Religion โ€ข Geopolitics โ€ข Intelligence โ€ข Civilization

Indonesawit: Potret Luka Nusantara dari Hutan Belantara ke Hamparan Sawit

Pendahuluan โ€“ Menyusuri Luka Bumi Pertiwi Indonesia adalah negara kepulauan dengan salah satu hutan tropis terbesar di dunia, menyimpan lebih dari 10% spesies tumbuhan dan hewan yang dikenal secara global (FAO, 2020). Namun, dalam beberapa dekade terakhir, peta hijau itu kian terkoyak oleh pembukaan lahan untuk perkebunan kelapa sawit, pertambangan, dan proyek infrastruktur ekstraktif. Perubahan ini bukan sekadar transformasi ekonomi, melainkan juga transformasi ekologis dan sosial yang memengaruhi jutaan warga di berbagai pulau besar Indonesia (Margono et al., 2014). Dalam perjalanan dari Samarinda, Sulawesi Tengah, Bengkulu, hingga Merauke, bentang alam Nusantara menampilkan wajahnya yang baru. Di Samarinda, Sungai Mahakam yang dulu menjadi jalur perdagangan rempah kini dipenuhi kapal tongkang pengangkut batubara yang berlayar siang-malam. Bahodopi di Sulawesi Tengah berubah menjadi โ€œlorong industriโ€ di mana truk tambang dan alat berat mendominasi jalanan. Bengkulu diselimuti debu batubara dari truk terbuka, membuat udara sesak dan kotor. Di Merauke, ratusan kilometer hutan Papua telah rata menjadi kebun sawit, meninggalkan garis-garis cokelat di peta satelit seperti luka yang menganga. Fenomena ini sejalan dengan data Global Forest Watch yang mencatat bahwa Indonesia kehilangan rata-rata 1,47 juta hektare hutan setiap tahun antara 2001 dan 2019 (Global Forest Watch, 2021). Sebagian besar kehilangan ini terkait dengan ekspansi perkebunan kelapa sawit (Greenpeace Indonesia, 2021). Dalam konteks Papua, program Merauke Integrated Food and Energy Estate (MIFEE) sendiri mencakup rencana pembukaan lahan hingga 1,2 juta hektare, sebagian besar di atas hutan primer dan lahan gambut (Ginting & Pye, 2013). Situasi yang serupa ditemukan di provinsi Riau dan Kalimantan Barat, di mana bentang alam telah terfragmentasi menjadi petak-petak kebun sawit. Di Riau, lebih dari 60% daratan telah berubah menjadi perkebunan (Walhi Riau, 2020). Di Kalimantan Barat, pembukaan hutan di hulu sungai besar telah mengubah pola hidrologi, memicu banjir besar yang menenggelamkan permukiman warga (Walhi, 2021). Perbandingan ini menunjukkan bahwa fenomena yang saya

Artikel ini tersedia untuk pelanggan. Silakan berlangganan untuk membaca selengkapnya.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *