagai kritik terhadap agama. Di sinilah harlan agama memperoleh kekebalan simbolik. Ia bersembunyi di balik yang suci. Padahal, yang sedang dikritik bukan ajaran agama, melainkan watak kekerasan yang memakai ajaran agama sebagai perisai.
Dalam masyarakat Aceh, persoalan ini menjadi sangat sensitif karena agama adalah kehormatan publik. Tidak ada masyarakat yang ingin dianggap melawan agama. Karena itu, harlan agama dapat bekerja sangat efektif. Orang yang berbeda pandangan memilih diam. Akademisi berhati-hati berbicara. Tokoh masyarakat menghindari isu tertentu. Perempuan, anak muda, atau kelompok lemah sering menjadi sasaran paling mudah karena posisi sosial mereka lebih rentan. Ketakutan bukan lagi terhadap parang, tetapi terhadap stigma. Stigma dalam masyarakat religius dapat menjadi senjata yang sangat keras.
Harlan agama juga dapat masuk ke politik. Ketika bahasa moral dipakai untuk memenangkan pertarungan kekuasaan, agama berubah menjadi alat elektoral. Lawan politik tidak lagi dikritik karena programnya lemah, tetapi diserang melalui identitas moral. Pemilih tidak diajak berpikir, tetapi ditakut-takuti. Isu agama dipakai untuk memisahkan warga menjadi yang dianggap saleh dan yang dianggap tidak saleh. Dalam keadaan seperti ini, politik tidak lagi menjadi pertarungan gagasan. Politik berubah menjadi pengadilan moral yang dikendalikan oleh aktor-aktor yang merasa paling berhak menafsirkan agama. Inilah bentuk harlan politik yang memakai pakaian agama.
Harlan agama juga dapat masuk ke ekonomi. Ada orang yang memakai simbol agama untuk membangun kepercayaan, lalu mengubah kepercayaan itu menjadi akses ekonomi. Bahasa halal, syariah, amal, sedekah, perjuangan, umat, dan dakwah dapat dipakai untuk menggalang sumber daya. Semua istilah ini pada dirinya mulia. Namun, ketika dipakai untuk menutup manipulasi, rente, atau penguasaan, maka muncul watak harlan ekonomi yang dibungkus agama. Masyarakat memberi karena percaya. Masyarakat diam karena sungkan. Masyarakat sulit bertanya karena takut dianggap tidak mendukung agama. Di sinilah agama dapat dipakai sebagai modal simbolik untuk menguasai sumber daya.
Dalam isu narkotika, harlan agama juga dapat muncul melalui paradoks yang menyakitkan. Ada orang yang tampil religius di depan publik, tetapi diam terhadap jaringan gelap karena ada hubungan sosial, uang, backing, atau kepentingan. Ada pula yang keras menghakimi korban narkotika, tetapi tidak berani menyentuh pelindung jaringan. Ini memperlihatkan bahwa moralitas publik sering lebih mudah menyerang yang lemah daripada melawan yang kuat. Harlan agama seperti ini keras kepada korban, lunak kepada backing. Tegas kepada orang kecil, hati-hati kepada orang berpengaruh. Ini bukan keberanian agama. Ini adalah ketidakjujuran moral.
Karena itu, harlan agama harus dibedakan dari ketegasan moral. Masyarakat membutuhkan ketegasan moral. Aceh membutuhkan agama yang kuat. Kampung membutuhkan pengawasan nilai. Anak muda membutuhkan perlindungan dari narkotika, kekerasan, dan kerusakan sosial. Tetapi ketegasan moral tidak boleh berubah menjadi intimidasi. Pengawasan sosial tidak boleh berubah menjadi penghinaan. Amar makruf nahi mungkar tidak boleh berubah menjadi panggung kekuasaan. Agama harus menjadi sumber keberanian untuk membela yang lemah, bukan alat untuk membuat yang lemah semakin takut.
Harlan agama juga merusak ilmu. Ketika suasana keagamaan dikuasai watak harlan, orang takut bertanya. Padahal tradisi ilmu hidup dari pertanyaan. Orang takut berbeda pendapat. Padahal fikih dan pemikiran Islam mengenal keluasan ijtihad. Orang takut membaca, meneliti, dan mengkaji secara kritis. Padahal peradaban Islam dibangun oleh keberanian intelektual. Harlan agama membuat ilmu menjadi sempit karena kebenaran dipersempit menjadi suara paling keras. Dalam kondisi seperti ini, masyarakat tidak menjadi lebih religius secara mendalam. Masyarakat hanya menjadi lebih takut secara sosial.
Harlan agama juga merusak adab komunikasi. Dalam masyarakat beradab, nasihat dilakukan dengan mempertimbangkan keadaan orang. Teguran diberikan untuk memperbaiki, bukan untuk mempermalukan. Kritik disampaikan dengan argumentasi, bukan dengan label. Namun, harlan agama menjadikan ruang publik sebagai tempat penghukuman. Media sosial memperkuat pola ini. Orang dapat diserang beramai-ramai atas nama moral. Kesalahan kecil dibesar-besarkan. Perbedaan pendapat dijadikan bukti penyimpangan. Kehormatan orang dihancurkan sebelum persoalan dipahami. Ini bentuk baru dari parang simbolik: bukan besi, tetapi kata-kata yang memotong martabat.
Di sini penting memahami bahwa harlan agama sering lahir dari rasa tidak aman. Orang yang benar-benar berilmu biasanya tidak perlu berteriak untuk menunjukkan kebenaran. Orang yang memiliki kedalaman spiritual tidak mudah mempermalukan orang lain. Orang yang memahami agama sebagai rahmat tidak menjadikan agama sebagai alat menakut-nakuti. Watak harlan agama justru sering muncul ketika seseorang memiliki semangat moral, tetapi tidak memiliki keluasan ilmu, kedalaman adab, dan kebijaksanaan sosial. Semangat tanpa ilmu dapat keras. Ilmu tanpa adab dapat sombong. Adab tanpa keberanian dapat lemah. Yang dibutuhkan masyarakat adalah keseimbangan, bukan harlanisme moral.
Maka, kritik terhadap harlan agama adalah usaha menyelamatkan agama dari watak premanisme. Agama tidak boleh diturunkan menjadi alat tekanan. Syariat tidak boleh disempitkan menjadi panggung intimidasi. Dakwah tidak boleh berubah menjadi kekuasaan sosial yang kasar. Kebenaran tidak boleh dilepaskan dari hikmah. Dalam masyarakat Aceh, ini sangat penting karena agama menjadi pilar utama kehidupan. Jika pilar ini dipakai oleh watak harlan, maka kerusakannya lebih besar daripada harlan jalanan. Harlan jalanan merusak ruang publik. Harlan agama merusak cara masyarakat memahami kebenaran.
Pada akhirnya, harlan agama menunjukkan bahwa premanisme tidak selalu memakai parang. Premanisme dapat memakai bahasa moral. Premanisme dapat memakai simbol kesalehan. Premanisme dapat memakai massa yang merasa paling benar. Premanisme dapat memakai stigma sebagai senjata. Inilah bentuk yang harus dibaca dengan sangat hati-hati. Bukan untuk melemahkan agama, tetapi untuk membersihkan agama dari watak kekerasan yang menyelinap ke dalamnya. Aceh membutuhkan agama yang membebaskan manusia dari ketakutan kepada manusia, bukan agama yang dipakai manusia tertentu untuk membuat orang lain takut. Harlan agama harus ditolak karena menjadikan yang suci sebagai alat kuasa yang kasar.
Harlan sebagai Produk Kekosongan Negara, Lemahnya Adat, dan Retaknya Kepercayaan Sosial
Harlan tidak lahir hanya karena ada orang yang keras. Harlan lahir karena ada ruang kosong yang tidak diisi secara adil oleh negara, adat, agama, dan kepemimpinan sosial. Jika hukum hadir dengan cepat, adil, dan dipercaya, harlan akan kehilangan fungsi. Jika adat mampu menyelesaikan sengketa dengan berwibawa, harlan tidak mudah masuk. Jika agama hadir sebagai kekuatan moral yang melindungi yang lemah, harlan tidak mudah memakai bahasa kebenaran untuk menekan orang lain. Jika masyarakat memiliki kepercayaan sosial yang kuat, harlan tidak mudah menjadikan rasa takut sebagai alat penguasaan. Karena itu, harlan harus dibaca sebagai gejala dari kekosongan yang lebih besar.
Kekosongan negara adalah salah satu pintu utama bagi kemunculan harlan. Negara mungkin ada secara administratif. Kantor ada. Aparat ada. Aturan ada. Surat ada. Tetapi dalam pengalaman sehari-hari masyarakat, negara sering terasa jauh, lambat, mahal, atau tidak selalu dapat dipercaya. Ketika pedagang kecil diperas, sopir ditekan, warga diancam, anak muda terjerat narkotika, atau sengketa lahan tidak selesai, masyarakat bertanya: kepada siapa harus berlindung? Jika jawaban formal tidak memberi rasa aman, maka orang mencari jawaban informal. Di situlah harlan masuk. Harlan menawarkan penyelesaian cepat, walaupun penyelesaian itu sering menciptakan masalah baru.
Negara yang lemah bukan selalu negara yang tidak memiliki alat kekuasaan. Kadang negara memiliki alat, tetapi kehilangan kepercayaan. Inilah yang lebih berbahaya. Masyarakat tidak selalu membutuhkan negara yang keras. Masyarakat membutuhkan negara yang dapat dipercaya. Jika warga percaya bahwa laporan akan ditindak, saksi akan dilindungi, korban tidak akan dipersulit, dan pelaku tidak akan dibebaskan oleh backing, maka warga berani berbicara. Tetapi jika pengalaman sosial mengajarkan bahwa melapor justru membuat urusan panjang, maka harlan memperoleh kekuasaan. Harlan hidup dari ketidakpercayaan warga kepada perlindungan resmi.
Kekosongan negara juga tampak dalam ruang-ruang kecil yang sering dianggap tidak penting. Terminal, pasar, parkir, pangkalan angkutan, kawasan bongkar muat, warung kopi, dan simpang jalan bukan ruang besar dalam dokumen pembangunan, tetapi di situlah masyarakat mengalami negara secara langsung. Jika ruang-ruang itu tidak tertata, harlan akan hadir sebagai pengatur. Jika pungutan liar dibiarkan, harlan akan menjadi pemilik informal. Jika konflik kecil tidak diselesaikan, harlan akan menjadi hakim jalanan. Jika aparat hanya muncul sesekali, harlan akan hadir setiap hari. Negara kalah bukan karena tidak punya kantor, tetapi karena harlan lebih dekat dengan kehidupan harian masyarakat.
Namun, harlan tidak hanya muncul karena kekosongan negara. Harlan juga lahir ketika adat melemah. Dalam masyarakat Aceh, adat seharusnya menjadi mekanisme sosial untuk menjaga keseimbangan, menyelesaikan sengketa, menempatkan orang tua, mengatur hubungan antarkeluarga, dan menahan kekerasan agar tidak berubah menjadi dendam. Adat bukan sekadar seremoni. Adat adalah teknologi sosial untuk menjaga masyarakat tetap beradab. Tetapi ketika adat kehilangan wibawa, orang tidak lagi merasa cukup datang kepada tuha peut, imeum mukim, keuchik, atau tokoh kampung. Mereka mencari orang kuat. Ketika orang kuat lebih dipercaya daripada orang adat, harlan mulai menggantikan fungsi sosial adat.
Lemahnya adat sering terjadi bukan karena adat tidak disebut lagi, tetapi karena adat kehilangan daya paksa moral. Banyak acara masih memakai bahasa adat. Banyak pertemuan masih menyebut musyawarah. Banyak keputusan masih dibungkus dengan istilah mufakat. Namun, jika di balik musyawarah ada tekanan, jika tokoh adat takut kepada backing, jika keputusan dipengaruhi oleh orang kuat, maka adat hanya tinggal bentuk. Harlan tidak perlu menghapus adat. Harlan cukup membuat adat tidak berani. Ketika adat tidak berani, masyarakat melihat bahwa yang menentukan bukan lagi kebijaksanaan kolektif, tetapi kekuatan informal.
Retaknya adat juga tampak ketika masyarakat tidak lagi membedakan antara pelindung dan pemalak. Dalam tradisi sosial yang sehat, orang kuat seharusnya melindungi yang lemah. Orang tua seharusnya menenangkan konflik. Tokoh kampung seharusnya menjaga keseimbangan. Tetapi dalam dunia harlan, orang kuat justru menjadi sumber ketakutan. Yang lemah membayar kepada yang kuat. Yang salah bisa menang karena punya backing. Yang benar memilih diam karena tidak punya pelindung. Ini menunjukkan bahwa struktur adat telah kehilangan kemampuan moral untuk membalikkan relasi yang rusak. Harlan muncul sebagai tanda bahwa tatanan perlindungan tradisional tidak lagi bekerja secara utuh.
Agama juga dapat mengalami pelemahan fungsi sosial jika berhenti sebagai nilai hidup dan hanya menjadi simbol. Dalam masyarakat Aceh, agama memiliki posisi yang sangat kuat. Namun, kekuatan simbolik agama tidak otomatis menghentikan harlan. Jika agama hanya hadir dalam ceramah, tetapi tidak hadir sebagai perlindungan bagi korban intimidasi, maka harlan tetap hidup. Jika agama hanya keras kepada pelanggaran kecil, tetapi lunak terhadap backing narkotika, maka harlan semakin kuat. Jika agama hanya membuat keluarga malu membuka masalah, tetapi tidak menyediakan jalan pemulihan, maka narkotika semakin dalam. Agama harus hadir sebagai keberanian moral, bukan hanya sebagai bahasa normatif.
Harlan juga lahir dari retaknya kepercayaan sosial. Kepercayaan sosial adalah keyakinan bahwa orang lain, lembaga, dan norma bersama masih dapat diandalkan. Ketika kepercayaan ini retak, masyarakat berubah menjadi kumpulan individu yang berhitung sendiri-sendiri. Pedagang berpikir bagaimana menyelamatkan lapaknya sendiri. Sopir berpikir bagaimana aman hari ini. Orang tua berpikir bagaimana menjaga anaknya sendiri. Tokoh kampung berpikir bagaimana tidak terseret masalah. Dalam kondisi seperti ini, solidaritas melemah. Harlan sangat diuntungkan oleh masyarakat yang terpecah dalam ketakutan individual. Selama orang takut sendirian, harlan kuat.
Retaknya kepercayaan sosial membuat masyarakat tidak berani membentuk perlawanan kolektif. Satu orang tahu. Dua orang tahu. Satu kampung mungkin tahu. Tetapi masing-masing menunggu yang lain bergerak. Tidak ada yang ingin menjadi orang pertama. Semua takut dikorbankan. Semua takut tidak didukung setelah berbicara. Inilah medan paling subur bagi harlan. Harlan tidak selalu perlu membuat semua orang setuju. Harlan cukup membuat semua orang ragu terhadap satu sama lain. Ketika warga tidak saling percaya, mereka tidak dapat melindungi diri sebagai komunitas. Mereka kembali mencari perlindungan kepada orang kuat, termasuk kepada harlan yang justru menjadi bagian dari masalah.
Dalam hal ini, harlan memiliki kemiripan struktural dengan sisi gelap jawara dan blater. Jawara dan blater tumbuh dalam ruang ketika negara, adat lokal, patronase, dan kehormatan saling bertemu. Kadang figur seperti itu menjadi mediator. Kadang menjadi pelindung. Kadang menjadi penguasa bayangan. Harlan juga begitu. Harlan tumbuh di antara kegagalan institusi formal dan kebutuhan masyarakat terhadap penyelesaian cepat. Tetapi ketika penyelesaian cepat itu tidak tunduk pada keadilan, yang lahir bukan ketertiban, melainkan dominasi. Jawara, blater, dan harlan memperlihatkan satu pola Nusantara: ketika kekuasaan resmi tidak cukup dipercaya, orang kuat lokal mengambil tempat.
Namun, harlan di Aceh harus dibaca dalam konteks pengalaman sosial Aceh sendiri. Aceh memiliki memori konflik, struktur gampong, adat mukim, jaringan ulama, partai lokal, dan pengalaman panjang berhadapan dengan kekuasaan formal. Semua ini membuat masyarakat memiliki lapisan kuasa yang kompleks. Orang tidak hanya melihat jabatan resmi. Orang juga melihat sejarah seseorang, jaringan lama, jasa masa lalu, hubungan keluarga, relasi politik, dan backing. Dalam masyarakat seperti ini, kekosongan negara tidak selalu berarti ketiadaan kuasa. Justru banyak kuasa hadir sekaligus. Masalahnya, tidak semua kuasa tunduk pada keadilan.
Harlan memanfaatkan kompleksitas itu. Ketika ada banyak pusat pengaruh, harlan dapat bergerak dari satu simpul ke simpul lain. Jika ditekan di satu tempat, harlan berlindung pada hubungan lain. Jika dikritik oleh masyarakat, harlan membawa nama tokoh. Jika dikejar hukum, harlan mencari celah relasi. Jika ditolak adat, harlan memakai massa. Jika diserang secara moral, harlan memakai bahasa agama atau jasa sosial. Inilah yang membuat harlan modern jauh lebih lentur. Harlan tidak hanya mengandalkan kekerasan tubuh, tetapi kemampuan berpindah antara sistem: hukum, adat, politik, ekonomi, agama, dan jaringan gelap.
Kekosongan negara juga dapat menciptakan pasar bagi backing. Ketika perlindungan resmi tidak dipercaya, perlindungan informal menjadi komoditas. Orang membayar agar aman. Orang mencari koneksi agar urusan lancar. Orang mendekati orang kuat agar tidak diganggu. Orang memakai harlan untuk menghadapi harlan lain. Dalam kondisi seperti ini, backing menjadi semacam asuransi sosial yang rusak. Ia memberi rasa aman kepada sebagian orang, tetapi menghancurkan keadilan bersama. Setiap orang berlomba mencari pelindung, bukan memperkuat aturan. Lama-lama, masyarakat tidak lagi percaya pada sistem, melainkan pada orang. Inilah awal feodalisme jalanan.
Harlan juga memperlihatkan kegagalan pendidikan sosial. Pendidikan bukan hanya sekolah. Pendidikan sosial adalah cara masyarakat mengajarkan kepada generasi muda tentang siapa yang layak dihormati. Jika yang dihormati adalah orang berilmu, orang jujur, orang bekerja, orang beradab, maka masyarakat sehat. Tetapi jika yang dihormati adalah orang yang punya backing, uang gelap, suara keras, dan kemampuan menekan, maka pendidikan sosial rusak. Anak muda belajar dari kenyataan. Jika kenyataan menunjukkan bahwa harlan lebih cepat memperoleh pengaruh daripada guru, ulama, pekerja jujur, atau akademisi, maka masyarakat sedang mengirim pesan yang sangat salah.
Dalam konteks narkotika, kekosongan negara, lemahnya adat, dan retaknya kepercayaan sosial bergabung menjadi satu. Negara tidak selalu dipercaya melindungi pelapor. Adat tidak selalu berani menyentuh backing. Agama tidak selalu menyediakan ruang pemulihan. Keluarga malu. Tetangga takut. Anak muda rentan. Harlan narkotika masuk ke dalam semua celah itu. Karena itu, narkotika tidak dapat dilawan hanya dengan operasi penindakan. Harus ada pemulihan kepercayaan sosial. Masyarakat harus merasa aman untuk berbicara. Keluarga harus merasa dilindungi ketika mencari bantuan. Tokoh kampung harus berani karena tidak berdiri sendiri. Aparat harus dipercaya karena bekerja bersih. Tanpa itu, harlan narkotika akan terus hidup dalam ruang diam.
Harlan sebagai produk kekosongan institusional juga menunjukkan bahwa kekerasan tidak selalu muncul dari kebencian. Kadang kekerasan muncul dari kebutuhan sosial yang tidak terpenuhi. Orang membutuhkan keamanan. Orang membutuhkan penyelesaian konflik. Orang membutuhkan kepastian akses. Orang membutuhkan perlindungan ekonomi. Jika kebutuhan ini tidak dijawab oleh sistem yang adil, maka sistem gelap akan menjawabnya. Harlan adalah jawaban gelap atas kebutuhan yang nyata. Karena itu, menghapus harlan tidak cukup dengan mengecam kekerasannya. Masyarakat harus membangun jawaban yang lebih adil atas kebutuhan yang selama ini dimanfaatkan harlan.
Namun, memahami akar sosial harlan tidak berarti membenarkannya. Ini harus tegas. Analisis struktural bukan pembelaan. Mengatakan bahwa harlan lahir dari kekosongan negara bukan berarti harlan tidak bersalah. Mengatakan bahwa adat melemah bukan berarti harlan boleh mengambil alih. Mengatakan bahwa masyarakat takut bukan berarti pembiaran harus diterima. Justru dengan memahami akar sosialnya, kritik terhadap harlan menjadi lebih kuat. Kita tidak hanya menyerang gejala, tetapi melihat tanah tempat gejala itu tumbuh. Tanah itu harus diperbaiki agar harlan tidak terus muncul dengan wajah baru.
Pada akhirnya, harlan adalah cermin dari institusi yang tidak selesai. Negara yang tidak dipercaya, adat yang melemah, agama yang kadang hanya menjadi simbol, ekonomi yang tidak adil, politik yang membutuhkan tekanan, dan masyarakat yang retak kepercayaannya, semuanya menciptakan ruang bagi harlan. Harlan masuk ke ruang kosong itu lalu mengaku sebagai pengatur. Padahal yang diberikan bukan keadilan, melainkan ketakutan. Yang diberikan bukan keamanan, melainkan ketergantungan. Yang diberikan bukan penyelesaian, melainkan dominasi baru.
Maka, menghadapi harlan berarti membangun kembali kepercayaan. Kepercayaan kepada hukum yang adil. Kepercayaan kepada adat yang berani. Kepercayaan kepada agama yang melindungi. Kepercayaan kepada pemimpin yang tidak memakai premanisme. Kepercayaan kepada masyarakat yang mampu berdiri bersama. Jika kepercayaan ini pulih, harlan kehilangan tanah. Jika tanahnya hilang, tubuh harlan tidak lagi menakutkan. Parang kehilangan makna. Backing kehilangan aura. Uang gelap kehilangan tempat. Rasa takut kehilangan kuasa. Di situlah masyarakat mulai mengambil kembali ruang sosialnya dari tangan kekuasaan informal yang selama ini hidup dari keretakan bersama.
Harlan sebagai Habitus: Ketika Kekerasan Menjadi Cara Berpikir
Harlan tidak boleh dipahami hanya sebagai orang. Jika Harlan hanya dilihat sebagai orang, maka penyelesaiannya akan terlalu sederhana: orangnya ditangkap, orangnya diusir, orangnya dikalahkan, lalu masalah dianggap selesai. Padahal harlan lebih dalam daripada tubuh seorang preman. Harlan adalah habitus. Ia adalah pola rasa, pola pikir, pola tindakan, dan pola membaca dunia yang menjadikan kekerasan sebagai cara menyelesaikan urusan. Harlan sebagai habitus, berarti premanisme sudah keluar dari tubuh individual dan masuk ke dalam cara masyarakat mengatur relasi. Inilah titik ketika harlan menjadi lebih berbahaya, sebab yang bekerja bukan hanya orang kasar, tetapi logika kasar yang dianggap wajar.
Sebagai habitus, harlan hadir ketika seseorang terbiasa berpikir bahwa masalah harus diselesaikan dengan tekanan. Orang yang berbeda pendapat harus dibuat takut. Orang yang tidak setuju harus disudutkan. Orang yang lemah boleh dipaksa. Orang yang tidak punya backing boleh dilangkahi. Orang yang punya akses harus dihormati meskipun salah. Inilah cara berpikir harlan. Ia tidak selalu membawa parang. Ia tidak selalu duduk di terminal. Ia tidak selalu berteriak di pasar. Tetapi dalam pikirannya, dunia dibaca sebagai arena kuat dan lemah. Yang kuat mengambil. Yang lemah menyesuaikan diri. Yang punya jaringan maju. Yang tidak punya jaringan mundur.
Dalam pengertian ini, harlan dapat muncul di mana saja. Harlan dapat muncul dalam politik ketika kekuasaan dipakai untuk menekan lawan, bukan melayani masyarakat. Harlan dapat muncul dalam ekonomi ketika proyek dikuasai melalui backing, bukan kualitas. Harlan dapat muncul dalam agama ketika kebenaran disampaikan dengan intimidasi, bukan hikmah. Harlan dapat muncul dalam birokrasi ketika jabatan dipakai untuk mempersulit orang kecil. Harlan dapat muncul dalam organisasi ketika senioritas berubah menjadi alat menekan. Bahkan dalam ruang akademik pun watak harlan dapat muncul ketika argumentasi diganti dengan dominasi, jabatan, atau rasa takut. Karena itu, harlan sebagai habitus tidak selalu tampak kumuh. Ia bisa sangat rapi.
Habitus harlan terbentuk melalui pengalaman sosial yang berulang. Anak muda melihat orang kuat ditakuti. Pedagang melihat orang yang punya backing lebih mudah mendapat bagian. Warga melihat laporan tidak selalu melindungi. Pemuda melihat uang gelap memberi status lebih cepat daripada kerja jujur. Orang biasa melihat tokoh yang keras lebih didengar daripada orang yang sabar. Semua pengalaman itu menjadi pendidikan tidak resmi. Lama-lama masyarakat belajar bahwa dunia bekerja bukan menurut hukum ideal, tetapi menurut kekuatan. Dari sinilah habitus harlan tumbuh. Ia tidak diajarkan dalam sekolah, tetapi diajarkan oleh kenyataan sosial yang rusak.
Harlan sebagai habitus juga hidup dari normalisasi. Pada awalnya, masyarakat mungkin marah ketika melihat pungutan liar, intimidasi, ancaman, atau backing. Tetapi jika hal itu terjadi terus-menerus, kemarahan berubah menjadi kelelahan. Kelelahan berubah menjadi penyesuaian. Penyesuaian berubah menjadi kebiasaan. Kebiasaan berubah menjadi budaya. Pada tahap ini, masyarakat tidak lagi bertanya apakah suatu praktik benar atau salah. Masyarakat hanya bertanya bagaimana cara aman hidup di dalamnya. Inilah kemenangan habitus harlan. Ia membuat yang salah tidak lagi terasa mengejutkan.
Perbandingan dengan jawara dan blater dapat menjelaskan proses ini. Jawara dan blater bukan hanya nama orang kuat, tetapi juga dapat menjadi sistem nilai lokal tentang keberanian, kehormatan, perlindungan, patronase, dan kekerasan. Dalam bentuk terbaik, figur seperti itu dapat dikaitkan dengan perlindungan sosial atau kepemimpinan lokal. Namun dalam bentuk gelapnya, ia melahirkan habitus: cara berpikir bahwa reputasi kekerasan adalah modal, bahwa backing adalah keharusan, bahwa kehormatan harus dijaga dengan ancaman, bahwa orang kuat berhak memperoleh bagian lebih. Harlan berada dalam keluarga fenomena ini. Ia bukan sekadar individu, tetapi cara sosial memaknai kuasa.
Namun, harlan dalam masyarakat Aceh memiliki ketegangan tersendiri karena berhadapan dengan nilai adat dan agama. Secara normatif, masyarakat Aceh menghormati adab, ilmu, musyawarah, agama, dan kehormatan. Tetapi habitus harlan bekerja di bawah lapisan nilai itu. Di permukaan, orang berbicara tentang syariat, adat, dan marwah. Di bawahnya, sebagian urusan tetap diselesaikan melalui backing, tekanan, ancaman, dan orang kuat. Ketegangan antara nilai ideal dan praktik sosial ini sangat penting. Harlan sebagai habitus hidup di celah antara apa yang dikatakan masyarakat dan apa yang benar-benar dilakukan ketika berhadapan dengan konflik.
Di sinilah muncul kemunafikan sosial yang halus. Masyarakat mengutuk premanisme, tetapi memakai orang kuat ketika perlu. Masyarakat memuji hukum, tetapi mencari backing ketika tersangkut masalah. Masyarakat memuliakan agama, tetapi diam ketika narkotika dilindungi jaringan. Masyarakat menghormati adat, tetapi membiarkan tokoh adat dikalahkan oleh orang yang lebih ditakuti. Harlan sebagai habitus membuat masyarakat hidup dalam dua bahasa: bahasa nilai dan bahasa praktik. Bahasa nilai dipakai untuk upacara, pidato, khutbah, dan nasihat. Bahasa praktik dipakai untuk menyelesaikan urusan nyata. Jika jarak antara keduanya terlalu jauh, harlan semakin kuat.
Habitus harlan juga terlihat dalam cara masyarakat memandang keberhasilan. Jika orang yang berilmu tetapi sederhana tidak dianggap berhasil, sementara orang yang punya uang gelap, kendaraan, jaringan, dan aura takut dianggap hebat, maka habitus harlan sudah masuk ke dalam sistem penghargaan sosial. Masyarakat mungkin tidak mengakuinya secara terbuka, tetapi cara memperlakukan orang menunjukkan nilai yang sesungguhnya. Siapa yang disalami lebih dulu. Siapa yang diberi tempat duduk. Siapa yang ditakuti ucapannya. Siapa yang diminta bantuan. Siapa yang dianggap mampu menyelesaikan urusan. Dari situ terlihat apakah masyarakat menghormati adab atau menghormati rasa takut.
Dalam politik, habitus harlan membuat orang menganggap intimidasi sebagai hal biasa. Tim sukses yang keras dianggap efektif. Massa yang menekan dianggap kekuatan. Lawan yang dibungkam dianggap strategi. Pemilih yang takut dianggap konsekuensi lapangan. Ini sangat berbahaya karena politik kehilangan dimensi moralnya. Demokrasi tidak lagi dilihat sebagai ruang kebebasan warga, tetapi sebagai medan pertarungan jaringan kuat. Harlan politik lahir dari habitus seperti ini. Ia tidak selalu merasa bersalah karena masyarakat juga sering menganggap politik memang harus keras. Kalimat seperti “begitulah politik” adalah salah satu tanda normalisasi harlan.
Dalam ekonomi, habitus harlan membuat rente dianggap sebagai rezeki. Orang yang mengambil bagian tanpa kerja disebut pandai membaca peluang. Orang yang memungut atas nama keamanan dianggap wajar karena “menjaga wilayah.” Orang yang menguasai proyek melalui tekanan dianggap kuat. Orang yang menolak membayar dianggap tidak tahu adat lapangan. Dengan cara ini, moral ekonomi rusak. Kerja jujur dikalahkan oleh akses. Kualitas dikalahkan oleh backing. Persaingan sehat dikalahkan oleh intimidasi. Harlan ekonomi bertahan bukan hanya karena pelakunya kuat, tetapi karena habitus sosial mulai menerima bahwa ekonomi memang harus melewati orang kuat.
Dalam agama, habitus harlan membuat orang terbiasa menghakimi daripada membimbing. Teguran dipakai untuk mempermalukan. Perbedaan pendapat dianggap ancaman. Massa moral dipakai untuk menekan. Orang yang bertanya dianggap kurang taat. Orang yang berpikir kritis dicurigai. Dalam keadaan seperti ini, agama tidak lagi menjadi jalan pendalaman ruhani, tetapi menjadi arena kontrol sosial yang kasar. Harlan agama lahir ketika habitus kekerasan masuk ke dalam bahasa moral. Ini berbahaya karena masyarakat bisa mengira sedang membela agama, padahal sedang membiarkan watak premanisme memakai simbol agama.
Dalam narkotika, habitus harlan menciptakan siklus yang lebih gelap. Anak muda melihat dunia narkotika bukan hanya sebagai barang haram, tetapi sebagai jalan masuk ke jaringan kuat. Ada uang, ada perlindungan, ada rasa menjadi bagian dari kelompok, ada status, ada gaya hidup. Jika masyarakat tidak menawarkan jalan pengakuan yang sehat, maka jalan gelap itu tampak menarik. Harlan narkotika memanfaatkan habitus sosial yang menghargai uang cepat dan keberanian palsu. Ketika anak muda lebih takut miskin daripada takut rusak, lebih ingin dikenal daripada ingin beradab, lebih ingin punya backing daripada punya ilmu, maka narkotika menemukan tanah yang subur.
Habitus harlan juga bekerja dalam bahasa sehari-hari. Bahasa dapat menormalkan kekerasan. Orang berkata “orang kuat,” “punya orang,” “jangan lawan,” “nanti panjang urusan,” “dia ada backing,” “hati-hati,” “jangan cari masalah.” Kalimat-kalimat ini tampak biasa, tetapi sebenarnya mengandung peta ketakutan. Bahasa seperti ini mengajari masyarakat untuk menghindar, bukan melawan. Ia mengajari orang untuk menyesuaikan diri dengan kekuasaan informal. Ia mengajari korban agar diam demi keselamatan. Harlan hidup bukan hanya dalam tubuh, tetapi dalam ungkapan-ungkapan kecil yang diulang setiap hari.
Karena itu, melawan harlan sebagai habitus jauh lebih sulit daripada melawan harlan sebagai individu. Individu dapat ditindak. Habitus harus diubah. Mengubah habitus berarti mengubah cara masyarakat memberi hormat, cara menyelesaikan konflik, cara memilih pemimpin, cara menjalankan ekonomi, cara menegur kesalahan, cara melindungi korban, dan cara mendidik anak muda. Ini pekerjaan panjang. Tidak cukup dengan operasi keamanan. Tidak cukup dengan khutbah singkat. Tidak cukup dengan seremoni adat. Harus ada perubahan dalam pengalaman sosial sehari-hari. Masyarakat harus melihat bahwa orang jujur dapat menang, orang lemah dapat dilindungi, pelapor dapat aman, dan backing tidak selalu mengalahkan kebenaran.
Perubahan habitus juga membutuhkan contoh. Jika tokoh politik masih memakai harlan, masyarakat belajar bahwa harlan penting. Jika pengusaha masih membayar rente, masyarakat belajar bahwa rente normal. Jika tokoh agama masih memakai bahasa intimidatif, masyarakat belajar bahwa kekerasan moral dapat diterima. Jika aparat masih dekat dengan orang gelap, masyarakat belajar bahwa hukum dapat dinegosiasikan. Sebaliknya, jika pemimpin berani menolak backing, jika adat melindungi korban, jika agama membimbing dengan adab, jika hukum bekerja adil, maka habitus harlan mulai kehilangan daya. Masyarakat belajar dari contoh yang konsisten.
Dalam kerangka ini, harlan adalah ujian terhadap kebudayaan Aceh. Apakah keberanian Aceh masih bermakna melindungi kebenaran, atau sudah jatuh menjadi keberanian menekan orang lemah? Apakah adat masih menjadi alat menjaga keseimbangan, atau hanya menjadi simbol yang kalah oleh backing? Apakah agama masih menjadi sumber rahmat, atau kadang dipakai sebagai alat mempermalukan? Apakah politik masih menjadi jalan pelayanan, atau sudah menjadi medan orang kuat? Apakah ekonomi masih memberi ruang bagi kerja jujur, atau hanya bagi orang yang punya akses? Pertanyaan-pertanyaan ini menunjukkan bahwa harlan sebagai habitus memaksa masyarakat melihat dirinya sendiri secara jujur.
Pada akhirnya, harlan sebagai habitus berarti kekerasan telah menjadi cara berpikir sebelum menjadi tindakan. Orang tidak perlu memukul untuk berwatak harlan. Cukup merasa bahwa tekanan adalah jalan utama. Orang tidak perlu membawa parang untuk menjadi harlan. Cukup memakai jabatan, massa, uang, agama, atau backing sebagai alat menakut-nakuti. Orang tidak perlu berdiri di terminal untuk menjadi harlan. Cukup mengubah ruang apa pun menjadi arena dominasi. Di sinilah konsep harlan menjadi sangat kuat sebagai alat analisis: ia membuka mata bahwa premanisme bukan hanya berada di jalanan, tetapi dapat hidup dalam pikiran, lembaga, bahasa, dan kebiasaan sosial.
Maka, melampaui harlan berarti mengubah logika dasar masyarakat dari rasa takut menuju keadilan. Dari backing menuju hukum. Dari intimidasi menuju musyawarah. Dari uang gelap menuju kerja bermartabat. Dari stigma menuju pemulihan. Dari keberanian palsu menuju keberanian moral. Harlan akan melemah ketika masyarakat tidak lagi memberi hormat kepada rasa takut. Harlan akan kehilangan tanah ketika orang kuat tidak lagi lebih dihargai daripada orang benar. Harlan akan runtuh ketika anak muda melihat bahwa martabat tidak lahir dari membuat orang lain takut, melainkan dari kemampuan menjaga diri, keluarga, ilmu, agama, dan masyarakat dengan adab.
Harlan dan Maskulinitas Luka: Keberanian yang Kehilangan Adab
Harlan selalu berkaitan dengan maskulinitas. Bukan karena semua laki-laki berwatak harlan, dan bukan pula karena kekerasan hanya dapat dilakukan oleh laki-laki. Namun, dalam struktur sosial yang melahirkan harlan, keberanian, tubuh, suara keras, kekuatan fisik, ketegasan, gengsi, dan kemampuan membuat orang lain takut sering dilekatkan pada citra kelelakian. Harlan hidup dari citra ini. Ia membangun dirinya sebagai lelaki yang tidak boleh direndahkan, tidak boleh dilangkahi, tidak boleh ditantang, dan tidak boleh dianggap lemah. Tetapi di balik citra keras itu sering tersimpan luka: luka pengakuan, luka harga diri, luka ekonomi, luka pendidikan, luka masa lalu, atau luka sosial yang tidak pernah diolah menjadi kebijaksanaan.
Maskulinitas harlan bukan maskulinitas yang matang. Ia adalah maskulinitas yang terus-menerus membutuhkan pembuktian. Seorang lelaki yang benar-benar matang tidak perlu setiap saat menunjukkan bahwa dirinya kuat. Ia tidak perlu membuat orang lain takut agar dihormati. Ia tidak perlu meninggikan suara agar didengar. Ia tidak perlu membawa parang agar dianggap berani. Harlan berbeda. Harlan membutuhkan panggung. Harlan membutuhkan saksi. Harlan membutuhkan cerita tentang dirinya. Harlan membutuhkan orang yang menunduk, orang yang menghindar, orang yang membayar, orang yang takut. Tanpa semua itu, identitas harlan terasa kosong. Karena itu, harlan bukan hanya kuat; harlan sangat bergantung pada pengakuan bahwa dirinya kuat.
Di sinilah luka maskulinitas mulai tampak. Banyak harlan membangun kehormatan bukan dari ilmu, kerja, adab, atau pengabdian, tetapi dari rasa takut orang lain. Ini adalah kehormatan yang rapuh. Kehormatan semacam ini tidak berdiri di atas kualitas batin, melainkan di atas respons sosial. Jika orang tidak takut, harlan merasa terancam. Jika orang tidak memberi hormat, harlan merasa direndahkan. Jika orang menolak, harlan merasa harga dirinya jatuh. Maka, tindakan kekerasan sering muncul bukan karena ada ancaman nyata, tetapi karena harlan merasa simbol dirinya diganggu. Kekerasan menjadi cara memulihkan ego yang rapuh.
Dalam masyarakat Aceh, konsep harga diri memiliki tempat yang penting. Marwah, martabat, kehormatan keluarga, kehormatan kampung, dan kehormatan agama adalah nilai yang dijaga. Namun, harlan menyempitkan semua itu menjadi gengsi pribadi. Marwah yang seharusnya bermakna tanggung jawab moral berubah menjadi kepekaan berlebihan terhadap penghinaan. Martabat yang seharusnya dijaga dengan adab berubah menjadi tuntutan agar orang lain tunduk. Kehormatan yang seharusnya melindungi yang lemah berubah menjadi alasan untuk menekan. Di sinilah harlan merusak nilai maskulinitas Aceh dari dalam. Keberanian tidak lagi menjadi penjaga martabat, tetapi menjadi penjaga ego.
Perbandingan dengan jawara dan blater membantu memperjelas persoalan ini. Jawara di Banten sering dikaitkan dengan keberanian, ilmu bela diri, kharisma, dan pengaruh sosial. Blater di Madura sering dikaitkan dengan kehormatan, keberanian, reputasi, dan jaringan patronase. Dalam kedua figur itu, maskulinitas menjadi modal simbolik yang kuat. Harlan di Aceh bergerak dalam medan serupa. Namun, semua figur orang kuat lokal selalu berada dalam ambiguitas: dapat menjadi pelindung jika dikendalikan oleh adab dan tanggung jawab, tetapi dapat menjadi penindas jika dikuasai oleh gengsi, rente, dan kekerasan. Harlan adalah bentuk ketika maskulinitas jatuh ke sisi gelapnya.
Maskulinitas harlan juga dibentuk oleh tubuh yang terus dipertunjukkan. Cara duduk, cara menatap, cara berjalan, cara berbicara, cara memegang rokok, cara menyapa, cara tertawa, bahkan cara diam, semua menjadi bagian dari pertunjukan lelaki kuat. Tubuh harlan tidak boleh tampak ragu. Tidak boleh tampak takut. Tidak boleh tampak kalah. Di hadapan publik, tubuh itu harus selalu menjaga kesan siap melawan. Ini melelahkan, tetapi sekaligus menjadi sumber kuasa. Harlan terperangkap dalam citra yang diciptakannya sendiri. Ia harus terus menjadi keras karena masyarakat sudah mengenalnya sebagai orang keras. Jika menjadi lembut, dianggap lemah. Jika meminta maaf, dianggap kalah. Jika berdamai, dianggap turun harga.
Karena itu, harlan sering tidak mampu menyelesaikan konflik secara wajar. Konflik kecil dapat membesar karena dianggap menyangkut harga diri. Teguran sederhana dapat dibaca sebagai tantangan. Perbedaan pendapat dapat dibaca sebagai penghinaan. Penolakan dapat dibaca sebagai perlawanan. Dalam habitus harlan, dunia sosial dipenuhi sinyal ancaman. Orang lain tidak dilihat sebagai mitra dialog, tetapi sebagai pihak yang harus ditundukkan sebelum menundukkan. Ini membuat hubungan sosial menjadi tegang. Masyarakat yang berada di sekitar harlan harus terus-menerus mengatur kata, nada, dan sikap agar tidak memicu kemarahan. Hidup bersama harlan berarti hidup dalam diplomasi ketakutan.
Maskulinitas luka ini juga berkaitan dengan ekonomi. Banyak lelaki muda masuk ke orbit harlan karena merasa tidak memiliki jalan terhormat untuk diakui. Pendidikan tidak kuat. Pekerjaan tidak stabil. Ekonomi keluarga rapuh. Kesempatan sosial terbatas. Di tengah situasi itu, dunia harlan menawarkan pengakuan cepat. Seseorang yang tidak punya gelar dapat dikenal karena keberaniannya. Seseorang yang tidak punya pekerjaan tetap dapat memperoleh uang dari pungutan, proyek, pengamanan, atau ekonomi gelap. Seseorang yang tidak dihormati karena ilmu dapat ditakuti karena jaringan. Inilah jalan pintas maskulinitas. Berbahaya, tetapi menggoda bagi mereka yang merasa dunia formal tidak memberi tempat.
Narkotika memperparah luka maskulinitas ini. Dalam dunia narkotika, uang cepat dan jaringan gelap memberi sensasi kuasa kepada anak muda. Mereka merasa naik kelas. Mereka merasa punya akses. Mereka merasa memiliki kelompok yang melindungi. Mereka merasa tidak lagi kecil. Padahal yang terjadi adalah perbudakan baru. Tubuh yang merasa kuat sebenarnya sedang dikuasai oleh barang, uang gelap, hutang, ketergantungan, dan ancaman jaringan. Harlan narkotika memproduksi maskulinitas palsu: terlihat berani di luar, tetapi rapuh di dalam; terlihat punya uang, tetapi kehilangan masa depan; terlihat ditakuti, tetapi sesungguhnya dikendalikan oleh struktur yang lebih besar.
Dalam konteks ini, harlan bukan hanya pelaku, tetapi juga gejala kegagalan masyarakat mendidik maskulinitas. Anak laki-laki tidak cukup diajari menjadi berani. Mereka harus diajari untuk mengendalikan keberanian. Tidak cukup diajari menjaga harga diri. Mereka harus diajari membedakan martabat dari gengsi. Tidak cukup diajari tidak takut. Mereka harus diajari takut kepada kezaliman, takut kepada dosa, takut merusak orang lain, takut menghancurkan keluarga. Keberanian tanpa arah moral akan jatuh menjadi kekerasan. Ketegasan tanpa adab akan jatuh menjadi kekasaran. Harga diri tanpa ilmu akan jatuh menjadi harlanisme.
Masyarakat juga sering ikut memproduksi harlan melalui cara memberi pujian. Anak laki-laki yang keras dianggap hebat. Yang berani berkelahi dianggap punya nyali. Yang tidak mau mengalah dianggap punya harga diri. Yang ditakuti kawan-kawan dianggap punya aura. Kalimat-kalimat seperti ini membentuk pendidikan sosial yang keliru. Sejak kecil, sebagian anak belajar bahwa kekuatan adalah kemampuan mengalahkan orang lain, bukan kemampuan mengendalikan diri. Padahal dalam tradisi moral yang matang, keberanian tertinggi bukanlah menyerang, tetapi menahan diri ketika mampu menyerang. Harlan lahir ketika masyarakat lebih mengagumi ledakan emosi daripada pengendalian diri.
Di sinilah agama seharusnya menjadi koreksi terhadap maskulinitas harlan. Islam tidak mengajarkan keberanian sebagai kekasaran. Kekuatan tidak diukur dari kemampuan menjatuhkan orang, tetapi dari kemampuan mengendalikan diri. Namun, pesan moral seperti ini sering kalah oleh tontonan sosial. Anak muda lebih cepat belajar dari figur yang dilihat setiap hari daripada dari nasihat yang didengar sesekali. Jika di kampung orang yang ditakuti lebih dihormati daripada orang yang beradab, maka nasihat agama kehilangan daya sosial. Karena itu, agama harus hadir bukan hanya sebagai ceramah, tetapi sebagai pembentukan lingkungan yang memberi kehormatan kepada adab, bukan kepada kekerasan.
Adat juga harus memulihkan konsep lelaki beradab. Dalam adat yang sehat, lelaki kuat adalah pelindung, bukan pemangsa. Orang kuat menahan konflik, bukan memperpanjang. Orang kuat menjaga keluarga, bukan merusak keluarga orang lain. Orang kuat memberi rasa aman, bukan menjual rasa aman. Orang kuat tidak mengambil hak orang kecil. Harlan membalik semua itu. Harlan memakai tubuh lelaki untuk memungut, menekan, menguasai, dan menakut-nakuti. Karena itu, adat harus berani membedakan antara kejantanan dan kekasaran. Jangan sampai masyarakat menyebut orang kasar sebagai pemberani, sementara orang sabar dianggap lemah.
Maskulinitas harlan juga memiliki hubungan erat dengan rasa malu. Banyak kekerasan lahir bukan dari keberanian, tetapi dari ketidakmampuan menanggung malu. Harlan tidak sanggup dikritik karena kritik terasa seperti penghinaan. Tidak sanggup ditolak karena penolakan terasa seperti kekalahan. Tidak sanggup meminta maaf karena permintaan maaf dianggap menjatuhkan status. Padahal kemampuan meminta maaf adalah tanda kedewasaan. Kemampuan mengakui salah adalah tanda kekuatan batin. Harlan tidak memiliki ruang batin seperti ini karena hidupnya dibangun di atas reputasi tidak pernah kalah. Reputasi itu menjadi penjara.
Di dunia politik, maskulinitas harlan muncul dalam bentuk pemimpin yang tidak tahan kritik. Kritik dianggap serangan pribadi. Perbedaan pendapat dianggap pembangkangan. Lawan politik dianggap musuh yang harus dihancurkan, bukan pesaing yang harus dikalahkan secara bermartabat. Pemimpin yang berwatak harlan akan memakai kekuasaan seperti parang simbolik. Bukan untuk membelah masalah dengan kebijaksanaan, tetapi untuk menakut-nakuti orang yang berbeda. Politik seperti ini maskulin secara palsu: keras di luar, tetapi sebenarnya rapuh terhadap kritik.
Di dunia ekonomi, maskulinitas harlan muncul dalam penguasaan proyek, rente, dan akses. Orang merasa hebat karena bisa membuat kontraktor takut, bisa memaksa orang memberi bagian, bisa menguasai lapak, bisa mengatur parkir, bisa menekan pesaing. Semua ini dipertontonkan sebagai keberhasilan. Padahal itu bukan keberhasilan ekonomi, melainkan penjarahan mikro terhadap keadilan. Lelaki yang benar-benar kuat membangun usaha, memberi pekerjaan, menjaga kualitas, dan tidak mengambil hak orang kecil. Harlan ekonomi hanya mengambil jalan pintas melalui tekanan. Ini bukan maskulinitas produktif, tetapi maskulinitas parasitik.
Di dunia agama, maskulinitas harlan dapat muncul dalam bentuk suara moral yang kasar. Ada orang merasa paling benar karena berani menegur keras, berani mempermalukan, berani menekan. Padahal keberanian agama bukan keberanian menghina, melainkan keberanian membimbing dengan ilmu dan adab. Jika agama dipakai untuk menunjukkan kekuasaan laki-laki atas ruang sosial, maka agama kehilangan kelembutan rahmatnya. Harlan agama sering muncul dari maskulinitas yang ingin menguasai, bukan dari spiritualitas yang ingin memperbaiki. Ini harus dibedakan secara tajam.
Maka, pembacaan tentang harlan dan maskulinitas luka membawa kita pada satu kesimpulan penting: tidak semua keberanian layak dihormati. Keberanian yang merusak orang kecil adalah kekasaran. Keberanian yang melindungi narkotika adalah kehinaan. Keberanian yang menekan politik adalah premanisme. Keberanian yang mempermalukan atas nama agama adalah kesombongan moral. Keberanian baru menjadi martabat jika dikendalikan oleh adab, ilmu, tanggung jawab, dan keberpihakan kepada yang benar. Tanpa itu, keberanian hanya menjadi bahan bakar harlan.
Pada akhirnya, harlan adalah gambaran lelaki yang kehilangan pusat moral. Tubuhnya kuat, tetapi batinnya rapuh. Suaranya keras, tetapi pikirannya tidak selalu dalam. Jaringannya luas, tetapi kehormatannya kosong. Uangnya mungkin banyak, tetapi sumbernya sering gelap. Orang mungkin takut, tetapi ketakutan bukan penghormatan. Inilah yang harus dikatakan dengan jelas. Harlan bukan puncak maskulinitas Aceh. Harlan adalah kegagalan maskulinitas Aceh. Harlan adalah keberanian yang jatuh, harga diri yang menyimpang, dan tubuh yang kehilangan adab.
Dari Harlan Lama ke Harlan Baru: Perubahan Kostum, Bukan Hilangnya Watak
Harlan lama mudah dikenali karena tubuhnya dekat dengan ruang-ruang keras. Orang membayangkan harlan di terminal, pasar, simpang jalan, warung kopi, pangkalan angkutan, area parkir, atau tempat bongkar muat barang. Kehadirannya terasa langsung. Wajahnya dikenal. Suaranya didengar. Tatapannya dibaca. Parangnya mungkin terlihat, atau setidaknya cerita tentang parangnya beredar dari mulut ke mulut. Harlan lama hidup dalam jarak dekat dengan masyarakat. Orang tahu tempat duduknya, kawan-kawannya, wilayah pengaruhnya, dan jenis masalah yang dapat ditimbulkannya. Karena itu, harlan lama memiliki bentuk yang lebih mudah dipetakan.
Namun, perubahan sosial membuat harlan tidak selalu bertahan dalam bentuk lama. Ruang publik berubah. Ekonomi berubah. Politik berubah. Teknologi komunikasi berubah. Gaya hidup berubah. Bahasa kekuasaan juga berubah. Harlan yang dahulu berdiri di pinggir terminal dapat berpindah ke ruang proyek. Harlan yang dahulu menguasai pasar dapat masuk ke jaringan ekonomi. Harlan yang dahulu membawa parang dapat membawa proposal. Harlan yang dahulu memakai ancaman langsung dapat memakai telepon, pesan, kedekatan, organisasi, atau nama orang berpengaruh. Inilah harlan baru: tidak selalu tampak kasar, tetapi tetap bekerja melalui rasa takut.
Perubahan ini sering membuat masyarakat gagal mengenali harlan. Masyarakat masih mencari harlan dalam bentuk lama: lelaki keras, pakaian lusuh, suara kasar, tubuh penuh luka, senjata tajam, dan reputasi jalanan. Padahal harlan baru dapat tampil lebih rapi. Bisa memakai baju formal. Bisa duduk dalam rapat. Bisa berbicara tentang pembangunan. Bisa dekat dengan pejabat. Bisa membawa nama organisasi. Bisa memakai istilah “koordinasi,” “pengamanan,” “fasilitasi,” “kemitraan,” “aspirasi masyarakat,” atau “kepentingan umat.” Kostumnya berubah, tetapi logikanya tetap sama: menguasai akses melalui tekanan.
Di sinilah harlan baru lebih berbahaya daripada harlan lama. Harlan lama menakutkan karena terlihat. Harlan baru menakutkan karena tersamar. Harlan lama memaksa orang dengan tubuh. Harlan baru memaksa orang dengan jaringan. Harlan lama meminta bagian di pasar. Harlan baru meminta bagian di proyek. Harlan lama menekan sopir atau pedagang. Harlan baru menekan kontraktor, birokrat, kandidat politik, pengusaha, bahkan tokoh masyarakat. Harlan lama menguasai ruang kecil. Harlan baru dapat menguasai aliran sumber daya yang jauh lebih besar. Karena itu, modernisasi tidak menghapus harlan. Modernisasi hanya menyediakan alat baru bagi watak lama.
Perbandingan dengan jawara dan blater kembali memberi cahaya. Jawara tidak selalu bertahan sebagai figur tradisional yang hanya hidup dalam dunia bela diri atau kharisma lokal. Dalam konteks tertentu, jawara dapat masuk ke politik, ekonomi, organisasi, dan jaringan kekuasaan modern. Blater juga tidak hanya hadir sebagai figur kehormatan lokal dalam ruang tradisional, tetapi dapat berhubungan dengan patronase politik, bisnis, dan pengaruh sosial kontemporer. Harlan bergerak dalam pola transformasi yang serupa. Figur orang kuat lokal tidak hilang ketika masyarakat berubah. Figur itu beradaptasi dengan institusi baru, bahasa baru, dan sumber daya baru.
Harlan baru juga tidak selalu membutuhkan senjata tajam. Senjatanya dapat berupa akses. Orang yang menguasai akses dapat lebih menakutkan daripada orang yang membawa parang. Akses kepada pejabat, akses kepada proyek, akses kepada aparat, akses kepada media sosial, akses kepada kelompok massa, akses kepada jaringan ekonomi, atau akses kepada informasi dapat menjadi senjata baru. Parang dapat melukai tubuh, tetapi akses dapat menutup masa depan seseorang. Parang dapat membuat orang takut sesaat, tetapi akses dapat membuat orang kehilangan pekerjaan, kehilangan peluang, kehilangan nama baik, atau kehilangan ruang sosial. Inilah bentuk baru kekerasan.
Dalam politik, harlan baru menjadi operator. Tidak selalu tampil sebagai orang kasar, tetapi tahu cara menggerakkan tekanan. Harlan baru memahami peta kampung, peta tokoh, peta suara, peta bantuan, peta konflik, dan peta ketakutan. Harlan baru tahu siapa yang dapat dibujuk, siapa yang harus ditekan, siapa yang perlu dirangkul, siapa yang perlu dipermalukan, dan siapa yang harus dibuat diam. Jika harlan lama menguasai ruang dengan tubuh, harlan politik baru menguasai ruang dengan data sosial informal. Ini membuatnya lebih efektif dalam pemilu, konflik lokal, dan perebutan jabatan.
Dalam ekonomi, harlan baru menjadi broker rente. Tidak harus memiliki perusahaan besar, tetapi dapat menentukan siapa masuk proyek, siapa mendapat pekerjaan, siapa memasok material, siapa mengamankan lokasi, siapa diberi bagian, dan siapa disingkirkan. Harlan ekonomi baru berbicara dengan bahasa profesional, tetapi relasinya tetap intimidatif. Ia tidak selalu berkata “bayar atau kami ganggu.” Ia cukup berkata, “di sini harus koordinasi.” Kata koordinasi menjadi bahasa halus untuk tekanan. Kata pengamanan menjadi bahasa halus untuk rente. Kata partisipasi lokal menjadi bahasa halus untuk pembagian paksa. Di sinilah premanisme memakai bahasa administrasi.
Dalam agama, harlan baru dapat memakai simbol moral. Tidak perlu membawa senjata. Tidak perlu duduk di terminal. Cukup menguasai massa moral, label kesalehan, jaringan pengajian, atau bahasa pembelaan agama. Harlan agama baru dapat menekan orang melalui stigma. Dapat membungkam pertanyaan melalui tuduhan. Dapat menguasai ruang publik melalui mobilisasi emosi. Dapat membuat orang takut berpikir berbeda. Di sini harlan baru tidak menakut-nakuti tubuh, tetapi menakut-nakuti identitas. Orang takut dicap tidak taat, tidak Islami, tidak menghormati ulama, tidak menjaga syariat, atau tidak berpihak kepada umat. Ini bentuk kekerasan simbolik yang lebih halus.
Dalam narkotika, harlan baru menjadi simpul ekonomi gelap. Harlan lama mungkin dikenal karena kekerasan fisik. Harlan narkotika baru dikenal karena uang, jaringan, dan kekebalan. Orang seperti ini dapat tampil tidak selalu kasar. Bahkan bisa tampil dermawan, sosial, religius, atau dekat dengan tokoh. Uang gelap memungkinkan pencucian citra sosial. Masyarakat yang membutuhkan bantuan dapat menjadi ragu mengkritik. Tokoh lokal dapat menjadi sungkan jika pernah menerima sumbangan. Anak muda dapat terpesona oleh gaya hidupnya. Harlan narkotika baru tidak hanya menguasai rasa takut, tetapi juga menguasai imajinasi keberhasilan palsu.
Perubahan harlan lama ke harlan baru juga dipercepat oleh media sosial. Dulu reputasi harlan beredar melalui cerita warung kopi, pasar, terminal, atau kampung. Kini reputasi dapat dibangun melalui foto, video, status, komentar, dan jaringan digital. Harlan baru dapat memamerkan kedekatan dengan orang penting, kegiatan sosial, perjalanan, gaya hidup, atau bahasa moral. Media sosial memberi panggung untuk membentuk citra. Orang dapat tampak dermawan, religius, nasionalis, peduli masyarakat, atau pejuang lokal, sambil tetap mempertahankan logika tekanan di balik layar. Ini membuat wajah harlan semakin sulit dibaca.
Namun, meskipun kostumnya berubah, ada ciri dasar yang tidak berubah. Pertama, harlan tetap bekerja melalui rasa takut. Kedua, harlan tetap membutuhkan backing. Ketiga, harlan tetap menguasai akses. Keempat, harlan tetap menjual perlindungan atau pengaruh. Kelima, harlan tetap mengambil keuntungan dari kelemahan institusi. Keenam, harlan tetap mengubah hubungan sosial menjadi relasi tunduk. Selama ciri-ciri ini ada, maka watak harlan masih bekerja walaupun tubuhnya sudah memakai pakaian modern.
Masyarakat sering keliru karena menilai harlan dari penampilan, bukan dari pola relasi. Jika seseorang berpakaian rapi, dianggap bukan harlan. Jika seseorang berbicara agama, dianggap tidak mungkin berwatak harlan. Jika seseorang dekat dengan pejabat, dianggap sah. Jika seseorang memberi sumbangan, dianggap baik. Padahal ukuran harlan bukan pakaian, bukan jabatan, bukan bahasa, bukan citra sosial. Ukuran harlan adalah cara berkuasa. Apakah seseorang membuat orang lain takut untuk memperoleh kepatuhan? Apakah seseorang memakai backing untuk menutup kebenaran? Apakah seseorang menguasai akses demi rente? Apakah seseorang menekan yang lemah dan melindungi yang kuat? Jika ya, maka watak harlan sedang bekerja.
Harlan baru juga lebih mudah masuk ke lembaga. Ini berbeda dari harlan lama yang lebih banyak berada di luar institusi formal. Harlan baru dapat berada di organisasi, partai, lembaga sosial, koperasi, perusahaan, birokrasi, yayasan, bahkan lembaga keagamaan. Masuknya harlan ke lembaga membuat premanisme memperoleh wajah legal. Tekanan dapat dilakukan melalui surat. Ancaman dapat dibungkus prosedur. Rente dapat dibungkus kesepakatan. Intimidasi dapat dibungkus disiplin organisasi. Ketika watak harlan masuk ke lembaga, lembaga itu tidak otomatis menjadi kuat. Justru lembaga dapat menjadi alat baru bagi kekuasaan informal.
Di sinilah bahaya terbesar harlan baru: ia membuat masyarakat sulit membedakan antara kewibawaan dan intimidasi. Kewibawaan lahir dari integritas, ilmu, tanggung jawab, dan keadilan. Intimidasi lahir dari rasa takut. Harlan baru sering meniru bentuk kewibawaan. Ia tampil percaya diri, punya jaringan, dikenal banyak orang, mampu mengatur acara, mampu menggerakkan massa, mampu berbicara di depan umum, mampu mendekati elite. Tetapi di balik itu, relasinya dengan masyarakat tetap relasi tekanan. Orang tidak menghormati karena percaya, tetapi karena takut. Orang tidak mengikuti karena yakin, tetapi karena tidak ingin bermasalah.
Perubahan ini membuat kritik terhadap harlan harus ikut berubah. Tidak cukup lagi mengkritik preman yang membawa parang. Harus dikritik pula premanisme yang membawa dokumen. Tidak cukup mengkritik kekerasan di terminal. Harus dikritik pula kekerasan dalam proyek. Tidak cukup mengkritik ancaman fisik. Harus dikritik pula ancaman sosial, ekonomi, politik, dan moral. Tidak cukup mengkritik narkotika sebagai barang. Harus dikritik jaringan sosial yang membuat ekonomi gelap itu aman. Harlan baru hanya dapat dibaca jika masyarakat berani melihat pola, bukan sekadar wajah.
Pada titik ini, Aceh menghadapi pertanyaan serius. Apakah masyarakat hanya akan mengenang harlan sebagai istilah lama, atau memakai konsep itu untuk membaca bentuk-bentuk baru kekuasaan informal? Jika harlan hanya dianggap cerita masa lalu, maka harlan baru akan berjalan tanpa nama. Jika harlan hanya dibayangkan sebagai orang terminal, maka harlan proyek tidak terbaca. Jika harlan hanya dibayangkan sebagai pembawa parang, maka harlan digital, harlan politik, harlan agama, dan harlan narkotika tidak dikenali. Karena itu, konsep harlan harus diperluas dari figur lama menjadi kategori analitik untuk membaca watak kuasa.
Akhirnya, perubahan dari harlan lama ke harlan baru menunjukkan bahwa masalah utama bukan pada kostum, melainkan pada logika. Kostum dapat berubah dari baju lusuh menjadi jas. Dari parang menjadi proposal. Dari terminal menjadi kantor. Dari warung kopi menjadi grup digital. Dari pungutan kecil menjadi proyek. Dari ancaman langsung menjadi tekanan halus. Dari kekerasan fisik menjadi stigma moral. Tetapi logikanya tetap sama: kuasa diperoleh dengan membuat orang lain takut, bergantung, sungkan, atau tidak berani menolak.
Maka, masyarakat tidak boleh tertipu oleh wajah baru harlan. Harlan baru mungkin tersenyum lebih rapi, berbicara lebih halus, memakai istilah lebih modern, tampil lebih religius, atau dekat dengan elite. Tetapi jika yang dihasilkan adalah ketakutan, pembungkaman, rente, kerusakan anak muda, dan rusaknya keadilan sosial, maka itu tetap harlan. Harlan baru adalah bukti bahwa premanisme tidak mati. Ia hanya belajar beradaptasi. Ia mengganti pakaian, memperluas jaringan, memperhalus bahasa, dan mencari sumber daya baru. Yang harus dilawan bukan hanya orangnya, tetapi watak yang membuat kekerasan dapat terus hidup dalam bentuk yang semakin modern.
Dampak Sosial Harlan: Ketakutan, Diam, Sinisme, dan Rusaknya Kepercayaan Publik
Dampak paling awal dari harlan adalah ketakutan. Ketakutan ini tidak selalu terlihat sebagai kepanikan. Sering kali ketakutan tampil sebagai sikap hati-hati, suara yang dipelankan, mata yang dialihkan, keputusan yang ditunda, laporan yang tidak jadi dibuat, atau kebenaran yang disimpan dalam hati. Masyarakat yang hidup di sekitar harlan belajar membaca tanda-tanda bahaya. Siapa yang tidak boleh disebut. Siapa yang tidak boleh dilawan. Siapa yang harus diberi ruang. Siapa yang punya backing. Siapa yang dapat membuat urusan kecil menjadi panjang. Ketakutan seperti ini tidak muncul dari satu peristiwa saja, tetapi dari pengalaman sosial yang berulang.
Ketakutan yang diproduksi harlan berbeda dari rasa takut biasa. Rasa takut biasa muncul karena ancaman tertentu. Ketakutan harlan hidup sebagai atmosfer. Orang tidak selalu tahu kapan ancaman akan datang, tetapi merasa bahwa ancaman selalu mungkin terjadi. Di pasar, pedagang berhitung sebelum menolak pungutan. Di terminal, sopir berhitung sebelum mempersoalkan giliran. Di warung kopi, orang berhitung sebelum menyebut nama tertentu. Di kampung, keluarga berhitung sebelum membuka masalah narkotika. Di politik, warga berhitung sebelum menyatakan pilihan. Inilah atmosfer sosial harlan: masyarakat hidup bukan berdasarkan kebebasan, tetapi berdasarkan kalkulasi keselamatan.
Dari ketakutan lahir diam. Diam adalah dampak kedua yang jauh lebih berbahaya. Pada awalnya, diam mungkin hanya strategi bertahan. Orang diam karena tidak ingin ribut. Orang diam karena keluarga harus makan. Orang diam karena tidak punya pelindung. Orang diam karena tidak percaya akan dilindungi jika berbicara. Namun, jika diam berlangsung terlalu lama, diam berubah menjadi budaya. Masyarakat menjadi terlatih untuk tidak mengatakan apa yang diketahui. Kebenaran tetap ada, tetapi tidak bergerak. Kesalahan tetap diketahui, tetapi tidak disentuh. Harlan bertahan karena masyarakat banyak tahu, tetapi sedikit yang berani.
Diam ini tidak boleh dibaca sebagai kebodohan masyarakat. Banyak masyarakat sangat cerdas membaca situasi. Mereka tahu mana harlan pasar, mana harlan politik, mana harlan ekonomi, mana harlan agama, mana harlan narkotika. Mereka tahu siapa yang punya backing dan siapa yang hanya menggertak. Mereka tahu dari mana uang datang dan ke mana pengaruh mengalir. Namun, kecerdasan sosial itu terperangkap oleh risiko. Pengetahuan tanpa perlindungan berubah menjadi beban. Karena itu, diam masyarakat sering merupakan bentuk paling tragis dari pengetahuan: mengetahui kebenaran, tetapi tidak memiliki ruang aman untuk mengucapkannya.
Ketika diam menjadi kebiasaan, lahirlah sinisme. Sinisme adalah dampak ketiga dari harlan. Masyarakat mulai tidak percaya bahwa kebenaran dapat menang. Mereka mulai percaya bahwa yang kuat selalu selamat, yang punya backing selalu menang, yang punya uang gelap selalu dihormati, yang dekat dengan elite selalu aman, dan yang jujur selalu kalah. Sinisme ini menghancurkan moral publik secara perlahan. Orang tidak lagi marah melihat kesalahan. Orang hanya berkata, “memang begitu.” Kalimat pendek ini adalah tanda kerusakan yang panjang. Ia menunjukkan bahwa masyarakat bukan tidak tahu, tetapi sudah lelah berharap.
Sinisme membuat masyarakat kehilangan energi perubahan. Jika semua dianggap percuma, maka harlan tidak perlu bekerja keras mempertahankan kuasanya. Masyarakat sudah lebih dulu menyerah dalam pikiran. Ketika pedagang merasa percuma melapor, harlan ekonomi menang. Ketika warga merasa percuma melawan intimidasi politik, harlan politik menang. Ketika keluarga merasa percuma membuka masalah narkotika, harlan narkotika menang. Ketika orang merasa percuma mengkritik penyalahgunaan simbol agama, harlan agama menang. Sinisme adalah benteng tidak terlihat yang melindungi harlan dari kritik kolektif.
Dampak keempat adalah rusaknya kepercayaan publik. Kepercayaan publik adalah keyakinan bahwa kehidupan bersama masih dapat diatur secara adil. Ketika harlan menguasai ruang, kepercayaan ini retak. Warga tidak percaya bahwa hukum akan melindungi. Pedagang tidak percaya bahwa pasar berjalan adil. Anak muda tidak percaya bahwa kerja jujur dapat mengangkat hidup. Orang tua tidak percaya bahwa kampung mampu menyelamatkan anaknya dari narkotika. Pemilih tidak percaya bahwa suara mereka bebas dari tekanan. Tokoh masyarakat tidak percaya bahwa musyawarah dapat berjalan tanpa pengaruh orang kuat. Ketika kepercayaan publik rusak, masyarakat menjadi rapuh dari dalam.
Rusaknya kepercayaan publik membuat masyarakat mencari perlindungan pribadi, bukan memperkuat perlindungan bersama. Orang mencari backing sendiri. Pedagang mencari harlan sendiri. Politisi mencari operator sendiri. Pengusaha mencari penjaga sendiri. Keluarga mencari jalan sendiri. Akibatnya, masyarakat terpecah dalam jaringan-jaringan kecil perlindungan. Setiap orang ingin aman, tetapi keamanan itu dibeli dengan melemahkan keadilan bersama. Inilah paradoks dunia harlan. Semakin banyak orang mencari perlindungan informal, semakin lemah sistem formal. Semakin lemah sistem formal, semakin harlan dibutuhkan. Lingkaran ini membuat harlan terus hidup.
Dalam konteks ini, harlan memiliki dampak yang mirip dengan sisi gelap jawara dan blater ketika figur orang kuat lokal keluar dari fungsi perlindungan dan masuk ke dominasi. Jawara yang kehilangan etika dapat membuat masyarakat tunduk pada kharisma kekerasan. Blater yang kehilangan kehormatan dapat membuat relasi sosial dikuasai reputasi takut. Harlan melakukan hal yang sama dalam konteks Aceh. Ketiganya menunjukkan bahwa orang kuat lokal dapat menjadi racun sosial ketika tidak dibatasi oleh adab, hukum, adat, dan moral kolektif. Yang rusak bukan hanya korban langsung, tetapi tatanan kepercayaan masyarakat.
Dampak harlan juga tampak pada cara masyarakat memperlakukan orang benar. Dalam masyarakat sehat, orang yang berani berkata benar dihormati. Dalam masyarakat yang dikuasai harlan, orang yang berkata benar sering dianggap mencari masalah. Kritik dianggap mengganggu ketertiban. Keberanian moral dianggap tidak bijak. Orang yang diam dianggap pintar membaca situasi. Ini pembalikan nilai yang sangat serius. Ketika keberanian moral dianggap kebodohan, dan diam dianggap kecerdasan, harlan telah berhasil mendidik masyarakat untuk takut kepada kebenaran.
Pada tingkat keluarga, harlan merusak rasa aman paling dasar. Orang tua khawatir anaknya terpengaruh kelompok keras. Istri khawatir suami terjerat jaringan gelap. Anak-anak belajar bahwa kekuatan berarti membuat orang lain takut. Keluarga yang menjadi korban intimidasi sering tidak tahu harus berbicara kepada siapa. Dalam kasus narkotika, keluarga mengalami luka ganda: malu karena anak terjerat, takut kepada jaringan, dan bingung mencari jalan pemulihan. Harlan tidak hanya merusak ruang publik. Harlan masuk ke ruang batin keluarga melalui rasa cemas yang terus-menerus.
Pada tingkat anak muda, dampak harlan sangat panjang. Anak muda belajar dari figur yang tampak menang. Jika harlan memiliki uang, motor, jaringan, gaya hidup, dan rasa ditakuti, sebagian anak muda dapat melihatnya sebagai model. Mereka mungkin tidak menyukai kekerasan, tetapi tertarik pada hasil sosialnya: dikenal, ditakuti, punya akses, punya uang, punya kelompok. Ini adalah kerusakan imajinasi. Ketika imajinasi anak muda dikuasai oleh figur harlan, sekolah, agama, keluarga, dan adat harus bekerja jauh lebih keras untuk mengembalikan arah. Sebab yang sedang dilawan bukan hanya perilaku, tetapi fantasi tentang keberhasilan.
Dalam ekonomi, dampak harlan adalah naiknya biaya ketidakadilan. Pedagang membayar biaya keamanan informal. Kontraktor menghitung biaya koordinasi. Pengusaha kecil menyiapkan uang agar tidak diganggu. Sopir membayar agar jalur lancar. Semua biaya ini pada akhirnya ditanggung masyarakat. Harga naik, kualitas turun, kesempatan menyempit, dan orang jujur tersingkir. Harlan ekonomi menciptakan pajak gelap yang tidak masuk kas publik, tetapi masuk ke jaringan kuasa informal. Ini membuat ekonomi lokal kehilangan daya bersihnya. Uang berputar, tetapi keadilan tidak tumbuh.
Dalam politik, dampak harlan adalah hilangnya keberanian warga. Demokrasi menjadi prosedur tanpa jiwa. Orang memilih, tetapi tidak sepenuhnya bebas. Orang hadir dalam rapat, tetapi tidak semua berani bicara. Orang ikut kampanye, tetapi tidak semua karena keyakinan. Orang menyatakan dukungan, tetapi tidak selalu karena program. Harlan politik membuat warga hidup dalam pilihan yang tertekan. Ketika politik dikuasai rasa takut, pemimpin yang lahir dari proses itu membawa cacat moral sejak awal. Kekuasaan yang lahir dari intimidasi akan sulit menghasilkan keadilan.
Dalam agama, dampak harlan adalah munculnya kepatuhan yang tidak mendalam. Orang tampak patuh karena takut stigma, bukan karena pemahaman. Orang tampak diam karena takut dicap, bukan karena menerima kebenaran. Ruang berpikir menyempit. Dialog melemah. Ilmu menjadi takut kepada suara keras. Padahal agama yang sehat membutuhkan ilmu, adab, hikmah, dan keberanian moral. Harlan agama merusak semua itu dengan menjadikan moralitas sebagai alat kontrol kasar. Hasilnya bukan masyarakat yang lebih beradab, tetapi masyarakat yang lebih takut berbicara.
Dalam isu narkotika, dampak harlan adalah hilangnya masa depan generasi. Ini dampak paling berat. Narkotika bukan hanya merusak individu, tetapi menciptakan efek berantai: keluarga hancur, ekonomi rumah tangga terganggu, kepercayaan kampung retak, kriminalitas meningkat, pendidikan terputus, dan moral anak muda melemah. Jika harlan menjadi pelindung atau bagian dari jaringan narkotika, maka kerusakan itu memperoleh tameng sosial. Masyarakat tidak hanya melawan zat, tetapi melawan jaringan rasa takut yang menjaga peredaran kerusakan. Ini membuat narkotika menjadi perang sosial yang sunyi.
Harlan juga merusak bahasa publik. Masyarakat mulai memakai bahasa yang penuh penghindaran. Orang tidak menyebut nama secara terang. Orang berkata “orang itu,” “kelompok itu,” “jangan bahas,” “nanti panjang,” “ada yang jaga,” “dia punya orang.” Bahasa menjadi berputar karena kebenaran tidak aman disebut langsung. Ketika bahasa publik rusak, pikiran publik juga rusak. Masyarakat tidak dapat menyusun diagnosis yang jelas karena kata-katanya sendiri sudah dibatasi oleh ketakutan. Harlan menang ketika masyarakat kehilangan keberanian menamai masalah.
Lebih jauh, harlan merusak rasa keadilan. Masyarakat melihat bahwa orang yang salah dapat tetap kuat jika punya backing. Orang yang merusak dapat tetap dihormati jika punya uang. Orang yang menekan dapat tetap diterima jika memberi sumbangan. Orang yang terkait ekonomi gelap dapat tetap tampil di acara sosial. Semua ini menghancurkan intuisi moral masyarakat. Anak-anak dan anak muda melihat bahwa antara baik dan buruk tidak lagi ditentukan oleh nilai, tetapi oleh kekuatan. Jika intuisi moral rusak, masyarakat membutuhkan waktu panjang untuk memulihkannya.
Dampak harlan juga terlihat pada melemahnya kepemimpinan yang baik. Pemimpin yang benar akan kesulitan bekerja jika ruang sosial dikuasai jaringan harlan. Setiap kebijakan berhadapan dengan tekanan. Setiap penertiban berhadapan dengan backing. Setiap perubahan berhadapan dengan orang yang kehilangan rente. Setiap penegakan nilai berhadapan dengan stigma atau ancaman. Akibatnya, pemimpin baik dapat menjadi lelah, terisolasi, atau dipaksa berkompromi. Harlan tidak hanya merusak masyarakat bawah. Harlan juga menyandera kepemimpinan yang ingin bekerja benar.
Pada akhirnya, dampak sosial harlan adalah hilangnya keberanian kolektif. Masyarakat mungkin masih memiliki orang baik. Masih ada ulama yang lurus. Masih ada tokoh adat yang bersih. Masih ada aparat yang jujur. Masih ada pemuda yang sehat. Masih ada keluarga yang kuat. Tetapi jika mereka bergerak sendiri-sendiri, harlan tetap kuat. Yang dibutuhkan bukan hanya kebaikan pribadi, melainkan keberanian kolektif. Harlan hidup dari keterpisahan orang-orang baik. Ketika orang baik saling percaya dan berdiri bersama, harlan mulai kehilangan ruang.
Maka, dampak harlan harus dibaca bukan hanya pada korban yang tampak. Korban harlan adalah suasana sosial itu sendiri. Pasar menjadi tidak adil. Politik menjadi tidak bebas. Agama menjadi takut. Keluarga menjadi cemas. Anak muda menjadi bingung. Adat menjadi lemah. Hukum menjadi tidak dipercaya. Bahasa menjadi berputar. Kebenaran menjadi mahal. Ini semua adalah dampak yang jauh lebih dalam daripada satu peristiwa kekerasan. Harlan merusak masyarakat dengan menjadikan rasa takut sebagai cara hidup.
Di sinilah esai ini menegaskan bahwa harlan bukan sekadar premanisme lokal. Harlan adalah penyakit kepercayaan publik. Selama masyarakat takut berbicara, selama backing lebih dipercaya daripada hukum, selama uang gelap dapat membeli citra, selama keberanian palsu lebih dihormati daripada adab, selama orang benar dianggap mencari masalah, harlan akan terus hidup. Masyarakat mungkin tidak lagi memakai kata harlan, tetapi gejalanya tetap bekerja. Karena itu, melawan harlan berarti memulihkan keberanian sosial: keberanian untuk menyebut masalah, melindungi korban, menolak backing, membongkar rente, menyelamatkan anak muda, dan mengembalikan kehormatan kepada kebenaran.
Kritik Budaya: Masyarakat yang Membenci Harlan tetapi Diam-diam Membutuhkannya
Kritik terhadap harlan tidak boleh berhenti pada figur harlan itu sendiri. Jika harlan hanya dikutuk sebagai orang kasar, orang jahat, preman, pengganggu pasar, pengacau terminal, pelindung narkotika, atau operator politik, maka analisisnya belum cukup dalam. Harlan memang harus dikritik sebagai aktor kekerasan. Tetapi masyarakat yang memberi ruang kepada harlan juga harus dikritik. Sebab harlan tidak dapat hidup lama jika tidak ada yang memakai, tidak ada yang melindungi, tidak ada yang membayar, tidak ada yang memanfaatkan, dan tidak ada yang diam. Harlan adalah produk dari relasi sosial. Ia tumbuh karena ada kebutuhan, ketakutan, kepentingan, kelemahan institusi, dan kemunafikan sosial yang membiarkan premanisme bekerja sambil dikutuk di permukaan.
Di sinilah muncul paradoks paling tajam: masyarakat membenci harlan, tetapi dalam keadaan tertentu diam-diam membutuhkan harlan. Orang mengeluh tentang premanisme, tetapi mencari orang kuat ketika punya sengketa. Orang mengecam kekerasan, tetapi meminta bantuan harlan ketika berhadapan dengan lawan yang dianggap lebih kuat. Orang mengutuk pungutan, tetapi membayar agar urusan cepat selesai. Orang menolak intimidasi, tetapi memakai intimidasi ketika kepentingannya sendiri terancam. Paradoks ini membuat harlan tidak pernah benar-benar hilang. Harlan hidup karena masyarakat memiliki hubungan ganda dengannya: takut, benci, tetapi juga memanfaatkan.
Dalam sengketa tanah, misalnya, orang dapat berbicara tentang hukum, sertifikat, adat, dan musyawarah. Namun, ketika proses terasa lambat atau tidak menguntungkan, sebagian orang mulai mencari backing. Backing itu bisa orang politik, aparat nakal, tokoh organisasi, atau harlan lokal yang memiliki reputasi keras. Tujuannya sederhana: menaikkan posisi tawar. Dengan begitu, sengketa tidak lagi diselesaikan melalui keadilan, tetapi melalui siapa yang lebih menakutkan. Masyarakat mungkin menyebut tindakan ini sebagai “ikhtiar,” “jaga diri,” atau “supaya tidak diinjak.” Padahal pada titik itu, logika harlan sudah masuk ke dalam cara menyelesaikan masalah.
Dalam ekonomi, paradoks ini juga terlihat. Pedagang tidak suka dipungut, tetapi kadang merasa perlu memiliki orang kuat agar tidak diganggu kelompok lain. Kontraktor tidak suka ditekan, tetapi kadang memakai harlan untuk mengamankan proyek. Pengusaha kecil tidak suka rente, tetapi mencari jalan informal agar akses lancar. Maka, harlan menjadi semacam obat beracun. Dipakai untuk menghadapi ketidakpastian, tetapi justru memperkuat ketidakpastian itu. Setiap kali masyarakat memakai harlan untuk menyelesaikan masalah, masyarakat sedang memperpanjang umur sistem yang membuat harlan diperlukan.
Dalam politik, paradoks ini menjadi lebih terang. Kandidat berbicara tentang demokrasi, tetapi sebagian tim membutuhkan orang yang dapat menguasai lapangan. Partai berbicara tentang aspirasi rakyat, tetapi tidak jarang mencari operator yang dapat mengatur massa, menekan lawan, dan menjaga wilayah. Pemilih mengeluh tentang politik kasar, tetapi kadang memberi hormat kepada aktor yang paling ditakuti. Politik akhirnya menjadi tempat harlan memperoleh legitimasi baru. Harlan tidak lagi hanya menjadi gangguan sosial. Harlan berubah menjadi aset elektoral. Selama elite politik menganggap intimidasi berguna, harlan politik akan terus hidup.
Dalam agama, paradoksnya lebih halus. Masyarakat ingin agama menjadi sumber rahmat, tetapi kadang menikmati kekerasan moral ketika diarahkan kepada orang yang tidak disukai. Orang menolak penghinaan jika menimpa kelompoknya, tetapi diam ketika kelompok lain dipermalukan atas nama agama. Orang ingin dakwah penuh hikmah, tetapi memberi panggung kepada suara yang paling keras. Di sinilah harlan agama hidup. Ia hidup bukan hanya karena ada orang yang memakai simbol agama untuk menekan, tetapi karena ada masyarakat yang merasa puas melihat orang lain ditekan. Ini kritik yang berat, tetapi harus dikatakan. Harlan agama tidak akan kuat jika publik tidak memberi tepuk tangan kepada kekerasan moral.
Dalam kasus narkotika, paradoks masyarakat menjadi lebih menyakitkan. Semua orang tahu narkotika merusak generasi. Semua orang mengecamnya dalam bahasa moral. Namun, ketika pelaku memiliki uang, backing, atau kedekatan sosial, sikap masyarakat sering menjadi kabur. Ada yang menerima bantuan. Ada yang sungkan mengkritik. Ada yang menyembunyikan karena malu. Ada yang takut karena jaringan. Ada yang pura-pura tidak tahu karena tidak ingin berurusan. Maka, narkotika bertahan bukan hanya karena ada jaringan kriminal, tetapi karena ada jaringan diam. Diam ini bukan netral. Diam dalam situasi seperti ini menjadi bagian dari ekologi yang membuat harlan narkotika semakin kuat.
Di titik ini, masyarakat harus berani melihat bahwa harlan bukan hanya “mereka.” Harlan juga hidup dalam cara “kita” menyelesaikan masalah. Harlan hidup ketika orang lebih percaya tekanan daripada aturan. Harlan hidup ketika orang lebih mencari backing daripada bukti. Harlan hidup ketika orang lebih menghormati yang ditakuti daripada yang benar. Harlan hidup ketika uang gelap diterima karena dianggap membantu. Harlan hidup ketika kekerasan moral diberi panggung karena dianggap membela agama. Harlan hidup ketika masyarakat memilih aman pribadi daripada keadilan bersama. Kritik budaya harus masuk ke dalam wilayah ini, sebab tanpa itu harlan akan selalu menemukan tempat baru.
Jawara dan blater memberi pelajaran yang sama dalam konteks masing-masing. Figur orang kuat lokal tidak bertahan hanya karena kekuatan pribadi. Mereka bertahan karena masyarakat membutuhkan perantara, pelindung, penekan, atau pengatur informal. Jawara dapat menjadi penting ketika masyarakat membutuhkan kuasa lokal yang mampu bekerja di luar prosedur resmi. Blater dapat menjadi kuat ketika kehormatan, patronase, dan keberanian menjadi mata uang sosial. Harlan di Aceh juga bertahan karena masyarakat memberi nilai pada orang yang dapat “menyelesaikan urusan” meskipun caranya bermasalah. Di sini, harlan bukan penyimpangan yang berdiri di luar masyarakat. Harlan adalah bayangan dari kebutuhan masyarakat yang tidak diselesaikan secara beradab.
Kritik budaya harus membongkar mitos bahwa harlan hanya muncul dari orang jahat. Tidak sesederhana itu. Harlan muncul karena ada sistem penghargaan yang rusak. Jika orang yang punya backing lebih dihormati daripada orang jujur, harlan akan tumbuh. Jika orang yang punya uang gelap lebih disambut daripada orang yang bekerja bersih, harlan akan tumbuh. Jika orang yang keras lebih didengar daripada orang yang berilmu, harlan akan tumbuh. Jika orang yang mampu menakut-nakuti lebih cepat menyelesaikan urusan daripada lembaga yang sah, harlan akan tumbuh. Masyarakat menciptakan harlan melalui hal-hal kecil yang terus diulang.
Masyarakat juga sering melakukan pembenaran bahasa. Harlan tidak disebut harlan, tetapi disebut “orang lapangan.” Rente tidak disebut pungutan, tetapi “uang koordinasi.” Intimidasi tidak disebut tekanan, tetapi “pengamanan.” Backing tidak disebut perlindungan gelap, tetapi “ada yang bantu.” Politik kasar tidak disebut premanisme, tetapi “strategi.” Kekerasan moral tidak disebut penghinaan, tetapi “teguran.” Uang narkotika tidak disebut uang gelap, tetapi “rezeki.” Bahasa seperti ini sangat berbahaya karena membersihkan wajah yang kotor. Ketika bahasa mulai berbohong, budaya mulai membusuk.
Kritik terhadap bahasa ini penting. Sebab harlan bertahan bukan hanya melalui parang, uang, atau backing, tetapi juga melalui istilah yang diperhalus. Semakin halus istilahnya, semakin sulit masyarakat marah. Orang tidak marah kepada “koordinasi,” padahal yang terjadi pemaksaan. Orang tidak marah kepada “pengamanan,” padahal yang terjadi rente. Orang tidak marah kepada “orang lapangan,” padahal yang terjadi premanisme. Orang tidak marah kepada “sumbangan sosial,” padahal sumber uangnya merusak anak muda. Maka, salah satu cara melawan harlan adalah mengembalikan nama yang benar kepada perbuatan yang salah. Yang memeras harus disebut memeras. Yang menekan harus disebut menekan. Yang melindungi narkotika harus disebut merusak generasi.
Namun, kritik budaya tidak boleh jatuh menjadi penghinaan terhadap masyarakat Aceh. Ini penting. Mengkritik harlan bukan berarti mengatakan masyarakat Aceh adalah masyarakat kekerasan. Justru sebaliknya, kritik ini lahir karena Aceh memiliki nilai besar: agama, adat, marwah, sejarah keberanian, dan tradisi sosial yang kuat. Harlan harus dikritik karena merusak nilai-nilai itu. Harlan adalah penyimpangan dari keberanian, bukan puncak keberanian. Harlan adalah penurunan martabat, bukan penjaga martabat. Harlan adalah pelecehan terhadap simbol kehormatan, bukan kelanjutan dari tradisi kehormatan. Kritik ini adalah cara menyelamatkan kebudayaan dari watak premanisme yang menyusup ke dalamnya.
Kritik budaya juga harus diarahkan kepada elite. Elite yang memakai harlan tidak boleh bersembunyi di balik bahasa kepentingan. Elite politik yang memakai tekanan untuk menang sedang merusak demokrasi. Pengusaha yang memakai harlan untuk menguasai proyek sedang merusak ekonomi. Tokoh agama yang memakai massa untuk mempermalukan sedang merusak dakwah. Aparat nakal yang melindungi harlan sedang merusak hukum. Tokoh lokal yang menerima uang gelap sedang merusak kepercayaan. Harlan menjadi kuat karena ada elite yang menjadikannya berguna. Karena itu, elite yang memakai harlan lebih berbahaya daripada harlan yang dipakai.
Pada saat yang sama, masyarakat bawah tidak boleh selalu ditempatkan hanya sebagai korban pasif. Masyarakat memang sering berada dalam posisi takut dan rentan. Namun, masyarakat juga memiliki tanggung jawab moral untuk tidak memuliakan harlan. Jangan memberi panggung kepada orang yang merusak. Jangan menormalisasi uang gelap. Jangan menyebut premanisme sebagai keberanian. Jangan menyebut intimidasi sebagai ketegasan. Jangan menjadikan anak muda yang punya uang haram sebagai contoh keberhasilan. Perlawanan budaya dimulai dari perubahan cara memberi hormat. Siapa yang dihormati masyarakat, itulah arah nilai masyarakat.
Kritik budaya juga harus menyentuh keluarga. Keluarga adalah benteng pertama agar anak muda tidak masuk ke dunia harlan. Tetapi keluarga sering tidak cukup kuat jika masyarakat di luar rumah memberi contoh sebaliknya. Orang tua mengajarkan kejujuran, tetapi anak melihat orang yang tidak jujur hidup mewah. Orang tua mengajarkan adab, tetapi anak melihat orang kasar ditakuti. Orang tua mengajarkan kerja, tetapi anak melihat uang cepat dari dunia gelap. Karena itu, keluarga tidak bisa berjuang sendirian. Kampung, sekolah, masjid, adat, dan negara harus membangun ekosistem yang membuat nilai baik tampak mungkin dan dihargai.
Dalam konteks ini, melawan harlan berarti membangun ulang imajinasi sosial. Anak muda harus melihat bahwa keberhasilan tidak harus datang dari backing. Kehormatan tidak harus dibangun dari rasa takut. Keberanian tidak harus dibuktikan dengan kekerasan. Uang tidak layak dihormati jika merusak orang lain. Agama tidak boleh dipakai untuk mempermalukan. Politik tidak boleh memakai intimidasi. Proyek tidak boleh menjadi ladang rente. Jika imajinasi sosial berubah, harlan kehilangan daya tariknya. Sebab harlan hidup bukan hanya dari ketakutan, tetapi juga dari daya pesona palsu yang dilekatkan masyarakat kepadanya.
Kritik budaya harus berani menolak romantisme orang kuat. Banyak masyarakat Nusantara memiliki kecenderungan mengagumi orang kuat lokal: jawara, blater, jago, preman, harlan, atau nama-nama lain. Mereka dianggap berani, tegas, punya nyali, mampu menyelesaikan urusan. Tetapi kekaguman ini harus diuji secara moral. Apakah orang kuat itu melindungi yang lemah atau menekan yang lemah? Apakah orang kuat itu menjaga keadilan atau menjaga rente? Apakah orang kuat itu menolak narkotika atau melindungi jaringan gelap? Apakah orang kuat itu menenangkan konflik atau memperpanjang ketakutan? Tanpa pertanyaan ini, masyarakat akan terus tertipu oleh aura keberanian palsu.
Pada akhirnya, kritik budaya terhadap harlan adalah kritik terhadap ketergantungan masyarakat pada jalan pintas. Harlan adalah jalan pintas untuk keamanan. Jalan pintas untuk akses. Jalan pintas untuk politik. Jalan pintas untuk proyek. Jalan pintas untuk menyelesaikan sengketa. Jalan pintas untuk memperoleh uang. Jalan pintas selalu menggoda karena cepat. Tetapi jalan pintas harlan menghancurkan tatanan jangka panjang. Ia menyelesaikan satu urusan, tetapi merusak kepercayaan. Ia memberi satu perlindungan, tetapi memperbesar ketergantungan. Ia memberi uang cepat, tetapi merusak generasi. Ia memberi kemenangan politik, tetapi merusak demokrasi.
Maka, masyarakat harus memilih: terus memakai harlan untuk menyelesaikan masalah secara cepat, atau membangun institusi yang adil meskipun lebih lambat. Pilihan pertama tampak praktis, tetapi menghancurkan masa depan. Pilihan kedua berat, tetapi menyelamatkan masyarakat. Harlan akan tetap hidup selama masyarakat lebih memilih cepat daripada benar, kuat daripada adil, takut daripada percaya, diam daripada berkata benar. Kritik budaya harus mengguncang pilihan-pilihan ini. Sebab harlan bukan hanya berada di luar masyarakat. Harlan berada di dalam cara masyarakat mengambil keputusan ketika berhadapan dengan risiko.
Karena itu, esai ini harus menempatkan harlan sebagai cermin moral. Cermin itu tidak menyenangkan, tetapi perlu. Ia memperlihatkan bahwa masyarakat yang mengutuk kekerasan kadang masih memakai kekerasan. Masyarakat yang memuliakan agama kadang masih membiarkan kekerasan moral. Masyarakat yang menjunjung adat kadang masih tunduk pada backing. Masyarakat yang membenci narkotika kadang masih menerima uang gelap. Masyarakat yang ingin demokrasi kadang masih memerlukan operator intimidasi. Inilah wajah yang harus dilihat dengan jujur. Tanpa kejujuran ini, harlan hanya akan berganti nama.
Akhirnya, kritik budaya terhadap harlan bukan kritik untuk menghancurkan masyarakat, tetapi untuk menyembuhkannya. Penyembuhan dimulai dari keberanian menamai penyakit. Harlan adalah penyakit ketika rasa takut lebih dihargai daripada kebenaran. Harlan adalah penyakit ketika backing lebih kuat daripada hukum. Harlan adalah penyakit ketika uang gelap lebih diterima daripada kerja jujur. Harlan adalah penyakit ketika agama dipakai untuk menekan, bukan menyelamatkan. Harlan adalah penyakit ketika masyarakat membenci premanisme, tetapi tetap memakainya. Menyembuhkan masyarakat berarti memutus kebutuhan terhadap harlan. Bukan hanya mengusir orangnya, tetapi menghentikan alasan mengapa orang seperti itu selalu dicari.
Penutup: Harlan sebagai Cermin Gelap Masyarakat Aceh
Harlan akhirnya harus dibaca sebagai cermin gelap. Cermin ini tidak menyenangkan, tetapi sangat diperlukan. Melalui harlan, masyarakat Aceh dapat melihat bagaimana kekerasan bekerja bukan hanya dalam bentuk pukulan, ancaman, parang, pedang, atau perkelahian, tetapi juga dalam bentuk backing, rente, tekanan politik, ekonomi gelap, stigma moral, dan kebisuan sosial. Harlan bukan sekadar orang kasar yang hadir di terminal atau pasar. Harlan adalah nama untuk satu cara berkuasa: membuat orang lain takut, lalu menjadikan rasa takut itu sebagai sumber pengaruh.
Karena itu, harlan bukan hanya persoalan kriminalitas. Jika harlan hanya dibaca sebagai kriminalitas, maka pembahasannya akan selesai pada penindakan. Padahal harlan lebih luas daripada itu. Harlan adalah gejala budaya, gejala politik, gejala ekonomi, gejala moral, dan gejala institusional. Harlan muncul ketika hukum tidak dipercaya, adat melemah, agama kadang dipakai tanpa adab, ekonomi tidak adil, politik membutuhkan tekanan, dan masyarakat kehilangan keberanian kolektif. Harlan adalah tanda bahwa ada ruang sosial yang retak, lalu retakan itu dimasuki oleh orang kuat informal.
Dalam masyarakat Aceh, pembacaan ini harus dilakukan dengan sangat hati-hati. Harlan tidak boleh dipakai untuk menuduh Aceh sebagai masyarakat kekerasan. Itu keliru dan tidak adil. Aceh memiliki sejarah besar tentang keberanian, agama, adat, ilmu, perlawanan, martabat, dan ketahanan sosial. Justru karena Aceh memiliki nilai-nilai besar itu, harlan harus dikritik dengan tajam. Harlan adalah penyimpangan dari keberanian Aceh, bukan puncak keberanian Aceh. Harlan adalah penurunan dari marwah, bukan penjaga marwah. Harlan adalah pencemaran terhadap simbol kehormatan, bukan kelanjutan dari tradisi kehormatan.
Di sinilah perbedaan antara keberanian dan premanisme harus ditegaskan kembali. Keberanian menjaga yang benar. Premanisme menjaga kepentingan sempit. Keberanian melindungi yang lemah. Premanisme menekan yang lemah. Keberanian berani menghadapi yang kuat ketika yang kuat zalim. Premanisme berani kepada orang kecil, tetapi sering tunduk kepada backing. Keberanian melahirkan martabat. Premanisme melahirkan ketakutan. Harlan berdiri pada sisi kedua. Karena itu, harlan tidak layak diberi romantisme sebagai orang berani. Harlan adalah keberanian yang kehilangan adab.
Parang, pedang, rencong, dan senjata tajam dalam pembahasan ini juga harus ditempatkan secara jernih. Benda-benda itu tidak otomatis menjadi simbol harlan. Dalam ruang budaya, sejarah, adat, dan identitas, senjata dapat memiliki makna kehormatan. Tetapi ketika senjata dipakai untuk menakut-nakuti orang kecil, memungut rente, menjaga bisnis gelap, mengancam lawan politik, atau memperkuat backing, maknanya berubah. Di tangan harlan, simbol kehormatan turun menjadi alat intimidasi. Inilah krisis makna yang harus dilihat. Yang rusak bukan bendanya, melainkan watak yang memakainya.
Harlan juga memperlihatkan bahwa kekuasaan tidak selalu datang dari jabatan. Ada orang yang tidak memiliki jabatan, tetapi ditakuti. Ada orang yang tidak memiliki kantor, tetapi dapat mengatur pasar. Ada orang yang tidak duduk dalam struktur partai, tetapi dapat menentukan suasana politik. Ada orang yang tidak menjadi pengusaha resmi, tetapi dapat menentukan siapa mendapat proyek. Ada orang yang tidak menjadi ulama, tetapi memakai bahasa agama untuk menekan orang lain. Inilah kekuasaan informal. Harlan adalah pintu untuk memahami bagaimana kekuasaan informal bekerja di bawah permukaan kehidupan sosial.
Perbandingan dengan jawara dan blater menunjukkan bahwa harlan bukan fenomena yang berdiri sendiri dalam kebudayaan Nusantara. Jawara di Banten, blater di Madura, dan harlan di Aceh sama-sama memperlihatkan bagaimana figur orang kuat lokal dapat hidup di antara keberanian, kehormatan, patronase, kekerasan, dan pengaruh sosial. Namun, setiap konsep memiliki konteksnya masing-masing. Jawara memiliki sejarah Banten. Blater memiliki struktur Madura. Harlan memiliki konteks Aceh. Yang dapat dibandingkan adalah pola kekuasaan informalnya, bukan menyamakan seluruh maknanya. Dalam ketiganya, orang kuat menjadi berbahaya ketika kehilangan adab dan berubah dari pelindung menjadi penguasa rasa takut.
Dari seluruh pembahasan, tampak bahwa backing adalah jantung daya tahan harlan. Tanpa backing, harlan hanya tubuh kasar yang dapat ditindak. Dengan backing, harlan menjadi sistem. Backing membuat orang takut melapor. Backing membuat masyarakat menghitung risiko. Backing membuat kekerasan merasa aman. Backing menyambungkan harlan dengan elite, proyek, politik, aparat nakal, ekonomi gelap, dan jaringan sosial. Karena itu, menghadapi harlan tidak cukup dengan menghadapi tubuh yang tampak di depan. Yang harus dibongkar adalah jaringan yang membuat tubuh itu berani menekan orang lain.
Transformasi harlan ke politik, ekonomi, agama, dan narkotika memperlihatkan bahwa premanisme tidak hilang. Ia hanya berubah kostum. Harlan lama duduk di terminal. Harlan baru duduk di ruang rapat. Harlan lama membawa parang. Harlan baru membawa akses. Harlan lama meminta pungutan kecil. Harlan baru meminta bagian proyek. Harlan lama mengancam secara langsung. Harlan baru menekan melalui jaringan, stigma, organisasi, media sosial, atau backing. Bentuknya berubah, tetapi logikanya tetap sama: membuat orang lain merasa tidak aman jika tidak tunduk.
Narkotika menjadi titik paling gelap dalam transformasi ini. Harlan yang masuk ke narkotika bukan hanya merusak ketertiban, tetapi juga merusak generasi. Jika harlan pasar mengambil uang kecil, harlan narkotika mengambil masa depan. Jika harlan politik merusak kebebasan memilih, harlan narkotika merusak akal, tubuh, keluarga, dan kampung. Jika harlan ekonomi menciptakan rente, harlan narkotika menciptakan ketergantungan dan kehancuran. Karena itu, harlan narkotika tidak boleh diberi ruang sosial sedikit pun. Tidak ada kehormatan dalam merusak anak muda. Tidak ada keberanian dalam melindungi barang yang menghancurkan keluarga.
Harlan agama juga harus dibaca sebagai bentuk penyimpangan yang halus. Agama dalam masyarakat Aceh adalah sumber moral yang sangat tinggi. Namun, ketika bahasa agama dipakai untuk mempermalukan, menekan, membungkam, menghakimi tanpa ilmu, atau menguasai orang lain melalui rasa takut, maka watak harlan telah masuk ke dalam ruang moral. Ini harus dibedakan secara tegas. Kritik terhadap harlan agama bukan kritik terhadap agama. Kritik ini justru usaha menyelamatkan agama dari watak kekerasan yang memakai simbol suci sebagai alat dominasi.
Dampak terbesar harlan adalah rusaknya kepercayaan. Masyarakat menjadi takut berbicara. Orang benar dianggap mencari masalah. Orang jujur dianggap tidak pintar membaca keadaan. Orang yang punya backing lebih dihormati daripada yang punya integritas. Uang gelap dapat membeli wajah sosial. Politik kasar dianggap biasa. Kekerasan moral dianggap ketegasan. Semua ini menandakan bahwa harlan tidak hanya merusak korban langsung. Harlan merusak ukuran nilai dalam masyarakat. Ketika ukuran nilai rusak, masyarakat sulit membedakan antara berani dan kasar, antara tegas dan zalim, antara pelindung dan pemalak, antara tokoh dan predator sosial.
Karena itu, melawan harlan tidak dapat dilakukan hanya dengan membenci harlan. Masyarakat harus berhenti membutuhkan harlan. Ini kalimat yang paling penting. Selama masyarakat masih mencari orang kuat untuk menyelesaikan sengketa, masih memakai backing untuk melancarkan urusan, masih menerima uang gelap karena dianggap membantu, masih memberi panggung kepada kekerasan moral, masih memilih politik yang memakai intimidasi, maka harlan akan terus hidup. Harlan bukan hanya dipelihara oleh pelakunya. Harlan juga dipelihara oleh kebutuhan sosial yang belum disembuhkan.
Penyembuhan itu harus dimulai dari pemulihan hukum, adat, agama, ekonomi, politik, dan keluarga. Hukum harus dipercaya, bukan ditakuti. Adat harus berani, bukan hanya seremoni. Agama harus membimbing, bukan menekan. Ekonomi harus adil, bukan dikuasai rente. Politik harus membebaskan, bukan mengintimidasi. Keluarga harus dilindungi, bukan dibiarkan malu sendirian. Anak muda harus diberi jalan pengakuan yang sehat, bukan dibiarkan mencari status dalam dunia harlan. Semua ini adalah pekerjaan kebudayaan yang panjang, tetapi harus dimulai.
Aceh memiliki modal untuk melawan harlan. Modal itu adalah sejarah keberanian, kekuatan agama, struktur adat, solidaritas gampong, tradisi musyawarah, dan memori perjuangan. Namun, semua modal ini harus diarahkan kembali kepada perlindungan masyarakat, bukan hanya menjadi simbol. Keberanian Aceh harus menjadi keberanian melawan narkotika, bukan keberanian membawa parang. Agama Aceh harus menjadi agama yang menyelamatkan anak muda, bukan hanya menghukum korban. Adat Aceh harus menjadi adat yang memutus backing gelap, bukan adat yang takut kepada orang kuat. Politik Aceh harus menjadi politik yang membebaskan warga dari intimidasi, bukan politik yang memerlukan harlan.
Pada akhirnya, harlan adalah ujian bagi martabat sosial Aceh. Apakah masyarakat akan terus menghormati orang yang ditakuti, atau kembali menghormati orang yang benar? Apakah masyarakat akan terus mencari backing, atau membangun hukum yang dapat dipercaya? Apakah masyarakat akan terus diam terhadap narkotika, atau melindungi generasi dengan keberanian kolektif? Apakah masyarakat akan terus membiarkan agama dipakai untuk menekan, atau mengembalikan agama kepada ilmu, hikmah, dan rahmat? Pertanyaan-pertanyaan ini bukan pertanyaan akademik semata. Ini pertanyaan masa depan.
Maka, konsep harlan perlu dihidupkan kembali sebagai alat analisis. Bukan untuk menghidupkan premanisme. Bukan untuk meromantisasi masa lalu. Bukan untuk memberi panggung kepada orang kuat. Konsep ini perlu dihidupkan untuk menamai penyakit yang sering berubah bentuk. Tanpa nama, masyarakat sulit melawan. Dengan nama, masyarakat dapat mengenali pola: rasa takut, backing, rente, intimidasi, kekerasan simbolik, uang gelap, dan pembungkaman. Harlan adalah nama lokal untuk pola itu. Nama ini penting karena lahir dari pengalaman sosial Aceh sendiri.
Kesimpulan akhirnya sederhana tetapi berat: harlan adalah ketika kekuasaan tidak lagi membutuhkan kebenaran, karena cukup membuat orang lain takut. Selama rasa takut menjadi mata uang sosial, harlan akan hidup. Selama backing lebih kuat daripada hukum, harlan akan hidup. Selama uang gelap dapat membeli kehormatan, harlan akan hidup. Selama masyarakat lebih memilih diam daripada berkata benar, harlan akan hidup. Namun, ketika masyarakat mulai menolak takut, melindungi yang lemah, membongkar backing, menolak rente, menyelamatkan anak muda, dan mengembalikan kehormatan kepada adab, maka harlan mulai kehilangan tanahnya. Di situlah Aceh dapat kembali memaknai keberanian bukan sebagai kemampuan menakut-nakuti, tetapi sebagai kemampuan menjaga kebenaran tanpa kehilangan adab.
About The Author
Kamaruzzaman Bustamam Ahmad
Prof. Kamaruzzaman Bustamam Ahmad (KBA) has followed his curiosity throughout life, which has carried him into the fields of Sociology of Anthropology of Religion in Southeast Asia, Islamic Studies, Sufism, Cosmology, and Security, Geostrategy, Terrorism, and Geopolitics. Prof. KBA is the author of over 30 books and 50 academic and professional journal articles and book chapters. His academic training is in social anthropology at La Trobe University, Islamic Political Science at the University of Malaya, and Islamic Legal Studies at UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. He received many fellowships: Asian Public Intellectual (The Nippon Foundation), IVLP (American Government), Young Muslim Intellectual (Japan Foundation), and Islamic Studies from Within (Rockefeller Foundation). Currently, he is Dean of Faculty and Shariah, Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry, Banda Aceh, Indonesia.
