Memahami Muslim Jawa

Dalam beberapa hari ini, algoritma Youtube selalu menyajikan beberapa potret Muslim Jawa yang sangat popular, yaitu kehadiran para pendakwah Muslim Jawa yang cukup fenomenal di Tanah Jawa. Mereka selalu menjadi FYP di berbagai gerbang media sosial. Tampilan Muslim Jawa adalah sederhana di dalam berpakaian, tetapi mewah dalam kehidupan sehari-hari. Bicara dakwah mereka memang meniru gaya para Sunan yang dikenal sebagai Walisongo.

Jika awalnya mereka berdakwah dikenal dengan mengakui konsep pribumisasi, yang pernah digagas oleh Gus Dur, semasa hidupnya. Dakwah yang begitu merakyat yang terkadang memuat pesan-pesan yang cukup simpel, sehingga jama’ah yang mendengar pun merasa tidak dihakimi, oleh sang pendakwah. Karena itu, melihat fenomena Muslim Jawa di era kontemporer, amat menarik.

Hal ini belum lagi yang ditampakkan dari sambutan masyarakat pada pendakwah yang keluarga Habaib. Mereka yang kerap dipanggil sebagai ‘cucu’ Rasulullah, sangat digemari dan diminati. Sehingga sambutan yang cukup fantastik dalam berbagai kesempatan, memberikan kesan bahwa Habaib, memang diberikan ruang yang cukup lebar dalam kehidupan Muslim Jawa di era kekinian.

Proses menggali karamah dan kewalian menjadi tema penting di dalam melihat Muslim Jawa yang selalu ingin sekali berada di level pribumisasi, tetapi sangat mengidolakan konsep karamah dan kewalian. Sehingga cerita kekaramahan dan kewalian menjadi begitu menarik di dalam kehidupan Muslim Jawa, tidak terkecuali di dalam kehidupan virtual saat ini.

See also  How the Javanese Influence Political Culture in Indonesia

Haus akan sosok yang karamah dan dipenuhi kewalian menjadi penanda penting bagi memahami Muslim Jawa. Sehingga mereka yang memiliki perilaku yang ‘aneh’ kerap dilabeli sebagai wali dengan segala keunikan yang melingkupi perfoma mereka di depan publik. Tidak pakai baju. Bicara seadanya. Dimanja kalau hendak kemana-mana. Hal-hal tersebut di antara beberapa kondisi nyata, bagaimana konstruksi konsep kewalian dan kekaramahan yang dipahami oleh Muslim Jawa.

Dengan kata lain, rindu akan sosok yang ‘unik’ sebagaimana kerap diceritakan dalam lintasan sejarah Islam di Jawa adalah hal nyata untuk memahami Muslim Jawa saat ini, terlebih dengan massifnya berita-berita tersebut di alam maya. Alhasil, konstruksi dan dominasi pemahaman seperti ini menjadi bagian terpenting di dalam memberikan narasi yang tidak tunggal pada seseorang yang dianggap memiliki ‘kelebihan’ di dalam perilaku keseharian mereka.

Jadi, memahami Muslim Jawa kontemporer adalah keislaman yang benar-benar didasarkan pada kebudayaan Jawa di dalam memahami sosok wong (manusia). Semakin tinggi daya pikat magis seseorang, karena memiliki kelebihan di dalam berilmu dan memiliki geneologi keulamaan, maka akan semakin mudah pula masyarakat menerima mereka, sebagai sosok baru yang digandrungi dan dicari-cari keberadaannya.

 

 

Also Read

Bagikan:

Tags

Leave a Comment