Isaiah Berlin, Zionisme, dan Arsitektur Kekerasan: Membaca Gaza, Iran, dan Lebanon dalam Geopolitik Israel Kontemporer
Ketika ide menjadi kekuatan—dan kekuatan mengubah sejarah menjadi konflik tanpa akhir.
Daftar Isi
ToggleZionisme Liberal, Ketakutan Eksistensial, dan Transformasi Menjadi Mesin Perang Permanen
Isaiah Berlin, ketika membaca asal-usul Israel, seperti terlihat dalam salah satu esainya, The Origin of Israel, dalam The Power of Ideas (2013), tidak pernah melihat Zionisme sebagai satu blok ide yang utuh dan konsisten. Yang tampak justru sebaliknya: sebuah proyek yang lahir dari fragmentasi ide-ide Eropa, dari liberalisme yang percaya pada kebebasan individu, dari nasionalisme yang menginginkan tanah dan kedaulatan, dari pengalaman diaspora yang panjang, serta dari bayang-bayang kekerasan yang terus menghantui. Di titik awal, Zionisme liberal membawa janji yang tampak rasional: sebuah bangsa yang selama berabad-abad tercerai harus memiliki ruang politik untuk hidup secara normal. Namun, Berlin mengingatkan bahwa ketika ide-ide besar dipindahkan dari ruang teori ke ruang sejarah, hasilnya jarang mengikuti niat awalnya. Di dalam realitas, Zionisme tidak hanya menjadi proyek kebebasan, tetapi juga menjadi proyek pembentukan kekuasaan yang harus menghadapi lingkungan yang tidak pernah netral.
Dalam kondisi seperti itu, liberalisme yang menjadi fondasi moral awal perlahan berubah bentuk. Ia tidak hilang, tetapi tertekan oleh tuntutan survival. Negara yang lahir dari ancaman tidak pernah bisa sepenuhnya mempraktikkan liberalisme secara murni, sebab setiap kebijakan akan diuji oleh pertanyaan: apakah ini aman? Berlin memahami paradoks ini dengan sangat halus. Ia melihat bahwa Israel sejak awal berdiri di antara dua dunia: dunia ideal liberal yang menjanjikan kebebasan dan dunia nyata yang penuh ancaman eksistensial. Ketika tekanan eksternal meningkat, dunia kedua akan mengambil alih. Dari sini, liberalisme tidak lagi menjadi prinsip pembimbing, melainkan menjadi narasi legitimasi yang dipertahankan di luar, sementara di dalam, logika keamanan menjadi hukum yang sesungguhnya.
Transformasi ini menjelaskan mengapa Israel hari ini tampak sebagai negara yang hidup dalam kondisi perang permanen. Gaza, Lebanon, dan Iran bukan hanya konflik yang muncul secara terpisah, tetapi juga bagian dari satu horizon ketakutan yang tidak pernah selesai. Dalam perspektif Berlin, komunitas yang sangat sadar akan sejarah penderitaan cenderung mengembangkan sensitivitas ekstrem terhadap ancaman. Sensitivitas ini, jika tidak dikendalikan, akan menghasilkan kecenderungan melihat dunia sebagai ruang yang selalu berpotensi memusnahkan. Maka setiap perlawanan, sekecil apa pun, dapat dibaca sebagai ancaman total. Dari sinilah muncul kecenderungan untuk merespons dengan kekuatan yang tidak proporsional. Bukan karena rasionalitas militer semata, tetapi karena psikologi kolektif yang terbentuk dari sejarah panjang ketakutan.
Di Gaza, kondisi ini mencapai bentuk paling telanjang. Ruang sempit yang padat penduduk itu diperlakukan bukan hanya sebagai wilayah konflik, tetapi sebagai titik di mana ancaman harus diputus secara radikal. Dalam logika perang permanen, tidak ada ruang bagi ambiguitas antara kombatan dan sipil. Semua menjadi bagian dari lingkungan ancaman. Maka penghancuran infrastruktur sipil, pemindahan paksa, pembatasan bantuan, dan operasi militer intensif tidak dilihat sebagai pelanggaran, tetapi sebagai konsekuensi dari perang yang dianggap eksistensial. Ketika logika ini bertemu dengan teknologi militer modern, hasilnya adalah kehancuran yang tidak lagi mengenal batas moral tradisional. Inilah yang membuat banyak lembaga internasional mulai menggunakan istilah genosida atau risiko genosida untuk menggambarkan situasi di Gaza. Tetapi dalam kerangka Israel sendiri, tindakan itu tetap dapat dipahami sebagai bagian dari upaya untuk memastikan bahwa ancaman tidak pernah tumbuh kembali.
Namun, Gaza hanyalah satu lapisan. Lebanon memperlihatkan bagaimana perang permanen bergerak ke arah yang lebih kompleks. Hezbollah tidak hanya dipandang sebagai musuh militer, tetapi juga sebagai simbol kegagalan Israel untuk menciptakan lingkungan yang sepenuhnya tunduk. Dalam pembacaan Berlinian, ini berkaitan dengan masalah yang lebih dalam: Israel tidak pernah benar-benar berhasil mengintegrasikan dirinya secara organik dengan kawasan Timur Tengah. Ia tetap membawa warisan ide Eropa, sementara berhadapan dengan realitas sosial-politik yang berbeda. Ketegangan ini menciptakan ruang di mana aktor seperti Hezbollah muncul sebagai representasi perlawanan yang tidak bisa diserap ke dalam tatanan yang diinginkan Israel. Maka konflik dengan Lebanon menjadi bukan sekadar konflik perbatasan, tetapi konflik antara dua visi tentang tatanan regional: satu yang ingin menata dari atas, dan satu yang menolak untuk ditata.
Iran membawa dimensi yang lebih luas lagi. Dalam banyak hal, Iran adalah antitesis dari proyek Israel sebagaimana dibaca melalui Berlin. Jika Israel adalah produk dari fragmentasi ide Eropa yang mencari pusat baru, maka Iran adalah negara yang mencoba memproyeksikan kekuatan dari dalam tradisi sendiri sambil menantang dominasi Barat di kawasan. Ketegangan antara keduanya bukan hanya soal kepentingan strategis, tetapi juga soal legitimasi sejarah dan peradaban. Israel melihat Iran sebagai ancaman yang tidak hanya militer, tetapi juga ideologis—sebuah pusat yang dapat menyatukan berbagai bentuk perlawanan di kawasan. Sementara Iran melihat Israel sebagai perpanjangan dari struktur kekuasaan global yang ingin mempertahankan dominasi di Timur Tengah. Dari sini, konflik antara keduanya tidak pernah benar-benar berhenti, meskipun tidak selalu dalam bentuk perang terbuka.
Jika ketiga front ini dilihat bersama, maka terlihat bahwa Israel bergerak dalam satu pola yang konsisten: mencegah terbentuknya jaringan kekuatan yang dapat menantang posisinya. Gaza dihancurkan agar tidak menjadi pusat mobilisasi Palestina. Lebanon ditekan agar tidak menjadi basis perlawanan regional yang efektif. Iran diserang secara langsung atau tidak langsung agar tidak mampu membangun poros strategis yang menghubungkan berbagai aktor anti-Israel. Ini bukan sekadar strategi militer, tetapi strategi untuk mengendalikan struktur kemungkinan di Timur Tengah. Dalam istilah yang lebih tajam, ini adalah upaya untuk memastikan bahwa masa depan kawasan tetap berada dalam batas yang dapat dikontrol oleh Israel dan sekutunya.
Berlin, dengan segala kehati-hatiannya sebagai seorang pemikir liberal, sebenarnya telah memberikan peringatan yang sangat dalam tentang bahaya dari proyek semacam ini. Ia menunjukkan bahwa ketika sebuah negara mencoba menyelesaikan masalah sejarah dengan solusi yang terlalu sederhana dan terlalu total, maka negara itu berisiko menciptakan masalah baru yang lebih besar. Herzl, dalam pembacaan Berlin, adalah contoh dari keberanian yang memotong kerumitan, tetapi juga dari kecenderungan untuk meremehkan kompleksitas realitas. Ketika pendekatan seperti itu menjadi dasar bagi kebijakan negara, maka setiap hambatan akan diperlakukan sebagai sesuatu yang harus disingkirkan, bukan dipahami. Dari sinilah lahir kecenderungan untuk menggunakan kekuatan secara terus-menerus, tanpa ruang bagi refleksi yang lebih dalam.
Pada akhirnya, yang terlihat hari ini adalah transformasi Zionisme liberal menjadi sesuatu yang sangat berbeda dari janji awalnya. Dari sebuah proyek yang ingin memberikan rumah bagi bangsa yang tercerai, ia berkembang menjadi mesin perang yang berusaha memastikan dominasi dalam lingkungan yang dianggap selalu berbahaya. Gaza menjadi simbol paling tragis dari transformasi ini. Lebanon menunjukkan bahwa dominasi tidak pernah sepenuhnya berhasil. Iran menandakan bahwa selalu ada kemungkinan munculnya kekuatan tandingan. Dan di tengah semua itu, pemikiran Berlin tetap relevan sebagai pengingat bahwa sejarah tidak pernah selesai dengan satu solusi. Ketika satu luka ditutup dengan kekuasaan, luka lain akan terbuka di tempat yang berbeda. Israel hari ini hidup di dalam paradoks itu—sebuah negara yang dibangun untuk mengakhiri ketakutan, tetapi justru terus bergerak dalam orbit ketakutan yang tidak pernah berakhir.
Fragmentasi Ide, Kolonialitas Tersembunyi, dan Geopolitik Penataan Timur Tengah
Isaiah Berlin dalam bagian-bagian akhir esai tersebut menyentuh sesuatu yang sering luput dari pembacaan politik kontemporer: Israel bukan hanya hasil dari penderitaan Yahudi, tetapi juga hasil dari transplantasi ide-ide Eropa ke dalam ruang Timur Tengah. Ketika Berlin menggambarkan bagaimana Yahudi Inggris, Prancis, Jerman, dan Amerika membawa imajinasi masing-masing ke Palestina, terlihat bahwa Israel sejak awal merupakan eksperimen peradaban. Eksperimen ini tidak netral. Ia membawa serta cara pandang tentang bagaimana masyarakat harus diatur, bagaimana ruang harus dibentuk, dan bagaimana “kemajuan” harus didefinisikan. Dalam bahasa yang lebih tajam, ini adalah kolonialitas yang tidak selalu diakui sebagai kolonialisme klasik, tetapi bekerja melalui bahasa pembangunan, modernisasi, dan keamanan.
Di titik ini, penting untuk memahami bahwa kolonialitas tidak selalu membutuhkan deklarasi formal sebagai penjajahan. Ia bekerja melalui asumsi bahwa satu bentuk kehidupan lebih tinggi daripada yang lain, bahwa satu sistem politik lebih rasional daripada yang lain, dan bahwa satu kekuatan memiliki hak untuk menata ruang demi stabilitas. Dalam teks Berlin, terlihat bagaimana sebagian Zionis Inggris membayangkan Palestina sebagai “civilising mission.” Ini bukan sekadar retorika. Ini adalah struktur pikiran yang memungkinkan tindakan ekstrem dibenarkan sebagai bagian dari tugas historis. Ketika Gaza dihancurkan, atau ketika Lebanon dibombardir, atau ketika Iran diserang secara pre-emptive, semua itu dapat dibingkai sebagai bagian dari upaya menjaga tatanan yang dianggap lebih rasional dan lebih stabil.
Namun, kolonialitas dalam konteks Israel memiliki bentuk yang lebih kompleks dibandingkan dengan kolonialisme klasik. Ia tidak datang dari luar sepenuhnya, tetapi dari komunitas yang juga memiliki sejarah penderitaan. Di sinilah letak paradoks yang sangat dalam. Berlin memahami bahwa orang Yahudi di Eropa tidak pernah sepenuhnya menjadi bagian dari masyarakat sekitarnya, tetapi juga tidak sepenuhnya terpisah. Mereka berada dalam posisi liminal. Ketika posisi liminal ini diubah menjadi proyek negara, negara tersebut membawa ambiguitas yang sama: antara menjadi bagian dari Timur Tengah dan tetap terikat pada warisan Barat. Ambiguitas ini menghasilkan ketegangan permanen. Israel tidak sepenuhnya dapat menyatu dengan kawasan, tetapi juga tidak dapat sepenuhnya melepaskan diri darinya. Maka yang muncul adalah upaya terus-menerus untuk menata kawasan agar sesuai dengan kebutuhan internal negara.
Dalam konteks ini, konflik dengan Iran menjadi sangat signifikan. Iran bukan sekadar ancaman militer, tetapi representasi dari tatanan alternatif yang tidak tunduk pada logika kolonialitas Barat. Iran menawarkan model kedaulatan yang menggabungkan tradisi lokal dengan ambisi geopolitik regional. Bagi Israel, keberadaan model seperti ini menciptakan ketidakpastian yang tidak dapat diterima. Maka serangan terhadap Iran, baik melalui operasi militer langsung, sabotase, maupun perang bayangan, harus dilihat sebagai bagian dari upaya menutup kemungkinan munculnya tatanan alternatif di Timur Tengah. Ini bukan sekadar soal nuklir. Ini soal siapa yang berhak mendefinisikan masa depan kawasan.
Lebanon, di sisi lain, memperlihatkan bagaimana kolonialitas Israel berhadapan dengan resistensi yang bersifat hibrida. Hezbollah bukan negara, tetapi memiliki kapasitas militer dan legitimasi sosial yang cukup untuk menantang Israel. Ini menciptakan situasi yang sangat sulit bagi strategi dominasi. Negara modern biasanya dirancang untuk berhadapan dengan negara lain. Tetapi Hezbollah berada di antara: bukan sepenuhnya negara, bukan sekadar milisi. Dalam perspektif Berlinian, ini adalah bentuk kompleksitas yang tidak dapat diselesaikan dengan solusi sederhana. Namun, negara yang lahir dari tradisi solusi radikal cenderung tetap mencoba memaksakan penyelesaian. Hasilnya adalah siklus kekerasan yang terus berulang, tanpa benar-benar menyelesaikan akar masalah.
Gaza menjadi titik di mana semua lapisan ini bertemu. Di sana terlihat bagaimana kolonialitas, ketakutan eksistensial, dan strategi geopolitik beroperasi secara bersamaan. Gaza bukan hanya wilayah yang dikepung, tetapi ruang yang terus-menerus diredefinisi melalui kekuatan militer. Penduduknya tidak hanya diperlakukan sebagai warga dari entitas politik yang bermusuhan, tetapi juga sebagai bagian dari lingkungan yang harus dikontrol secara total. Dalam kerangka ini, genosida—atau tuduhan genosida—tidak muncul sebagai anomali, tetapi sebagai konsekuensi logis dari sistem yang melihat keamanan sebagai nilai tertinggi dan menganggap bahwa segala sesuatu yang mengancam keamanan harus dihapuskan.
Berlin sebenarnya telah memberikan peringatan yang sangat relevan di sini. Ia menunjukkan bahwa ide-ide besar, ketika dipaksakan ke dalam realitas tanpa mempertimbangkan kompleksitas, akan menghasilkan distorsi moral. Zionisme, dalam bentuk awalnya, mungkin memiliki tujuan yang dapat dipahami. Tetapi ketika tujuan itu diubah menjadi proyek negara yang harus bertahan dalam lingkungan yang dianggap selalu bermusuhan, maka negara tersebut cenderung mengembangkan mekanisme kekerasan yang semakin intens. Setiap ancaman akan dibaca secara maksimal. Setiap respons akan cenderung berlebihan. Dan setiap kemenangan akan membuka jalan bagi konflik berikutnya.
Jika pola ini dilihat secara lebih luas, maka terlihat bahwa Israel tidak hanya berusaha mempertahankan dirinya, tetapi juga berusaha mengatur ritme konflik di Timur Tengah. Dengan menjaga konflik pada tingkat tertentu—tidak terlalu besar untuk menghancurkan dirinya, tetapi cukup besar untuk melemahkan lawan—Israel dapat mempertahankan posisi strategisnya. Ini adalah bentuk kontrol yang tidak selalu terlihat, tetapi sangat efektif. Gaza dihancurkan untuk mencegah stabilitas Palestina. Lebanon ditekan untuk mencegah konsolidasi kekuatan regional. Iran diserang untuk mencegah munculnya keseimbangan baru. Semua ini terjadi dalam satu kerangka: menjaga agar tidak ada aktor lain yang mampu mengubah struktur kekuasaan di kawasan.
Pada akhirnya, yang terlihat adalah sebuah proyek yang terus bergerak antara ketakutan dan dominasi. Israel tidak pernah sepenuhnya merasa aman, sehingga terus memperluas definisi ancaman. Pada saat yang sama, Israel memiliki kapasitas untuk memaksakan kehendaknya, sehingga terus mencoba menata lingkungan sekitarnya. Kombinasi ini menghasilkan dinamika yang sangat berbahaya: perang menjadi kondisi normal, dan perdamaian menjadi sesuatu yang sulit dibayangkan. Berlin membantu memahami akar dari dinamika ini, tetapi realitas hari ini menunjukkan bahwa peringatan tersebut belum diinternalisasi. Timur Tengah tetap menjadi ruang di mana sejarah, ide, dan kekuasaan bertabrakan—dan Israel berada di pusat tabrakan itu, sebagai aktor yang sekaligus dibentuk oleh sejarah dan terus membentuk sejarah dengan cara yang semakin keras.
Negara Buatan, Tradisi yang Dipaksakan, dan Kekerasan sebagai Fondasi Keteraturan
Isaiah Berlin pada bagian akhir esai tersebut menutup dengan satu refleksi yang sangat mengganggu: negara tidak dapat dibuat seperti mesin. Negara, menurut Berlin, membutuhkan akar, pertumbuhan, dan akumulasi tradisi yang perlahan. Ia menolak gagasan bahwa masyarakat dapat dirakit secara cepat dari fragmen-fragmen yang tidak organik. Namun justru di sinilah letak paradoks Israel. Berlin sendiri mengakui bahwa sesuatu yang “mustahil” tampaknya telah terjadi—sebuah negara dibangun dari potongan-potongan budaya, sejarah, dan manusia yang datang dari berbagai penjuru, lalu disatukan dalam waktu singkat. Israel, dalam pembacaan ini, adalah anomali historis: sebuah negara yang lahir bukan dari pertumbuhan organik, tetapi dari rekayasa sejarah yang dipercepat.
Anomali ini membawa konsekuensi yang sangat dalam. Negara yang tidak memiliki akar organik yang kuat di tanah tempat berdiri akan terus mencari legitimasi. Legitimasi ini tidak hanya dicari melalui pengakuan internasional, tetapi juga melalui kontrol terhadap ruang dan populasi. Dalam konteks Israel, kontrol ini terlihat dalam kebijakan teritorial, demografis, dan militer yang terus berkembang. Gaza, Tepi Barat, Lebanon Selatan, hingga ancaman terhadap Iran, semua menjadi bagian dari upaya membangun rasa stabilitas yang sebenarnya tidak pernah benar-benar tercapai. Negara yang dibangun dengan cepat harus terus bekerja lebih keras untuk mempertahankan dirinya, karena ia tidak memiliki kemewahan waktu untuk membiarkan tradisi tumbuh secara alami.
Dalam situasi seperti ini, kekerasan menjadi instrumen yang hampir tak terhindari. Bukan sekadar alat pertahanan, tetapi juga mekanisme pembentukan realitas. Ketika sebuah negara tidak dapat mengandalkan konsensus historis yang mendalam, ia akan cenderung menciptakan keteraturan melalui kekuatan. Ini bukan hanya soal militer, tetapi juga soal bagaimana ruang diatur, siapa yang boleh tinggal, siapa yang harus pergi, dan bagaimana narasi sejarah ditulis ulang. Gaza, dalam konteks ini, bukan hanya medan perang, tetapi laboratorium di mana keteraturan dipaksakan melalui kehancuran. Infrastruktur dihancurkan bukan hanya untuk melemahkan musuh, tetapi untuk mengubah kondisi dasar kehidupan sehingga bentuk perlawanan menjadi sulit dipertahankan.
Lebanon menunjukkan dimensi lain dari masalah ini. Di sana, Israel berhadapan dengan masyarakat yang memiliki akar historis yang lebih dalam di wilayahnya sendiri. Hezbollah bukan sekadar organisasi militer, tetapi bagian dari jaringan sosial dan politik yang terintegrasi dengan masyarakat lokal. Ini menciptakan tantangan yang berbeda. Kekuatan militer Israel yang sangat besar tidak dapat dengan mudah menghapus struktur sosial seperti itu. Maka konflik di Lebanon menjadi lebih kompleks dan berlarut-larut. Dalam kerangka Berlinian, ini adalah contoh bagaimana realitas sosial yang kompleks tidak dapat diselesaikan dengan pendekatan yang terlalu sederhana. Namun, negara yang terbiasa dengan solusi radikal akan terus mencoba, meskipun hasilnya sering kali kontraproduktif.
Iran memperluas masalah ini ke tingkat yang lebih tinggi. Jika Gaza adalah ruang yang dapat dihancurkan dan Lebanon adalah ruang yang dapat ditekan, maka Iran adalah ruang yang tidak dapat dengan mudah dikendalikan. Iran memiliki kapasitas negara, sejarah panjang, dan legitimasi internal yang membuatnya menjadi aktor yang jauh lebih sulit ditundukkan. Dalam konteks ini, strategi Israel terhadap Iran cenderung bersifat preventif dan disruptif. Serangan terhadap fasilitas nuklir, operasi intelijen, dan tekanan diplomatik semuanya bertujuan untuk mencegah Iran mencapai titik di mana ia dapat mengubah keseimbangan kekuasaan secara fundamental. Ini adalah bentuk perang yang tidak selalu terlihat sebagai perang terbuka, tetapi memiliki dampak yang sangat besar terhadap stabilitas kawasan.
Jika ketiga arena ini dilihat bersama, maka terlihat pola yang konsisten: Israel berusaha mengelola tingkat ancaman di berbagai level secara simultan. Gaza dikelola melalui penghancuran intensif, Lebanon melalui tekanan berkelanjutan, dan Iran melalui pencegahan strategis. Ini bukan sekadar respon terhadap situasi, tetapi bagian dari desain yang lebih besar. Negara yang tidak memiliki akar organik yang kuat di satu wilayah akan cenderung mengamankan dirinya dengan cara memperluas kontrol ke wilayah sekitarnya. Dalam istilah geopolitik, ini adalah bentuk dari security expansion—perluasan keamanan yang secara paradoks justru menciptakan lebih banyak konflik.
Berlin memberikan satu petunjuk penting untuk memahami mengapa pola ini terus berulang. Ia menekankan bahwa sejarah tidak mengikuti garis lurus dan bahwa solusi yang tampak sederhana sering kali mengabaikan kompleksitas yang mendalam. Israel, sebagai proyek yang lahir dari solusi radikal, terus membawa warisan tersebut dalam kebijakan-kebijakannya. Setiap krisis dihadapi dengan kecenderungan untuk mencari jawaban yang tegas dan cepat. Namun, realitas Timur Tengah tidak pernah sederhana. Ia terdiri dari lapisan-lapisan sejarah, identitas, dan kepentingan yang tidak dapat disatukan dalam satu kerangka tunggal. Ketika kompleksitas ini diabaikan, konflik akan terus muncul dalam bentuk yang berbeda.
Di titik ini, penting untuk melihat bahwa kekerasan bukan hanya hasil dari kebijakan, tetapi juga dari cara berpikir. Cara berpikir yang melihat dunia dalam kategori hitam-putih, yang menganggap keamanan sebagai nilai absolut, dan yang percaya bahwa kontrol adalah solusi utama, akan selalu menghasilkan konflik. Berlin, dengan pendekatan pluralismenya, sebenarnya menawarkan alternatif: bahwa dunia terdiri dari nilai-nilai yang seringkali tidak dapat disatukan, dan bahwa upaya untuk memaksakan satu nilai di atas yang lain akan menghasilkan tragedi. Namun dalam praktiknya, pendekatan ini sulit diterapkan dalam konteks negara yang merasa keberadaannya terus terancam.
Akhirnya, yang terlihat adalah siklus yang sulit diputus. Israel, sebagai negara yang lahir dari percepatan sejarah, terus berusaha menstabilkan dirinya melalui ekspansi kontrol. Gaza menjadi simbol kehancuran yang dipaksakan. Lebanon menjadi simbol resistensi yang tidak dapat sepenuhnya dihapus. Iran menjadi simbol batas dari kekuatan Israel—bahwa selalu ada titik di mana dominasi tidak dapat lagi diperluas tanpa risiko besar. Dalam semua ini, pemikiran Berlin tetap relevan sebagai alat untuk memahami, tetapi juga sebagai peringatan. Negara yang dibangun tanpa akar yang dalam mungkin dapat bertahan melalui kekuatan, tetapi kekuatan itu sendiri tidak pernah cukup untuk menciptakan keteraturan yang stabil. Tanpa pengakuan terhadap kompleksitas dan tanpa batasan moral yang jelas, kekerasan akan terus menjadi bahasa utama—dan Timur Tengah akan tetap menjadi ruang di mana sejarah tidak pernah benar-benar selesai.
Pluralisme yang Gagal, Monisme Keamanan, dan Tragedi yang Diproduksi Secara Sistematis
Isaiah Berlin berdiri di atas satu keyakinan yang sangat sederhana tetapi radikal: dunia tidak terdiri dari satu nilai tunggal yang dapat memerintah semua yang lain. Dunia adalah medan dari nilai-nilai yang beragam, sering bertentangan, dan tidak dapat sepenuhnya didamaikan. Dari sinilah Berlin membangun gagasan pluralisme—bahwa kehidupan politik harus mengakui keterbatasan, menerima konflik nilai, dan menolak godaan untuk memaksakan satu kebenaran total. Namun, justru di titik ini tragedi Israel hari ini dapat dibaca dengan sangat tajam. Negara yang lahir dari pengalaman ditolak oleh monisme Eropa—yang ingin menyeragamkan identitas—justru bergerak ke arah monisme baru: monisme keamanan.
Monisme keamanan ini bekerja secara halus tetapi total. Ia tidak selalu hadir sebagai ideologi eksplisit, tetapi sebagai asumsi dasar yang tidak dipertanyakan. Dalam kerangka ini, semua nilai lain—hak asasi, keadilan, kehidupan sipil, bahkan masa depan kawasan—ditundukkan di bawah satu pertanyaan tunggal: apakah ini aman bagi Israel? Ketika pertanyaan ini menjadi satu-satunya parameter, maka pluralisme Berlin runtuh. Tidak ada lagi ruang untuk melihat Palestina sebagai masyarakat dengan hak politik yang sah. Tidak ada ruang untuk melihat Lebanon sebagai ruang kompleks yang tidak dapat direduksi menjadi ancaman militer. Tidak ada ruang untuk melihat Iran sebagai aktor dengan rasionalitasnya sendiri. Semua direduksi menjadi satu kategori: ancaman terhadap keamanan.
Reduksi ini menghasilkan apa yang dapat disebut sebagai produksi tragedi secara sistematis. Berlin selalu menekankan bahwa tragedi dalam politik muncul ketika nilai-nilai yang sah saling bertabrakan tanpa solusi yang memuaskan. Namun, dalam konteks Israel hari ini, tragedi tidak lagi sekadar hasil dari benturan nilai yang tak terhindarkan. Tragedi menjadi sesuatu yang diproduksi secara aktif melalui kebijakan. Di Gaza, kehancuran bukan hanya konsekuensi dari perang, tetapi juga bagian dari strategi yang menganggap bahwa penghancuran total dapat menghilangkan ancaman. Di Lebanon, eskalasi berulang menciptakan kondisi di mana masyarakat sipil terus hidup dalam ketidakpastian. Di Iran, tekanan berkelanjutan menciptakan ketegangan yang selalu berada di ambang konflik terbuka. Tragedi tidak lagi menjadi kemungkinan; ia menjadi struktur.
Dalam kerangka Berlinian, ini adalah bentuk ekstrem dari kegagalan memahami pluralisme. Ketika satu nilai—dalam hal ini keamanan—diposisikan sebagai absolut, maka konflik tidak pernah bisa diselesaikan. Setiap tindakan untuk meningkatkan keamanan akan menciptakan ketidakamanan baru bagi pihak lain, yang pada gilirannya akan menghasilkan respons yang memperbesar ancaman awal. Ini adalah lingkaran yang tidak memiliki titik akhir. Gaza menjadi lebih hancur, tetapi perlawanan tidak hilang. Lebanon ditekan, tetapi Hezbollah tetap bertahan. Iran diserang, tetapi kapasitasnya justru berkembang dalam bentuk yang lebih tersembunyi. Setiap upaya untuk mencapai keamanan total justru memperdalam ketidakstabilan.
Berlin juga memperingatkan tentang bahaya dari keyakinan bahwa sejarah dapat dikendalikan sepenuhnya. Ia menolak gagasan bahwa manusia dapat merancang masyarakat ideal melalui perencanaan rasional semata. Dalam konteks Israel, keyakinan ini terlihat dalam upaya untuk menata Timur Tengah melalui kekuatan militer dan teknologi. Ada asumsi bahwa dengan cukup kekuatan, cukup intelijen, dan cukup tekanan, kawasan dapat diatur sesuai dengan kepentingan strategis tertentu. Namun, realitas menunjukkan sebaliknya. Timur Tengah tidak tunduk pada desain tunggal. Ia terus menghasilkan dinamika baru yang tidak dapat diprediksi sepenuhnya. Setiap intervensi membuka kemungkinan konflik baru.
Iran menjadi contoh paling jelas dari batasan ini. Upaya untuk menahan Iran melalui sanksi, sabotase, dan ancaman militer tidak menghasilkan kepatuhan penuh, tetapi justru mendorong Iran untuk mengembangkan strategi asimetris yang lebih kompleks. Ini menciptakan situasi di mana konflik tidak pernah benar-benar berakhir, tetapi juga tidak pernah sepenuhnya meledak menjadi perang total. Dalam kerangka Berlin, ini adalah contoh dari dunia yang tidak dapat direduksi menjadi satu logika tunggal. Upaya untuk memaksakan satu logika—keamanan Israel—justru menghasilkan pluralitas konflik yang semakin sulit dikendalikan.
Lebanon memperlihatkan dimensi lain dari kegagalan ini. Hezbollah tidak hanya bertahan secara militer, tetapi juga berkembang sebagai aktor politik dan sosial. Ini menunjukkan bahwa kekuatan tidak selalu dapat menghapus legitimasi. Dalam banyak kasus, kekerasan justru memperkuat narasi perlawanan. Berlin akan melihat ini sebagai bukti bahwa nilai-nilai seperti identitas, kehormatan, dan solidaritas tidak dapat dihancurkan hanya dengan kekuatan. Mereka memiliki daya tahan yang tidak mudah dipatahkan. Maka setiap upaya untuk menghapus ancaman melalui kekerasan akan selalu menghadapi batas yang tidak dapat dilewati.
Gaza, dalam konteks ini, menjadi simbol paling tragis dari kegagalan monisme keamanan. Di sana, hampir semua aspek kehidupan telah dihancurkan, tetapi konflik tidak berakhir. Ini menunjukkan bahwa keamanan tidak dapat dicapai melalui penghancuran total. Yang tercipta justru adalah ruang tanpa harapan, di mana kekerasan menjadi satu-satunya bahasa yang tersisa. Dalam kerangka Berlinian, ini adalah kondisi di mana semua nilai telah dikorbankan untuk satu nilai yang bahkan tidak dapat dicapai sepenuhnya. Ini adalah tragedi dalam bentuk paling murni.
Akhirnya, yang terlihat adalah dunia yang bergerak menjauh dari pelajaran yang ditawarkan Berlin. Alih-alih menerima pluralitas dan keterbatasan, politik di Timur Tengah—dengan Israel sebagai salah satu aktor utamanya—justru bergerak ke arah absolutisme yang semakin keras. Keamanan dijadikan alasan untuk segala sesuatu. Kekerasan dijadikan alat utama. Dan masa depan kawasan dibiarkan tergantung pada ketidakpastian yang terus diperbarui oleh setiap siklus konflik. Dalam kondisi seperti ini, tragedi tidak lagi menjadi sesuatu yang harus dihindari, tetapi sesuatu yang terus diproduksi—berulang, sistematis, dan semakin dalam.
Elite, Ide, dan Ilusi Kendali: Dari Herzl ke Netanyahu dalam Bayang-Bayang Berlin
Isaiah Berlin tidak pernah membaca sejarah sebagai arus impersonal semata. Dalam banyak tulisannya, termasuk fragmen tentang Israel, selalu tampak perhatian pada peran individu—para pemikir, organisator, dan elit politik—yang mengubah arah sejarah melalui gagasan yang tampak sederhana tetapi berdampak luas. Herzl, dalam pembacaan Berlin, bukan sekadar tokoh, melainkan titik kristalisasi dari kecemasan kolektif yang diubah menjadi proyek politik. Dari sini, satu garis panjang dapat ditarik hingga elit Israel kontemporer. Yang berubah bukan hanya konteks, tetapi intensitas dan skala dari keputusan-keputusan yang diambil. Jika Herzl menyederhanakan kompleksitas menjadi ide negara, maka elit hari ini menyederhanakan kompleksitas kawasan menjadi logika kontrol.
Di dalam garis itu, muncul ilusi yang sangat kuat: bahwa sejarah dapat dikendalikan melalui keputusan elit yang tepat. Berlin selalu skeptis terhadap ilusi ini. Baginya, sejarah penuh dengan konsekuensi yang tidak diinginkan, dengan dinamika yang tidak dapat diprediksi sepenuhnya. Namun, dalam praktik politik modern, khususnya dalam konteks Israel, terlihat keyakinan yang hampir tak tergoyahkan bahwa dengan kombinasi teknologi, intelijen, kekuatan militer, dan dukungan geopolitik, arah kawasan dapat diarahkan sesuai kepentingan strategis tertentu. Inilah yang dapat disebut sebagai ilusi kendali—keyakinan bahwa kompleksitas dapat ditundukkan oleh desain.
Ilusi ini terlihat jelas dalam cara Gaza diperlakukan. Ada asumsi bahwa dengan penghancuran intensif, dengan penghapusan kapasitas organisasi bersenjata, dan dengan tekanan terhadap populasi, suatu bentuk stabilitas baru dapat dipaksakan. Namun yang muncul justru sebaliknya: fragmentasi, radikalisasi, dan ketidakpastian yang semakin dalam. Berlin akan melihat ini sebagai contoh klasik dari kegagalan memahami bahwa masyarakat bukanlah objek pasif. Mereka merespons, beradaptasi, dan sering kali mengembangkan bentuk perlawanan yang tidak terduga. Dalam konteks ini, setiap tindakan yang dimaksudkan untuk menciptakan kontrol justru membuka kemungkinan baru yang berada di luar kontrol itu sendiri.
Lebanon memperlihatkan bagaimana elit Israel terus berhadapan dengan batas dari ilusi tersebut. Hezbollah tidak hanya bertahan, tetapi juga menyesuaikan diri dengan setiap bentuk tekanan. Ini menunjukkan bahwa kekuatan militer, betapapun besar, tidak selalu mampu menghasilkan hasil politik yang diinginkan. Berlin menekankan bahwa politik bukan hanya soal kekuatan, tetapi juga soal pengakuan terhadap realitas sosial yang kompleks. Ketika realitas ini diabaikan, kekuatan menjadi tumpul. Konflik dengan Lebanon yang terus berulang tanpa resolusi yang jelas adalah bukti dari batas tersebut.
Iran membawa tantangan ini ke tingkat yang lebih strategis. Elite Israel melihat Iran sebagai ancaman yang harus dikendalikan sebelum mencapai titik tertentu. Namun, upaya untuk mengendalikan Iran justru memperlihatkan keterbatasan dari kekuatan itu sendiri. Iran tidak hanya merespons secara militer, tetapi juga melalui jaringan politik, ekonomi, dan ideologis yang luas. Dalam kerangka Berlinian, ini menunjukkan bahwa kekuasaan tidak pernah sepenuhnya terpusat. Ia selalu tersebar dalam berbagai bentuk, dan setiap upaya untuk mengonsentrasikannya akan menghadapi resistensi yang tidak dapat sepenuhnya dihapus.
Di sinilah muncul ketegangan antara ide dan realitas. Elite politik seringkali bergerak dengan ide-ide yang memberikan rasa kepastian. Ide tentang keamanan total, dominasi regional, atau stabilitas yang dipaksakan memberikan kerangka yang jelas untuk bertindak. Namun, realitas tidak pernah mengikuti kerangka tersebut secara utuh. Berlin melihat ini sebagai sumber banyak tragedi dalam sejarah politik. Ketika ide menjadi terlalu dominan, ia cenderung mengabaikan fakta-fakta yang tidak sesuai. Hasilnya adalah kebijakan yang terus bergerak dalam arah yang sama, meskipun realitas menunjukkan bahwa arah tersebut tidak menghasilkan solusi.
Dalam konteks Israel hari ini, hal ini terlihat dalam keberlanjutan strategi yang sama di berbagai front. Gaza dihancurkan dengan harapan mengakhiri ancaman, tetapi ancaman berubah bentuk. Lebanon ditekan dengan harapan untuk melemahkan perlawanan, tetapi perlawanan tetap ada. Iran diserang atau ditekan dengan harapan mencegah konsolidasi kekuatan, tetapi justru berkembang dalam bentuk yang lebih kompleks. Ini menunjukkan bahwa strategi yang didasarkan pada ilusi kendali tidak hanya gagal mencapai tujuan, tetapi juga menciptakan kondisi baru yang lebih sulit dikendalikan.
Berlin mungkin akan mengatakan bahwa masalah utamanya bukan pada kurangnya kekuatan, tetapi pada cara kekuatan dipahami. Ketika kekuatan dilihat sebagai alat untuk menyelesaikan semua masalah, batas-batasnya menjadi tidak terlihat. Padahal setiap penggunaan kekuatan membawa konsekuensi yang tidak selalu dapat diprediksi. Dalam konteks Timur Tengah, konsekuensi ini tidak hanya dirasakan oleh Israel, tetapi juga oleh seluruh kawasan. Konflik yang terus berulang menciptakan kondisi di mana stabilitas jangka panjang menjadi semakin sulit dicapai.
Pada akhirnya, yang terlihat adalah paradoks yang semakin dalam. Elite politik bertindak dengan keyakinan bahwa mereka dapat mengendalikan sejarah, tetapi tindakan mereka justru memperlihatkan bahwa sejarah selalu lebih kompleks daripada yang dapat dikendalikan. Israel, dalam hal ini, menjadi contoh dari bagaimana negara modern yang sangat kuat sekalipun tetap terjebak dalam dinamika yang tidak sepenuhnya dapat diprediksi. Berlin memberikan kerangka untuk memahami paradoks ini, tetapi realitas menunjukkan bahwa pemahaman tersebut belum cukup untuk mengubah arah. Selama ilusi kendali tetap mendominasi, konflik akan terus berulang—dengan intensitas yang mungkin berbeda, tetapi dengan pola yang sama.
Geopolitik Ketakutan dan Arsitektur Konflik: Dari Lingkar Dalam ke Lingkar Luar
Isaiah Berlin, jika dibaca secara teliti dalam keseluruhan kerangka pemikirannya, tidak hanya berbicara tentang ide, tetapi tentang bagaimana ide itu menciptakan struktur tindakan. Dalam konteks Israel hari ini, yang terlihat bukan sekadar respons terhadap ancaman, tetapi pembentukan arsitektur konflik yang berlapis. Konflik tidak dibiarkan terjadi secara acak. Ia diatur, diarahkan, dan diposisikan dalam lingkar-lingkar tertentu. Lingkar paling dalam adalah Palestina—terutama Gaza—yang menjadi ruang di mana kekuatan digunakan paling intens. Lingkar berikutnya adalah Lebanon, sebagai zona penyangga yang terus ditekan. Lingkar terluar adalah Iran, sebagai pusat ancaman strategis yang harus dibatasi dari kejauhan. Ini bukan kebetulan, melainkan pola.
Pola ini hanya dapat dipahami jika keamanan tidak lagi dilihat sebagai kondisi, tetapi sebagai proyek. Keamanan, dalam kerangka ini, tidak pernah selesai. Ia harus terus diproduksi. Berlin akan melihat ini sebagai bentuk ekstrem dari ketakutan yang terinstitusionalisasi. Ketakutan tidak lagi menjadi respons sementara terhadap ancaman, tetapi menjadi dasar dari seluruh kebijakan. Negara hidup dalam mode antisipasi permanen. Setiap potensi ancaman di masa depan ditarik ke masa kini dan direspons seolah-olah sudah terjadi. Inilah yang menjelaskan mengapa tindakan pre-emptive menjadi begitu sentral dalam strategi Israel, baik di Gaza, Lebanon, maupun terhadap Iran.
Di Gaza, lingkar dalam ini memperlihatkan bagaimana keamanan diproduksi melalui penghancuran ruang hidup. Bukan hanya milisi yang menjadi target, tetapi juga kondisi yang memungkinkan kehidupan kolektif itu sendiri. Dengan menghancurkan rumah, infrastruktur, dan sistem sosial, yang diupayakan bukan sekadar kemenangan militer, tetapi transformasi ruang menjadi sesuatu yang tidak lagi dapat mendukung perlawanan. Dalam bahasa geopolitik, ini adalah reshaping of terrain—membentuk ulang medan bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara sosial dan psikologis. Namun, seperti yang telah berulang kali terlihat, reshaping semacam ini tidak menghapus konflik. Ia hanya mengubah bentuknya.
Lebanon, sebagai lingkar kedua, berfungsi sebagai ruang di mana konflik dijaga dalam intensitas tertentu. Tidak terlalu besar untuk memicu perang total, tetapi cukup besar untuk menjaga tekanan. Ini menciptakan kondisi yang sangat khas: perang tanpa deklarasi, konflik tanpa resolusi. Dalam kondisi seperti ini, kedua pihak terus beradaptasi. Hezbollah mengembangkan strategi asimetris, sementara Israel mengandalkan superioritas teknologi dan udara. Berlin mungkin akan melihat ini sebagai bentuk dari konflik nilai yang tidak dapat diselesaikan melalui satu kemenangan. Kedua pihak memiliki rasionalitasnya sendiri, dan tidak ada titik di mana salah satu dapat sepenuhnya menghapus yang lain.
Iran, sebagai lingkar terluar, memperlihatkan dimensi yang paling strategis dari arsitektur ini. Di sini, konflik tidak hanya terjadi di medan perang, tetapi juga dalam bentuk tekanan ekonomi, operasi intelijen, dan perang narasi. Israel tidak hanya berusaha menghadapi Iran secara langsung, tetapi juga membatasi pengaruhnya di seluruh kawasan. Ini menciptakan jaringan konflik yang meluas, di mana setiap titik—dari Suriah hingga Yaman—dapat menjadi bagian dari konfrontasi yang lebih besar. Dalam kerangka Berlinian, ini menunjukkan bagaimana satu konflik dapat berkembang menjadi banyak konflik, masing-masing dengan dinamika sendiri, tetapi tetap terhubung dalam satu struktur yang lebih luas.
Arsitektur ini menciptakan ilusi stabilitas. Selama konflik dapat dijaga dalam lingkar-lingkar tersebut, tampak seolah-olah situasi terkendali. Namun stabilitas ini sangat rapuh. Ia bergantung pada keseimbangan yang terus berubah. Satu kesalahan perhitungan, satu eskalasi yang tidak terduga, dapat dengan cepat mengubah konflik terbatas menjadi perang yang lebih luas. Berlin selalu mengingatkan bahwa sejarah penuh dengan momen seperti ini—momen di mana sistem yang tampak stabil tiba-tiba runtuh karena kompleksitas yang tidak lagi dapat ditahan.
Dalam konteks ini, peran Amerika Serikat juga tidak dapat diabaikan. Dukungan militer, politik, dan diplomatik terhadap Israel memperkuat kemampuan negara tersebut untuk mempertahankan arsitektur konflik ini. Namun pada saat yang sama, dukungan ini juga memperluas dampak konflik ke tingkat global. Iran tidak hanya melihat Israel sebagai lawan, tetapi juga sebagai bagian dari sistem kekuasaan yang lebih besar. Ini menambah lapisan baru dalam konflik, di mana setiap tindakan lokal memiliki implikasi global. Berlin, yang sangat sadar akan dinamika kekuasaan besar, akan melihat ini sebagai contoh bagaimana konflik regional dapat dengan mudah terhubung dengan struktur internasional yang lebih luas.
Namun, yang paling penting adalah bagaimana arsitektur ini memengaruhi cara berpikir. Ketika konflik diatur dalam lingkar-lingkar, dunia dipahami dalam kategori pusat dan pinggiran, ancaman dan keamanan, kontrol dan resistensi. Ini mempersempit ruang untuk melihat kemungkinan lain. Palestina tidak lagi dilihat sebagai mitra potensial dalam penyelesaian politik, tetapi sebagai masalah yang harus dikelola. Lebanon tidak dilihat sebagai negara dengan kompleksitas internal, tetapi sebagai medan untuk menahan Hezbollah. Iran tidak dilihat sebagai aktor dengan kepentingan yang dapat dinegosiasikan, tetapi sebagai ancaman yang harus dicegah. Dalam kondisi seperti ini, diplomasi menjadi subordinat dari strategi militer.
Berlin akan melihat ini sebagai bentuk penyederhanaan yang berbahaya. Dunia yang kompleks direduksi menjadi skema yang dapat dikendalikan. Namun, seperti yang telah terlihat, reduksi ini tidak menghilangkan kompleksitas. Ia hanya menundanya. Konflik terus muncul kembali, sering kali dalam bentuk yang lebih keras. Gaza menjadi lebih hancur, tetapi tidak lebih tenang. Lebanon tetap bergejolak. Iran tetap menjadi pusat ketegangan. Arsitektur konflik mungkin memberikan ilusi kendali, tetapi tidak pernah memberikan solusi.
Pada akhirnya, yang terlihat adalah sistem yang bergerak tanpa titik akhir. Keamanan terus dikejar, tetapi tidak pernah tercapai sepenuhnya. Konflik terus dikelola, tetapi tidak pernah diselesaikan. Dalam kerangka Berlinian, ini adalah kondisi di mana pluralitas dunia diabaikan, dan satu nilai—keamanan—dipaksakan sebagai pusat. Hasilnya bukan keteraturan, tetapi reproduksi konflik yang terus-menerus. Timur Tengah, dalam kondisi ini, tidak hanya menjadi ruang konflik, tetapi juga ruang di mana ide-ide tentang kekuasaan, keamanan, dan sejarah diuji—dan seringkali gagal memenuhi janji yang mereka bawa.
Eskatologi Politik, Ketakutan Tanpa Akhir, dan Batas dari Proyek Kekuasaan
Isaiah Berlin, jika ditarik sampai ke kedalaman paling sunyi dari esainya tentang Israel, sebenarnya sedang berbicara tentang satu bahaya yang jarang disadari: ketika sejarah dijadikan dasar legitimasi absolut, maka politik berubah menjadi sesuatu yang menyerupai eskatologi. Negara tidak lagi hanya bertindak untuk bertahan, tetapi untuk menyelesaikan sesuatu yang dianggap belum selesai sejak masa lalu. Dalam kerangka seperti ini, waktu kehilangan sifat terbukanya. Masa depan tidak lagi menjadi ruang kemungkinan, tetapi menjadi perpanjangan dari masa lalu yang harus “dituntaskan.” Di sinilah Israel modern mulai bergerak dari proyek politik menjadi proyek eskatologis—meskipun tidak selalu diakui secara eksplisit.
Dalam kondisi seperti ini, konflik tidak lagi dilihat sebagai sesuatu yang dapat diselesaikan melalui kompromi. Konflik menjadi bagian dari perjalanan menuju keadaan akhir yang dianggap benar. Berlin selalu menolak cara berpikir seperti ini. Baginya, dunia manusia tidak memiliki akhir yang harmonis. Tidak ada titik di mana semua nilai akan berdamai. Ketika sebuah negara bertindak seolah-olah titik itu ada, maka negara tersebut akan terus bergerak tanpa batas, karena tujuan yang dikejar tidak pernah benar-benar dapat dicapai. Inilah yang menjelaskan mengapa konflik Israel dengan Gaza, Lebanon, dan Iran tampak tidak memiliki titik akhir yang jelas. Setiap kemenangan justru membuka kebutuhan untuk kemenangan berikutnya.
Gaza, dalam perspektif ini, bukan hanya ruang konflik, tetapi ruang di mana eskatologi politik bekerja secara konkret. Penghancuran yang begitu luas tidak hanya bertujuan untuk mengalahkan musuh, tetapi untuk mengubah kondisi dasar sehingga ancaman tidak lagi mungkin muncul dalam bentuk yang sama. Namun logika ini mengandung kontradiksi yang sangat dalam. Dengan menghancurkan ruang hidup, yang dihasilkan bukan akhir dari konflik, tetapi kondisi yang membuat konflik menjadi lebih radikal. Berlin akan melihat ini sebagai kegagalan memahami bahwa manusia tidak hanya bereaksi terhadap kondisi material, tetapi juga terhadap makna. Ketika makna hidup dihancurkan, perlawanan justru dapat menjadi lebih intens.
Lebanon memperlihatkan bagaimana eskatologi ini bertabrakan dengan realitas yang tidak dapat dikendalikan. Hezbollah tidak bergerak dalam kerangka yang sama dengan Israel. Ia tidak berusaha mencapai dominasi total, tetapi mempertahankan kapasitas untuk terus ada dan melawan. Ini menciptakan asimetri yang sangat penting. Israel bergerak dengan logika penyelesaian, sementara Hezbollah bergerak dengan logika keberlanjutan. Dalam kerangka Berlinian, ini adalah benturan antara dua cara memahami waktu: satu yang ingin mengakhiri, dan satu yang hanya ingin bertahan. Ketika dua logika ini bertemu, konflik menjadi sulit diselesaikan karena tujuan dasarnya berbeda.
Iran membawa dimensi eskatologi ini ke tingkat yang lebih kompleks. Di satu sisi, Iran juga memiliki elemen eskatologis dalam cara memandang dirinya dan perannya di kawasan. Di sisi lain, Iran beroperasi dengan strategi yang sangat rasional dalam memanfaatkan ketidakseimbangan kekuatan. Ini menciptakan situasi di mana dua proyek besar saling berhadapan, masing-masing dengan visi tentang masa depan yang tidak kompatibel. Berlin akan melihat ini sebagai contoh ekstrem dari pluralitas nilai yang tidak dapat didamaikan. Ketika dua visi dunia saling bertabrakan tanpa ruang kompromi, maka konflik tidak hanya menjadi mungkin, tetapi hampir tak terhindarkan.
Namun yang paling penting dari pembacaan Berlin adalah kesadaran akan batas. Ia selalu menekankan bahwa manusia harus hidup dengan keterbatasan. Tidak semua masalah dapat diselesaikan. Tidak semua ancaman dapat dihapus. Tidak semua nilai dapat dipaksakan menjadi satu. Dalam konteks Israel, kesadaran ini tampak semakin jauh. Negara bergerak dengan asumsi bahwa keamanan total dapat dicapai, bahwa ancaman dapat dihilangkan sepenuhnya, dan bahwa kawasan dapat ditata sesuai dengan kebutuhan strategisnya. Tetapi setiap langkah menuju tujuan tersebut justru memperlihatkan batasnya. Gaza tidak menjadi lebih stabil. Lebanon tidak menjadi lebih tenang. Iran tidak menjadi lebih lemah secara fundamental.
Dari sini muncul pertanyaan yang lebih dalam: apakah proyek ini memiliki titik jenuh? Berlin tidak memberikan jawaban langsung, tetapi kerangka berpikirnya mengarah pada satu kemungkinan: bahwa setiap proyek yang menolak keterbatasan pada akhirnya akan menghadapi batas yang dipaksakan oleh realitas. Batas ini bisa muncul dalam bentuk kelelahan internal, tekanan internasional, atau perubahan dalam struktur kekuasaan global. Dalam konteks Timur Tengah, batas ini mungkin belum terlihat secara jelas, tetapi tanda-tandanya mulai muncul dalam bentuk konflik yang semakin sulit dikendalikan dan legitimasi yang semakin dipertanyakan.
Gaza, Lebanon, dan Iran, jika dilihat bersama, bukan hanya medan konflik, tetapi juga indikator dari batas tersebut. Gaza menunjukkan batas moral dari kekerasan. Lebanon menunjukkan batas militer dari dominasi. Iran menunjukkan batas strategis ekspansi. Ketiga batas ini tidak selalu menghentikan tindakan, tetapi mereka mengubah kondisi di mana tindakan itu terjadi. Berlin akan melihat ini sebagai momen di mana ilusi tentang kendali mulai retak, meskipun belum sepenuhnya runtuh.
Pada akhirnya, eskatologi politik yang tidak diakui ini menciptakan dunia yang terus bergerak menuju intensifikasi konflik. Tidak ada titik akhir yang jelas, hanya siklus yang semakin dalam. Berlin, dengan pluralismenya, menawarkan jalan yang berbeda: menerima bahwa dunia tidak akan pernah sepenuhnya aman, tetapi justru karena itu harus dibangun dengan kesadaran akan batas dan dengan pengakuan terhadap keberadaan yang lain. Tanpa itu, politik akan terus bergerak dalam logika yang sama—logika yang melihat kekuasaan sebagai solusi, dan pada akhirnya menemukan bahwa kekuasaan tidak pernah cukup untuk menyelesaikan apa yang ingin diselesaikan.
 Antara Ilusi Keamanan dan Batas Sejarah
Isaiah Berlin, jika dibaca hingga ke ujung logika pemikirannya, tidak pernah menawarkan solusi dalam arti teknis. Yang diberikan adalah cara melihat dunia—cara melihat bahwa sejarah tidak pernah tunduk pada satu kehendak, bahwa nilai-nilai tidak pernah sepenuhnya selaras, dan bahwa setiap upaya untuk memaksakan keselarasan total akan berakhir pada tragedi. Dalam konteks Israel hari ini, seluruh rangkaian konflik di Gaza, Lebanon, dan Iran memperlihatkan satu hal yang sangat jelas: negara bergerak dengan keyakinan bahwa keamanan dapat dicapai melalui kontrol yang semakin luas, sementara realitas terus menunjukkan bahwa kontrol tersebut tidak pernah cukup.
Di Gaza, kehancuran yang begitu luas tidak menghasilkan stabilitas yang dijanjikan. Yang muncul justru kondisi di mana kehidupan menjadi semakin rapuh, dan konflik menjadi semakin sulit dipadamkan. Ini menunjukkan bahwa keamanan tidak dapat dibangun di atas penghancuran total. Dalam kerangka Berlinian, ini adalah contoh dari benturan nilai yang tidak diselesaikan, tetapi ditekan dengan kekuatan. Tekanan itu mungkin menghasilkan ketenangan sementara, tetapi tidak pernah menghapus sumber konflik itu sendiri. Justru dalam banyak kasus, ia memperdalamnya.
Lebanon memperlihatkan bahwa bahkan kekuatan militer yang sangat besar memiliki batas. Hezbollah tidak dapat dihapus, bukan hanya karena kapasitas militernya, tetapi karena ia terhubung dengan struktur sosial yang lebih dalam. Ini menunjukkan bahwa kekuasaan tidak hanya bekerja melalui senjata, tetapi juga melalui legitimasi. Berlin selalu menekankan bahwa manusia hidup dalam dunia makna, bukan hanya dalam dunia kekuatan. Ketika makna ini diabaikan, kekuatan akan menghadapi resistensi yang tidak dapat sepenuhnya dihancurkan.
Iran, pada akhirnya, menjadi titik di mana seluruh proyek ini diuji. Jika Israel tidak mampu mengendalikan Iran, maka seluruh arsitektur keamanan regional yang dibangun selama ini akan berada dalam ketidakpastian. Di samping itu, upaya untuk mengendalikan Iran juga membawa risiko besar, karena dapat memicu konflik yang jauh lebih luas. Di sini terlihat dengan jelas batas dari strategi yang berbasis pada dominasi. Setiap langkah untuk memperkuat posisi justru membuka kemungkinan eskalasi yang lebih besar. Ini adalah dilema yang tidak memiliki solusi sederhana.
Berlin akan melihat kondisi ini sebagai manifestasi dari apa yang ia sebut sebagai “tragic choices.” Pilihan-pilihan dalam politik kerap bukan antara yang benar dan yang salah, tetapi antara dua hal yang sama-sama memiliki konsekuensi berat. Dalam konteks Israel, pilihan antara keamanan dan keadilan tidak pernah benar-benar dapat dipisahkan. Ketika keamanan dikejar tanpa batas, keadilan dikorbankan. Ketika keadilan diabaikan, keamanan menjadi rapuh. Ini adalah lingkaran yang tidak dapat diputus tanpa perubahan cara berpikir yang mendasar.
Namun demikian, perubahan cara berpikir inilah yang paling sulit terjadi. Negara yang telah terbiasa dengan logika kekuatan akan sulit beralih ke logika pengakuan. Apalagi ketika lingkungan sekitarnya juga penuh dengan ketidakpastian dan ancaman. Dalam kondisi seperti ini, pilihan yang paling rasional dalam jangka pendek sering kali adalah melanjutkan apa yang sudah dilakukan. Tetapi dalam jangka panjang, pilihan ini justru memperdalam masalah. Berlin mengingatkan bahwa rasionalitas jangka pendek sering kali bertentangan dengan kebijaksanaan jangka panjang.
Jika dilihat secara lebih luas, konflik di Timur Tengah hari ini bukan hanya tentang Israel, Palestina, Lebanon, atau Iran. Ia adalah cerminan dari kegagalan dunia modern untuk mengelola pluralitas. Ketika satu kekuatan mencoba memaksakan tatanannya, maka kekuatan lain akan muncul untuk menantangnya. Ini menciptakan dinamika yang terus bergerak, tanpa titik keseimbangan yang stabil. Berlin tidak menawarkan jalan keluar yang mudah, tetapi ia memberikan satu prinsip penting: bahwa pengakuan terhadap keberagaman dan keterbatasan adalah satu-satunya cara untuk menghindari tragedi yang lebih besar.
Pada akhirnya, masa depan proyek Israel akan ditentukan oleh kemampuannya untuk menghadapi batas-batas ini. Jika negara terus bergerak dalam logika ekspansi keamanan, maka konflik akan terus berulang, mungkin dengan intensitas yang semakin besar. Tetapi jika ada kesadaran bahwa tidak semua ancaman dapat dihapus dan bahwa keberadaan yang lain harus diakui, maka mungkin ada ruang untuk perubahan. Namun, ruang ini sangat sempit dan waktu untuk menemukannya semakin terbatas.
Dengan demikian, Israel tidak berada dalam posisi untuk mencapai keamanan absolut, tetapi juga tidak mudah keluar dari logika yang mendorongnya untuk terus mengejar keamanan tersebut. Inilah paradoks yang paling dalam. Negara yang dibangun untuk mengakhiri ketakutan justru terus hidup di dalam ketakutan itu sendiri. Dan selama ketakutan itu tetap menjadi dasar dari kebijakan, maka sejarah akan terus bergerak dalam pola yang sama—pola yang telah diperingatkan oleh Berlin sebagai jalan menuju tragedi yang tidak pernah benar-benar selesai.
About The Author
Kamaruzzaman Bustamam Ahmad
Prof. Kamaruzzaman Bustamam Ahmad (KBA) has followed his curiosity throughout life, which has carried him into the fields of Sociology of Anthropology of Religion in Southeast Asia, Islamic Studies, Sufism, Cosmology, and Security, Geostrategy, Terrorism, and Geopolitics. Prof. KBA is the author of over 30 books and 50 academic and professional journal articles and book chapters. His academic training is in social anthropology at La Trobe University, Islamic Political Science at the University of Malaya, and Islamic Legal Studies at UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. He received many fellowships: Asian Public Intellectual (The Nippon Foundation), IVLP (American Government), Young Muslim Intellectual (Japan Foundation), and Islamic Studies from Within (Rockefeller Foundation). Currently, he is Dean of Faculty and Shariah, Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry, Banda Aceh, Indonesia.
