Di abad ke-21, kekuatan global tidak lagi hanya ditentukan oleh senjata dan sumber daya alam, tetapi oleh kemampuan berinovasi dalam AI, drone, semikonduktor, dan teknologi strategis yang membentuk masa depan geopolitik dunia.
“Negara yang menguasai inovasi akan menguasai dunia — bukan dengan senjata, tetapi dengan kemampuan berpikir lebih cepat, lebih dalam, dan lebih jauh dari siapa pun.”
Ketika Teknologi Menentukan Hidup dan Mati Sebuah Bangsa
Sebelum Anda menutup artikel ini, ketahuilah satu fakta yang akan mengubah cara Anda melihat dunia: pada Februari 2022, para analis intelijen terbaik Amerika Serikat memperkirakan bahwa Kyiv akan jatuh dalam satu hingga dua minggu.
Namun, mereka keliru. Bukan karena tentara Ukraina tiba-tiba menjadi lebih kuat secara fisik. Bukan karena Rusia tiba-tiba melemah. Melainkan karena Ukraina memiliki sesuatu yang lebih menentukan daripada peluru dan meriam: kemampuan untuk berinovasi secara cepat dalam kondisi yang paling ekstrem sekalipun. Inilah pelajaran pertama dan paling mendasar dari konflik modern — teknologi bukan sekadar alat bantu, melainkan penentu nasib.
Ketika pasukan Russia menyerbu dari berbagai penjuru, pemerintah Ukraina mengambil keputusan yang terlihat sederhana namun ternyata menyelamatkan negara: mereka mengunggah seluruh data penting pemerintahan ke cloud — sistem penyimpanan data berbasis internet yang tidak terikat pada lokasi fisik tertentu. Artinya, meski gedung-gedung kementerian diledakkan, pemerintahan tetap bisa berjalan. Data pajak, data kependudukan, sistem administrasi publik — semuanya aman di server yang tersebar di berbagai penjuru dunia.
Langkah berikutnya bahkan lebih mengejutkan. Kementerian Transformasi Digital Ukraina — sebuah institusi yang baru dibentuk dua tahun sebelumnya oleh Presiden Zelensky — mengubah aplikasi e-government bernama Diia menjadi platform intelijen terbuka. Warga biasa bisa mengunggah foto dan video pergerakan kendaraan militer Russia. Jutaan mata sipil menjadi jaringan pengintaian yang tidak ternilai harganya, sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan anggaran militer berapapun besarnya.
Saat jaringan komunikasi terancam, Ukraina beralih ke satelit Starlink milik SpaceX. Ini bukan kemewahan — ini adalah keputusan hidup-mati. Ketika Russia mengirimkan drone-drone buatan Iran, Ukraina tidak hanya merespons dengan persenjataan konvensional, tetapi dengan pengembangan drone-drone lokal yang dirancang khusus untuk mencegat serangan tersebut. Setiap ancaman baru dijawab dengan inovasi baru, dengan kecepatan yang membuat Russia terus kewalahan.
Fenomena ini bukan kebetulan. Ini adalah manifestasi dari apa yang kini mulai dikenal dalam kajian hubungan internasional sebagai innovation power — kekuatan inovasi. Konsep ini merujuk pada kemampuan suatu negara untuk menciptakan, mengadopsi, dan mengadaptasi teknologi-teknologi baru secara terus-menerus. Ini bukan tentang memiliki satu senjata pamungkas, melainkan tentang kemampuan untuk terus berevolusi lebih cepat dari lawan.
Ukraina membuktikan bahwa dalam perang modern, kelincahan inovasi bisa mengimbangi — bahkan mengalahkan — keunggulan numerik yang sangat besar. Russia memiliki dua kali lipat jumlah tentara dan anggaran militer sepuluh kali lebih besar. Namun dalam permainan kucing-dan-tikus inovasi, Ukraina terbukti jauh lebih lincah. Apa yang Russia bayangkan sebagai invasi kilat yang mudah, berubah menjadi peperangan panjang yang menguras sumber daya dan martabat.
Pelajaran yang Ukraina berikan kepada dunia lebih berharga dari teori geopolitik manapun: di abad ke-21, kekuatan militer konvensional semakin tidak cukup. Yang akan menentukan pemenang dan pecundang dalam konflik masa depan — bahkan dalam persaingan ekonomi dan diplomatik — adalah kemampuan untuk berinovasi lebih cepat, lebih cerdas, dan lebih adaptif. Dan perlombaan inovasi paling krusial saat ini sedang berlangsung antara dua raksasa: Amerika Serikat dan China.
Mendefinisikan Kekuatan Inovasi: Lebih dari Sekadar Teknologi
Jika Anda berpikir “kekuatan inovasi” hanya urusan para insinyur di Silicon Valley, maka Anda telah melewatkan dimensi paling mendasar dari kekuatan nasional di abad ini.
Kekuatan inovasi (innovation power) adalah konsep yang jauh lebih luas dan lebih dalam dari sekadar kemampuan menciptakan gadget baru atau aplikasi populer. Ia mencakup tiga dimensi yang saling terkait: kemampuan untuk menciptakan teknologi baru (invent), kemampuan untuk mengadopsinya secara masif (adopt), dan kemampuan untuk mengadaptasinya sesuai kebutuhan yang terus berubah (adapt). Ketiga elemen ini harus bergerak bersama — kegagalan di satu titik akan memutus seluruh rantai.
Dimensi pertama, kekuatan militer, adalah yang paling terlihat. Sistem persenjataan berteknologi tinggi — dari pesawat tempur generasi kelima hingga kapal selam bertenaga nuklir — memberikan keunggulan di medan perang. Namun dimensi ini semakin kompleks: bukan lagi tentang senjata mana yang paling besar, melainkan tentang sistem command-and-control mana yang paling cerdas, jaringan sensor mana yang paling luas, dan algoritma mana yang paling mampu memproses informasi dalam hitungan milidetik.
Dimensi kedua adalah kekuatan ekonomi. Negara yang menguasai teknologi-teknologi kunci mendapatkan pengaruh yang luar biasa atas rantai pasok (supply chain) global. Rantai pasok adalah jaringan kompleks yang menghubungkan produsen bahan baku, manufaktur, distribusi, hingga konsumen akhir. Siapa yang mengendalikan titik-titik kritis dalam rantai ini — misalnya produksi semikonduktor atau infrastruktur komunikasi — memiliki kekuatan tawar-menawar yang sangat besar, bahkan tanpa harus menembakkan satu pun peluru.
Dimensi ketiga adalah kekuatan lunak (soft power) — pengaruh budaya dan ideologi yang mengalir melalui platform digital. Netflix dan YouTube, misalnya, bukan hanya perusahaan hiburan. Mereka adalah kendaraan penyebaran nilai-nilai, gaya hidup, dan perspektif dunia Amerika ke setiap pojok planet ini. Ketika seseorang di Jakarta atau Lagos atau Buenos Aires menonton serial Amerika, mereka tidak hanya menikmati cerita — mereka secara perlahan menyerap cara pandang, nilai-nilai, dan aspirasi yang tertanam dalam konten tersebut.
Yang membuat kekuatan inovasi begitu revolusioner adalah sifatnya yang generatif — ia menciptakan lebih banyak inovasi. Berbeda dengan teknologi-teknologi masa lalu seperti baja atau tenaga uap yang memiliki titik kejenuhan tertentu, kecerdasan buatan (AI) bersifat self-reinforcing: AI yang lebih canggih membantu menciptakan AI yang bahkan lebih canggih lagi. Ini adalah siklus yang berakselerasi sendiri, dan negara yang masuk lebih awal ke dalam siklus ini akan memiliki keunggulan yang semakin sulit dikejar.
Sepanjang sejarah, memang selalu ada hubungan antara teknologi dan kekuasaan global. Francisco Pizarro menaklukkan Kekaisaran Inca sebagian besar karena keunggulan teknologi militer Eropa — musket, baju besi, dan kuda. Komodor Matthew Perry memaksa Jepang membuka diri pada 1853 dengan armada kapal uap yang tidak tertandingi. Namun kecepatan inovasi di era sekarang tidak memiliki preseden dalam sejarah manusia — tidak ada era sebelumnya di mana sebuah teknologi bisa mengubah peta kekuasaan dunia dalam hitungan tahun, bukan dekade.
Implikasinya sangat mendalam: dalam dunia yang didorong oleh inovasi, kekayaan alam tidak lagi menjadi penjamin kekuasaan. Negara-negara seperti Norwegia atau Uni Emirat Arab yang kaya minyak mungkin tetap relevan dalam jangka menengah, tetapi tanpa kemampuan inovasi, kekuatan mereka akan tergerus seiring waktu. Yang akan mendominasi abad ke-21 adalah negara-negara yang mampu membangun ekosistem inovasi yang produktif, kompetitif, dan berkelanjutan — ekosistem yang terus menghasilkan terobosan-terobosan yang mengubah dunia.
Memahami kekuatan inovasi bukan hanya tugas para pemimpin negara dan jenderal militer. Ini adalah pengetahuan yang harus dimiliki oleh setiap warga negara yang ingin memahami mengapa dunia bergerak ke arah yang tampaknya semakin tidak terduga. Dan pemahaman ini dimulai dari satu pertanyaan mendasar: siapa yang sedang menguasai teknologi-teknologi yang akan mendefinisikan abad ke-21?
Kecerdasan Buatan: Teknologi yang Mengubah Semua Aturan
Jangan biarkan istilah “kecerdasan buatan” terdengar abstrak bagi Anda — karena pada saat ini, teknologi itulah yang sedang menentukan apakah sebuah negara akan berkuasa atau tertinggal.
Kecerdasan Buatan, atau Artificial Intelligence (AI), adalah kemampuan mesin komputer untuk melakukan tugas-tugas yang biasanya memerlukan kecerdasan manusia — seperti mengenali pola, membuat keputusan, memahami bahasa, dan belajar dari pengalaman. Namun, definisi sederhana ini tidak cukup untuk menangkap betapa transformatifnya teknologi ini bagi tatanan kekuasaan global. AI bukan sekadar alat yang lebih canggih — ia adalah paradigm shift, perubahan fundamental dalam cara manusia menghasilkan pengetahuan dan kekuatan.
Dalam ranah militer, AI sudah memberikan keunggulan nyata. Sistem AI mampu menganalisis jutaan data intelijen — foto satelit, komunikasi yang dicegat, pergerakan pasukan — dalam waktu yang jauh lebih singkat dari kemampuan manusia terbaik sekalipun. Militer Ukraina, misalnya, telah menggunakan AI untuk memindai secara efisien data intelijen, pengawasan (surveillance), dan pengintaian (reconnaissance) dari berbagai sumber secara simultan. Hasilnya adalah respons yang lebih cepat dan lebih akurat terhadap ancaman yang terus berubah.
Namun yang lebih revolusioner dari sekadar membantu manusia membuat keputusan adalah kemampuan AI untuk membuat keputusan sendiri. John Boyd, seorang ahli strategi militer dan kolonel Angkatan Udara AS, merumuskan konsep OODA Loop — singkatan dari Observe (amati), Orient (orientasikan), Decide (putuskan), Act (bertindak). Ini adalah siklus pengambilan keputusan dalam pertempuran: siapa yang bisa berputar lebih cepat dalam siklus ini akan mengalahkan lawannya. AI mampu mengeksekusi setiap tahap OODA Loop dengan kecepatan yang tidak bisa ditandingi manusia — membuat konflik berjalan pada kecepatan komputer, bukan kecepatan manusia.
Konsekuensinya sangat dramatis: sistem komando-dan-kendali yang masih mengandalkan hierarki manusia — di mana keputusan harus naik dari bawah ke atas dan turun kembali — akan kalah dari sistem yang memadukan kecerdasan mesin dengan kecepatan eksekusi manusia. Ini bukan prediksi futuristik — ini sudah terjadi. Drone otonom yang mampu mengidentifikasi dan menghantam target tanpa intervensi manusia bukan lagi fiksi ilmiah.
Lebih jauh lagi, AI memiliki kemampuan untuk mempercepat inovasi di semua bidang ilmu pengetahuan. Ini adalah aspek yang paling sering diabaikan, namun paling menentukan. Secara tradisional, ilmu pengetahuan maju satu studi pada satu waktu — setiap penelitian memakan waktu bertahun-tahun, dan pengetahuan terakumulasi secara linear. AI mengubah ini secara fundamental: dengan menganalisis dataset yang sangat besar, AI memungkinkan para ilmuwan menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang telah lama tak terjawab, membebaskan pikiran-pikiran terbaik manusia untuk berfokus pada ide-ide baru yang lebih besar.
Bidang-bidang seperti penemuan obat (drug discovery), terapi gen (gene therapy), ilmu material (material science), dan energi bersih (clean energy) akan mengalami akselerasi yang belum pernah terjadi sebelumnya berkat AI. Yang paling menarik adalah sifat self-referential dari inovasi AI: AI akan membantu menciptakan AI yang lebih baik. Pesawat yang lebih cepat tidak membantu merancang pesawat yang lebih cepat — tetapi komputer yang lebih canggih memang membantu membangun komputer yang lebih canggih. Ini adalah spiral kemajuan yang tidak ada batasnya.
Di cakrawala yang lebih jauh, namun tidak terlalu jauh, terdapat konsep Artificial General Intelligence (AGI) — Kecerdasan Umum Buatan. Berbeda dengan AI konvensional yang dirancang untuk tugas-tugas spesifik, AGI adalah sistem yang mampu melakukan tugas mental apa pun yang bisa dilakukan manusia, bahkan melampaui kemampuan manusia terbaik di semua bidang secara bersamaan. Bayangkan sebuah sistem AI yang bisa menjawab pertanyaan paling rumit tentang cara terbaik mengajar satu juta anak berbahasa Inggris, atau cara paling efektif mengobati Alzheimer pada berbagai populasi yang berbeda.
AGI masih bertahun-tahun, mungkin puluhan tahun, di masa depan — namun negara mana yang pertama kali mengembangkannya akan mendapatkan keuntungan strategis yang tidak tertandingi dalam sejarah. Ia bisa menggunakan AGI untuk mengembangkan versi AGI yang semakin canggih, mendapatkan keunggulan di semua bidang ilmu dan teknologi sekaligus. Terobosan semacam ini berpotensi menghadirkan era dominasi yang serupa dengan monopoli singkat nuklir Amerika Serikat pada akhir 1940-an — hanya kali ini, dampaknya jauh lebih permanen dan jauh lebih mendalam.
Drone dan Masa Depan Peperangan: Ketika Mesin Bertempur untuk Manusia
Ini bukan pertanyaan tentang masa depan — ini pertanyaan tentang sekarang: apakah Anda sadar bahwa cara dunia berperang telah berubah selamanya, dan drone adalah ujung tombak perubahan itu?
Drone — atau kendaraan udara tak berawak (Unmanned Aerial Vehicle/UAV) — bukan teknologi baru. Namun yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir adalah transformasi radikal dalam cara drone digunakan, diproduksi, dan diintegrasikan ke dalam strategi militer. Azerbaijan mendemonstrasikan hal ini secara menakjubkan pada 2020, ketika menggunakan drone-drone buatan Turki dan Israel untuk meraih kemenangan menentukan atas Armenia di wilayah sengketa Nagorno-Karabakh — sebuah konflik yang telah mandek selama lebih dari dua dekade.
Dalam perang Ukraina, drone memainkan peran yang bahkan lebih sentral dan lebih beragam. Ukraina menggunakan drone-drone komersial berbiaya rendah yang dimodifikasi untuk pengintaian di belakang garis musuh, memberikan informasi real-time kepada komandan di lapangan. Yang lebih mengejutkan adalah penggunaan drone untuk menyerang kapal-kapal Russia di Laut Hitam — membantu sebuah negara dengan angkatan laut yang sangat kecil untuk secara efektif membatasi gerak armada Laut Hitam Russia yang jauh lebih besar dan lebih berpengalaman.
Drone menawarkan keunggulan yang tidak dimiliki oleh senjata konvensional manapun. Pertama, ukurannya yang kecil dan biayanya yang relatif murah membuatnya sulit dideteksi dan mudah diproduksi dalam jumlah besar. Kedua, mereka mengurangi risiko terhadap personel militer secara dramatis — sebuah pertimbangan yang semakin penting dalam era di mana opini publik sangat sensitif terhadap korban jiwa dari pihak sendiri. Ketiga, kemampuan pengawasan (surveillance) drone tidak tertandingi — mereka bisa melayang di atas area target untuk waktu yang lama, memberikan gambaran situasi yang terus-menerus diperbarui.
Yang sedang dikembangkan sekarang bahkan jauh lebih mengkhawatirkan (atau mengagumkan, tergantung perspektif Anda): drone otonom yang mampu membuat keputusan sendiri tanpa operator manusia. Drone jenis ini tidak hanya terbang di udara, tetapi juga beroperasi di darat dan di bawah laut. Bayangkan kapal selam otonom yang bisa dengan cepat memindahkan persediaan ke perairan yang diperebutkan, atau truk otonom yang menemukan rute optimal untuk mengangkut peluncur rudal kecil melintasi medan yang berat.
Yang paling revolusioner adalah konsep swarm drone — kawanan drone yang dikoordinasikan oleh AI. Seperti kawanan lebah atau sekelompok ikan yang bergerak dengan koordinasi menakjubkan, kawanan drone yang terhubung dalam jaringan dan dikendalikan oleh AI bisa membanjiri pertahanan musuh dengan cara yang tidak bisa direspons oleh sistem senjata konvensional manapun. Satu truk rudal atau satu tank tidak dirancang untuk menghadapi ratusan, bahkan ribuan, objek terbang yang bergerak secara terkoordinasi dan cerdas.
Apa yang membuat dimensi drone ini begitu penting secara geopolitik adalah demokratisasi kekuatan militer yang ia bawa. Di era senjata konvensional, kesenjangan militer antara negara besar dan negara kecil hampir tidak bisa dijembatani. Namun dengan drone, sebuah negara kecil dengan anggaran terbatas bisa membangun kemampuan yang secara asimetris sangat efektif melawan musuh yang jauh lebih besar. Ukraina adalah bukti hidupnya.
Masa depan peperangan yang sedang ditulis saat ini adalah tentang kolaborasi antara manusia dan mesin — bukan penggantian total manusia oleh mesin, setidaknya dalam waktu dekat, tetapi integrasi yang semakin dalam antara kecerdasan manusia dan kecepatan mesin. Komandan manusia yang didukung oleh jaringan sensor AI yang luas, analisis data real-time, dan opsi tindakan yang telah dievaluasi secara algoritmik akan selalu mengungguli komandan manusia yang harus mengandalkan informasi yang tidak lengkap dan naluri saja.
Kesimpulannya tidak menyenangkan bagi negara-negara yang memilih untuk tidak berinvestasi serius dalam teknologi drone dan AI militer: mereka tidak hanya akan kalah dalam perang masa depan, tetapi kemampuan deterrence mereka — kemampuan untuk menghalangi serangan melalui ancaman pembalasan yang meyakinkan — juga akan terkikis secara dramatis. Dalam geopolitik, kelemahan militer sering kali mengundang agresi, bukan mencegahnya.
Inovasi Beget Inovasi: Memahami Spiral Kemajuan Teknologi
Ada satu prinsip yang, jika Anda pahami, akan mengubah cara Anda melihat persaingan antara Amerika dan China: inovasi tidak bergerak secara linier — ia berakselerasi secara eksponensial.
Mengapa inovasi lah yang kini memberikan keunggulan strategis yang begitu masif? Jawabannya terletak pada sifat dasar inovasi itu sendiri: inovasi melahirkan lebih banyak inovasi. Ini bukan sekadar metafora — ini adalah mekanisme fundamental yang didorong oleh apa yang para ekonom sebut sebagai path dependency dan network effects. Ketika sebuah negara membangun keunggulan dalam satu teknologi, itu menciptakan kondisi yang memudahkan mereka untuk membangun keunggulan dalam teknologi-teknologi berikutnya.
Bayangkan bagaimana Amerika Serikat memimpin dunia ke era 4G — teknologi seluler generasi keempat yang memungkinkan koneksi internet mobile yang cepat. Kepemimpinan ini bukan hanya tentang mendapatkan keuntungan dari teknologi 4G itu sendiri. Ia menciptakan efek domino yang luar biasa: jaringan 4G yang matang di AS memungkinkan lahirnya aplikasi-aplikasi seperti Uber yang membutuhkan koneksi data cepat. Uber kemudian menyempurnakan produknya di pasar AS yang besar dan kaya, mengumpulkan data dan umpan balik (feedback) yang jauh lebih banyak dari yang bisa dikumpulkan di negara lain manapun. Dengan fondasi yang kuat ini, Uber kemudian bisa berekspansi ke pasar-pasar berkembang di seluruh dunia.
Ini adalah loop umpan balik (feedback loop) inovasi yang klasik: investasi awal menciptakan keunggulan, keunggulan menghasilkan lebih banyak data dan pengalaman, data dan pengalaman mendorong penyempurnaan lebih lanjut, penyempurnaan memperkuat keunggulan. Siklus ini, jika tidak terganggu, akan semakin melebarkan jarak antara pemimpin dan pengikut seiring berjalannya waktu.
Namun ada kabar buruk bagi negara-negara yang saat ini memimpin: tembok pertahanan (moat) yang diciptakan oleh keunggulan teknologi semakin menyempit. Berkat demokratisasi penelitian akademik — semakin banyak jurnal ilmiah yang tersedia secara bebas — dan bangkitnya perangkat lunak sumber terbuka (open-source software), teknologi kini menyebar lebih cepat ke seluruh dunia. Kompetitor-kompetitor yang serius bisa mengejar ketertinggalan dengan kecepatan yang tidak terbayangkan sebelumnya. China adalah contoh paling nyata.
China tidak hanya mengejar dengan cara menyalin teknologi Barat — meskipun espionase ekonomi dan pengabaian paten memang memainkan peran yang tidak kecil. Yang lebih mengkhawatirkan adalah bahwa sebagian besar kemajuan teknologi China berakar pada upaya inovatif yang genuinely kreatif dalam mengadopsi dan mengkomersialisasikan terobosan-terobosan teknologi asing. Perusahaan-perusahaan China sangat mahir dalam mengambil inovasi yang dikembangkan di tempat lain dan dengan cepat mengintegrasikannya ke dalam produk dan layanan yang bisa mereka tawarkan ke pasar global.
Pola berpikir inovasi beget inovasi ini juga menjelaskan mengapa AI begitu penting secara strategis dibandingkan teknologi-teknologi sebelumnya. Baja lebih kuat dari besi, dan negara yang pertama menguasai produksi baja dalam skala besar mendapatkan keunggulan besar. Namun setelah semua pihak menguasai teknologi baja, permainan menjadi level kembali. AI berbeda: karena AI digunakan untuk menciptakan AI yang lebih baik, keunggulan dalam AI tidak pernah mencapai titik keseimbangan. Ia terus mengakselerasi, terus melebar.
Ini menjelaskan mengapa para pemimpin di Washington dan Beijing sama-sama memandang kepemimpinan AI bukan sebagai salah satu prioritas di antara banyak prioritas, melainkan sebagai the prioritas. Siapa pun yang memimpin dalam AI pada 2025-2030 kemungkinan besar akan memimpin dalam hampir semua bidang teknologi lainnya pada 2035-2040 — karena AI akan menjadi mesin yang menggerakkan semua inovasi lainnya. Ini bukan pertaruhan yang ringan; ini adalah taruhan eksistensial tentang siapa yang akan menentukan tatanan dunia generasi mendatang.
Bagi negara-negara seperti Indonesia yang bukan pemain utama dalam persaingan ini, pemahaman tentang dinamika inovasi beget inovasi tetap sangat relevan. Dalam dunia di mana teknologi yang dikembangkan oleh kekuatan-kekuatan besar akan mendefinisikan infrastruktur, standar keamanan, sistem keuangan, dan platform komunikasi global, negara yang gagal membangun kemampuan adaptif dan inovatifnya sendiri akan menemukan dirinya dalam posisi dependensi yang semakin dalam — bukan sebagai mitra yang setara, melainkan sebagai konsumen pasif dari teknologi orang lain.
Amerika vs China: Pertarungan Sistem, Bukan Hanya Negara
Sebelum Anda berpihak pada salah satu dari kedua raksasa ini, pahami dulu bahwa yang sedang dipertarungkan bukan hanya supremasi nasional — tetapi dua model peradaban yang fundamentally berbeda dalam cara mereka mendorong kemajuan.
Persaingan antara Amerika Serikat dan China bukan sekadar perebutan pengaruh antara dua negara besar. Ini adalah konfrontasi antara dua sistem yang berbeda secara mendasar dalam cara mereka mengorganisasi hubungan antara pemerintah, industri, dan inovasi. Memahami perbedaan ini sangat penting untuk memahami siapa yang berpeluang menang dalam jangka panjang — dan apa artinya kemenangan atau kekalahan bagi dunia.
Model China dibangun di atas prinsip fusi sipil-militer (civil-military fusion). Dalam model ini, pemerintah secara aktif mempromosikan persaingan domestik di antara perusahaan-perusahaan swasta, lalu mendukung pemenang-pemenangnya sebagai “juara nasional” (national champions) — perusahaan-perusahaan yang dimaksudkan tidak hanya untuk memaksimalkan keuntungan komersial, tetapi juga untuk memajukan kepentingan keamanan nasional China. Perusahaan-perusahaan seperti Huawei, DJI (produsen drone terbesar di dunia), dan ByteDance (induk TikTok) beroperasi dalam kerangka ini.
Model Amerika, sebaliknya, dibangun di atas prinsip pemisahan yang lebih tegas antara negara dan pasar. Pemerintah federal menyediakan pendanaan untuk penelitian ilmu dasar (basic science), tetapi sebagian besar inovasi dan komersialisasi diserahkan kepada mekanisme pasar — perusahaan swasta, modal ventura (venture capital), dan universitas yang beroperasi secara relatif independen. Silicon Valley adalah buah dari model ini: ekosistem yang kaya di mana kegagalan diizinkan bahkan didorong sebagai bagian dari proses belajar, dan di mana kesuksesan mendapatkan imbalan yang sangat besar.
Kedua model memiliki kekuatan dan kelemahan yang berbeda. Model China unggul dalam kecepatan eksekusi skala besar: ketika Beijing memutuskan untuk membangun infrastruktur 5G atau menginvestasikan miliaran dalam kendaraan listrik, tidak ada proses demokrasi yang bisa memperlambatnya. Namun model ini cenderung lemah dalam inovasi yang genuinely disruptive — terobosan yang menantang asumsi-asumsi yang ada — karena lingkungan yang terlalu terkontrol tidak ramah terhadap eksperimentasi bebas yang kacau namun produktif.
Model Amerika unggul dalam menghasilkan inovasi yang benar-benar revolusioner — internet, smartphone, media sosial, AI modern, semua lahir dari ekosistem Amerika yang kaya akan kebebasan bereksperimen. Namun kelemahannya semakin terlihat: insentif pasar mendorong inovasi yang menguntungkan secara komersial dalam jangka pendek, tetapi sering mengabaikan penelitian dasar yang hasilnya baru terasa puluhan tahun kemudian. Pemerintah AS juga semakin tidak nyaman dengan risiko dan investasi jangka panjang yang tidak menghasilkan keuntungan instan.
China telah dengan cerdas mengamati kelemahan-kelemahan ini. Pada 2015, Partai Komunis China merilis strategi “Made in China 2025” — sebuah rencana komprehensif untuk mencapai kemandirian dalam industri-industri berteknologi tinggi seperti telekomunikasi, AI, dan kendaraan listrik. Strategi ini didukung oleh rencana “dual circulation” — model ekonomi yang secara bersamaan meningkatkan permintaan domestik dan memperkuat posisi China dalam pasar global. Hasilnya: China mengalirkan ratusan miliar dolar ke dalam ekosistem teknologinya melalui kombinasi subsidi langsung, kemitraan publik-swasta, dan dukungan untuk perusahaan-perusahaan yang didukung negara.
Hasilnya campuran namun mengesankan. China telah memimpin dunia dalam teknologi pengawasan berbasis AI (AI-based surveillance technology) — sebuah keunggulan yang tidak hanya digunakan untuk mengontrol warganya sendiri, tetapi juga diekspor ke pemerintah-pemerintah otoriter di seluruh dunia. China juga memimpin dalam produksi kendaraan otonom dan sudah hampir menyusul Amerika dalam 4G, meskipun memulai jauh di belakang. Di bidang AI secara umum, Amerika masih memimpin — tetapi China dengan keras mengejar, dengan investasi besar dan ambisi yang sangat jelas.
Yang paling mengkhawatirkan bagi Amerika — dan seharusnya bagi siapa pun yang peduli dengan prinsip-prinsip demokrasi dan kebebasan — adalah bahwa China telah membangun kompetensi teknologi yang cukup untuk menggunakan inovasinya sebagai alat geopolitik yang agresif. Huawei menyediakan infrastruktur telekomunikasi ke sekitar 70 persen jaringan 4G di Afrika — dan negara-negara yang bergantung pada infrastruktur yang disuplai China sangat enggan mengkritik pelanggaran hak asasi manusia Beijing. Inilah kekuatan inovasi yang digunakan bukan untuk membebaskan, tetapi untuk mengikat.
Kelemahan Amerika: Ketika Birokrasi Membunuh Inovasi
Ini adalah kebenaran yang tidak nyaman bagi Amerika Serikat: negara yang menciptakan internet, smartphone, dan AI modern kini berisiko kehilangan perlombaan yang paling penting dalam sejarahnya — bukan karena kalah secara teknis, tetapi karena terperangkap dalam proses birokrasi yang dibuat untuk era yang sudah berlalu.
Ada paradoks yang menyakitkan di jantung kekuatan inovasi Amerika: negara yang memiliki ekosistem inovasi swasta paling produktif di dunia justru memiliki pemerintah yang semakin tidak mampu mendukung, mengarahkan, dan memobilisasi ekosistem tersebut untuk menghadapi tantangan kompetisi teknologi dengan China. Paradoks ini bukan kebetulan — ia tertanam dalam struktur insentif politik Amerika yang, meski bagus untuk banyak hal, sangat tidak cocok untuk persaingan teknologi jangka panjang.
Masalah pertama adalah pendanaan penelitian dasar. Selama Perang Dingin, “trifekta” — pemerintah, industri, dan akademia — berkolaborasi secara produktif dan menghasilkan terobosan-terobosan yang mendefinisikan abad ke-20: dari pendaratan di bulan hingga internet. Namun dengan berakhirnya Perang Dingin, pemerintah AS semakin enggan mengalokasikan dana untuk penelitian terapan (applied research), bahkan mengurangi dana untuk penelitian fundamental (fundamental research). Pada 2015, proporsi pendanaan pemerintah untuk penelitian dasar turun di bawah 50 persen untuk pertama kalinya sejak Perang Dunia II — padahal di era 1960-an, angkanya sekitar 70 persen.
Masalah kedua adalah sifat siklus anggaran dan politik. Inovasi membutuhkan investasi jangka panjang — penelitian yang mungkin baru menghasilkan buah dua puluh atau tiga puluh tahun kemudian. Namun pemerintah AS beroperasi dalam siklus anggaran satu tahun dan siklus politik dua tahun. Politisi yang diinsentifkan untuk menunjukkan hasil dalam hitungan bulan, bukan dekade, secara struktural tidak akan memprioritaskan investasi yang manfaatnya baru akan dirasakan oleh generasi berikutnya.
Masalah ketiga — dan mungkin yang paling mendesak secara operasional — adalah proses pengadaan militer (military procurement) yang sangat lambat dan tidak adaptif. Sistem senjata besar seperti pesawat tempur, kapal induk, atau sistem pertahanan rudal membutuhkan waktu lebih dari sepuluh tahun untuk dirancang, dikembangkan, dan dioperasikan. Dalam dunia di mana teknologi berkembang setiap dua hingga tiga tahun, ini berarti sistem yang dipesan hari ini sudah usang sebelum sempat digunakan. Eric Schmidt, mantan CEO Google yang selama empat tahun memimpin Defense Innovation Board (Dewan Inovasi Pertahanan), mengaku terkejut betapa sukarnya mengintegrasikan teknologi baru ke dalam proses pengadaan, rencana pertempuran, dan cara berperang militer AS.
Ada juga masalah kebijakan imigrasi yang secara langsung membahayakan keunggulan inovasi Amerika. Lebih dari setengah peneliti AI terkemuka yang bekerja di Amerika Serikat berasal dari luar negeri — mereka adalah imigran atau ekspatriat yang datang karena tertarik pada peluang yang ditawarkan universitas dan perusahaan teknologi AS. Namun sistem imigrasi AS yang ketinggalan zaman menyulitkan bahkan lulusan terbaik universitas-universitas Amerika untuk mendapatkan green card dan tinggal di AS. Setiap peneliti berbakat yang terpaksa kembali ke negaranya membawa bersama mereka pengetahuan, jaringan, dan potensi inovasi yang bisa saja menguntungkan Amerika jika sistem lebih cerdas.
Ironisnya, beberapa program pemerintah yang paling produktif dalam mendorong inovasi muncul justru bukan dari kecendrungan reguler, melainkan dari kebutuhan mendesak yang memaksa institusi-institusi birokrasi untuk bergerak di luar zona nyaman mereka. DARPA (Defense Advanced Research Projects Agency — Badan Proyek Penelitian Lanjutan Pertahanan) pada 2013 menginvestasikan dana dalam penelitian vaksin RNA messenger (mRNA). Penelitian ini tampak eksotis dan spekulatif saat itu. Namun investasi itu menjadi fondasi dari vaksin Moderna yang dikembangkan dalam waktu rekor untuk melawan COVID-19. Jika DARPA tidak mengambil risiko itu satu dekade sebelumnya, kita mungkin tidak akan memiliki vaksin mRNA sama sekali ketika pandemi melanda.
Yang dibutuhkan Amerika adalah transformasi struktural dalam cara pemerintah mendukung inovasi — bukan hanya investasi yang lebih besar, meskipun itu juga diperlukan, tetapi perubahan mendasar dalam bagaimana risiko diterima, bagaimana kesabaran terhadap kegagalan dikultivasi, dan bagaimana kolaborasi antara pemerintah, industri swasta, dan akademia diorganisasikan. Undang-Undang CHIPS and Science Act yang disahkan pada 2022 — mengarahkan 200 miliar dolar untuk penelitian ilmiah selama sepuluh tahun ke depan — adalah langkah yang benar, tetapi baru permulaan dari apa yang diperlukan.
Resep untuk Kemenangan: Apa yang Harus Dilakukan Amerika
Anda perlu tahu bahwa agenda ini bukan pilihan — ini adalah keharusan strategis, dan setiap tahun keterlambatan memperbesar risiko bahwa Amerika tidak akan bisa mengejar ketinggalan.
Untuk mempertahankan kepemimpinannya sebagai innovation superpower — kekuatan super inovasi — Amerika Serikat harus melakukan investasi serius dan transformasi struktural di beberapa domain kunci secara bersamaan. Tidak ada satu solusi ajaib; yang dibutuhkan adalah pendekatan sistemik yang menangani seluruh rantai inovasi dari penelitian dasar hingga komersialisasi massal.
Domain pertama adalah semikonduktor (semiconductors) — komponen paling kritis dalam perekonomian dan militer modern. Semikonduktor adalah “chip” elektronik yang menjadi otak dari hampir semua perangkat digital — dari smartphone hingga kendaraan listrik, dari sistem senjata presisi hingga server AI. AS saat ini masih unggul dalam desain semikonduktor, namun sebagian besar manufakturnya telah berpindah ke Asia — terutama Taiwan. Ini menciptakan kerentanan yang sangat berbahaya: jika Taiwan jatuh ke tangan China, Amerika akan kehilangan akses ke sekitar 90 persen produksi chip paling canggih di dunia secara virtual dalam semalam.
Solusinya adalah apa yang disebut “onshoring” dan “friend-shoring” rantai pasok semikonduktor — memindahkan produksi kembali ke tanah AS atau ke negara-negara yang merupakan mitra yang dapat dipercaya. CHIPS Act adalah langkah ke arah ini, tetapi perlu dilengkapi dengan insentif lebih besar untuk menarik investasi dalam kapasitas manufaktur dan pengembangan tenaga kerja yang terampil.
Domain kedua adalah energi terbarukan dan ekosistem baterai. China saat ini mendominasi produksi mineral-mineral kunci untuk baterai — lithium dan cobalt — dan mengendalikan sebagian besar proses pengolahannya. Ini memberikan Beijing leverage ekonomi yang sangat besar dalam transisi energi global. Amerika harus mendiversifikasi sumber mineralnya, membangun cadangan mineral bumi langka, dan berinvestasi dalam teknologi baterai generasi berikutnya yang dapat mengurangi ketergantungan pada lithium.
Domain ketiga adalah infrastruktur 5G dan telekomunikasi. Peluncuran 5G di Amerika Serikat sangat lambat, sebagian besar karena spektrum frekuensi yang dibutuhkan 5G dikuasai oleh lembaga-lembaga pemerintah, terutama Departemen Pertahanan. Sementara China meluncurkan jaringan 5G secara agresif — memberikan landasan bagi pengembangan aplikasi kecerdasan buatan, kendaraan otonom, dan manufaktur cerdas — Amerika masih terjebak dalam negosiasi birokrasi tentang redistribusi spektrum. Untuk mengejar ketertinggalan, Pentagon perlu membuka lebih banyak spektrum frekuensi tinggi untuk aktor-aktor swasta.
Domain keempat — dan ini sering diabaikan — adalah bakat (talent). Inovasi pada akhirnya dilakukan oleh manusia, dan manusia terbaik perlu tertarik, direkrut, dan dipertahankan. Amerika memiliki keunggulan kompetitif yang unik dalam hal ini: standar hidup yang tinggi, universitas-universitas kelas dunia, dan budaya keterbukaan yang sudah lama menarik pikiran-pikiran terbaik dari seluruh dunia. Namun keunggulan ini sedang terancam oleh sistem imigrasi yang disfungsional. Menciptakan jalur yang mudah dan cepat bagi lulusan program STEM (Sains, Teknologi, Teknik, dan Matematika) dari universitas Amerika untuk mendapatkan status tinggal permanen adalah kebijakan yang hampir tidak memiliki downside dan memiliki upside yang sangat besar.
Domain kelima adalah komersialisasi — mengubah penemuan menjadi produk. Amerika tidak kekurangan penemuan; yang sering menjadi hambatan adalah kemampuan untuk mengomersialisasikan penemuan tersebut dalam skala besar. General Motors membantu membawa mobil listrik pertamanya ke pasar pada 1996, namun butuh dua dekade lagi sebelum Tesla berhasil memproduksi model yang benar-benar layak jual secara massal. Setiap teknologi baru — dari AI hingga komputasi kuantum hingga biologi sintetik — harus dikejar tidak hanya dengan tujuan penemuan (invention), tetapi juga dengan tujuan yang jelas dan eksplisit untuk komersialisasi massal.
Yang mengikat semua ini bersama adalah kebutuhan akan apa yang Schmidt sebut sebagai “technology competitiveness council” — dewan kompetitivitas teknologi — sebuah badan baru yang terinspirasi oleh National Security Council dan bertugas mengoordinasikan aksi di antara aktor-aktor swasta serta mengembangkan rencana nasional untuk memajukan teknologi-teknologi kritis. Ini bukan tentang pemerintah yang mengambil alih inovasi dari sektor swasta — itu akan kontraproduktif. Ini tentang pemerintah yang menjadi fasilitator cerdas, menghilangkan hambatan, mengoordinasikan upaya, dan mengisi celah yang tidak bisa atau tidak akan diisi oleh pasar sendiri.
Pertahanan Terbaik: Mengubah Inovasi Menjadi Kekuatan Militer
Inilah pertanyaan yang harus dijawab oleh setiap pemimpin militer di dunia hari ini: bagaimana cara mempersiapkan tentara untuk perang yang bentuknya belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah manusia?
Terjemahan inovasi teknologi menjadi kekuatan militer yang efektif adalah satu seni tersendiri — dan Amerika Serikat, terlepas dari anggaran militer terbesar di dunia, belum berhasil melakukannya secara optimal. Masalah bukan pada kekurangan teknologi yang tersedia; masalahnya adalah pada integrasi teknologi tersebut ke dalam doktrin, strategi, dan struktur angkatan bersenjata yang masih terlalu terikat pada paradigma Perang Dingin.
Selama Perang Dingin, Amerika mengembangkan berbagai strategi “offset” — pendekatan yang dirancang untuk mengimbangi keunggulan numerik Soviet melalui superioritas teknologi dan strategi militer yang cerdas. Hari ini, Amerika membutuhkan apa yang disebut “Offset-X” — strategi kompetitif yang memungkinkan AS mempertahankan superioritas teknologi dan militernya dalam era persaingan multi-domain yang melibatkan AI, drone, siber, ruang angkasa, dan domain elektromagnetik secara bersamaan.
Ancaman siber harus menjadi prioritas pertahanan tertinggi. Mengingat betapa dalamnya militer dan ekonomi modern bergantung pada infrastruktur digital, perang masa depan kemungkinan besar akan dimulai di dunia maya sebelum bergerak ke domain fisik. Serangan siber terhadap jaringan listrik, sistem keuangan, atau jaringan komunikasi militer bisa melumpuhkan sebuah negara tanpa menembakkan satu pun peluru. Amerika harus membangun pertahanan siber yang berlapis-lapis dengan redundansi — sistem cadangan dan jalur alternatif untuk aliran data yang bisa bertahan meskipun satu jalur utama dimatikan.
Untuk menghadapi kemungkinan serangan kawanan drone, militer AS harus berinvestasi dalam sistem artileri dan rudal defensif yang dapat menghadapi ancaman itu secara cost-effective — karena tidak masuk akal menggunakan rudal seharga satu juta dolar untuk menembak jatuh drone komersial seharga seribu dolar. Sistem-sistem ini harus diperkuat dengan jaringan sensor yang luas dan berbiaya relatif rendah yang didukung AI untuk memantau wilayah yang dipersengketakan — pendekatan yang terbukti lebih efektif daripada mengandalkan beberapa aset sensor yang sangat canggih namun sangat mahal dan rentan.
Kesadaran situasional (situational awareness) — pemahaman komprehensif tentang apa yang sedang terjadi di medan perang — harus ditingkatkan secara dramatis melalui investasi dalam intelijen sumber terbuka (open-source intelligence). Sebagian besar data paling berharga tentang dunia hari ini tersedia secara publik — melalui media sosial, citra satelit komersial, data ekonomi, dan sumber-sumber lainnya. Militer yang mampu mengumpulkan, menganalisis, dan menginterpretasikan data ini secara efektif menggunakan AI akan memiliki gambaran situasi yang jauh lebih akurat dari yang bisa diperoleh melalui metode intelijen tradisional saja.
Masalah pengadaan militer yang lambat dan mahal harus ditangani dengan serius. Schmidt menawarkan analogi yang mengena: Departemen Pertahanan seharusnya membangun rudal seperti cara perusahaan teknologi sekarang membangun mobil listrik — menggunakan “design studio” untuk mengembangkan dan mensimulasikan perangkat lunak, mencari inovasi dengan kecepatan sepuluh kali lebih cepat dan efisiensi biaya yang jauh lebih tinggi dari proses yang ada saat ini. Proses pengadaan yang ada sangat tidak cocok untuk masa depan di mana superioritas perangkat lunak akan menjadi penentu kemenangan di medan perang.
Argumen tentang efisiensi biaya dalam pengadaan militer bukan tentang memotong anggaran pertahanan — ini tentang mengalokasikan anggaran tersebut dengan lebih cerdas. AS menghabiskan empat kali lebih banyak dari negara lain manapun untuk pengadaan sistem militer. Namun harga yang tinggi bukan ukuran kekuatan inovasi. Pada April 2022, pasukan Ukraina menembakkan dua rudal Neptune — masing-masing seharga 500.000 dolar — untuk menenggelamkan kapal Russia Moskva, kapal perang seharga 750 juta dolar. Sementara itu, rudal antikapal hipersonik YJ-21 China yang canggih berpotensi menenggelamkan kapal induk AS senilai 10 miliar dolar. Dalam logika ini, berinvestasi dalam banyak item berbiaya rendah sering kali jauh lebih cerdas dari membangun beberapa proyek prestisius berbiaya fantastis.
Prinsip fundamental yang harus memandu reformasi militer Amerika di era ini adalah desentralisasi yang terkoneksi: unit-unit militer yang lebih kecil, lebih fleksibel, dan lebih terhubung secara digital, yang mampu membuat keputusan cepat di lapangan berdasarkan informasi real-time yang diproses oleh AI, akan mengungguli sistem komando yang lebih besar dan lebih hierarkis dalam hampir semua skenario pertempuran modern. Pentagon perlu memberi komandan medan perang semua informasi terbaik yang tersedia dan mempercayai mereka untuk membuat keputusan terbaik di lapangan.
Bermain untuk Menang: Imperatif Inovasi di Era Persaingan Global
Jika Anda masih membaca sampai di sini, berarti Anda sudah memahami separuh dari pertempuran terpenting abad ini — separuh lainnya adalah bertindak sebelum terlambat.
Kita telah menempuh perjalanan panjang dari padang perang Ukraina hingga laboratorium AI Silicon Valley, dari strategi drone Azerbaijan hingga rencana semikonduktor Beijing. Benang merah yang menghubungkan semua ini adalah satu prinsip yang sangat sederhana namun sangat dalam implikasinya: dalam abad ke-21, kemampuan untuk berinovasi lebih cepat dan lebih baik dari kompetitor adalah fondasi tunggal dari semua bentuk kekuasaan — militer, ekonomi, dan kultural.
Amerika Serikat memulai perlombaan ini dari posisi yang sangat menguntungkan. Ekosistem inovasinya — kombinasi dari universitas-universitas kelas dunia, budaya kewirausahaan yang berani, pasar modal yang dalam dan likuid, serta tradisi kebebasan akademik yang panjang — tidak tertandingi. Nilai-nilai yang mendefinisikan kehidupan Amerika — kebebasan, kapitalisme, usaha individual — memang adalah fondasi yang tepat untuk membangun ekosistem inovasi yang produktif. Namun keunggulan awal tidak menjamin kemenangan akhir.
Tantangan nyata bagi Amerika bukan dari luar, melainkan dari dalam: insentif pemerintah yang mendorong para pejabat untuk menghindari risiko dan fokus pada jangka pendek, sementara kompetisi teknologi menuntut keberanian mengambil risiko dan visi jangka panjang. “Necessity is the mother of invention, war is the midwife of innovation” — kebutuhan adalah ibu dari penemuan, dan perang adalah bidan inovasi. Namun Amerika tidak bisa menunggu perang untuk mendorong inovasinya. Inovasi dalam damai harus menjadi norma, bukan pengecualian.
Apa yang dipertaruhkan jauh melampaui kepentingan nasional Amerika semata. Teknologi-teknologi yang sedang dipersaingkan hari ini akan membentuk tatanan dunia untuk generasi-generasi mendatang: siapa yang mengendalikan standar telekomunikasi global akan menentukan arsitektur informasi yang digunakan miliaran manusia; siapa yang memimpin dalam AI akan menentukan alat-alat yang digunakan untuk mengambil keputusan paling penting di semua sektor kehidupan; siapa yang mendominasi semikonduktor akan memegang kunci dari semua teknologi modern lainnya.
Bagi negara-negara berkembang seperti Indonesia, dinamika ini menghadirkan tantangan sekaligus peluang yang kompleks. Di satu sisi, dominasi dua raksasa teknologi dapat menciptakan kondisi dependensi digital yang berbahaya — bergantung pada infrastruktur, platform, dan sistem yang dikembangkan dan dikontrol oleh pihak asing dengan kepentingan yang mungkin tidak selalu sejalan dengan kepentingan nasional. Di sisi lain, era AI membuka kemungkinan untuk lompatan pembangunan (leapfrogging) yang tidak pernah ada sebelumnya — dengan strategi yang tepat, negara-negara yang selama ini tertinggal dalam industrialisasi bisa langsung melompat ke era ekonomi digital berbasis AI.
Kunci bagi Indonesia dan negara-negara serupa adalah membangun kapasitas adaptif — kemampuan untuk mengadopsi, mengadaptasi, dan pada akhirnya berkontribusi dalam pengembangan teknologi-teknologi kunci. Ini dimulai dari investasi serius dalam pendidikan STEM berkualitas tinggi, dari SD hingga pascasarjana. Ini membutuhkan ekosistem regulasi yang mendorong eksperimentasi dan tidak mematikan inovasi dengan regulasi yang berlebihan sebelum teknologinya matang. Dan ini membutuhkan strategi digital nasional yang koheren — bukan sekedar dokumen di atas kertas, tetapi peta jalan yang benar-benar diimplementasikan.
Ada dimensi lain yang sering dilupakan dalam diskusi tentang kekuatan inovasi: dimensi nilai (values). Teknologi tidak netral. AI yang dikembangkan oleh pemerintah otoriter untuk mengawasi dan mengontrol warganya menghasilkan aplikasi yang sangat berbeda dari AI yang dikembangkan dalam ekosistem yang menghargai privasi, kebebasan, dan martabat manusia. China telah membuktikan bahwa AI bisa menjadi alat pengawasan massal yang sangat efektif — teknologinya sama, namun orientasi nilainya berlawanan seratus delapan puluh derajat dengan visi demokratis.
Dalam konteks ini, keputusan tentang siapa yang memimpin pengembangan AI dan nilai-nilai apa yang tertanam dalam sistem AI tersebut bukan hanya keputusan teknis atau ekonomis — melainkan keputusan politik dan moral yang mendasar. Dunia di mana AI yang dominan dikembangkan dalam lingkungan yang menghargai transparansi, akuntabilitas, dan hak-hak individual akan menjadi dunia yang sangat berbeda dari dunia di mana AI dominan dikembangkan oleh dan untuk kepentingan kekuatan otoriter.
Silicon Valley memiliki mantra lama yang telah terbukti benar tidak hanya dalam industri tetapi juga dalam geopolitik: innovate or die — berinovasilah atau mati. Di era persaingan teknologi yang semakin intensif ini, mantra itu berlaku bagi individu, perusahaan, dan negara-bangsa dengan urgensi yang sama. Yang membedakan pemenang dari pecundang dalam perlombaan yang sedang berlangsung ini bukanlah siapa yang memiliki sumber daya paling banyak hari ini, melainkan siapa yang paling gigih, paling visioner, dan paling berani dalam membangun kemampuan inovasi yang akan menentukan hari esok.
Artikel ini diadaptasi dan dikembangkan secara mendalam dari esai Eric Schmidt, “Innovation Power: Why Technology Will Define the Future of Geopolitics,” yang diterbitkan di Foreign Affairs edisi Maret/April 2023. Schmidt adalah Ketua Special Competitive Studies Project dan mantan CEO Google.
