Ketika kebahagiaan dijadikan proyek negara, kebebasan bisa lenyap tanpa suara.
Esai ini menelaah bab Helvétius dalam Freedom and Its Betrayal karya Isaiah Berlin. Berlin menunjukkan bahwa Claude-Adrien Helvétius, pemikir Prancis abad ke-18 yang dengan tulus berambisi membangun ilmu pengetahuan tentang manusia dan masyarakat, pada akhirnya membangun fondasi bagi sebuah bentuk tirani baru yang jauh lebih halus dan lebih berbahaya daripada tirani lama. Esai ini mengikuti Berlin lapis demi lapis: dari biografi Helvétius, prinsip utilitarianisme yang ia rumuskan, implikasinya terhadap pendidikan dan hukum, kekerasan konseptualnya terhadap kebebasan, warisannya kepada Bentham, hingga diagnosis Berlin tentang mengapa sistem yang dibangun dengan niat terbaik bisa berakhir sebagai justifikasi bagi perbudakan rasional.
Helvétius: Pemikir yang Ingin Menjadi Newton Politik
Claude-Adrien Helvétius lahir pada tahun 1715 dari keluarga yang memiliki akses istimewa ke kekuasaan. Nama keluarganya sesungguhnya adalah Schweitzer, dan Helvétius tidak lebih dari versi Latin dari nama itu. Ayahnya adalah dokter pribadi Ratu Prancis, posisi yang membuka pintu bagi anak yang cerdas dan kaya ke lingkaran terbaik intelektual Prancis. Melalui koneksi itu, Helvétius muda bergaul dengan Voltaire, Montesquieu, dan Fontenelle, tiga nama besar dalam sejarah pemikiran Pencerahan Prancis. Ia bukan pendatang yang harus berjuang dari pinggiran; ia adalah orang dalam yang dengan sengaja memilih untuk mempersoalkan tatanan yang membesarkannya.
Secara profesi, Helvétius adalah pemungut pajak, atau dalam istilah zaman itu, tax farmer. Artinya ia memainkan peran penting dalam administrasi keuangan Prancis dan mengambil keuntungan besar darinya. Kenyataan ini penting karena sering diabaikan dalam pembacaan yang terlalu idealis terhadap para filsuf Pencerahan. Helvétius adalah orang yang tahu dari dalam bagaimana mesin kekuasaan dan uang bekerja. Ia bukan pertapa yang merenungkan masyarakat dari jauh. Ia adalah pelaku langsung dalam sistem yang kemudian ia kritik dan ingin ia ubah secara radikal. Kontradiksi antara posisi sosialnya dan ambisi intelektualnya tidak perlu dipahami sebagai kemunafikan, melainkan sebagai kondisi yang lazim bagi pemikir besar yang lahir di tengah tatanan yang sedang retak.
Karya utama Helvétius adalah De l’esprit yang diterbitkan pada 1758. Judul ini dalam bahasa Indonesia dapat diterjemahkan sebagai “Tentang Pikiran” atau “Tentang Jiwa.” Begitu buku ini terbit, ia langsung menjadi sasaran kecaman keras dari dua pihak sekaligus: Gereja dan Negara. Keduanya menganggap isinya terlalu ateistis dan terlalu berbahaya untuk dibiarkan beredar. Buku itu dibakar oleh algojo publik, sebuah hukuman simbolis yang dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa ide-ide di dalamnya tidak layak ada. Helvétius terpaksa membuat tiga kali pernyataan penarikan kembali atas buku tersebut, di bawah tekanan keluarganya yang ketakutan dengan konsekuensi sosial dari tindakannya.
Namun, seperti yang dicatat Isaiah Berlin dengan cermat, sangat jelas bahwa penarikan-penarikan itu tidak mengubah pandangan Helvétius sedikit pun. Ia melakukan pernyataan resmi itu demi ketenangan istrinya dan mertuanya yang terguncang oleh skandal tersebut, bukan karena ia sungguh-sungguh menarik kembali keyakinan intelektualnya. Ketika buku keduanya, De l’homme atau “Tentang Manusia,” diterbitkan secara anumerta pada 1773 setelah kematiannya, isinya ternyata mengandung ajaran-ajaran yang hampir identik dengan yang ada dalam De l’esprit. Ini adalah pernyataan keras melalui cara yang paling sabar: ia menunggu kematiannya untuk berbicara terang-terangan.
Dalam perjalanan hidupnya, Helvétius dikenal dan dihormati di luar Prancis. Ia disambut oleh George II di Inggris dan oleh Frederick the Great di Prusia, dua penguasa yang sedang terpikat oleh gagasan tentang pemerintahan yang diterangi oleh filsafat. Helvétius adalah bagian dari gelombang besar pemikiran Pencerahan yang ingin mengubah cara manusia memahami dirinya sendiri dan mengorganisir kehidupan bersamanya. Ia bukan pemikir pinggiran yang diabaikan. Ia adalah salah satu pemimpin intelektual zamannya, dengan pengaruh yang terasa jauh melampaui masa hidupnya.
Ambisi intelektual Helvétius yang paling menentukan adalah keinginannya untuk menemukan satu prinsip tunggal yang dapat menjadi landasan seluruh moralitas dan menjawab seluruh pertanyaan tentang bagaimana masyarakat harus dibangun. Ini bukan sekadar ambisi akademik. Ini adalah ambisi yang lahir dari keyakinan bahwa kekacauan moral dan politik yang ia saksikan di sekitarnya memiliki sumber yang dapat diidentifikasi dan penyakit yang dapat disembuhkan. Ia menyaksikan kemiskinan, ketidakadilan, tirani raja dan pendeta, dan ia ingin mengakhirinya secara sistematis. Masalahnya bukan niat; masalahnya adalah cara ia menempuh niat itu, yang dalam pembacaan Berlin membawa konsekuensi yang sama sekali tidak ia kehendaki.
Helvétius mengidolakan Newton. Bukan sebagai fisikawan semata, melainkan sebagai simbol dari apa yang bisa dicapai oleh pikiran manusia ketika ia menemukan prinsip fundamental yang menjelaskan segalanya. Seperti Newton menemukan hukum gravitasi yang mengatur seluruh gerak benda fisik, Helvétius ingin menemukan hukum yang setara untuk mengatur seluruh gerak manusia dalam masyarakat. Berlin merumuskan ini dengan tepat: Helvétius berpikir bahwa ia telah menemukannya, dan karena itu ia menganggap dirinya sebagai Newton di bidang politik. Keyakinan itu adalah titik berangkat dari seluruh bangunan pemikirannya, dan juga akar dari seluruh bahayanya.
Prinsip Utilitarianisme: Nikmat dan Derita sebagai Kunci Manusia
Prinsip yang Helvétius klaim sebagai penemuan besarnya sederhana secara permukaan, tetapi implikasinya sangat jauh: satu-satunya hal yang diinginkan manusia adalah nikmat (pleasure), dan satu-satunya hal yang ingin manusia hindari adalah derita (pain). Tidak ada motivasi lain yang sungguh-sungguh ada di balik tindakan manusia. Cinta, loyalitas, iman, kehormatan, kesetiaan kepada nilai-nilai tertentu, semua itu, dalam pandangan Helvétius, dapat direduksi kembali ke dalam permainan nikmat dan derita. Sesuatu dicintai karena ia memberikan nikmat. Sesuatu ditakuti karena ia mengancam mendatangkan derita. Moralitas, pada akhirnya, adalah ilmu tentang bagaimana memaksimalkan yang pertama dan meminimalkan yang kedua.
Untuk memahami betapa radikalnya posisi ini dalam konteks abad ke-18, kita perlu melihat ke mana ia berlawanan. Tradisi moral Barat sebelum Helvétius, baik yang berbasis agama maupun yang berbasis filsafat Yunani, beranggapan bahwa ada nilai-nilai yang memiliki bobot tersendiri di luar kalkulasi nikmat dan derita. Aristoteles berbicara tentang eudaimonia, kebahagiaan yang dicapai melalui kebajikan, bukan sekadar akumulasi kenikmatan. Tradisi Kristen berbicara tentang jiwa yang abadi, tentang kewajiban kepada Tuhan, tentang pengorbanan yang nilainya tidak diukur oleh kesenangan yang dibawanya di dunia. Helvétius menyapu seluruh bangunan itu dengan satu gerakan. Tidak ada nilai yang lebih tinggi dari nikmat; tidak ada kewajiban yang tidak dapat dikembalikan ke dalam kalkulasi kepentingan pribadi.
Dalam sebuah dialog yang ia tulis dalam bingkai perumpamaan antara Tuhan dan manusia, Helvétius membuat Tuhan berkata kepada manusia dengan nada yang terdengar seperti instruksi teknis: Aku memberimu sensibilitas. Hanya melalui sensibilitas itulah, tanpa kamu menyadari tujuanku, kamu akan memenuhi rencanaku. Atas dirimu aku tempatkan nikmat dan derita; keduanya akan mengawasi pikiran dan tindakanmu, menyalakan hasrat-hasratmu, membentuk persahabatan dan aversemu, dan pada akhirnya akan mengungkapkan kepadamu prinsip-prinsip sederhana yang menopang tatanan dunia moral. Berlin membaca kutipan ini sebagai rumusan pertama yang jelas dari prinsip utilitarianisme: manusia adalah makhluk yang digerakkan sepenuhnya oleh dua kekuatan ini, dan karena itu ilmu tentang manusia adalah ilmu tentang bagaimana kedua kekuatan ini bekerja.
Inilah yang disebut Berlin sebagai pertanyaan yang sangat tepat: apakah ini bukan rumusan pertama yang jernih dari utilitarianisme? Utilitarianisme adalah doktrin bahwa tindakan yang benar secara moral adalah tindakan yang menghasilkan kebahagiaan terbesar bagi jumlah orang terbesar. Helvétius tidak menggunakan istilah ini, yang kemudian dipopulerkan oleh Jeremy Bentham dan John Stuart Mill, tetapi ia merumuskan prinsipnya jauh sebelum mereka. Apa yang ia buat adalah fondasi epistemologis dari seluruh bangunan utilitarianisme: klaim bahwa nikmat dan derita adalah satu-satunya motif yang sesungguhnya menggerakkan manusia, bukan sekadar salah satu di antara banyak motif.
Prinsip ini, bagi Helvétius, bukan sekadar deskripsi tentang bagaimana manusia berperilaku. Ia adalah preskripsi tentang bagaimana masyarakat harus diorganisir. Bila manusia memang hanya bisa digerakkan oleh nikmat dan derita, maka mencoba menggerakkan mereka dengan cara lain, melalui khotbah moral, melalui seruan kepada kewajiban, melalui ancaman hukuman ilahi yang tidak langsung terasa, adalah sia-sia. Reformasi masyarakat harus memanfaatkan kekuatan yang sesungguhnya ada: nikmat dan derita yang konkret, langsung, dan dapat dirasakan. Ini bukan sinisme; ini, dalam pandangan Helvétius, adalah realisme yang bermisi mulia.
Bila manusia dikondisikan oleh dua kekuatan ini, maka mereka akan bahagia jika dibiarkan mengejar nikmat secara lancar, efisien, dan abadi. Pertanyaan yang muncul kemudian, yang Berlin kutip langsung dari Helvétius, adalah: mengapa manusia tidak bahagia? Mengapa ada begitu banyak kesengsaraan, ketidakadilan, inkompetensi, brutalitas, dan tirani di muka bumi? Jawabannya bagi Helvétius sangat jelas: karena manusia belum mengetahui cara mendapatkan nikmat dan menghindari derita dengan tepat. Mereka bodoh dan ketakutan karena para penguasa mereka, raja-raja dan pendeta-pendeta, secara sengaja memelihara kebodohan dan ketakutan itu agar kekuasaan mereka yang tidak sah dapat terus bertahan.
Berlin mencatat di sini sebuah pola pikir yang akan menjadi sangat berpengaruh dalam sejarah modern: tesis konspirasi penguasa sebagai penjelasan atas penderitaan manusia. Sejak awal peradaban manusia, ada konspirasi yang terorganisir oleh segelintir orang melawan orang banyak. Penguasa berkepentingan memelihara rakyatnya dalam kegelapan karena jika rakyat menjadi cerdas, mereka akan melihat dengan jelas betapa tidak adil dan tidak rasionalnya sistem yang menindas mereka. Solusinya bagi Helvétius adalah menyalakan cahaya pengetahuan, membongkar konspirasi itu, dan membangun tatanan sosial baru yang benar-benar memungkinkan manusia mengejar nikmat mereka tanpa hambatan yang diciptakan oleh penguasa-penguasa yang tidak sah.
Geometri Etika: Ketika Ilmu Alam Menjadi Model Moral
Salah satu keyakinan paling menentukan dari generasi filsuf Pencerahan abad ke-18 adalah bahwa metode ilmu alam dapat dan harus diterapkan ke seluruh domain pengetahuan, termasuk pengetahuan tentang manusia dan masyarakat. Newton telah membuktikan bahwa gerak benda fisik, sekacau apapun penampilannya, tunduk kepada hukum-hukum sederhana yang dapat dirumuskan secara matematis. Kenapa hal yang sama tidak bisa berlaku untuk gerak manusia dalam masyarakat? Kenapa moralitas tidak bisa memiliki presisi yang sama dengan fisika? Kenapa politik tidak bisa menjadi ilmu pasti seperti geometri? Inilah pertanyaan yang menghantui generasi Helvétius, dan ia tidak sekadar mengajukannya, ia mengklaim telah menjawabnya.
Filsuf lain yang dikutip Berlin dalam konteks ini adalah Holbach, salah satu kontributor Encyclopédie, ensiklopedi besar yang menjadi monumen intelektual Pencerahan Prancis. Holbach mendefinisikan moralitas sebagai ilmu tentang hubungan yang ada antara pikiran, kehendak, dan tindakan manusia, dengan cara yang sama seperti geometri adalah ilmu tentang hubungan yang ada antara benda-benda. Ini adalah program yang sangat ambisius: moral bukan sekadar urusan keyakinan atau tradisi, melainkan sebuah ilmu dengan objek yang dapat diamati, hukum yang dapat ditemukan, dan kepastian yang dapat diverifikasi.
Condorcet, yang dikutip panjang oleh Berlin, merumuskan program ini bahkan lebih tegas. Condorcet adalah ensiklopedis radikal berhaluan kiri yang jauh lebih muda dari Helvétius, dan ia meninggal dalam penjara milik Robespierre selama fase paling brutal Revolusi Prancis, sebuah ironi yang tidak ringan bagi seseorang yang begitu percaya bahwa kemajuan manusia dapat dicapai melalui penerapan akal secara konsisten. Dalam salah satu tulisannya yang dikutip Berlin, Condorcet berargumen bahwa ketika seseorang merenungkan ilmu-ilmu moral, ia tidak bisa menghindari kesimpulan bahwa karena ilmu-ilmu moral, seperti ilmu-ilmu fisik, bertumpu pada pengamatan fakta, maka keduanya harus mengikuti metode yang sama, memperoleh bahasa yang sama pastinya, dan mencapai derajat kepastian yang sama.
Proposisi ini terdengar masuk akal, bahkan menarik, jika tidak diperhatikan apa yang tersembunyi di balik persamaan yang dibuat. Ilmu fisika berurusan dengan benda-benda yang tidak memiliki kehendak, yang tidak dapat memilih untuk berperilaku berbeda dari hukum yang mengaturnya. Sebuah batu jatuh karena gravitasi; ia tidak punya pilihan lain. Ilmu moral, sebaliknya, berurusan dengan manusia yang memiliki kemampuan untuk memilih, untuk memberontak, untuk bertindak berdasarkan nilai-nilai yang tidak dapat diukur dalam satuan nikmat dan derita. Ketika Helvétius dan Condorcet menyamakan keduanya, mereka tidak hanya membuat klaim metodologis; mereka membuat klaim ontologis tentang sifat manusia bahwa manusia pada dasarnya tidak berbeda dari benda-benda fisik yang tunduk kepada hukum alam.
Dari sini lahir apa yang bisa disebut sebagai “geometri etika” dalam arti yang paling harfiah. Jika etika memiliki hukum yang pasti, maka ada yang bisa menjadi “ahli” dalam etika itu, seperti ada ahli fisika yang memahami hukum gravitasi. Jika ada ahli etika, maka mereka berhak membuat keputusan atas nama masyarakat, karena pengetahuan mereka tentang hukum moral jauh lebih andal dari pengetahuan orang awam. Ini adalah langkah logis yang tampak sangat wajar dari premis-premis yang telah ditetapkan sebelumnya, dan Berlin melihat langkah ini sebagai awal dari sebuah kesimpulan yang sangat berbahaya.
Untuk memberikan gambaran seberapa jauh program ini diambil oleh generasi Helvétius, perlu diperhatikan pertanyaan yang diajukan Holbach kepada para pembaca ensiklopedia: apa geometri dari etika? Apa geometri dari politik? Bagaimana kita mereduksi ilmu-ilmu ini ke derajat kepastian dan kejelasan yang sama dengan fisika dan geometri? Pertanyaan-pertanyaan ini bukan retorika; mereka adalah agenda penelitian yang sungguh-sungguh. Para filsuf pencerahan percaya bahwa jawabannya ada dan dapat ditemukan. Mereka berbeda pendapat tentang cara menemukannya, tetapi mereka sepakat bahwa pencarian itu adalah pencarian yang sah, ilmiah, dan pada akhirnya akan membawa manfaat bagi seluruh umat manusia.
Berlin mencatat bahwa Helvétius berpikir ia telah menemukan jawaban itu. Prinsip nikmat dan derita adalah “geometri” yang mereka cari. Dengan prinsip itu, semua pertanyaan moral dan politik dapat dijawab: apakah tindakan ini meningkatkan kebahagiaan total atau menguranginya? Jika meningkatkan, ia baik; jika mengurangi, ia buruk. Sederhana, terukur, dan berlaku universal. Masalahnya, seperti yang akan Berlin tunjukkan, adalah bahwa “kesederhanaan” ini dicapai dengan mengeksklusi dari kalkulasi segala sesuatu yang membuat manusia menjadi manusia, yaitu kemampuan untuk memiliki nilai-nilai yang tidak dapat diukur, untuk membuat pilihan yang tidak selalu mengikuti logika kalkulasi, dan untuk menghargai hal-hal tertentu bukan karena manfaatnya tetapi karena nilainya sendiri.
Manipulasi Artifisial: Negara sebagai Mesin Pembentuk Manusia
Jika manusia pada dasarnya tidak jahat dan tidak baik, melainkan sekadar bahan mentah yang tak terbatas fleksibilitasnya, dan jika penderitaan mereka disebabkan bukan oleh sifat mereka sendiri melainkan oleh pendidikan yang buruk dan institusi yang korup, maka solusinya jelas: ubah pendidikan dan ubah institusi. Ini adalah argumen yang pada permukaannya terdengar sangat optimistis tentang manusia. Helvétius tidak pesimis tentang manusia; ia percaya bahwa manusia dapat menjadi jauh lebih baik dari yang ada sekarang. Masalahnya terletak pada cara ia mendefinisikan “lebih baik” dan pada mekanisme yang ia usulkan untuk mencapainya.
Berlin menangkap proposisi kunci Helvétius dengan ketepatan yang mengungkap: kemajuan tidak terjadi secara otomatis. Helvétius tidak percaya pada progres otomatis. Ia tidak percaya bahwa manusia secara alami bergerak menuju kebaikan dan kemakmuran jika dibiarkan berkembang sendiri. Yang ia yakini adalah bahwa kemajuan memungkinkan jika ada cukup banyak manusia yang tercerahkan, dengan kemauan yang teguh dan semangat yang tidak mementingkan diri, yang menetapkan diri mereka untuk memajukan umat manusia dan yang berhasil mengubah para penguasa agar mau menerapkan prinsip-prinsip yang benar. Kemajuan adalah hasil intervensi sadar dari segelintir orang yang tahu, bukan proses organik dari kehidupan masyarakat itu sendiri.
Di sinilah konsep yang Berlin sebut sebagai “manipulasi artifisial” menjadi sentral. Kata “manipulasi” di sini tidak berarti penipuan atau kelicikan. Yang dimaksud adalah intervensi aktif dan disengaja oleh mereka yang memahami prinsip-prinsip nikmat dan derita untuk membentuk ulang lingkungan manusia sedemikian rupa sehingga manusia secara otomatis terdorong ke arah perilaku yang menghasilkan kebahagiaan. Ini adalah rekayasa sosial dalam pengertian yang paling harfiah: merancang masyarakat seperti seorang insinyur merancang mesin, dengan memahami prinsip-prinsip fundamental yang menggerakkannya dan memanipulasi tuas-tuas yang tepat.
Helvétius mengembangkan argumennya dengan gambaran yang sangat gamblang. Sang filsuf, ketika berada di tangan kekuasaan, harus menciptakan sebuah sistem buatan dari ganjaran dan hukuman yang akan memberikan hadiah kepada manusia setiap kali mereka melakukan hal yang sesungguhnya menghasilkan kebahagiaan yang lebih besar, dan menghukum mereka ketika mereka melakukan hal yang sesungguhnya menguranginya. Kalimat ini, yang Berlin kutip dan garisbawahi, adalah kalimat yang paling penting sekaligus paling mengkhawatirkan dalam seluruh sistem Helvétius. Di sini ia dengan sangat jelas mengatakan bahwa sistem ganjaran dan hukuman tidak perlu mengikuti logika moral yang dipahami dan diterima oleh mereka yang menjalaninya, melainkan mengikuti logika yang dirancang oleh sang filsuf-legislator berdasarkan pengetahuannya tentang apa yang sesungguhnya menghasilkan kebahagiaan.
Apa yang membuat pernyataan ini berbahaya bukan isi moralnya, melainkan strukturnya. Helvétius secara eksplisit mengatakan bahwa motif manusia tidak relevan. Tidak menjadi masalah apakah seseorang berkontribusi kepada kebahagiaan karena ia sungguh-sungguh peduli, atau karena ia bertindak dari motif yang egois, rendah, dan hina. Tidak menjadi masalah apakah seseorang mencegah kebahagiaan karena ia jahat, atau karena ia bodoh. Yang relevan hanya dampaknya terhadap kalkulasi kebahagiaan total. Dengan menyingkirkan motif dari pertimbangan moral, Helvétius sesungguhnya menyingkirkan manusia sebagai subjek moral dan menggantikannya dengan manusia sebagai objek teknis yang perlu dikondisikan.
Ini mengingatkan pada apa yang jauh kemudian oleh Aldous Huxley digambarkan dalam Brave New World: sebuah masyarakat yang terorganisir sedemikian rupa sehingga semua orang bahagia, tetapi kebahagiaan itu adalah hasil kondisioning sistematis, bukan pilihan bebas. Dalam masyarakat semacam itu, pertanyaan tentang makna, pilihan, dan kebebasan telah menjadi tidak relevan karena sistem telah memastikan bahwa tidak ada yang merasa membutuhkan hal-hal tersebut. Berlin membaca Helvétius sebagai salah satu arsitek intelektual pertama dari visi semacam ini, meskipun Helvétius sendiri tidak memikirkannya dalam kerangka yang suram itu.
Untuk memahami betapa sistematis dan betapa konsistennya Helvétius dalam posisi ini, perlu diperhatikan bahwa ia juga menolak nilai pendekatan moral melalui contoh dan khotbah. Ia menganggapnya tidak efektif bukan karena orang tidak mendengarkan, tetapi karena pendekatan itu melewati mekanisme yang salah. Manusia adalah budak dari hasrat-hasrat mereka, budak dari kebiasaan mereka, dan budak dari loyalitas-loyalitas yang tidak rasional. Seluruh khotbah Kristen selama berabad-abad tidak banyak mengubah kondisi manusia. Solusinya bukan lebih banyak khotbah, melainkan rekayasa lingkungan yang tepat yang membuat perilaku yang benar menjadi satu-satunya pilihan yang tersedia dengan biaya paling rendah.
Pendidikan dan Hukum sebagai Alat Kekuasaan
Dua instrumen utama yang Helvétius andalkan untuk membangun masyarakat yang ia impikan adalah pendidikan dan hukum. Keduanya tidak dipahami sebagai domain yang bertujuan mengembangkan kemampuan manusia secara bebas, atau menegakkan keadilan sebagai nilai yang mandiri. Keduanya dipahami sebagai alat rekayasa sosial: mekanisme untuk membentuk perilaku manusia agar sesuai dengan kalkulasi kebahagiaan yang telah ditetapkan oleh para filsuf-legislator. Perbedaan antara membantu manusia berkembang dan membentuk manusia sesuai rancangan adalah perbedaan yang sangat menentukan, dan Berlin menunjukkan bahwa Helvétius secara konsisten berada di sisi yang kedua.
Tentang pendidikan, Helvétius memiliki keyakinan yang hampir tanpa batas tentang kemungkinannya. Prinsip yang Berlin tandai sebagai salah satu prinsip sentral dari seluruh filsafat kaum philosophes, atau para filsuf Pencerahan Prancis, adalah bahwa pendidikan dapat mengubah siapa pun menjadi hampir apa saja. Manusia adalah sepotong tanah liat di tangan sang pembentuk; manusia adalah makhluk yang secara prinsipial tidak memiliki sifat bawaan yang permanen selain sensibilitas terhadap nikmat dan derita, dan selebihnya sepenuhnya dapat dibentuk oleh lingkungan dan pengajaran. Ini bukan sekadar optimisme pedagogis yang umum; ini adalah klaim ontologis tentang plastisitas mutlak manusia.
Baron d’Holbach, rekan Helvétius dalam lingkaran Encyclopédie, merumuskan pandangan ini dengan kalimat yang dikutip Berlin: “pendidikan hanyalah pertanian jiwa.” Untuk mengatur manusia sama saja dengan membiakkan binatang. Gambar yang digunakan di sini tidak kebetulan. Ia mencerminkan keyakinan bahwa manusia, seperti tanaman atau hewan ternak, adalah objek dari proses pembentukan yang dikendalikan dari luar, bukan subjek yang mengembangkan dirinya dari dalam. Petani yang baik menghasilkan panen yang baik; pendidik yang baik menghasilkan warga yang baik. Perbedaan antara keduanya hanya pada materialnya, bukan pada prinsip kerjanya.
Dengan landasan ini, Helvétius memberikan instruksi konkret kepada para pendidik masa depan. Mereka tidak boleh membuang waktu untuk sejarah, karena sejarah tidak lebih dari catatan kejahatan dan kebodohan manusia. Sejarah mungkin bisa diajarkan untuk menunjukkan mengapa manusia tidak berkembang sebaiknya mungkin, tetapi belajar sejarah demi sejarah itu sendiri adalah sesuatu yang jelas-jelas absurd. Tidak ada yang boleh diajarkan demi nilai intrinsiknya sendiri. Satu-satunya tujuan pendidikan adalah membuat manusia bahagia, dan apa pun yang tidak berkontribusi langsung ke arah itu tidak memiliki tempat dalam kurikulum yang benar. Bahasa-bahasa klasik pun harus ditinggalkan karena mereka sudah mati dan tidak memiliki manfaat praktis.
Tentang hukum, posisi Helvétius sama jelasnya. Hukum bukanlah kodifikasi keadilan yang berasal dari prinsip-prinsip yang lebih tinggi dari kepentingan. Hukum adalah mekanisme rekayasa perilaku yang paling efektif. Pernyataan yang dikutip Berlin dari Helvétius, “Aku tidak peduli jika manusia jahat selama mereka cerdas. Hukum akan melakukan segalanya,” adalah pernyataan yang luar biasa dalam ketelanjangannya. Yang dibutuhkan bukan manusia yang bermoral; yang dibutuhkan adalah sistem hukum yang dirancang sedemikian rupa sehingga perilaku yang secara sosial menguntungkan menjadi perilaku yang secara individual paling menguntungkan.
Kaum fisikrat, yaitu para filsuf ekonomi yang juga dikutip Berlin, memiliki pandangan yang selaras. Mereka berargumen bahwa legislasi yang sesungguhnya bukan pembuatan hukum, melainkan penerjemahan ke dalam bahasa hukum dari sesuatu yang sudah ada dalam alam: tujuan-tujuan dan maksud-maksud fundamental manusia. Hukum yang baik bukan hukum yang dibuat oleh kesepakatan manusiawi, melainkan hukum yang menemukan dan mengekspresikan aturan-aturan alam. Dengan demikian, pertanyaan tentang mengapa saya harus mematuhi penguasa ini atau pemerintah itu dapat dijawab dengan cara yang sama seperti menjawab pertanyaan tentang mengapa tubuh jatuh ke bawah: karena itulah yang ditetapkan oleh alam.
Ini membawa implikasi yang mengejutkan: sistem Helvétius sesungguhnya menutup pintu bagi perdebatan tentang nilai-nilai. Bila nilai-nilai moral dan tujuan-tujuan politik adalah fakta alam yang dapat ditemukan melalui pengamatan ilmiah, maka orang yang “mengetahui” fakta-fakta tersebut memiliki otoritas yang tidak dapat digugat. Debat publik, musyawarah demokratis, perbedaan pendapat yang sah tentang nilai-nilai, semua itu menjadi tidak relevan karena nilai-nilai bukan hasil pilihan melainkan hasil penemuan. Dan hanya mereka yang memiliki pengetahuan ilmiah yang cukup yang dapat menemukan nilai-nilai tersebut. Berlin menangkap dengan sangat tepat bahwa ini adalah premis yang membuka jalan bagi apa yang kemudian ia sebut sebagai tirani teknokratis.
Kebebasan yang Lenyap: Paradoks dalam Sistem Helvétius
Di antara semua kritik Berlin terhadap Helvétius, yang paling tajam dan paling orisinal adalah kritiknya tentang kebebasan. Ini bukan sekadar kritik bahwa sistem Helvétius mengancam kebebasan; itu terlalu dangkal. Yang Berlin tunjukkan adalah sesuatu yang lebih halus dan lebih mengganggu: dalam sistem Helvétius, kebebasan tidak dihancurkan secara terbuka, ia dilenyapkan secara perlahan dan metodis melalui proses kondisioning yang berhasil, dan pada akhir proses itu tidak ada yang merasa kehilangan apa pun karena keinginan untuk bebas itu sendiri telah ikut dikondisikan.
Proses lenyapnya kebebasan, menurut Berlin, bekerja melalui logika internal sistem itu sendiri. Bila semua pertanyaan tentang nilai dapat dijawab secara ilmiah, dan bila ada para ahli yang memiliki pengetahuan tersebut, maka satu-satunya hal yang tersisa bagi masyarakat adalah menerapkan hasil pengetahuan itu. Pilihan individual, perbedaan pendapat, dan bahkan konflik tentang nilai-nilai menjadi indikasi dari ketidaktahuan atau irasionalitas, bukan ekspresi dari kebebasan yang sah. Seorang yang menentang kebijakan yang secara ilmiah terbukti menghasilkan kebahagiaan terbesar tidak lebih dari seseorang yang menolak menerima fakta bahwa dua ditambah dua sama dengan empat. Penentangan semacam itu tidak layak dihormati sebagai ekspresi kebebasan; ia adalah symptom dari penyakit yang perlu disembuhkan.
Berlin menelusuri dengan cermat bagaimana sistem ini berujung pada apa yang ia sebut “Brave New World,” menggunakan frasa dari judul novel dystopia Aldous Huxley yang terbit pada 1932. Dalam dunia semacam itu, semua pertanyaan tentang nilai bersifat faktual dan jawabannya dapat ditemukan melalui pengamatan dan penalaran. Para ahli dalam etika dan politik lebih baik dalam menemukan hukum-hukum moral daripada orang awam, dan karena itu mereka harus diberi kekuasaan tertinggi. Semua tujuan akhir manusia saling kompatibel satu sama lain; mereka tidak bisa bertentangan. Ini adalah proposisi yang telah berulang kali dibuktikan salah oleh pengalaman manusia, karena kebebasan dan kesetaraan, misalnya, tidak selalu mengarah ke arah yang sama dan sering kali harus dipilih salah satunya.
Lebih jauh lagi, Berlin menunjukkan bahwa dalam dunia Helvétius, kebebasan itu sendiri pada akhirnya lenyap. Tidak secara kasar, tidak melalui paksaan langsung, melainkan melalui proses pendidikan yang berhasil. Manusia yang telah dikondisikan dengan benar tidak lagi menginginkan hal-hal yang tidak baik bagi mereka. Mereka telah menjadi seperti binatang terlatih yang hanya mencari apa yang baik, kata Berlin, tanpa bahwa itu adalah sebuah kebebasan sejati. Dalam kondisi ini, kebebasan untuk membuat pilihan yang berbahaya, kebebasan untuk keliru, kebebasan untuk memilih sesuatu yang tidak optimal dari sudut pandang kalkulasi kebahagiaan, lenyap bukan karena dilarang melainkan karena sudah tidak diinginkan lagi. Dan inilah yang bagi Berlin adalah pencapaian paling mengkhawatirkan dari sistem yang berasal dari niat paling baik sekalipun.
Salah satu proposisi paling mengungkapkan dari Helvétius yang dikutip Berlin adalah bahwa masyarakat yang baik tidak bisa menjadi demokrasi, karena manusia sering bodoh dan sering jahat, dan kita tahu bahwa jika kita dipimpin oleh opini publik kita jarang akan mencapai apa pun. Manusia sudah terlalu lama hidup dalam kegelapan sehingga tidak dapat langsung tahu apa yang harus dilakukan ketika tiba-tiba menemukan dirinya dalam cahaya. Oleh karena itu manusia adalah budak-budak yang baru dibebaskan, dan untuk waktu yang sangat lama mereka harus dipimpin oleh pemimpin-pemimpin yang tercerahkan, oleh para manajer masyarakat manusia yang tercerahkan.
Berlin menambahkan perspektif historis yang penting: ini adalah pandangan kaum liberal abad ke-18 sebelum Rousseau. Bukan hanya Helvétius yang berpendapat demikian. Voltaire, yang dikutip Berlin, menulis bahwa celaka bagi kita jika massa mulai bernalar. Dan di dalam Encyclopédie, ensiklopedi paling progresif pada zamannya, di bawah artikel tentang “multitude” terdapat pernyataan bahwa suara orang banyak penuh dengan kebusukan, kebodohan, dan ketidakmasukakalan, bahwa mereka tidak mampu melakukan perbuatan mulia atau kuat. Paradoks yang mengejutkan dari Pencerahan adalah bahwa gerakan yang paling keras meneriakkan emansipasi manusia juga adalah gerakan yang paling mendalam meragukan kemampuan manusia untuk memimpin dirinya sendiri.
Dari sinilah muncul apa yang Berlin identifikasi sebagai premis yang sangat berbahaya dalam sistem Helvétius: gagasan bahwa para ilmuwan tahu kebenaran, karena itu para ilmuwan adalah orang-orang yang berbudi luhur, karena itu para ilmuwan dapat membuat kita bahagia, karena itu mari kita serahkan segalanya kepada para ilmuwan. Ada tradisi Eropa yang panjang, kata Berlin, yang mendukung pandangan ini, di mana pemerintahan ilmiah dianggap sebagai yang terbaik, dan para reformis selalu bertanya dengan marah mengapa kita tidak diperintah oleh sekelompok elite ilmuwan. Sikap ini, yang Berlin usut akarnya dari abad ke-18, adalah sikap yang masih sangat hidup di abad ke-20 dan ke-21 dalam berbagai wajahnya.
Bentham, Utilitarianisme, dan Warisan Problematisnya
Jeremy Bentham, filsuf Inggris yang hidup dari 1748 hingga 1832 dan yang dikenal sebagai pendiri utilitarianisme dalam bentuknya yang paling sistematis, adalah murid penuh dari Helvétius. Berlin sangat tegas tentang poin ini: sekalipun kata “utilitarianisme” normalnya dikaitkan dengan Bentham, sangat sedikit, bahkan hampir tidak ada, dari gagasan-gagasan kardinalnya yang tidak berasal langsung dari Helvétius. Bentham sendiri secara terbuka mengakui utang intelektualnya kepada Helvétius; ia berkata bahwa ia banyak belajar dari Helvétius. Berlin menambahkan bahwa pengakuan ini bahkan adalah pernyataan yang terlalu merendah.
Apa yang Bentham lakukan adalah mengoperasionalkan dan mensistematisasikan gagasan-gagasan yang telah dirumuskan Helvétius. Prinsip kegunaan, atau utility, yang menyatakan bahwa suatu tindakan benar secara moral sejauh ia meningkatkan kesenangan atau mengurangi penderitaan bagi jumlah orang terbesar, adalah rumusan Bentham atas prinsip yang telah ada pada Helvétius. Bentham juga mengembangkan apa yang ia sebut “kalkulus hedonistik,” sebuah metode untuk mengukur dan membandingkan unit-unit kesenangan dan penderitaan berdasarkan intensitas, durasi, kepastian, kedekatan waktu, dan beberapa parameter lain. Ini adalah upaya untuk membuat prinsip Helvétius benar-benar operasional secara kuantitatif.
Warisan Bentham kepada pemikiran sosial modern sangat besar. Melalui dia dan muridnya John Stuart Mill, utilitarianisme menjadi salah satu kerangka normatif yang paling berpengaruh dalam filsafat moral dan kebijakan publik. Banyak analisis kebijakan kontemporer, dari analisis biaya-manfaat dalam ekonomi hingga perhitungan efektivitas program-program kesejahteraan, beroperasi dalam logika yang pada dasarnya utilitarian. Ketika seorang perencana kebijakan menghitung apakah sebuah jembatan perlu dibangun berdasarkan berapa banyak orang yang akan menggunakannya dan berapa besar manfaat ekonomi yang akan dihasilkan, ia mengikuti logika yang garis turunnya langsung kepada Helvétius dan Bentham.
Namun warisan ini juga mengandung masalah-masalah yang sudah diidentifikasi Berlin dalam Helvétius. Pertama, utilitarianisme memiliki kecenderungan untuk mengkorbankan kepentingan individu atau kelompok minoritas demi kebahagiaan terbesar bagi jumlah terbesar. Jika menyiksa seseorang akan menghasilkan kesenangan yang lebih besar bagi sepuluh orang lain, maka secara utilitarian murni penyiksaan itu dibenarkan. Ini adalah kesimpulan yang cukup banyak filsuf langsung menolaknya sebagai bukti bahwa ada yang salah dengan premis utilitarisme itu sendiri. Tetapi dalam logika sistem Helvétius, ini bukan anomali; ini adalah implikasi yang konsisten.
Kedua, utilitarianisme memiliki kecenderungan untuk tidak memberikan ruang yang memadai bagi hak-hak individual yang tidak dapat dikompromikan. Dalam sistem Helvétius, hak-hak individual adalah hambatan terhadap rekayasa masyarakat menuju kebahagiaan total. Jika saya memiliki hak milik yang tidak dapat diambil, maka legislator yang ingin membangun masyarakat yang mulus dan harmonis mungkin terhalang oleh hak saya itu ketika ia perlu mengambil sesuatu dari saya untuk tujuan yang lebih besar. Dari sudut pandang utilitarian yang konsisten, hak-hak semacam itu adalah “irasional” karena menghambat optimasi kebahagiaan total.
John Stuart Mill, dalam karyanya On Liberty yang terbit pada 1859, mencoba memperbaiki masalah-masalah ini dari dalam tradisi utilitarian. Mill berargumen bahwa kebebasan individual adalah kondisi yang diperlukan bagi kebahagiaan jangka panjang, dan karena itu perlindungan kebebasan itu sendiri adalah sesuatu yang utilitarian. Tetapi kritik yang lebih mendasar, yang Berlin representasikan, adalah bahwa masalah utilitarisme bukan sekadar masalah teknis yang dapat diperbaiki dari dalam. Masalahnya adalah premis dasarnya, bahwa semua nilai dapat dikembalikan kepada satu besaran tunggal, yaitu kebahagiaan atau kesenangan, yang secara mendasar salah kaprah tentang sifat manusia dan tentang keragaman nilai yang tidak dapat direduksi satu sama lain.
Kaum fisiokrat, yang juga dikutip Berlin dalam bab yang sama, menawarkan versi lain dari warisan yang sama. Para ekonom fisiokrat berpendapat bahwa legislasi yang sejati bukan pembuatan hukum melainkan penerjemahan ke dalam istilah hukum dari sesuatu yang dapat ditemukan dalam alam: tujuan-tujuan dan maksud-maksud. Tujuan-tujuan sejati manusia sudah diberikan; mereka dapat ditemukan seperti hukum fisika ditemukan; dan pertanyaan tentang mengapa saya harus mematuhi raja ini atau pemerintah itu akan dapat dibuktikan dengan cara yang sama seperti hukum fisika dibuktikan. Dari sini lahirlah mimpi tentang pemerintahan yang bukan hanya benar secara nilai, tetapi dapat dibuktikan secara ilmiah, sebuah mimpi yang tidak pernah mati dalam sejarah pemikiran modern.
Isaiah Berlin Membaca Helvétius: Tirani yang Berniat Baik
Isaiah Berlin menulis bab tentang Helvétius ini pertama kali sebagai kuliah yang disampaikan di BBC pada awal 1950-an, bertahun-tahun setelah ia menyaksikan bagaimana ideologi-ideologi yang lahir dari niat terbaik di abad ke-18 dan ke-19 berakhir sebagai justifikasi bagi beberapa sistem paling menindas yang pernah ada dalam sejarah manusia. Komunisme Soviet, yang mengklaim berbicara atas nama kebahagiaan rakyat banyak, telah menciptakan aparatus negara yang menghancurkan kebebasan jutaan orang. Fasisme, yang mengklaim berbicara atas nama kekuatan kolektif bangsa, melakukan hal yang serupa. Konteks historis ini sangat penting untuk memahami mengapa Berlin tidak sekadar melakukan analisis akademis ketika ia menulis tentang Helvétius.
Argumen inti Berlin adalah bahwa sistem Helvétius, yang dibangun dengan niat terbaik, dengan semangat anti-tirani yang tulus, dan dengan keyakinan yang bersih bahwa pengetahuan tentang alam dapat membebaskan manusia dari belenggu-belenggu yang diciptakan oleh kebodohan dan konspirasi, pada akhirnya mengarah kepada apa yang ia sebut “tirani teknokratis.” Ini adalah tirani akal yang, bagaimanapun, sama berbahayanya dengan tirani kebodohan, sama berlawanannya dengan gagasan bahwa salah satu hal paling berharga dalam kehidupan manusia adalah pilihan demi pilihan itu sendiri, bukan hanya pilihan akan hal yang baik.
Kalimat terakhir itu kritis untuk memahami posisi Berlin. Bagi Helvétius, yang penting adalah pilihan akan hal yang baik. Pilihan akan hal yang buruk atau tidak optimal adalah kesalahan yang perlu dikoreksi. Bagi Berlin, ada sesuatu yang berharga dalam pilihan itu sendiri, terlepas dari apa yang dipilih. Kebebasan untuk memilih, termasuk kebebasan untuk memilih dengan keliru, adalah bagian esensial dari apa yang membuat seseorang menjadi manusia dalam pengertian penuh. Ketika seseorang dikondisikan sedemikian rupa sehingga ia hanya memilih yang benar dan tidak bisa memilih yang salah, ia telah kehilangan sesuatu yang fundamental, bahkan jika ia bahagia secara subjektif dalam kondisi itu.
Berlin juga menunjukkan bahwa alam berbicara dengan terlalu banyak suara yang berbeda-beda. Kepada Spinoza alam berkata bahwa ia adalah sistem logis; kepada Leibniz alam berkata bahwa ia adalah kumpulan jiwa-jiwa; kepada Diderot alam berkata bahwa dunia adalah mesin dengan tali, katrol, dan pegas; kepada Herder alam berkata bahwa ia adalah makhluk organik yang hidup; kepada Montesquieu alam berkata tentang nilai tak terbatas dari keragaman; kepada Helvétius alam berkata tentang keseragaman yang tidak berubah. Kepada Rousseau alam mendeklarasikan bahwa ia telah dirusak oleh peradaban, ilmu pengetahuan, dan seni; kepada d’Alembert alam menjanjikan mengungkapkan rahasianya. Jika alam berbicara dengan banyak suara yang saling bertentangan, maka siapa yang memutuskan suara mana yang didengarkan, dan atas dasar otoritas apa?
Pertanyaan ini membongkar sebuah asumsi fundamental dalam sistem Helvétius: asumsi bahwa ada jawaban tunggal yang benar untuk pertanyaan-pertanyaan tentang nilai, bahwa jawaban itu dapat ditemukan melalui metode ilmiah, dan bahwa mereka yang telah menemukannya berhak untuk menerapkannya atas nama orang banyak. Berlin menolak asumsi ini bukan secara dogmatis, melainkan dengan menunjukkan bahwa nilai-nilai manusia sesungguhnya beragam dan sering kali tidak dapat direkonsiliasi satu sama lain. Kebebasan dan kesetaraan adalah sama-sama nilai penting, tetapi tidak selalu mengarah ke tempat yang sama. Loyalitas dan keadilan adalah sama-sama nilai yang sah, tetapi kadang bertentangan. Menerima keragaman dan ketidakrekonsilabilitasan nilai-nilai ini bukan kelemahan intelektual; itu adalah kejujuran tentang kompleksitas kondisi manusia.
Sistem Helvétius beroperasi di atas keyakinan bahwa semua nilai akhir saling kompatibel. Ini bukan sekadar keyakinan yang tidak dapat dibuktikan; ini adalah keyakinan yang secara aktif bertentangan dengan pengalaman historis manusia. Tragedi-tragedi besar yang ditulis oleh para dramawan Yunani, seperti yang dicatat Berlin, sebagian besar berisi tentang tabrakan fatal antara nilai-nilai yang sama-sama legitimate namun tidak dapat direkonsiliasi. Sophocles dalam Antigone memperlihatkan konflik antara hukum negara dan kewajiban kepada keluarga dan kepada para dewa. Ini bukan pertunjukan kebodohan atau irasionalitas. Ini adalah eksplorasi tentang kenyataan bahwa hidup manusia memang mengandung dilema yang tidak memiliki solusi yang sempurna.
Kesimpulan Berlin, yang sekaligus merupakan peringatan yang ia tujukan kepada zamannya sendiri, adalah bahwa sistem seperti Helvétius, yang dibangun dengan semangat melawan ketidakadilan, kebodohan, dan tirani raja-raja dan pendeta-pendeta, dengan seluruh niat baiknya diarahkan untuk membebaskan manusia dari rantai-rantai yang telah membelenggu mereka, pada akhirnya menggantikan satu tirani dengan tirani lain. Tirani kebodohan, ketakutan, dan kekuasaan sewenang-wenang digantikan oleh tirani teknokratis, tirani akal, tirani yang sama bermusuhannya dengan kebebasan, sama berlawanannya dengan gagasan bahwa dalam kehidupan manusia pilihan itu sendiri, bukan hanya pilihan akan hal yang baik, adalah salah satu hal yang paling berharga. Ini adalah sebuah sistem yang sangat ketat dan sangat rapi; tidak ada ruang untuk bergerak di dalamnya. Mungkin ia dapat menghasilkan kebahagiaan, tetapi tidak jelas, dan tidak pernah jelas bahkan di abad ke-18, bahwa kebahagiaan adalah satu-satunya nilai yang dicari manusia.
Esai ini merupakan telaah atas bab Helvétius dalam Freedom and Its Betrayal: Six Enemies of Human Liberty karya Isaiah Berlin (Princeton University Press, 2002), yang diedit oleh Henry Hardy. Berlin (1909–1997) adalah filsuf politik dan sejarawan ide asal Inggris kelahiran Riga, Latvia, yang dikenal terutama atas distinksinya antara kebebasan positif dan kebebasan negatif dalam esai Two Concepts of Liberty (1958). Freedom and Its Betrayal berasal dari serangkaian kuliah yang ia sampaikan di BBC pada tahun 1952. Helvétius (1715–1771) adalah filsuf Prancis yang karya utamanya, De l’esprit (1758), dibakar oleh algojo publik atas perintah otoritas Gereja dan Negara Prancis. Seluruh argumen dalam esai ini berbasis langsung pada teks halaman 11–27 Bab Helvétius dalam buku tersebut.





