Strategi Setan: Machiavelli, Milton, dan Logika Kekuasaan Kosmis
Machiavelli, Milton, dan Asal-usul Sebuah Perbandingan
Lawrence Freedman membuka bab ini dengan satu klaim yang tampak provokatif tapi ternyata sangat bisa dipertahankan: pengaruh Machiavelli terhadap pemikiran politik sesudahnya bersifat mendalam. Bukan sekadar berpengaruh dalam arti akademik, melainkan juga dalam cara orang—termasuk orang yang membenci Machiavelli—berbicara tentang kekuasaan. Machiavelli memberi dunia sebuah kosakata baru untuk mendiskusikan politik, dan kosakata itu bertahan jauh melampaui zamannya.
Yang membuat Machiavelli bertahan bukan karena idenya diterima, melainkan karena idenya menggangu. Apresiasinya yang jujur terhadap realitas kekuasaan menyediakan cara baru untuk berbicara tentang politik, entah itu sebagai panduan bagi mereka yang bersiap bersikap fleksibel dan adaptif—sebagaimana Machiavelli sendiri anjurkan—atau sebagai bahan untuk melukis karakter penjahat di atas panggung yang licik dan amoral: si Machiavel. Keduanya adalah warisan dari satu orang yang sama.
Salah satu ilustrasi paling mencolok dari pengaruh Machiavelli terhadap diskusi tentang perilaku politik ditemukan dalam tulisan John Milton. Milton bukan penulis yang secara eksplisit membahas Machiavelli; ia menulis puisi epik. Tapi dalam puisi epik itulah—Paradise Lost, terbit tahun 1667—Setan Milton menjadi perwujudan Machiavellianisme yang paling komprehensif dan paling kompleks dalam sejarah sastra.
Freedman menempatkan perbandingan ini bukan sebagai kebetulan sastra, melainkan sebagai persoalan analitis. Mengevaluasi strategi Setan memungkinkan kita menelaah batas-batas dan kemungkinan-kemungkinan dari ciri-ciri yang diasosiasikan dengan Machiavelli. Pertanyaannya bukan seberapa jahat Setan, melainkan seberapa baik Setan sebagai ahli strategi—dan di mana ia gagal.
Proyek inti Milton sebetulnya bukan tentang Machiavelli. Milton ingin menjawab pertanyaan teologis yang paling mengganggu yang pernah diajukan oleh kisah Adam dan Hawa: jika Tuhan menentukan segalanya, apakah manusia benar-benar punya pilihan? Jika tidak, bagaimana dosa bisa menjadi kesalahan mereka? Dan jika memang itu kesalahan mereka, mengapa Tuhan masih perlu memberi alasan untuk membiarkan hal itu terjadi?
Pertanyaan-pertanyaan itu bukan latihan filsafat belaka. Milton menulis di masa yang berbahaya secara politik: restorasi monarki setelah perang saudara, di mana ia sendiri pernah menjadi republikan yang setia dan bahkan nyaris dieksekusi karena tuduhan pengkhianatan. Paradise Lost lahir di bawah tekanan nyata, dari seorang penulis yang memahami secara fisik apa artinya memilih sisi yang salah dalam konflik antara kekuasaan dan prinsip.
Karena itulah Paradise Lost beroperasi pada beberapa lapisan sekaligus. Di satu lapisan, ini adalah kisah tentang pemberontakan dalam sebuah kerajaan, kekalahan pemberontak, dan upaya mereka yang gagal untuk membalik kekalahan itu. Di lapisan lain, ini adalah tentang bagaimana membenarkan cara-cara Tuhan kepada manusia—khususnya, bagaimana mendamaikan kemahakuasaan Tuhan dengan kehendak bebas manusia. Dan di lapisan lain lagi, ini adalah tentang hubungan duniawi antara raja dan rakyatnya.
Freedman menunjukkan bahwa ketiga lapisan itu tidak bisa dipisah. Pertanyaan tentang apakah manusia punya kebebasan memilih langsung berkaitan dengan pertanyaan tentang apakah raja berhak atas ketaatan mutlak. Keduanya bertumpu pada asumsi yang sama tentang siapa yang memegang kendali terakhir atas kehidupan manusia—Tuhan, raja, atau manusia itu sendiri.
Dalam bingkai itulah perbandingan antara Setan dan pangeran Machiavellian menjadi relevan secara analitis. Setan di Paradise Lost adalah pemimpin yang menghadapi kekalahan total, yang harus menyusun strategi di bawah kondisi paling tidak menguntungkan yang bisa dibayangkan: berperang melawan musuh yang mahakuasa dan mahatahu. Apa yang bisa dilakukan seorang ahli strategi dalam situasi seperti itu?
Freedman tidak menjawab pertanyaan ini dengan membela atau mengutuk Setan. Ia menggunakannya sebagai teleskop untuk meneropong batas-batas pemikiran strategis itu sendiri. Dan hasilnya, sebagaimana akan terlihat dalam uraian berikut, adalah analisis yang jauh lebih tajam daripada sekadar membandingkan dua tokoh dari dua era yang berbeda.
Kehendak Bebas dan Takdir: Perdebatan yang Membentuk Setan Milton
Sebelum membicarakan Setan sebagai ahli strategi, Freedman merasa perlu menjelaskan perdebatan teologis yang menjadi konteks lahirnya Paradise Lost. Ini bukan pengalihan topik; ini adalah landasan argumentatif. Tanpa memahami apa yang diperdebatkan Milton, kita tidak akan memahami mengapa Setan bisa muncul sebagai karakter yang sekompleks itu.
Persoalannya bermula dari satu pertanyaan sederhana yang sulit dijawab: jika manusia diciptakan Tuhan, dan Tuhan menciptakan segalanya dengan sempurna, dari mana datangnya kemampuan manusia untuk jatuh ke dalam dosa? Jika manusia bisa tergoda, berarti mereka diciptakan tidak sempurna. Tapi jika itu memang bagian dari desain awal, apakah adil menghukum mereka karena sesuatu yang sudah tertanam dalam diri mereka sejak awal?
Di atas pertanyaan dasar itu berdiri dua tradisi teologis yang saling berlawanan. Calvinisme mengajarkan bahwa Tuhan begitu berkuasa sehingga hampir tidak ada yang dapat menghalangi kehendak-Nya. Rahmat Ilahi sudah dialokasikan sejak semula. Segala sesuatu sudah digerakkan oleh rancangan awal yang agung. Augustinus dari Hippo merumuskannya: Tuhan memerintah dan menentukan segala sesuatu, bekerja dalam hati manusia untuk mengarahkan kehendak mereka ke mana pun Ia kehendaki.
Kaum Calvinis mempertegas hal ini lebih jauh: Tuhan telah menetapkan secara bebas dan tak berubah segala sesuatu yang terjadi. Tidak ada yang bisa terjadi di luar kehendak-Nya. Manusia hanyalah pemain dalam drama yang naskahnya sudah ditulis Tuhan saat penciptaan, tanpa ruang bagi improvisasi. Konsekuensi logisnya adalah fatalisme: jika semua sudah ditentukan, upaya apa pun untuk mengubah arah sejarah adalah sia-sia.
Penganut Jacobus Arminius menolak logika itu. Mereka berargumen bahwa manusia mampu membuat sejarahnya sendiri melalui penggunaan kehendak bebas. Tuhan, orang-orang Arminian akan mewujudkan diri dalam tindakan kasih sebagai respons terhadap ketaatan dan pertobatan manusia. Tuhan yang sewenang-wenang dan tidak bisa dijelaskan—sebagaimana Tuhan Calvinis—akan membuat konsep dosa menjadi tidak masuk akal.
Milton berada di pihak Arminian. Pandangannya tegas: Tuhan tidak membuat dekret mutlak tentang apapun yang ia serahkan dalam kekuasaan manusia. Manusia memiliki kebebasan bertindak. Jika Tuhan mengarahkan manusia kepada kebaikan atau kejahatan sesuka-Nya lalu menghukum yang jahat, hal itu akan menimbulkan protes terhadap keadilan ilahi dari semua pihak. Kebebasan memilih adalah prasyarat bagi pertanggungjawaban moral.
Dari sini lahir dilema yang membentuk keseluruhan Paradise Lost: jika manusia benar-benar bebas memilih, dan Setan benar-benar ada sebagai kekuatan aktif yang mencoba menyesatkan manusia, maka kejatuhan Adam dan Hawa bukan sekadar kelemahan internal—melainkan hasil dari konflik antara dua kehendak yang nyata-nyata berbenturan. Ini mengubah kisah Genesis dari alegori moral menjadi narasi strategis.
Freedman mencatat satu pertanyaan yang menggantung di balik semua ini: jika Tuhan tidak mencampuri urusan manusia, apa gunanya doa dan pertobatan? Tapi jika Ia mencampuri, mengapa hal-hal buruk masih terjadi pada orang-orang yang baik? Pertanyaan-pertanyaan ini bukan sekadar teka-teki teologi—di Eropa abad ketujuh belas, ketika Milton sedang menulis, pertanyaan-pertanyaan ini merupakan isu panas secara politis sekaligus religius.
Ada satu kerumitan lagi yang Freedman soroti: bagaimana Milton menjelaskan keberadaan kejahatan itu sendiri. Satu cara memahami kejahatan adalah sebagai fungsi dari kelemahan manusia—kecenderungan untuk mudah tergoda dan secara sadar melanggar perintah Tuhan. Cara lain—yang lebih umum di zaman Milton—adalah memandang kejahatan sebagai kekuatan hidup yang aktif, yang secara sengaja berusaha menggulingkan Tuhan dan menggoda manusia. Kejahatan dengan demikian memperoleh kepribadian: kepribadian Setan.
Itulah titik di mana teologi bertemu dengan strategi. Begitu Setan dipahami bukan sebagai abstraksi melainkan sebagai aktor dengan tujuan dan rencana, pertanyaannya bergeser dari “apa itu kejahatan?” menjadi “apa yang dilakukan Setan, dan mengapa strateginya gagal?” Freedman membangun seluruh bab ini berdasarkan pergeseran pertanyaan itu.
Setan sebagai Karakter Machiavellian
Milton tidak menciptakan Setan dari nol. Dalam Kitab Ayub, Setan bukan musuh Tuhan melainkan malaikat yang loyal—ia berperan sebagai penantang, mengambil posisi keras dalam perdebatan di hadapan Tuhan, tapi pada akhirnya selalu taat. Ia mengusulkan agar Ayub diuji, Tuhan setuju, dan Setan dikirim untuk membuat hidup Ayub sengsara. Tapi semua itu dilakukan bukan sebagai pemberontak melainkan sebagai anggota istana surga.
Secara bertahap, Setan berubah dalam tradisi keagamaan. Ia mulai dipersalahkan atas segala bentuk perpecahan dan kesengsaraan. Gereja awal berusaha melawan pengaruh Manichaeisme—kepercayaan timur yang menjelaskan realitas dalam kerangka pertentangan antara kekuatan kebaikan dan kejahatan—tapi gagal meyakinkan orang bahwa kejahatan bukanlah kekuatan hidup yang nyata. Gagasan tentang kekuatan setan yang terus-menerus berusaha menyesatkan manusia akhirnya mengakar. Perbedaan utama antara pandangan ini dengan Manichaeisme adalah bahwa dalam pandangan Kristen, pertarungan ini tidak pernah seimbang: Tuhan selalu superior.
Milton mengambil bahan ini dan mengolahnya menjadi sesuatu yang jauh lebih ambisius. Setan dalam Paradise Lost bukan sekadar representasi kejahatan yang datar. Ia adalah karakter yang jauh lebih bulat—seseorang yang tampak menyesal atas statusnya yang jatuh, yang masih mengikuti jalan yang telah ia pilih, yang memiliki karakter dan klaim yang ambigu sehingga tidak mudah untuk diabaikan begitu saja.
Freedman menunjukkan bahwa Milton menggambarkan Setan dengan ciri-ciri yang persis cocok dengan pangeran ideal versi Machiavelli: pemberani, licik, mampu menyesuaikan diri dengan keadaan yang berubah, percaya diri mengambil risiko, dan sadar akan kelebihan dan kekurangan masing-masing—antara kekuatan dan tipu daya. Dalam epik itu, Setan menggunakan retorika yang curang dan kekuatan untuk memanipulasi malaikat-malaikat yang jatuh, sekaligus mengadopsi klaim-klaim republik tentang pilihan bebas, jasa, dan persetujuan untuk menggambarkan pemerintahannya—sementara di saat yang sama menyatakan bahwa Tuhan bergantung pada paksaan dan penipuan.
Di sinilah muncul ironi yang Freedman tangkap dengan tepat: Setan menggunakan argumen tentang kebebasan dan hak politik yang sebenarnya bisa dipakai untuk melawan raja-raja duniawi yang tiran, lalu menerapkannya pada konteks di mana argumen itu tidak berlaku—yakni otoritas Tuhan. Argumen yang sama yang seharusnya membenarkan pembangkangan di satu konteks tidak bisa bekerja di konteks lain. Tapi secara retoris, kedua jenis pembangkangan itu terdengar sangat mirip.
William Blake pernah mengamati bahwa Milton adalah bagian dari pihak Setan tanpa menyadarinya. Pengamatan ini menangkap ketegangan yang sesungguhnya ada dalam teks: ketika Setan membuat argumen melawan ketaatan buta kepada Tuhan, Milton memberikannya baris-baris terbaik. Struktur naratif Paradise Lost memanusiakan karakter-karakternya dengan efek yang melemahkan aura Tuhan dan meninggikan Setan.
Tapi Freedman tidak berhenti di situ. Ia menunjukkan bahwa meskipun Milton menempatkan argumen-argumen tentang kebebasan dalam mulut Setan—argumen yang mungkin ingin ia pakai melawan rajanya sendiri—ia tidak serta-merta menjadi pendukung Setan. Surga Milton, meski tampak militeristik secara aneh, tidak pernah digambarkan dalam istilah tirani. Para malaikat mematuhi Tuhan bukan karena takut hukuman, melainkan karena kewenangan yang melekat, dan mereka diberi keleluasaan ketika bertindak atas nama-Nya. Mereka datang bersama secara alami dan dengan gembira untuk mempertahankan surga melawan para pemberontak.
Yang menarik dari penggambaran ini adalah bahwa Setan sendiri, di dalam narasi Milton, menjadi ilustrasi sempurna tentang apa yang terjadi ketika argumen-argumen tentang kebebasan digunakan tanpa memedulikan realitas kekuasaan. Setan berbicara tentang hak dan kebebasan, tapi begitu ia berkuasa di neraka, ia memerintah seperti sultan agung yang mengambil komando begitu saja—bukan memberi pemerintahan mandiri kepada para pemberontak, melainkan menjadikan mereka hamba bagi dirinya sendiri.
Ada kontradiksi mendasar dalam karakter Setan yang Freedman soroti: ia adalah pemimpin yang berkampanye atas nama kebebasan tapi memerintah dengan cara yang berlawanan sepenuhnya dengan apa yang ia khotbahkan. Komitmennya pada hak-hak politik tidak lebih bisa dipercaya daripada deskripsinya yang hidup tentang kehidupan ular yang ia berikan kepada Hawa saat menggoda—atau tipu muslihat imajinatifnya yang lain.
Dalam pengertian ini, Setan adalah Machiavellian yang tidak konsisten. Ia menguasai retorika dan tipu daya, tapi ia tidak menguasai sesuatu yang lebih fundamental dalam ajaran Machiavelli: pragmatisme. Seorang pangeran yang bijak tidak mempertahankan strategi yang sudah terbukti gagal. Setan melakukannya—dan itulah pangkal dari seluruh kegagalan strategisnya.
Pertempuran Surga: Kekuatan, Senjata, dan Batas Militer
Ada dua episode kunci dalam Paradise Lost yang Freedman pilih untuk dianalisis secara strategis. Keduanya tidak muncul dalam urutan kronologis dalam teks, tapi keduanya mengungkapkan sesuatu yang penting tentang cara Milton—dan Machiavelli yang ada di belakangnya—memahami hubungan antara kekuatan militer dan keberhasilan strategis.
Episode pertama adalah kisah pertempuran besar di surga, yang diceritakan oleh Rafael—salah satu malaikat setia Tuhan—kepada Adam, sebagai peringatan tentang sifat Setan dan potensi bahayanya. Saat cerita ini disampaikan, Hawa sudah terlanjur tergoda. Detail dramatis itu menunjukkan bahwa kisah tentang kekuatan pun tidak selalu datang tepat waktu.
Dalam kisah Rafael, awal dari semua masalah adalah ketika Tuhan mengumumkan bahwa Putra-Nya sejajar dengan-Nya. Setan—yang saat itu masih bernama Lucifer—merasa tersinggung berat. Posisinya dalam hierarki surga tiba-tiba terasa dilemahkan oleh perkembangan yang tidak ada peringatannya. Ia menggerakkan sepertiga dari para malaikat untuk bergabung dalam pemberontakan, dengan argumen yang berbentuk pertanyaan retoris: Siapa yang bisa dengan akal atau hak mengklaim monarki atas mereka yang setara?
Surga, secara mengejutkan, sudah siap berperang. Freedman mencatat bahwa ini adalah detail yang signifikan: tempat yang didedikasikan untuk kedamaian, keindahan, dan ketenangan ternyata sudah terorganisir secara militer. Milton adalah pengagum Oliver Cromwell dan Angkatan Darat Model Barunya yang terkenal dengan organisasi dan disiplinnya. Gambaran tentang surga yang militeristik tampaknya memberi Milton ide untuk Surga Model Baru.
Pertempuran berlangsung tiga hari. Pada hari pertama, para pemberontak dipukul mundur. Hari kedua, mereka membalas dengan meriam—senjata baru yang mengubah sifat pertempuran—tapi dibalas dengan gunung-gunung yang dilempari kepada mereka. Freedman menyoroti detail tentang meriam ini: bahan peledak sering dikaitkan dengan pengkhianatan dalam Plot Mesiu Katolik tahun 1605, dan sering digambarkan sebagai temuan Iblis, alat untuk menghilangkan kehormatan dan kemuliaan dari peperangan.
Tuhan membiarkan kekacauan ini berlanjut sampai hari ketiga, baru kemudian turun tangan. Alasannya konsisten dengan pesan dasar Alkitab Ibrani: Ia sedang menciptakan kondisi di mana keagungan dan keajaiban-Nya akan diapresiasi. Dalam kasus ini, peran Putra-Nya harus terlihat menentukan. Tuhan menjelaskan kepada Putra-Nya bahwa ini untuk kemuliaan-Nya—mengakhiri perang besar itu, karena tidak ada yang bisa melakukannya selain Dia.
Putra menerima perintah itu dengan sukarela—kontras yang jelas dengan pemberontakan Setan. Sementara itu, pasukan Setan juga bersiap, dengan harapan yang tumbuh dari keputusasaan. Mereka menyiapkan diri untuk pertempuran yang mereka tahu harus menjadi pertempuran terakhir. Putra memerintahkan pasukan-Nya untuk minggir; ini adalah pertarungannya sendiri.
Ada satu kerumitan yang menarik dalam skenario pertempuran ini: para malaikat adalah makhluk abadi. Tidak ada luka yang fatal. Ini menambahkan satu putaran tak terduga pada dilema militer klasik: ketika musuh bisa pulih dari pukulan awal, sulit untuk menimbulkan kekalahan yang menentukan. Pertempuran dengan pihak yang abadi pada dasarnya tidak bisa diselesaikan melalui kekerasan fisik semata.
Freedman menangkap dimensi ini sebagai komentar Milton tentang keterbatasan kekuatan militer. Meskipun Milton mengagumi kebajikan-kebajikan militer, ia juga menunjukkan bahwa ada hal-hal tertentu yang tidak pernah bisa diselesaikan melalui pertempuran. Mungkin ia juga sedang merefleksikan pengalamannya sendiri: kemenangan di pihak parlemen dalam perang saudara diikuti oleh kembalinya monarki. Kemenangan militer tidak menjamin kemenangan strategis.
Bahkan dalam pertarungan khusus ini, yang menentukan bukan jumlah pasukan melainkan kekuatan khusus Putra—sesuatu yang tidak bisa dilawan oleh kekuatan biasa seberapa pun banyaknya. Ini adalah pelajaran yang seharusnya sudah diketahui Setan sebagai mantan malaikat agung: ada perbedaan antara kekuatan yang cukup untuk menang dalam pertempuran biasa dan kekuatan yang cukup untuk menang melawan sesuatu yang benar-benar lain kategorinya.
Pandemonium: Seni Debat Strategi di Bawah Kekalahan
Episode kedua yang dianalisis Freedman adalah adegan pembuka Paradise Lost itu sendiri: dewan para malaikat yang jatuh di Pandemonium—secara harfiah, rumah setan—tempat mereka berkumpul untuk mendiskusikan langkah selanjutnya setelah diusir dari surga. Ini adalah adegan strategis yang paling terbuka dalam seluruh epik itu, dan Freedman membedahnya dengan saksama.
Konteks situasinya penting untuk dipahami. Para malaikat yang jatuh baru saja mengalami kekalahan total. Mereka diusir dari surga ke neraka. Tuhan tentu bisa mencegah mereka berbuat masalah lagi—tapi Ia membiarkan mereka memilih jalan mereka sendiri. Setan tetap tidak gentar. Ia menyatakan bahwa lebih baik memerintah di neraka daripada melayani di surga.
Anthony Jay, yang dikutip oleh Freedman, mencatat bahwa dalam setiap upaya merespons kemunduran besar, situasinya mirip dengan sebuah korporasi yang mencoba merumuskan kebijakan baru setelah dipukul telak oleh pesaing utamanya dan diusir dari pasar yang selama ini menjadi tumpuannya. Setan, yang tahu apa yang ia inginkan, tetap mengikuti praktik yang baik dan membuka persidangan dengan meminta proposal.
Yang maju pertama adalah Moloch, dengan proposal yang paling kasar: perang terbuka. Seruannya bertumpu pada emosi dan dorongan, agresi dan fatalisme. Ia tidak bisa menjanjikan kemenangan—ia mengakui itu—tapi setidaknya ada bentuk balas dendam. Ia menolak segala upaya menggunakan tipu muslihat: lebih baik menyerang langsung menara-menara surga yang tinggi dengan kekuatan penuh.
Belial tampil dengan realisme yang lebih besar dari Moloch, tapi efeknya justru bersifat defeatisme. Ia meragukan bahwa mereka bahkan bisa meraih balas dendam. Menara surga penuh dengan pengawalan bersenjata yang membuat semua akses tak dapat ditembus. Ia membuat poin mendasar tentang kemustahilan baik “kekuatan maupun tipu daya”—Tuhan melihat semua hal dalam satu pandangan dan sudah mengejek dewan setan itu bahkan saat masih berlangsung. Alternatifnya: tunggu sampai Tuhan mereda. Ini adalah strategi menunggu yang dibalut kekalahan.
Mammon menolak kedua pilihan sebelumnya. Ia tidak punya selera untuk perang maupun harapan akan pengampunan Tuhan. Gagasannya adalah mengembangkan potensi neraka itu sendiri: mendirikan kerajaan tandingan yang tumbuh melalui kebijakan dan proses waktu yang panjang, menandingi surga. Ia pernah membantu membangun Pandemonium, jadi gagasannya punya kredibilitas teknis. Reaksi pendengarnya positif—suara bisikan memenuhi majelis seperti suara angin dalam batu berlubang.
Tapi seperti ketua yang cerdik mana pun, Setan sudah menentukan hasil yang ia inginkan sebelum perdebatan dimulai. Semuanya sudah disusun untuk menghasilkan kesimpulan yang diinginkan. Orang kepercayaannya, Beelzebub, tampil dan melemahkan Mammon dengan mengingatkan bahwa Tuhan tidak akan membiarkan neraka berkembang menjadi setara dengan surga. Beelzebub lalu mengusulkan sesuatu yang berbeda: bukan serangan langsung ke surga, melainkan sebuah inisiatif terhadap makhluk baru—manusia.
Ada laporan tentang adanya dunia baru dengan ras baru yang disebut Manusia, yang konon setara dengan para malaikat, mungkin diciptakan untuk mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh para pemberontak yang diusir. Ini adalah cara menyerang Tuhan tanpa kesia-siaan serangan langsung. Mungkin manusia bisa ditipu untuk bergabung dalam pemberontakan. Sebagai ahli strategi, Setan sudah mengidentifikasi satu kemungkinan penjelasan untuk kekalahan di surga: sekadar kekurangan jumlah—ada dua kali lebih banyak malaikat setia dibanding pemberontak. Daripada mencoba membalik hasil pertempuran melalui serangan langsung yang pasti sia-sia, mengapa tidak menipu manusia untuk bergabung dengan pemberontakan?
Setelah Setan memuji rencana Beelzebub, rencana itu diadopsi. Setan lalu menetapkan dirinya sebagai yang akan menjalankan misi itu secara pribadi. Tapi sebelum bertindak, ia membutuhkan intelijen yang baik: ia perlu mempelajari makhluk apa yang menghuni dunia itu, dari bahan apa mereka dibuat, seberapa besar kekuatan mereka, dan di mana kelemahan mereka—apakah bisa diserang melalui kekuatan atau tipu daya. Keputusan untuk mengumpulkan intelijen sebelum bertindak adalah satu-satunya momen di mana Setan bertindak seperti pangeran Machiavellian yang sejati.
Penyusupan Eden: Tipu Daya sebagai Operasi Intelijen
Setan menjalankan misinya dengan persiapan yang relatif serius. Ia menempuh perjalanan tujuh kali mengelilingi bumi untuk menghindari kewaspadaan para malaikat yang menjaga Surga Firdaus. Ia menyusup ke Eden dengan menyamar sebagai kerub—cara tipu daya paling klasik: tampil sebagai sesuatu yang sepenuhnya berbeda dari identitas aslinya.
Tujuan awalnya bukan hanya untuk menggoda Hawa. Rencana besarnya adalah menaklukkan Eden, lalu menjajahnya bersama malaikat-malaikatnya yang jatuh. Tapi ketika ia menemukan Hawa di Eden, sesuatu terjadi yang tidak ia rencanakan: ia terpesona oleh kecantikannya, dan untuk sesaat ia melupakan tujuannya. Ia “bodoh secara baik, dibuatnya lemah oleh permusuhan, oleh tipu daya, oleh kebencian, oleh iri hati, oleh dendam”—sampai ia menarik diri dan mengingatkan dirinya bahwa urusannya adalah kebencian, bukan cinta.
Kalimat yang Freedman kutip itu penting secara analitis. Ini menunjukkan bahwa bahkan Setan—yang digambarkan sebagai perwujudan kejahatan—bukan makhluk yang sepenuhnya imun terhadap kebaikan. Ia bisa terpesona oleh keindahan. Tapi ia memilih untuk tidak membiarkan keindahan itu mengubah niatnya. Ini bukan kemenangan karakter; ini adalah kemenangan atas kelemahan sesaat yang didorong bukan oleh kebaikan melainkan oleh tekad untuk menyelesaikan misi.
Setan kemudian mengambil bentuk ular—yang Milton bandingkan dengan Kuda Troya—dan menggoda Hawa untuk memakan buah dari Pohon Pengetahuan. Argumennya adalah bahwa ia, seekor binatang, menerima karunia berbicara setelah memakan buah itu, dan Tuhan tidak membunuhnya. Ia beralasan bahwa Tuhan tidak mungkin membunuh Hawa hanya karena memakan buah itu. Hawa kemudian bertanya kepada Adam apakah seandainya ia tahu, ia seharusnya mencurigai ular itu. Ia mengatakan tidak ada dasar untuk kecurigaan.
Tidak ada permusuhan yang diketahuinya antara mereka. Tidak ada alasan mengapa si ular berniat jahat. Ini adalah argumen dari ketidaktahuan—ketiadaan bukti permusuhan dipakai sebagai bukti ketiadaan permusuhan itu sendiri. Hawa tertipu bukan karena bodoh, melainkan karena tidak punya konteks untuk mengevaluasi klaim Setan secara kritis. Bahkan jika ia sudah menyadari kemungkinan penipuan, tanya Freedman secara implisit, atas dasar apa ia harus curiga?
Setelah memakan buah itu, Hawa membujuk Adam untuk melakukan hal yang sama. Ini membuka potensi perebutan kesetiaan manusia. Jika Adam dan Hawa berpihak kepada Setan, keseimbangan kekuasaan bisa bergeser ke arahnya. Ini adalah momen keputusan yang sesungguhnya—bukan saat Hawa memakan buah, melainkan saat Adam harus memilih antara ketaatan kepada Tuhan dan kesetiaan kepada Hawa yang sudah jatuh.
Namun tujuan Setan akhirnya digagalkan. Adam dan Hawa bertobat dan berpihak kepada Tuhan. Ramalan Mikhael menegaskan arah masa depan. Pelajaran yang Adam pahami adalah bahwa bahkan yang sedikit pun harus melawan yang tidak adil dan yang jahat, karena menderita demi kebenaran adalah ketabahan menuju kemenangan tertinggi. Pencapaian Tuhan tidak selalu datang melalui jalan yang paling jelas; ia datang melalui hal-hal yang tampak lemah yang menggulingkan yang tampak kuat.
Kegagalan strategis Setan di Eden terletak pada asumsi yang salah: bahwa dengan menyesatkan manusia, ia bisa mengubah manusia menjadi sekutu dalam pemberontakannya. Padahal Tuhan memiliki senjata pamungkas dalam diri Putra-Nya. Tipu daya Setan berhasil mengeluarkan Adam dan Hawa dari kepolosan, tapi tidak berhasil memindahkan kesetiaan mereka ke pihaknya. Ini adalah perbedaan yang fatal.
Setan sendiri, jauh dari rumahnya dan tanpa dukungan, sudah mulai memiliki pikirannya yang terganggu—mengakui kemahakuasaan Tuhan dan kesalahan pemberontakannya, serta kejahatan yang ada dalam dirinya sendiri. Kesombongannya tidak membiarkannya merenungkan ketundukan. Ini adalah konfirmasi dari apa yang sudah lama terlihat: masalahnya bukan pada strategi yang Milton nisbahkan kepada Setan. Dengan semua pihak yang menikmati keabadian, kekuatan kasar tidak pernah akan menjadi penentu. Harapan terbaik Setan adalah mengubah manusia menjadi pihaknya. Dalam upaya itu, penipuan sangat diperlukan—dan awalnya Setan berhasil menyingkirkan Adam dan Hawa sebagai sekutu para malaikat. Tapi yang gagal ia lakukan adalah memenangkan mereka untuk pihaknya, karena di sini Tuhan memegang senjata pamungkas dalam diri Putra-Nya.
Kejatuhan Strategis Setan: Kesombongan, Kesalahan, dan Batas Machiavellianisme
Pertanyaan yang paling menarik secara analitis dalam bab ini bukan “mengapa Setan jahat?” melainkan “mengapa Setan pernah percaya bahwa ia bisa menang?” Ini adalah pertanyaan tentang penilaian strategis, bukan tentang moralitas. Dan jawabannya mengungkapkan sesuatu yang penting tentang batas-batas jenis pemikiran strategis yang diasosiasikan dengan Machiavelli.
Masalah mendasarnya bukan takdir melainkan kemahakuasaan dan kemahatahuan Tuhan. Bukan hanya Tuhan yang memiliki kekuasaan yang superior—Ia juga tidak bisa ditipu. Apa pun yang direncanakan, Tuhan sudah melihatnya datang. Sebagai mantan malaikat agung, Setan seharusnya juga tahu hal ini. Ia memiliki informasi yang cukup untuk sampai pada kesimpulan itu.
Inilah yang membuat Setan gagal sebagai pangeran Machiavellian yang sejati. Meskipun ia tampak dimodelkan pada pangeran ideal Machiavelli, ia jatuh jauh di bawah standar itu dalam aspek-aspek yang paling kritis. Dalam konfrontasi dengan Tuhan, ia membuat kesalahan-kesalahan mendasar dan kurang memiliki kebijaksanaan yang Machiavelli anjurkan ketika berhadapan dengan kekuasaan yang lebih kuat.
Pangeran Machiavelli adalah pragmatis di atas segalanya. Machiavelli tidak mengagumi mereka yang menentang peluang yang tidak bisa diatasi atau bertahan dalam perjuangan yang sudah kalah. Dalam Paradise Lost, Setan sendiri mengakui bahwa ketika masih di surga ia meremehkan kekuatan Tuhan—dan begitu berada di neraka, ia tidak membuat upaya apa pun untuk mempertimbangkan kembali logika pemberontakan awalnya.
Setan menempel pada strategi yang sudah terbukti membawa kegagalan, sebagian dengan mengklaim bahwa strategi itu hampir berhasil. Ia belajar tidak ada yang benar-benar dapat membuat Tuhan rentan. Kesombongannya bahwa ia bisa melakukannya, untuk meminjam penilaian Riebling yang dikutip Freedman, adalah “ejekan atas kebijaksanaan strategis.” Ia siap menggunakan kekuatan atau tipu daya—tapi bukan untuk mendapatkan keuntungan sejati, melainkan hanya untuk melancarkan “perang abadi.” Terhadap musuh yang mahakuasa, ini hampir tidak bisa disebut pragmatisme.
Freedman menyimpulkan dengan kalimat yang sangat tepat: “Setan mungkin tampak sebagai agen bebas yang dengan berani berinovasi untuk masa depannya, tapi sebenarnya ia adalah budak dari sifatnya sendiri.” Inilah batas akhir dari Machiavellianisme versi neraka: kesombongan yang tidak bisa diatasi membuat Setan tidak mampu menarik kesimpulan yang seharusnya sudah jelas dari analisis situasinya.
Dalam fiksi Milton, tugas Setan adalah memberi Tuhan kesempatan untuk membuktikan sesuatu. Setan “ditempatkan dalam puisi dengan Tuhan yang secara aksiomatis mahakuasa dan mahatahu.” Ini berarti, menurut John Carey yang dikutip Freedman, bahwa setiap gerakan bermusuhan yang ia buat harus mengalahkan dirinya sendiri. Fungsi fiktifnya adalah persis itu: menjadi contoh dari apa yang terjadi ketika seseorang menentang kekuasaan yang tidak mungkin ditaklukkan.
Tapi Freedman tidak membiarkan analisis ini berhenti di sana. Ia menunjukkan bahwa ada paradoks yang lebih dalam: justru karena Setan mengetahui bahwa Tuhan mahatahu, ia seharusnya mengetahui bahwa semua yang ia rencanakan sudah diketahui dan diperhitungkan. Pemberontakannya bukan hanya gagal secara strategis—ia secara struktural tidak bisa berhasil. Setan mengikuti strategi bukan karena ia percaya strategi itu akan berhasil, melainkan karena ia tidak punya pilihan lain yang konsisten dengan identitasnya.
Milton menulis tentang hal ini dengan mengungkapkan bahwa Setan memiliki “pikiran-pikiran yang terganggu”—mengakui kemahakuasaan Tuhan dan kesalahan pemberontakannya, serta keburukan yang ada dalam dirinya sendiri. Tapi kesombongannya tidak membiarkannya merenungkan penyerahan diri. Inilah tragedi yang sesungguhnya dari Setan: bukan bahwa ia jahat, melainkan bahwa ia tahu situasinya tidak ada harapan tapi tetap melanjutkan karena ia tidak bisa melakukan hal lain.
Perbandingan dengan Machiavelli di sini menjadi paling tajam. Machiavelli mengajarkan bahwa seorang pangeran yang bijak harus tahu kapan harus maju dan kapan harus mundur, kapan harus berjuang dan kapan harus menyesuaikan diri dengan keadaan. Setan tidak bisa melakukan penyesuaian itu. Ia terikat pada sifatnya—dan sifat itulah, bukan Tuhan, yang menjadi penjara sesungguhnya. Kebebasan yang ia khotbahkan adalah ilusi yang ia ciptakan untuk dirinya sendiri.
Batas-Batas Tipu Daya: Guile, Plot, dan Paradoks Kecerdikan
Bagian terakhir bab ini beralih dari kisah Setan ke pertanyaan yang lebih umum: apa sebenarnya status tipu daya sebagai alat strategis? Ini adalah pertanyaan yang relevan jauh melampaui konteks teologi atau sastra. Freedman menggunakannya untuk memeriksa ambivalensi mendalam yang selalu hadir dalam penilaian manusia terhadap kecerdikan, penipuan, dan tipu muslihat.
Titik awal Freedman adalah mengamati bahwa kecerdikan ular—yang membawa umat manusia ke permulaan yang buruk—tidak selalu dipandang negatif dalam referensi Alkitab yang reguler. Tapi di sini, di awal segala sesuatu, kecerdikan dipasangkan dengan kejatuhan. Milton memperkuat hubungan antara kecerdikan dan kejahatan dengan mengidentifikasi ular sebagai Setan yang menyamar. Dari sini, “tipu daya” dalam konteks strategis membawa konotasi yang spesifik: penipuan, kelicikan, dan kecurangan.
Dari perspektif strategis, tipu daya memang tampak lebih baik daripada kekerasan—setidaknya bagi pemenang. Tapi cara seperti itu kurang mulia. Mereka yang menang melalui tipu daya akan selamanya menanggung noda pada karakter mereka. Bahkan sampai hari ini, menyebut seseorang “tanpa tipu daya” masih merupakan pujian. Artinya, apa yang dikatakan orang itu bisa dipercaya apa adanya; tidak perlu mencari makna tersembunyi. Atau kita berbicara tentang korban yang “dibohongi” oleh kepribadian yang menggoda, seseorang yang telah teralihkan dari ketenangan dan rasionalitas normalnya.
Freedman lalu menelusuri kata kunci yang terkait: wiles, yang digunakan filsuf Hobbes sebagai alternatif untuk “menguasai diri semua orang yang bisa dikuasainya.” Kamus Oxford mendefinisikan wiles sebagai “trik yang licik, culas, atau menipu; artifisasi yang bersifat merusak atau curang; sebuah stratagem, ruse.” Stratagems—sebagaimana digambarkan oleh Frontinus—melibatkan penipuan, kejutan, rekayasa, pengaburan, dan kecurangan secara umum. Seorang stratagem masih didefinisikan sebagai “artifisasi atau trik yang dirancang untuk menipu atau mengejutkan musuh.”
Shakespeare memberikan banyak contoh tentang bagaimana menggunakan stratagem yang tampak kurang sehat—cara mendapatkan keuntungan tidak adil dengan mengejutkan musuh. Dalam Henry V, raja membanggakan kemenangan yang dicapai “tanpa stratagem” melainkan “dalam guncangan polos dan bahkan pertarungan terbuka.” Kemenangan tanpa trik lebih terhormat daripada kemenangan dengan trik, bahkan ketika kemenangan itu mungkin lebih mudah dicapai dengan trik.
Kata plot memiliki sejarah yang serupa. Konotasi negatifnya mengeras pada abad ketujuh belas, ketika upaya gagal para konspirator Katolik—termasuk Guy Fawkes—untuk meledakkan Gedung Parlemen saat Raja James berkunjung pada 5 November 1605, yang dikenal sebagai Gunpowder Plot. Sejak saat itu, plot menyiratkan pengkhianatan dan konspirasi—rencana yang menyimpang, direkayasa oleh segelintir orang, bergantung pada kerahasiaan, dan ditujukan untuk menggulingkan tatanan yang sudah ada.
Ironisnya adalah bahwa etimologi plot menyerupai etimologi plan. Keduanya awalnya merujuk pada bidang tanah yang datar, kemudian pada gambar suatu area atau bangunan, dan kemudian pada sekumpulan tindakan yang diadopsi untuk mencapai sesuatu. Sebuah plan menjadi proposal terperinci tentang bagaimana tujuan akan dicapai. Plot berubah menjadi sesuatu yang serupa, tetapi kurang sehat. Perbedaan halus antara keduanya ditemukan dalam kamus Dr. Johnson tahun 1755: sebuah plan adalah “skema,” sementara sebuah plot juga adalah “skema” tapi dengan tambahan “konspirasi, stratagem, rekayasa.”
Freedman menemukan dalam perbedaan antara plan dan plot ini sebuah pelajaran tentang standar ganda yang selalu hadir dalam penilaian tipu daya dan kecerdikan. Terhadap musuhmu sendiri, tipu daya bisa diterima—bahkan dikagumi jika triknya bagus. Tapi terhadap orang-orangmu sendiri, terhadap mereka yang mempercayaimu—tipu daya adalah hal yang hina. Semakin dekat ikatan sosial, semakin menjijikkan upaya mengeksploitasi ikatan itu melalui penipuan. Semakin lemah ikatan, semakin sulit untuk berhasil menipu.
Ketergantungan pada kecerdikan juga tunduk pada hukum hasil yang semakin berkurang. Begitu reputasi diperoleh, orang lain akan berjaga-jaga terhadap trik-trik serupa. Trik-trik seperti itu dengan demikian rentan terhadap masalah dalam pelaksanaan atau terekspos ketika lawan memiliki intelijen yang baik. Pengaruh kecerdikan dan tipu daya cenderung paling nyata dalam skala kecil dan bersifat personal. Mungkin saja menipu pemerintah dan tentara, tapi ini selalu merupakan perjudian dan mungkin tidak menghasilkan keuntungan yang lebih dari yang sementara dan terbatas.
Begitu peperangan bergerak ke arah tentara massa dengan organisasi yang kompleks, akan ada batas untuk apa yang bisa dicapai melalui tipu daya. Penekanan akan beralih kepada kekuatan. Ini adalah kesimpulan yang berbalik kembali kepada Setan: dalam konfrontasinya dengan Tuhan, ia tidak bisa mengandalkan kekuatan—jarak kekuatan terlalu jauh. Ia tidak bisa mengandalkan tipu daya—Tuhan Maha Tahu. Yang tersisa hanyalah kegigihan tanpa harapan, yang dipertahankan bukan oleh rasionalitas melainkan oleh ketidakmampuan untuk melakukan hal lain.
Pelajaran terakhir dari bab ini adalah bahwa tipu daya bukan hanya terbatas secara etis—ia terbatas secara strategis. Ia paling efektif dalam skala kecil, dalam kondisi ketidaksetaraan yang tidak terlalu besar, dan terhadap lawan yang tidak memiliki intelijen yang baik. Setan memiliki lawan yang memenuhi kriteria kebalikan dari semuanya: mahatahu, mahakuasa, dan tidak bisa ditipu. Dalam kondisi seperti itu, tidak ada strategi yang bisa berhasil—dan Setan, bagaimanapun pintarnya, tidak bisa mengubah realitas struktural itu.





