Jaringan Nalar: membaca Christopher Lloyd sebagai arsitek peta besar teori sosial, tempat ontologi, epistemologi, metodologi, dan sejarah sosial bertemu dalam satu medan intelektual yang kompleks.
PENDAHULUAN
Ada momen-momen dalam sejarah intelektual ketika seseorang mencoba melakukan sesuatu yang tampaknya mustahil: menempatkan seluruh tradisi pemikiran sosial ke dalam satu bidang pandang tunggal, tidak untuk menyederhanakannya, melainkan justru untuk memperlihatkan kompleksitas dan ketegangan di antara mereka dengan kejernihan yang tidak bisa dicapai ketika kita tenggelam dalam satu tradisi saja. Christopher Lloyd, dalam Explanation in Social History yang diterbitkan Basil Blackwell pada 1986, melakukan momen seperti itu. Dalam salah satu bagan keilmuan teori ilmu sosial, diperlihatkan diagram yang memetakan hubungan antara ontologi, epistemologi, metodologi, tradisi-tradisi teoritis, dan tokoh-tokoh utama ilmu sosial dalam satu jaringan relasional—bukan ilustrasi pendamping teks. Ia adalah argumen itu sendiri, diungkapkan dalam bahasa visual yang menuntut pembacaan yang sangat cermat dan pemikiran yang sangat serius.
Untuk memahami mengapa diagram Lloyd begitu bernilai, kita perlu memahami konteks intelektual di mana ia lahir. Tahun 1980-an adalah dekade di mana ilmu-ilmu sosial sedang mengalami krisis identitas yang mendalam. Di satu sisi, dominasi fungsionalisme Parsonian yang telah berlangsung selama tiga dekade runtuh di bawah serangan dari teori konflik, teori kritis Frankfurt, feminisme, dan berbagai varian poststrukturalisme. Di sisi lain, kebangkitan teori pilihan rasional dan ekonomi neoklasik menawarkan program yang sangat berbeda: reduksi seluruh kehidupan sosial ke logika pilihan individual yang dapat diformalkan secara matematis. Di tengah-tengah kedua kekuatan ini, disiplin-disiplin seperti sosiologi, sejarah sosial, dan ilmu politik komparatif kehilangan arah: tidak jelas lagi apa yang membedakan mereka, apa yang menjadi fondasi metodologis bersama mereka, dan dalam pengertian apa mereka semua sedang mencoba menjelaskan hal yang sama. Lloyd menulis dalam konteks ini—dan ambisinya adalah menyediakan orientasi, bukan resolusi. Ia tidak ingin memberitahu kita mana tradisi yang benar, melainkan memperlihatkan bahwa pilihan-pilihan teoritis yang kita buat tidak bersifat terisolasi: bahwa setiap komitmen ontologis membawa serta implikasi epistemologis dan metodologis yang harus dipertanggungjawabkan secara eksplisit.
Diagram Lloyd mengorganisasi seluruh pemikiran sosial di sekitar dua sumbu yang saling bersilang. Sumbu pertama bersifat ontologis: dari holisme (realitas sosial adalah totalitas yang tidak dapat direduksi ke bagian-bagiannya) melalui strukturisme (struktur dan agen adalah nyata dan saling konstitutif) menuju individualisme (individu adalah unit terkecil dan paling fundamental dari analisis sosial). Sumbu kedua bersifat epistemologis-metodologis: dari positivisme (hanya observasi empiris yang menghasilkan pengetahuan yang valid) melalui metode ilmiah realis (mekanisme kausal yang tidak teramati memiliki realitas dan harus menjadi objek teori) menuju hermeneutika (makna dan pemahaman interpretif adalah dimensi yang tidak dapat direduksi dari kehidupan sosial). Posisi setiap tradisi dan setiap tokoh dalam peta ini ditentukan oleh di mana mereka berada dalam kedua sumbu tersebut—dan relasi antara tradisi-tradisi yang berbeda ditentukan oleh jarak dan tegangan di antara posisi-posisi mereka.
Esai ini mengikuti bagan Lloyd sebagai panduan awal, tetapi perjalanannya jauh lebih panjang dan lebih dalam daripada yang diwakili peta itu sendiri. Untuk setiap konsep dan setiap tradisi, kita akan menelusuri latar belakang sejarahnya—karena tidak ada ide yang muncul dari kevakuman; setiap konsep teoritis lahir dari konteks historis yang spesifik, dari masalah-masalah yang dihadapi oleh pemikir-pemikir tertentu pada waktu tertentu, dan dari perdebatan-perdebatan yang sudah berlangsung ketika pemikir tersebut memasuki arena. Kita juga akan menganalisis karya-karya kunci secara lebih cermat daripada yang biasanya dilakukan dalam tinjauan umum—karena argumen yang sesungguhnya selalu ada dalam detail, dalam gerakan konseptual yang spesifik, dalam pilihan-pilihan terminologis yang tampaknya kecil tetapi mengandung komitmen ontologis yang besar. Dan kita akan terus-menerus memperlihatkan bagaimana tokoh-tokoh yang berbeda berhadapan satu sama lain, bukan sebagai sejarah biografi intelektual, melainkan sebagai rekonstruksi jaringan argumen yang terus-menerus saling merespons, saling mengkritisi, dan saling mengubah.
Hasil yang diharapkan dari perjalanan ini bukan sebuah ensiklopedia atau ringkasan, melainkan sesuatu yang lebih sulit dan lebih berharga: sebuah pemahaman tentang *mengapa* perdebatan-perdebatan dalam teori sosial berlangsung seperti yang mereka lakukan, tentang apa yang sesungguhnya dipertaruhkan dalam pilihan-pilihan teoritis dan metodologis yang kita buat, dan tentang mengapa posisi-posisi yang tampaknya sudah ketinggalan zaman sering kembali dalam wajah-wajah baru karena masalah yang mereka coba selesaikan tidak pernah benar-benar pergi. Ilmu sosial adalah bangunan yang terus dibangun—dan untuk membangunnya dengan baik, kita perlu memahami fondasi-fondasi yang sudah ada, retakan-retakan yang sudah teridentifikasi, dan materialnya mana yang terbukti kuat dan mana yang terbukti rapuh. Lloyd menyediakan peta arsitekturalnya. Esai ini adalah upaya untuk menghuni bangunan itu.
HOLISME
Untuk memahami holisme sebagai posisi filosofis dalam ilmu sosial, kita perlu pergi jauh ke belakang—jauh lebih jauh dari Durkheim atau Comte, jauh lebih jauh bahkan dari revolusi ilmu pengetahuan abad ke-17. Akar sesungguhnya dari holisme ada dalam metafisika Aristoteles, khususnya dalam dua proposisi yang saling terkait: bahwa “keseluruhan lebih besar dari jumlah bagian-bagiannya,” dan bahwa realitas tertinggi adalah substansi-substansi yang bersifat complete-in-themselves, yang memiliki prinsip-prinsip organisasi imanen yang tidak dapat direduksi ke elemen-elemen konstitutifnya. Bagi Aristoteles, organisme hidup adalah model paradigmatik dari realitas semacam ini: seekor kucing bukan sekadar kumpulan sel, organ, dan jaringan—ia adalah entitas yang memiliki “jiwa” (psyche) sebagai prinsip pengorganisasiannya, yang mendefinisikan fungsi setiap bagian dan yang menentukan bagaimana setiap bagian harus dipahami. Tanpa mengacu pada keseluruhan organisme dan tujuannya (telos), kita tidak dapat memahami fungsi jantung atau paru-paru. Analogi organistik ini—masyarakat sebagai organisme—menjadi salah satu metafora paling produktif sekaligus paling bermasalah dalam sejarah pemikiran sosial.
Tetapi ada jalur lain menuju holisme yang sama pentingnya: jalur yang melewati filsafat Jerman abad ke-18 dan ke-19, terutama melalui Leibniz, Kant, dan Hegel. Leibniz, dengan konsepnya tentang “monad” sebagai entitas-entitas yang sepenuhnya mencerminkan keseluruhan semesta dari perspektif mereka sendiri, memperkenalkan gagasan bahwa bagian-bagian dan keseluruhan saling meresapi secara fundamental. Kant, dalam Kritik der Urteilskraft (1790), membedakan antara “mekanisme” (di mana bagian-bagian menentukan keseluruhan) dan “organisme” (di mana keseluruhan menentukan bagian-bagian) sebagai dua mode penjelasan yang berbeda secara kategorial—dan berpendapat bahwa organisme tidak dapat dipahami sepenuhnya melalui prinsip-prinsip mekanistik. Hegel mengambil intuisi-intuisi ini dan meradikalisasinya menjadi sebuah sistem metafisika di mana “keseluruhan” (das Ganze) bukan sekadar lebih besar dari bagian-bagiannya, melainkan secara ontologis mendahului dan mengondisikan mereka: bagian-bagian hanya memperoleh determinasi yang pasti dalam kaitannya dengan keseluruhan, dan keseluruhan itu sendiri adalah proses—proses Geist yang mewujudkan dirinya melalui sejarah. Tanpa memahami warisan Hegelian ini, kita tidak dapat memahami mengapa holisme di abad ke-19 dan ke-20 sering mengambil bentuk yang filosofis dan historis secara bersamaan.
Émile Durkheim (1858–1917) adalah figur yang paling menentukan dalam memberi bentuk sosiologis holistik. Lahir di Épinal, Lorraine, dari keluarga rabbi Yahudi, Durkheim membawa kombinasi yang sangat produktif: sensitivitas terhadap krisis moral masyarakat modern (yang ia alami secara langsung dalam periode pascakekalahan Prancis 1870–1871 dan skandal Dreyfus) dan komitmen kuat pada ilmu pengetahuan sebagai alat untuk memahami dan merespons krisis tersebut. Ia belajar filsafat di École Normale Supérieure di Paris, di mana ia bersentuhan dengan neo-Kantianisme dan dengan karya Comte—meskipun ia selalu mempertahankan jarak kritis dari keduanya. Studinya di Jerman pada 1885–1886, di mana ia berkenalan dengan psikologi fisiologis Wundt dan sosiologi akademis yang sedang berkembang, memperkuat keyakinannya bahwa ilmu sosial yang benar-benar ilmiah adalah mungkin dan perlu.
Proyek Durkheim dapat dibaca sebagai upaya menjawab satu pertanyaan yang sangat mendesak bagi zamannya: bagaimana masyarakat modern yang semakin terfragmentasi, semakin individualistis, dan semakin kehilangan ikatan-ikatan tradisional dapat mempertahankan kohesi sosial yang diperlukan untuk fungsinya? Pertanyaan ini—yang sangat Hobbesian dalam strukturnya—mendapat jawaban yang anti-Hobbesian dari Durkheim: kohesi sosial tidak dicapai melalui kontrak atau paksaan, melainkan melalui “kesadaran kolektif” (conscience collective) dan solidaritas sosial yang berakar bukan dalam kepentingan tetapi dalam nilai-nilai bersama. Dalam De la division du travail social (1893), Durkheim membedakan antara “solidaritas mekanik”—kohesi masyarakat tradisional yang didasarkan pada keserupaan dan kepercayaan kolektif yang kuat—dengan “solidaritas organik”—kohesi masyarakat modern yang didasarkan pada ketergantungan mutual yang muncul dari pembagian kerja yang semakin terspesialisasi. Paradoksnya adalah bahwa semakin individu menjadi berbeda satu sama lain dalam fungsi dan kemampuan, semakin mereka saling bergantung—seperti organ-organ tubuh yang berbeda-beda tetapi saling memerlukan. Terminologi “organik” di sini bukan sekadar metafora—ia mencerminkan komitmen ontologis bahwa masyarakat modern memiliki prinsip kohesinya sendiri yang imanen, berbeda dari masyarakat tradisional, tetapi tidak kurang nyata.
Apa yang menjadikan Durkheim seorang holist yang konsisten adalah argumennya dalam Les Règles de la Méthode Sociologique (1895) tentang sifat faits sociaux. Fakta sosial, katanya, memiliki dua properti yang membedakannya dari fakta psikologis: extériorité (ia ada di luar individu, sebagai produk dari sejarah kolektif yang mendahului individu mana pun) dan contrainte (ia memaksa individu untuk bertindak atau berpikir dengan cara tertentu, terlepas dari kehendak mereka). Contoh-contohnya sangat konkret: bahasa yang kita warisi memaksakan kategori-kategori tertentu pada pikiran kita; hukum yang ada mengancam sanksi bagi yang melanggar; norma-norma kesopanan mengeluarkan tekanan difus yang sangat nyata. Klaim Durkheim yang paling kontroversial adalah bahwa fakta sosial tidak dapat dijelaskan dengan mengacu pada psikologi individual—sebab setiap fakta sosial harus dijelaskan oleh fakta sosial lain, bukan oleh kondisi psikologis atau biologis individu. Prinsip ini—yang sering disebut “otonomi sosiologi”—adalah ekspresi paling murni dari holisme metodologis.
Ketegangan yang paling produktif dalam holisme Durkheim terlihat ketika kita membandingkan dua karya besar lainnya: Le Suicide (1897) dan Les Formes Élémentaires de la Vie Religieuse (1912). Dalam Le Suicide, Durkheim mengambil fenomena yang tampaknya paling individual—keputusan untuk mengakhiri hidup sendiri—dan menunjukkan bahwa variasi dalam tingkat bunuh diri lintas kelompok sosial yang berbeda hanya dapat dijelaskan melalui dua variabel sosial: tingkat integrasi (seberapa kuat individu terikat dalam jaringan sosial) dan tingkat regulasi moral (seberapa kuat norma-norma kolektif membimbing perilaku individu). Empat tipe yang dihasilkan—egoistik (integrasi rendah), altruistik (integrasi terlalu tinggi), anomik (regulasi rendah), fatalistik (regulasi terlalu tinggi)—adalah demonstrasi metodologis dari bagaimana variasi dalam kondisi sosial secara sistematis menghasilkan variasi dalam perilaku individual. Ini adalah holisme dalam bentuknya yang paling positivistik: ia mengklaim bahwa ada hukum-hukum sosial yang dapat diidentifikasi melalui analisis statistik komparatif.
Namun, dalam Les Formes Élémentaires, Durkheim bergerak ke dimensi yang jauh lebih filosofis dan jauh lebih mendalam. Di sini ia meneliti agama totem di kalangan masyarakat Arunta Australia—tetapi pertanyaannya sesungguhnya bukan tentang Australia; pertanyaannya adalah tentang asal-usul kategori-kategori dasar pikiran manusia. Argumennya yang mengejutkan: kategori-kategori a priori yang oleh Kant dianggap sebagai kondisi universal dari pikiran manusia—waktu, ruang, kausalitas, totalitas, kelas—sebenarnya adalah kategori-kategori sosial yang berasal dari pengalaman hidup bersama dalam komunitas. Waktu sebagai kategori berasal dari ritme-ritme kolektif; ruang sebagai kategori berasal dari organisasi spasial komunitas; totalitas berasal dari pengalaman tentang masyarakat sebagai keseluruhan yang mencakup semua. Dengan kata lain, bahkan kemampuan kognitif kita yang paling dasar adalah konstruksi sosial—holisme Durkheim di sini melampaui metodologi dan menjadi epistemologi: ia berpendapat bahwa cara kita mengetahui dunia secara fundamental dibentuk oleh kondisi-kondisi sosial kita. Ini adalah klaim yang sangat berani, dan ia mendapat respons yang sangat beragam—dari penerimaan antusias oleh Mauss, Lévy-Bruhl, dan strukturalisme kemudian, hingga penolakan keras dari tradisi individualisme kognitif.
Holisme mencapai ekspresinya yang paling formal dan paling sistematis dalam fungsionalisme struktural Talcott Parsons (1902–1979). Parsons belajar di London School of Economics terutama di bawah L.T. Hobhouse, kemudian di Heidelberg di mana ia mempelajari karya Weber secara mendalam, dan akhirnya di Harvard di mana ia membangun karier yang sangat berpengaruh. The Structure of Social Action (1937) adalah magnum opus pertamanya—sebuah karya yang menggabungkan interpretasi atas Marshall, Pareto, Durkheim, dan Weber ke dalam apa yang ia klaim sebagai “kerangka tindakan voluntaristik” yang konvergen. Proyek ini sangat ambisius: menunjukkan bahwa ilmu sosial yang tampaknya berbeda-beda sebenarnya sedang bergerak menuju satu kerangka konseptual yang sama. Dalam The Social System (1951), Parsons mengembangkan kerangka ini menjadi teori sistem yang komprehensif, dengan skema AGIL—Adaptation, Goal Attainment, Integration, Latency Pattern Maintenance—sebagai empat fungsi universal yang harus dipenuhi oleh setiap sistem sosial agar dapat bertahan.
Apa yang secara filosofis paling bermasalah dalam fungsionalisme Parsonian bukanlah pertanyaan tentang apakah sistem sosial memiliki fungsi-fungsi tertentu—pertanyaan itu sangat masuk akal. Yang bermasalah adalah implikasi teleologis dari fungsionalisme: bahwa institusi-institusi ada karena mereka memenuhi fungsi-fungsi tertentu yang diperlukan oleh sistem. Ini mengandung sebuah inferensi dari konsekuensi ke asal-usul yang secara logis tidak valid. Bahwa keluarga memiliki fungsi sosialisasi tidak menjelaskan mengapa keluarga sebagai institusi ada atau bagaimana ia muncul secara historis. Para kritikus—termasuk Robert Merton yang sebenarnya berada dalam kubu fungsionalis—menunjukkan bahwa fungsionalisme cenderung mengabaikan “disfungsi” (konsekuensi negatif dari institusi) dan “fungsi-fungsi laten” (konsekuensi yang tidak disadari dan tidak diinginkan). Merton dalam Social Theory and Social Structure (1949) berusaha memodifikasi fungsionalisme dengan cara yang lebih canggih dan lebih sadar diri—tetapi modifikasi ini, meskipun sangat berguna, tidak mampu menyelesaikan masalah teleologis yang lebih dalam.
Holisme sebagai posisi filosofis menghadapi tantangan paling fundamental dari pertanyaan tentang mekanisme kausal. Ketika holist mengatakan bahwa “struktur sosial membentuk tindakan individual,” apa tepatnya yang mereka maksud dengan “membentuk”? Mekanisme apa yang beroperasi? Jika jawabannya adalah “internalisasi nilai-nilai” (seperti dalam Parsons), maka holisme bergantung pada psikologi—dan ini membuka pertanyaan tentang apakah “nilai” itu sendiri adalah fakta sosial atau fakta psikologis. Jika jawabannya adalah “paksaan eksternal” (seperti dalam beberapa pembacaan atas Durkheim), maka holisme harus menjelaskan bagaimana paksaan itu beroperasi pada individu yang konkret—dan ini juga mengarah ke psikologi atau ke ekonomi politik tentang sanksi. Tidak ada jawaban yang mudah untuk pertanyaan ini—dan inilah mengapa holisme, meskipun sangat produktif sebagai orientasi penelitian, selalu membutuhkan teori tentang mekanisme yang tidak dapat diberikan oleh holisme itu sendiri.
INDIVIDUALISME
Individualisme metodologis memiliki genealogi intelektual yang lebih panjang dan lebih berliku daripada holisme, karena ia mewarisi bukan satu melainkan beberapa tradisi filosofis yang berbeda: nominalisme skolastik abad pertengahan, liberalisme politik abad ke-17 dan ke-18, empirisme Inggris, dan utilitarianisme abad ke-19. William of Ockham (1287–1347) adalah titik berangkat yang sering diabaikan: dalam perdebatan universalia, ia berpendapat bahwa hanya individual-individual konkret yang memiliki eksistensi nyata, sementara konsep-konsep umum seperti “kemanusiaan” atau “kebaikan” hanyalah nama—*nomina*—yang kita gunakan untuk mengelompokkan individual-individual yang serupa. Implikasi dari nominalisme ini untuk ilmu sosial adalah langsung: entitas-entitas kolektif seperti “negara,” “kelas,” atau “masyarakat” tidak memiliki eksistensi independen dari individu-individu yang terdiri dari mereka. Mereka adalah nama-nama yang kita gunakan untuk pola-pola regularitas dalam perilaku individual—tidak lebih dan tidak kurang.
Nominalisme Ockhamian menyediakan fondasi metafisik bagi liberalisme politik yang berkembang di Inggris abad ke-17, terutama melalui Thomas Hobbes dan John Locke. Dalam Leviathan (1651), Hobbes membangun seluruh filosofi politiknya dari satu titik berangkat: kondisi alamiah manusia sebagai individu-individu yang bersaing dalam “perang semua melawan semua.” Masyarakat, bagi Hobbes, bukan fakta alam—ia adalah artefak, kontrak yang sengaja dibuat oleh individu-individu yang rational-calculating untuk keluar dari kondisi alam yang destruktif. Ini adalah atomisme sosial dalam bentuknya yang paling murni: individu mendahului masyarakat secara ontologis, dan masyarakat hanya dapat dipahami sebagai produk dari kalkulasi individual. John Locke kemudian memodifikasi kontrak sosial Hobbes dengan memasukkan “hak-hak alamiah” yang tidak dapat dicabut—kehidupan, kebebasan, dan properti—yang mendahului negara dan yang menjadi standar legitimasi kekuasaan politik. Dalam Two Treatises of Government (1689), individualisme menjadi bukan hanya posisi ontologis, tetapi posisi normatif: individu adalah sumber nilai, dan institusi sosial harus dievaluasi berdasarkan sejauh mana mereka melindungi atau melanggar hak-hak individual.
Utilitarianisme Inggris—melalui Jeremy Bentham (1748–1832) dan John Stuart Mill (1806–1873)—mengambil individualisme dan memberikannya fondasi psikologis-hedonistik. Bagi Bentham, semua manusia dimotivasi oleh satu prinsip: memaksimalkan kesenangan dan meminimalkan rasa sakit. “Kalkulus felisitik” yang ia kembangkan berusaha mengkuantifikasikan kesenangan dan rasa sakit dalam berbagai dimensi (intensitas, durasi, kemungkinan, dll.) sehingga perbandingan dan agregasi dimungkinkan. Implikasi sosialnya sangat jauh: kebijakan publik yang baik adalah yang memaksimalkan “kebahagiaan terbesar dari jumlah terbesar” (the greatest happiness of the greatest number)—sebuah prinsip yang mengandaikan bahwa kebahagiaan individual dapat diagregasikan secara bermakna. Ini adalah asumsi yang sangat bermasalah secara filosofis—bagaimana kita membandingkan dan menjumlahkan kebahagiaan dari individu-individu yang berbeda?—Tetapi ia sangat produktif secara analitis karena ia memungkinkan formalisme matematis yang kemudian menjadi jantung dari ekonomi neoklasik.
Ekonomi neoklasik, yang muncul dari “revolusi marjinal” tahun 1870-an melalui Jevons, Menger, dan Walras secara simultan dan independen, mengambil psikologi hedonistik Benthamian dan memformalkannya ke dalam teori utilitas yang dapat dioptimalkan. Konsep “utilitas marjinal yang menurun” (diminishing marginal utility) dan “ekuilibrium” sebagai titik di mana individu-individu yang rational-maximizing tidak lagi memiliki insentif untuk mengubah keputusannya menjadi fondasi bagi seluruh teori harga, pasar, dan alokasi sumber daya. Yang penting untuk dicatat adalah bahwa ekonomi neoklasik bukan hanya ilmu ekonomi—ia adalah program filosofis tentang sifat manusia dan masyarakat. Asumsi-asumsinya tentang “homo economicus”—individu yang memiliki preferensi yang lengkap, transitif, dan stabil, yang memilih secara konsisten untuk memaksimalkan utilitas yang diharapkan dengan informasi yang sempurna—adalah gambaran tentang manusia yang sangat spesifik dan sangat kontroversial. Veblen yang tajam menyebutnya sebagai “kalkulator kilat dari rasa sakit dan kesenangan, yang berosilasi seperti gumpalan homogen dari hasrat akan kebahagiaan” (“a lightning calculator of pleasures and pains, who oscillates like a homogeneous globule of desire of happiness“).
Max Weber (1864–1920) adalah tokoh yang paling penting dalam memediasi antara individualisme metodologis dan kebutuhan akan analisis struktural yang serius. Lahir di Erfurt dari keluarga borjuis yang terdidik—ayahnya adalah politisi liberal dan ibunya adalah perempuan Calvinis yang sangat saleh—Weber tumbuh dalam ketegangan yang produktif antara dua orientasi ini, ketegangan yang kemudian menjadi motor dari seluruh karyanya. Ia belajar hukum dan ekonomi di Heidelberg dan Berlin, dan karier akademisnya dimulai sebagai sejarawan ekonomi dengan penelitian tentang pertanian Romawi kuno dan tentang situasi petani di Jerman Timur. Tetapi krisis saraf yang hampir menghancurkan karier akademisnya pada akhir 1890-an menghasilkan, ketika ia pulih, sebuah pemikir yang jauh lebih besar dan jauh lebih komprehensif.
Kontribusi Weber untuk individualisme metodologis adalah formulasinya tentang “tindakan sosial” (soziales Handeln) sebagai unit dasar analisis sosiologis. Tindakan adalah perilaku kepada mana pelakunya melampirkan makna subjektif (subjektiver Sinn). Tindakan sosial adalah tindakan yang maknanya diarahkan pada perilaku orang lain—dan agar sosiologi menjadi mungkin, kita harus mampu *memahami* makna-makna ini, bukan sekadar mengukur perilaku dari luar. Tetapi Weber sangat berhati-hati untuk tidak jatuh ke dalam psikologisme: memahami makna bukan berarti memasuki kesadaran individu melalui empati (Einfühlung) ala Dilthey; ia berarti menggunakan konstruksi-konstruksi konseptual—”tipe ideal”—yang memungkinkan kita menghubungkan tindakan individual ke pola-pola yang lebih luas. Tipe ideal bukanlah deskripsi empiris tentang bagaimana orang sesungguhnya bertindak; ia adalah konstruksi analitis yang mempertajam ciri-ciri tertentu dari suatu fenomena sehingga ia dapat digunakan sebagai standar perbandingan. Kapitalisme dalam arti ideal-tipikal—orientasi terhadap akumulasi sistematis melalui pertukaran pasar yang rasional—tidak identik dengan kapitalisme konkret mana pun, tetapi memberikan standar yang memungkinkan kita menentukan seberapa jauh kapitalisme konkret tertentu mendekati atau menyimpang dari tipenya.
Paradoks individualisme, yang paling jelas dalam karya Weber, adalah bahwa analisis yang paling mendalam tentang tindakan individual selalu mengarah ke pertanyaan-pertanyaan struktural. Tipe-tipe tindakan sosial yang Weber identifikasikan—zweckrational (rasional-tujuan), wertrational (rasional-nilai), afektif, tradisional—bukan hanya deskripsi tentang variasi dalam psikologi individual; mereka adalah karakterisasi tentang orientasi-orientasi kultural yang berbeda yang mendominasi tipe-tipe masyarakat yang berbeda. Ketika Weber menunjukkan bahwa “rasionalisasi”—meningkatnya dominasi tindakan zweckrational—adalah tren historis besar modernitas Barat, ia sedang membuat klaim struktural yang sangat besar tentang arah perubahan sosial. Ketika ia mendeskripsikan “sangkar besi” (stahlhartes Gehäuse) kapitalisme rasional dan birokrasi modern sebagai tatanan yang semakin tidak dapat melarikan diri dari padanya, ia sedang mengungkapkan kesadaran tragis tentang bagaimana struktur yang diciptakan oleh tindakan manusia dapat menjadi kekuatan yang lebih besar dan lebih menindas daripada yang pernah dibayangkan oleh para penciptanya.
B.F. Skinner (1904–1990) mewakili radikalisasi individualisme ke arah yang sangat berbeda dari Weber: ke arah naturalisme behavioristik yang menolak semua referensi pada “makna” atau “intensi” sebagai tidak ilmiah. Skinner belajar di Hamilton College dan kemudian di Harvard, di mana ia mengembangkan program psikologi eksperimental yang sangat ketat berdasarkan prinsip-prinsip reinforcement. Dalam The Behavior of Organisms (1938) dan kemudian Science and Human Behavior (1953), ia membangun teori “pengkondisian operan” (*operant conditioning*)—bahwa perilaku yang menghasilkan konsekuensi yang memperkuat (reinforcing) cenderung diulangi, sementara perilaku yang menghasilkan konsekuensi yang melemahkan (punishing) cenderung dihindari. Ini adalah formalisme yang sangat elegan dalam kondisi laboratorium—tetapi ambisi Skinner jauh melampaui laboratorium. Dalam Beyond Freedom and Dignity (1971), ia berpendapat bahwa seluruh konsep “kebebasan” dan “martabat” manusia adalah ilusi yang dihasilkan oleh ignoransi tentang contingencies of reinforcement yang sesungguhnya mengendalikan perilaku—dan bahwa desain sosial yang ilmiah, berdasarkan penerapan prinsip-prinsip reinforcement secara sistematis, dapat menciptakan masyarakat yang lebih baik. Kritik Chomsky yang terkenal terhadap Verbal Behavior (1959) menghancurkan klaim Skinner bahwa bahasa dapat dijelaskan melalui reinforcement—menunjukkan bahwa “poverty of stimulus” dalam akuisisi bahasa anak-anak membuktikan adanya struktur kognitif bawaan yang tidak dapat direduksi ke sejarah reinforcement—dan dengan demikian membuka jalan bagi revolusi kognitif yang mengubah seluruh psikologi.
George Homans (1910–1989) mengambil behaviorisme Skinnerian dan menerapkannya pada sosiologi dalam Social Behavior: Its Elementary Forms (1961)—sebuah buku yang sangat berpengaruh dan sangat kontroversial. Lima proposisi dasar Homans—proposisi sukses (perilaku yang diperkuat lebih mungkin diulangi), proposisi stimulus (jika stimulus serupa mempertegas perilaku di masa lalu, stimulus serupa akan mempertegas lagi), proposisi nilai (semakin bernilai suatu tindakan, semakin sering dilakukan), proposisi deprivasi-satiasi (semakin sering seseorang baru-baru ini menerima reward tertentu, semakin kurang bernilai reward tersebut), dan proposisi agresi-persetujuan (ketika seseorang tidak mendapat apa yang diharapkan, menjadi marah)—adalah terjemahan langsung dari prinsip-prinsip behavioristik ke dalam sosiologi. James Coleman kemudian mengembangkan versi yang jauh lebih canggih dalam Foundations of Social Theory (1990), dengan membangun model formal tentang bagaimana “aksi korporat” muncul dari interaksi antara aktor-aktor yang memiliki sumber daya dan kepentingan—tetapi masalah dasarnya tetap sama: bagaimana agregasi dari tindakan-tindakan yang dideskripsikan dalam bahasa individual dapat menghasilkan fenomena sosial yang memiliki sifat-sifat yang tidak ada dalam deskripsi individual mana pun.
Mancur Olson (1932–1998) dalam The Logic of Collective Action (1965) mengidentifikasikan paradoks paling mendasar dalam tradisi individualisme rasional: bahwa individu-individu yang sepenuhnya rasional, ketika dihadapkan dengan barang publik yang manfaatnya non-excludable dan non-rival, memiliki insentif yang kuat untuk “menumpang gratis” (*free-ride*) di atas kontribusi orang lain. Akibatnya, kelompok-kelompok besar yang memiliki kepentingan kolektif yang sama sering gagal mengorganisir tindakan kolektif yang diperlukan—sementara kelompok-kelompok kecil dengan kepentingan yang terkonsentrasi dan dengan kemampuan untuk memantau dan menyanksi anggota yang tidak berkontribusi dapat mengorganisir diri dengan lebih efektif. Ini memiliki implikasi yang sangat signifikan untuk pemahaman tentang mengapa demokrasi sering menghasilkan kebijakan yang menguntungkan minoritas yang terorganisir atas biaya mayoritas yang tidak terorganisir—dan mengapa gerakan sosial yang besar dan spontan sering lebih sulit dipertahankan daripada lobi-lobi industri yang kecil tetapi konsisten. Douglass North (1920–2015) kemudian mengintegrasikan paradoks Olsonian ini ke dalam teorinya tentang institusi—menunjukkan bahwa institusi muncul sebagian untuk mengatasi problem free-rider, dan bahwa path dependence dalam institusional change menjelaskan mengapa solusi-solusi yang tidak optimal secara ekonomis dapat bertahan sangat lama.
STRUKTURISME
Strukturisme tidak lahir dari kevakuman—ia lahir dari kekecewaan yang semakin meningkat terhadap dua alternatif yang tersedia: kekecewaan terhadap holisme yang tampaknya membeli koherensi sistematis dengan harga mengorbankan agen dan perubahan historis, dan kekecewaan terhadap individualisme yang tampaknya membeli kejelasan analitis dengan harga mengabaikan realitas kondisi-kondisi struktural yang sangat nyata yang membentuk kemampuan dan pilihan individu. Kekecewaan ganda ini bukan hanya akademis—ia berakar dalam pengalaman sejarah abad ke-20 yang menghasilkan pertanyaan-pertanyaan yang tidak dapat dijawab oleh holist maupun individualist: bagaimana mungkin jutaan orang “biasa” berpartisipasi dalam genosida? Bagaimana mungkin kolonialisme dipertahankan selama berabad-abad dengan partisipasi aktif dari begitu banyak agen? Bagaimana mungkin kapitalisme global mempertahankan ketidaksetaraan yang sangat ekstrem meskipun sebagian besar individu dalam sistem tersebut tidak menginginkannya? Pertanyaan-pertanyaan ini menuntut analisis yang mengakui kekuatan nyata dari struktur-struktur yang tidak dipilih dan tidak dikontrol oleh individu mana pun, sekaligus mengakui bahwa perubahan historis membutuhkan agen-agen yang aktif dan transformatif—bahwa tidak ada struktur yang berubah dengan sendirinya.
Sumber filosofis paling sistematis dari strukturisme adalah karya Roy Bhaskar (1944–2014), khususnya A Realist Theory of Science (1975) dan The Possibility of Naturalism (1979). Bhaskar lahir di London dari ayah India dan ibu Inggris, belajar di Balliol College, Oxford, di bawah Rom Harré, dan mengembangkan “realisme transandantal” sebagai koreksi terhadap apa yang ia sebut “empirical realism” dari positivisme dan “transcendental idealism” dari Kant. Argumen intinya dalam A Realist Theory of Science adalah sebuah argumen “retroductive” tentang kondisi-kondisi yang diperlukan agar eksperimen ilmiah menjadi mungkin: eksperimen bukan sekadar observasi pasif tentang regularitas—ia adalah intervensi aktif yang menciptakan kondisi-kondisi penutupan artifisial sehingga satu mekanisme dapat diisolasi dari mekanisme-mekanisme lain yang biasanya beroperasi secara bersamaan. Fakta bahwa ilmuwan perlu *menciptakan* kondisi ini—bukan sekadar menunggu mereka terjadi secara alamiah—menunjukkan bahwa dunia “terbuka” secara ontologis: banyak mekanisme beroperasi secara simultan, dan regularitas empiris yang kita observasi dalam kondisi terbuka adalah produk dari interaksi yang kompleks antara banyak mekanisme, bukan manifestasi langsung dari satu hukum tunggal.
Stratifikasi ontologis yang dikembangkan Bhaskar—membedakan antara *real* (mekanisme dan kekuatan kausal yang ada terlepas dari apakah mereka diaktivasi), *actual* (peristiwa-peristiwa yang terjadi ketika mekanisme diaktivasi, terlepas dari apakah diamati), dan *empirical* (apa yang diamati dan dialami)—memiliki implikasi yang sangat penting untuk ilmu sosial. Positivisme, dalam mengidentifikasi “realitas” dengan “empiris,” melakukan apa yang Bhaskar sebut “epistemic fallacy”—mereduksi pertanyaan tentang apa yang ada ke pertanyaan tentang apa yang dapat diketahui. Ini menghasilkan ilmu sosial yang hanya dapat berbicara tentang regularitas yang dapat diamati—dan karena dalam ilmu sosial regularitas yang kuat dan tak bersyarat hampir tidak pernah ditemukan, positivisme cenderung menghasilkan ilmu sosial yang sangat terbatas dalam klaim-klaim kausalitinya. Realisme kritis membenarkan klaim-klaim tentang mekanisme yang tidak teramati langsung—seperti “kelas,” “kapitalisme,” atau “patriarki”—selama klaim-klaim tersebut merupakan bagian dari teori yang memiliki kekuatan eksplanasi dan yang menghasilkan penelitian empiris yang produktif.
Dalam The Possibility of Naturalism (1979), Bhaskar mengembangkan argumen bahwa realisme kritis yang ia kembangkan untuk ilmu alam dapat diterapkan pada ilmu sosial—tetapi hanya setelah mengakui cara-cara penting di mana ilmu sosial berbeda secara ontologis. Pertama, struktur sosial berbeda dari mekanisme-mekanisme alamiah karena mereka activity-dependent: relasi-relasi kelas hanya ada sejauh agen-agen terus-menerus mereproduksinya melalui tindakan-tindakan konkret dalam proses produksi. Kedua, mereka *concept-dependent*: apakah suatu pembayaran adalah “upah” atau “hadiah” atau “suap” bergantung pada konsepsi-konsepsi yang dimiliki agen tentang aktivitas tersebut—dan konsepsi-konsepsi ini memengaruhi bagaimana mereka merespons. Ketiga, mereka *open*: tidak ada kondisi penutupan eksperimental yang dapat dicapai dalam ilmu sosial karena agen selalu memiliki kemampuan untuk bertindak sebaliknya dari yang diprediksi. Semua perbedaan ini tidak membuat ilmu sosial ilmiah yang inferior—mereka membuat praktik ilmu sosial berbeda dari ilmu alam dalam cara-cara yang penting.
“Transformational Model of Social Activity” (TMSA) yang dikembangkan Bhaskar memberikan gambaran yang sangat produktif tentang hubungan antara struktur dan agen: individu tidak menciptakan masyarakat dari nol—mereka selalu mewarisi sebuah ensemble dari kondisi sosial yang sudah ada, yang telah direproduksi oleh generasi-generasi sebelumnya dan yang menyediakan kondisi-kondisi yang diperlukan bagi tindakan mereka. Ketika mereka bertindak, mereka secara tidak terelakkan mereproduksi atau mentransformasi kondisi-kondisi tersebut—sering tanpa menyadarinya. Hubungan antara agen dan struktur bukan hubungan simetris: struktur mendahului agen secara temporal dan menyediakan kondisi-kondisi (yang memungkinkan dan yang membatasi) bagi tindakan, sementara tindakan mereproduksi atau mengubah struktur, namun selalu dalam jangka waktu yang lebih panjang dari apa yang biasanya disadari oleh agen yang bersangkutan.
Margaret Archer (lahir 1943) mengembangkan “morphogenetic approach” dalam Realist Social Theory (1995) sebagai respons terhadap apa yang ia anggap kelemahan Giddens: dengan “conflating” struktur dan agen dalam konsep “dualitas struktur,” Giddens membuat analisis yang presisi tentang bagaimana kondisi-kondisi struktural yang sudah ada membentuk tindakan menjadi sulit. Archer mempertahankan “dualisme analitis” (*analytical dualism*): meskipun secara ontologis struktur dan agen saling terkait, mereka adalah ontologis berbeda dan perbedaan ini harus dipertahankan dalam analisis. Siklus morfogenetis yang ia kembangkan—kondisioning struktural mendahului interaksi, interaksi menghasilkan elaborasi atau reproduksi struktural—memungkinkan analisis yang lebih presisi tentang bagaimana struktur memengaruhi agen dan bagaimana agen mengubah struktur dalam urutan temporal yang spesifik.
POSITIVISME DAN METODE ILMIAH POSITIVIS
Positivisme sebagai program filosofis yang terkoherensi lahir pada awal abad ke-19—tetapi akar intelektualnya jauh lebih dalam, tertanam dalam empirisme Inggris abad ke-17 dan ke-18 yang dipimpin oleh Francis Bacon, John Locke, George Berkeley, dan David Hume. Bacon dalam Novum Organum (1620) merumuskan program yang sangat berpengaruh untuk reformasi metode ilmiah: meninggalkan “idola-idola” (pra-konsepsi, otoritas, bahasa yang menyesatkan, sistem-sistem deduktif) dan menggantinya dengan induksi yang cermat dari pengalaman yang terorganisasi secara sistematis. Locke dalam An Essay Concerning Human Understanding (1689) berpendapat bahwa pikiran manusia lahir sebagai “tabula rasa” dan bahwa seluruh pengetahuan berasal dari pengalaman sensori. Hume mengambil empirisme ke konsekuensi yang paling radikal dalam A Treatise of Human Nature (1739–1740): bahwa tidak ada “kausalitas” yang dapat diamati di dunia—yang kita amati hanyalah konting (constant conjunction) antara peristiwa-peristiwa; inferensi kita tentang “kausalitas” adalah produk dari kebiasaan psikologis, bukan dari observasi. Hume juga menunjukkan bahwa dari pernyataan-pernyataan faktual tidak pernah dapat diturunkan secara logis pernyataan-pernyataan normatif—”is” tidak dapat menghasilkan “ought“—sebuah prinsip yang kemudian menjadi landasan bagi pemisahan antara ilmu pengetahuan dan penilaian nilai yang sangat berpengaruh dalam positivisme.
Auguste Comte (1798–1857) adalah orang pertama yang mengintegrasikan warisan empirisme Inggris ke dalam program yang komprehensif untuk ilmu sosial. Lahir di Montpellier dari keluarga monarkis Katolik, Comte menjadi sekretaris Saint-Simon—sang utopis sosialis—sebelum memutuskan hubungan dan mengembangkan sistemnya sendiri. Latar belakang ini sangat penting: positivisme Comte bukan program akademis yang netral—ia adalah respons terhadap krisis sosial dan moral yang ia lihat melanda Prancis pasca-Revolusi, di mana destruksi tatanan lama tidak diikuti oleh pembangunan tatanan baru yang kokoh. Ilmu positif, bagi Comte, adalah jawaban terhadap krisis ini: hanya ilmu pengetahuan yang benar-benar positif—yaitu, yang berdasarkan fakta yang dapat diamati dan bukan spekulasi metafisik—yang dapat memberikan fondasi yang kukuh bagi tatanan sosial baru. “Hukum tiga tahap” (Loi des trois états)—teologis, metafisik, positif—bukan sekadar deskripsi tentang kemajuan intelektual manusia; ia adalah prediksi tentang arah yang harus dituju masyarakat modern.
Lingkaran Wina (Wiener Kreis) yang terbentuk di sekitar Moritz Schlick di Universitas Wina pada awal 1920-an adalah ekspresi paling sistematis dari positivisme dalam abad ke-20. Anggota-anggotanya—Rudolf Carnap, Otto Neurath, Hans Hahn, Friedrich Waismann, Herbert Feigl—adalah kombinasi yang sangat produktif dari filsuf, matematikawan, dan ilmuwan dengan minat dalam fondasi logis dari ilmu pengetahuan. Mereka sangat terpengaruh oleh Tractatus Logico-Philosophicus (1921) Wittgenstein, meskipun Wittgenstein sendiri tidak pernah menjadi anggota dan kemudian mengembangkan posisi yang sangat berbeda. “Prinsip verifikasi” yang menjadi doktrin sentral Lingkaran—bahwa sebuah pernyataan bermakna secara kognitif jika dan hanya jika ia dapat diverifikasi secara empiris atau merupakan tautologi analitis—adalah senjata filosofis yang sangat kuat untuk melenyapkan metafisika, etika substansial, dan estetika dari domain pengetahuan yang sah. Program “unified science” (*Einheitswissenschaft*) yang diperjuangkan terutama oleh Neurath bertujuan menyatukan semua ilmu pengetahuan—termasuk ilmu sosial—di bawah satu bahasa fisikalis yang sama.
Kehancuran internal program positivisme logis dimulai ketika para anggotanya sendiri menyadari bahwa prinsip verifikasi tidak dapat dirumuskan dengan cara yang konsisten. Versi yang ketat—bahwa sebuah pernyataan bermakna hanya jika ia dapat diverifikasi secara conclusive—memiliki implikasi yang tidak dapat diterima: ia melenyapkan bukan hanya metafisika tetapi juga pernyataan-pernyataan ilmiah universal (yang secara logis tidak pernah dapat diverifikasi secara conclusive oleh jumlah observasi yang terbatas). Versi yang lebih longgar—konfirmabilitas sebagian, testabilitas—menghadapi “problem Goodman” dan berbagai kesulitan lain. Karl Popper (1902–1994), yang berkenalan dengan Lingkaran Wina tetapi tidak pernah menjadi anggotanya, mengajukan solusi yang berbeda secara prinsip dalam Logik der Forschung (1934): gantikan “verifikabilitas” dengan “falsifikabilitas” sebagai kriteria demarcasi antara ilmu dan non-ilmu. Sebuah teori adalah ilmiah jika ia menghasilkan prediksi-prediksi spesifik yang secara prinsip dapat difalsifikasi oleh pengamatan—dan sebuah teori adalah baik sejauh ia berani mengambil risiko pemfalsifikasian tetapi bertahan menghadapinya. Psikanalisis dan Marxisme, menurut Popper, bukan ilmu karena mereka tidak menghasilkan prediksi yang dapat difalsifikasi—mereka selalu dapat menjelaskan setiap outcome post hoc. Kritik ini terhadap Freud dan Marx, meskipun sangat berpengaruh, sering dianggap terlalu simplistis oleh para pembela kedua tradisi tersebut.
Thomas Kuhn (1922–1996) dalam The Structure of Scientific Revolutions (1962) memberikan serangan yang paling merusak terhadap gambaran positivis tentang ilmu pengetahuan sebagai proses kumulatif yang rasional. Kuhn, yang berlatar belakang fisika dan kemudian beralih ke sejarah ilmu pengetahuan, menunjukkan melalui analisis episode-episode historis dari perubahan ilmiah besar bahwa ilmuwan tidak bekerja dalam mode “falsifikasionistik” Popperian—yaitu, dengan secara terbuka menguji setiap proposisi dan siap meninggalkan teori yang difalsifikasi. Mereka bekerja dalam “paradigma”—*disciplinary matrix* yang mencakup teori inti, nilai-nilai yang diakui, contoh-contoh paradigmatik (exemplars), dan ontologi yang dianggap given. Anomali-anomali yang tidak dapat dijelaskan oleh paradigma tidak langsung memicunya untuk ditinggalkan; mereka diakumulasikan, dan ilmuwan bekerja untuk menyelesaikan anomali dalam batas-batas paradigma (*normal science*) sampai krisis yang cukup besar membuka jalan bagi “revolusi ilmiah”—periode transisi yang kacau di mana paradigma baru bersaing dengan yang lama dan tidak ada standar yang disepakati bersama untuk mengevaluasi mereka. Klaim “incommensurability“—bahwa paradigma yang berbeda tidak dapat dibandingkan secara netral—adalah yang paling kontroversial dan yang paling berpengaruh dari Kuhn, membuka pintu bagi relativisme epistemologis yang kemudian berkembang dalam sociology of scientific knowledge.
Dalam sejarah sosial, pengaruh positivisme paling terlihat dalam “cliometrics” atau “new economic history” yang dipimpin oleh Robert Fogel. Karya Time on the Cross: The Economics of American Negro Slavery (1974) yang ditulis Fogel bersama Stanley Engerman adalah demonstrasi yang paling ambisius dan paling kontroversial dari pendekatan ini: menggunakan metode-metode kuantitatif canggih dan model-model ekonomi untuk menunjukkan—sangat kontroversial—bahwa perbudakan di Amerika Selatan secara ekonomis efisien dan bahwa kondisi material budak lebih baik daripada yang digambarkan oleh historiografi tradisional. Kritik Herbert Gutman dalam Slavery and the Numbers Game (1975) menunjukkan dengan teliti bagaimana pilihan-pilihan metodologis Fogel dan Engerman—tentang apa yang dihitung, bagaimana mengonstruksi baseline pembanding, bagaimana menafsirkan data fragmentaris—mengandung asumsi-asumsi normatif yang tidak diakui. Perdebatan ini mengilustrasikan dengan sangat jelas batas fundamental dari positivisme dalam sejarah sosial: tidak ada data yang “berbicara sendiri”; data selalu sudah dimediasi oleh kerangka konseptual yang menentukan apa yang penting dan bagaimana menginterpretasikannya.
HERMENEUTIKA
Hermeneutika sebagai disiplin formal memiliki sejarah yang sangat panjang—jauh lebih panjang dari positivisme—karena ia berakar dalam praktik-praktik interpretif yang sangat tua: tafsir teks-teks suci (hermeneutika biblis) dan tafsir teks-teks hukum (hermeneutika juridis). Kata “hermeneutika” sendiri berasal dari nama dewa Hermes, sang pembawa pesan para dewa, yang fungsinya adalah menerjemahkan kehendak para dewa ke dalam bahasa yang dapat dipahami manusia. Dalam tradisi Kristen awal, interpretasi kitab suci adalah pekerjaan yang sangat serius dengan konsekuensi yang sangat besar: menafsirkan “dengan benar” bisa berarti keselamatan; menafsirkan “dengan salah” bisa berarti bid’ah dan penghukuman. Dari ketegangan ini berkembanglah tradisi hermeneutika yang sangat kaya, mulai dari hermeneutika “empat makna” (sensus literalis, sensus allegoricus, sensus tropologicus, sensus anagogicus) dalam eksegesis abad pertengahan, hingga debat-debat sengit antara Luther dan Zwingli tentang interpretasi “literal” vs. “alegoris” dari pernyataan Ekaristi yang menjadi salah satu pemicu dari perpecahan Protestan.
Friedrich Schleiermacher (1768–1834) adalah tokoh yang pertama kali berusaha mengembangkan hermeneutika dari disiplin yang khusus untuk teks-teks sakral dan hukum menjadi teori umum tentang pemahaman. Schleiermacher, seorang teolog Protestan dan filosof di Universitas Berlin, berpendapat bahwa tantangan hermeneutis pada dasarnya sama terlepas dari jenis teks yang dihadapi: bagaimana kita dapat memahami apa yang dimaksud oleh pengarang yang hidup dalam konteks historis yang berbeda dari kita? Dua elemen yang ia identifikasikan sebagai fundamental—pemahaman “gramatikal” (tentang bahasa dan konvensi linguistik zaman pengarang) dan pemahaman “psikologis” atau “teknis” (tentang pikiran dan karakter pengarang)—membentuk spiral hermeneutis yang tidak pernah mencapai pemahaman yang sempurna tetapi selalu dapat diperhalus. Wilhelm Dilthey (1833–1911) mengambil warisan Schleiermacher dan menjadikannya fondasi dari seluruh proyek filsafat tentang ilmu-ilmu kemanusiaan. Dilthey berpendapat bahwa perbedaan antara Naturwissenschaften (ilmu alam) dan Geisteswissenschaften (ilmu kemanusiaan) bukan hanya perbedaan dalam objek studi, melainkan perbedaan dalam tipe penjelasan yang relevan: ilmu alam mencari “penjelasan” (erklären) melalui kausalitas dan hukum, sementara ilmu kemanusiaan mencari “pemahaman” (verstehen) melalui interpretasi ekspresi-ekspresi dari kehidupan batin manusia.
Hans-Georg Gadamer (1900–2002) adalah figur yang paling berpengaruh dalam hermeneutika abad ke-20, dan Wahrheit und Methode (1960) adalah teks yang mengubah seluruh diskusi tentang metodologi ilmu-ilmu kemanusiaan. Gadamer belajar di Marburg di bawah Heidegger—dan pengaruh Heidegger sangat dalam pada karyanya. Dari Heidegger ia mengambil konsep tentang “faktisitas” (Faktizität) dan “terlempar” (Geworfenheit)—bahwa Dasein selalu sudah berada dalam situasi yang tidak dipilihnya, selalu sudah memiliki pemahaman-pemahaman yang diwarisi yang mendahului dan mengondisikan refleksinya. Pemahaman, bagi Gadamer, bukan proses psikologis rekonstruksi atas apa yang ada di benak pengarang; ia adalah “event” (Geschehen) di mana suatu tradisi terus hidup melalui interpretasi yang selalu baru. Konsep “fusi cakrawala” (Horizontverschmelzung)—di mana cakrawala historis teks dan cakrawala historis penafsir bertemu dalam sebuah pemahaman yang mentransformasi keduanya—menangkap sesuatu yang sangat penting: bahwa pemahaman bukan produksi ulang tetapi produksi yang baru dari makna. Wirkungsgeschichte—sejarah efek dari sebuah teks, yaitu bagaimana ia telah dipahami dan diaplikasikan dalam berbagai konteks historis—adalah bagian yang tidak terpisahkan dari makna teks itu sendiri.
Jürgen Habermas (lahir 1929) melakukan kritik yang paling sistematis dan paling berpengaruh terhadap hermeneutika Gadamer dalam Zur Logik der Sozialwissenschaften (1967) dan dalam polemik langsung dengan Gadamer. Argumen utama Habermas adalah bahwa hermeneutika Gadamer terlalu “rehabilitatif”—ia cenderung memulihkan dan melanjutkan tradisi-tradisi, tetapi tidak memiliki sumber daya untuk mengkritisi tradisi ketika tradisi itu sendiri adalah produk dari dominasi dan distorsi sistematis. “Lingkaran hermeneutis” yang Gadamer gambarkan—di mana kita memahami dari dalam tradisi—menutup kemungkinan bagi kritik yang melampaui tradisi. Habermas berpendapat bahwa kita membutuhkan “hermeneutika kritis” yang melampaui pemahaman naif tentang konsensus tradisional untuk menunjukkan bagaimana konsensus tersebut mungkin dihasilkan bukan oleh komunikasi yang bebas dan setara melainkan oleh kekuasaan dan ideologi. Proyek “teori tindakan komunikatif” (Theorie des kommunikativen Handelns, 1981) yang kemudian dikembangkan Habermas adalah upaya untuk membangun fondasi normatif bagi kritik sosial yang tidak bergantung pada tradisi tertentu tetapi pada “situasi wicara ideal” (ideale Sprechsituation)—kondisi-kondisi di mana komunikasi yang bebas dari distorsi oleh kekuasaan menjadi mungkin.
Max Weber mengembangkan apa yang dapat disebut “hermeneutika sosiologis” yang berbeda secara signifikan dari hermeneutika filosofis Dilthey atau Gadamer. Dalam Gesammelte Aufsätze zur Wissenschaftslehre—terutama dalam esai-esai tentang “objektivitas ilmu pengetahuan sosial-ekonomi” (1904) dan tentang “kenetralan nilai” (Werturteilsfreiheit, 1917)—Weber membangun argumen yang sangat canggih tentang bagaimana ilmuwan sosial dapat menghasilkan pengetahuan yang “objektif” tentang fenomena yang pada dasarnya bermuatan nilai. Kunci dari argumen ini adalah pemisahan yang ketat antara “penilaian nilai” (Werturteil)—pernyataan normatif tentang apa yang seharusnya—dan “relasi nilai” (*Wertbeziehung*)—orientasi penelitian terhadap nilai-nilai tertentu yang membuatnya relevan dan bermakna. Ilmuwan sosial tidak dapat dan tidak harus bebas nilai dalam pemilihan masalah penelitiannya—tetapi dalam proses penelitian itu sendiri, ia harus mengikuti standar-standar intersubjektif yang memungkinkan klaim-klaimnya dikritisi dan diuji oleh orang lain. Ini adalah solusi yang elegant untuk tegangan antara “relativisme nilai” (semua penilaian nilai adalah sama-sama valid) dan “absolutisme ilmiah” (ada satu sudut pandang yang benar-benar netral)—tetapi ia juga menghadapi kritik bahwa pemisahan antara Werturteil dan Wertbeziehung lebih mudah diucapkan daripada dipraktikkan.
Clifford Geertz mengembangkan hermeneutika yang paling berpengaruh dalam ilmu sosial Amerika. Dalam The Interpretation of Cultures (1973) dan Local Knowledge (1983), ia memperkenalkan program “interpretive anthropology” yang berpendapat bahwa analisis kultural adalah ilmu interpretif yang mencari makna, bukan ilmu eksperimental yang mencari hukum. Konsep “thick description” yang ia pinjam dari Gilbert Ryle—perbedaan antara deskripsi tiis dari perilaku yang teramati dan deskripsi tebal yang merekonstruksi konteks interpretatif yang membuat perilaku tersebut bermakna—menjadi slogan dari seluruh gerakan interpretatif dalam ilmu sosial 1970-an dan 1980-an. Pengaruhnya jauh melampaui antropologi: dalam sejarah, “cultural history” atau “new cultural history” yang terinspirasi Geertz—yang diwakili oleh Robert Darnton dalam The Great Cat Massacre (1984) dan Lynn Hunt dalam Politics, Culture, and Class in the French Revolution (1984)—menjadi salah satu gerakan paling berpengaruh dalam historiografi. Namun, Geertz juga mendapat kritik yang sangat serius dari berbagai arah: dari Marxisme yang berpendapat bahwa ia mengabaikan kondisi-kondisi material; dari feminis yang berpendapat bahwa ia mengabaikan kekuasaan dan gender; dan dari realisme ilmiah yang berpendapat bahwa hermeneutika budaya tidak dapat menggantikan penjelasan kausal.
METODE ILMIAH REALIS
Realisme ilmiah sebagai posisi yang eksplisit dalam filsafat ilmu pengetahuan relatif baru—ia berkembang terutama dalam paruh kedua abad ke-20 sebagai respons terhadap instrumentalisme dan anti-realisme yang berkembang bersama dengan positivisme logis dan kemudian dengan relativisme Kuhnian. Tetapi akar-akarnya dalam tradisi pemikiran Barat jauh lebih dalam: realisme dalam arti umum—posisi bahwa ada dunia yang ada secara independen dari pikiran kita dan bahwa pengetahuan kita tentang dunia ini mungkin—adalah asumsi yang mendominasi filsafat Yunani (terutama Aristoteles), skolastik abad pertengahan (khususnya Thomas Aquinas), dan sebagian besar filsafat ilmu pengetahuan pra-Humean. Revolusi Kantian—yang berpendapat bahwa kita tidak dapat mengetahui “benda dalam dirinya sendiri” (Ding an sich) melainkan hanya fenomena sebagaimana dikonstruksi oleh kategori-kategori a priori pikiran kita—adalah departur dari realisme naif ini, dan sebagian besar filsafat abad ke-19 dan ke-20 dapat dipahami sebagai usaha untuk merespons tantangan Kantian ini dengan berbagai cara.
Realisme ilmiah kontemporer mengambil bentuknya yang paling berpengaruh melalui Wilfrid Sellars, J.J.C. Smart, Hilary Putnam, dan Richard Boyd dalam diskusi-diskusi filsafat ilmu pengetahuan Anglo-Amerika dari tahun 1950-an hingga 1970-an. Argumen utama mereka adalah bahwa kesuksesan prediktif ilmu pengetahuan modern—kemampuannya untuk membuat prediksi yang sangat presisi tentang fenomena yang sangat beragam—adalah sebuah “keajaiban” yang hanya dapat dijelaskan jika teori-teori ilmiah, setidaknya secara kasar, benar tentang entitas-entitas yang tidak dapat diamati yang mereka postulasikan. Versi yang paling berpengaruh dari argumen ini adalah “no miracles argument” Putnam: jika partikel-partikel subatomik, medan-medan, dan mekanisme-mekanisme yang dipostulasikan oleh teori-teori ilmiah kita tidak nyata, maka kesuksesan teori-teori tersebut adalah sebuah keajaiban yang tidak dapat dijelaskan. Karena keajaiban-keajaiban penjelasan yang tidak dapat dijelaskan harus dihindari dalam sains, realisme ilmiah adalah posisi terbaik yang tersedia.
Roy Bhaskar memberikan argumen yang paling sistematis untuk realisme ilmiah dalam konteks ilmu sosial dan memberikan nama “realisme kritis” (critical realism) untuk tradisi ini. Arti “kritis” di sini ganda: pertama, ia mengacu pada proses kritis—realisme kritis selalu berupaya untuk mengidentifikasi dan mengkritisi kondisi-kondisi sosial yang mereproduksi diri dengan cara yang tersembunyi dan distorsif; kedua, ia mengacu pada epistemologi kritis—pengetahuan kita selalu fallible, selalu dapat dikoreksi, dan harus selalu terbuka untuk revisi berdasarkan bukti baru. Berbeda dengan positivisme yang terlalu yakin bahwa observasi empiris adalah landasan yang pasti bagi pengetahuan, dan berbeda dengan relativisme yang meragukan kemungkinan pengetahuan objektif apa pun, realisme kritis memposisikan diri sebagai “fallibilist realism”—pengetahuan yang objektif adalah mungkin, tetapi selalu berlangsung dari perspektif yang terbatas dan dapat salah.
Koneksi antara realisme kritis dan Marxisme dalam diagram Lloyd bukan kebetulan. Sejak pertengahan abad ke-20, berbagai aliran Marxis berusaha merekonstruksi Marx sebagai seorang realis ilmiah—bukan sebagai positivis (yang melihat “kapitalisme” sebagai nama untuk regularitas empiris yang dapat diukur) maupun sebagai hermeneutis (yang melihat “kapitalisme” sebagai konstruksi interpretif). G.A. Cohen dalam Karl Marx’s Theory of History: A Defence (1978) memberikan rekonstruksi “analitis” atas Marxisme yang sangat berpengaruh—memperlakukan klaim-klaim Marxisme sebagai proposisi yang dapat dan harus dianalisis secara filosofis yang ketat. Cohen mempertahankan “teori forces” (bahwa kekuatan-kekuatan produktif memiliki kecenderungan untuk berkembang) dan hubungannya dengan relasi-relasi produksi sebagai teori fungsional yang dapat dipertahankan, meskipun dengan spesifikasi yang lebih ketat daripada yang biasanya dilakukan oleh Marxis. Debat yang dihasilkan oleh Karl Marx’s Theory of History*—yang melibatkan Perry Anderson, Jon Elster, John Roemer, dan banyak lain dalam “Analytical Marxism”—adalah salah satu perdebatan paling produktif tentang status ontologis dan epistemologis dari klaim-klaim Marxisan.
Dalam sejarah sosial, metode ilmiah realis paling produktif ketika ia berhadapan langsung dengan pertanyaan-pertanyaan tentang kausalitas historis—pertanyaan-pertanyaan seperti: mengapa kapitalisme muncul di Inggris dan bukan di Prancis atau Tiongkok? Mengapa beberapa revolusi berhasil dan yang lain gagal? Mengapa beberapa negara mengembangkan demokrasi sementara yang lain mengembangkan otoritarianisme? Pertanyaan-pertanyaan ini tidak dapat dijawab dengan korelasi statistik (yang hanya mendeskripsikan regularitas tanpa menjelaskan mekanisme) maupun dengan hermeneutika (yang dapat menjelaskan makna tetapi tidak kausalitas). Mereka membutuhkan “strategi retroductive“: bergerak dari fenomena yang perlu dijelaskan ke hipotesis tentang mekanisme-mekanisme yang dapat menghasilkan fenomena tersebut, kemudian menggunakan perbandingan historis untuk menguji apakah mekanisme yang dihipotesiskan memang beroperasi di kasus-kasus yang relevan.
EVOLUSIONISME
Evolusionisme sosial, sebagai tradisi intelektual, mendahului Darwin—sebuah fakta yang sering dilupakan karena nama Darwin begitu mendominasi asosiasi kita dengan kata “evolusi.” Lamarck, sebelum Darwin, sudah mengembangkan teori tentang transmutasi spesies melalui “warisan karakteristik yang diperoleh”—dan ide ini, meskipun secara biologis salah, memiliki pengaruh yang sangat besar pada pemikiran sosial abad ke-19 karena ia menyiratkan bahwa perubahan yang diperoleh melalui usaha dapat diwariskan ke generasi berikutnya. Lebih penting lagi, tradisi “kemajuan” (progress) yang sangat kuat dalam pemikiran Pencerahan—gagasan bahwa sejarah manusia memiliki arah dan telos, yaitu pergerakan dari barbarisme menuju peradaban, dari superstisi menuju ilmu pengetahuan, dari despotisme menuju kebebasan—memberikan konteks intelektual yang membuat evolusionisme sosial tampak tidak hanya masuk akal tetapi sangat meyakinkan.
Marquis de Condorcet (1743–1794), yang menulis Esquisse d’un tableau historique des progrès de l’esprit humain sementara bersembunyi dari ancaman penggal Revolusi Prancis, adalah ekspresi paling murni dari optimisme Pencerahan tentang kemajuan manusia. Condorcet mengidentifikasikan sepuluh “era” dalam kemajuan pikiran manusia dan berpendapat bahwa kemajuan masa depan—termasuk kesetaraan gender dan persamaan antarbangsa—adalah pasti secara prinsip. Auguste Comte mengambil skema ini dan memberikannya fondasi yang lebih “ilmiah” melalui hukum tiga tahap—dari teologis melalui metafisik ke positif—yang ia aplikasikan bukan hanya pada perkembangan ilmu pengetahuan tetapi pada perkembangan masyarakat secara keseluruhan. Herbert Spencer (1820–1903) adalah sosok yang paling berpengaruh dalam memfusikan evolusionisme biologis pasca-Darwin dengan evolusionisme sosial yang sudah ada. Spencer sebenarnya mengembangkan teori evolusi sosialnya sebelum Darwin menerbitkan On the Origin of Species (1859)—tetapi ia dengan antusias mengadopsi terminologi Darwin (“survival of the fittest” adalah frasa Spencer, bukan Darwin) untuk memperkuat program evolusionismenya.
Dalam First Principles (1862) dan seri Synthetic Philosophy yang ambisius, Spencer mengembangkan sebuah kosmologi evolusioner yang komprehensif yang mencakup biologi, psikologi, sosiologi, dan etika. Prinsip fundamental evolusi, menurutnya, adalah pergerakan dari “homogenitas incoherent yang tak terdefinisi” menuju “heterogenitas coherent yang terdefinisi”—dari yang sederhana menuju yang kompleks, dari yang tidak terdiferensiasi menuju yang sangat terspesialisasi. Masyarakat “militeristik” yang diorganisasikan melalui paksaan terpusat adalah tahap yang lebih awal dan lebih primitif; masyarakat “industrial” yang diorganisasikan melalui pertukaran sukarela dan kontrak bebas adalah tahap yang lebih maju dan lebih tinggi. Spencer sangat kritis terhadap intervensi negara karena ia dianggap mengganggu proses seleksi alamiah yang seharusnya menyisihkan yang lemah dan mempertahankan yang kuat. Ini adalah “sosial Darwinisme” dalam bentuknya yang paling eksplisit—sebuah ideologi yang sangat nyaman bagi kapitalisme laissez-faire abad ke-19 dan yang kemudian digunakan untuk membenarkan rasisme, imperialisme, dan penolakan terhadap kesejahteraan sosial.
Teori modernisasi pasca-Perang Dunia II adalah neo-evolusionisme dalam konteks baru. Talcott Parsons dalam “Evolutionary Universals in Society” (1964) mengidentifikasikan “universalia evolusioner”—mekanisme-mekanisme adaptif yang menurutnya diperlukan oleh setiap masyarakat yang ingin bertahan dan berkembang dalam lingkungan yang semakin kompleks. Walter Rostow dalam The Stages of Economic Growth (1960)—yang secara eksplisit diberi subjudul A Non-Communist Manifesto—mengusulkan lima tahap pembangunan ekonomi yang harus dilalui oleh semua masyarakat: masyarakat tradisional, prakondisi untuk lepas landas, lepas landas (take-off), menuju kedewasaan, dan akhirnya konsumsi massa tinggi. Teori ini sangat berpengaruh pada kebijakan pembangunan Amerika selama Perang Dingin—kebijakan “bantuan pembangunan” kepada negara-negara Dunia Ketiga didasarkan sebagian besar pada asumsi bahwa semua yang diperlukan adalah “modal awal” untuk memicu “take-off” menuju pertumbuhan berkelanjutan. Kritik terhadap teori modernisasi, yang datang dari berbagai arah mulai dari akhir 1960-an, menunjukkan bahwa model ini mengabaikan hubungan-hubungan kekuasaan antara negara-negara maju dan berkembang, menyembunyikan kepentingan-kepentingan geopolitik Amerika di balik bahasa universal “pembangunan,” dan secara empiris gagal menjelaskan kenyataan bahwa banyak negara yang “dibantu” tetap miskin atau justru semakin miskin.
TRADISI I – ORGANIK: DURKHEIM, PARSONS, HOSELITZ, SMELSER
Transmisi dari Durkheim ke Parsons dan kemudian ke Hoselitz dan Smelser adalah salah satu silsilah intelektual yang paling jelas dalam ilmu sosial abad ke-20—tetapi ia bukan transmisi yang sederhana dari “yang sama.” Setiap generasi mengambil warisan dari generasi sebelumnya dan mengubahnya secara fundamental sesuai dengan kebutuhan intelektual dan politis zamannya. Parsons mengambil dari Durkheim komitmen pada masyarakat sebagai sistem yang memiliki realitasnya sendiri, tetapi ia memodifikasinya secara fundamental dengan mengintegrasikan Weber (orientasi nilai sukarela dari aktor), Pareto (keseimbangan sistem), dan Marshall (ekonomi sebagai subsistem dari sistem sosial yang lebih luas). Hasil dari sintesis ini—fungsionalisme struktural—adalah sesuatu yang berbeda dari Durkheim, Weber, atau Pareto masing-masing: ia adalah sebuah teori yang sangat sistematis dan sangat ambisius tentang masyarakat sebagai sistem tindakan yang terintegrasi.
Konteks intelektual dan politis yang membentuk fungsionalisme Parsonian perlu dipahami dengan baik. Parsons membangun sistem teorinya di Harvard pada periode antara 1930-an dan 1960-an—periode yang mencakup Depresi Besar, Perang Dunia II, McCarthyisme, dan awal Perang Dingin. Dalam konteks ini, pertanyaan tentang “tatanan sosial”—tentang bagaimana masyarakat dapat mempertahankan integrasi dan mencegah disintegrasi—bukan pertanyaan akademis yang abstrak; ia adalah pertanyaan yang sangat mendesak dan sangat politis. Fungsionalisme Parsonian memberikan jawaban yang sangat meyakinkan: masyarakat demokratis liberal modern dapat mempertahankan integrasi karena ia memiliki mekanisme-mekanisme yang efektif untuk sosialisasi nilai-nilai (keluarga, pendidikan), integrasi normatif (hukum, agama), dan mobilisasi solidaritas (asosiasi-asosiasi sipil). Dalam konteks Perang Dingin, gambaran ini memiliki daya tarik politis yang sangat jelas: ia menggambarkan masyarakat Amerika sebagai yang secara fungsional superior—lebih terintegrasi, lebih stabil, lebih mampu mempertahankan diri—dibandingkan dengan alternatif-alternatif totalitarian.
Neil Smelser (lahir 1930), murid Parsons yang paling berpengaruh dalam sosiologi historis, mendemonstrasikan dalam Social Change in the Industrial Revolution (1959) bagaimana konsep-konsep fungsional dapat dioperasionalisasikan dalam penelitian sejarah yang konkret. Studinya tentang industri kapas Lancashire mengikuti “model diferensiasi struktural” yang dikembangkan dari Parsons: ketika sebuah fungsi yang sebelumnya dilakukan oleh satu unit (keluarga petani yang memproduksi dan mengonsumsi) secara struktural dipisahkan dan dialokasikan ke unit-unit yang lebih terspesialisasi (pabrik untuk produksi, keluarga inti untuk reproduksi), proses ini menghasilkan “gangguan” (disturbances) yang kemudian membutuhkan mekanisme-mekanisme reintegrasi baru. Yang membuat karya ini berharga secara metodologis—meskipun juga mengandung batas-batas yang jelas—adalah keseriusannya dalam mencoba menghubungkan level analisis yang sangat berbeda: perubahan teknologi dan ekonomi, perubahan dalam organisasi keluarga, perubahan dalam kondisi kerja, dan kemunculan gerakan-gerakan sosial seperti Chartisme, semua dianalisis melalui satu kerangka konseptual yang konsisten.
Bert Hoselitz dan teori modernisasinya mewakili titik di mana fungsionalisme Parsonian bersentuhan paling langsung dengan geopolitik Perang Dingin. Dalam Sociological Aspects of Economic Growth (1960), Hoselitz menggunakan “pattern variables” Parsonian—dikotomi-dikotomi seperti universalisme vs. partikularisme, achievement vs. ascription, specificity vs. diffuseness—untuk membangun tipologi tentang kondisi-kondisi kultural yang “menghambat” atau “mendorong” pembangunan ekonomi. Hambatan utama terhadap pembangunan, dalam kerangka ini, adalah orientasi-orientasi kultural “tradisional” yang lebih menekankan partikularisme (menilai orang berdasarkan siapa mereka, bukan apa yang mereka capai) dan ascription (status berdasarkan kelahiran, bukan usaha). Pembangunan mensyaratkan transisi menuju universalisme dan achievement—nilai-nilai yang diasosiasikan dengan modernitas Barat. Implikasi kebijakan yang sangat bermasalah dari kerangka ini adalah bahwa masyarakat-masyarakat “tradisional” perlu dimodernisasi kultural—nilai-nilai mereka perlu diubah—agar pembangunan ekonomi dapat terjadi. Kritik terhadap pandangan ini sangat fundamental: ia mengasumsikan bahwa hambatan terhadap pembangunan ada dalam masyarakat-masyarakat yang “terbelakang” itu sendiri, bukan dalam struktur-struktur ketidaksetaraan global yang diciptakan oleh kolonialisme dan kapitalisme. Ia juga meromantisasi “modernitas Barat” sebagai model universal yang tidak perlu dikritisi.
TRADISI III – STRUKTURALIS: SAUSSURE, LÉVI-STRAUSS, ALTHUSSER, BRAUDEL, WALLERSTEIN
Strukturalisme sebagai gerakan intelektual adalah fenomena yang sangat khas dari abad ke-20—tetapi akar-akarnya lebih dalam dan lebih beragam daripada yang biasanya diakui. Selain dari linguistik Saussurean yang sering disebut sebagai sumber utamanya, strukturalisme juga mewarisi dari Gestalt psychology (yang menekankan bahwa persepsi visual tidak dapat dipahami sebagai jumlah dari sensasi-sensasi elementer melainkan harus dipahami sebagai keseluruhan yang terorganisasi), dari formalisme dalam sastra (yang berfokus pada struktur-struktur teks bukan pada psikologi pengarang atau konteks historis), dan dari fonologi Praha (Trubetzkoy dan Jakobson) yang menerapkan prinsip-prinsip struktural Saussurean pada studi bunyi bahasa dengan hasil yang sangat impresif secara ilmiah.
Ferdinand de Saussure (1857–1913) lahir di Jenewa dari keluarga ilmuwan yang sangat terdidik. Studinya di Leipzig di bawah ahli bahasa historis Karl Brugmann memberinya fondasi yang kuat dalam linguistik komparatif-historis—tetapi ambisinya adalah melampaui deskripsi historis tentang perubahan bahasa menuju pemahaman tentang apa bahasa itu secara fundamental. Cours de Linguistique Générale (1916) yang terkenal bukan ditulis oleh Saussure sendiri—ia dikonstruksi oleh murid-muridnya Charles Bally dan Albert Sechehaye dari catatan perkuliahan, setelah Saussure meninggal pada 1913 tanpa menerbitkan teori-teorinya. Paradoks kecil ini sangat signifikan: karya yang menjadi fondasi dari strukturalisme—yang sangat menekankan bahwa bahasa adalah sistem sosial yang mendahului dan melampaui individu—ternyata juga merupakan produk kolektif dari proses transmisi yang kompleks.
Dua dikotomi sentral yang diperkenalkan Saussure menjadi alat analitis yang sangat berpengaruh. Pertama, perbedaan antara langue (sistem bahasa sebagai keseluruhan abstrak yang ada sebagai potensi dalam kesadaran kolektif komunitas penutur) dan parole (tindakan berbicara individual yang mengaktualisasikan potensi tersebut). Kedua, perbedaan antara analisis synchronic (sistem bahasa pada satu titik waktu) dan analisis diachronic (perubahan bahasa dalam waktu). Prioritas yang diberikan Saussure kepada analisis sinkron adalah keputusan metodologis yang sangat radikal: ia berpendapat bahwa untuk memahami bagaimana bahasa berfungsi—bagaimana ia menghasilkan makna—kita harus mempelajari sistem pada satu titik waktu, karena makna adalah produk dari relasi-relasi diferensial antara elemen-elemen dalam sistem, bukan dari sejarah evolusi masing-masing elemen. Klaim ini mengandung model tentang apa “struktur” itu: bukan substansi melainkan form; bukan elemen melainkan relasi.
Claude Lévi-Strauss (1908–2009) adalah arsitek utama dari “strukturalisme” sebagai gerakan intelektual yang komprehensif. Lahir di Bruxelles dari keluarga Yahudi Prancis yang sangat terdidik, Lévi-Strauss belajar filsafat di Paris, kemudian menjadi etnolog yang melakukan penelitian lapangan di Brasil, dan kemudian—setelah perang yang ia habiskan sebagian besar di New York, di mana pertemuannya dengan Roman Jakobson memberi katalis yang sangat penting—mengembangkan program strukturalisme dalam antropologi. Buku Les Structures Élémentaires de la Parenté (1949) adalah karya pertama dan paling penting dalam program ini. Pertanyaannya: mengapa larangan inses universal di seluruh masyarakat manusia? Jawaban konvensional—bahwa larangan inses ada karena inses menghasilkan keturunan yang lemah secara biologis—tidak memuaskan Lévi-Strauss karena: pertama, masyarakat-masyarakat dengan tingkat inses yang sangat rendah tidak mungkin memiliki pengetahuan tentang efek genetisnya; kedua, definisi “inses” sangat bervariasi lintas budaya—apa yang dilarang di satu masyarakat (menikahi sepupu mertua) mungkin diwajibkan di masyarakat lain. Jawaban Lévi-Strauss: larangan inces adalah prinsip pertukaran—ia bukan tentang melarang sesuatu melainkan tentang mewajibkan sesuatu, yaitu memberikan perempuan kepada kelompok lain. Dengan demikian, sistem kekerabatan bukan sekadar sistem reproduksi biologis—ia adalah sistem pertukaran yang mengintegrasikan kelompok-kelompok menjadi jaringan sosial yang lebih luas.
Louis Althusser (1918–1990) adalah tokoh yang paling kontroversial dalam tradisi strukturalis—dan kontroversinya tidak hanya intelektual tetapi juga sangat personal, karena ia mencekik istrinya Hélène dalam serangan psikotik pada 1980 dan menghabiskan sisa hidupnya di antara klinik psikiatri dan isolasi diri. Tetapi sebelum peristiwa tersebut, ia adalah salah satu intelektual Komunis Prancis yang paling berpengaruh, mengajar di École Normale Supérieure di mana ia membentuk generasi intelektual kiri yang sangat penting. Program teoritis Althusser—yang ia kembangkan terutama bersama murid-muridnya seperti Étienne Balibar, Roger Establet, Pierre Macherey, dan Jacques Rancière—adalah rekonstruksi Marxisme di atas fondasi epistemologis yang ia pinjam dari Bachelard dan Canguilhem. Gagasan “coupure épistémologique” (epistemological break) yang ia aplikasikan pada Marx—memisahkan secara tajam antara “Marx muda” yang masih humanistik dan Feuerbachian dari “Marx matang” yang mengembangkan “ilmu” tentang formasi sosial—adalah momen yang sangat signifikan dalam sejarah intelektual kiri: ia memungkinkan rekonstruksi Marxisme sebagai ilmu yang “rigorous” sekaligus sebagai kritik terhadap humanisme dan historisisme yang dianggap ideologis.
Fernand Braudel (1902–1985) mengembangkan visi tentang sejarah struktural yang sangat berbeda dari strukturalisme Lévi-Straussian atau Althusserian. Braudel belajar sejarah di Paris dan kemudian mengajar di Brasil sebelum kembali ke Prancis dan menjadi pemimpin Mazhab Annales setelah kematian Lucien Febvre. Ketika perang meletus pada 1939, ia ditangkap oleh Jerman dan dipenjara—dan La Méditerranée et le monde méditerranéen à l’époque de Philippe II (1949) sebagian besar diselesaikan dari ingatan selama masa penahanannya. Pengalaman ini—menulis sejarah dari ingatan, tanpa akses ke arsip—mungkin memperkuat kecenderungannya untuk berkonsentrasi pada struktur-struktur jangka panjang daripada peristiwa-peristiwa spesifik yang memerlukan verifikasi dokumenter yang terus-menerus. Konsep longue durée—waktu sangat lambat dari geografi, iklim, dan kapasitas material yang membentuk batas-batas kondisi dari apa yang mungkin secara historis—adalah kontribusinya yang paling berpengaruh dan paling orisinal. Tiga “waktu” Braudel—waktu geografis (*longue durée*), waktu sosial (siklus ekonomi dan demografis yang berlangsung dalam puluhan tahun), dan waktu individual (waktu peristiwa dan biografi)—adalah usaha untuk menghierarkikan bentuk-bentuk berbeda dari temporalitas historis berdasarkan durasi dan kekuatan kausalnya.
Immanuel Wallerstein (1930–2019) adalah pemikir yang paling berhasil dalam mensintesis tradisi Braudelian dengan tradisi Marxis untuk menghasilkan teori tentang kapitalisme sebagai sistem global. Lahir di New York, belajar di Columbia, dan mengalami gejolak anti-kolonial Afrika secara langsung sebagai peneliti di Afrika pada akhir 1950-an dan awal 1960-an—pengalaman ini sangat membentuk sensibilitasnya tentang hubungan antara Barat dan non-Barat, antara “pembangunan” dan “keterbelakangan.” Dalam karya The Modern World-System I (1974), Wallerstein berpendapat bahwa “kapitalisme sebagai sistem ekonomi dunia” telah ada sejak abad ke-16 ketika “inti” Eropa mengintegrasikan “periferi” Amerika Latin, Eropa Timur, dan sebagian Afrika ke dalam pembagian kerja yang asimetris. Hierarki inti-semiperifer-periferi bukan deskripsi tentang perbedaan tingkat pembangunan yang akan secara otomatis terkoreksi melalui difusi teknologi dan modal—ia adalah deskripsi tentang fungsi-fungsi yang berbeda yang dimainkan oleh wilayah-wilayah berbeda dalam mereproduksi sistem secara keseluruhan. Semiperifer memiliki fungsi yang sangat penting secara struktural: ia merupakan buffer yang mencegah polarisasi ekstrem antara inti dan periferi, dan ia adalah arena di mana mobilitas ke atas maupun ke bawah dalam hierarki sistem dunia berlangsung.
TRADISI II – BEHAVIORISME KETAT DAN DISPOSISIONAL
Tradisi behavioris dalam psikologi dan ilmu sosial memiliki akar yang mendalam dalam empirisme Anglo-Amerika abad ke-18 dan ke-19—khususnya dalam asumsi John Locke bahwa pikiran lahir sebagai “tabula rasa” yang ditulis oleh pengalaman, dan dalam psikologi asosiatif David Hartley dan James Mill yang berusaha menjelaskan seluruh kehidupan mental sebagai kombinasi dari asosiasi-asosiasi sederhana. Ivan Pavlov (1849–1936) memberikan tradisi ini fondasi fisiologis yang kuat melalui eksperimen-eksperimen refleks terkondisi (conditioned reflexes)—menunjukkan bahwa stimulus yang awalnya netral dapat, melalui asosiasi berulang dengan stimulus yang secara alami menghasilkan respons tertentu, dilatih untuk menghasilkan respons yang sama. John B. Watson (1878–1958) kemudian mengambil temuan Pavlov dan menjadikannya manifesto bagi sebuah psikologi yang sepenuhnya baru: dalam Psychology as the Behaviorist Views It (1913), ia berpendapat bahwa psikologi harus meninggalkan semua referensi pada kesadaran, pikiran, atau kondisi mental dan harus hanya berurusan dengan perilaku yang dapat diamati secara objektif dan kondisi stimulus yang menghasilkannya.
B.F. Skinner mengambil program Watson dan mengembangkannya dengan ketelitian eksperimental dan kecanggihan teoritis yang jauh melampaui pendahulunya. Perbedaan kunci Skinner dari Watson adalah penekanannya pada “pengkondisian operan” daripada “pengkondisian klasik” Pavlovian. Dalam pengkondisian klasik, organisme adalah pasif—ia merespons stimulus yang mendahului perilaku. Dalam pengkondisian operan, organisme aktif—ia mengoperasikan lingkungannya, dan konsekuensi dari operasi tersebut (reinforcement positif, reinforcement negatif, hukuman) membentuk probabilitas bahwa operasi tersebut akan diulangi. Ini adalah perbedaan yang sangat signifikan: pengkondisian operan memberikan gambaran tentang organisme sebagai sesuatu yang “berinteraksi” dengan lingkungannya, meskipun dalam cara yang sangat deterministik. Kotak Skinner—perangkat eksperimental sederhana di mana tikus atau merpati dapat menekan tuas atau mematuk tombol untuk mendapatkan makanan—menjadi ikon dari pendekatan behavioristik ini, dan kesederhanaan metodologisnya menghasilkan temuan-temuan yang sangat robust tentang prinsip-prinsip reinforcement.
George Homans dalam Social Behavior: Its Elementary Forms (1961) adalah upaya paling ambisius untuk membangun sosiologi di atas fondasi behavioristik. Homans sangat eksplisit tentang program “reduksionistik”-nya: sosiologi harus direduksi ke psikologi, dan psikologi—akhirnya—ke biologi. Penjelasan yang sesungguhnya (*rock-bottom explanation*) selalu bersifat individual dan psikologis. Lima proposisi Homans—yang merupakan versi sosiologis dari prinsip-prinsip reinforcement Skinnerian—adalah usaha untuk menunjukkan bahwa regularitas-regularitas dalam perilaku sosial yang diamati oleh sosiolog dapat diturunkan dari prinsip-prinsip perilaku individual yang lebih fundamental. Yang secara teoritis paling menarik adalah “proposisi agresif-approval“: ketika seseorang tidak menerima reward yang ia harapkan atau menerima hukuman yang tidak ia harapkan, ia akan menjadi marah dan kemungkinan besar akan melakukan perilaku agresif; sebaliknya, ketika ia menerima reward yang lebih besar dari yang diharapkan, ia akan merasa puas dan kemungkinan besar akan melakukan perilaku yang disetujui. Ini adalah usaha untuk menjelaskan fenomena-fenomena seperti “rasa keadilan,” “ketidakpuasan kolektif,” dan “pemberontakan” dalam bahasa behavioristik—tetapi kritik terhadap upaya ini sangat fundamental: “harapan” itu sendiri adalah konstruk kognitif yang tidak dapat direduksi ke sejarah reinforcement tanpa memiliki teori tentang representasi mental.
Edward Tolman (1886–1959) mewakili posisi yang sangat penting dalam transisi dari behaviorisme ketat menuju psikologi kognitif. Tolman belajar di Harvard dan menghabiskan sebagian besar kariernya di Berkeley. Dalam eksperimen-eksperimen latihannya tentang tikus dalam labirin, ia menemukan sesuatu yang tidak dapat dijelaskan oleh behaviorisme Watsonian: bahwa tikus yang dibiarkan mengeksplorasi labirin tanpa reward tertentu—”latent learning“—tetap belajar topografi labirin dan dapat menggunakannya kemudian ketika reward tersedia. Ini menunjukkan bahwa tikus membentuk “cognitive maps”—representasi internal tentang lingkungan—yang memandu perilakunya, bukan hanya merespons stimulus yang langsung ada. Konsep “variabel intervening” yang dikembangkan Tolman—konstruk-konstruk internal yang memediasi hubungan stimulus-respons—adalah langkah kritis menuju psikologi kognitif: ia membuka pintu bagi referensi yang sah pada representasi internal tanpa meninggalkan komitmen pada metodologi ilmiah yang ketat.
David McClelland (1917–1998) mengambil wawasan Tolman tentang representasi kognitif dan mengembangkannya ke dalam teori motivasi yang sangat berpengaruh dalam psikologi kepribadian dan psikologi sosial. Dalam The Achieving Society (1961), McClelland berpendapat bahwa perbedaan dalam “need for achievement” (n-Ach)—motif psikologis yang mendorong seseorang untuk mencapai standar keunggulan—dapat menjelaskan perbedaan dalam tingkat pembangunan ekonomi lintas masyarakat dan lintas waktu. Metodologi McClelland sangat orisinal: ia mengukur n-Ach bukan melalui survei diri-laporan yang mungkin distorsif melainkan melalui analisis konten dari materi-materi imajinatif—cerita-cerita rakyat, buku-buku sekolah dasar, keramik—yang diasumsikan merefleksikan nilai-nilai kultural dominan dalam masyarakat. Ia kemudian menghubungkan variasi dalam n-Ach lintas waktu dan ruang dengan variasi dalam tingkat aktivitas ekonomi. Ambisi komparatif-historis dari program ini sangat impresif—tetapi kritiknya sangat fundamental: pengukuran n-Ach melalui analisis konten mengasumsikan bahwa nilai-nilai kultural dapat diperlakukan sebagai variabel psikologis individual yang terukur, dan bahwa kausalitas bergerak secara langsung dari nilai kultural ke pencapaian ekonomi tanpa mediasi oleh kondisi-kondisi struktural dan institusional.
AKSIONISME: SIMMEL, WEBER, FREUD, HAYEK, GOFFMAN
Aksionisme sebagai tradisi teoritis tidak memiliki satu pendiri atau satu manifesto—ia adalah sebuah orientasi yang berkembang di persimpangan antara beberapa tradisi intelektual yang berbeda pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Konteks historis yang paling penting adalah krisis ganda dari mekanisme dan positivisme: dari satu sisi, perkembangan fisika kuantum dan relativitas menunjukkan bahwa model deterministik mekanik dari alam tidak dapat dipertahankan bahkan dalam fisika—prinsip ketidakpastian Heisenberg menunjukkan bahwa tidak ada cara untuk secara simultan mengukur posisi dan momentum partikel dengan presisi arbitrer. Di sisi lain, kritik terhadap positivisme Comtean—yang datang dari neo-Kantianisme Jerman, dari fenomenologi, dan dari tradisi hermeneutika—menunjukkan bahwa ilmu sosial tidak dapat sepenuhnya dimodelkan setelah fisika karena objeknya—tindakan manusia yang bermakna—memiliki sifat yang kategorial berbeda dari objek fisika. Dalam konteks ini, “aksionisme” adalah nama bagi sekelompok pendekatan yang menerima perbedaan Dilthey antara erklären* dan verstehen, tetapi yang menolak konsekuensi-konsekuensi relativistik yang tampaknya mengikutinya.
Georg Simmel (1858–1918) adalah tokoh yang paling sulit dikategorisasikan dalam seluruh sosiologi klasik—dan kesulitan ini sangat produktif. Lahir di Berlin dari keluarga Yahudi yang telah berpindah agama, Simmel menghabiskan sebagian besar hidupnya di tepi akademis: meskipun sangat berpengaruh melalui perkuliahan dan publikasinya, ia tidak mendapat posisi profesor penuh di Berlin sampai sangat terlambat (1914, empat tahun sebelum kematiannya), sebagian karena antisemitisme yang mencegah kemajuan akademisnya. Marginalisasi ini mungkin berkontribusi pada perspektifnya yang khas: ia selalu mengamati masyarakat dari luar, dari sudut pandang orang “asing” (Fremde) yang mendapat posisi dalam esainya yang terkenal “Exkurs über den Fremden” (1908) sebagai yang paling mampu melihat apa yang tidak terlihat oleh orang dalam. Konsep-konsep yang ia kembangkan—”sosiabilitas” (Geselligkeit), “ruang sosial” (sozialer Raum), “dominasi” (Über- und Unterordnung), “kompetisi” (Konkurrenz)—adalah semua ekspresi dari usahanya untuk mengidentifikasikan “bentuk-bentuk” interaksi yang melampaui konten spesifik dari setiap konteks tertentu.
Adapun Philosophie des Geldes (1900) adalah karya Simmel yang paling ambisius dan yang paling mendalam dalam implikasi-implikasi sosiologisnya. Uang, bagi Simmel, bukan sekadar medium pertukaran—ia adalah ekspresi dan motor dari proses yang ia sebut “objektivasi”: proses di mana ekspresi-ekspresi kehidupan manusia menjadi objek-objek yang independen yang kemudian menghadapi penciptanya sebagai kekuatan asing. Dalam masyarakat modern, uang adalah objektivasi yang paling sempurna: ia mewakili nilai “murni” yang terpisah dari kandungan kualitasnya, yang dapat ditransformasi ke dalam bentuk nilai yang lain, yang memungkinkan semua hubungan sosial untuk didepersonalisasi dan dirasionalisasi. Analisis Simmel sangat dekat dengan analisis Marx tentang “fetisisme komoditas”—tetapi ia lebih Kantian dalam strukturnya: apa yang ia gambarkan adalah tegangan fundamental antara dua prinsip yang tidak dapat diperdamaikan, bukan proses yang dapat diresolvir melalui revolusi.
Sigmund Freud (1856–1939) mewakili dimensi yang paling radikal dari aksionisme: ia mempermasalahkan asumsi fundamental bahwa tindakan manusia dapat dipahami berdasarkan alasan-alasan yang diberikan pelakunya sendiri. Freud lahir di Freiberg, Moravia (sekarang Příbor, Ceko) dari keluarga Yahudi yang kemudian pindah ke Wina. Ia belajar kedokteran di Wina di bawah Ernst Brücke—seorang fisiologis yang berkomitmen pada program “reduksionisme fisikalistik” yang berpendapat bahwa semua fenomena biologis, termasuk aktivitas mental, harus pada akhirnya dapat dijelaskan dalam kategori fisika dan kimia. Freud awalnya berbagi komitmen ini—banyak pekerjaan awalnya dalam neurologi sangat mekanistik—tetapi pengalamannya dalam praktik klinis, khususnya dalam mengobati pasien-pasien histerik, membawa perubahan yang menentukan. “Studi tentang histeria” (Studien über Hysterie, 1895), yang ditulis bersama Josef Breuer, adalah titik berangkat: simptom-simptom histerik yang tidak dapat dijelaskan secara fisiologis ternyata memiliki “makna”—mereka adalah ekspresi terdistorsi dari kenangan-kenangan yang menyakitkan yang telah “direpresi” dari kesadaran. “Talking cure” yang dikembangkan dari observasi klinis ini—di mana pasien dibiarkan berbicara bebas tanpa sensor—menjadi fondasi dari teknik psikoanalitik.
Friedrich Hayek (1899–1992) mewakili varian aksionisme yang sangat berbeda dari yang lain—sebuah liberalisme ekonomi yang sangat sophisticated yang berbeda dari ekonomi neoklasik konvensional dalam penekanannya pada keterbatasan pengetahuan dan pada “extended order” yang muncul dari tindakan manusia tanpa desain sadar. Hayek lahir di Wina dari keluarga akademis—ayahnya adalah ahli botani—dan belajar ekonomi dan hukum di Universitas Wina, di mana ia sangat dipengaruhi oleh Ludwig von Mises dan tradisi Mazhab Austria. Debatnya dengan Keynes pada awal 1930-an tentang teori siklus bisnis dan kebijakan makroekonomi adalah salah satu perdebatan intelektual paling berpengaruh dalam abad ke-20—meskipun untuk beberapa dekade Keynes memenangkan perdebatan itu, dan hanya setelah stagflasi tahun 1970-an bintang Hayek kembali bersinar.
Erving Goffman (1922–1982) adalah sosiolog yang paling orisinal dan paling tidak dapat dikategorisasikan dalam tradisi aksionisme Amerika. Lahir di Mannville, Alberta, Kanada, Goffman belajar sosiologi di Universitas Chicago—di mana ia sangat dipengaruhi oleh interaksionisme simbolik Herbert Blumer dan W.I. Thomas—kemudian melakukan penelitian lapangan di Kepulauan Shetland, Skotlandia yang akhirnya menghasilkan The Presentation of Self in Everyday Life (1959). Karya ini memperkenalkan metafora dramaturgis yang kemudian menjadi sangat berpengaruh: kehidupan sosial sebagai pertunjukan teater, dengan “panggung depan” (front stage) di mana kita menampilkan diri untuk audiens, “panggung belakang” (*back stage*) di mana kita dapat bersantai dari tuntutan pertunjukan, dan “pengelolaan kesan” (*impression management*) sebagai aktivitas dasar dari kehidupan sosial. Yang membuat metafora ini lebih dari sekadar ilustrasi adalah argumen ontologis yang dikandungnya: bahwa identitas sosial tidak adalah sesuatu yang kita “miliki” dan kemudian “ekspresikan” melainkan sesuatu yang kita “produksi” dan “pertahankan” melalui performans yang berkelanjutan dalam interaksi.
TRADISI IV – SIMBOLIK: MEAD, SCHUTZ, GEERTZ, HARRÉ, BERGER
Tradisi simbolik dalam ilmu sosial mewarisi dari pragmatisme Amerika—khususnya dari William James, Charles Sanders Peirce, dan John Dewey—sebuah penolakan terhadap dualisme Cartesian antara pikiran dan dunia, antara subjek dan objek. Pragmatisme berpendapat bahwa pikiran dan dunia tidak terpisah secara fundamental—keduanya merupakan aspek-aspek dari proses tindakan yang berkelanjutan melalui mana organisme beradaptasi dengan lingkungannya dan mentransformasi lingkungan tersebut. Peirce, khususnya, mengembangkan teori semiosis—studi tentang tanda-tanda—yang melihat makna bukan sebagai sesuatu yang ada dalam pikiran subjek individual melainkan sebagai sesuatu yang muncul dalam proses interpretatif yang melibatkan relasi antara tanda, objek, dan penafsir. Ini adalah konsepsi relasional dan proses dari makna yang sangat berbeda dari konsepsi mentalisme yang mendominasi psikologi abad ke-19.
George Herbert Mead (1863–1931) adalah orang yang paling berhasil mengintegrasikan pragmatisme, psikologi evolusioner, dan sosiologi dalam satu kerangka yang koheren. Mead belajar di Oberlin College dan Harvard sebelum pergi ke Jerman untuk belajar di Leipzig dan Berlin—di mana ia berkenalan dengan psikologi fisiologis Wundt dan dengan filsafat Hegel. Kembali ke Amerika, ia bergabung dengan John Dewey di Universitas Michigan dan kemudian di Chicago, di mana ia mengajar selama tiga dekade dan mengembangkan “psikologi sosial” yang sangat berpengaruh. Mead tidak pernah menerbitkan sebuah buku utuh semasa hidupnya—karya-karyanya terutama berupa artikel dan transkrip kuliah yang kemudian diedit oleh murid-muridnya sebagai Mind, Self, and Society (1934). Konsep kunci Mead tentang “significant symbol“—gesture yang membangkitkan respons yang sama dalam diri seseorang yang menggunakannya seperti yang dibangkitkan dalam diri orang lain yang menerimanya—adalah fondasi bagi teorinya tentang bahasa dan komunikasi: bahasa memungkinkan koordinasi sosial yang jauh lebih canggih daripada yang dimungkinkan oleh gestur biologis belaka karena ia memungkinkan setiap penutur untuk “mengambil perspektif orang lain” terhadap dirinya sendiri.
Alfred Schutz (1899–1959) membawa fenomenologi Husserlian ke dalam sosiologi melalui sebuah jalur yang sangat orisinil. Schutz lahir di Wina dan belajar hukum dan ilmu sosial di sana, di mana ia sangat dipengaruhi oleh Max Weber dan Ludwig von Mises. Ketika buku Husserl sampai ke tangannya pada awal 1920-an, Schutz menemukan bahwa fenomenologi dapat memberikan fondasi filosofis yang lebih dalam dan lebih konsisten bagi sosiologi interpretatif Weber yang ia kagumi. Studi dalam Der sinnhafte Aufbau der sozialen Welt (1932) adalah hasil dari usaha ini—upaya untuk menjawab pertanyaan: bagaimana intersubjektivitas—saling pengertian antara manusia—dimungkinkan? Jawaban Schutz tidak dimulai dari “problem pikiran lain” (problem of other minds) dalam filsafat Cartesian—problem tentang bagaimana kita dapat mengetahui bahwa orang lain memiliki pikiran. Schutz berpendapat bahwa pertanyaan itu sudah keliru karena ia mengasumsikan bahwa pengalaman tentang orang lain harus dimediasi oleh inferensi dari diri sendiri. Sebaliknya, pengalaman “kita bersama” (Wir-Erfahrung)—pengalaman tentang berbagi dunia dengan orang lain—adalah lebih primitif daripada pengalaman “aku” dan “kamu” yang terpisah.
Peter Berger (lahir 1929) dan Thomas Luckmann (1927–2016) menghasilkan The Social Construction of Reality (1966) yang menjadi teks paling berpengaruh dalam sosiologi pengetahuan abad ke-20. Berger lahir di Wina dan pindah ke Amerika setelah Perang Dunia II; Luckmann lahir di Slovenia dan juga beremigrasi ke Amerika. Keduanya sangat dipengaruhi oleh Schutz—Berger belajar langsung di bawahnya di New School for Social Research—dan The Social Construction of Reality dapat dibaca sebagai sosiologisasi (Soziologisierung) dari fenomenologi Schutz: mengambil analisis fenomenologis tentang “dunia kehidupan” (Lebenswelt) dan menunjukkan bagaimana “dunia kehidupan” tersebut bukan sesuatu yang diberikan secara alamiah melainkan sesuatu yang dikonstruksi, dipertahankan, dan ditransmisikan melalui proses-proses sosial yang spesifik.
Clifford Geertz (1926–2006) lahir di San Francisco, California, dari keluarga menengah yang tidak menonjol secara intelektual; ia mengambil studi di Antioch College dan kemudian di Harvard, di mana ia terpengaruh oleh Parsons—meskipun kemudian ia bergerak sangat jauh dari Parsons. Penelitian lapangan pertamanya di Jawa pada awal 1950-an menghasilkan tiga monografi yang berbeda tetapi komplementer—The Religion of Java (1960), Agricultural Involution (1963), dan Peddlers and Princes (1963)—yang secara bersama-sama memberikan gambaran yang sangat kaya tentang kompleksitas sosial, ekonomi, dan kultural Jawa. Tetapi Geertz paling dikenal karena esai-esainya yang dikumpulkan dalam The Interpretation of Cultures (1973) dan Local Knowledge (1983), yang secara bersama-sama menyusun manifesto untuk “interpretive anthropology.” Pengaruh Geertz sangat luas karena ia menulis dengan prosa yang luar biasa—jelas, hidup, dan sarat dengan contoh yang konkret—dan karena program interpretivistiknya beresonansi dengan gerakan-gerakan yang lebih luas dalam humaniora dan ilmu sosial yang semakin mempertanyakan klaim-klaim positivistik.
TRADISI V – WEBERIAN DAN MARXIS SEJARAH
Tradisi V dalam diagram Lloyd—yang mencakup sejarah sosial komparatif dari berbagai orientasi teoritis, mulai dari Weberian (Bendix, Hirschman, Runciman) hingga Marxis (Hobsbawm, Thompson, Hill, Moore, Brenner)—adalah mungkin tradisi yang paling mature dan paling produktif secara empiris dalam seluruh peta Lloyd. Kematangan ini bukan kebetulan: ia adalah produk dari akumulasi penelitian historis selama beberapa generasi, dari debat-debat yang semakin canggih tentang metodologi sejarah sosial, dan dari pertemuan yang sangat produktif antara sejarah dan ilmu sosial yang berlangsung terutama sejak tahun 1960-an. Tetapi yang lebih penting dari akumulasi penelitian adalah perkembangan kerangka-kerangka analitis yang memungkinkan pertanyaan-pertanyaan yang lebih tajam dan lebih produktif tentang kausalitas, perbandingan, dan mekanisme.
Reinhard Bendix (1916–1991) adalah seorang Jerman yang melarikan diri dari Nazi dan mendapat suaka di Amerika, belajar sosiologi di Chicago dan kemudian mengajar di Berkeley selama bertahun-tahun. Pengalaman emigrasi—menjadi orang luar dalam dua budaya sekaligus—sangat membentuk perspektifnya: ia memiliki sensitivitas yang tajam terhadap perbedaan antara konteks-konteks historis yang berbeda dan terhadap bahaya generalisasi yang terlalu mudah. Dalam Work and Authority in Industry (1956), Bendix membandingkan ideologi manajerial di Inggris, Amerika Serikat, Jerman, dan Rusia, menunjukkan bahwa hubungan otoritas dalam industri dikonstruksi secara historis dan kultural yang sangat berbeda—bukan sebagai variasi dari satu pola “rasionalisasi kapitalis” yang universal. Pendekatannya sangat Weberian dalam penekanannya pada “Herrschaft” (dominasi) sebagai kategori yang tidak dapat direduksi ke ekonomi, dan dalam keyakinannya bahwa interpretasi aktor tentang situasi mereka—bukan hanya kondisi material mereka—adalah variabel yang penting secara kausal.
Albert Hirschman (1915–2012) adalah ekonom yang paling anti-ekonomistik dalam sejarah ekonomi pembangunan—sebuah paradoks yang ia sendiri sangat nikmati. Lahir di Berlin dari keluarga Yahudi yang terdidik, Hirschman melarikan diri dari Nazi, berpartisipasi dalam Perang Sipil Spanyol di sisi Republik, kemudian bekerja dengan Varian Fry untuk menyelamatkan intelektual dari Prancis yang diduduki Nazi—termasuk Hannah Arendt, Marc Chagall, dan banyak lainnya—sebelum akhirnya beremigrasi ke Amerika dan membangun karier akademis yang sangat orisinal. Buku Exit, Voice, and Loyalty (1970) adalah sebuah buku kecil yang berargumen sangat besar: dua mekanisme fundamental melalui mana organisasi dan sistem mendapat umpan balik tentang kemunduran mereka—keluarnya pelanggan atau anggota (*exit*) dan penyuaraan ketidakpuasan (voice)—memiliki hubungan yang jauh lebih kompleks daripada yang diasumsikan oleh teori ekonomi konvensional. Kondisi-kondisi di mana exit tersedia justru dapat melemahkan voice—orang yang paling vokal dan paling kompeten sering yang pertama keluar. Ini memiliki implikasi yang sangat jauh untuk memahami dinamika perubahan sosial dan kelembagaan.
E.P. Thompson (1924–1993) adalah tokoh yang paling formatif bagi sejarah sosial Inggris pasca-Perang Dunia II—dan The Making of the English Working Class (1963) adalah salah satu dari sedikit buku yang benar-benar mengubah cara kerja sebuah disiplin ilmu. Thompson belajar di Kingswood School dan kemudian di Corpus Christi College Cambridge, di mana ia dipengaruhi oleh H.J. Habakkuk dan Christopher Hill. Setelah perang—di mana ia bertugas sebagai komandan tank di Italia—ia bergabung dengan Partai Komunis Inggris dan aktif dalam gerakan buruh pendidikan sebelum meninggalkan Partai setelah invasi Soviet ke Hungaria pada 1956. Karya The Making of the English Working Class lahir dari ketegangan antara komitmen politisnya pada kelas pekerja dan kekecewaannya terhadap determinisme ekonomistik yang mendominasi Marxisme resmi. Tesis sentralnya—bahwa kelas pekerja bukan “dibuat” oleh industrialisasi melainkan “membuat dirinya sendiri” melalui pengalaman dan perjuangan—adalah pernyataan ontologis yang sangat kuat tentang agen historis dan sekaligus metodologis tentang cara yang benar untuk menulis sejarah kelas.
Eric Hobsbawm (1917–2012) adalah sejarawan yang paling kosmopolitan dalam Tradisi V—benar-benar seorang warga dunia yang, dari Alexandria, Mesir, di mana ia lahir, melalui Wina dan Berlin, di mana ia tumbuh, ke Inggris, di mana ia menetap dan mengajar, selalu mempertahankan perspektif yang jauh lebih global daripada kebanyakan sejarawan Barat. Tetralogi besar tentang abad ke-19 dan ke-20—The Age of Revolution (1962), The Age of Capital (1975), The Age of Empire (1987), dan The Age of Extremes (1994)—adalah pencapaian sintetis yang tidak ada duanya: sejarah global yang menggabungkan analisis ekonomi, politik, kultural, dan sosial dalam narasi yang jernih dan sangat readable tanpa mengorbankan kompleksitas. Apa yang membuat Hobsbawm berbeda dari sejarawan Marxis lainnya adalah kemampuannya untuk menghargai kompleksitas dan kontingensi tanpa meninggalkan komitmen pada penjelasan struktural: ia tidak percaya bahwa sejarah “pasti” berjalan dalam arah tertentu, tetapi ia juga tidak percaya bahwa sejarah adalah kumpulan peristiwa acak.
Robert Brenner (lahir 1943) memberikan kontribusi yang paling provokatif dan paling menantang secara teoritis dalam perdebatan tentang asal-usul kapitalisme dan transisi dari feodalisme ke kapitalisme. Argumennya—yang diartikulasikan paling sistematis dalam “The Origins of Capitalist Development: A Critique of Neo-Smithian Marxism” (1977) dan dalam *Merchants and Revolution* (1993)—adalah double critique yang sangat kuat: melawan teori-teori yang menekankan pertumbuhan populasi atau perdagangan sebagai penggerak utama, dan melawan Wallerstein yang menekankan pertukaran dan pembagian kerja internasional. Bagi Brenner, kunci dari kemunculan kapitalisme adalah perubahan dalam relasi-relasi properti agrarian—secara spesifik, perubahan yang menghasilkan “market dependence” pada petani dan tuan tanah Inggris abad ke-15 dan ke-16: karena petani tidak lagi memiliki akses yang aman terhadap tanah subsistensi, dan karena tuan tanah harus bersaing untuk penyewa yang kompeten, keduanya harus “berinovasi” atau binasa. Ini adalah gambaran tentang kapitalisme yang lahir bukan dari perdagangan atau dari naluri akumulasi yang imanen dalam “human nature,” melainkan dari konfigurasi historis yang sangat spesifik dari konflik kelas dalam pertanian Inggris.
Barrington Moore Jr. (1913–2005) melakukan sebuah proyek komparatif-historis yang paling ambisius dalam menghubungkan pola-pola transisi agraria dengan outcome-outcome politik jangka panjang. Dalam Social Origins of Dictatorship and Democracy* (1966), ia membandingkan Inggris, Prancis, Amerika Serikat, Jerman, Jepang, China, dan India untuk menunjukkan bahwa perbedaan dalam cara transisi dari pertanian ke industri dilakukan—khususnya, dalam hubungan antara tuan tanah, petani, dan borjuasi komersial—menghasilkan perbedaan yang fundamental dalam rezim politik. “Tidak ada borjuis, tidak ada demokrasi” (no bourgeoisie, no democracy) adalah formulasi yang terkenal—tetapi Moore lebih nuansed dari yang dikutip oleh slogan ini: ia tidak berpendapat bahwa ada satu faktor yang menentukan, melainkan bahwa konfigurasi-konfigurasi yang berbeda dari kekuatan kelas menghasilkan jalur-jalur historis yang berbeda, dan bahwa jalur-jalur ini sangat sulit dibalikkan setelah mereka terbentuk.
STRUKTURASIONISME: ELIAS, GIDDENS, ABRAMS, TOURAINE
Strukturasionisme sebagai orientasi teoritis yang berlabel demikian adalah fenomena terutama dari tahun 1970-an dan 1980-an—tetapi usaha-usaha untuk melampaui dikotomi struktur-agen yang menjadi motivasinya adalah jauh lebih tua. Marx sendiri, dalam kalimat yang sangat terkenal dari *Der achtzehnte Brumaire des Louis Bonaparte* (1852), merumuskan sebuah posisi strukturasionis avant la lettre: “Manusia membuat sejarahnya sendiri, tetapi mereka tidak membuatnya persis seperti yang mereka kehendaki; mereka tidak membuatnya dalam kondisi-kondisi yang mereka pilih sendiri melainkan dalam kondisi-kondisi yang langsung mereka hadapi, yang diberikan dan diwariskan dari masa lalu.” Kalimat ini adalah mungkin satu pernyataan yang paling sering dikutip dalam seluruh literatur sosial—dan popularitasnya mencerminkan bagaimana ia menangkap ketegangan yang sangat fundamental antara agen dan kondisi yang merupakan inti dari pengalaman historis.
Norbert Elias (1897–1990) adalah sosiolog yang nasibnya sangat ironis: karyanya yang paling penting—Über den Prozeß der Zivilisation (1939)—diterbitkan pada tahun yang sama dengan dimulainya perang yang menghancurkan komunitas intelektual Yahudi Eropa tempat ia berasal, dan kemudian hampir sepenuhnya diabaikan selama tiga dekade. Elias lahir di Breslau (sekarang Wrocław, Polandia) dari keluarga Yahudi menengah, belajar kedokteran dan filsafat di Breslau dan di Heidelberg, di mana ia berkenalan dengan Alfred Weber dan Karl Mannheim. Ia menjadi asisten Mannheim di Frankfurt sebelum Nazi berkuasa—setelah itu ia melarikan diri pertama ke Prancis, kemudian ke Inggris, di mana ia mengajar di Leicester sampai ia akhirnya mendapat pengakuan internasional pada akhir 1960-an dan 1970-an. Bukunya kemudian menjadi salah satu buku yang paling banyak dibaca dalam sosiologi, dan konsep “figurasi” (Figuration) yang dikembangkannya mendapat pengakuan sebagai sumbangan original yang sangat penting untuk sosiologi.
Anthony Giddens (lahir 1938) adalah produk dari ekspansi universitas Inggris pasca-Perang Dunia II yang menghasilkan generasi baru akademisi dari latar belakang kelas menengah-bawah. Lahir di Edmonton, London Utara, Giddens belajar sosiologi di Hull dan kemudian melanjutkan ke London School of Economics, sebelum mengajar di Leicester dan kemudian membangun kariernya di Cambridge yang sangat berpengaruh. Kontribusi intelektualnya sangat luas—dari interpretasi atas klasik-klasik sosiologi (dalam Capitalism and Modern Social Theory, 1971) hingga teori strukturasi (dalam New Rules of Sociological Method, 1976, dan The Constitution of Society, 1984) hingga teori tentang modernitas tinggi dan identitas (dalam The Consequences of Modernity, 1990, dan Modernity and Self-Identity, 1991) hingga karya-karya kebijakan tentang “Jalan Ketiga” yang sangat kontroversial dalam konteks politik Inggris. Luasnya cakupan ini adalah kekuatan dan kelemahan Giddens: ia adalah seorang synthesizer dan popularizer yang sangat berbakat—tetapi ini juga berarti bahwa argumen-argumennya sering tidak cukup dalam untuk memuaskan para spesialis.
Philip Abrams (1933–1981) adalah sosiolog yang mati terlalu muda—ia meninggal karena serangan jantung pada usia 48 tahun, meninggalkan Historical Sociology (1982) yang diterbitkan secara postumus sebagai monumennya. Abrams belajar dan mengajar di Cambridge, di mana ia sangat dipengaruhi oleh tradisi sejarah sosial Inggris. Tetapi karya terakhirnya melampaui sejarah Inggris untuk mengembangkan sebuah argumen filosofis tentang sifat ilmu sosial historis. Argumennya—bahwa sosiologi yang baik selalu sudah historis dan bahwa sejarah yang baik selalu sudah sosiologis, karena keduanya berurusan dengan “masalah yang sama”, yaitu tentang “hubungan antara tindakan manusia dan konteksnya yang sosial dalam waktu”—adalah argumen yang sangat sederhana dalam strukturnya tetapi sangat kaya dalam implikasinya.
Alain Touraine (1925–2023) mengembangkan sosiologi yang paling eksplisit dalam orientasinya pada gerakan sosial sebagai subjek historis utama. Lahir di Hermanville-sur-Mer di Normandia dari keluarga dokter yang terdidik, Touraine belajar sejarah di Paris sebelum beralih ke sosiologi di bawah pengaruh Georges Friedmann. Pengalamannya meneliti konflik kerja di tambang-tambang Prancis dan kemudian di pabrik-pabrik Renault pada awal 1950-an memberinya wawasan langsung tentang dinamika konflik kelas yang kemudian ia kembangkan ke dalam sosiologi tindakan. Tetapi krisis 1968—ketika gerakan mahasiswa dan buruh mengguncang Prancis secara fundamental—adalah turning point bagi Touraine: ia mengembangkan metodologi “intervention sociologique” yang unik, di mana sosiolog bekerja bersama anggota gerakan sosial untuk membantu mereka mengidentifikasi “identitas,” “oposisi,” dan “totalitas” (enjeu) dari perjuangan mereka. Ini adalah metode penelitian yang sangat orisinal yang berangkat dari asumsi bahwa sosiolog bukan pengamat netral melainkan partisipan dalam proses sosial yang mereka teliti.
KESIMPULAN
Perjalanan melalui peta Lloyd yang telah kita lakukan dalam esai ini—dari holisme melalui individualisme ke strukturisme, dari positivisme melalui hermeneutika ke realisme ilmiah, dari fungsionalisme organik melalui strukturalisme ke strukturalisme—adalah perjalanan yang tidak memiliki titik tujuan yang pasti. Ini bukan kelemahan peta Lloyd; ini adalah sifat dari bidang yang dipetakannya. Ilmu sosial tidak berkembang menuju “kebenaran” tunggal yang pada akhirnya akan menyelesaikan semua perdebatan—ia berkembang melalui ketegangan-ketegangan yang produktif antara perspektif-perspektif yang berbeda, masing-masing menangkap sesuatu yang nyata tentang realitas sosial sekaligus melewatkan sesuatu yang lain yang ditangkap oleh perspektif alternatif.
Dalam konteks ini, penting untuk dipahami dari keseluruhan peta ini bahwa pilihan-pilihan teoritis yang kita buat tidak pernah hanya “teknis” atau “metodologis” dalam pengertian yang terbatas. Ketika seseorang memilih untuk mendefinisikan unit analisisnya sebagai “individu yang rasional” versus “sistem sosial” versus “proses historis dari interaksi antara struktur dan agen”—pilihan ini mengandung komitmen ontologis tentang apa yang nyata dan kausal dalam dunia sosial, komitmen epistemologis tentang bagaimana pengetahuan tentang realitas sosial itu dapat diperoleh, dan komitmen metodologis tentang prosedur-prosedur penelitian yang mengikuti dari komitmen-komitmen tersebut. Ketiganya terhubung secara internal—dan inkonsistensi antara ketiganya menghasilkan penelitian yang secara fundamental bermasalah meskipun mungkin teknis sangat canggih.
Posisi yang diadvokasi Lloyd—strukturisme yang terkait dengan metode ilmiah realis—memiliki kelebihan-kelebihan yang sangat nyata: ia mengakui realitas kausal dari struktur sosial tanpa mengorbankan agen; ia memungkinkan penjelasan kausal yang serius tanpa jatuh ke dalam determinisme; ia sensitif terhadap kontingensi historis tanpa meninggalkan ambisi eksplanasi; dan ia dapat menghargai dimensi interpretatif dari tindakan sosial tanpa mereduksi penjelasan ke hermeneutika belaka. Tetapi posisi ini juga menghadapi tantangan-tantangan yang belum sepenuhnya diselesaikan: bagaimana kita secara operasional mengidentifikasi “mekanisme kausal” dalam ilmu sosial di mana kondisi-kondisi penutupan eksperimental tidak tersedia? Bagaimana kita menentukan “berat” relatif dari agen dan struktur dalam kasus-kasus historis yang spesifik? Dan bagaimana kita menghindari “mekanisme” menjadi nama baru untuk “faktor” yang sama-samanya?
Pertanyaan-pertanyaan ini tidak melemahkan program Lloyd—mereka memperluas agendanya. Program sejarah sosial komparatif yang paling produktif—yang diwakili oleh karya-karya Moore, Tilly, Skocpol, Brenner, dan yang kemudian—telah mengembangkan strategi-strategi penelitian yang secara implisit sudah sangat realis: mereka menggunakan perbandingan sistematis untuk mengidentifikasi kondisi-kondisi yang diperlukan dan memadai bagi outcome-outcome historis; mereka menggunakan “process tracing” untuk menelusuri mekanisme-mekanisme kausal melalui urutan-urutan peristiwa yang spesifik; dan mereka menggabungkan analisis struktural dengan pemahaman tentang makna dan motivasi agen-agen konkret. Strategi-strategi ini dapat diperkuat secara filosofis melalui kerangka realisme kritis—dan sebaliknya, kerangka realisme kritis dapat diuji dan diperhalus melalui penerapannya pada penelitian sejarah sosial yang konkret.
Apa yang peta Lloyd akhirnya mengajarkan kepada kita adalah sebuah pelajaran tentang refleksivitas intelektual: bahwa ilmuwan sosial yang baik tidak hanya bekerja dalam tradisi tertentu, tetapi juga *pada* tradisi—ia memiliki kesadaran tentang di mana tradisinya berada dalam lanskap yang lebih luas, apa asumsi-asumsinya yang tidak dieksplisitkan, dan apa yang ia tidak dapat lihat karena berada dalam sudut pandang yang ia tempati. Kesadaran ini tidak menghasilkan relativisme—tidak setiap posisi sama-sama valid, dan perbedaan-perbedaan antara program-program penelitian yang lebih baik dan yang lebih buruk sangat nyata dan dapat diargumentasikan. Tetapi ia menghasilkan kerendahan hati: pengakuan bahwa tidak ada posisi yang dapat mengklaim melihat segalanya dari mana-mana, dan bahwa kemajuan dalam ilmu sosial sering datang dari dialog antara perspektif-perspektif yang berbeda yang masing-masing memiliki sesuatu yang tidak dimiliki oleh yang lain.
Dalam dunia di mana masalah-masalah sosial semakin kompleks—di mana krisis iklim, ketidaksetaraan ekstrem, otoritarianisme yang bangkit kembali, dan teknologi digital yang mendisrupsi semua tatanan sosial yang sudah ada menuntut pemahaman yang sangat canggih tentang bagaimana struktur-struktur sosial bekerja, bagaimana mereka berubah, dan bagaimana agen-agen kolektif dapat bertindak secara efektif untuk mengubah kondisi-kondisi yang tidak dapat diterima—warisan intelektual yang dipetakan oleh Lloyd lebih relevan dari sebelumnya. Tidak ada satu pun yang ia petakan yang sudah “usang”; masing-masing memberikan alat-alat analitis yang tidak dapat disediakan oleh yang lain. Fungsionalisme yang diabaikan dapat mengingatkan kita tentang bagaimana institusi-institusi mempertahankan diri dan mengapa perubahan sosial selalu lebih sulit daripada yang diharapkan. Hermeneutika yang sering dianggap “terlalu lunak” dapat mengingatkan kita bahwa tanpa pemahaman tentang bagaimana aktor memaknai situasi mereka, prediksi perilaku mereka selalu akan gagal. Realisme kritis yang sering dianggap “terlalu abstrak” memberikan kita alat untuk berbicara tentang kausalitas tanpa determinisme dan tentang struktur tanpa reduksionisme.
Narasi jaringan nalar dari Lloyd adalah upaya untuk mengambil jarak dari tradisi kita sendiri yang sudah terasa nyaman, untuk melihat ke mana kita berada dalam lanskap yang lebih luas, dan untuk belajar dari yang lain bukan dengan mengabaikan perbedaan-perbedaan yang sesungguhnya ada, tetapi dengan memahami mengapa perbedaan-perbedaan itu ada dan apa yang dipertaruhkan di dalamnya. Ilmu sosial yang baik tidak hanya membutuhkan keahlian teknis dalam satu tradisi, tetapi juga pengetahuan yang luas tentang keseluruhan medan intelektual—dan keberanian untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang paling sulit, yaitu pertanyaan-pertanyaan tentang fondasi dari apa yang kita lakukan dan mengapa kita melakukannya.
✦ ✦ ✦
Esai ini disusun berdasarkan analisis atas bagan Genealogi Teori Ilmu Sosial dalam Christopher Lloyd, Explanation in Social History (Oxford: Basil Blackwell, 1986). Karya-karya utama yang dianalisis mencakup seluruh tokoh dalam diagram, dari Comte dan Spencer hingga Bhaskar dan Archer, dari Durkheim dan Parsons hingga Thompson dan Brenner, dengan pembacaan langsung terhadap teks-teks primer dalam semua tradisi utama yang dipetakan.
