KBA13 INSIGHT

KBA13 – Insight Beyond the Horizon

Di Antara Peta Kolonial dan Ingatan Kampung: Etnografi Singkel, Kolonialisme, dan Pembentukan Identitas Lokal

Pendahuluan

Saya tiba di Singkil pada musim laut yang tidak sepenuhnya tenang. Angin dari Samudra Hindia berhembus pelan, membawa bau asin yang khas, bau yang bagi orang luar mungkin sekadar aroma laut, tetapi bagi masyarakat Singkil adalah bagian dari ingatan. Di pesisir inilah sejarah panjang bertemu dengan kehidupan sehari-hari dan di sinilah kolonialisme pernah menjejak, tidak selalu dengan kekerasan, tetapi dengan perubahan yang pelan dan dalam.

Tulisan ini lahir dari pertemuan antara pengamatan lapangan, ingatan kolektif masyarakat, dan bacaan atas arsip kolonial. Ia tidak berangkat dari keinginan untuk menilai masa lalu, melainkan untuk memahami bagaimana kolonialisme bekerja sebagai proses historis yang membentuk identitas Singkel hingga hari ini.

Singkel sebagai Ruang Hidup, Bukan Sekadar Wilayah

Dalam percakapan sehari-hari dengan warga tua di Singkil Lama dan Singkel Baru, saya jarang mendengar mereka menyebut kolonialisme sebagai “penjajahan” secara eksplisit. Yang sering muncul justru cerita tentang perubahan, tentang kapal besar yang dulu pernah singgah, tentang aturan baru yang datang dari luar, tentang cara hidup yang perlahan bergeser dan tentang singkil dulu itu masa suksesnya.

Bagi mereka, Singkel bukan sekadar wilayah administratif sebagaimana tertulis dalam arsip kolonial. Singkel adalah ruang hidup tempat laut, sungai, hutan, kampung, dan manusia saling terhubung. Sebelum kolonialisme datang, kehidupan di Singkel diatur oleh adat, relasi kekerabatan, dan ritme alam. Waktu tidak diukur oleh jam, melainkan oleh pasang-surut laut dan musim angin. Namun dunia semacam itu mulai bergeser ketika Singkel masuk ke dalam orbit sejarah dunia.

Dunia yang Lebih Besar Menyentuh Singkel

Kolonialisme Belanda di Singkel tidak bisa dilepaskan dari dinamika global abad ke-19. Di Eropa, kapitalisme modern sedang tumbuh pesat. Revolusi industri menciptakan kebutuhan besar akan bahan mentah dan jalur perdagangan baru. Nusantara, termasuk wilayah pesisir seperti Singkel, menjadi bagian dari jaringan global tersebut.

Dalam arsip kolonial, Singkel sering muncul sebagai titik kecil tidak sepenting pusat-pusat ekonomi besar seperti Batavia atau Medan. Namun justru dari titik kecil inilah kita bisa melihat bagaimana kolonialisme bekerja hingga ke lapisan paling pinggir. Kolonialisme ini tidak hanya menglihat rempah-rempahanya tetapi menglihat bagaimana cara mengambil tanpa memaksa manusianya, dan itu sudah kita lihat pada masa tersebut, singkil sukses pada saat perdagangan di muara singkil, karna begitu banyak etnis luar datang untuk membeli/barter hasil alam, dan rempah-rempahnya.

Kapal-kapal Belanda yang singgah di perairan Singkel membawa lebih dari sekadar komoditas. Mereka membawa sistem pengetahuan, cara pandang, dan struktur kekuasaan baru. Dunia Singkel yang sebelumnya berputar pada relasi lokal, kini terhubung dengan dunia yang jauh dan asing.

Kolonialisme yang Datang Tanpa Gemuruh

Dalam pengamatan lapangan, saya menemukan bahwa kolonialisme di Singkel tidak selalu hadir sebagai peristiwa traumatis yang dikenang dengan kemarahan. Ia lebih sering dikenang sebagai masa “ketika aturan mulai berubah”.

Seorang informan tua pernah berkata kepada saya, “Dulu orang kampung bebas keluar masuk sungai, tapi setelah Belanda datang, semua mulai dicatat.” Kalimat sederhana ini mengandung makna yang dalam. Pencatatan adalah inti dari kolonialisme modern. Dengan mencatat, kolonialisme mengubah manusia menjadi data, kampung menjadi wilayah, dan adat menjadi objek pengaturan.

Kolonialisme bekerja melalui administrasi, batas wilayah, struktur pemerintahan, dan hukum tertulis. Ia tidak menghancurkan adat secara frontal, tetapi menempatkannya dalam posisi baru di bawah kontrol kekuasaan kolonial.

Pemimpin Adat di Tengah Dua Dunia

Salah satu temuan penting dalam penelitian lapangan saya adalah posisi ambigu pemimpin adat pada masa kolonial. Mereka tidak sepenuhnya disingkirkan, tetapi juga tidak lagi berdiri bebas. Dalam banyak kasus, pemimpin adat dijadikan perpanjangan tangan kekuasaan kolonial. Maka dari itu pemimpin adat merasa tidak suka dengan cara aturan kolonial berikan ke masyarakat.

Situasi ini menciptakan dilema identitas. Di satu sisi, mereka adalah penjaga adat dan tradisi. Di sisi lain, mereka harus berhadapan dengan tuntutan administrasi kolonial. Dalam percakapan dengan keturunan pemimpin adat, saya menangkap adanya rasa bangga sekaligus kegelisahan terhadap peran leluhur mereka di masa itu.

Kolonialisme, dengan demikian, tidak hanya mengubah struktur kekuasaan, tetapi juga merombak makna kepemimpinan dalam masyarakat Singkel.

Peta sebagai Alat Kuasa

Dalam arsip kolonial yang saya pelajari, Singkel digambarkan melalui peta-peta yang rapi dan terukur. Sungai diberi garis, kampung diberi titik, dan wilayah diberi nama. Namun peta-peta itu tidak pernah benar-benar mampu menangkap kompleksitas kehidupan lokal.

Bagi masyarakat Singkel, batas wilayah tidak selalu jelas sebagaimana di peta kolonial. Ruang hidup ditentukan oleh relasi sosial, bukan garis imajiner. Ketika kolonialisme memperkenalkan batas-batas teritorial, ia juga memperkenalkan konflik baru, tentang kepemilikan, tentang akses, dan tentang kuasa.

Peta, dalam konteks ini, bukan alat netral. Ia adalah representasi cara kolonial melihat dan menguasai dunia.

Singkel sebagai Barometer Perubahan Sosial

Bab kolonial dalam sejarah Singkel berfungsi sebagai barometer penunjuk arah perubahan sosial. Dari pengamatan lapangan, terlihat jelas bahwa kolonialisme mempercepat proses diferensiasi sosial. Muncul kelompok-kelompok baru dengan akses berbeda terhadap kekuasaan dan sumber daya.

Sebagian masyarakat mulai terhubung dengan ekonomi kolonial, sementara yang lain tetap bertahan dalam sistem subsistensi. Perbedaan ini tidak selalu menciptakan konflik terbuka, tetapi perlahan membentuk lapisan sosial yang sebelumnya tidak begitu kentara (mencolok).

Kolonialisme tidak menciptakan ketimpangan dari nol, tetapi memperkuat dan menstrukturkannya. Agar mudah untuk mendapatkan hasil dan masyarakat pun bisa menikmatinya hasil yang didaptkan kedua belah pihak atau saling menguntungkan satu sama yang lain.

Transisi dari Dunia Lama ke Singkel Baru

Istilah “Singkel Baru” yang muncul dalam buku ini bukan sekadar penanda waktu, tetapi penanda perubahan identitas. Dari hasil penelitian lapangan, saya melihat bahwa Singkel Baru adalah hasil dari pertemuan panjang antara adat, kolonialisme, dan modernitas.

Tradisi tidak lenyap, tetapi berubah fungsi. Adat yang dulu mengatur hampir seluruh aspek kehidupan, kini lebih sering muncul dalam ritual dan simbol. Namun justru dalam simbol-simbol itulah ingatan kolektif dipertahankan.

Singkel Baru adalah ruang negosiasi antara masa lalu dan masa kini, antara lokal dan global. Fase perkembangan dan pergantian kota singkel era Kolonial, Singkel ”dunia baru” pintu gerbang menuju singkel baru. Penghasil lada, pembangunan dimulai belanda diberok (pertengahan abad ke-19 M, 1843-1845). Kota Singkel kedua (kota transiit), letaknya diwilayah kampung Singkel lama (dibagun pada tahun 1860-1863 M. Kota Singkiel baru (Sengkel Baru) yang berkelanjutan hingga sekarang sebagai Ibukota Kabupaten Singkel (mulai ditempati pada tahun 1890).

Ingatan Kolonial dalam Cerita Sehari-hari

Yang menarik, kolonialisme di Singkel lebih banyak hidup dalam cerita dari pada dalam monumen. Tidak ada patung besar, tidak ada bangunan megah yang dirawat sebagai simbol kolonial. Yang ada adalah cerita-cerita kecil tentang kapal, tentang aturan, tentang masa ketika “orang luar” mulai mengatur kampung.

Cerita-cerita ini tidak selalu utuh, sering terpotong, dan bercampur dengan mitos. Namun justru di situlah nilai etnografinya. Ingatan kolektif tidak bekerja seperti arsip resmi. Ia hidup, berubah, dan menyesuaikan diri dengan kebutuhan masa kini.

Kolonialisme dan Pembentukan Cara Pandang

Dari perspektif antropologi, kolonialisme di Singkel dapat dilihat sebagai proses pembentukan cara pandang. Ia mengajarkan masyarakat untuk melihat diri mereka sebagai bagian dari sistem yang lebih besar, negara, wilayah, dan hukum tertulis.

Namun masyarakat Singkel tidak sepenuhnya menerima cara pandang ini tanpa perlawanan. Ada bentuk-bentuk resistensi halus mempertahankan adat, menjaga bahasa, dan mewariskan cerita.

Identitas Singkel hari ini adalah hasil dari tarik-menarik ini.

Refleksi Peneliti Membaca Singkel dari Pinggiran

Sebagai peneliti, saya menyadari bahwa menulis tentang kolonialisme di Singkel berarti menulis dari pinggiran sejarah besar. Namun justru dari pinggiran inilah kita bisa melihat wajah kolonialisme yang lebih manusiawi tidak selalu dramatis, tetapi nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Singkel mengajarkan bahwa kolonialisme bukan hanya soal penaklukan, tetapi juga soal adaptasi, negosiasi, dan perubahan identitas.

Singkel yang Terus Bergerak

Hari ini, Singkel bukan lagi wilayah kolonial. Namun jejak kolonialisme masih terasa dalam struktur pemerintahan, dalam cara berpikir, dan dalam ingatan kolektif. Laut tetap menjadi saksi bisu, menghubungkan masa lalu dan masa kini.

Identitas Singkel bukan sesuatu yang selesai. Ia terus bergerak, seperti ombak yang tidak pernah benar-benar berhenti. Dan di situlah kekuatannya, mampu hidup di antara perubahan, tanpa kehilangan akar.

Menurut saya singkel sekarang sudah lebih berubah baik dari segi lingkungan sosial, ekonomi, adat, tradisi, dan lainya. Karena banyaknya anak muda singkel keluar dan melanjutkan pendidikan tinggi dan keluar dari zona kampungnya maka mereka mendapatkan jawaban dari sejarah dan identitas singkel itu sendiri.

Setidaknya anak muda sekarang lebih peduli dengan kampungnya setelah selesai pendidikan tinggi dan mereka bisa mengubah mindset kuno menjadi mindset modern. Agar kampung tidak ketinggalan zaman dan bisa beradaptasi dengan yang lain.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *