Dune dan Perang Timur Tengah: Trump, Netanyahu, dan Shai-Hulud yang Akan Menelan Mereka
Daftar Isi
ToggleArrakis, Para Aktor, dan Panggung yang Terlalu Nyata
Sulit membaca konflik Iran, Amerika, dan Israel hari ini tanpa merasa bahwa kita sedang menyaksikan sesuatu yang lebih dari sekadar perang biasa. Ada intensitas simbolik yang melampaui kalkulasi militer. Pernyataan para pemimpin tidak lagi terdengar seperti bahasa diplomasi, melainkan seperti deklarasi eksistensial—tentang siapa yang berhak bertahan dan siapa yang harus dihentikan. Ketika Donald Trump menggunakan retorika yang kasar dan langsung di ruang publik digital, dan ketika Benjamin Netanyahu berbicara tentang ancaman Iran sebagai sesuatu yang tidak bisa ditoleransi secara historis, kita tidak hanya melihat strategi. Kita melihat konstruksi narasi. Dan di titik ini, dunia mulai bergerak seperti sebuah kisah.
Di sinilah Dune menjadi relevan, bukan sebagai perbandingan dangkal, tetapi sebagai struktur pemahaman. Film ini, yang dibintangi oleh Timothée Chalamet sebagai Paul Atreides, menghadirkan konflik yang pada permukaan tampak seperti perebutan sumber daya, tetapi di dalamnya bergerak sesuatu yang jauh lebih kompleks: takdir, mitos, dan manipulasi kesadaran kolektif. House Atreides, House Harkonnen, dan Imperium tidak hanya berperang untuk menguasai Arrakis. Mereka berperang untuk menentukan siapa yang berhak mendefinisikan masa depan.
Jika kita tarik garis secara hati-hati, Amerika dan Israel dalam konfigurasi saat ini sering beroperasi seperti Imperium dalam Dune—memiliki kapasitas militer yang luar biasa, kemampuan teknologi yang dominan, serta legitimasi global yang terus diproduksi melalui narasi keamanan. Namun, seperti Imperium, mereka menghadapi satu masalah mendasar: mereka tidak sepenuhnya memahami ruang yang ingin mereka kendalikan. Timur Tengah bukan sekadar wilayah strategis. Ia adalah ruang yang sarat dengan sejarah, trauma, dan keyakinan yang tidak bisa direduksi menjadi variabel kebijakan luar negeri.
Di sisi lain, Iran menempati posisi yang lebih ambigu, tetapi justru karena itu lebih menarik. Ia tidak bisa disederhanakan sebagai “Fremen” dalam arti literal, tetapi ada kemiripan tertentu dalam hal ketahanan dan cara bertahan dalam tekanan jangka panjang. Sejak Revolusi 1979, Iran telah hidup dalam kondisi konfrontasi yang hampir permanen dengan Barat. Sanksi, isolasi, dan ancaman militer bukanlah episode sementara, tetapi kondisi struktural. Dalam situasi seperti ini, negara tidak hanya mengembangkan strategi bertahan, tetapi juga membangun narasi tentang dirinya sendiri—narasi tentang perlawanan, martabat, dan posisi dalam sejarah.
Namun, yang paling berbahaya dari semua ini bukanlah kekuatan militer atau strategi politik, melainkan munculnya figur-figur yang mulai dibaca—atau membaca dirinya sendiri—dalam kerangka yang lebih besar dari sekadar kepemimpinan biasa. Dalam Dune, Paul Atreides tidak sekadar menjadi pemimpin karena kemampuan atau legitimasi politik. Ia menjadi Muad’Dib karena narasi yang telah disiapkan sebelumnya, yang kemudian ia isi dengan kehadirannya. Ia sadar bahwa dirinya sedang memasuki peran yang tidak sepenuhnya ia kendalikan. Dan justru di situlah tragedinya dimulai.
Dalam konteks Timur Tengah, kita mulai melihat gejala serupa dalam bentuk yang lebih subtil. Ketika konflik dibingkai sebagai pertarungan antara kebaikan dan kejahatan, antara eksistensi dan kehancuran, maka ruang untuk kompromi perlahan menghilang. Setiap aktor terdorong untuk memainkan perannya secara maksimal, karena mundur berarti mengkhianati narasi yang sudah terlanjur dibangun. Inilah momen ketika politik berubah menjadi sesuatu yang lebih dekat dengan mitologi.
Dan seperti dalam Dune, ketika mitologi mulai menguasai politik, perang tidak lagi sepenuhnya bisa dihentikan oleh rasionalitas. Ia bergerak dengan energi yang berbeda—energi yang berasal dari keyakinan, ketakutan, dan imajinasi kolektif. Di titik ini, pertanyaan tentang siapa yang lebih kuat menjadi kurang relevan. Yang lebih menentukan adalah siapa yang berhasil menguasai cerita. Karena pada akhirnya, dalam dunia seperti ini, yang menggerakkan manusia bukan hanya kepentingan, tetapi makna yang mereka percayai tentang apa yang sedang mereka lakukan.
Messiah, Muad’dib, dan Imajinasi yang Membakar Sejarah
Ada satu titik dalam Dune yang sering terlewat ketika orang membicarakan Paul Atreides. Banyak yang melihatnya sebagai pahlawan yang “ditakdirkan”, tetapi justru kekuatan cerita ini terletak pada kegelisahan Paul sendiri terhadap takdir itu. Ia tidak pernah benar-benar menginginkan posisi sebagai Muad’Dib. Ia melihat terlalu jauh—melihat kemungkinan perang besar yang akan dilakukan atas namanya, melihat bagaimana keyakinan orang-orang bisa berubah menjadi kekuatan yang tidak lagi bisa dikendalikan. Di situlah Dune menjadi bukan sekadar kisah kepahlawanan, tetapi tragedi kesadaran.
Yang membuat ini relevan dengan Timur Tengah hari ini bukan karena ada figur yang secara langsung “mengklaim” dirinya sebagai messiah, tetapi karena struktur imajinasi yang bekerja di bawah permukaan. Dalam konteks Iran, khususnya dalam tradisi Syiah, konsep tentang Imam Mahdi bukan sekadar doktrin teologis. Ia adalah horizon harapan—sebuah keyakinan bahwa sejarah tidak akan dibiarkan berjalan tanpa keadilan akhir. Keyakinan seperti ini tidak selalu hadir dalam bentuk eksplisit dalam politik sehari-hari, tetapi ia membentuk cara berpikir tentang konflik, tentang penderitaan, dan tentang kemenangan.
Masalahnya, ketika konflik meningkat dan tekanan eksternal semakin keras, imajinasi seperti ini bisa berubah fungsi. Dari yang semula menjadi sumber ketahanan, ia bisa menjadi sumber legitimasi untuk eskalasi. Tidak dalam arti sederhana—tidak ada tombol yang tiba-tiba ditekan lalu semua berubah menjadi “perang suci”. Prosesnya jauh lebih halus. Narasi tentang ketidakadilan yang berulang, tentang ancaman eksistensial, perlahan menyatu dengan keyakinan bahwa sejarah memang sedang menuju titik konfrontasi yang tidak bisa dihindari.
Dalam situasi seperti itu, para pemimpin tidak lagi sekadar membuat keputusan strategis. Mereka mulai berbicara dalam bahasa yang lebih besar daripada bahasa mereka sendiri. Ketika Benjamin Netanyahu menyebut ancaman Iran dalam kerangka historis yang panjang—bukan sekadar ancaman militer, tetapi ancaman terhadap eksistensi bangsa—ia tidak hanya berbicara kepada publik internasional. Ia sedang mengaktifkan memori kolektif. Demikian pula, ketika narasi perlawanan di Iran dibingkai sebagai bagian dari perjuangan yang lebih luas melawan dominasi global, ia tidak hanya berbicara tentang kebijakan, tetapi tentang posisi dalam sejarah.
Di sinilah kita mulai melihat kesamaan struktural dengan perjalanan Paul Atreides. Muad’Dib tidak muncul dari ruang kosong. Ia muncul dari narasi yang sudah disiapkan—oleh Bene Gesserit, oleh mitos Fremen, oleh kebutuhan akan figur yang bisa menyatukan semua ketegangan itu. Ketika Paul akhirnya “menjadi” Muad’Dib, ia sebenarnya sedang memasuki sesuatu yang sudah lebih dulu ada. Dan begitu ia masuk, ia tidak lagi sepenuhnya bebas untuk keluar.
Dalam konteks Timur Tengah, yang berbahaya bukanlah keberadaan satu figur messianik, tetapi kondisi yang memungkinkan lahirnya cara berpikir messianik. Ketika setiap pihak mulai melihat dirinya sebagai bagian dari cerita besar—sebagai pembela terakhir, sebagai penjaga sejarah, sebagai pihak yang tidak boleh kalah—maka ruang untuk rasionalitas menyempit. Kompromi menjadi terlihat seperti pengkhianatan. Keraguan menjadi kelemahan. Dan perang, perlahan, mulai terlihat seperti sesuatu yang “harus” terjadi.
Yang paling mengganggu dari semua ini adalah bahwa tidak ada satu pun aktor yang sepenuhnya tidak sadar. Seperti Paul, banyak yang mungkin memahami risiko dari jalur yang mereka tempuh. Mereka tahu bahwa eskalasi bisa berujung pada kehancuran yang luas. Tetapi kesadaran itu tidak selalu cukup untuk menghentikan proses yang sudah berjalan. Karena pada titik tertentu, yang menggerakkan bukan lagi kehendak individu, tetapi arus besar yang terbentuk dari ketakutan, keyakinan, dan sejarah yang saling mengunci.
Dan mungkin di situlah inti tragedinya. Bukan karena manusia tidak tahu apa yang sedang mereka lakukan, tetapi karena mereka tahu—dan tetap melanjutkan.
Bene Gesserit, Persia, Israel, dan Amerika: Garis-Garis Tua di Balik Perang Modern
Untuk masuk lebih jauh ke dunia Dune, kita tidak bisa berhenti pada Paul Atreides atau Muad’Dib saja. Ada kekuatan yang jauh lebih tua, lebih dingin, dan lebih sabar bekerja di balik dirinya: Bene Gesserit. Mereka bukan tentara. Mereka bukan penguasa formal. Mereka tidak duduk di takhta, tetapi justru karena itu pengaruh mereka lebih dalam. Mereka bekerja melalui garis keturunan, bahasa, tubuh, simbol, ritual, dan penanaman mitos lintas generasi. Mereka tahu satu hal yang sering tidak dipahami oleh para penguasa biasa: dunia tidak dikendalikan pertama-tama oleh senjata, tetapi oleh imajinasi yang ditanam cukup lama sampai diterima sebagai nasib. Bene Gesserit tidak menciptakan perang secara langsung; mereka menciptakan syarat-syarat batin dan kultural yang membuat perang, keselamatan, kepatuhan, bahkan figur penyelamat, tampak seolah-olah lahir secara alami dari sejarah.
Di sinilah Dune berubah dari kisah fiksi menjadi cermin yang sangat mengganggu bagi Timur Tengah. Sebab kawasan ini memang dibangun oleh lapisan-lapisan sejarah yang begitu tua, sehingga setiap konflik modern hampir selalu membawa gema masa lampau. Ketika kita menyebut Persia, kita tidak sedang menyebut Iran sebagai negara modern semata. Kita sedang menyebut salah satu peradaban tertua yang pernah mengorganisasikan dunia dalam skala imperium, dengan memori panjang tentang kedaulatan, kosmologi kekuasaan, dan martabat peradaban. Persia bukan sekadar nama lama untuk Iran; Persia adalah kedalaman sejarah yang membuat Iran modern tidak pernah benar-benar bisa dipahami hanya sebagai negara-bangsa biasa. Ia memiliki cadangan psikologis dan simbolik yang jauh melampaui batas republik kontemporer. Karena itu, ketika Iran berkonfrontasi dengan Amerika dan Israel, yang bergerak bukan hanya rezim atau militer, tetapi juga bayangan tua sebuah peradaban yang merasa dirinya berkali-kali dihina, dikepung, dan dipaksa tunduk oleh tata dunia yang dibangun tanpa persetujuannya.
Lalu ada Israel, yang juga tidak pernah hadir di dalam sejarah modern sebagai entitas politik biasa. Negara ini berdiri di atas pertemuan antara trauma, kitab suci, memori pengusiran, janji tanah, dan rasa genting yang tidak pernah benar-benar selesai. Dalam banyak kasus, dunia membaca Israel hanya sebagai negara militer maju dengan teknologi tinggi dan dukungan Amerika yang kuat. Pembacaan seperti itu tidak salah, tetapi terlalu tipis. Di bawah lapisan negara modern, ada kesadaran yang jauh lebih tua: kesadaran umat yang dibentuk oleh pengalaman diaspora, ancaman pemusnahan, dan keyakinan bahwa eksistensi tidak pernah boleh dianggap aman. Karena itu, logika keamanan Israel tidak bisa dilepaskan dari psikologi sejarahnya. Ia bereaksi bukan hanya terhadap ancaman masa kini, tetapi terhadap memori yang telah dipadatkan selama berabad-abad. Dalam kerangka ini, Israel memiliki kemiripan tertentu dengan rumah-rumah besar dalam Dune: sebuah entitas yang hidup bukan hanya dari kekuatan militer, tetapi dari keyakinan mendalam bahwa bertahan hidup adalah tugas sejarah yang tak bisa dinegosiasikan.
Kemudian ada Amerika, dan di sinilah persoalannya menjadi lebih rumit. Amerika sering tampil di panggung dunia sebagai kekuatan modern yang percaya pada masa depan, inovasi, kemajuan, dan kebebasan. Namun asal-usul Amerika sendiri sesungguhnya tidak sesederhana narasi nasional yang sering dikisahkan. Negara ini lahir dari koloni-koloni yang memisahkan diri dari kekuasaan Inggris, tetapi lebih dalam dari itu, ia lahir dari pertemuan antara warisan Eropa, semangat Protestan, kolonialisme pemukim, pengusiran penduduk asli, dan gagasan bahwa mereka adalah masyarakat “terpilih” yang memiliki mandat historis untuk membangun dunia baru. Di sini kita mulai melihat sesuatu yang sangat penting: Amerika bukan hanya proyek politik, tetapi juga proyek metafisik. Ada unsur messianis dalam cara Amerika memahami dirinya sendiri—bahwa ia bukan sekadar bangsa di antara bangsa-bangsa lain, tetapi pembawa tatanan, penafsir kebebasan, bahkan kadang-kadang penyelamat sejarah. Inilah yang membuat Amerika, dalam banyak konflik, masuk dengan keyakinan moral yang nyaris religius, meskipun bahasanya tampak sekuler.
Kalau kita tarik semuanya ke Dune, maka paralelnya mulai terlihat lebih tajam. Bene Gesserit bekerja dengan menanam mitos dan menyiapkan figur masa depan; Amerika dalam sejarah modern sering bekerja bukan hanya lewat pangkalan militer dan aliansi, tetapi juga melalui produksi narasi global tentang demokrasi, ancaman, stabilitas, dan siapa yang layak disebut rasional. Persia/Iran membawa ingatan peradaban yang panjang, seperti Fremen yang tidak dibaca dengan benar oleh kekuatan luar karena dianggap hanya bagian dari lanskap konflik. Israel membawa memori eksistensial yang membuat setiap ancaman terasa lebih mutlak daripada yang tampak di mata pihak luar. Dan di tengah semua itu, figur messiah—atau setidaknya imajinasi tentang figur penyelamat—selalu mengintai. Tidak selalu hadir dalam satu tubuh, tetapi hadir sebagai struktur perasaan: harapan bahwa seseorang, atau sesuatu, akan datang untuk memutus penghinaan sejarah dan menata ulang dunia.
Yang membuat Bene Gesserit sangat penting dalam analisis ini adalah karena mereka mengajarkan satu pelajaran yang pahit: sejarah sering kali tidak bergerak terutama oleh peristiwa yang tampak, tetapi oleh rekayasa jangka panjang atas cara manusia membayangkan keselamatan. Mereka menanam Missionaria Protectiva, menyebarkan nubuat di tempat-tempat jauh, lalu menunggu sampai suatu hari nubuat itu bisa dipakai sebagai alat kekuasaan. Bukankah dunia modern juga bekerja seperti itu? Bukankah banyak perang didahului oleh penanaman bahasa, simbol, kategori, dan rasa takut yang dipelihara bertahun-tahun? Dalam konflik Iran, Israel, dan Amerika, kita melihat bagaimana opini publik, bahasa ancaman, citra musuh, dan klaim moral diproduksi terus-menerus sampai akhirnya kekerasan terasa sah, bahkan perlu. Pada titik ini, modernitas menjadi sangat mirip dengan ritual kuno: ia menyebut dirinya rasional, tetapi digerakkan oleh mitos yang tidak diakuinya sebagai mitos.
Akhirnya, yang paling gelap dari semua ini adalah kenyataan bahwa tidak satu pun aktor berdiri di luar cerita. Amerika merasa dirinya pembawa tatanan. Israel merasa dirinya penjaga eksistensi. Iran merasa dirinya pewaris martabat Persia sekaligus benteng perlawanan. Masing-masing membawa sejarah yang nyata, luka yang nyata, dan keyakinan yang tidak sepenuhnya palsu. Tetapi justru karena itulah konflik menjadi begitu sulit dipadamkan. Dalam Dune, tragedi muncul ketika manusia mulai percaya bahwa dirinya sedang menjalankan peran yang lebih besar daripada dirinya sendiri, dan karena itu merasa dibebaskan dari keraguan biasa. Bene Gesserit tahu bagaimana memanfaatkan keadaan itu. Dunia modern pun tampaknya belum berhenti melakukan hal yang sama. Maka perang di Timur Tengah bukan hanya benturan kepentingan. Ia adalah benturan memori, nubuat, rasa terpilih, dan ketakutan purba yang kini mengenakan pakaian negara modern. Dan selama lapisan-lapisan tua itu tidak dibaca dengan jernih, kita akan terus salah mengira bahwa yang sedang bertempur hanyalah rudal, tentara, dan kabinet—padahal sesungguhnya yang saling berhadapan adalah sejarah yang belum selesai menguburkan dirinya sendiri.
Wajah Penjahat: Antara Baron, Imperium, dan Bahasa Kekuasaan
Jika kita kembali ke semesta Dune, ada satu hal yang sering disederhanakan oleh penonton: siapa yang disebut “jahat”. Banyak langsung menunjuk Baron Harkonnen—tubuh besar yang melayang, suara yang berat, kekejaman yang tidak disembunyikan. Tetapi kalau kita berhenti di sana, kita justru melewatkan sesuatu yang lebih berbahaya. Dalam Dune, kejahatan tidak hanya hadir dalam bentuk yang vulgar. Ia juga hadir dalam bentuk yang rasional, terorganisasi, bahkan tampak sah. Imperium, misalnya, tidak pernah tampil sebagai monster. Ia tampil sebagai tatanan. Dan justru karena itu, ia lebih sulit dibaca.
Baron Harkonnen adalah bentuk kejahatan yang jujur terhadap dirinya sendiri. Ia tidak berpura-pura. Ia tidak menyembunyikan niatnya untuk menguasai, mengeksploitasi, dan menghancurkan. Dalam banyak hal, ia adalah karikatur dari kekuasaan yang tidak lagi membutuhkan legitimasi moral. Tetapi Imperium—dengan struktur politiknya, dengan bahasa stabilitasnya—lebih dekat dengan dunia kita hari ini. Ia tidak mengatakan “kami ingin menguasai”, tetapi “kami ingin menjaga keseimbangan”. Ia tidak menyebut dirinya agresor, tetapi penjamin ketertiban. Di sinilah batas antara penjahat dan penguasa mulai kabur.
Ketika kita membaca figur seperti Donald Trump, kita menemukan sesuatu yang tidak sepenuhnya asing dari dua wajah ini. Trump tidak berbicara dalam bahasa diplomasi klasik. Ia kasar, langsung, sering kali tanpa filter. Dalam banyak pernyataannya, ancaman tidak dibungkus dengan elegansi, tetapi disampaikan apa adanya. Dalam kerangka Dune, ia lebih dekat dengan figur yang tidak merasa perlu menyamarkan kekuasaan. Ada unsur “Baron” di sana—bukan dalam arti literal, tetapi dalam keberanian untuk menampilkan kehendak dominasi tanpa banyak hiasan moral. Namun, justru karena itu, banyak orang salah membaca Trump hanya sebagai anomali, padahal ia mungkin hanya memperlihatkan secara terbuka sesuatu yang selama ini disembunyikan oleh bahasa politik yang lebih halus.
Berbeda dengan itu, Benjamin Netanyahu beroperasi dengan cara yang lebih dekat dengan logika imperium. Ia berbicara dalam kerangka sejarah, keamanan, dan eksistensi. Setiap tindakan ditempatkan dalam narasi bahwa Israel berada dalam ancaman yang terus-menerus, sehingga hampir semua respons bisa dibenarkan sebagai tindakan defensif. Ini bukan sekadar strategi komunikasi. Ini adalah konstruksi realitas. Dalam dunia seperti ini, kekerasan tidak lagi tampil sebagai pilihan, tetapi sebagai keharusan. Dan ketika sesuatu sudah dianggap sebagai keharusan, ruang untuk mempertanyakan perlahan menghilang.
Namun, yang membuat situasi ini jauh lebih kompleks adalah bahwa kedua figur ini tidak melihat diri mereka sebagai penjahat. Tidak ada baron yang mengaku dirinya jahat. Tidak ada imperium yang menyebut dirinya penindas. Setiap aktor bergerak dengan keyakinan bahwa ia berada di sisi yang benar dari sejarah. Trump berbicara tentang kekuatan dan kepentingan nasional Amerika. Netanyahu berbicara tentang keselamatan bangsa Yahudi. Dalam kerangka internal mereka, semua itu masuk akal. Dan justru di situlah letak masalahnya. Kejahatan modern jarang muncul sebagai kesadaran untuk berbuat jahat. Ia muncul sebagai keyakinan bahwa tidak ada pilihan lain.
Dalam Dune, yang paling mengganggu bukanlah kekejaman Harkonnen semata, tetapi bagaimana seluruh sistem memungkinkan kekejaman itu terjadi. Imperium tahu. Bene Gesserit tahu. Semua aktor besar tahu bahwa permainan ini akan menghasilkan penderitaan besar. Tetapi mereka tetap melanjutkannya karena setiap bagian dari sistem merasa bahwa ia memiliki alasan yang cukup kuat. Dunia modern bekerja dengan cara yang sangat mirip. Amerika, Israel, dan bahkan Iran masing-masing memiliki narasi yang membuat tindakan mereka tampak perlu. Tidak ada yang merasa sedang memainkan peran antagonis, tetapi hasil akhirnya tetap sama: eskalasi yang terus meningkat.
Maka jika kita ingin jujur dalam membaca paralel ini, kita harus berhenti mencari “penjahat tunggal”. Trump bukan Baron sepenuhnya, Netanyahu bukan Imperium sepenuhnya. Tetapi keduanya memperlihatkan fragmen-fragmen dari struktur kekuasaan yang dalam Dune digambarkan dengan sangat telanjang. Yang satu menunjukkan wajah kekuasaan yang tidak lagi peduli pada bahasa moral. Yang lain menunjukkan bagaimana kekuasaan bisa membungkus dirinya dengan narasi yang membuatnya tampak tak terelakkan. Dan di antara keduanya, dunia bergerak—bukan menuju penyelesaian, tetapi menuju pengulangan.
Pada akhirnya, mungkin pertanyaan yang lebih jujur bukanlah siapa yang menjadi penjahat dalam konflik ini. Pertanyaan yang lebih sulit adalah: sejauh mana struktur dunia yang kita bangun memungkinkan setiap aktor untuk merasa benar, bahkan ketika mereka sedang memperdalam kehancuran. Dalam Dune, tidak ada kemenangan yang benar-benar bersih. Setiap kemenangan membawa konsekuensi yang lebih panjang. Dan jika kita membaca Timur Tengah dengan kejujuran yang sama, kita mungkin akan sampai pada kesimpulan yang tidak nyaman: bahwa dalam perang seperti ini, yang kalah bukan hanya pihak yang dihancurkan, tetapi juga kemampuan manusia untuk melihat dirinya sendiri tanpa ilusi.
Shai-Hulud, Paul, dan Rahasia Menguasai yang Tidak Bisa Dikuasai
Di dalam Dune, momen ketika Paul Atreides menunggangi Shai-Hulud bukan sekadar adegan spektakuler. Itu adalah titik ontologis—perubahan cara berada dalam dunia. Shai-Hulud, bagi Fremen, bukan sekadar makhluk raksasa gurun. Ia adalah sesuatu yang sakral, “Old Man of the Desert”, bahkan dipahami sebagai manifestasi kekuatan ilahi yang mengatur kehidupan Arrakis . Ia ditakuti, dihormati, dan tidak pernah benar-benar “ditaklukkan” dalam arti biasa. Maka ketika Paul berhasil menungganginya, yang terjadi bukan dominasi. Yang terjadi adalah pengakuan—bahwa ia telah masuk ke dalam ritme gurun itu sendiri.
Paul tidak menaklukkan Shai-Hulud dengan kekuatan. Ia tidak datang sebagai penakluk yang memaksakan kehendak. Ia belajar pola, membaca getaran, memahami bagaimana gurun “mendengar”. Fremen tahu bahwa setiap langkah ritmis akan memanggil cacing. Maka mereka berjalan tanpa pola. Mereka hidup dengan kesadaran bahwa gurun selalu mengawasi. Ketika Paul akhirnya menggunakan “maker hooks” untuk mengendalikan arah Shai-Hulud, itu bukan karena ia lebih kuat, tetapi karena ia telah cukup lama hidup di dalam logika gurun. Ia tidak lagi menjadi orang luar. Ia menjadi bagian dari sistem itu.
Di titik ini, kita harus berhenti membaca adegan ini sebagai kemenangan manusia atas alam. Ini bukan Prometheus modern. Ini lebih dekat dengan inisiasi. Paul menjadi Muad’Dib bukan karena ia mengalahkan sesuatu, tetapi karena ia diterima oleh sesuatu yang lebih tua darinya. Dan sejak saat itu, ia tidak lagi bebas. Ia terikat pada kekuatan yang ia “naiki”. Ia bisa mengarahkan, tetapi tidak bisa sepenuhnya menghentikan konsekuensi dari apa yang telah ia aktifkan. Di sinilah tragedi Paul dimulai: kekuasaan yang ia peroleh adalah kekuasaan yang juga mengikatnya.
Sekarang, jika kita pindahkan perhatian ke Iran, kita menemukan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan hanya dengan bahasa militer modern. Iran bukan sekadar negara dengan wilayah gurun. Ia adalah ruang geografis yang keras—pegunungan, dataran kering, gurun luas—yang secara historis membuat invasi menjadi mahal dan sulit . Tetapi yang lebih penting dari geografi adalah bagaimana masyarakat di dalamnya beradaptasi terhadap kondisi itu. Seperti Fremen, ada proses panjang pembentukan ketahanan—bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara mental dan kultural.
Iran tidak “menguasai gurun” dalam arti teknis. Ia hidup di dalam struktur ruang yang sama selama berabad-abad. Dari Persia kuno hingga republik Islam yang modern, ada kesinambungan tertentu dalam cara bertahan terhadap tekanan eksternal. Ini bukan romantisasi. Ini adalah hasil dari sejarah panjang konfrontasi, invasi, dan isolasi. Dalam konteks konflik dengan Amerika dan Israel, keunggulan Iran bukan terletak pada dominasi terbuka, tetapi pada kemampuannya beroperasi dalam kondisi yang tidak stabil—menggunakan jaringan, ruang, dan waktu dengan cara yang tidak selalu terbaca oleh logika militer konvensional.
Di sinilah analogi dengan Shai-Hulud menjadi lebih tajam, tetapi juga lebih berbahaya jika disederhanakan. Iran bukan Shai-Hulud. Tetapi konflik di Timur Tengah memiliki sifat seperti Shai-Hulud: besar, tua, sulit dikendalikan, dan selalu bereaksi terhadap getaran kecil sekalipun. Setiap serangan, setiap retorika, setiap tekanan ekonomi menciptakan “getaran” yang memanggil respons lain. Dan seperti dalam Dune, begitu sesuatu itu bergerak, tidak ada satu aktor pun yang sepenuhnya mengendalikannya. Bahkan mereka yang tampak “menunggangi” konflik itu sebenarnya sedang bergerak di atas sesuatu yang bisa sewaktu-waktu berbalik menghancurkan mereka.
Secara struktural, ada resonansi yang tidak bisa diabaikan. Fremen menerima Paul bukan karena ia datang sebagai penakluk, tetapi karena ia masuk ke dalam narasi yang sudah mereka miliki. Bene Gesserit, melalui Lady Jessica, telah menanam benih mitos itu jauh sebelumnya. Ketika Paul datang, ia tidak menciptakan kepercayaan. Ia mengisi ruang yang sudah disiapkan.
Dalam konteks Iran dan Timur Tengah, kita juga melihat bagaimana narasi-narasi besar—tentang perlawanan, keadilan, ancaman eksistensial—sudah ada sebelum konflik terbaru meledak. Para aktor politik hari ini tidak menciptakan semuanya dari nol. Mereka masuk ke dalam struktur makna yang sudah terbentuk selama puluhan, bahkan ratusan tahun. Ketika mereka berbicara, mereka tidak hanya berbicara sebagai individu, tetapi juga sebagai perpanjangan dari sejarah yang lebih panjang. Dan seperti Paul, begitu mereka masuk terlalu dalam, mereka tidak lagi sepenuhnya bebas untuk keluar.
Akhirnya, mungkin ini yang paling penting untuk dipahami: dalam Dune, menunggangi Shai-Hulud adalah tanda kekuasaan, tetapi juga tanda keterikatan. Dalam dunia nyata, setiap upaya untuk “mengendalikan” Timur Tengah—baik oleh kekuatan eksternal maupun internal—selalu membawa risiko yang sama. Bukan hanya gagal mengendalikan, tetapi justru terseret lebih dalam ke dalam dinamika yang tidak bisa dihentikan. Dan di titik itu, perbedaan antara pengendali dan yang dikendalikan menjadi semakin tipis—hampir tidak terlihat.
Akhir Para Penakluk: Ketika Kekuasaan Memakan Dirinya Sendiri
Dalam semesta Dune, tidak ada penjahat yang benar-benar “menang” dalam arti yang bersih. Bahkan mereka yang tampak dominan—seperti House Harkonnen—membawa di dalam diri mereka benih kehancuran. Kekuasaan yang dibangun di atas ketakutan dan penghancuran akhirnya berbalik ke dalam, merusak struktur yang menopangnya sendiri. Baron tidak jatuh karena kelemahan fisik semata, tetapi karena sistem yang ia bangun tidak mengenal batas. Ketika semua bisa dikorbankan, pada akhirnya tidak ada lagi yang tersisa untuk dipertahankan.
Ini bukan sekadar pola fiksi. Ini adalah pola sejarah. Setiap kekuasaan yang bergerak dengan logika “menghabisi semua musuh” pada akhirnya akan berhadapan dengan paradoks yang tidak bisa diselesaikan: siapa yang disebut musuh akan terus bertambah, bahkan dari dalam dirinya sendiri. Ketika kecurigaan menjadi dasar, loyalitas menjadi rapuh. Ketika kekerasan menjadi alat utama, ia tidak berhenti di luar, tetapi perlahan masuk ke dalam—menggerogoti kepercayaan, menghancurkan keseimbangan, dan pada akhirnya membuat kekuasaan itu sendiri tidak stabil.
Dalam konteks hari ini, ketika Donald Trump dan Benjamin Netanyahu tampil dengan bahasa yang keras, dengan narasi yang cenderung memposisikan lawan sebagai sesuatu yang harus dieliminasi, kita tidak sedang melihat sekadar strategi politik. Kita sedang melihat sebuah kecenderungan yang jauh lebih tua—keyakinan bahwa keamanan hanya bisa dicapai melalui penghapusan total ancaman. Namun sejarah, seperti juga Dune, menunjukkan bahwa logika ini hampir selalu berujung pada kebuntuan, atau bahkan kehancuran.
Yang sering tidak disadari adalah bahwa dalam upaya untuk mengalahkan “musuh”, batas antara luar dan dalam perlahan kabur. Tekanan yang diciptakan ke luar akan kembali sebagai tekanan ke dalam. Polarisasi yang dibangun untuk memperkuat posisi eksternal akan memecah struktur internal. Dan pada titik tertentu, kekuasaan mulai kehilangan kemampuan untuk membedakan mana ancaman nyata dan mana bayangan dari ketakutan yang ia ciptakan sendiri.
Dalam Dune, kemenangan Paul Atreides tidak pernah digambarkan sebagai kemenangan yang sederhana. Ia naik, tetapi ia juga terjebak dalam konsekuensi dari kekuatan yang ia aktifkan. Namun yang jelas, struktur kekuasaan lama—yang mengandalkan eksploitasi dan dominasi tanpa batas—tidak mampu bertahan. Mereka runtuh bukan hanya karena serangan dari luar, tetapi karena ketidakmampuan mereka untuk menahan logika mereka sendiri.
Jika kita tarik pelajaran ini ke dunia nyata, maka pertanyaan tentang siapa yang “akan menang” menjadi kurang relevan dibandingkan dengan pertanyaan yang lebih dalam: model kekuasaan seperti apa yang bisa bertahan tanpa menghancurkan dirinya sendiri. Sejauh ini, sejarah memberikan jawaban yang cukup konsisten—bahwa kekuasaan yang terlalu bergantung pada eliminasi total tidak pernah stabil dalam jangka panjang.
Maka, akhir dari cerita seperti ini jarang berbentuk kemenangan dramatis satu pihak atas pihak lain. Lebih sering, ia berbentuk kelelahan, keretakan, dan perubahan yang tidak terhindarkan. Mereka yang terlalu percaya bahwa mereka bisa mengendalikan segalanya biasanya akan menjadi yang terakhir menyadari bahwa mereka telah kehilangan kendali.
Dan seperti dalam Dune, ketika debu akhirnya turun dan gema konflik mulai mereda, yang tersisa bukanlah kejayaan mutlak, tetapi pelajaran yang pahit: bahwa kekuasaan yang dibangun tanpa batas pada akhirnya akan menemukan batasnya sendiri—sering kali dengan cara yang paling tidak diinginkan.
Kesimpulan: Ketika Mereka Mengira Menguasai, Padahal Sedang Ditelan
Ada satu kesalahan mendasar yang terus berulang—baik dalam Dune maupun dalam sejarah nyata: keyakinan bahwa sesuatu yang sangat besar bisa dikendalikan sepenuhnya. Dalam Dune, Shai-Hulud tidak pernah benar-benar menjadi milik siapa pun. Bahkan Paul Atreides, yang berhasil menungganginya, tidak pernah “memiliki” kekuatan itu. Ia hanya bergerak bersamanya—sementara di saat yang sama, ia tahu bahwa kekuatan itu bisa sewaktu-waktu melampaui kehendaknya.
Di titik inilah analogi dengan dunia hari ini menjadi tajam. Konflik Iran, Amerika, dan Israel telah berubah menjadi sesuatu yang lebih besar dari para aktornya sendiri. Ia bukan lagi sekadar konflik strategis. Ia telah menjadi Shai-Hulud modern—besar, purba dalam strukturnya, dan bereaksi terhadap setiap getaran kecil dengan eskalasi yang tidak bisa sepenuhnya diprediksi. Setiap ancaman, setiap serangan, setiap retorika keras bukan meredamnya, tetapi justru membangunkannya.
Dalam kondisi seperti ini, figur seperti Donald Trump dan Benjamin Netanyahu tampak bergerak dengan keyakinan bahwa mereka bisa mengarahkan arah konflik—bahwa dengan tekanan maksimal, dengan eliminasi musuh, dengan dominasi penuh, mereka bisa menutup permainan. Namun, justru di situlah letak kesalahan fatalnya. Mereka membaca konflik sebagai sesuatu yang bisa ditaklukkan, padahal ia sudah berubah menjadi sesuatu yang hanya bisa memakan siapa pun yang mencoba menguasainya tanpa memahami kedalamannya.
Seperti orang luar yang berjalan di gurun tanpa memahami ritme langkah, setiap gerakan yang terlalu keras justru memanggil Shai-Hulud. Dan ketika ia datang, tidak ada teknologi, tidak ada kekuasaan politik, tidak ada legitimasi global yang benar-benar bisa menghentikannya. Yang ada hanyalah pilihan: bertahan dengan memahami atau dihancurkan karena kesombongan.
Masalahnya, dalam banyak tanda yang kita lihat hari ini, yang muncul bukanlah pemahaman, tetapi akselerasi. Retorika semakin keras. Garis semakin tajam. Narasi semakin absolut. Semua ini adalah getaran-getaran yang memperbesar sesuatu yang seharusnya ditenangkan. Dan seperti dalam Dune, ketika getaran itu mencapai titik tertentu, yang datang bukan lagi konflik biasa, tetapi kekuatan yang tidak lagi tunduk pada kehendak siapa pun.
Maka kesimpulannya menjadi tidak nyaman, tetapi perlu diucapkan: bukan Iran, bukan Amerika, bukan Israel yang sepenuhnya mengendalikan arah konflik ini. Yang sedang bergerak adalah sesuatu yang lebih besar—sebuah akumulasi sejarah, ketakutan, keyakinan, dan ambisi yang telah melampaui para pemimpinnya.
Dan dalam permainan seperti ini, mereka yang paling percaya bahwa mereka bisa menguasai semuanya justru adalah yang paling dekat dengan kehancuran.
Trump dan Netanyahu mungkin merasa sedang menunggangi kekuatan besar.
Namun jika dibaca dengan jernih, tanda-tandanya menunjukkan hal yang lain:
Mereka tidak sedang menunggangi Shai-Hulud.
Mereka sedang berdiri di atasnya—tanpa benar-benar memahami—
Dan pada akhirnya, mereka juga akan ditelan olehnya.
About the Author
Kamaruzzaman Bustamam Ahmad
Administrator
Prof. Kamaruzzaman Bustamam Ahmad (KBA) has followed his curiosity throughout life, which has carried him into the fields of Sociology of Anthropology of Religion in Southeast Asia, Islamic Studies, Sufism, Cosmology, and Security, Geostrategy, Terrorism, and Geopolitics. Prof. KBA is the author of over 30 books and 50 academic and professional journal articles and book chapters. His academic training is in social anthropology at La Trobe University, Islamic Political Science at the University of Malaya, and Islamic Legal Studies at UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. He received many fellowships: Asian Public Intellectual (The Nippon Foundation), IVLP (American Government), Young Muslim Intellectual (Japan Foundation), and Islamic Studies from Within (Rockefeller Foundation). Currently, he is Dean of Faculty and Shariah, Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry, Banda Aceh, Indonesia.
