#23 Cerita Dibalik Touring Indonesia Harmoni

Kamaruzzaman Bustamam Ahmad

 


Kami
turun dari bus sambil mencari tempat beristirahat. Inilah kali pertama saya ke
Terminal Pulo Gebang, yang diklaim terminal terbesar di Asia Tenggara. Sekuriti
24 jam. Mereka sibuk meminta penumpang untuk memakai masker. Masjid ada di
lantai bawah. Kantin harganya cukup ramah dengan kantong musafir. Intinya,
sangat beruntung kami sempat transit di terminal ini. Menjelang pagi hari, kami
mulai hunting loket bus Putra Pelangi
yang akan ke Medan. Setelah sarapan kami mendapati loket Putra Pelangi ada di
sudut bus-bus yang ke Sumatera. Rupanya loket bus belum buka. Namun, ada
seorang petugas yang mengatakan bahwa loketnya akan buka agak siang dan kami
dipersilahkan untuk menitipkan barang kami di depan loket.

Petugas
tersebut memberitahukan bahwa ada ruangan transit yang nyaman bagi calon
penumpang berada di Gedung sebelah terminal. Kami memutuskan untuk mencari
ruangan yang dimaksud. Setelah bertanya ke beberapa petugas, akhirnya kami
menemukan ruang hall yang disekat oleh dinding. Di dalam setiap ruangan ada
kasur. Petugas keamanan mengatakan bahwa harga untuk satu kamar selama 24 jam hanya
15 ribu rupiah. Kami terkejut, karena fasilitas yang bagus ini dihargai dengan
harga Rp. 15000. Namun, antara wanita dan pria harus dipisahkan antara blok
khusus bagi pria dan wanita. Walaupun sudah pasangan sah, aturan di penginapan
ini harus masuk ruangan yang khusus bagi wanita dan pria. Akhirnya, kami
membayar untuk dua ruangan.

See also  #41 Cerita Dibalik Touring Indonesia Harmoni: Rute Pulau Jawa

Ruang istirahat di Terminal Pulo Gebang, Rp. 15.000 saja.


Ruangan
ini memang hanya untuk beristirahat. Kasur dan sprei lumayan bersih. Karena bus
kami berangkat jam 2 siang, maka ada waktu setengah hari untuk merebahkan
badan. Ini kali pertama kami mendapatkan harga kamar yang super murah selama
Touring Indonesia Harmoni. Ruangan hall ini ada pendingin udara secara sentral.
Jadi, suhu dan kelembaban udara sangat terjaga. Kamar mandi cukup bersih dan
fasilitasnya sekelas penginapan lazimnya. Jadi, kami terus menikmati fasilitas
kamar seharga satu bungkus nasi ini. Di dalam kamar ini juga tersedia untuk
melakukan charging android.

Ketika
sedang beristirahat, tiba-tiba masuk telpon dari petugas loket Putra Pelangi,
bahwa kami harus melakukan lapor diri dan memastikan bahwa kami sudah melakukan
Swab Anti Gen, sebagai syarat untuk
melakukan penyeberangan Merak – Bakauheni. Semua persyaratan tersebut kami
tuntaskan demi kelancaran kepulangan ke Aceh. Menjelang jam 3 sore, kami pun
berangkat naik bus Putra Pelangi. Alangkah terkejut istri saya ketika melihat
bus Putra Pelangi, yang jauh sekali antara gambar yang dia lihat di aplikasi
dengan yang sedang dia naiki. Saya tidak terkejut. Bus-bus Aceh yang ke pulau
Jawa memang tidak seperti bus-bus Aceh yang melaju dari rute Banda Aceh – Medan
atau Takengon – Medan. Bus-bus “tua” biasanya yang akan digunakan oleh
perusahan untuk merayap di Jalinsum.

See also  Our Story Touring Around Indonesia Harmoni: Riding a Motorcycle from Aceh to Papua


Bus
berangkat, kami kemudian pasrah dengan keadaan bus. Rupanya nasib kami sama
dengan ketika naik Sinar Jaya. AC bus sama sekali tidak dingin. Para penumpang
sibuk menggerutu. Udara panas diluar menjadikan koridor bus tidak dingin.
Karena kami duduk di barisan kedua, maka tidak begitu merasakan kepanasan,
kendati istri saya sudah mengeluh dengan kondisi bus. Dia mengidamkan bus yang
akan dia naiki ke Medah adalah bus mewah Aceh, yang pernah dia tumpangi saat
dari Banda Aceh – Medan atau sebaliknya. Perjalanan dimulai untuk mengambil
beberapa penumpang di agen-agen bus Putra Pelangi.


Also Read

Bagikan:

Tags

1 thought on “#23 Cerita Dibalik Touring Indonesia Harmoni”

Leave a Comment