Dari Tim Kaine ke Donald Trump: Krisis Grand Strategy Amerika dan Konflik Iran–Israel
Ketika strategi hilang, kekuatan berubah menjadi risiko—Amerika, Iran, dan Israel dalam pusaran konflik tanpa arah yang pasti.
Daftar Isi
ToggleDari Doktrin ke Disorientasi: Ketika Amerika Kehilangan Kerangka Bertindak
Esai ini mendasarkan pada artikel yang ditulis oleh Tim Kaine yang berjudul “A New Truman Doctrine: Grand Strategy in a Hyperconnected World” yang dimuat dalam Foreign Affairs (July/August 2017: 36-53). Dalam konteks ini, Tim Kaine memulai dengan satu diagnosis yang bersifat historis: kemenangan Donald Trump bukan sekadar peristiwa politik domestik, tetapi momen yang memaksa Amerika meninjau ulang perannya di dunia sejak akhir Perang Dunia II. Pernyataan ini tidak berdiri sendiri. Kaine mengaitkannya dengan runtuhnya kesinambungan kebijakan luar negeri Amerika yang sebelumnya ditopang oleh Truman Doctrine—sebuah kerangka yang selama puluhan tahun memberi arah, bukan hanya tindakan.
Dalam pembacaan Kaine, Truman Doctrine bukan sekadar kebijakan containment terhadap Soviet, tetapi sebuah cara melihat dunia. Dunia dipahami sebagai arena kompetisi bipolar, dan Amerika menempatkan diri sebagai penjaga stabilitas melalui kombinasi kekuatan militer, bantuan ekonomi, dan pembangunan institusi internasional. Kerangka ini menciptakan konsistensi lintas pemerintahan, dari Demokrat hingga Republik.
Masalah muncul ketika Uni Soviet runtuh. Kaine menunjukkan bahwa sejak 1991, Amerika kehilangan “organizing principle.” Yang tersisa hanyalah fragmen dari doktrin lama tanpa struktur pengganti. Kebijakan luar negeri menjadi bersifat kasus per kasus, bukan bagian dari strategi besar. Ini bukan adaptasi, tetapi disorientasi.
Disorientasi tersebut terlihat jelas dalam praktik. Amerika tetap melakukan intervensi—di Vietnam sebelumnya, lalu di Iran, Guatemala, Kongo, Chile, hingga Irak dan Afghanistan—tetapi tanpa kesatuan tujuan. Belakangan, di bawah pemerintahan Trump, Amerika ingin melakukan intervensi ke negara Iran. Dalam banyak kasus, upaya membendung ancaman justru menghasilkan dukungan terhadap rezim otoriter. Kaine tidak menolak intervensi secara total, tetapi menunjukkan bahwa tanpa kerangka, intervensi kehilangan arah normatif.
Kaine juga mencatat bahwa bahkan keberhasilan Truman Doctrine memiliki sisi gelap. Fokus pada ancaman Soviet sering kali mendorong Amerika untuk mengorbankan nilai-nilai yang ingin dipertahankan. Hal ini menghasilkan kontradiksi internal dalam kebijakan luar negeri yang terus berulang hingga hari ini. Dengan kata lain, masalah bukan hanya ketiadaan strategi baru, tetapi juga warisan strategi lama yang tidak sepenuhnya diselesaikan.
Masuk ke era pasca-9/11, upaya untuk menciptakan doktrin baru melalui “global war on terror” juga gagal menjadi organizing principle yang stabil. Kaine menunjukkan bahwa pendekatan ini memperluas medan konflik tanpa memberikan kerangka yang cukup untuk memahami kompleksitas hubungan internasional modern. Terorisme menjadi fokus, tetapi tidak mampu menjelaskan keseluruhan dinamika global.
Dalam konteks ini, kemenangan Trump tidak menciptakan krisis, tetapi memperjelas krisis yang sudah ada. Pendekatan “America First” dilihat Kaine sebagai kelanjutan dari kecenderungan reaktif—mengandalkan keputusan eksekutif tanpa visi strategis yang terartikulasi dengan baik. Istilah “OPLANs but no strategy” menjadi ringkasan yang tepat: Amerika memiliki rencana operasional untuk berbagai skenario, tetapi tidak memiliki arah yang mengikat semua tindakan tersebut.
Implikasinya bersifat sistemik. Tanpa strategi yang jelas, sekutu kesulitan membaca komitmen Amerika, sementara lawan melihat peluang untuk menguji batas. Dalam dunia yang semakin kompleks—dengan isu mulai dari Rusia, China, Timur Tengah, hingga cyber threats—ketiadaan kerangka justru memperbesar risiko kesalahan perhitungan.
Di titik ini, Kaine tidak hanya mengkritik Trump, tetapi juga seluruh lintasan kebijakan luar negeri Amerika sejak akhir Perang Dingin. Trump hanyalah manifestasi paling eksplisit dari masalah yang lebih dalam: sebuah kekuatan besar yang masih bertindak, tetapi tidak lagi sepenuhnya memahami mengapa dan ke arah mana tindakan tersebut diarahkan.
Dunia yang Terhubung: Ketika Kekuasaan Tidak Lagi Terkonsentrasi
Kaine menggeser analisis dari krisis internal Amerika menuju perubahan struktur global yang lebih dalam. Perubahan ini tidak bersifat ideologis, tetapi material: dunia menjadi semakin terhubung. Teknologi, perdagangan, migrasi, dan arus informasi menciptakan keterkaitan yang jauh lebih rapat dibandingkan dengan era Truman. Dalam dunia seperti ini, tidak ada lagi ruang bagi strategi yang mengandalkan pemisahan yang jelas antara blok kekuatan.
Keterhubungan tersebut membawa konsekuensi ganda. Di satu sisi, ia mempercepat pertumbuhan ekonomi dan pertukaran pengetahuan. Di sisi lain, ia memperbesar efek dari setiap krisis. Kaine memberi contoh bagaimana masalah finansial di satu negara dapat dengan cepat menyebar ke negara lain. Dengan kata lain, stabilitas tidak lagi bersifat lokal, tetapi sistemik.
Dalam konteks ini, pendekatan lama yang berbasis pada kontrol wilayah atau pengaruh langsung menjadi tidak memadai. Kekuasaan tidak lagi hanya ditentukan oleh kemampuan militer atau posisi geografis, tetapi oleh kemampuan mengelola jaringan. Negara yang gagal membaca jaringan ini akan selalu berada dalam posisi reaktif.
Kaine kemudian menambahkan dimensi kedua: munculnya aktor non-negara sebagai kekuatan yang signifikan. Dari kelompok terorisme hingga perusahaan multinasional, dari organisasi nonpemerintah hingga jaringan kriminal, semua memiliki kapasitas untuk memengaruhi dinamika global. Ini bukan sekadar tambahan aktor, tetapi perubahan dalam struktur dasar sistem internasional.
Perubahan ini mengganggu asumsi Westphalian yang selama ini menjadi dasar kebijakan luar negeri. Jika sebelumnya kekuatan hanya dimiliki oleh negara dan dijalankan dalam batas teritorial yang jelas, kini kekuatan tersebut menyebar dan melampaui batas. Negara tidak lagi memiliki monopoli atas penggunaan kekerasan maupun produksi pengaruh.
Dalam situasi seperti ini, strategi yang hanya berfokus pada negara sebagai unit analisis menjadi terbatas. Kaine menunjukkan bahwa banyak ancaman kontemporer—terorisme, cyber attacks, jaringan keuangan ilegal—tidak dapat ditangani dengan pendekatan tradisional. Dibutuhkan kerangka yang mampu mengintegrasikan berbagai jenis aktor dalam satu analisis.
Namun, di titik ini, Amerika belum sepenuhnya beradaptasi. Kebijakan luar negeri masih sering beroperasi dalam logika lama, seolah-olah dunia tetap dapat dibagi secara sederhana antara kawan dan lawan. Padahal realitas menunjukkan bahwa hubungan antarnegara kini bersifat campuran: kerja sama dan kompetisi berlangsung secara simultan.
Contoh yang diberikan Kaine terkait hubungan dengan China dan Rusia menunjukkan kompleksitas ini. Amerika dapat bekerja sama dalam isu tertentu seperti perdagangan atau perubahan iklim, sementara pada saat yang sama berkonflik dalam isu lain seperti keamanan dan pengaruh regional. Ini menuntut fleksibilitas strategis yang tidak dapat dicapai melalui pendekatan doktrinal yang kaku.
Keterhubungan global juga menciptakan tekanan domestik yang baru. Perdagangan internasional membawa manfaat, tetapi juga menciptakan dislokasi ekonomi di dalam negeri. Kaine mencatat bahwa kegagalan Amerika dalam mengelola dampak ini telah melemahkan dukungan publik terhadap keterlibatan global. Dalam kondisi seperti ini, kebijakan luar negeri tidak lagi dapat dipisahkan dari stabilitas domestik.
Akhirnya, Kaine sampai pada kesimpulan implisit: dunia yang dihadapi Amerika saat ini tidak lagi dapat dijelaskan dengan kerangka yang sama seperti era Truman. Keterhubungan, distribusi kekuatan, dan kompleksitas hubungan antaraktor menuntut pendekatan baru. Tanpa itu, setiap upaya untuk bertindak di tingkat global akan selalu tertinggal dari realitas yang terus berubah.
OPLANs Tanpa Strategi: Ketika Amerika Bertindak Tanpa Arah
Kaine menggunakan satu frasa yang sangat presisi untuk menggambarkan kondisi kebijakan luar negeri Amerika saat ini: memiliki banyak operational plans, tetapi tidak memiliki strategi. Frasa ini bukan kritik teknis, melainkan diagnosis struktural. Amerika tetap memiliki kapasitas untuk merespons hampir semua skenario konflik di dunia, tetapi tidak memiliki kerangka yang menghubungkan respons-respons tersebut ke dalam satu tujuan yang konsisten.
Perbedaan antara rencana operasional dan strategi menjadi kunci dalam memahami argumen ini. Rencana operasional menjawab pertanyaan “bagaimana bertindak” dalam situasi tertentu, sementara strategi menjawab pertanyaan “untuk apa bertindak.” Kaine menunjukkan bahwa Amerika semakin mahir dalam yang pertama, tetapi semakin kehilangan yang kedua. Ini menghasilkan kebijakan luar negeri yang efisien secara taktis, tetapi kosong secara arah.
Kondisi ini menciptakan pola reaktif yang terus berulang. Setiap krisis direspons sebagai peristiwa terpisah, bukan sebagai bagian dari dinamika yang lebih besar. Kaine secara implisit menunjukkan bahwa pendekatan ini memperbesar risiko kesalahan perhitungan, karena tidak ada kerangka yang dapat digunakan untuk menilai konsekuensi jangka panjang dari setiap tindakan.
Dalam praktiknya, mentalitas ini terlihat dalam cara Amerika menangani berbagai isu global secara simultan tanpa prioritas yang jelas. Rusia, China, Korea Utara, Iran, ISIS, cyber threats, perubahan iklim—semuanya diperlakukan sebagai ancaman penting, tetapi tanpa hierarki strategis yang terdefinisi dengan baik. Hasilnya bukan fleksibilitas, melainkan fragmentasi.
Kaine juga menyoroti dampak dari fragmentasi ini terhadap persepsi global. Sekutu kesulitan memahami komitmen Amerika karena kebijakan dapat berubah dengan cepat tergantung pada tekanan politik domestik atau perubahan kepemimpinan. Lawan, di sisi lain, melihat ketidakkonsistenan ini sebagai peluang untuk menguji batas tanpa risiko eskalasi yang terkontrol.
Dalam konteks kepemimpinan global, ketiadaan strategi menggerus kepercayaan. Kepemimpinan tidak hanya diukur dari kemampuan bertindak, tetapi dari kemampuan memberikan arah. Tanpa arah, tindakan—seberapa pun kuatnya—tidak menghasilkan stabilitas. Ia justru menciptakan ketidakpastian yang meluas.
Kaine tidak menyalahkan satu administrasi secara eksklusif, tetapi jelas bahwa era Trump memperkuat kecenderungan ini. Pendekatan yang lebih personalistik, berbasis pada keputusan cepat dan retorika publik, semakin menjauhkan kebijakan luar negeri dari kerangka strategis yang terinstitusionalisasi. Keputusan tidak lagi dilihat sebagai bagian dari proses, tetapi sebagai respons terhadap momen.
Dalam kondisi seperti ini, kekuatan militer menjadi alat yang paling mudah digunakan karena tidak memerlukan konsensus jangka panjang. Namun, Kaine secara implisit memperingatkan bahwa penggunaan kekuatan tanpa strategi justru mempercepat erosi pengaruh. Setiap tindakan militer yang tidak terhubung dengan tujuan yang jelas akan menambah beban, bukan menghasilkan hasil.
Akhirnya, bagian ini mengarah pada satu konsekuensi yang tidak selalu disadari: Amerika tetap menjadi aktor paling kuat, tetapi tidak lagi menjadi aktor yang paling menentukan arah sistem. Dalam dunia yang semakin kompleks, kekuatan tanpa strategi bukan hanya tidak cukup, tetapi juga dapat menjadi sumber ketidakstabilan itu sendiri.
Kontradiksi Intervensi: Demokrasi yang Dibangun di Atas Kudeta
Kaine memasuki bagian yang paling sulit dihindari dalam sejarah kebijakan luar negeri Amerika: daftar intervensi yang dilakukan atas nama stabilitas, tetapi dalam praktiknya sering bertentangan dengan prinsip demokrasi yang diklaim. Penyebutan Iran, Guatemala, Kongo, Chile, dan negara lain bukan sekadar catatan historis, tetapi fondasi dari kritik terhadap legitimasi Amerika saat ini. Di titik ini, Kaine tidak lagi berbicara tentang kekurangan strategi, tetapi tentang kontradiksi yang telah lama terakumulasi.
Argumen Kaine tidak dibangun dalam nada moralistik, tetapi analitis. Intervensi-intervensi tersebut ditempatkan dalam konteks Perang Dingin, di mana ancaman Soviet menjadi justifikasi utama. Dalam logika Truman Doctrine, stabilitas dianggap lebih penting daripada proses demokratis. Namun, Kaine menunjukkan bahwa pilihan tersebut menciptakan konsekuensi jangka panjang yang tidak dapat diabaikan.
Konsekuensi pertama adalah terbentuknya pola: Amerika mendukung rezim yang stabil secara politik, tetapi lemah secara legitimasi domestik. Dalam banyak kasus, dukungan terhadap pemimpin otoriter dilakukan untuk mencegah kemungkinan munculnya pemerintahan yang dianggap tidak sejalan dengan kepentingan Amerika. Pola ini menghasilkan stabilitas semu yang rapuh.
Konsekuensi kedua adalah hilangnya konsistensi normatif. Ketika Amerika mengklaim sebagai pembela demokrasi, tetapi pada saat yang sama terlibat dalam penggulingan pemerintahan yang dipilih secara sah, maka klaim tersebut menjadi terbuka untuk dipertanyakan. Kaine tidak menolak kompleksitas situasi pada masa itu, tetapi menekankan bahwa kontradiksi tersebut tetap memiliki dampak.
Dampak tersebut terlihat dalam cara negara-negara lain membaca kebijakan Amerika hari ini. Intervensi masa lalu tidak hilang; ia menjadi memori politik yang terus digunakan dalam narasi kontemporer. Iran, misalnya, tidak melihat tekanan Amerika dalam ruang hampa, tetapi dalam kontinuitas sejarah yang mencakup peristiwa 1953. Dalam kerangka ini, setiap tindakan Amerika dibaca sebagai kelanjutan dari pola lama.
Kaine secara implisit menunjukkan bahwa masalah ini tidak dapat diselesaikan hanya dengan perubahan retorika. Kepercayaan tidak dapat dipulihkan melalui pernyataan, tetapi melalui perubahan praktik yang konsisten dalam jangka panjang. Tanpa itu, setiap upaya untuk membangun kembali legitimasi akan selalu terbentur pada sejarah yang belum diselesaikan.
Bagian ini juga mengandung kritik terhadap cara Amerika memahami keberhasilan. Intervensi sering dinilai berhasil jika menghasilkan stabilitas jangka pendek atau melindungi kepentingan strategis tertentu. Namun Kaine mengajak untuk melihat hasil dalam jangka panjang: apakah intervensi tersebut memperkuat atau justru melemahkan posisi Amerika dalam sistem global.
Dalam banyak kasus, jawabannya cenderung pada yang kedua. Stabilitas yang dihasilkan tidak bertahan, sementara ketidakpercayaan terhadap Amerika justru meningkat. Ini menciptakan lingkungan di mana setiap kebijakan baru harus bekerja lebih keras untuk mendapatkan penerimaan.
Dengan begitu, Kaine sampai pada implikasi bahwa Amerika tidak hanya menghadapi tantangan eksternal, tetapi juga beban historis yang memengaruhi bagaimana setiap tindakan ditafsirkan. Dalam kondisi seperti ini, strategi tidak dapat hanya berorientasi ke depan, tetapi juga harus mampu merespons masa lalu.
Legitimasi yang Retak: Demokrasi sebagai Syarat, Bukan Slogan
Kaine pada bagian ini bergerak ke titik yang paling menentukan dalam seluruh argumennya: jika Amerika ingin tetap memiliki peran dalam membentuk tatanan global, maka sumber utamanya bukan lagi kekuatan, tetapi legitimasi yang lahir dari praktik demokrasi itu sendiri. Ini bukan pernyataan normatif, melainkan kesimpulan strategis. Dunia yang semakin terhubung dan semakin sadar terhadap kontradiksi tidak lagi menerima klaim tanpa bukti.
Konsep yang digunakan Kaine—exemplary democracy—harus dibaca secara presisi. Ini bukan sekadar demokrasi yang berjalan secara prosedural, tetapi demokrasi yang mampu menunjukkan kapasitasnya dalam mengelola perbedaan, mengurangi ketimpangan, dan mempertahankan kepercayaan publik. Tanpa itu, demokrasi kehilangan daya tariknya sebagai model.
Kaine menyadari bahwa dalam beberapa dekade terakhir, daya tarik tersebut mengalami penurunan. Negara-negara otoriter tidak lagi hanya bertahan, tetapi mulai aktif memproduksi narasi tandingan. Mereka tidak selalu menyerang demokrasi secara langsung, tetapi cukup dengan menunjukkan kegagalannya—baik dalam bentuk polarisasi politik, stagnasi ekonomi, maupun krisis kepercayaan terhadap institusi.
Dalam konteks ini, legitimasi menjadi medan kontestasi. Amerika tidak lagi berbicara kepada dunia yang pasif, tetapi kepada dunia yang kritis dan memiliki alternatif. Oleh karena itu, setiap kelemahan internal akan langsung memiliki implikasi eksternal.
Kaine menekankan bahwa perbaikan internal bukan pilihan moral, tetapi kebutuhan strategis. Isu seperti ketimpangan ekonomi, akses terhadap layanan publik, dan partisipasi politik bukan hanya masalah domestik, tetapi juga faktor yang menentukan posisi Amerika di dunia. Negara yang tidak mampu menjaga kohesi internal akan kesulitan membangun kepercayaan eksternal.
Namun, Kaine tidak berhenti pada diagnosis. Ia juga mengusulkan bahwa kepemimpinan Amerika harus bergerak melalui kerja sama, bukan dominasi. Ini terlihat dalam gagasan tentang inisiatif global untuk memperkuat demokrasi, yang tidak berbasis pada aliansi militer, tetapi pada pertukaran praktik dan penguatan institusi.
Pendekatan ini secara implisit mengakui bahwa dunia tidak lagi dapat diatur melalui satu pusat kekuatan. Kepemimpinan harus bersifat partisipatif, bukan hegemonik. Ini adalah pergeseran besar dari paradigma Truman yang berbasis pada oposisi terhadap satu kekuatan utama.
Di sisi lain, di titik ini, batasan mulai terlihat. Kaine menyadari bahwa selama Amerika masih mempertahankan praktik yang bertentangan dengan prinsip yang diklaim—baik dalam bentuk intervensi sepihak maupun inkonsistensi dalam mendukung demokrasi—maka setiap upaya untuk membangun legitimasi akan selalu menghadapi resistensi.
Dalam konteks kontemporer, batas ini menjadi semakin nyata. Ketika pendekatan terhadap Iran atau Timur Tengah lebih menekankan tekanan daripada konsistensi normatif, konsep exemplary democracy sulit diterjemahkan menjadi praktik kebijakan.
Akhirnya, Kaine membawa argumen ini pada satu kesimpulan implisit: masa depan kepemimpinan Amerika tidak ditentukan oleh seberapa besar kekuatan yang dimiliki, tetapi oleh seberapa jauh negara tersebut mampu mengurangi jarak antara apa yang dikatakan dan apa yang dilakukan.
Dari Kaine ke Trump: Iran sebagai Wujud daripada Kegagalan Strategi Amerika
Kaine tidak pernah secara eksplisit menulis tentang perang dengan Iran dalam teks tersebut, tetapi seluruh kerangka yang dibangun mengarah ke satu kesimpulan yang sulit dihindari: jika Amerika terus bertindak tanpa organizing principle, maka setiap konflik yang dihadapi akan berubah menjadi arena improvisasi. Iran menjadi contoh paling jelas dari kondisi ini—bukan karena sifat konfliknya yang unik, tetapi karena ia mempertemukan seluruh kontradiksi yang telah diuraikan sebelumnya.
Dalam logika lama Truman, Iran akan diposisikan secara jelas dalam struktur global: sebagai ancaman yang harus dibendung melalui kombinasi tekanan dan stabilisasi. Namun, dunia yang dihadapi sekarang tidak lagi menyediakan kejelasan tersebut. Iran bukan sekadar negara, tetapi simpul dalam jaringan—militer, ideologis, dan geopolitik—yang terhubung dengan berbagai aktor, baik negara maupun non-negara. Setiap tindakan terhadap Iran tidak akan berhenti pada Iran.
Pendekatan di era Trump memperlihatkan dengan sangat terang apa yang dimaksud Kaine sebagai OPLANs without strategy. Kebijakan “maximum pressure”—melalui sanksi, isolasi, dan ancaman militer—memberikan kesan ketegasan, tetapi tidak menunjukkan arah jangka panjang. Apa tujuan akhirnya? Perubahan rezim? Negosiasi ulang? Penahanan kekuatan regional? Tidak ada satu jawaban yang secara konsisten menjadi acuan.
Dalam kondisi seperti ini, tindakan menjadi sinyal, bukan strategi. Setiap langkah diinterpretasikan oleh Iran, Israel, dan aktor lain sebagai pesan kekuatan, bukan sebagai bagian dari kerangka penyelesaian. Ini menciptakan dinamika eskalasi yang tidak stabil, karena masing-masing pihak merespons bukan terhadap tujuan, tetapi terhadap persepsi ancaman.
Iran, dalam hal ini, tidak berada dalam posisi pasif. Negara tersebut membaca kontradiksi Amerika dengan sangat cermat—sebagaimana yang dijelaskan Kaine dalam konteks legitimasi. Intervensi masa lalu, inkonsistensi dalam mendukung demokrasi, serta retorika yang berubah-ubah menjadi bahan untuk membangun narasi bahwa tekanan Amerika bukan soal norma, tetapi soal dominasi. Narasi ini tidak hanya bekerja di dalam negeri Iran, tetapi juga di tingkat regional.
Di sisi lain, Israel melihat Iran dalam kerangka ancaman eksistensial. Hubungan antara Amerika dan Israel memperkuat dimensi militer dalam konflik ini, tetapi tidak secara otomatis memberikan solusi strategis. Aliansi memperbesar kapasitas tindakan, tetapi tidak menggantikan kebutuhan akan arah.
Dalam perspektif Kaine, inilah titik di mana kekuatan berubah menjadi beban. Tanpa legitimasi yang kuat dan tanpa strategi yang jelas, setiap penggunaan kekuatan akan menghasilkan efek samping yang mempersempit ruang gerak di masa depan. Iran tidak perlu memenangkan konflik secara langsung; cukup memastikan bahwa biaya yang ditanggung Amerika terus meningkat.
Lebih jauh, keterhubungan global yang dijelaskan Kaine membuat konflik ini tidak dapat dikurung secara regional. Hubungan Iran dengan Rusia, dinamika energi global, serta posisi China dalam sistem internasional menciptakan lapisan tambahan yang membuat setiap eskalasi memiliki implikasi global. Dalam konteks ini, pendekatan yang bersifat linier tidak lagi memadai.
Yang terlihat kemudian adalah kesenjangan antara kapasitas dan arah. Amerika memiliki kapasitas untuk menekan Iran dalam berbagai dimensi, tetapi tidak memiliki arah yang dapat mengintegrasikan tekanan tersebut ke dalam hasil yang stabil. Ini adalah bentuk paling konkret dari disorientasi strategis yang didiagnosis Kaine.
Akhirnya, Iran menjadi lebih dari sekadar lawan. Ia menjadi refleksi yang menunjukkan bahwa problem utama Amerika bukan pada siapa yang dihadapi, tetapi pada bagaimana memahami dunia yang telah berubah. Selama kerangka tersebut tidak diperbarui, setiap konflik—dengan Iran atau dengan aktor lain—akan terus bergerak dalam pola yang sama: kuat dalam tindakan, lemah dalam arah.
About The Author
Kamaruzzaman Bustamam Ahmad
Prof. Kamaruzzaman Bustamam Ahmad (KBA) has followed his curiosity throughout life, which has carried him into the fields of Sociology of Anthropology of Religion in Southeast Asia, Islamic Studies, Sufism, Cosmology, and Security, Geostrategy, Terrorism, and Geopolitics. Prof. KBA is the author of over 30 books and 50 academic and professional journal articles and book chapters. His academic training is in social anthropology at La Trobe University, Islamic Political Science at the University of Malaya, and Islamic Legal Studies at UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. He received many fellowships: Asian Public Intellectual (The Nippon Foundation), IVLP (American Government), Young Muslim Intellectual (Japan Foundation), and Islamic Studies from Within (Rockefeller Foundation).
Artikel Terkait
Analisis Konflik Iran–Israel–Amerika Serikat : Geopolitik, Intelijen, dan Risiko Eskalasi
Geografi Iran dan Ilusi Penaklukan: Mengapa Amerika dan Israel Sulit Menang Perang
Isaiah Berlin, Zionisme, dan Arsitektur Kekerasan: Membaca Gaza, Iran, dan Lebanon dalam Geopolitik Israel Kontemporer
Dune dan Perang Timur Tengah: Trump, Netanyahu, dan Shai-Hulud yang Akan Menelan Mereka
Kekuatan Inovasi: Mengapa Teknologi Menjadi Senjata Baru Geopolitik Dunia
