Religion • Geopolitics • Intelligence • Civilization

Belajar Lintas Budaya di Thailand Selatan: Catatan KPM Internasional 2026

 

Ada satu momen yang hingga kini masih saya ingat. Bukan ketika pertama kali mengajar di depan kelas, bukan pula saat mengunjungi tempat-tempat wisata di Hatyai. Momen itu justru terjadi ketika saya berdiri di Bandara Sultan Iskandar Muda sebelum keberangkatan. Saat pesawat mulai lepas landas, saya menyadari bahwa perjalanan ini akan menjadi pengalaman pertama saya membawa nama kampus dan daerah ke luar negeri.

“Saya tidak pernah membayangkan bahwa sebuah program pengabdian akan membawa saya menyeberangi Selat Malaka hingga ke Hatyai, Thailand Selatan. Perjalanan itu bukan hanya tentang berpindah negara, tetapi juga tentang belajar memahami dunia dari sudut pandang yang berbeda.”

Kesempatan itu datang ketika saya mengikuti program Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) Internasional Thailand 2026 yang diselenggarakan oleh UIN Ar-Raniry. Program ini memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk melaksanakan pengabdian masyarakat sekaligus memperluas wawasan akademik melalui kolaborasi dengan lembaga pendidikan di luar negeri. KPM Internasional Thailand merupakan impian saya sejak semester 3. Saat link pendaftaran dibuka, saya langsung meminta izin kepada kedua orang tua untuk mengikuti KPM Internasional Thailand, dan saat itu juga mereka mengizinkannya. Pada hari itu juga saya langsung mengurus berkas-berkas untuk mengikuti program tersebut. Singkat saja, saya mengikuti program KPM Internasional Thailand bersama 17 mahasiswa dari berbagai program studi. Saya ditempatkan di Hat Yai, Provinsi Songkhla, Thailand Selatan, selama kurang lebih 1 bulan. Bagi saya, mengikuti KPM Internasional bukan sekadar menjalankan kewajiban akademik. Program ini menjadi kesempatan untuk belajar langsung dari masyarakat lintas budaya, mengenal sistem pendidikan di negara lain, serta membangun persahabatan dengan orang-orang dari latar belakang yang berbeda. Berbekal rasa ingin tahu dan semangat belajar, saya memulai perjalanan yang kemudian menghadirkan banyak pengalaman berharga.

Perjalanan menuju Thailand Selatan menjadi awal dari pengalaman yang tak akan saya lupakan. Dari Aceh, saya bersama rombongan menuju Kuala Lumpur, Malaysia. Meski perjalanan udara hanya berlangsung beberapa jam, perasaan yang saya rasakan begitu beragam. Ada rasa bangga karena mendapat kesempatan mengikuti KPM Internasional, tetapi juga rasa gugup membayangkan kehidupan yang akan saya jalani selama satu bulan di negeri orang.

Setelah tiba di Malaysia, perjalanan kami belum berakhir. Kami melanjutkan perjalanan melalui jalur darat ke selatan Thailand. Perjalanan yang memakan waktu berjam-jam itu justru menjadi pengalaman yang menyenangkan. Sepanjang perjalanan, pemandangan perkotaan perlahan berganti menjadi hamparan perkebunan karet, sawit, serta perkampungan yang tertata rapi. Suasana itu mengingatkan saya pada beberapa daerah di Aceh, sehingga rasa rindu kampung halaman sedikit terobati.

Momen yang paling saya nantikan adalah ketika bus memasuki kawasan perbatasan Malaysia–Thailand. Untuk pertama kalinya saya menyaksikan proses pemeriksaan imigrasi di perbatasan dua negara. Setelah paspor diperiksa dan dinyatakan lengkap, kami melanjutkan perjalanan menuju Hat Yai, Provinsi Songkhla. Saat melihat papan bertuliskan huruf Thailand berdampingan dengan huruf Latin, saya menyadari bahwa saya benar-benar telah berada di negara yang selama ini hanya saya kenal melalui media sosial.

Sesampainya di Hatyai, kesan pertama yang saya rasakan ialah suasana kotanya yang bersih, tertib, dan ramai. Di beberapa tempat saya mendengar masyarakat menggunakan bahasa Melayu selain bahasa Thailand. Hal itu membuat saya merasa lebih mudah beradaptasi karena ada beberapa kata yang terdengar tidak asing di telinga. Saya semakin memahami bahwa Thailand Selatan memiliki hubungan sejarah dan budaya yang cukup dekat dengan kawasan Melayu, termasuk Aceh.

Perjalanan panjang dari Aceh hingga Hatyai bukan sekadar perpindahan dari satu negara ke negara lain. Perjalanan itu mengajarkan saya bahwa setiap langkah menuju tempat baru selalu membawa pelajaran. Dari situlah saya memulai kisah pengabdian sebagai peserta KPM Internasional Thailand 2026, sebuah pengalaman yang memperluas wawasan sekaligus mengajarkan saya arti keberanian untuk keluar dari zona nyaman.

Langkah Awal di Negeri Gajah Putih

Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang, akhirnya saya tiba di Thailand Selatan. Rasa lelah akibat perjalanan seakan terbayar ketika kami tiba di Al-Hidayah Wakaf Foundation. Tempat itu menjadi persinggahan pertama kami sebelum menjalani program KPM Internasional di sekolah masing-masing.

Sesampainya di sana, kami disambut dengan senyum hangat oleh pengurus yayasan yang akrab kami panggil Abi dan Umi. Sambutan mereka membuat saya merasa seolah berada di negeri orang. Keramahan yang mereka tunjukkan sejak awal seolah menghapus rasa canggung dan lelah setelah perjalanan panjang dari Indonesia.

Di yayasan tersebut, saya juga bertemu dengan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Ada yang berasal dari Universitas Galuh Jawa Barat, mahasiswa dari Kalimantan, dan dari beberapa daerah lainnya. Meski baru pertama kali bertemu, suasana keakraban langsung terjalin. Kami saling memperkenalkan diri, berbagi cerita tentang daerah asal, serta bertukar pengalaman tentang perjalanan menuju Thailand Selatan. Perbedaan latar belakang justru menjadi awal lahirnya persahabatan baru.

Sebelum beristirahat, Abi dan Umi telah menyiapkan sarapan untuk kami. Hidangan sederhana yang disajikan terasa begitu nikmat, bukan hanya karena kami sedang lapar setelah perjalanan panjang, tetapi juga karena disuguhkan dengan penuh kehangatan. Bagi saya, sambutan itu menjadi kesan pertama yang begitu membekas selama berada di Thailand Selatan.

See also  UIN Ar-Raniry Peringati Dua Dekade Perdamaian Aceh: Dari Medan Konflik ke Jalan Kesejahteraan

Setelah sarapan, kami mengabadikan momen kebersamaan melalui foto bersama dosen dan mahasiswa Universitas Galuh serta seluruh peserta yang berada di yayasan. Suasana yang penuh canda dan tawa membuat kami semakin akrab, meskipun baru saling mengenal beberapa jam sebelumnya.

Karena perjalanan yang cukup melelahkan, kami kemudian diberi waktu untuk beristirahat. Kesempatan itu saya manfaatkan untuk memulihkan tenaga sekaligus mempersiapkan diri menghadapi aktivitas selama satu bulan ke depan. Dalam benak saya mulai muncul berbagai pertanyaan tentang seperti apa sekolah tempat saya mengabdi, bagaimana karakter para siswa, dan pengalaman apa saja yang akan saya temui nantinya.

Menjelang sore, pihak sekolah tempat saya ditugaskan datang menjemput saya di Al-Hidayah Wakaf Foundation. Saat berpamitan dengan teman-teman yang akan ditempatkan di sekolah lain, saya menyadari bahwa perjalanan kami akan dimulai dari tempat yang berbeda. Dengan penuh semangat sekaligus rasa penasaran, saya berangkat menuju sekolah yang akan menjadi rumah kedua saya selama kurang lebih satu bulan menjalani KPM Internasional di Thailand Selatan.

Menjelang waktu Magrib, saya dan teman-teman akhirnya tiba di Muslimeen Suksa School, tempat kami akan melaksanakan pengabdian selama kurang lebih 1 bulan. Setibanya di sana, kami disambut oleh Umi yang bertanggung jawab mendampingi kami selama berada di sekolah tersebut. Beliau kemudian mengantarkan kami ke asrama putri yang akan menjadi tempat tinggal kami selama program berlangsung.

Sesampainya di asrama, kami disambut dengan suasana hangat dan penuh perhatian. Berbagai kebutuhan telah dipersiapkan, mulai dari tempat tidur, perlengkapan tidur, hingga bahan makanan. Sambutan tersebut membuat saya merasa nyaman dan perlahan menghilangkan rasa lelah setelah menempuh perjalanan panjang. Malam itu kami memilih beristirahat agar dapat memulai aktivitas dengan kondisi yang lebih segar keesokan harinya.

Menemukan Keluarga Baru di Muslimeen Suksa School

Pagi pertama di Muslimeen Suksa School menjadi awal perjalanan pengabdian saya di Thailand Selatan. Kegiatan diawali dengan briefing bersama para guru dan seluruh siswa di halaman sekolah. Setelah itu, kami turut menyambut kedatangan para siswa di gerbang sekolah. Momen tersebut menjadi kesempatan pertama bagi saya untuk merasakan kedisiplinan dan keramahan warga sekolah yang menyambut setiap pagi dengan semangat.

Selanjutnya, kami diperkenalkan secara resmi kepada seluruh guru dan siswa di ruang utama sekolah. Sambutan yang hangat membuat saya merasa diterima sebagai bagian dari keluarga besar Muslim Suksa School. Setelah sesi perkenalan selesai, kami diarahkan ke ruang kepala sekolah untuk menerima jadwal mengajar selama kurang lebih satu bulan. Saya dijadwalkan mengajar setiap hari Senin hingga Jumat. Saat menerima jadwal tersebut, saya merasa antusias sekaligus tertantang untuk menjalankan amanah sebagai peserta KPM Internasional dengan sebaik-baiknya.

Sebelum memulai kegiatan belajar-mengajar, pihak sekolah mengajak kami berkeliling untuk mengenal lingkungan sekolah. Kami diperlihatkan ruang-ruang kelas, mulai dari jenjang sekolah dasar hingga tingkat sekolah menengah atas. Kegiatan ini membantu saya memahami lingkungan tempat saya akan mengabdi sekaligus mengenal kondisi sekolah yang akan menjadi bagian dari keseharian saya selama satu bulan ke depan.

Hari itu kami diberi waktu untuk beristirahat dan mempersiapkan diri sebelum memasuki hari pertama mengajar. Keesokan harinya, saya mulai menjalankan tugas sebagai pendidik. Sejak pagi hingga menjelang siang, hari-hari saya diisi dengan kegiatan mengajar, berinteraksi dengan para siswa, serta berdiskusi dengan guru-guru di sekolah. Rutinitas tersebut perlahan menjadi bagian dari kehidupan saya selama mengikuti KPM Internasional. Meskipun terlihat sederhana, setiap hari selalu menghadirkan pengalaman baru, baik saat menyampaikan materi di kelas maupun ketika belajar memahami karakter dan semangat belajar para siswa.

Memasuki hari pertama mengajar, saya mulai menjalankan tugas sebagai guru di Muslimeen Suksa School. Bersama teman-teman, saya dipercaya mengajar bahasa Inggris dan bahasa Indonesia untuk siswa mulai dari kelas 1 sekolah dasar hingga kelas 3 aliyah. Mengajar siswa dengan rentang usia yang beragam tentu menjadi pengalaman baru bagi saya. Setiap jenjang memiliki karakter dan cara belajar yang berbeda, sehingga saya harus menyesuaikan metode pembelajaran agar materi dapat dipahami dengan baik.

Selama mengajar, saya mengenal karakter siswa-siswi Muslimeen Suksa School yang ramah, sopan, dan penuh semangat belajar. Mereka selalu menyapa guru dengan hormat dan antusias mengikuti kegiatan di kelas. Namun, siswa-siswi sekolah dasar memiliki energi yang luar biasa. Mereka sangat aktif, sering kali membuat suasana kelas menjadi lebih ramai. Meski begitu, tingkah laku mereka justru menghadirkan keceriaan tersendiri dan menjadi pengalaman yang menyenangkan selama proses belajar-mengajar.

Tantangan terbesar yang saya hadapi selama mengajar bukanlah menyampaikan materi, melainkan perbedaan bahasa. Sebagian besar siswa lebih fasih menggunakan bahasa Thailand dibandingkan dengan bahasa Inggris maupun bahasa Indonesia. Kondisi tersebut membuat proses komunikasi tidak selalu berjalan lancar. Ada kalanya saya harus mengulang penjelasan beberapa kali agar mereka memahami maksud yang ingin saya sampaikan.

Di balik tantangan tersebut, justru banyak momen yang mengundang tawa. Ketika saya kesulitan mengucapkan atau memahami bahasa Thailand, para siswa dengan polos berusaha mengajarkan cara pengucapan yang benar. Sebaliknya, saat mereka belum memahami penjelasan saya dalam bahasa Inggris maupun bahasa Indonesia, kami sering berkomunikasi menggunakan gerakan tangan, ekspresi wajah, atau penunjukan gambar di papan tulis. Meskipun komunikasi kami terbatas, semangat untuk saling memahami tidak pernah hilang. Dari situ saya belajar bahwa bahasa bukanlah satu-satunya alat untuk membangun kedekatan. Kesabaran, senyuman, dan kemauan untuk saling belajar justru menjadi jembatan yang mempererat hubungan antara saya dan para siswa.

See also  Lae Tekhep Aceh Singkil: Little Amazon Indonesia, Rumah Terakhir Orangutan Sumatra dan Hutan Gambut Leuser

Pengalaman mengajar di Muslimeen Suksa School mengajarkan saya bahwa menjadi seorang pendidik bukan hanya tentang menyampaikan ilmu, tetapi juga tentang belajar memahami karakter setiap anak, menghargai perbedaan, serta menemukan cara agar proses belajar tetap berlangsung dengan menyenangkan meskipun dibatasi oleh perbedaan bahasa dan budaya.

Setelah kurang lebih satu hingga dua minggu menjalani rutinitas mengajar, pihak Muslimeen Suksa School mengajak kami mengikuti kegiatan di luar sekolah bersama kepala sekolah dan para guru. Kesempatan tersebut menjadi pengalaman yang sangat berkesan karena kami diajak untuk mengenal lebih dekat sejarah dan budaya Thailand Selatan, khususnya di Provinsi Songkhla.

Perjalanan diawali dengan mengunjungi Kota Tua Songkhla yang masih mempertahankan bangunan-bangunan berarsitektur klasik dengan nuansa Tionghoa dan Melayu. Di setiap sudut jalan, para guru menjelaskan sejarah kawasan tersebut sehingga kami tidak hanya menikmati keindahan kotanya, tetapi juga memahami nilai sejarah yang tersimpan di dalamnya. Perjalanan kemudian dilanjutkan ke Masjid Songkhla, salah satu masjid tua yang menjadi saksi bisu perkembangan Islam di wilayah Thailand Selatan. Suasana masjid yang tenang dan penuh kekhusyukan memberikan pengalaman spiritual yang berbeda bagi saya.

Setelah itu, kami mengunjungi Samila Beach, salah satu destinasi wisata yang menjadi ikon Kota Songkhla. Hamparan pasir putih, deburan ombak, serta angin pantai yang sejuk membuat rasa lelah selama mengajar seakan hilang. Kebersamaan dengan para guru di tempat tersebut juga semakin mempererat hubungan kami. Saya merasakan bahwa mereka tidak hanya menerima kami sebagai mahasiswa KPM, tetapi juga memperlakukan kami layaknya keluarga sendiri.

Perjalanan hari itu kemudian dilanjutkan ke The Central Mosque of Songkhla, salah satu masjid terbesar dan paling ikonik di Songkhla. Di tempat ini, kami bersama para guru menunaikan salat Maghrib berjamaah dalam suasana yang tenang, khusyuk, dan penuh rasa syukur. Selain beribadah, kami juga sempat menikmati keindahan arsitektur masjid yang megah serta suasana religius yang sangat berkesan bagi saya.

Setelah itu, perjalanan kami dilanjutkan ke Khlong Hae Floating Market. Pasar terapung yang dipenuhi perahu-perahu penjual makanan khas Thailand menghadirkan pengalaman yang belum pernah saya rasakan sebelumnya. Beragam kuliner halal dengan cita rasa khas Thailand menjadi daya tarik tersendiri. Sambil menikmati makanan dan suasana pasar yang ramai, kami saling berbincang dan berbagi cerita dengan para guru maupun sesama peserta KPM.

Di sela-sela kesibukan mengajar, saya dan teman-teman juga memanfaatkan waktu luang untuk mengenal lebih dekat Kota Hatyai dan sekitarnya. Perjalanan tersebut bukan sekadar mengunjungi tempat-tempat wisata, tetapi juga menjadi kesempatan untuk melihat langsung kehidupan masyarakat Thailand Selatan serta menikmati keindahan alam dan budayanya.

Salah satu destinasi yang paling berkesan ialah Chang Puak Elephant Camp. Di tempat ini, saya dapat melihat gajah-gajah berukuran sangat besar dari dekat. Selain gajah, kawasan tersebut juga memiliki berbagai jenis satwa lain, sehingga suasananya menyerupai kebun binatang terbuka. Bagi saya, pengalaman ini menjadi sesuatu yang baru karena sebelumnya saya hanya melihat gajah di televisi atau di media sosial. Melihat langsung satwa-satwa tersebut membuat saya semakin kagum akan kekayaan alam yang dimiliki Thailand.

Kami juga mengunjungi Sleeping Buddha, salah satu tempat yang cukup terkenal di Hatyai. Patung Buddha berukuran raksasa yang terbaring megah menjadi daya tarik utama di kawasan tersebut. Meskipun keyakinan kami berbeda, saya memandang kunjungan ini sebagai kesempatan untuk mengenal sejarah dan keberagaman budaya yang ada di Thailand Selatan. Pengalaman tersebut semakin memperluas wawasan saya tentang pentingnya saling menghormati perbedaan.

Ketika sore hingga malam tiba, kami sering menghabiskan waktu di beberapa pusat kuliner dan perbelanjaan, seperti Greenway Night Market, ASEAN Night Bazaar dan Lee Garden. Ketiga tempat tersebut dipenuhi berbagai pilihan makanan, minuman, pakaian, hingga cendera mata khas Thailand. Sebagai seorang Muslim, saya tentu harus lebih teliti dalam memilih makanan yang halal. Meskipun demikian, masih banyak pilihan kuliner halal yang dapat kami nikmati. Suasana pasar yang ramai dengan lampu-lampu warna-warni serta alunan musik khas membuat pengalaman berkunjung ke sana terasa sangat menyenangkan.

 

Kami juga menyempatkan diri mengunjungi Central Hatyai, salah satu pusat perbelanjaan terbesar yang pernah saya kunjungi. Bangunannya sangat megah dengan banyak lantai yang dipenuhi berbagai toko, restoran, dan pusat hiburan. Berjalan mengelilingi pusat perbelanjaan tersebut memberikan pengalaman yang berbeda dibandingkan dengan pusat perbelanjaan yang biasa saya kunjungi di Aceh. Hampir semua kebutuhan tersedia di sana, mulai dari produk lokal hingga berbagai merek internasional.

Destinasi lain yang tidak kalah menarik adalah Pasar Yanyong, salah satu pasar tradisional yang terkenal di Hatyai. Di pasar ini dijual berbagai jenis pakaian, makanan, camilan khas Thailand, hingga aneka oleh-oleh dengan harga yang cukup terjangkau. Suasana pasar yang ramai membuat saya dapat melihat secara langsung aktivitas masyarakat setempat sekaligus merasakan pengalaman berbelanja seperti di negara lain.

Perjalanan kami ditutup dengan mengunjungi Phra Buddha Mongkol Maharaj, sebuah patung Buddha yang berdiri megah di Bukit Hatyai. Dari kawasan ini, saya dapat menikmati panorama Kota Hatyai dari ketinggian. Kebetulan kami tiba menjelang matahari terbenam, sehingga langit yang perlahan berubah menjadi jingga menghadirkan pemandangan yang begitu indah. Momen tersebut menjadi salah satu kenangan yang paling saya sukai selama berada di Thailand Selatan.

See also  Pustaka Al-Azhar: Preserving Patani’s Islamic Intellectual Heritage Through Jawi Manuscripts and Traditional Knowledge

Bagi saya, setiap perjalanan selama mengikuti KPM Internasional bukan hanya menjadi kesempatan untuk menikmati keindahan berbagai destinasi wisata, tetapi juga menjadi sarana untuk mengenal sejarah, budaya, dan kehidupan masyarakat Thailand Selatan dengan lebih dekat. Pengalaman-pengalaman sederhana itu membuat saya semakin menyadari bahwa belajar tidak hanya berlangsung di dalam kelas, tetapi juga melalui setiap tempat yang kita kunjungi dan setiap orang yang kita temui.

Seiring berjalannya waktu, tanpa terasa Hari Raya Idul Adha pun tiba. Perayaan Idul Adha di Thailand memberikan pengalaman yang berbeda dibandingkan dengan yang biasa saya rasakan di Aceh. Salah satu hal yang paling membuat saya terkejut adalah suasana menjelang hari raya yang terasa begitu tenang. Tidak terdengar gema takbir yang berkumandang dari masjid-masjid seperti di Indonesia. Jalanan dan lingkungan sekitar tetap berjalan seperti hari-hari biasa sehingga pada awalnya saya tidak merasakan suasana khas Iduladha sebagaimana yang selalu saya rindukan di kampung halaman.

Perbedaan lainnya adalah penetapan hari raya. Saat masyarakat Indonesia telah lebih dahulu merayakan Idul adha, umat Islam di Thailand baru melaksanakannya pada keesokan harinya. Meskipun terdapat perbedaan waktu pelaksanaan, kekhusyukan ibadah tetap terasa. Saya bersama teman-teman melaksanakan salat Idul adha di Al-Hidayah Waqaf Foundation bersama Abi, Umi, serta masyarakat sekitar. Khutbah disampaikan dalam bahasa Thailand dan kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu sehingga kami tetap dapat memahami pesan yang disampaikan.

Setelah salat Idul adha, kami saling bersalaman, mengabadikan momen bersama, dan mengucapkan selamat hari raya. Keesokan harinya, kami diundang ke tempat pengajian yang dikelola oleh Abi dan Umi untuk menikmati hidangan daging kurban yang diolah dengan cita rasa khas Thailand. Sore harinya, kami bersama-sama mengolah daging kurban menjadi sate dan menikmatinya dalam suasana penuh kebersamaan. Meskipun jauh dari keluarga, kehangatan yang diberikan oleh Abi, Umi, dan masyarakat sekitar membuat saya tetap merasakan makna Idul adha sebagai hari yang penuh kebersamaan dan rasa syukur.

Selamat Tinggal yang Tak Pernah Benar-Benar Berpisah

Tanpa terasa, satu bulan masa pengabdian di Muslimeen Suksa School telah berakhir. Hari yang sejak awal tidak pernah saya bayangkan akhirnya tiba, yaitu hari perpisahan. Di balik rasa syukur karena telah menyelesaikan tugas sebagai peserta KPM Internasional, terselip rasa sedih karena harus meninggalkan tempat yang selama satu bulan terakhir telah menjadi rumah kedua bagi saya.

Acara perpisahan dilaksanakan di ruang utama sekolah, tempat yang sama ketika kami pertama kali diperkenalkan kepada seluruh guru dan siswa. Saat itu, suasana yang biasanya dipenuhi tawa dan semangat belajar berubah menjadi penuh haru. Kepala sekolah bersama para guru menyampaikan ucapan terima kasih atas kebersamaan yang telah terjalin selama kami melaksanakan pengabdian di Muslimeen Suksa School.

Salah satu pesan yang paling membekas dalam ingatan saya datang dari kepala sekolah. Beliau menyampaikan bahwa perpisahan ini bukanlah akhir dari hubungan yang telah terjalin. Beliau berharap kami terus menjaga silaturahmi dan tidak melupakan keluarga besar Muslimeen Suksa School. Beliau juga memberikan motivasi agar kami terus belajar dan menuntut ilmu setinggi mungkin, dengan harapan suatu hari nanti kami dapat kembali berkunjung ke Thailand Selatan. Pesan sederhana itu begitu menyentuh hati saya dan menjadi pengingat bahwa persaudaraan tidak dibatasi oleh jarak maupun perbedaan negara.

Setelah penyampaian sambutan, pihak sekolah menyerahkan sertifikat sebagai bentuk apresiasi atas pengabdian yang telah kami laksanakan. Momen tersebut kemudian diabadikan dalam sebuah foto bersama kepala sekolah, para guru, dan seluruh peserta KPM Internasional. Senyum yang terlihat dalam setiap foto bukan hanya menggambarkan kebahagiaan, tetapi juga menjadi kenangan yang akan selalu saya simpan.

Kami juga diberi kesempatan untuk menyampaikan kesan dan pesan di hadapan seluruh warga sekolah. Dengan penuh rasa syukur, saya mengucapkan terima kasih atas segala kebaikan, perhatian, dan kasih sayang yang telah diberikan selama saya berada di Muslimeen Suksa School. Saya berharap tali persaudaraan yang telah terjalin dapat terus terjaga meskipun kami telah kembali ke Indonesia.

Menjelang akhir acara, kami berpamitan kepada seluruh guru dan siswa. Satu per satu kami berjabat tangan, saling mengucapkan doa, dan mengabadikan momen bersama. Saat itulah saya menyadari bahwa perpisahan memang menjadi bagian dari setiap pertemuan. Namun, kenangan, pelajaran, dan persaudaraan yang terjalin selama satu bulan di Muslimeen Suksa School akan selalu menjadi bagian dari perjalanan hidup saya. Bagi saya, KPM Internasional Thailand 2026 bukan sekadar program pengabdian masyarakat. Program ini telah menghadirkan keluarga baru, pengalaman baru, dan pelajaran hidup yang tidak akan pernah saya lupakan. Saya percaya bahwa meskipun langkah kami telah kembali ke tanah air, hati kami akan selalu memiliki tempat untuk Muslimeen Suksa School dan seluruh orang baik yang pernah menjadi bagian dari perjalanan ini.

About The Author


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *