Religion • Geopolitics • Intelligence • Civilization

Wajah Ganda Indonesia: Dialektika Nilai Jawa dan Aceh | KBA13 Insight

Dialektika Aceh dan Jawa dalam Struktur Kultural Indonesia: Membaca Kuntowijoyo dan Charles Taylor

Pendahuluan Kuntowijoyo (1991) memahami struktur kultural sebagai sesuatu yang jauh lebih dalam daripada sekadar tata cara atau kebiasaan sehari-hari. Ia adalah sentimen kolektif, himpunan nilai-nilai yang hidup, bernafas, dan membentuk horizon cara pandang masyarakat terhadap kehidupan. Struktur ini mencakup agama-agama besar di Indonesia—Islam, Katolik, Protestan, Hindu, dan Buddha—yang berfungsi sebagai sumber transendensi, sekaligus nilai-nilai sekuler seperti nasionalisme, liberalisme, kapitalisme, demokrasi, hingga marhaenisme, yang muncul dari proses modernisasi politik dan sosial. Semua nilai ini tidak berdiri sendiri, melainkan bertumpang tindih, saling bersinggungan, bahkan berkompetisi untuk menjadi kerangka orientasi kolektif. Tumpang tindih inilah yang menjadikan struktur kultural Indonesia begitu kompleks. Misalnya, nilai Islam sering kali berjalan beriringan dengan semangat nasionalisme, tetapi pada saat yang sama bisa juga berbenturan dengan liberalisme ekonomi atau demokrasi prosedural. Begitu pula marhaenisme—sebuah ideologi khas Indonesia—menjadi perantara antara sosialisme dan nasionalisme, yang tidak jarang harus bernegosiasi dengan nilai-nilai religius. Dengan kata lain, struktur kultural adalah arena pertemuan nilai-nilai, bukan ruang steril yang hanya ditempati oleh satu ideologi tunggal. Dari kerangka ini, Kuntowijoyo menekankan bahwa budaya tidak bisa dipahami sebatas adat atau ritus, melainkan sebuah worldview—cara pandang hidup—yang memengaruhi arah peradaban masyarakat. Di sinilah pentingnya melihat bagaimana suatu daerah memberi kontribusi terhadap pembentukan nilai nasional. Jawa, misalnya, dengan demografi mayoritas, sejarah kerajaan-kerajaan besar, serta kedudukannya sebagai pusat politik sejak era kolonial hingga republik, memberikan sumbangan dominan dalam membentuk struktur nasional Indonesia. Jawa membawa nilai sinkretik yang menggabungkan Islam, kejawen, dan nasionalisme, menjadikannya fondasi ideologis negara modern Indonesia. Namun, membicarakan struktur kultural Indonesia tanpa menyebut Aceh adalah pengabaian historis. Aceh memiliki jasa historis dalam memperkenalkan, memelihara, dan menguatkan Islam sebagai fondasi nilai bangsa. Sejak abad ke-16, Aceh menjadi Serambi Mekah, pusat ulama dan peradaban Islam yang memberi pengaruh besar kepada wilayah lain, termasuk Jawa. Nuruddin ar-Raniry dan Abdurrauf as-Singkili, misalnya, tidak hanya menjadi otoritas lokal, tetapi juga pembawa gagasan kosmopolitan

Artikel ini tersedia untuk pelanggan. Silakan berlangganan untuk membaca selengkapnya.