Mészáros: Modal Produksi, Kesadaran, dan Batas Pengetahuan
Esai ini menelaah argumen sentral István Mészáros dalam Social Structure and Forms of Consciousness, Volume I: The Social Determination of Method. Mészáros tidak sekadar menulis tentang filsafat sosial. Ia membangun sebuah tesis besar: bahwa cara berpikir manusia tidak lahir di ruang hampa, melainkan dibentuk oleh struktur sosial tempat pemikir itu berpijak. Dari sini lahir pertanyaan yang tidak mudah dilepaskan: apakah pemikiran besar para intelektual Barat sejak abad ke-17 hingga hari ini sungguh merupakan pencarian kebenaran universal, ataukah ia merupakan artikulasi kepentingan historis kelas yang berkuasa? Esai ini mengembangkan argumen Mészáros secara lapis demi lapis, dengan latar belakang teoretis dari Marx, Hegel, Descartes, Adam Smith, hingga Hayek.
Modal Produksi sebagai Penentu Metode: Dari Mana Pengetahuan Lahir
Mészáros membuka bukunya dengan sebuah pernyataan yang sederhana secara permukaan, tetapi mengandung konsekuensi yang jauh: formasi sosial yang dikuasai oleh kekuatan kapital telah berlangsung selama satu zaman historis yang panjang, dan belum menunjukkan tanda-tanda berakhir. Pernyataan ini bukan nostalgia Marxis. Ia adalah titik berangkat analitis. Bila suatu zaman berlangsung lama dan belum berakhir, maka seluruh produksi pengetahuan di dalamnya perlu dibaca dengan satu pertanyaan yang selalu dihidupkan: pengetahuan siapa, untuk kepentingan apa, dan di atas landasan sosial yang mana?
Pertanyaan ini bukan baru dalam tradisi ilmu sosial. Marx sendiri telah meletakkan dasarnya dalam The German Ideology, sebuah teks yang ditulis bersama Engels pada pertengahan abad ke-19. Di sana Marx menulis bahwa kesadaran tidak pernah dapat menjadi sesuatu yang lain selain kesadaran atas praktik. Artinya, cara manusia berpikir tentang dunia tidak terlepas dari cara mereka hidup, bekerja, dan berhubungan satu sama lain dalam struktur produksi tertentu. Kesadaran bukan cermin dunia; ia adalah produk dari hubungan-hubungan sosial yang menentukan bentuk kehidupan material manusia. Mészáros mengambil titik berangkat ini dan mengembangkannya jauh ke dalam wilayah metodologi sosial.
Yang membedakan Mészáros dari banyak penerus Marx adalah ia tidak berhenti pada pernyataan umum tentang determinisme material. Mészáros masuk ke dalam persoalan yang lebih spesifik dan lebih menantang: apakah parameter metodologis dari suatu zaman dapat secara fundamental diubah, bahkan oleh pemikir terbesar sekali pun? Jawabannya tegas dan tidak memberi penghiburan mudah. Selama struktur sosial yang mendasari suatu zaman belum digantikan secara menyeluruh oleh sebuah tatanan baru, maka perubahan metodologis yang tampak radikal pun tetap terjadi di dalam batas-batas yang ditentukan oleh struktur tersebut. Ini bukan pernyataan tentang takdir, melainkan tentang kondisi struktural.
Untuk memahami kenapa posisi ini penting, kita perlu melihat apa yang dimaksud Mészáros dengan “parameter metodologis” sebuah zaman. Ini bukan sekadar metode keilmuan dalam arti teknis. Yang dimaksud ialah kerangka konseptual terdalam yang menentukan apa yang dianggap pertanyaan sah, apa yang dianggap jawaban masuk akal, dan apa yang dianggap sama sekali tidak layak dipertanyakan. Dalam tradisi epistemologi, ini dekat dengan apa yang Thomas Kuhn sebut sebagai “paradigma” dalam The Structure of Scientific Revolutions (1962), tetapi Mészáros tidak berhenti pada dimensi kognitif. Ia mendorong analisis ke akar sosial dari paradigma itu sendiri: siapa yang memiliki kepentingan dalam mempertahankan suatu cara berpikir tertentu, dan bagaimana kepentingan itu beroperasi di dalam kehidupan intelektual konkret?
Di sinilah Mészáros memperkenalkan konsep kunci yang menjadi tulang punggung seluruh argumennya: “standpoint of political economy.” Ini adalah sudut pandang yang diambil oleh mayoritas pemikir besar zaman kapital, yaitu memandang dunia dari posisi yang menempatkan relasi-relasi produksi kapitalis sebagai sesuatu yang given, tidak dipersoalkan, dan seolah-olah natural. Dari sudut pandang ini, pertanyaan tentang bagaimana kapital sendiri muncul secara historis, bagaimana ia dipertahankan melalui konflik kelas, dan bagaimana ia dapat dilampauhi, menjadi pertanyaan yang secara struktural tersisih dari wilayah pemikiran yang sah. Bukan karena ada larangan eksplisit, melainkan karena sudut pandang itu sendiri memiliki horizon yang tidak melampaui premis-premis dasar reproduksi kapital.
Gagasan ini memiliki genealogi teoritis yang panjang. Dalam tradisi sosiologi pengetahuan, Karl Mannheim dalam Ideology and Utopia (1929) sudah mengajukan bahwa semua pemikiran memiliki karakter “perspektivis,” artinya ia selalu dilihat dari posisi sosial tertentu. Namun Mannheim berakhir pada relativisme yang membuat semua pandangan setara secara epistemologis. Mészáros menolak jalan itu. Ia menerima bahwa pengetahuan bersifat perspektivis, tetapi tidak semua perspektif berada dalam posisi yang sama dalam kaitannya dengan kebenaran historis. Kelas yang memiliki kepentingan nyata dalam memahami seluruh realitas sosial secara jujur justru adalah kelas yang berada di luar lingkaran kepentingan kapital, yakni mereka yang hanya bisa melampaui kondisinya dengan memahami kondisi itu secara benar.
Ini juga yang membedakan pendekatan Mészáros dari sosiologi pengetahuan a la Durkheim. Durkheim dalam The Elementary Forms of Religious Life (1912) menunjukkan bahwa kategori-kategori dasar pemikiran manusia, seperti ruang, waktu, dan kausalitas, lahir dari pengalaman kolektif masyarakat. Tetapi Durkheim tidak memberi perhatian memadai pada konflik internal masyarakat. Ia cenderung memandang masyarakat sebagai keseluruhan yang harmonis yang menghasilkan representasi kolektif bersama. Mészáros melihat ke arah yang berlawanan: masyarakat bukanlah totalitas yang harmonis, melainkan arena konflik antara kepentingan-kepentingan yang secara struktural bertentangan. Karena itu, pengetahuan yang lahir dari arena tersebut tidak pernah netral.
Dengan landasan ini, Mészáros membangun argumen yang menjadi inti buku: ada kontinuitas metodologis besar dalam seluruh tradisi pemikiran borjuis, mulai dari filsafat abad ke-17 hingga teori sosial kontemporer. Kontinuitas ini bukan kebetulan, bukan pula hasil dari kesepakatan sadar para pemikir. Ia adalah produk dari kenyataan bahwa mereka semua berdiri di atas tanah sosial yang sama: zaman kapital dengan premis-premis produktifnya yang belum dilampaui. Karena itu, membaca tradisi intelektual Barat secara kritis berarti membaca tidak hanya apa yang dikatakan para pemikir, tetapi juga apa yang tidak dapat mereka katakan, dan mengapa.
Batas Struktural Kapital dan Kegagalan Melampaui Cakrawala Epistemik
Salah satu kontribusi paling orisinal Mészáros adalah konsep “ultimate structural limits” atau batas-batas struktural tertinggi kapital. Konsep ini penting karena ia menjelaskan mengapa perubahan-perubahan metodologis yang tampak radikal di dalam tradisi pemikiran borjuis, seperti pergeseran dari Descartes ke Kant, dari Kant ke Hegel, atau dari Hegel ke positivisme modern, pada akhirnya tetap berada di dalam batas yang sama. Batas-batas ini bukan pagar yang terlihat dan dapat dipanjat. Ia bekerja justru melalui ketidaktampakan, melalui apa yang dianggap sudah pasti, yang dianggap tidak perlu dipersoalkan lagi.
Untuk memahami ini, kita perlu kembali kepada Marx. Dalam Capital Volume III, Marx menulis tentang “trinity formula” kapitalisme: kapital menghasilkan keuntungan, tanah menghasilkan sewa, dan buruh menghasilkan upah. Formula ini tampak sebagai deskripsi faktual tentang bagaimana dunia bekerja, tetapi bagi Marx ia adalah mystifikasi. Ia menyembunyikan fakta bahwa semua nilai sebenarnya lahir dari kerja manusia, dan bahwa apa yang disebut “keuntungan kapital” adalah bentuk lain dari nilai lebih yang diambil dari kerja. Mészáros mengembangkan intuisi ini ke tingkat metodologis: cara memahami dunia yang menerima “trinity formula” sebagai sesuatu yang natural adalah cara memahami dunia yang sudah berada di dalam batas struktural kapital, bahkan sebelum satu pertanyaan diajukan.
Mészáros menunjukkan bahwa batas-batas struktural ini bekerja pada dua tingkat sekaligus. Pertama, pada tingkat praktis: premis-premis dasar reproduksi kapital, seperti pemisahan antara buruh dan alat produksi, pengelolaan seluruh keputusan produktif oleh personifikasi kapital, dan pengaturan metabolisme sosial melalui mekanisme pasar, berfungsi sebagai kondisi yang tidak dapat ditinggalkan satu per satu. Ia harus ditinggalkan secara keseluruhan, atau tidak sama sekali. Ini sebabnya Mészáros menolak gagasan tentang “reformasi parsial” kapital yang dapat mengubah sistem secara fundamental. Kedua, pada tingkat metodologis: selama premis-premis praktis tersebut tidak dilampaui, maka parameter metodologis yang sesuai dengannya juga tidak dapat dilampaui, seberapa pun brilian pemikir yang mencobanya.
Hegel adalah contoh yang Mészáros gunakan dengan sangat teliti. Hegel adalah salah satu pemikir dialektis terbesar dalam sejarah filsafat Barat. Filsafatnya mengakui kontradiksi, perubahan, dan perkembangan historis sebagai inti realitas. The Phenomenology of Spirit (1807) adalah salah satu karya yang paling dalam dalam sejarah pemikiran manusia tentang hubungan antara kesadaran dan realitas. Namun Hegel, justru pada puncak dialektikanya, melanggar prinsip dialektisnya sendiri. Dalam Philosophy of Right (1821), negara Prusia diidealisasi sebagai puncak perkembangan rasio historis. Kontradiksi yang nyata dalam masyarakat borjuis ditransubstansiasikan menjadi “kenikmatan universal” dari setiap individu yang tunduk di bawah sistem hierarkis kontrol sosial kapital. Ini bukan kegagalan personal Hegel. Ini adalah kegagalan yang ditentukan secara struktural.
Adam Smith adalah contoh lain yang tidak kalah menarik. Smith adalah pemikir yang jujur. Dalam The Wealth of Nations (1776), ia mengakui dampak dehumanisasi dari pembagian kerja terhadap para buruh. Ia bahkan menulis dengan nada yang kuat tentang bagaimana fragmentasi kerja merusak kemampuan intelektual manusia. Tetapi pengakuan ini tidak mengubah posisi metodologisnya. Smith tetap melihat kapital sebagai “sistem alami kebebasan dan keadilan yang sempurna.” Celah antara deskripsi kritis dan kesimpulan apologetis ini tidak lahir dari inkonsistensi pribadi. Ia adalah akibat dari batas struktural yang tidak memungkinkan Smith mengambil langkah terakhir yang diperlukan: mengpersoalkan premis fundamental bahwa tatanan kapital adalah tatanan natural.
Friedrich Hayek adalah kasus yang lebih kontemporer dan lebih terbuka. Dalam The Road to Serfdom (1944) dan karya-karya selanjutnya, Hayek mengidealisasikan “extended economic order” kapital dalam istilah yang sepenuhnya positif, sementara menggambarkan segala alternatif sosialis sebagai jalan menuju perbudakan. Mészáros menyebut ini sebagai pengabaian wanton terhadap fakta-fakta historis yang paling jelas. Hayek melakukan apa yang secara konseptual harus dilakukan oleh setiap ideologi dominan: ia mengeternalisasikan tatanan saat ini, membuatnya tampak bukan sebagai produk sejarah yang spesifik, melainkan sebagai ekspresi dari tatanan rasional yang kekal. Ini adalah pekerjaan pokok dari batas-batas struktural kapital di tingkat metodologis.
Pertanyaan yang muncul kemudian adalah: apakah tidak ada celah sama sekali? Apakah tidak ada ruang bagi pemikir dalam tradisi borjuis untuk melihat melampaui batas-batas itu? Mészáros memberikan jawaban yang nuansanya penting. Pemikir-pemikir besar seperti Hegel, Ricardo, bahkan Smith, dapat melihat sampai ke tepi batas. Mereka dapat mendeskripsikan kontradiksi-kontradiksi nyata. Tetapi justru ketika mereka berada di tepi batas itulah, logika internal dari posisi metodologis mereka mendorong mereka mundur, bukan maju. Mereka merumuskan semacam “rekonsiliasi teoritis,” sebuah jalan untuk mengakui kontradiksi tanpa mengubah premis yang menghasilkan kontradiksi itu. Hegel adalah maestro rekonsiliasi semacam ini.
Ini membawa kita kepada implikasi metodologis yang paling mendasar dari argumen Mészáros. Memahami batas-batas struktural kapital bukan sekadar kritis terhadap pemikiran borjuis. Memahaminya adalah kondisi yang diperlukan untuk membangun alternatif metodologis yang sungguh-sungguh baru. Bila seseorang tidak menyadari bahwa parameter metodologisnya masih berada di dalam batas-batas yang sama, maka perubahan apapun yang dilakukan hanya menggeser posisi di dalam ruang yang sama, tanpa pernah keluar dari ruang itu. Karena itulah Mészáros bersikeras bahwa kritik terhadap tradisi borjuis harus bersifat imanen sekaligus transenden: imanen dalam arti ia harus memahami tradisi itu dari dalam, dan transenden dalam arti ia harus bergerak melampaui premis-premis yang mendefinisikan batas-batas tradisi itu.
Tujuh Watak Metodologis Teori-Teori dalam Zaman Kapital
Mészáros mengidentifikasi tujuh karakteristik metodologis yang muncul secara konsisten dalam berbagai sistem pemikiran yang lahir di dalam dan untuk mendukung formasi sosial kapital. Tujuh karakteristik ini bukan daftar kelemahan yang disusun secara arbitrer. Ia adalah anatomi dari cara berpikir yang lahir dari kebutuhan struktural untuk mengartikulasikan dan mempertahankan kepentingan kapital. Setiap karakteristik saling terhubung dan membentuk satu jaringan konseptual yang utuh, sehingga melepaskan salah satu saja tidak mungkin tanpa mempertanyakan keseluruhannya.
Karakteristik pertama adalah orientasi programatik terhadap ilmu pengetahuan alam dan peran kunci yang diberikan kepada sains dalam teori dan praktik. Ini bukan sekadar penghargaan terhadap sains. Yang dimaksud adalah pengadopsian model sains alam sebagai model universal untuk seluruh pengetahuan, termasuk pengetahuan tentang masyarakat dan manusia. Dalam tradisi Enlightenment, terutama yang diwarisi oleh positivisme abad ke-19 dan ke-20, masyarakat diperlakukan seolah-olah ia adalah sistem mekanis yang dapat dipahami melalui hukum-hukum umum yang bersifat universal dan bebas nilai. Auguste Comte, pendiri positivisme, memimpikan “fisika sosial” yang bekerja dengan presisi yang sama seperti fisika Newton. John Stuart Mill dalam System of Logic (1843) mengembangkan metode induktif yang ia harapkan dapat diterapkan pada ilmu-ilmu sosial dengan standar yang sama dengan ilmu alam. Masalahnya bukan pada sains itu sendiri, melainkan pada perluasan epistemologis yang menyamakan realitas sosial dengan realitas fisik.
Karakteristik kedua adalah kecenderungan umum kepada formalisme. Teori-teori dalam tradisi borjuis cenderung beroperasi pada tingkat bentuk yang abstrak, bukan pada substansi hubungan-hubungan sosial yang konkret dan historis. Ekonomi neo-klasik adalah ilustrasi yang paling jelas. Teori ini membangun model-model matematis yang sangat canggih tentang pasar, harga, dan alokasi sumber daya, tetapi model-model tersebut beroperasi dalam dunia abstrak di mana hubungan-hubungan kekuasaan, sejarah eksploitasi, dan kontradiksi struktural antara modal dan tenaga kerja tidak masuk sebagai variabel. Formalisme ini bukan semata-mata kegagalan teknis. Ia adalah cara memastikan bahwa pertanyaan-pertanyaan yang secara metodologis paling merusak bagi legitimasi kapital, yakni pertanyaan tentang asal-usul dan pemeliharaan nilai lebih, tidak pernah muncul dalam bahasa yang diakui sah oleh disiplin tersebut.
Karakteristik ketiga adalah sudut pandang individualitas yang terisolasi dan padanannya dalam ekonomi politik kapital. Individu dalam tradisi liberal diperlakukan sebagai unit dasar realitas sosial, sebagai titik berangkat yang given dan tak perlu dipersoalkan. Dari sini lahir kontrak sosial Hobbes dan Locke, utility maximizer dalam ekonomi klasik, dan “self-seeking individual” dalam sistem Hegel. Yang tersembunyi di balik konsepsi ini adalah kenyataan bahwa individualitas yang konkret selalu merupakan individualitas yang berada di dalam relasi-relasi sosial tertentu. Seorang buruh upahan bukanlah individu abstrak yang memilih secara bebas; ia adalah subjek historis yang posisinya dalam struktur produksi sudah ditentukan sebelum ia membuat pilihan apapun. Metodologi yang memulai dari individu abstrak dengan demikian sudah sejak awal memotong kemampuan untuk memahami determinasi sosial dari pilihan-pilihan individual.
Karakteristik keempat adalah determinasi negatif filsafat dan teori sosial. Yang dimaksud Mészáros di sini adalah kecenderungan untuk mendefinisikan berbagai domain sosial dalam oposisi satu sama lain, tanpa mampu mengonseptualisasikan mediasi konkret yang menghubungkannya. Negara versus masyarakat sipil, individu versus kolektif, teori versus praktik, fakta versus nilai: semua pasangan dikotomis ini menandai tradisi pemikiran borjuis secara konsisten. Habermas, dalam teori tindakan komunikatifnya, masih bekerja di dalam skema semacam ini ketika ia memisahkan “lifeworld” dan “system” sebagai domain yang berbeda secara prinsipial. Yang luput adalah pemahaman tentang bagaimana dikotomi-dikotomi tersebut adalah produk sejarah dari cara tertentu mengorganisir produksi sosial, bukan struktur abadi dari realitas manusia.
Karakteristik kelima adalah penindasan temporal historis yang semakin nyata dan akhirnya sangat merusak. Ini mungkin karakteristik yang paling menentukan secara strategis. Ideologi dominan tidak dapat mempertahankan klaimnya terhadap universalitas tanpa secara sistematis menyangkal watak historis dari tatanan yang dibelanya. Bila kapital adalah produk sejarah, maka ia dapat diubah oleh sejarah. Karena itu, teori-teori yang mendukung kapital cenderung mengeternalisasikan tatanan ini: membuatnya tampak bukan sebagai produk proses historis yang spesifik, melainkan sebagai ekspresi dari kondisi-kondisi alami, rasional, atau universal dari kehidupan manusia. Hegel mengeternalisasikan negara borjuis sebagai “aktualisasi rasional” dari semangat dunia. Neo-klasikisme mengeternalisasikan hukum penawaran dan permintaan sebagai hukum alam ekonomi. Hayek mengeternalisasikan tatanan spontan pasar sebagai hasil evolusi yang tidak dapat digantikan.
Karakteristik keenam adalah pemaksaan matriks kategorial yang dualistik dan dikotomis atas filsafat dan teori sosial. Ini terhubung erat dengan karakteristik keempat, tetapi memiliki dimensi khusus: dikotomi-dikotomi ini dipaksakan bahkan kepada pemikir terbesar yang secara eksplisit berusaha mengatasinya. Hegel adalah lagi-lagi contoh terbaik. Hegel secara sadar membangun filsafatnya sebagai upaya mengatasi dikotomi antara subjek dan objek, antara yang partikular dan yang universal. Tetapi di dalam filsafat hukumnya, ia mendarat pada rekonsiliasi palsu: kontradiksi antara kepentingan individual dan kepentingan universal “diselesaikan” melalui negara, yang sebenarnya hanya melegitimasi hirarki sosial yang ada. Jalan keluar spekulatif itu tidak mengubah fondasi kausal kontradiksi dalam dunia yang nyata.
Karakteristik ketujuh adalah postulat abstrak tentang “kesatuan” dan “universalitas” sebagai transendensi harapan dari dikotomi-dikotomi yang persisten, menggantikan mediasi nyata, dan pengatasan spekulatif dari kontradiksi sosial besar tanpa mengubah fondasi kausalnya sedikit pun. Ini adalah watak yang paling sering tampak dalam karya-karya besar tradisi borjuis. Sistem-sistem besar yang diklaim merangkum seluruh realitas, dari metafisika Hegel hingga teori sistem Talcott Parsons, memiliki kecenderungan yang sama: mereka mengklaim sintesis yang melampaui kontradiksi, tetapi sintesis itu terjadi di tingkat konseptual sementara kontradiksi konkret tetap berlanjut di dunia nyata. Karena itu ketujuh karakteristik ini bukan sekadar kelemahan teknis individual; ia adalah konstelasi metodologis yang koheren, lahir dari kebutuhan struktural untuk mempertahankan tatanan yang ada.
Intelektual sebagai Personifikasi Kapital: Pilihan Sadar, Bukan Paksaan
Mészáros sangat berhati-hati untuk tidak membiarkan argumennya jatuh ke dalam determinisme mekanis. Bila metodologi para pemikir besar ditentukan secara sosial, apakah berarti mereka tidak memiliki tanggung jawab moral dan intelektual? Apakah Hegel, Adam Smith, atau Hayek sekadar korban dari kondisi sosial yang tidak dapat mereka kendalikan? Mészáros menjawab dengan tegas: tidak. Yang terjadi justru sebaliknya. Para intelektual besar zaman kapital secara aktif dan dengan kesadaran penuh menjadikan sudut pandang kapital sebagai milik mereka. Mereka bukan korban; mereka adalah pelaku aktif dalam proses artikulasi dan pembaruan ideologi dominan.
Untuk memahami posisi ini, kita perlu kembali kepada Marx. Dalam Capital, Marx berbicara tentang “personifikasi kapital” untuk mendeskripsikan para kapitalis: mereka bukan sekadar agen dari kepentingan struktural yang bekerja melalui mereka, melainkan individu-individu yang secara sadar mengidentifikasikan diri dengan logika kapital, yang menghidupi logika tersebut, dan yang aktif memelihara serta memperluas sistem yang membuat mereka menjadi apa adanya. Mészáros memperluas konsep ini ke wilayah intelektual. Para intelektual borjuis, seberapa pun besarnya mereka sebagai pemikir, menjalankan fungsi yang serupa dalam domain ideologis.
Ini tidak berarti bahwa mereka berbohong atau berpura-pura. Mészáros sangat menekankan poin ini. Para intelektual yang bersangkutan secara tulus meyakini bahwa mereka mengekspresikan kepentingan universal masyarakat, bukan hanya kepentingan kelas yang berkuasa. Keyakinan ini bahkan menjadi bagian dari cara sistem bereproduksi: ideologi yang paling efektif adalah ideologi yang dihidupi secara tulus oleh para pengusungnya, bukan ideologi yang dijalankan sebagai pertunjukan. Ilusi bahwa seseorang mengekspresikan kepentingan universal justru menjadi kondisi yang memungkinkan ideologi tersebut berfungsi sebagai ideologi yang benar-benar berkuasa.
Di sini Mészáros bersinggungan dengan konsep hegemoni Antonio Gramsci. Dalam Prison Notebooks, Gramsci mengembangkan analisis tentang bagaimana kelas yang berkuasa mempertahankan dominasinya tidak hanya melalui paksaan fisik, tetapi melalui persetujuan aktif dari mereka yang dikuasai. Kunci dari mekanisme ini adalah intelektual organik: para pemikir yang lahir dari kondisi suatu kelas dan yang mengekspresikan pandangan dunia kelas tersebut sebagai pandangan dunia universal. Yang membedakan Mészáros dari Gramsci adalah tekanan yang lebih kuat pada dimensi struktural: bukan hanya intelektual yang dekat dengan kepentingan borjuis yang beroperasi dalam cara ini, melainkan hampir seluruh tradisi intelektual borjuis yang paling brilian pun beroperasi dalam kerangka yang sama, justru karena mereka berada di atas tanah sosial yang sama.
Penting untuk memahami implikasi dari posisi ini terhadap cara kita membaca sejarah ide. Membaca Kant, misalnya, bukan berarti kita harus menolak seluruh filsafatnya karena ia adalah intelektual borjuis. Mészáros tidak mengajarkan pembacaan yang sempit seperti itu. Yang ditekankan adalah bahwa kita harus membaca Kant dengan pertanyaan yang selalu aktif: di mana batas-batas struktural beroperasi dalam pemikirannya? Di mana ia membuka kemungkinan-kemungkinan baru, dan di mana ia menutup pertanyaan-pertanyaan yang paling mendasar? Kita harus dapat membaca antara baris-baris teks, bukan dalam arti mencari makna tersembunyi yang arbitrer, melainkan dalam arti memperhatikan logika konseptual yang pada momen-momen krusial memaksanya untuk tidak mengambil langkah tertentu.
Tidak ada ideologi yang berkuasa secara absolut, dan Mészáros memperhatikan ini dengan serius. Bahkan ideologi yang paling kokoh pun tidak dapat mengabaikan sepenuhnya berbagai posisi alternatif yang ada, setidaknya dalam bentuk yang dikendalikan. Ini bukan karena ideologi dominan lemah, melainkan justru karena ia kuat: sistem yang cukup kokoh dapat memasukkan kritik-kritik marjinal ke dalam dirinya sendiri sebagai bukti keterbukaannya, sambil memastikan bahwa kritik-kritik tersebut tidak menyentuh premis fundamentalnya. Liberalisme Barat modern sangat lihai dalam permainan ini: ia mengakomodasi berbagai kritik dari kiri dan kanan, tetapi menetapkan batas yang tidak terucapkan dengan jelas bahwa premis fundamental tatanan kapital tidak boleh dipersoalkan secara radikal.
Intelektual yang secara aktif memperbarui posisi ideologis kapital melakukannya melalui apa yang Mészáros sebut sebagai proses “articulating” dan “renewing.” Mereka tidak sekadar mereproduksi argumen-argumen lama. Mereka mengadaptasinya terhadap kondisi historis baru, memberikan jawaban baru atas pertanyaan-pertanyaan baru, dan memastikan bahwa tatanan yang ada tetap memiliki legitimasi intelektual di setiap fase perkembangannya. Tanpa pembaruan yang konstan ini, tatanan dominan tidak dapat bertahan. Karena itu, para intelektual bukan sekadar refleksi pasif dari struktur sosial; mereka adalah unsur aktif dalam reproduksi struktur tersebut.
Dengan demikian, tanggung jawab intelektual menjadi sangat besar dalam pandangan Mészáros. Bila para intelektual secara aktif memilih untuk mengidentifikasikan diri dengan sudut pandang kapital, maka ada kemungkinan yang berlawanan: intelektual dapat juga secara aktif memilih untuk berdiri di luar batas-batas struktural tersebut, untuk mempertanyakan premis-premis yang biasanya dianggap tidak perlu dipertanyakan, dan untuk mengembangkan perspektif metodologis yang berbasis pada kepentingan kelas-kelas yang tidak terikat pada reproduksi tatanan kapital. Ini bukan keputusan yang mudah atau tanpa risiko. Tetapi Mészáros menegaskan bahwa keputusan ini adalah keputusan, bukan takdir.
Marx, Hegel, dan Timbal Balik Dialektis antara Manusia dan Sejarah
Salah satu keberatan paling umum terhadap argumen tentang determinasi sosial atas metode adalah bahwa ia tampak mekanis: seolah-olah struktur sosial secara langsung dan secara sederhana menentukan isi pemikiran. Mészáros sangat menyadari keberatan ini dan ia menolaknya dengan keras. Hubungan antara struktur sosial dan bentuk-bentuk kesadaran tidak bersifat mekanis, satu arah, atau langsung. Ia bersifat dialektis, resiprokal, dan dimediasi oleh praktik manusia yang konkret. Di sinilah Marx dan Hegel menjadi sangat penting, tidak sebagai otoritas yang harus diikuti secara dogmatis, melainkan sebagai sumber konseptual yang paling kaya untuk memahami kompleksitas hubungan tersebut.
Marx dalam The German Ideology, yang dikutip panjang oleh Mészáros, menguraikan sebuah konsepsi sejarah yang dimulai dari proses produksi nyata, dari produksi material kehidupan itu sendiri. Konsepsi ini tidak mengatakan bahwa ide tidak penting. Yang dikatakan adalah bahwa ide tidak lahir dari langit, bukan dari “Spirit” yang bergerak sendiri seperti dalam Hegel, melainkan dari praktik material manusia yang konkret dan dari bentuk-bentuk hubungan sosial yang lahir dari praktik itu. Tetapi kesadaran yang lahir dari praktik tersebut kemudian balik mempengaruhi praktik; ia menjadi kekuatan sejarah sendiri. Inilah yang dimaksud Marx dengan “timbal balik” atau “reciprocal action”: antara struktur dan kesadaran, antara basis dan superstruktur, tidak ada determinasi satu arah.
Hegel adalah pemikir yang pertama kali mengembangkan dialektika dalam pengertian filosofis yang paling dalam. Dalam The Phenomenology of Spirit, Hegel menunjukkan bahwa kesadaran tidak berdiri berhadapan dengan realitas sebagai penonton pasif. Kesadaran terlibat dalam proses dialektis yang berkelanjutan dengan objek-objeknya: ia mengubah dunia melalui tindakannya, dan dunia yang diubah itu kemudian mengubah kesadaran. Proses ini tidak memiliki titik akhir yang statis; ia adalah gerak yang terus-menerus melalui kontradiksi. Mészáros mewarisi intuisi ini, tetapi meletakkannya di atas landasan yang berbeda: bukan gerakan Roh yang bergerak dalam dirinya sendiri, melainkan gerak praktik manusia konkret dalam kondisi historis tertentu.
Yang penting dalam argumen Mészáros adalah bahwa timbal balik dialektis ini tidak berarti bahwa semua faktor memiliki bobot yang sama. Dalam kondisi zaman kapital, relasi-relasi produksi yang berbasis pada kapital memberikan determinasi yang lebih menentukan terhadap bentuk-bentuk kesadaran daripada sebaliknya. Ini bukan determinisme sepihak; ia adalah pengakuan bahwa dalam hierarki mediasi yang kompleks, ada faktor-faktor yang lebih fundamental dari yang lain. Modal produksi, cara masyarakat mengorganisir dirinya untuk menghasilkan dan mendistribusikan nilai, adalah faktor yang paling fundamental. Tetapi “paling fundamental” tidak sama dengan “satu-satunya” atau “tanpa mediasi.”
Descartes menjadi ilustrasi yang digunakan Mészáros untuk menunjukkan kontras historis yang sangat mengungkapkan. Descartes, yang menulis Discourse on Method pada 1637, sangat terobsesi dengan persoalan metodologis, yaitu bagaimana menemukan landasan pengetahuan yang pasti setelah semua prasangka dan tradisi diragukan. Keraguan metodologisnya bukan keraguan untuk keraguan itu sendiri; tujuannya adalah menemukan kepastian. Descartes menulis bahwa desainnya adalah menemukan landasan kepastian agar pengetahuan dapat menjadi berguna secara praktis, agar manusia dapat menjadi “lords and possessors of nature.” Di sini ada hubungan organis antara teori dan praktik, antara pencarian metodologis dan proyek penguasaan dunia alam. Descartes hidup di awal zaman kapital, ketika kelas borjuis masih dalam fase askendannya, dan optimisme tentang kemampuan manusia untuk memahami dan mengubah dunia masih bersifat jujur dan hidup.
Edmund Husserl, filsuf besar abad ke-20, menawarkan kontras yang sangat mengungkapkan. Husserl dalam Crisis of European Sciences dan tulisan-tulisannya tentang “theoretical attitude” membangun oposisi yang kaku antara sikap teoritis dan sikap praktis. Menurutnya, sikap teoritis yang sejati harus melibatkan epoché, yakni bracketing atau penangguhan semua kepentingan praktis. Mészáros melihat ini sebagai tanda kemunduran historis. Bila pada awal zaman kapital teori dan praktik terhubung secara organis dalam proyek penguasaan alam, maka pada tahap lanjut kapital, ketika kontradiksi sistem semakin dalam, teori borjuis mulai membangun tembok antara dirinya dan praktik sosial sebagai perlindungan dari pertanyaan-pertanyaan yang tidak dapat dijawab. Husserl yang dalam suasana ancaman fasisme hanya dapat mengajukan “heroism of Reason” sebagai counter-force adalah bukti tragis dari kebangkrutan metodologis ini.
Timbal balik dialektis juga bermakna bahwa perubahan sejarah tidak dapat dipahami sebagai proses yang sepenuhnya terkontrol atau sepenuhnya spontan. Marx berbicara tentang “disappearing necessity,” suatu keharusan yang memudar, dengan istilah Jerman “eine verschwindende Notwendigkeit.” Maksudnya adalah bahwa kondisi-kondisi historis yang pada satu masa tampak sebagai keharusan yang mutlak, pada masa berikutnya mulai memudar ketika praktik manusia mengubah kondisi-kondisi tersebut. Ini adalah konsepsi tentang kebebasan manusia yang tidak bersifat idealis (bebas dari semua kondisi) maupun fatalis (tunduk sepenuhnya pada kondisi), melainkan materialistis-dialektis: kebebasan adalah kemampuan untuk memahami dan mengubah kondisi nyata yang menentukan gerak sejarah.
Konsekuensinya untuk metodologi sosial sangat besar. Sebuah metodologi yang sungguh-sungguh kritis harus dapat memahami hubungan antara struktur sosial dan bentuk-bentuk kesadaran tanpa jatuh ke dalam mekanisme sederhana maupun idealisme yang mengambang. Ia harus mampu menunjukkan bagaimana kondisi historis tertentu membatasi dan sekaligus membuka kemungkinan-kemungkinan tertentu, bagaimana praktik manusia dimediasi oleh dan sekaligus memediasi kondisi-kondisi tersebut, dan bagaimana proses ini bergerak secara historis, bukan dalam garis lurus menuju tujuan yang telah ditentukan sebelumnya, melainkan melalui konflik, kontradiksi, dan momen-momen keputusan konkret yang tidak dapat direduksi menjadi formula teoritis.
Ideologi Dominan dan Penghapusan Waktu Historis
Mészáros mengidentifikasi penghapusan temporalitas historis sebagai salah satu watak paling merusak dari teori-teori dalam zaman kapital. Ini bukan sekadar kesalahan teknis dalam argumen-argumen filosofis. Ia adalah kebutuhan strategis dari setiap ideologi yang berkuasa. Bila suatu tatanan sosial diakui sebagai produk sejarah yang spesifik, maka ia secara logis dapat dilampaui oleh sejarah. Karena itu, ideologi dominan harus secara sistematis menyangkal, mengaburkan, atau mengintervensi dimensi historis dari tatanan yang dibelanya. Hasilnya adalah apa yang Mészáros sebut sebagai “anti-historical view of the allegedly unalterable system of societal reproductive interchange.”
Untuk memahami mekanisme ini lebih dalam, kita perlu melihat bagaimana ideologi bekerja dalam pengertian yang lebih luas dari sekadar sekumpulan gagasan. Louis Althusser dalam Lenin and Philosophy (1971) mengembangkan konsep “Ideological State Apparatuses” untuk menunjukkan bahwa ideologi bukan hanya gagasan dalam kepala orang, melainkan juga praktik yang dijalankan melalui institusi-institusi. Sekolah, gereja, media, dan hukum berfungsi tidak hanya sebagai alat transmisi informasi, tetapi juga sebagai alat “interpelasi” yang memanggil individu-individu untuk mengidentifikasikan diri dengan posisi subjek tertentu dalam tatanan sosial. Tetapi Mészáros bergerak lebih jauh: ia menunjukkan bahwa penghapusan historisitas bukan hanya bekerja melalui institusi, melainkan terembed dalam struktur konseptual dari teori-teori yang paling abstrak sekalipun.
Hayek adalah contoh yang paling terang. Dalam The Constitution of Liberty (1960) dan Law, Legislation and Liberty (1973), Hayek mengembangkan argumen bahwa tatanan pasar adalah “extended order” yang muncul secara spontan dari interaksi individual selama berabad-abad, sebuah produk evolusi yang tidak dapat direncanakan dan tidak dapat digantikan tanpa menghancurkan kondisi-kondisi yang memungkinkan peradaban manusia. Ini adalah eternalisasi yang sangat canggih. Kapital tidak lagi tampak sebagai tatanan yang lahir dari proses historis yang spesifik, dari akumulasi primitif yang melibatkan kekerasan, perampasan tanah, dan pembentukan paksa tenaga kerja bebas. Ia tampil sebagai produk evolusi alami yang telah menunjukkan keunggulannya secara empiris. Dengan cara ini, pertanyaan tentang alternatif menjadi pertanyaan yang secara epistemologis tidak sah, karena menggantikan produk evolusi yang terbukti dengan rancangan yang disengaja dianggap sebagai hubris yang berbahaya.
Francis Fukuyama dalam The End of History and the Last Man (1992) adalah versi kontemporer dari operasi yang sama. Dengan mendeklarasikan bahwa sejarah telah berakhir pada liberalisme demokratik kapital sebagai bentuk akhir organisasi manusia, Fukuyama tidak hanya membuat klaim empiris tentang kondisi post-Cold War. Ia melakukan sesuatu yang lebih mendalam secara metodologis: ia menutup horison historis. Bila sejarah telah berakhir, maka pertanyaan tentang apa yang datang setelah kapital bukan hanya pertanyaan yang tidak dapat dijawab, melainkan pertanyaan yang tidak memiliki makna. Ini adalah penghapusan temporalitas yang sangat sistematis, yang terjadi justru melalui bahasa sejarah itu sendiri.
Mészáros juga memberikan perhatian khusus kepada kontras antara cara pemikir-pemikir dari masa yang lebih jauh dan konseptualisasi abad ke-20 tentang masalah-masalah yang sama. Descartes, seperti sudah disinggung, memiliki relasi organis antara keraguan metodologisnya dan keyakinannya bahwa pengetahuan dapat dan harus berguna bagi proyek transformasi praktis dunia. Ia menulis dengan optimisme tentang kemampuan manusia untuk menjadi penguasa dan pemilik alam. Optimisme ini mungkin memiliki masalahnya sendiri, terutama dalam kaitannya dengan eksploitasi ekologi, tetapi ia mencerminkan momen historis ketika kelas borjuis dalam ascendance-nya masih memiliki keberanian intelektual untuk menghadapi dunia secara terbuka.
Yang terjadi pada abad ke-20 adalah sesuatu yang berbeda. Ketika Husserl, menghadapi ancaman barbarisme Nazi, hanya dapat mengajukan “heroism of Reason” yang sepenuhnya spekulatif sebagai perlawanan, ini bukan karena Husserl adalah pemikir yang kurang serius daripada Descartes. Ini adalah tanda bahwa posisi metodologis yang dibangun di atas epoché dari semua kepentingan praktis tidak memiliki sumber daya untuk menjawab krisis konkret ketika krisis itu datang. Metodologi yang menutup diri dari dimensi praktis dan historis tidak hanya secara intelektual terbatas; ia secara strategis tidak berdaya di hadapan kekuatan-kekuatan historis yang nyata.
Sejarah yang dihapus juga berarti masa depan yang diblokir. Ini adalah poin yang Mészáros tekankan dengan keras: penghapusan temporalitas historis bukan hanya tentang pengingkaran masa lalu, melainkan terutama tentang penutupan masa depan. Bila tatanan kapital dinaturalisasikan, dieternalisasikan, atau diakhirisasikan, maka imajinasi tentang tatanan yang berbeda menjadi tidak hanya sulit, tetapi secara epistemologis dianggap tidak sah. Ini adalah kekerasan konseptual yang jauh lebih efektif dari paksaan fisik: ia tidak melarang pikiran tertentu, ia membuat pikiran tersebut tidak terpikirkan. Dalam istilah Herbert Marcuse dalam One-Dimensional Man (1964), ini adalah “repressive desublimation” dalam domain epistemologis: ekspresi pikiran dimungkinkan selama ia tidak melampaui horizon yang telah ditetapkan.
Namun penghapusan historisitas tidak pernah sempurna. Kontradiksi-kontradiksi yang nyata dalam kapital terus memproduksi gejolak yang memaksa masuknya dimensi historis kembali, sekalipun dalam bentuk yang didistorsi atau dikendalikan. Krisis finansial global 2008, meningkatnya ketimpangan, krisis ekologi, dan bangkitnya gerakan-gerakan yang mempertanyakan legitimasi kapital adalah tanda-tanda bahwa realitas historis tidak dapat sepenuhnya diblokir oleh konstruksi ideologis seberapa pun canggihnya. Karena itulah Mészáros bersikeras bahwa tugas teoritis yang mendesak bukan hanya kritik terhadap ideologi dominan, melainkan pembangunan aktif dari suatu perspektif metodologis yang sungguh-sungguh historis, yang mampu memikirkan transformasi jangka panjang tanpa jatuh ke dalam milleniarisme atau voluntarisme.
Hubungan Antara Struktur Sosial dan Bentuk-Bentuk Kesadaran
Mészáros menetapkan bahwa hubungan antara struktur sosial dan bentuk-bentuk kesadaran adalah sebuah hubungan yang paling fundamental untuk dipahami oleh siapa pun yang ingin berpikir secara serius tentang masyarakat. Alasannya sederhana tetapi berat: struktur sosial yang konkret membentuk kerangka dan cakrawala keseluruhan di mana para pemikir dari seluruh bidang, baik filsafat, ekonomi, seni, hukum, maupun ilmu politik, menempatkan konsepsi mereka tentang dunia. Bukan berarti struktur mendikte isi pikiran secara langsung. Yang terjadi adalah struktur sosial mendefinisikan apa yang terasa sebagai pertanyaan yang sah, apa yang terasa sebagai jawaban yang wajar, dan apa yang terasa sebagai sesuatu yang absurd untuk dipertanyakan sama sekali.
Konsepsi tentang “mediasi” adalah kunci untuk memahami bagaimana struktur sosial bekerja pada bentuk-bentuk kesadaran tanpa menjadi determinisme mekanis. Dalam tradisi dialektis, mediasi bukan sekadar mekanisme perantara. Ia adalah struktur relasional yang menentukan bagaimana hal-hal yang berbeda terhubung satu sama lain dalam suatu totalitas. Dalam kasus hubungan antara struktur sosial dan kesadaran, mediasi terjadi melalui berbagai lapisan: institusi pendidikan, lembaga hukum, tradisi kultural, hubungan-hubungan profesional, dan bahasa itu sendiri. Semua lapisan mediasi ini membawa impresi dari struktur sosial yang mendasarinya, tetapi tidak dengan cara yang sederhana dan langsung.
Mészáros menekankan bahwa untuk memahami hubungan ini secara benar, diperlukan pemahaman tentang konsep “mediation” yang komprehensif. Tidak ada diskursus partikular, baik diskursus moral, diskursus politik, maupun diskursus estetik, yang dapat dipahami secara memadai tanpa melihatnya sebagai bentuk-bentuk kesadaran sosial yang secara historis terkonstituasi dan juga secara historis bertransformasi dalam konjungsi dekat dengan determinasi-determinasi keseluruhan struktur sosial dari mana ia tidak dapat diabstraksikan secara spekulatif. Ini berarti bahwa setiap diskursus adalah bentuk spesifik kesadaran sosial, bukan refleksi langsung dari struktur sosial, dan bukan pula ekspresi bebas dari subjektivitas individual yang lepas dari kondisi.
Dalam kaitannya dengan ini, perbedaan antara “trans-historis” dan “supra-historis” yang dibuat Mészáros sangat penting. Dimensi trans-historis berarti bahwa ada aspek-aspek dari diskursus manusia, termasuk metodologi, yang dapat dipelajari melampaui sejarah manusia secara keseluruhan, karena ada masalah-masalah yang terus muncul kembali sepanjang sejarah meskipun dalam bentuk yang berbeda. Dimensi suprastorik berarti bahwa ada kebenaran-kebenaran yang sama sekali di luar sejarah, yang berlaku di semua zaman secara identik. Mészáros menerima yang pertama dan menolak yang kedua. Menerima dimensi trans-historis berarti mengakui bahwa pertanyaan-pertanyaan tentang bagaimana masyarakat mengorganisir produksinya, bagaimana distribusi kekuasaan terjadi, dan bagaimana individu berhubungan dengan kolektif, adalah pertanyaan yang terus-menerus relevan sepanjang sejarah manusia. Tetapi jawaban-jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut selalu spesifik secara historis.
Implikasi dari posisi ini terhadap cara kita membaca tradisi intelektual sangat konkret. Diskursus moral Aristoteles, misalnya, tidak dapat dipahami secara memadai tanpa melihatnya sebagai bentuk kesadaran sosial yang lahir dari dan berbicara kepada kondisi-kondisi masyarakat polis Yunani, dengan sistem perbudakannya, dengan pemisahan antara kerja dan leisure, dengan konsepsi tertentu tentang kewarganegaraan. Ini tidak berarti bahwa Nicomachean Ethics tidak relevan bagi kita hari ini. Itu berarti bahwa relevansinya harus dipahami melalui mediasi historis, bukan melalui abstraksi universal yang menghapus konteks historis spesifiknya.
Dengan cara yang sama, teori kontrak sosial Locke tidak dapat dipisahkan dari konteks historisnya: kebangkitan kelas borjuis, konflik-konflik abad ke-17 tentang hak milik dan kekuasaan negara, dan kebutuhan ideologis untuk membenarkan tatanan baru yang menggantikan tatanan feodal. Ini bukan berarti bahwa ide-ide Locke tentang hak individual dan batas kekuasaan negara tidak memiliki resonansi yang melampaui konteks tersebut. Tetapi resonansi tersebut tidak dapat dipahami secara tepat tanpa memahami dari mana ide-ide itu lahir, kepentingan apa yang mereka layani pada asal-muasalnya, dan apa yang mereka tutup dalam proses menerima apa yang mereka buka.
Mészáros juga menunjukkan bahwa karena pertanyaan-pertanyaan ini sangat relevan dari sudut pandang teoritis dan juga dalam istilah praktis, kita perlu terlibat dalam diskusi tentang permasalahan metodologis dan ideologis dari zaman kapital. Kita harus menelitinya, bukan hanya sebagai latihan akademis, melainkan karena mereka adalah bagian dari kondisi kita sendiri saat ini. Pertanyaan-pertanyaan historis yang dielaborasi oleh pemikiran borjuis besar, meskipun dijawab dengan cara yang pada akhirnya tidak dapat diterima secara sosial dalam jangka panjang, tetap saja adalah respons terhadap tantangan-tantangan historis yang nyata dan objektif. Tantangan-tantangan itu tidak lenyap hanya karena jawaban yang diberikan tidak memadai. Bahkan, kegagalan jawaban-jawaban borjuis itu hanya mempertegas bobot dan urgensi yang berkelanjutan dari masalah-masalah yang mendasarinya.
Ini membawa kita kepada hubungan yang paling penting dalam seluruh bangunan argumen Mészáros: hubungan antara kritik dan konstruksi. Memahami batas-batas struktural dari tradisi intelektual borjuis bukan tujuan akhir. Ini adalah kondisi yang diperlukan untuk mulai membangun alternatif metodologis. Tetapi alternatif itu tidak dapat dibangun dari nol, seolah-olah seluruh tradisi borjuis adalah tumpukan sampah yang harus dibuang. Sebagian besar dari tradisi itu adalah respons, meskipun bias secara struktural, terhadap pertanyaan-pertanyaan yang nyata. Karena itu, proyek metodologis alternatif harus bersifat “aufheben” dalam pengertian Hegel: menyupersesi sekaligus melestarikan, melampaui sekaligus mengangkat ke tingkat yang lebih tinggi unsur-unsur yang dapat dipertahankan dari tradisi yang dikritik.
Melampaui Kapital: Warisan Borjuis dan Tugas Transformasi Historis
Mészáros tidak menulis buku ini hanya untuk menunjukkan bahwa tradisi intelektual borjuis terbatas secara struktural. Tujuan yang lebih dalam adalah mempersiapkan landasan teoretis bagi pembangunan alternatif yang layak secara historis. Ini adalah perbedaan yang menentukan antara kritik yang produktif dan kritik yang mandul. Kritik yang mandul adalah yang puas dengan menunjukkan kesalahan dan keterbatasan tanpa kemampuan untuk bergerak ke depan. Kritik yang produktif adalah yang mengidentifikasi keterbatasan secara tepat, justru agar dapat membangun di atas fondasi yang lebih kokoh. Dalam konteks ini, warisan intelektual borjuis bukan sekadar musuh yang harus dikalahkan; ia adalah bahan yang harus diolah.
Marx sendiri mencontohkan metode ini dengan sangat jelas. Capital bukan pekerjaan yang mengabaikan ekonomi politik klasik, Smith dan Ricardo. Justru sebaliknya: Capital adalah pembacaan paling mendalam dan paling kritis terhadap ekonomi politik klasik yang pernah ada. Marx mengambil kategori-kategori yang dikembangkan oleh Smith dan Ricardo, seperti nilai, tenaga kerja, modal, dan rente, lalu menunjukkan kontradiksi-kontradiksi internal yang terdapat dalam cara Smith dan Ricardo menggunakannya, dan kemudian mengembangkan analisis yang melampaui keterbatasan tersebut dengan bertumpu pada apa yang paling kuat dalam tradisi yang dikritiknya. Ini adalah model “aufheben” yang konkret dan ilmiah.
Mészáros menekankan bahwa dalam periode transisi menuju tatanan sosial yang baru, tugas ini menjadi sangat mendesak. Yang dimaksud Marx dengan “new historic form” adalah kondisi di mana reproduksi sosial tidak lagi terorganisir di seputar logika akumulasi kapital, melainkan di seputar kebutuhan dan perkembangan manusia secara bebas dan asosiatif. Tetapi transisi menuju kondisi tersebut tidak terjadi melalui penciptaan dari nol. Ia terjadi melalui proses panjang di mana kapasitas-kapasitas, pengetahuan-pengetahuan, dan institusi-institusi yang dihasilkan oleh kapital, tetapi tidak esensial terikat pada logikanya, diambil alih dan ditransformasikan oleh kekuatan-kekuatan sosial yang memiliki kepentingan dalam melampaui kapital.
Contoh konkret dari apa yang “dapat diangkat” dari tradisi borjuis cukup banyak. Konsep tentang hak individual dan perlindungan terhadap kekuasaan sewenang-wenang negara, yang dikembangkan dalam tradisi liberal dari Locke hingga Mill, mengandung unsur-unsur yang tetap relevan dalam tatanan sosial yang melampaui kapital, meskipun ia perlu dibersihkan dari bias kelas yang melekat padanya. Gagasan tentang universalitas hukum, meskipun dalam kapital ia berfungsi sebagian besar untuk melindungi milik pribadi, mengandung potensi yang belum terpenuhi untuk perlindungan yang sungguh-sungguh universal terhadap kerentanan manusia. Pencapaian-pencapaian ilmu pengetahuan alam, meskipun dalam kapital ia sering digunakan untuk eksploitasi dan perang, adalah warisan umat manusia yang harus ditransformasikan, bukan dibuang.
Descartes menyediakan pelajaran yang menarik di sini. Penekanannya pada kolektivitas karya intelektual, keyakinannya bahwa pengetahuan harus dibangun dengan cara di mana setiap generasi dapat memulai dari mana generasi sebelumnya berhenti sehingga bersama-sama kita dapat melangkah jauh ke depan, adalah ethos intelektual yang sangat relevan. Kapital, dengan logika kompetisinya, cenderung memfragmentasi karya intelektual menjadi properti individual yang dilindungi oleh hak paten, merek dagang, dan berbagai mekanisme perampasan intelektual. Ethos kolektif yang diidamkan Descartes tetap sebagai potensi yang belum terpenuhi, yang dapat diklaim oleh tradisi intelektual yang berkomitmen pada emansipasi manusia.
Kegagalan sosial demokrasi, yang disebut Mészáros secara khusus, memberikan pelajaran penting tentang apa yang tidak dapat dilakukan. Demokrasi sosial mencoba melampaui kapital secara parsial: mempertahankan kepemilikan swasta atas alat produksi, mempertahankan logika akumulasi kapital, tetapi mendistribusikan hasilnya secara lebih merata melalui negara kesejahteraan. Selama beberapa dekade, eksperimen ini tampak berhasil, terutama dalam kondisi pertumbuhan ekonomi tinggi pasca-Perang Dunia II di Eropa Barat. Tetapi ketika kondisi-kondisi itu berubah, ketika pertumbuhan melambat dan kapital memperoleh kembali mobilitas globalnya pada dekade 1970-an dan seterusnya, kompromi sosial-demokratis runtuh. Kunci kegagalan itu terletak tepat di mana yang diidentifikasi Mészáros: tatanan kapital tidak dapat dilampaui secara selektif. Premis-premis fundamentalnya merupakan satu sistem yang saling mengunci; melepaskan satu tanpa melepaskan yang lain hanya menciptakan kompromi yang tidak stabil.
Yang diperlukan, dalam pandangan Mészáros, adalah “hegemonic alternative” yang sungguh-sungguh, bukan sekadar reformasi dalam batas-batas yang ditetapkan kapital. Ini membutuhkan dua hal sekaligus: pertama, pemahaman yang mendalam tentang bagaimana kapital bekerja sebagai sistem totalitas yang saling mengunci; kedua, visi positif tentang tatanan yang berbeda, yang tidak sekadar merupakan negasi kapital, melainkan merupakan realisasi potensi-potensi manusia yang terhambat oleh kapital. Visi kedua membutuhkan elaborasi teoritis dan praktis yang sangat serius. Mészáros tidak menawarkan cetak biru siap pakai; ia menawarkan kerangka metodologis untuk berpikir secara benar tentang tugas tersebut.
Tugas yang tersisa, dan inilah yang membuat buku Mészáros tetap relevan dan bahkan semakin mendesak, adalah mengembangkan metodologi sosial yang sungguh-sungguh historis, non-mekanis, dan berorientasi pada kepentingan emansipasi manusia. Metodologi semacam ini harus mampu membaca tradisi besar pemikiran borjuis secara kritis tanpa membuangnya secara bodoh; mampu mengidentifikasi unsur-unsur yang dapat diangkat ke tingkat yang lebih tinggi; mampu berpikir tentang transisi historis tanpa voluntarisme naif atau determinisme fatalis; dan mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan konkret yang terus-menerus diproduksi oleh realitas sosial, bahkan ketika jawaban-jawaban borjuis atas pertanyaan-pertanyaan tersebut terbukti tidak memadai. Inilah, dalam satu kalimat, agenda intelektual yang ditinggalkan Mészáros bagi siapa pun yang mau mengambilnya dengan serius.
Esai ini merupakan telaah kritis atas Social Structure and Forms of Consciousness, Volume I: The Social Determination of Method karya István Mészáros (Monthly Review Press, 2010). Mészáros (1930–2017) adalah filsuf Hungaria-Inggris, murid György Lukács, dan salah satu pemikir Marxis paling penting abad ke-20. Selain karya ini, karyanya yang paling dikenal adalah Beyond Capital (1995) yang meraih Premio Libertador di Venezuela. Seluruh argumen dalam esai ini berbasis langsung pada teks asli buku tersebut dan dikembangkan dengan referensi silang kepada tradisi pemikiran yang dirujuk Mészáros.





