Iris Murdoch dan Charles Taylor
Pendahuluan
Ada dua cara untuk mati secara intelektual: membangun sistem yang terlalu besar hingga tak ada yang mampu menggoyahkannya, atau menyempitkan pertanyaan hingga tidak ada yang tersisa untuk dijawab. Filsafat moral Anglo-Saxon pada pertengahan abad ke-20 memilih jalan kedua. Pertanyaan tentang apa yang baik, bagaimana seharusnya manusia hidup, dan apa yang pantas dicintai satu per satu disingkirkan—dianggap tidak dapat diverifikasi secara empiris, tidak bermakna secara logis, atau sekadar ekspresi emosi yang tidak bisa diperdebatkan secara rasional. Yang tersisa adalah debat teknis tentang bahasa moral: apakah pernyataan etika itu deskriptif atau preskriptif, bisa bernilai benar atau salah, atau hanya ungkapan preferensi pribadi yang disamarkan sebagai klaim universal. Inilah dunia yang Iris Murdoch masuki. Dan inilah dunia yang ia tolak.
Murdoch lahir pada 1919 di Dublin, dibesarkan di Inggris, dan menempuh pendidikan filsafat di Somerville College, Oxford. Ia kemudian mengajar filsafat di St Anne’s College, Oxford selama hampir tiga dekade—berada di jantung tradisi analitik yang justru ia kritik dari dalam. Dua puluh enam novelnya bukan pelarian dari filsafat, melainkan perpanjangan metodisnya: ruang di mana pertanyaan moral bisa dihidupi, diuji, dan diperlihatkan dalam kompleksitasnya, bukan sekadar diformulasikan secara abstrak. Ia menulis karya filosofis besar—The Sovereignty of Good (1970) dan Metaphysics as a Guide to Morals (1992)—sambil terus menghasilkan fiksi. Bagi sebagian kritikus, ini dua karir yang tidak bisa serius dijalani sekaligus. Murdoch membuktikan bahwa asumsi itu keliru.
Charles Taylor, filsuf Kanada yang dikenal melalui Sources of the Self (1989) dan A Secular Age (2007), memberikan tafsir menyeluruh terhadap pemikiran Murdoch dalam Dilemmas and Connections: Selected Essays (2011). Taylor bukan sekadar memuji; ia membaca Murdoch sebagai pemikir yang menawarkan jawaban terhadap pertanyaan yang sama-sama menghantui keduanya: bagaimana etika bisa bermakna tanpa mereduksinya menjadi prosedur kalkulatif atau perintah kosong? Taylor mengakui sejak awal bahwa ia tidak bisa memberikan perlakuan menyeluruh terhadap pemikiran Murdoch, karena pemikiran itu terlalu kaya untuk diringkas tanpa kehilangan sesuatu yang esensial. Pengakuan ini sendiri bermakna: ia menandai Murdoch bukan sebagai pemilik satu doktrin yang bisa diringkas, melainkan sebagai pemikir yang mengubah cara kita mengajukan pertanyaan moral.
Artikel ini mengikuti kerangka pembacaan Taylor terhadap Murdoch—dari posisinya dalam sejarah filsafat moral Inggris, pergeseran dari kewajiban menuju kebaikan, konsep perhatian dan cinta, peran narasi dan teladan, kritik terhadap primacy of life, respons terhadap iklim pascarevolusioner, hingga tantangan Nietzsche dan para pewarisnya. Tujuannya bukan sekadar melaporkan, melainkan menguji: sejauh mana tawaran Murdoch benar-benar melampaui kebuntuan yang ia kritik?
Murdoch di Mata Charles Taylor
Untuk memahami mengapa Taylor memandang Murdoch sebagai figur yang penting, perlu dipahami dulu kondisi filsafat moral Inggris yang ia warisi. Pada tahun 1950-an dan 1960-an, Oxford dikuasai oleh tradisi filsafat bahasa biasa (ordinary language philosophy). Para filsuf seperti J.L. Austin dan Gilbert Ryle berargumen bahwa tugas filsafat adalah menganalisis bagaimana bahasa bekerja dalam penggunaan sehari-hari, bukan membangun metafisika besar. Dalam bidang etika, ini berarti bertanya tentang logika pernyataan moral, bukan tentang isi substansialnya. R.M. Hare, yang mendominasi etika Oxford pada masa itu, mengembangkan prescriptivism: tesis bahwa pernyataan moral pada dasarnya adalah preskripsi—perintah yang disamarkan—bukan deskripsi tentang realitas moral yang ada di luar diri. Implikasinya radikal: tidak ada fakta moral, hanya pilihan dan komitmen.
Murdoch melihat posisi Hare sebagai gejala dari sebuah penyakit yang lebih dalam. Dalam esai “The Idea of Perfection” yang termuat dalam The Sovereignty of Good, ia menghadirkan sebuah contoh sederhana namun mematikan: seorang ibu mertua yang awalnya memandang menantu perempuannya dengan prasangka—menilainya kasar, tidak sopan, terlalu bebas—kemudian secara perlahan mengubah pandangannya. Tidak ada tindakan luar biasa yang berubah. Yang berubah adalah cara sang ibu mertua melihat menantunya. Ia berusaha keras, menggunakan cinta dan perhatian, untuk mengikis prasangkanya sendiri. Bagi Hare, transformasi batin ini tidak relevan secara moral karena tidak mengubah tindakan yang terlihat dari luar. Bagi Murdoch, transformasi inilah yang paling penting.
Taylor memahami serangan Murdoch pada Hare bukan sebagai debat teknis tentang analisis bahasa, melainkan sebagai pertempuran atas gambaran manusia dalam etika. Gambaran Hare menampilkan manusia sebagai agen yang memilih di antara opsi-opsi dengan pikiran jernih, bebas dari tekanan psikologis, membuat keputusan berdasarkan prinsip universal. Murdoch melihat ini sebagai fantasi. Manusia nyata terjerat dalam jaring psikologis yang kompleks: egoisme, ilusi diri, rasa takut, ketamakan, dan berbagai mekanisme pertahanan yang mewarnai cara mereka melihat situasi moral jauh sebelum mereka membuat keputusan apapun. Filsafat moral yang mengabaikan psikologi ini, kata Murdoch, sedang membangun istana di atas pasir.
Murdoch juga tidak terlepas dari pergumulannya dengan eksistensialisme Prancis. Pada awal kariernya, ia menulis tentang Sartre—sebuah studi yang terbit pada 1953 dengan judul Sartre: Romantic Rationalist. Meski tidak sepenuhnya mengkritisi Sartre pada saat itu, Murdoch kemudian mengembangkan posisi yang jauh berbeda. Gambar Sartrean tentang kebebasan manusia yang radikal—kesadaran yang selalu bisa melampaui situasinya, yang tidak pernah sepenuhnya terikat—terasa bagi Murdoch seperti heroisme palsu. Kebebasan sejati bukan kebebasan dari semua penentuan, melainkan kemampuan untuk melihat dengan jernih dan bertindak dari tempat yang tepat. Ini menuntut kerja keras yang berbeda dari sekadar memilih.
Taylor, dalam Sources of the Self, telah menunjukkan bahwa etika modern mengalami apa yang ia sebut sebagai “krisis moral”: kehilangan kontak dengan sumber-sumber yang membuat etika bermakna, sumber yang ia sebut sebagai moral sources. Murdoch menawarkan satu diagnosa yang searah: filsafat moral telah kehilangan kontak dengan realitas psikologis dan metafisik yang menjadi tanah bagi pertumbuhan moral. Maka bagi Taylor, membaca Murdoch bukan sekadar membaca seorang pemikir—melainkan membaca seseorang yang mengerjakan proyek yang bersebelahan dengan proyeknya sendiri.
Penting untuk dicatat bahwa minat Murdoch bukan pada sistem baru. Ia bukan membangun teori besar yang mengklaim menyelesaikan semua masalah etika. Yang ia lakukan justru sebaliknya: merobohkan asumsi-asumsi yang membuat teori-teori besar itu terasa meyakinkan. Keyakinan bahwa etika berakhir pada tindakan, bahwa dunia batin tidak relevan secara moral, bahwa kebebasan adalah kondisi dasar manusia—semua ini ia pertanyakan dengan menghadirkan contoh, analisis psikologis, dan argumentasi yang memadukan filsafat Plato dengan wawasan literatur.
Taylor menekankan bahwa Murdoch adalah seorang filsuf Plato—dalam artian yang serius dan substantif, bukan dekoratif. Platonisme Murdoch bukan sekadar perlu mengutip Republik atau Simposion; ia mewarisi keyakinan Plato bahwa ada realitas yang lebih fundamental daripada dunia penampakan, bahwa jiwa manusia memiliki orientasi bawaan menuju yang baik meski sering kali terhalang, dan bahwa pendidikan moral pada dasarnya adalah proses pembersihan persepsi. Bagi Murdoch, the Good bukan sekadar nama untuk sekumpulan aturan moral, melainkan horizon transenden yang memberi kedalaman dan arah pada seluruh kehidupan moral.
Di sinilah Taylor melihat relevansi Murdoch bagi masa sekarang. Filsafat moral analitik telah berjalan cukup jauh dalam menganalisis struktur pernyataan moral, tetapi hampir tidak berbicara tentang isi kehidupan moral yang baik. Murdoch membalik prioritas ini. Ia memulai dari pertanyaan: seperti apa manusia yang sungguh-sungguh baik? Bukan dalam arti patuh pada aturan, melainkan dalam arti memiliki pandangan yang benar terhadap dunia, melihat orang lain dengan kasih dan kejernihan, melepaskan diri dari ilusi egoistis, dan diarahkan oleh horizon yang melampaui kepentingan pribadi.
Salah satu hal yang paling mengagumkan dari tafsir Taylor adalah kesediaannya untuk melihat keterbatasan Murdoch tanpa mengurangi pentingnya. Taylor tidak memperlakukan Murdoch sebagai otoritas tanpa cela. Ia menunjukkan bahwa ada tegangan dalam pemikiran Murdoch—antara Platonisme yang kuat dan penolakan terhadap teologi tradisional, antara penekanan pada kebaikan yang transenden dan skeptisismenya terhadap klaim metafisik yang berlebihan. Tegangan ini, kata Taylor, justru mencerminkan kompleksitas kondisi moral modern: kita tidak bisa sepenuhnya kembali ke Plato, tetapi kita juga tidak bisa puas dengan etika yang sudah menghilangkan setiap bentuk transendensi.
Taylor menutup pengamatannya tentang posisi Murdoch dalam lanskap intelektual dengan sebuah penilaian yang keras dan jujur: Murdoch adalah salah satu dari sedikit filsuf abad ke-20 yang sungguh-sungguh bergulat dengan pertanyaan tentang apa yang membuat kehidupan moral bermakna—bukan sebagai latihan teknis, melainkan sebagai pertanyaan eksistensial. Dalam tradisi filsafat analitik yang cenderung menghindari pertanyaan seperti itu, keberanian Murdoch terasa seperti kehadiran yang asing, sekaligus sangat dibutuhkan.
Dari Kewajiban Menuju Kebaikan
Tradisi etika modern, setidaknya dalam bentuk dominannya, dibangun di atas gagasan tentang kewajiban. Kant adalah arsitek utama tradisi ini. Dalam Grundlegung zur Metaphysik der Sitten (1785), ia berargumen bahwa moralitas adalah soal menaati perintah akal universal—categorical imperative: bertindaklah hanya berdasarkan maxim yang bisa kamu kehendaki menjadi hukum universal. Nilai moral tidak terletak pada konsekuensi tindakan, tidak pada kebahagiaan yang dihasilkan, melainkan pada kesesuaian tindakan dengan kewajiban. Manusia bermoral bukan yang bahagia atau yang penuh kasih, melainkan yang taat pada prinsip. Ini adalah gambaran etika yang kuat secara formal, tetapi dingin secara psikologis.
Utilitarianisme menawarkan alternatif, tetapi pada dasarnya juga tidak keluar dari kerangka kewajiban. Jeremy Bentham dan kemudian John Stuart Mill berargumen bahwa kewajiban moral adalah memaksimalkan kesejahteraan atau kebahagiaan secara keseluruhan. Ini memang lebih hangat secara emosional—ada kepedulian terhadap penderitaan dan kesenangan orang lain—tetapi cara berpikirnya tetap kalkulatif: tindakan dievaluasi berdasarkan seberapa banyak kebaikan yang dihasilkan. Moralitas menjadi matematika sosial. Manusia baik adalah yang memilih tindakan dengan utilitas tertinggi, bukan yang memiliki karakter tertentu atau melihat dunia dengan cara tertentu.
Murdoch melihat kedua tradisi ini—deontologi Kantian dan utilitarianisme—sebagai dua versi dari kesalahan yang sama. Keduanya mengandaikan bahwa inti moralitas adalah memilih tindakan yang benar di antara pilihan yang tersedia. Keduanya mengasumsikan bahwa agen moral adalah makhluk yang jernih, bebas, dan rasional yang berdiri di hadapan situasi moral seperti konsumen di hadapan menu. Keduanya mengabaikan pertanyaan yang, bagi Murdoch, jauh lebih mendasar: bagaimana cara pandang kita terhadap situasi moral itu terbentuk? Apa yang menentukan apa yang kita lihat dan tidak kita lihat dalam sebuah situasi etis? Tindakan benar yang lahir dari cara pandang yang keliru, kata Murdoch, masih merupakan kegagalan moral.
The Sovereignty of Good terdiri dari tiga esai yang masing-masing menyerang reduksionisme moral dari sudut berbeda. “The Idea of Perfection” membongkar gambaran manusia dalam filsafat analitik. “On ‘God’ and ‘Good'” menghadirkan konsep kebaikan transenden sebagai pengganti Tuhan dalam etika pasca-agama. “The Sovereignty of Good Over Other Concepts” berargumen bahwa kebaikan adalah konsep yang melampaui dan menata semua konsep moral lainnya—termasuk kewajiban, hak, dan keadilan. Bersama-sama, ketiga esai ini membangun argumen bahwa etika tidak dimulai dari pertanyaan “apa yang harus aku lakukan?” melainkan dari pertanyaan “apa yang sungguh-sungguh ada di hadapanku, dan bagaimana aku bisa melihatnya dengan lebih jernih?”
Pergeseran dari kewajiban menuju kebaikan bukan sekadar pergeseran terminologis. Ia membawa implikasi yang dalam terhadap apa yang dianggap sebagai kerja moral. Jika etika adalah tentang kewajiban, maka kerja moralnya adalah memahami aturan dan menerapkannya. Jika etika adalah tentang kebaikan, maka kerja moralnya adalah pembentukan karakter—belajar melihat, belajar memperhatikan, melatih kasih sayang, membersihkan prasangka. Ini adalah kerja yang tidak pernah selesai, tidak bisa direduksi pada serangkaian keputusan diskrit, dan tidak bisa diukur dengan check-list perilaku.
Murdoch menemukan inspirasi utamanya pada Plato. Dalam Republik, Plato menggambarkan to agathon—Yang Baik—bukan sebagai salah satu nilai di antara nilai-nilai lainnya, melainkan sebagai sumber dari semua nilai. Seperti matahari yang memungkinkan mata melihat dan objek terlihat, the Good memungkinkan pikiran mengenal dan objek-objek moral dikenali. Tanpa orientasi pada kebaikan, seluruh aktivitas moral berputar dalam kegelapan. Bagi Murdoch, ini bukan mitologi atau metafora puitis—ini adalah pernyataan filosofis yang sungguh-sungguh tentang struktur realitas moral.
Aristoteles memperkaya warisan ini dengan konsep eudaimonia—sering diterjemahkan sebagai “kebahagiaan” tetapi lebih tepat dipahami sebagai “berkembang sesuai dengan hakikat terbaik diri.” Etika Aristoteles bertanya bukan “apa yang harus aku lakukan?” melainkan “manusia seperti apa yang harus aku jadikan?” dan “bagaimana aku bisa hidup dengan baik?” Murdoch tidak mengikuti Aristoteles secara penuh—terutama ia tidak mewarisi empirisisme Aristoteles atau konsepsinya tentang kehidupan polis yang baik. Tetapi ia mewarisi intuisi dasar bahwa moralitas adalah tentang karakter dan cara hidup, bukan tentang kesesuaian tindakan dengan aturan.
Taylor, dalam pembacaannya, menekankan bahwa pergeseran dari kewajiban menuju kebaikan yang dilakukan Murdoch bukan regresi ke masa lalu, melainkan koreksi terhadap penyempitan yang melanda etika modern. Modernitas, dalam versi dominannya, memotong ikatan antara etika dan pertanyaan tentang kehidupan yang baik (the good life). Etika modern hanya ingin berbicara tentang prosedur yang adil, tentang hak yang perlu dihormati, tentang konsekuensi yang perlu diperhitungkan. Semua ini penting. Tetapi tanpa pertanyaan tentang apa yang baik, apa yang layak dikejar, apa yang membuat hidup bermakna, etika kehilangan substansi yang membuatnya penting secara eksistensial.
Ada satu tegangan yang harus diakui: Murdoch mempertahankan gagasan kebaikan transenden dalam konteks di mana klaim tentang realitas transenden sulit dipertahankan secara filosofis. Ia sangat berhati-hati untuk tidak mengatakan bahwa “the Good” adalah Tuhan dalam pengertian teistik tradisional. Ia juga tidak mau mengakuinya sebagai sekadar konstruksi manusia atau proyeksi psikologis. Kebaikan bagi Murdoch adalah sesuatu yang nyata, yang menarik kita, yang tidak bisa direduksi pada preferensi subjektif—tetapi ia tidak mau mengklaim terlalu banyak tentang sifatnya. Taylor melihat sikap hati-hati ini bukan sebagai kelemahan, melainkan sebagai kejujuran intelektual di tengah kondisi modern di mana klaim metafisik besar tidak bisa diajukan begitu saja.
Pada akhirnya, yang ditawarkan Murdoch adalah pemulihan horizon moral yang lebih luas. Kewajiban tidak hilang dalam etikanya—ia tetap penting—tetapi ia menjadi bagian dari sebuah keseluruhan yang lebih besar. Manusia bermoral bukan hanya yang memenuhi kewajiban, melainkan yang diarahkan oleh kebaikan, yang melihat dengan kasih, yang merespons realitas dengan kejernihan. Ini adalah gambaran etika yang jauh lebih menuntut daripada sekadar menaati aturan—dan jauh lebih meyakinkan sebagai gambaran tentang apa yang sungguh-sungguh kita kagumi dalam diri orang-orang yang kita anggap baik.
Perhatian dan Cinta sebagai Inti Moralitas
Simone Weil adalah nama yang tidak bisa diabaikan ketika membahas Murdoch. Weil, filsuf dan mistikus Prancis yang meninggal pada 1943 pada usia tiga puluh empat tahun, mengembangkan konsep attention—perhatian—sebagai inti dari praktik spiritual dan moral. Dalam Waiting for God dan berbagai esai pendeknya, Weil berargumen bahwa perhatian bukan sekadar konsentrasi mental biasa. Perhatian sejati adalah sebuah cara memosisikan diri secara pasif di hadapan realitas, menangguhkan ego dan kehendak sendiri, membiarkan objek perhatian hadir apa adanya—bukan sebagaimana yang ingin kita lihat. Weil pertama-tama mengembangkan konsep ini dalam konteks doa dan hubungan dengan Tuhan; Murdoch mengambilnya dan menempatkannya dalam konteks etika sekuler yang jauh lebih luas.
Murdoch melihat bahwa apa yang Weil katakan tentang hubungan jiwa dengan Tuhan sesungguhnya berlaku untuk seluruh struktur perhatian moral. Masalah fundamental manusia dalam kehidupan moral bukan kurangnya pengetahuan tentang apa yang benar, melainkan ketidakmampuan melihat situasi dengan jernih karena ego yang terus-menerus mendistorsi persepsi. Murdoch menyebut ancaman ini dengan frasa yang tidak bisa dilupakan: “the fat relentless ego”—ego yang gemuk dan tak kenal lelah, yang terus-menerus menginterpretasi dunia dalam kaitannya dengan kepentingan, ketakutan, keinginan, dan citra diri sendiri. Ego bukan hanya masalah ketamakan atau keegoisan yang kasar; ia bekerja halus, bahkan dalam tindakan yang tampak murah hati.
Implikasi dari diagnosa ini sangat jauh jangkauannya. Jika masalah moral utama adalah distorsi persepsi oleh ego, maka solusinya bukan mencari prinsip yang lebih baik atau memperketat kemauan, melainkan melatih cara melihat. Murdoch menyebut proses ini unselfing—sebuah proses melemahkan ego sebagai pusat interpretasi, sehingga realitas bisa terlihat lebih jelas. Unselfing bukan penghancuran diri, melainkan pembebasannya dari tirani ego yang reaktif. Hasilnya adalah persepsi yang lebih jujur, lebih kasih, lebih responsif terhadap apa yang benar-benar ada di hadapan kita—bukan apa yang ingin kita lihat.
Cinta muncul di sini bukan sebagai perasaan romantis atau sentimentalitas, melainkan sebagai cara mengetahui. Murdoch menulis dalam The Sovereignty of Good: “Love is the extremely difficult realisation that something other than oneself is real.” Ini adalah kalimat yang deceptively simple—tampak mudah dipahami, tetapi semakin lama dipikirkan, semakin terasa kedalamannya. Mengakui bahwa orang lain benar-benar nyata—bukan sekadar figuran dalam drama hidupmu sendiri, bukan instrumen untuk tujuanmu, bukan ancaman bagi citramu—adalah salah satu pencapaian terbesar yang bisa dicapai manusia. Dan pencapaian itu, kata Murdoch, adalah cinta.
Taylor menekankan poin ini dengan kuat. Cinta dalam pengertian Murdoch adalah kondisi epistemologis, bukan hanya kondisi emosional. Kita tidak bisa sungguh-sungguh melihat orang lain tanpa cinta, karena tanpa cinta ego akan terus mengintervensi persepsi. Sebaliknya, dengan cinta kita bisa mulai melihat orang lain dengan kejernihan yang tak mungkin dicapai jika kita terus-menerus memandang dunia dari pusat ego sendiri. Ini berarti bahwa moralitas dimulai bukan dari keputusan atau komitmen, melainkan dari cara kita memandang—dan cara kita memandang ditentukan oleh seberapa jauh kita telah belajar mencintai.
Warisan Plato terasa jelas di sini. Dalam Simposion, Plato menggambarkan eros—cinta—sebagai daya yang menggerakkan jiwa menuju yang baik dan yang indah. Cinta bukan sekadar keinginan untuk memiliki, melainkan aspirasi menuju sesuatu yang melampaui diri. Murdoch mewarisi intuisi ini sepenuhnya: cinta adalah gerak jiwa menuju realitas, menuju kebenaran, menuju kebaikan. Ia adalah antitesis dari narsisisme—bukan karena ia menolak diri, melainkan karena ia menempatkan diri dalam hubungan yang tepat dengan realitas yang lebih besar dari diri.
Penting untuk membedakan konsep Murdoch tentang perhatian dari pengertian yang lebih umum tentang empati atau kepedulian. Empati dalam wacana populer sering diartikan sebagai kemampuan merasakan apa yang dirasakan orang lain—sebuah resonansi emosional. Murdoch menginginkan sesuatu yang lebih disiplin dan lebih kritis dari itu. Perhatian yang ia maksud bukan hanya merasakan, melainkan melihat dengan cermat—menangguhkan penilaian prematur, menahan asumsi, melepaskan tekanan untuk membuat situasi sesuai dengan apa yang kita inginkan. Ini adalah kerja intelektual dan spiritual sekaligus, bukan sekadar respons perasaan.
Taylor menggarisbawahi bahwa perhatian dan cinta dalam pengertian Murdoch memiliki dimensi moral yang tidak bisa direduksi pada teori etika manapun. Teori-teori etika bisa memberi panduan tentang apa yang harus dilakukan dalam situasi tertentu, tetapi mereka tidak bisa memberikan cara pandang yang dibutuhkan untuk melihat situasi itu dengan benar. Seorang dokter yang menerapkan prinsip-prinsip bioetika dengan tepat tetapi tidak pernah sungguh-sungguh melihat pasiennya sebagai manusia yang nyata—yang memiliki ketakutan, harapan, dan sejarahnya sendiri—tidak sedang berpraktik secara moral, meskipun ia tidak melanggar prosedur apapun.
Ada dimensi politik dari argumen ini yang sering diabaikan. Murdoch menulis dalam konteks yang sangat berbeda dari politik kontemporer, tetapi argumennya memiliki implikasi yang jauh. Perhatian yang terdistorsi oleh prasangka adalah sumber dari banyak ketidakadilan sosial. Rasisme, seksisme, dan berbagai bentuk diskriminasi tidak hanya terdiri dari tindakan diskriminatif yang sadar—ia berakar pada cara melihat yang sudah terdistorsi sebelum keputusan apapun dibuat. Memperbaiki cara melihat, melatih perhatian yang lebih jujur dan penuh kasih, adalah kerja moral yang mendahului dan memungkinkan kerja politik.
Konsep perhatian dan cinta Murdoch juga memiliki implikasi terhadap pendidikan moral. Jika moralitas pada dasarnya adalah tentang cara pandang, maka pendidikan moral tidak bisa berhenti pada pengajaran aturan atau pengembangan kebiasaan perilaku saja. Ia harus menyentuh persepsi, imaginasi, dan kapasitas untuk merasakan realitas orang lain. Ini adalah argumen untuk peran penting seni, sastra, dan pengalaman langsung dalam pendidikan moral—sesuatu yang Murdoch sendiri tunjukkan melalui seluruh karier novelistiknya. Seorang yang sudah membaca dengan serius novel-novel Murdoch tidak akan keluar sebagai orang yang telah mempelajari seperangkat prinsip moral, tetapi sebagai seseorang yang telah dilatih melihat dengan cara yang berbeda.
Narasi dan Teladan Moral
Filsafat moral analitik memiliki kecurigaan yang mendalam terhadap cerita. Argument harus berdiri atas dasar logika dan konsistensi, bukan atas daya pikat naratif. Contoh diizinkan masuk hanya sebagai ilustrasi prinsip yang sudah ada, bukan sebagai pembawa pengetahuan moral yang independen. Teori abstrak dinilai lebih andal karena bisa diterapkan secara universal, tidak bergantung pada kekhasan situasi atau keunikan tokoh. Ini adalah pandangan yang masuk akal dari dalam horizon filsafat analitik—tetapi Murdoch melihat di sini sebuah pemiskinan yang serius terhadap pemahaman moral manusia.
Sebagai novelis yang menulis dua puluh enam novel—termasuk The Bell (1958), A Severed Head (1961), The Black Prince (1973), dan The Sea, the Sea (1978)—Murdoch memiliki pengalaman langsung tentang apa yang bisa dilakukan narasi terhadap pemahaman moral. Novel tidak mendemonstrasikan prinsip; ia menampilkan kehidupan. Ia memperlihatkan bagaimana manusia membuat keputusan dalam tekanan waktu, tanpa informasi lengkap, di bawah beban psikologis, dengan motif yang bercampur-baur. Ia memperlihatkan konsekuensi yang tidak terduga, kebaikan yang tidak disengaja, dan kejahatan yang lahir dari niat baik. Tidak ada teori abstrak yang bisa melakukan ini.
Murdoch berargumen bahwa pemahaman moral manusia sebagian besar berbentuk naratif. Kita tidak memahami situasi moral dengan pertama-tama mengidentifikasi prinsip yang relevan lalu menerapkannya—proses yang selalu terlalu lamban dan skematik untuk mengikuti kecepatan kehidupan nyata. Kita memahaminya dengan mengenali pola, dengan mengingat situasi serupa yang pernah kita hadapi atau pernah kita baca, dengan membandingkan dengan figur-figur yang kita kenal atau kita kagumi. Pengetahuan moral yang hidup adalah pengetahuan yang tertanam dalam jaringan cerita—pengalaman sendiri dan pengalaman vikariously melalui sastra.
Taylor, dalam Sources of the Self, mengembangkan argumen serupa secara independen: bahwa identitas manusia pada dasarnya naratif. Kita memahami diri kita dengan cara menempatkan diri dalam cerita yang sedang berlangsung—cerita tentang siapa kita, dari mana kita berasal, ke mana kita menuju. Moralitas tertanam dalam cerita itu. Ketika kita bertanya “apakah ini yang harus aku lakukan?”, kita sesungguhnya bertanya “apakah ini konsisten dengan tokoh yang aku sedang bangun dalam cerita hidupku?” dan “apakah ini sesuai dengan cerita yang lebih besar—cerita komunitas, tradisi, atau keyakinan—yang memberi makna pada keberadaanku?” Tanpa naratif, pertanyaan moral kehilangan resonansi eksistensialnya.
Konsep teladan moral (moral exemplar) adalah salah satu kontribusi Murdoch yang paling sering diabaikan oleh komentator yang terbiasa membaca filsafat moral dalam bentuk teori. Murdoch berargumen bahwa pemahaman tentang kebaikan manusia tidak terutama datang dari prinsip abstrak, melainkan dari figur-figur yang kita kagumi—orang-orang yang cara hidupnya memperlihatkan apa artinya menjadi manusia yang baik dengan cara yang tidak bisa diparafrasekan dalam formula. Figur-figur ini bisa berasal dari tradisi religius, dari sejarah, dari sastra, atau dari kehidupan sehari-hari. Yang penting adalah mereka mewujudkan kebaikan dengan cara yang bisa dilihat dan dirasakan, bukan hanya dipahami secara intelektual.
Dalam tradisi Kristen, kehidupan Yesus telah selama berabad-abad berfungsi sebagai teladan moral utama—bukan terutama sebagai sumber doktrin, melainkan sebagai gambaran tentang apa artinya hidup dalam kasih, pengorbanan, dan kebenaran. Dalam Buddhisme, kisah Sang Buddha dan para Bodhisattva memberikan inspirasi bukan melalui argumen, melainkan melalui narasi kehidupan yang menunjukkan jalan menuju pembebasan dari penderitaan. Dalam Islam, kehidupan Nabi Muhammad SAW berfungsi sebagai uswatun hasanah—teladan yang baik—yang memberikan bimbingan moral melalui preseden hidup, bukan hanya melalui hukum. Murdoch menghidupkan kembali intuisi bahwa teladan adalah cara manusia belajar etika yang paling dasar dan paling efektif.
Taylor mengutip Murdoch untuk menekankan bahwa filsafat moral tidak boleh melupakan tradisi ini. Kekuatan teladan bukan irrasional—ia tidak bekerja dengan cara membelenggu akal dan menggantikannya dengan sentimen. Teladan bekerja karena ia memperlihatkan kemungkinan yang tidak bisa dibayangkan sebelumnya. Sebelum melihat teladan, seseorang mungkin tidak tahu bahwa keberanian seperti itu ada, bahwa kasih sebesar itu mungkin, bahwa kehidupan yang begitu terarah pada kebaikan bisa dijalani oleh manusia nyata. Teladan membuka imajinasi moral, memperluas cakupan apa yang tampak mungkin. Tidak ada teori yang bisa melakukan itu seefektif sebuah kisah yang diceritakan dengan baik.
Alasdair MacIntyre, dalam After Virtue (1981), mengajukan argumen yang bersebelahan: bahwa modernitas telah menghancurkan tradisi-tradisi naratif yang memberi konteks bagi praktik moral, dan akibatnya etika modern terdiri dari pecahan-pecahan yang tidak lagi koheren. MacIntyre dan Murdoch tidak sepenuhnya sejalan—MacIntyre lebih Aristotelian dalam arti yang lebih politik, lebih berorientasi pada tradisi dan komunitas—tetapi keduanya berbagi keyakinan bahwa narasi adalah medium penting pemahaman moral, bukan sekadar ornamen. Taylor mempertemukan keduanya bukan untuk meratakan perbedaan, melainkan untuk menunjukkan bahwa ada masalah nyata yang keduanya tengah deskripsikan.
Satu pertanyaan penting yang harus dihadapi: apakah tidak ada bahaya dalam ketergantungan pada narasi dan teladan? Teladan bisa dipalsukan, cerita bisa dimanipulasi, figur yang dikagumi bisa ternyata tidak setara dengan citranya. Murdoch tidak naif tentang ini. Ia sangat sadar bahwa imajinasi manusia bisa digunakan untuk fantasi maupun untuk melihat realitas, untuk menutup mata maupun untuk membuka. Novel-novelnya sendiri penuh dengan karakter yang membangun imajinasi moral yang salah, yang terjebak dalam narasi yang mendistorsi kemampuan mereka untuk melihat situasi dengan jelas. Kritik terhadap imajinasi yang buruk adalah bagian integral dari argumennya tentang pentingnya imajinasi yang baik.
Taylor melihat ini sebagai kekuatan, bukan kelemahan, dalam posisi Murdoch. Filsafat yang sadar akan kemungkinan distorsi dan fantasi—yang tidak hanya menawarkan metode benar tetapi juga mengidentifikasi cara-cara di mana kita bisa tersesat—adalah filsafat yang lebih jujur terhadap kompleksitas manusia nyata. Murdoch tidak mengklaim bahwa cerita otomatis menghasilkan pemahaman moral yang baik; ia mengklaim bahwa tanpa narasi dan teladan, pemahaman moral kita akan tetap dangkal dan abstrak. Dengan narasi dan teladan yang baik—dan kemampuan membacanya secara kritis—pemahaman itu bisa menjadi hidup.
Kritik terhadap Primacy of Life
Taylor mengidentifikasi sebuah asumsi yang sangat mendalam dalam moralitas modern: bahwa hidup—kehidupan manusia dan kesejahteraannya—adalah nilai tertinggi yang tidak membutuhkan pembenaran dari nilai lain. Asumsi ini sedemikian meresap dalam wacana modern sehingga sering tidak disadari sebagai asumsi sama sekali; ia tampak sebagai kebenaran yang self-evident. Tentu saja hidup adalah nilai tertinggi. Apa lagi yang bisa lebih penting dari kelangsungan hidup manusia? Etika, hak asasi manusia, hukum internasional—semuanya tampak dibangun di atas fondasi ini. Taylor menyebut posisi ini primacy of life, dan ia—dengan bantuan Murdoch—menunjukkan bahwa ia lebih bermasalah dari yang tampak.
Gagasan bahwa hidup adalah nilai tertinggi bukan alamiah atau abadi; ia memiliki sejarah. Taylor menelusurinya dalam Sources of the Self ke transformasi yang terjadi pada era Reformasi dan Pencerahan: afirmasi kehidupan biasa sebagai tandingan terhadap asketisme religius abad pertengahan, penolakan terhadap hirarki nilai yang menempatkan kehidupan kontemplatif atau heroik di atas kehidupan kerja dan keluarga sehari-hari. Ini adalah gerakan yang, dalam banyak hal, membebaskan: ia memberikan martabat pada kehidupan yang sebelumnya dianggap rendah, ia memperkuat perhatian terhadap kesejahteraan riil manusia biasa, ia mendorong perkembangan kedokteran dan ilmu pengetahuan yang peduli pada pengurangan penderitaan. Tetapi ia juga membawa bahaya tersendiri.
Bahaya yang Taylor identifikasi adalah apa yang ia sebut sebagai “moral flatness”—pendataran moral. Jika hidup adalah nilai tertinggi, dan jika nilai lain hanya bisa dibenarkan sejauh mereka melayani kehidupan, maka horizon moral menjadi sangat sempit. Pertanyaan tentang makna, tentang kejayaan, tentang apa yang layak dikorbankan dan apa yang tidak—semua ini menjadi susah untuk diartikulasikan tanpa terdengar tidak masuk akal atau bahkan berbahaya. Dalam logika primacy of life yang konsisten, seorang pejuang kemerdekaan yang rela mati untuk kebebasan negaranya adalah orang yang nilai-nilainya sulit dipahami, karena ia menempatkan sesuatu di atas kehidupannya sendiri.
Murdoch menyerang asumsi ini dari arah yang berbeda tetapi mengarah ke tempat yang sama. Baginya, reduksi semua nilai menjadi nilai kehidupan adalah bentuk penyempitan yang tidak bisa dipertahankan secara filosofis maupun secara fenomenologis—tidak sesuai dengan pengalaman manusia nyata. Manusia secara konsisten bertindak seolah-olah ada hal-hal yang lebih berharga dari kehidupan: kebenaran, keadilan, kehormatan, kasih yang sejati. Seorang yang menyimpan orang-orang yang dikejar-kejar di ruang rahasianya dengan risiko nyawa sendiri tidak sedang melakukan kesalahan kalkulasi; ia sedang mengekspresikan keyakinan bahwa ada yang lebih penting dari bertahan hidup. Menganalisis tindakan ini semata dalam kerangka primacy of life akan mendistorsinya.
Taylor menulis—dalam sebuah sintesis yang merangkum posisi Murdoch—bahwa hidup saja tidak cukup; ia harus diarahkan pada kebaikan. Ini adalah pernyataan yang kelihatannya sederhana tetapi mengandung kritik yang dalam terhadap etika yang hanya berorientasi pada kesejahteraan. Kesejahteraan manusia adalah penting—tentu saja—tetapi kesejahteraan yang tidak diarahkan pada apapun di luar dirinya sendiri adalah kesejahteraan yang dangkal. Manusia yang sehat, aman, sejahtera, tetapi tidak memiliki horizon di luar dirinya sendiri—tidak mencintai apapun yang lebih besar dari dirinya, tidak berkomitmen pada apapun yang benar-benar membutuhkan pengorbanan—adalah manusia yang, dalam terminologi Murdoch, belum sungguh-sungguh memulai perjalanan moral.
Kritik ini memiliki resonansi yang sangat kuat dalam konteks masyarakat konsumer modern. Konsumerisme tidak menolak nilai-nilai moral; ia menerimanya selama nilai-nilai itu pada akhirnya melayani kesenangan, kenyamanan, dan keamanan individu. Ia bahkan bisa mengakomodasi altruisme—filantropi, sukarela, kepedulian lingkungan—selama semua ini bisa diintegrasikan ke dalam gaya hidup yang nyaman dan memuaskan. Yang tidak bisa diakomodasi adalah komitmen yang sungguh-sungguh menuntut pengorbanan, yang menempatkan klaim eksternal di atas preferensi pribadi, yang menyatakan bahwa ada sesuatu yang lebih penting dari kesejahteraanku sendiri—dan aku harus merespons klaim itu meskipun tidak nyaman.
Murdoch tidak mempermasalahkan nilai hidup itu sendiri. Ia tidak menganjurkan asketisme atau pengabaian kesejahteraan. Yang ia persoalkan adalah hierarki nilai yang menempatkan hidup di puncak tanpa memeriksa apakah ada yang lebih fundamental. Bagi Murdoch, yang lebih fundamental adalah kebaikan—bukan sebagai sesuatu yang berlawanan dengan kehidupan, melainkan sebagai horizon yang memberi kehidupan arah dan makna. Kehidupan yang baik bukan kehidupan yang hanya bertahan dan makmur; ia adalah kehidupan yang diorientasikan pada sesuatu yang layak diorientasikan—sesuatu yang dalam terminologi Platonisnya ia sebut the Good.
Tradisi-tradisi religius besar selalu memahami ini secara intuitif. Konsep jihad dalam Islam, martyrdom dalam Kristen, dhamma dalam Buddhisme—semua ini mengandaikan bahwa ada nilai yang melampaui kehidupan fisik. Seorang Kristen abad pertama yang bersedia mati demi keyakinannya bukan sedang mengalami delusi; ia sedang bertindak berdasarkan hierarki nilai yang berbeda dari yang ditawarkan primacy of life. Murdoch tidak menganjurkan pengorbanan nyawa dalam konteks religius tersebut, tetapi ia mengerti mengapa tradisi-tradisi ini tidak bisa dipahami—apalagi dihormati—dari dalam kerangka primacy of life yang dangkal.
Taylor melihat tantangan praktis dari argumen ini: bagaimana mempertahankan hierarki nilai yang melampaui kehidupan dalam kondisi modern di mana klaim tentang nilai transenden selalu curiga dianggap manipulatif atau fanatik? Ini bukan pertanyaan retoris. Abad ke-20 penuh dengan contoh di mana nilai-nilai yang diklaim lebih tinggi dari kehidupan—Lebensraum, class struggle, racial purity—digunakan untuk membenarkan pembantaian massal. Kecurigaan terhadap nilai transenden ada alasannya. Tetapi solusinya bukan menghapus semua nilai transenden; solusinya adalah belajar membedakan antara nilai transenden yang sungguh-sungguh baik dan yang merupakan ideologi destruktif yang memakai bahasa transendensi.
Di sinilah relevansi filsafat Murdoch terasa paling mendesak. Ia menawarkan cara berpikir tentang nilai transenden—kebaikan—yang tidak bergantung pada doktrin atau ideologi tertentu, yang tidak bisa dengan mudah dimanipulasi untuk membenarkan kekerasan, dan yang tetap bisa diakui oleh siapapun yang bersedia melatih perhatian yang jujur terhadap realitas. The Good Murdoch tidak memiliki manifesto politik atau agenda institusional. Ia adalah horizon yang menarik perhatian moral menuju kejernihan yang lebih besar—dan dari kejernihan itu, tindakan yang lebih baik bisa lahir.
Iklim Pascarevolusioner
Ketika Taylor menyebut kondisi modern sebagai “iklim pascarevolusioner,” ia sedang mendeskripsikan sesuatu yang lebih dalam dari sekadar perubahan politik. Revolusi-revolusi besar modernitas—revolusi Prancis, revolusi industri, revolusi ilmiah, berbagai revolusi sosial abad ke-20—tidak hanya mengubah struktur kekuasaan; mereka mengubah horizon makna. Mereka menghancurkan tatanan lama yang mengandalkan wewenang tradisi, hierarki sosial yang dianggap alamiah, dan keyakinan religius yang tidak dipertanyakan. Yang datang menggantikannya—Pencerahan, positivisme, berbagai bentuk humanisme sekuler—menjanjikan sebuah dunia yang lebih baik, lebih rasional, lebih adil. Janji-janji itu sebagian terwujud, sebagian tidak, dan sebagian besar terbukti lebih rumit dari yang dibayangkan.
Iklim pascarevolusioner adalah kondisi setelah ilusi-ilusi besar itu pudar. Bukan hanya ilusi tradisi dan agama yang telah dirobohkan oleh modernitas; tetapi juga ilusi modernitas sendiri. Komunisme Soviet memperlihatkan bahwa utopia revolusioner bisa berubah menjadi teror. Kapitalisme liberal memperlihatkan bahwa kemajuan material tidak secara otomatis menghasilkan kehidupan yang bermakna atau masyarakat yang adil. Ilmu pengetahuan memperlihatkan bahwa pemahaman yang lebih mendalam tentang alam tidak membawa kebijaksanaan tentang bagaimana seharusnya manusia hidup. Yang tersisa adalah apa yang Taylor, dalam A Secular Age, sebut sebagai kondisi “immanent frame”—cakrawala yang tertutup pada immanensi, yang tidak memiliki jendela terbuka menuju transendensi.
Tetapi Taylor—dan Murdoch—menolak untuk menerima penutupan ini sebagai final. Salah satu argumen paling kuat dalam A Secular Age Taylor adalah bahwa kerinduan akan transendensi tidak hilang karena kondisi sosial dan budaya berubah; ia hanya mencari saluran-saluran baru. Fenomena estetika—keindahan alam, musik, puisi yang menggetarkan—terus membangkitkan pengalaman yang tampaknya menunjuk ke sesuatu di luar dunia sehari-hari. Cinta yang mendalam, keadilan yang heroik, pengorbanan yang murah hati—semua ini membawa kualitas yang terasa lebih besar dari dirinya sendiri. Manusia modern mungkin tidak tahu harus menyebutnya apa, tetapi mereka mengalaminya.
Murdoch masuk dalam iklim ini dengan sangat sadar. Ia memahami bahwa tidak ada jalan kembali ke kepercayaan religius tradisional yang tidak dipertanyakan—bukan karena agama sepenuhnya salah, melainkan karena kondisi epistemologis modern telah berubah sedemikian rupa sehingga kepercayaan semacam itu tidak bisa lagi berdiri tanpa refleksi. Tetapi ia juga menolak dengan keras pandangan bahwa satu-satunya alternatif yang tersedia adalah sekularisme reduktif yang menganggap semua pertanyaan tentang makna dan transendensi sebagai proyeksi psikologis atau ilusi sosial.
Posisi Murdoch bisa disebut—dengan hati-hati—sebagai “mistisisme tanpa dogma” atau, dalam ungkapan yang lebih tepat, “Platonisme yang dihayati.” Ia percaya pada realitas kebaikan transenden tanpa mengklaim pengetahuan spesifik tentang sifatnya atau tentang bagaimana ia berhubungan dengan narasi religius tertentu. Ini bukan agnostisisme yang acuh tak acuh; ini adalah posisi yang diambil dengan serius dan dipertahankan dengan argumentasi. Murdoch membaca teks-teks religius, terutama Plato, Injil, dan tradisi mistik Barat, bukan sebagai percaya atau tidak percaya pada proposisi-proposisi teologisnya, melainkan sebagai orang yang mencari kebijaksanaan tentang realitas moral.
Taylor melihat dalam posisi Murdoch ini sebuah respon yang tepat terhadap kondisi pascarevolusioner. Di satu sisi, Murdoch tidak menutup mata terhadap kerusakan yang telah dilakukan oleh berbagai bentuk dogmatisme—religius maupun sekuler. Di sisi lain, ia tidak menyerah pada pendataran moral yang terjadi ketika semua bentuk transendensi ditolak. Ia mencari jalan tengah yang tidak kompromi: sebuah pengakuan terhadap realitas kebaikan yang melampaui kalkulasi manusia, dipertahankan bukan dengan otoritas institusional melainkan dengan kejernihan filosofis dan kesaksian pengalaman.
Seni dan sastra memainkan peran penting dalam iklim pascarevolusioner ini, dan Murdoch menyadarinya secara mendalam. Ketika metafisika besar dan sistem teologis telah kehilangan kekuatan persuasifnya bagi banyak orang, seni tetap bisa berbicara tentang pengalaman transenden dengan cara yang tidak dogmatis. Sebuah simfoni, sebuah lukisan, sebuah novel yang benar-benar hebat—semuanya bisa membangkitkan pengalaman tentang keindahan dan kedalaman yang menunjuk ke sesuatu di luar dunia sehari-hari. Bukan secara dogmatis atau doktrinair, melainkan melalui pengalaman langsung yang tidak mudah ditolak.
Dalam kondisi ini, peran filsafat juga berubah. Filsafat tidak bisa lagi memposisikan diri sebagai pelayan teologi atau sebagai pengganti teologi yang lebih rasional. Ia harus bekerja di tanah yang lebih tidak pasti—mencari orientasi dalam kondisi di mana orientasi-orientasi lama sudah tidak bisa dipercaya begitu saja. Murdoch adalah contoh dari filsuf yang melakukan ini: ia tidak memulai dari sistem atau dari otoritas, melainkan dari pengalaman dan refleksi yang jujur tentang pengalaman itu, dari perhatian yang cermat terhadap karya-karya yang telah mampu menangkap sesuatu tentang realitas moral—Plato, Shakespeare, Dostoevsky, Tolstoy—dan dari kejujuran tentang apa yang masih belum terjelaskan.
Salah satu kontribusi Murdoch yang paling relevan untuk iklim pascarevolusioner adalah caranya menghubungkan perjuangan moral sehari-hari dengan orientasi transenden tanpa mengklaim keduanya harus dihubungkan melalui doktrin religius. Kita tidak perlu percaya pada Tuhan dalam pengertian teistik tradisional untuk merasakan tarikan kebaikan. Kita tidak perlu berkomitmen pada teologi tertentu untuk mengenali bahwa ego adalah hambatan bagi kejernihan moral. Kita tidak perlu menerima otoritas gereja atau kitab suci untuk mengakui bahwa ada dimensi realitas yang melampaui kalkulasi pribadi. Murdoch membuka jalan menuju transendensi yang bisa diakses tanpa harus meninggalkan integritas intelektual.
Taylor menutup refleksinya tentang iklim pascarevolusioner dengan sebuah penilaian yang tidak sentimental: kondisi ini bukan kondisi yang ideal, tetapi ini kondisi kita. Kita tidak bisa memilih untuk lahir dalam masyarakat pramodern di mana kepercayaan religius berjalan tanpa pertanyaan. Kita tidak bisa kembali ke sana. Tetapi kita juga tidak harus menerima bahwa sekularisme reduktif adalah satu-satunya masa depan yang tersedia. Murdoch adalah bukti bahwa ada pilihan lain—dan pilihan itu bukan nostalgia, melainkan kerja intelektual dan moral yang serius dan berkelanjutan.
Tantangan Nietzsche dan Neo-Nietzschean
Friedrich Nietzsche adalah pemikir yang tidak bisa diabaikan oleh siapapun yang serius mempersoalkan dasar-dasar moralitas modern. Dalam Genealogy of Morals (1887), ia mengajukan sebuah argumen yang mengubah seluruh lanskap diskusi etika: bahwa moralitas—terutama moralitas Kristen—bukan ekspresi dari kebaikan universal atau kebenaran objektif, melainkan produk sejarah, hasil dari perjuangan kekuasaan. Moralitas “budak”—yang memuji kerendahan hati, belas kasih, dan ketaatan—adalah, menurut Nietzsche, ressentiment yang terselubung: cara mereka yang lemah untuk membalik nilai-nilai yang menguntungkan mereka yang kuat, dengan mengklaim bahwa kelemahan adalah kebajikan. Analisis ini brutal, seringkali berlebihan, tetapi mengandung wawasan yang tidak mudah dibantah.
Dalam Beyond Good and Evil (1886) dan Thus Spoke Zarathustra (1883–1885), Nietzsche mengembangkan program positifnya: afirmasi kehidupan melampaui baik dan jahat, kehendak untuk kuasa (will to power) sebagai prinsip fundamental realitas, dan gambaran Übermensch—manusia yang telah melampaui moralitas budak dan menciptakan nilai-nilainya sendiri dengan berani. Ini adalah visi yang memikat dan mengganggu sekaligus. Memikat karena ia menolak kemunafikan dan kelembutan yang melemahkan; mengganggu karena implikasinya terhadap mereka yang tidak cukup kuat untuk menciptakan nilai sendiri tidak pernah sepenuhnya dijawab.
Taylor menempatkan tantangan Nietzsche dalam konteks yang lebih luas: ia adalah respon terhadap kematian Tuhan yang Nietzsche sendiri umumkan. Jika tidak ada Tuhan, jika alam semesta tidak memiliki tujuan yang inheren, jika tidak ada fondasi objektif untuk nilai—maka moralitas konvensional hanya bisa dipandang sebagai fiksi yang nyaman atau instrumen kekuasaan. Nietzsche menolak kenyamanan fiksi itu. Ia ingin menghadapi implikasi kematian Tuhan dengan jujur, tanpa mempertahankan moralitas Kristen secara substansial sambil membuang kulit religiusnya—sesuatu yang ia nilai sebagai ketidakjujuran terbesar para kaum humanis Pencerahan.
Murdoch memahami kekuatan serangan Nietzsche, dan ia tidak meresponsnya dengan argumen apologetik yang lemah. Ia mengakui bahwa banyak dari apa yang disebut “moralitas” dalam praktik memang adalah apa yang Nietzsche deskripsikan—campuran konformisme, rasa takut, dan kepentingan diri yang disamarkan sebagai prinsip universal. Ia tidak menolak diagnosa Nietzsche tentang kemunafikan moral; ia menolak kesimpulan yang Nietzsche tarik dari diagnosa itu. Bahwa moralitas bisa rusak dan sering rusak tidak berarti bahwa tidak ada moralitas yang sungguh-sungguh. Bahwa “kebaikan” bisa digunakan sebagai topeng kekuasaan tidak berarti bahwa tidak ada kebaikan yang nyata.
Para pewaris intelektual Nietzsche di Prancis—Michel Foucault, Jacques Derrida, Georges Bataille—meradikalisasi posisinya dalam berbagai arah. Foucault, dalam Discipline and Punish (1975) dan proyek genealogis lainnya, mengembangkan analisis Nietzsche tentang moral sebagai kekuasaan menjadi teori komprehensif tentang bagaimana berbagai wacana normatif—medis, psikiatris, hukum, pedagogis—bekerja sebagai instrumen disiplin dan kontrol sosial. Kebaikan, dalam pandangan Foucault, selalu bisa dicurigai sebagai kekuasaan yang bekerja di balik layar. Derrida, dengan proyek dekonstruksinya, menunjukkan bahwa setiap sistem makna—termasuk sistem moral—mengandung kontradiksi internal yang tidak bisa diatasi. Tidak ada fondasi yang stabil. Setiap klaim tentang kebenaran moral dapat didekonstruksi.
Bagi Bataille, tantangan terhadap moralitas mengambil bentuk yang lebih provokatif: ia memuliakan transgres—pelanggaran batas—sebagai pengalaman intensitas yang paling otentik. Dalam Erotism (1957) dan berbagai esainya, Bataille berargumen bahwa pengalaman batas—seksualitas, kekerasan, kematian, ekses—adalah pengalaman yang paling manusiawi, yang memecah kontinuitas individu dan menghadirkan sesuatu yang sakral. Moralitas konvensional, dalam pandangannya, adalah pengerdilan: ia menarik manusia dari pengalaman yang paling hidup dan paling autentik.
Taylor menunjukkan bahwa semua posisi ini—Foucault, Derrida, Bataille—memiliki kekuatan kritis yang nyata. Mereka menelanjangi kemunafikan, memperlihatkan cara-cara kekuasaan bekerja di balik wacana moral, mempertanyakan fondasi yang dianggap pasti. Tetapi mereka semua menghadapi masalah yang sama: jika tidak ada kebaikan yang nyata, jika semua klaim moral adalah kekuasaan atau fiksi, maka apa yang membuat kritik mereka sendiri bermakna? Foucault mengkritisi normalisasi dan disiplin—mengapa? Atas dasar apa? Jika tidak ada standar kebaikan yang melampaui kekuasaan, maka kritik terhadap normalisasi adalah sama artinya dengan normalisasi itu sendiri: keduanya hanya ekspresi dari kehendak tertentu untuk mendefinisikan dunia.
Murdoch melihat paradoks ini dengan jelas. Dan ia menolak untuk tinggal di dalamnya. Nietzsche adalah pemikir yang sungguh-sungguh—Murdoch mengakui ini—tetapi nihilisme yang ia hasilkan tidak bisa menjadi tempat tinggal. Penolakan terhadap moralitas konvensional yang korup tidak harus berakhir pada penolakan terhadap moralitas sama sekali. Justru keberanian intelektual untuk mengakui kemunafikan moral—yang Nietzsche pamerkan dengan cara yang paling dramatis—adalah sendirinya sebuah ekspresi dari orientasi moral yang lebih tinggi: komitmen pada kejujuran yang melampaui konvensi. Nietzsche sendiri, tanpa menyadarinya, sedang mengandalkan nilai yang ia klaim telah ditinggalkannya.
Respons Murdoch terhadap Neo-Nietzschean adalah memperlihatkan bahwa bahasa tentang kebaikan tidak bisa sepenuhnya dieliminasi dari wacana manusia—ia selalu akan kembali, meskipun dalam bentuk yang tidak diakui. Foucault berbicara tentang kebebasan, perlawanan, dan hak mereka yang dibungkam—ini adalah bahasa moral, meskipun Foucault menolak fondasi moral yang membuatnya bermakna. Derrida berbicara tentang keadilan yang “to come”—sebuah cita-cita yang selalu melampaui realisasi aktualnya—ini adalah bahasa tentang kebaikan, meskipun ia tidak bisa dibenarkan dalam kerangka dekonstruktifnya sendiri. Murdoch tidak menggunakan ini untuk mempermalukan mereka; ia menggunakannya sebagai argumen bahwa orientasi pada kebaikan lebih fundamental dari yang para pemikir itu mau akui.
Taylor menyimpulkan bahwa tantangan Nietzsche dan para pewaris Prancis-nya tetap relevan dan tidak boleh diabaikan. Mereka memaksa kita untuk berpikir lebih keras tentang landasan klaim moral kita, tentang cara moralitas bisa dikorupsi oleh kekuasaan, tentang kemunafikan yang sering mengintai di balik prinsip-prinsip yang terdengar mulia. Tetapi respons yang tepat terhadap tantangan ini bukan nihilisme; ia adalah upaya yang lebih serius dan lebih jujur untuk mengartikulasikan kebaikan—sebuah upaya yang Murdoch lakukan dengan lebih baik dari hampir siapapun dalam tradisi filsafat abad ke-20.
Alternatif Murdoch
Setelah kita menelusuri apa yang Murdoch tolak—reduksionisme kewajiban, sekularisme dangkal, primacy of life, nihilisme Nietzschean—pertanyaan yang tidak bisa dihindari adalah: apa yang ia tawarkan sebagai gantinya? Ini bukan pertanyaan retoris. Mengkritisi posisi yang ada adalah penting, tetapi kritik saja tidak cukup. Murdoch menyadari ini. The Sovereignty of Good dan Metaphysics as a Guide to Morals, terlepas dari panjang dan kerumitannya, adalah upaya sungguh-sungguh untuk membangun sebuah alternatif—bukan sistem yang menutup semua pertanyaan, melainkan sebuah orientasi yang membuka pertanyaan-pertanyaan yang tepat.
Inti dari alternatif Murdoch adalah realisme moral—keyakinan bahwa ada kebaikan yang nyata, yang ada secara objektif, yang tidak sepenuhnya bergantung pada konstruksi manusia atau konsensus sosial. Ini bukan realisme naif yang mengklaim akses langsung terhadap daftar lengkap kebenaran moral. Ini adalah realisme yang lebih moderat dan lebih kritis: pengakuan bahwa ada arah yang benar dalam perkembangan moral—ke arah kejernihan, kasih, dan respons yang tepat terhadap realitas—meskipun kita tidak pernah bisa mengklaim telah sepenuhnya sampai di sana. Kebaikan adalah cakrawala yang selalu ada di depan, yang menarik tanpa pernah bisa sepenuhnya diraih.
Warisan Platonis Murdoch bukan ornamen akademis; ia adalah tulang punggung dari seluruh alternatifnya. Plato berargumen bahwa the Good adalah prinsip tertinggi yang membuat segala hal yang baik, benar, dan indah menjadi apa adanya. Ia adalah cahaya yang memungkinkan kita melihat, bukan sebuah objek yang bisa dilihat seperti objek-objek lainnya. Murdoch mengambil intuisi ini secara serius, walaupun ia tidak mengikuti Plato dalam semua detailnya. Baginya, the Good adalah sesuatu yang bisa kita rasakan tarikannya, yang bisa kita respons dalam tindakan dan perhatian, tetapi yang tidak bisa kita definisikan secara final dan memuaskan dalam bahasa proposisi.
Implikasi dari realisme moral ini bagi kehidupan praktis adalah bahwa kerja moral tidak pernah selesai. Kita tidak bisa mencapai suatu titik di mana kita bisa berkata: saya sudah memenuhi semua kewajiban saya, saya sudah mengoptimalkan utilitas yang bisa saya hasilkan, saya sudah selesai. Kehidupan moral adalah perjalanan yang berkelanjutan—perjalanan menuju cara melihat yang lebih jernih, menuju kasih yang lebih tulus, menuju respons yang lebih tepat terhadap realitas orang-orang dan situasi-situasi yang kita hadapi. Ini adalah pandangan yang lebih menuntut dari etika kewajiban, dan juga lebih manusiawi: ia mengakui bahwa kita selalu bisa menjadi lebih baik, dan bahwa menjadi lebih baik adalah pencapaian yang bermakna meskipun tidak pernah final.
Pengaruh Murdoch terhadap generasi filsuf yang datang setelahnya jauh lebih besar dari yang sering diakui dalam diskusi akademis. John McDowell, dalam Mind and World (1994) dan Mind, Value, and Reality (1998), mengembangkan epistemologi moral yang sangat dipengaruhi oleh konsep “moral vision” Murdoch: gagasan bahwa persepsi moral adalah bentuk persepsi yang nyata, bukan sekadar proyeksi perasaan ke atas realitas yang netral nilai. Martha Nussbaum, dalam Love’s Knowledge (1990), berargumen bahwa emosi dan narasi—terutama novel—adalah bagian integral dari pemahaman etika, bukan gangguan atau suplemen yang tidak perlu. Bahkan filsuf seperti Alasdair MacIntyre dan Charles Taylor sendiri menaruh utang konseptual yang tidak kecil pada Murdoch, meskipun masing-masing mengembangkan posisi yang berbeda secara signifikan.
Taylor sendiri mengakui bahwa pembacaannya terhadap Murdoch telah membentuk cara ia berpikir tentang hubungan antara moralitas dan identitas, antara cara melihat dan cara bertindak, antara horizon nilai dan kehidupan konkret. Dalam Sources of the Self, Taylor berbicara tentang “strongly valued goods”—nilai-nilai yang kita pegang bukan hanya sebagai preferensi tetapi sebagai sesuatu yang membuat tuntutan terhadap kita, yang mendefinisikan siapa kita dan siapa kita seharusnya. Konsepsi ini sangat Murdochian: ia mengakui bahwa nilai-nilai yang sungguh-sungguh bukan hanya apa yang kita pilih, melainkan apa yang kita respons—seolah-olah mereka memanggil kita dari luar.
Salah satu kekuatan terbesar alternatif Murdoch adalah kemampuannya untuk berbicara dengan serius kepada orang-orang yang tidak lagi bisa menerima kepercayaan religius tradisional tetapi juga tidak puas dengan sekularisme yang dangkal. Ia tidak menuntut kita untuk menerima dogma—ia menuntut kita untuk melihat dengan lebih jujur. Ia tidak memerlukan kepercayaan pada Tuhan pribadi—ia memerlukan kepercayaan bahwa kebaikan nyata, bahwa kasih adalah pengetahuan, bahwa ego adalah hambatan yang harus dilampaui. Bagi banyak orang di kondisi modern, ini adalah tuntutan yang bisa diterima—bahkan menggugah—dengan cara yang tidak bisa dilakukan oleh klaim teologis yang lebih besar.
Tentu saja alternatif Murdoch tidak tanpa keterbatasan. Konsepnya tentang the Good tetap agak kabur secara filosofis—cukup kuat untuk menarik, tetapi tidak cukup spesifik untuk memberikan panduan dalam situasi moral yang konkret dan kompleks. Murdoch cenderung berbicara pada level yang sangat abstrak tentang kebaikan dan perhatian, sementara pertanyaan tentang bagaimana menerapkan prinsip-prinsip ini dalam keputusan yang spesifik—politik, ekonomi, medis—relatif kurang mendapat perhatian. Ini adalah ruang kosong yang pemikir-pemikir seperti Nussbaum telah berusaha mengisi, dengan hasil yang tidak selalu memuaskan.
Namun demikian, keterbatasan ini tidak melemahkan kontribusi utama Murdoch—justru ia mencerminkan prinsipnya sendiri bahwa kebaikan tidak bisa sepenuhnya diformulasikan. Apa yang ditawarkan Murdoch bukan sistem siap pakai melainkan orientasi yang tepat dan metode yang benar: mulai dari perhatian, bukan dari prinsip; dari kasih, bukan dari kalkulasi; dari respons terhadap realitas, bukan dari penerapan algoritma. Jika seseorang sungguh-sungguh menginternalisasi orientasi ini—jika perhatian yang jujur dan kasih yang terdisiplin benar-benar menjadi cara hidupnya—maka keputusan-keputusan spesifik yang tepat akan lebih mungkin muncul dari sana daripada dari aplikasi mekanis dari teori apapun.
Taylor menutup tafsirnya tentang Murdoch dengan penilaian yang tidak berlebihan tetapi juga tidak meremehkan: Murdoch adalah salah satu figur yang paling penting dalam etika abad ke-20 karena ia mengajukan pertanyaan yang tepat di saat yang tepat. Ketika filsafat moral mengancam tenggelam dalam formalisme teknis di satu sisi dan nihilisme di sisi lain, Murdoch mengingatkan bahwa ada jalan tengah yang tidak kompromi—sebuah jalan yang menghormati kompleksitas moralitas tanpa menyerah pada relativisme, yang mengakui realitas kebaikan tanpa memerlukan dogma, yang menjadikan kasih dan perhatian sebagai pusat etika tanpa mengorbankan ketelitian intelektual.
Kesimpulan
Membaca Charles Taylor dan Iris Murdoch adalah pengalaman yang tidak meninggalkan kita di tempat yang sama. Bukan karena keduanya menawarkan sistem yang meyakinkan—mereka tidak; tidak ada sistem dalam pemikiran Murdoch, dan Taylor tidak membangunnya. Melainkan karena keduanya—masing-masing dengan caranya sendiri—memaksa kita untuk mengambil jarak dari cara berpikir tentang etika yang telah menjadi kebiasaan, dan untuk menyadari bahwa kebiasaan itu telah menghalangi pertanyaan yang paling penting.
Kontribusi Murdoch, seperti yang Taylor tafsirkan, bisa diringkas dalam beberapa tesis yang saling menopang. Pertama, moralitas bukan terutama tentang tindakan—ia tentang cara pandang, dan cara pandang yang tepat adalah cara pandang yang dilatih oleh kasih dan perhatian, yang telah mengikis distorsi ego. Kedua, the Good adalah sesuatu yang nyata, bukan konstruksi manusia, tetapi juga bukan proposisi teologis yang bisa dirumuskan secara final—ia adalah horizon yang menarik dan yang harus direspons, bukan sistem yang harus diterima. Ketiga, narasi dan teladan adalah media pemahaman moral yang tidak bisa digantikan oleh prinsip abstrak—tanpa cerita dan figur inspiratif, imajinasi moral kita mengering. Keempat, kehidupan manusia hanya bermakna jika diarahkan pada sesuatu yang melampaui dirinya—kebaikan yang lebih besar dari kepentingan pribadi, dari kenyamanan, bahkan dari kehidupan itu sendiri.
Tesis-tesis ini bukan konklusi baru yang tidak pernah dipikirkan sebelumnya. Dalam berbagai bentuk, mereka bisa ditemukan dalam tradisi-tradisi filsafat dan agama yang jauh lebih tua dari Murdoch. Yang Murdoch lakukan adalah mengartikulasikannya kembali dengan kejernihan dan kejujuran yang dibutuhkan dalam kondisi modern—tanpa dogma, tanpa nostalgia, dengan penuh kesadaran tentang tantangan yang harus dihadapi. Taylor membantu kita melihat bahwa inilah yang membuatnya begitu penting: bukan orisinalitas doktrinnya, melainkan keberanian dan kejernihan yang ia bawa pada pertanyaan yang paling fundamental.
Apa relevansi semua ini bagi pembaca di sini, sekarang? Kita hidup dalam kondisi yang dalam banyak hal persis kondisi yang Murdoch dan Taylor deskripsikan: iklim pascarevolusioner di mana ilusi-ilusi besar telah pudar, tetapi kerinduan akan makna dan kebaikan tidak. Kita hidup di masyarakat yang didominasi oleh primacy of life dalam bentuknya yang paling konsumeristis: yang menilai segalanya dari seberapa besar ia berkontribusi pada kesejahteraan, kenyamanan, dan kesenangan individu. Kita hidup dengan warisan skeptisisme Nietzschean yang telah meresap ke dalam budaya populer dalam bentuk relativisme moral yang tidak dipikirkan—perasaan bahwa semua nilai adalah sama-sama valid atau sama-sama konstruksi, bahwa tidak ada yang benar-benar lebih baik atau lebih buruk, hanya berbeda.
Terhadap kondisi ini, Murdoch menawarkan sesuatu yang sederhana tetapi revolusioner: belajarlah melihat. Bukan dengan lebih banyak informasi, bukan dengan prinsip yang lebih canggih, bukan dengan teknologi moral yang lebih efisien—melainkan dengan latihan perhatian yang sungguh-sungguh, dengan disiplin kasih yang membersihkan distorsi ego, dengan kesediaan untuk mengakui bahwa ada kebaikan di luar diri sendiri yang menuntut respons. Ini adalah program yang tidak bisa diprogram, tidak bisa diukur dengan metrik, dan tidak bisa diselesaikan dalam satu generasi. Tetapi ia adalah program yang benar.
Taylor, sebagai pembaca Murdoch yang paling komprehensif dan setia, mengingatkan kita bahwa membaca Murdoch adalah lebih dari sekadar studi akademis. Ia adalah undangan untuk memeriksa kembali cara kita sendiri melihat dunia—untuk bertanya apakah ego kita telah mendistorsi apa yang ada di hadapan kita, apakah kita sungguh-sungguh melihat orang-orang yang ada dalam kehidupan kita, apakah kita diorientasikan pada sesuatu yang cukup besar dan cukup baik untuk memberi makna pada keberadaan kita. Pertanyaan-pertanyaan ini tidak memiliki jawaban yang mudah. Tetapi mengajukannya dengan serius adalah langkah pertama dari perjalanan moral yang Murdoch yakin masih mungkin—dan masih sangat diperlukan.





