JCPOA, Wendy Sherman, dan Perang Iran Versus Israel dan Amerika: Ketika Kesepakatan Dihancurkan, Krisis Kembali Dilepaskan
Ketika kesepakatan runtuh, bukan konflik yang hilang—tetapi batas yang menahannya.
Daftar Isi
ToggleApakah Iran Tidak Bisa Dipaksa Menyerah?
Esai ini merupakan kajian yang mendalam terhadap artikel Wendy R. Sherman yang berjudul “How We Got the Iran Deal and Why We’ll Miss It” dalam Foreign Affairs (September/October 2018). Di bagian paling penting dari artikel Wendy R. Sherman, sesungguhnya ada satu pengakuan strategis yang sangat keras: ketika perundingan multilateral kembali berjalan penuh pada 2013, Iran bukan lagi negara yang dapat dipaksa berhenti dari program nuklirnya hanya dengan tekanan. Sherman menyusun argumen ini dengan sangat jelas. Pada 2006, Iran masih mengoperasikan 164 centrifuge di Natanz. Tetapi ketika perundingan kembali serius pada 2013, setelah bertahun-tahun sanksi yang keras, jumlah itu justru melonjak menjadi sekitar 19.000 sentrifus. Ini adalah fakta yang ia letakkan untuk menghancurkan ilusi yang selama ini dijual oleh kaum elang di Washington: bahwa tekanan ekonomi, dengan sendirinya, akan mematahkan ambisi nuklir Iran. Bagi Sherman, sanksi memang melukai ekonomi Iran, tetapi tidak menyentuh inti persoalan. Ia tidak memaksa Teheran melupakan pengetahuan, menghentikan kemampuan, atau membongkar infrastruktur yang sudah telanjur dibangun.
Di sini Sherman sedang mengatakan sesuatu yang lebih tajam daripada sekadar “sanksi tidak cukup.” Ia sedang menunjukkan kegagalan sebuah cara berpikir. Selama bertahun-tahun, kebijakan terhadap Iran dibangun di atas asumsi bahwa penderitaan ekonomi pada akhirnya akan berubah menjadi kepatuhan strategis. Tetapi teks Sherman justru memperlihatkan kebalikannya: semakin lama sanksi berjalan, semakin Iran belajar hidup di bawah tekanan, dan semakin mereka memperdalam kapasitas nuklir yang justru ingin dihentikan oleh Barat. Jadi persoalannya bukan sekadar bahwa sanksi lambat bekerja. Persoalannya ialah bahwa sanksi, dalam bentuknya yang paling keras sekalipun, tidak memiliki daya untuk menghapus kapasitas yang sudah menjadi bagian dari proyek negara. Mereka bisa menunda kenyamanan, tetapi tidak membatalkan tekad.
Karena itu, Sherman lalu menyerang alternatif kedua, yakni opsi militer. Ini penting, sebab dalam tulisannya ia sama sekali tidak romantis tentang diplomasi. Ia tidak menulis seolah-olah perundingan lahir karena semua pihak tiba-tiba tercerahkan. Ia justru memperlihatkan bahwa diplomasi dipilih setelah jalan lain diperiksa dan terbukti tidak memadai. Ia menulis bahwa serangan udara paling jauh hanya bisa menunda program nuklir Iran tiga sampai lima tahun. Bukan mengakhirinya. Frasa ini sangat penting. Sebab jika sebuah perang hanya memberi jeda sementara, maka perang itu bukan solusi strategis. Ia hanya memindahkan masalah ke waktu yang berbeda, dengan harga politik dan militer yang jauh lebih mahal. Lebih buruk lagi, menurut Sherman, serangan semacam itu justru akan memberi Iran alasan terbaik untuk mempercepat programnya dengan kerahasiaan yang lebih ketat. Jadi, bom tidak menutup jalan ke senjata nuklir; ia bisa saja justru membuka alasan domestik dan moral bagi Iran untuk berlari lebih cepat ke sana.
Di titik inilah kecerdasan tulisan Sherman mulai tampak. Ia tidak membingkai JCPOA (Joint Comprehensive Plan of Action) Â sebagai kemenangan idealisme liberal, melainkan sebagai hasil dari pembacaan dingin terhadap realitas. Obama, dalam penjelasannya, tidak hidup dalam ilusi bahwa Iran akan tiba-tiba membongkar seluruh program yang telah menelan begitu banyak sumber daya, kebanggaan nasional, dan investasi politik. Karena itu tujuan Washington bergeser: bukan memaksa Iran menyerah total, tetapi memaksa Iran menerima pembatasan yang rinci, invasif, dan dapat diverifikasi. Dengan kata lain, negosiasi lahir bukan karena Amerika tiba-tiba lunak, melainkan karena Washington akhirnya menerima batas kekuatannya sendiri. Inilah salah satu inti paling keras dari esai Sherman: diplomasi menjadi mungkin justru ketika kekuasaan berhenti berbohong kepada dirinya sendiri.
Bagian yang sering luput dibaca secara mendalam ialah ketika Sherman menjelaskan perubahan posisi Amerika soal pengayaan uranium. Selama bertahun-tahun, Washington bersikeras bahwa Iran harus berhenti total. Tetapi kemudian Obama memberi sinyal bahwa Iran mungkin tetap diperbolehkan melakukan pengayaan dalam jumlah sangat terbatas, selama seluruh proses itu diawasi, diperiksa, dan diverifikasi dengan ketat. Banyak orang membaca ini sebagai konsesi. Sherman justru menyajikannya sebagai penyesuaian terhadap kenyataan. Iran sudah menguasai ilmu dan teknologi. Menolak mengakui fakta itu hanya membuat Amerika terjebak pada posisi maksimalis yang tidak akan menghasilkan apa-apa selain kebuntuan. Jadi yang dilakukan Obama bukan mengalah tanpa syarat, tetapi memindahkan medan pertempuran: dari larangan total yang mustahil ditegakkan, menuju pembatasan yang konkret dan bisa dipaksa secara internasional.
Di sinilah arti politik dari JCPOA dalam tulisan Sherman. Kesepakatan itu tidak dibangun di atas angan-angan bahwa Iran akan berubah menjadi sekutu Amerika atau bahwa rezim di Teheran akan meninggalkan seluruh naluri revolusionernya. Tidak. JCPOA dibangun di atas gagasan yang jauh lebih keras dan jauh lebih realistis: bahwa sebuah negara yang tidak bisa dihancurkan tanpa perang besar, dan tidak bisa dipatahkan hanya dengan embargo, harus dikunci melalui rejim inspeksi, pengurangan stok, pembatasan pengayaan, dan penutupan semua jalur realistis menuju bahan fisil untuk senjata. Karena itu, ketika Sherman menulis bahwa JCPOA “offered the best possible assurance” bahwa Iran tidak akan memperoleh senjata nuklir, yang ia maksud bukan kesempurnaan moral, tetapi bentuk pengamanan terbaik yang bisa dicapai di dunia nyata.
Bagian lain yang sangat penting ialah cara Sherman memadukan tekanan dan negosiasi. Ia tidak berkata bahwa diplomasi bekerja tanpa kekuatan. Ia justru menegaskan bahwa Obama menjalankan tekanan dengan serius: ada Stuxnet, ada penguatan sanksi, ada bom penghancur bunker untuk Fordow, ada upaya memaksa negara-negara lain mengurangi impor minyak Iran. Tetapi semua itu, dalam kerangka Sherman, bukan tujuan akhir. Tekanan dipakai untuk membawa Iran ke meja runding, bukan untuk menggantikan perundingan. Ini beda yang sangat mendasar. Dalam logika kaum elang, tekanan adalah jawaban. Dalam logika Sherman, tekanan hanya alat pembuka ruang. Begitu ruang itu terbuka, yang menentukan justru bukan ancaman, melainkan arsitektur kesepakatan. Itulah sebabnya ia begitu marah terhadap keputusan Trump. Karena ketika Amerika keluar dari JCPOA, yang dihancurkan bukan hanya sebuah dokumen, tetapi seluruh logika strategis yang selama itu berhasil mengubah tekanan menjadi pembatasan yang nyata.
Kalau kita kaitkan dengan konteks hari ini, kedalaman argumen Sherman justru makin tampak. Dunia sekarang kembali dipenuhi fantasi lama: bahwa Iran bisa dipaksa tunduk melalui isolasi maksimal, ancaman perang, atau pembunuhan bertarget. Tetapi justru esai Sherman memberi pelajaran sebaliknya. Sebuah negara seperti Iran, dengan sejarah revolusi, rasa terkepung, kapasitas teknologi, dan jaringan regional yang luas, tidak akan berhenti hanya karena ditakut-takuti. Tekanan yang tidak disertai jalan keluar hanya akan memperkeras negara itu dari dalam. Dan perang yang tidak bisa menyelesaikan masalah hanya akan memperluasnya ke seluruh kawasan. Dari sudut inilah JCPOA menjadi penting kembali, bukan sebagai nostalgia Obama, tetapi sebagai bukti bahwa satu-satunya cara serius untuk menghadapi Iran adalah membatasi ruang geraknya dengan mekanisme yang bisa diperiksa, bukan dengan slogan yang memuaskan televisi.
Jadi, inti dari bagian ini dalam tulisan Wendy Sherman sangat telanjang: kesalahan terbesar Washington selama bertahun-tahun adalah berpikir bahwa Iran bisa dipaksa menyerah. Sherman menunjukkan bahwa asumsi itu runtuh di hadapan fakta. Sanksi tidak menghentikan kemajuan nuklir. Bom tidak bisa mengakhirinya. Larangan total atas pengayaan hanya menghasilkan kebuntuan diplomatik. Dari puing-puing kegagalan itulah lahir kesepakatan. Bukan karena Amerika menjadi lemah, tetapi karena akhirnya ia mau berhadapan dengan kenyataan. Dan justru karena kesepakatan itu lahir dari realisme yang keras, pembatalannya oleh Trump terlihat begitu bodoh: ia menghancurkan satu-satunya kerangka yang pernah berhasil mengubah masalah Iran dari ancaman abstrak menjadi sesuatu yang dapat dikunci, dihitung, dan diawasi.
Perubahan Posisi Amerika: Dari Larangan Total ke Pengakuan Terbatas yang Dipaksa
Perubahan paling menentukan dalam negosiasi ini bukan datang dari Iran, tetapi dari Washington sendiri. Selama bertahun-tahun, posisi Amerika sederhana dan keras: Iran tidak boleh melakukan pengayaan uranium sama sekali. Ini bukan sekadar posisi teknis, tetapi posisi ideologis. Ia dibangun di atas asumsi bahwa hak pengayaan akan membuka jalan menuju senjata nuklir. Karena itu, larangan total dianggap sebagai satu-satunya garis aman.
Tetapi Sherman menunjukkan bahwa posisi ini runtuh bukan karena tekanan Iran, melainkan karena realitas di lapangan tidak lagi mendukungnya. Sejak 2003, ketika program pengayaan Iran mulai jelas, Amerika bersikeras pada penghentian total. Namun pada saat yang sama, Iran justru terus melanjutkan dan memperluas program tersebut. Artinya, tuntutan maksimal Amerika tidak menghasilkan kepatuhan. Ia hanya menghasilkan kebuntuan yang panjang.
Di titik ini, perubahan yang dilakukan Obama menjadi sangat penting. Ia tidak mempertahankan posisi lama hanya demi konsistensi politik. Ia mengubahnya secara substantif. Amerika mulai membuka kemungkinan bahwa Iran tetap bisa melakukan pengayaan, tetapi dalam jumlah yang sangat terbatas, di bawah pengawasan yang ketat, dan dengan mekanisme verifikasi internasional yang mendalam. Ini bukan kompromi spontan. Ini adalah penyesuaian terhadap fakta bahwa kemampuan Iran tidak bisa dihapus.
Sherman menulis dengan sangat jelas bahwa keputusan ini bukan bentuk “memberi terlalu banyak” kepada Iran. Justru sebaliknya. Iran sudah menguasai teknologi pengayaan. Mereka akan terus melakukannya dengan atau tanpa persetujuan Amerika. Dalam kondisi seperti itu, mempertahankan larangan total hanya akan menempatkan Amerika pada posisi yang tidak realistis. Ia akan terus menuntut sesuatu yang tidak bisa dipaksakan.
Dengan mengubah posisi, Obama memindahkan negosiasi dari wilayah simbolik ke wilayah operasional. Yang diperdebatkan bukan lagi apakah Iran boleh mengaya uranium, tetapi seberapa banyak, dengan tingkat kemurnian berapa, menggunakan berapa sentrifus, dan di bawah inspeksi seperti apa. Ini adalah perubahan medan yang sangat besar. Ia mengubah konflik dari prinsip absolut menjadi parameter yang bisa diukur.
Dampaknya langsung terlihat pada dinamika diplomasi. Selama Amerika mempertahankan larangan total, Iran dapat dengan mudah memposisikan diri sebagai pihak yang mempertahankan hak kedaulatan. Mereka mengatakan bahwa pengayaan untuk tujuan sipil adalah hak negara berdaulat. Posisi ini memberi mereka legitimasi politik, bahkan di mata mitra Eropa. Tetapi ketika Amerika bergeser ke pembatasan, posisi itu berubah. Iran tidak lagi bisa bersembunyi di balik retorika hak. Mereka harus masuk ke negosiasi angka, batas, dan inspeksi.
Sherman menekankan bahwa perubahan ini juga menyelaraskan posisi Amerika dengan sekutu Eropanya. Negara-negara Eropa sejak awal lebih realistis. Mereka tidak menuntut penghentian total, tetapi pembatasan yang bisa diawasi. Ketika Washington akhirnya mengadopsi pendekatan ini, blok negosiasi menjadi lebih solid. Ini penting, karena tekanan terhadap Iran tidak hanya datang dari Amerika, tetapi juga dari koalisi yang lebih luas.
Namun, perubahan ini juga memiliki konsekuensi politik domestik yang besar. Di dalam Amerika sendiri, langkah ini dilihat sebagai kelemahan. Lawan-lawan politik Obama menuduhnya menyerah kepada Iran. Tetapi Sherman secara implisit membalik tuduhan itu. Ia menunjukkan bahwa mempertahankan posisi maksimalis yang tidak bisa dicapai justru adalah bentuk kelemahan strategis. Kekuatan, dalam konteks ini, bukan pada kemampuan menuntut yang absolut, tetapi pada kemampuan mengubah tuntutan menjadi sesuatu yang bisa dipaksakan.
Di titik ini, JCPOA mulai mengambil bentuknya. Ia bukan lagi kesepakatan yang bertumpu pada larangan simbolik, tetapi pada arsitektur pembatasan yang rinci: pengurangan jumlah sentrifus, pembatasan tingkat pengayaan, pengiriman keluar stok uranium yang diperkaya, dan akses inspeksi yang luas bagi badan internasional. Semua ini hanya mungkin terjadi setelah Amerika meninggalkan posisi lamanya.
Jika dibaca dalam konteks hari ini, bagian ini menjadi sangat relevan. Banyak kebijakan terhadap Iran kembali ke pola lama: tuntutan maksimal, tekanan maksimal, dan keyakinan bahwa Iran bisa dipaksa berhenti. Sherman sudah menunjukkan bahwa pendekatan ini tidak bekerja. Ia hanya memperpanjang konflik tanpa menghasilkan kontrol nyata. Sementara pendekatan pembatasan, meskipun tidak sempurna, justru menghasilkan sesuatu yang konkret.
Dengan demikian, perubahan posisi Amerika bukan sekadar langkah diplomatik. Ia adalah momen ketika kebijakan luar negeri berhenti beroperasi dalam ilusi, dan mulai bekerja dalam batas-batas kenyataan. Dan justru karena kesepakatan ini dibangun di atas pengakuan terhadap kenyataan itulah, pembatalannya kemudian menjadi kehilangan yang jauh lebih besar daripada yang diakui secara politik.
Diplomasi Diam-Diam: Kesepakatan Tidak Lahir di Meja Resmi, tetapi di Ruang yang Disembunyikan
Jika dibaca secara teliti, Sherman sebenarnya tidak menempatkan perundingan formal P5+1 sebagai titik awal yang menentukan. Ia justru menunjukkan bahwa kesepakatan ini mulai terbentuk jauh sebelum forum resmi berjalan penuh. Titik kuncinya ada pada jalur rahasia di Oman—sebuah kanal yang memungkinkan Amerika dan Iran berbicara langsung setelah puluhan tahun tanpa kontak yang bermakna.
Di sini terlihat satu hal yang sering diabaikan dalam narasi publik: diplomasi formal hampir selalu datang terlambat. Ia hanya meresmikan apa yang sudah dibangun secara diam-diam. Dalam kasus Iran, pertemuan antara William Burns, Jake Sullivan, dan perwakilan Iran seperti Abbas Araghchi dan Majid Takht-Ravanchi di Oman bukan sekadar pembuka. Ia adalah tempat di mana batas-batas kemungkinan pertama kali diuji tanpa tekanan publik, tanpa retorika domestik, dan tanpa kebutuhan untuk “menang” di depan kamera.
Sherman mencatat bahwa jalur ini tidak muncul begitu saja. Ia difasilitasi oleh Sultan Qaboos dari Oman, yang secara aktif menawarkan ruang bagi kedua pihak untuk berbicara. Ini penting, karena menunjukkan bahwa bahkan dalam konflik yang paling keras, perantara yang dipercaya tetap memiliki peran strategis. Oman tidak memaksakan solusi. Ia hanya menciptakan ruang. Tetapi ruang itu justru menjadi prasyarat bagi munculnya kepercayaan minimum.
Lebih jauh lagi, jalur ini memungkinkan Amerika mengirim sinyal yang tidak bisa disampaikan secara terbuka. Dalam diplomasi publik, setiap pernyataan harus melewati filter politik domestik. Tetapi dalam kanal rahasia, Amerika bisa mengatakan hal yang lebih jujur: bahwa mereka bersedia mempertimbangkan pengayaan terbatas, bahwa mereka tidak mengejar perubahan rezim secara langsung, dan bahwa mereka mencari kesepakatan yang bisa diverifikasi, bukan kemenangan simbolik. Ini adalah sinyal yang tidak mungkin keluar dalam pidato resmi tanpa memicu reaksi keras di dalam negeri.
Bagi Iran, kanal ini juga memiliki fungsi yang sama. Mereka bisa menguji apakah Amerika benar-benar serius atau hanya memainkan tekanan. Mereka bisa melihat apakah perubahan posisi Washington adalah taktik sementara atau pergeseran strategis. Dengan kata lain, jalur Oman bukan hanya tempat berbicara, tetapi tempat membaca niat lawan secara lebih jernih.
Sherman juga menunjukkan bagaimana momentum politik di Iran memperkuat kanal ini. Terpilihnya Hassan Rouhani dan penunjukan Mohammad Javad Zarif sebagai menteri luar negeri membuka ruang baru. Ini bukan perubahan sistem, tetapi perubahan gaya dan pendekatan. Iran tetap dengan struktur yang sama, tetapi memiliki aktor yang lebih siap untuk bernegosiasi. Jalur rahasia ini kemudian bertemu dengan momentum politik tersebut, menciptakan kondisi yang memungkinkan negosiasi formal bergerak lebih cepat.
Namun, yang paling penting dari bagian ini adalah implikasinya terhadap cara kita memahami diplomasi itu sendiri. Kesepakatan tidak lahir dari tekanan terbuka atau retorika keras. Ia lahir dari proses yang jauh lebih rapuh: percakapan terbatas, kepercayaan yang sangat tipis, dan kesediaan untuk menguji kemungkinan tanpa jaminan hasil. Ini tidak spektakuler. Tetapi justru di situlah efektivitasnya.
Ketika proses ini kemudian dipindahkan ke meja resmi P5+1, sebagian besar parameter dasar sebenarnya sudah terbentuk. Negosiasi formal menjadi tempat untuk merinci, mengunci, dan memverifikasi apa yang sebelumnya telah disepakati secara prinsip. Inilah sebabnya mengapa Sherman menekankan pentingnya keberanian, ketekunan, dan realisme. Karena yang diuji dalam proses ini bukan hanya kemampuan teknis, tetapi juga kemampuan untuk bertahan dalam ketidakpastian yang panjang.
Jika kita tarik ke konteks hari ini, pelajaran dari jalur Oman hampir sepenuhnya diabaikan. Diplomasi semakin dipertontonkan, semakin terbuka, dan semakin terikat pada siklus media dan tekanan politik domestik. Ruang untuk percakapan diam-diam menyempit, padahal justru di situlah kesepakatan besar biasanya dimulai. Tanpa ruang semacam itu, negosiasi menjadi sekadar pertunjukan posisi, bukan proses menemukan solusi.
Dengan demikian, bagian ini dalam tulisan Sherman memperlihatkan sesuatu yang sederhana tetapi fundamental: bahwa kekuasaan dalam diplomasi tidak selalu terlihat di forum besar atau pernyataan resmi. Ia sering bekerja di ruang yang tidak terlihat, di mana kata-kata tidak harus segera dipertanggungjawabkan kepada publik, dan di mana kepercayaan bisa tumbuh, meskipun sangat lambat.
Handshake Diplomacy: Ketika Tubuh, Budaya, dan Kerentanan Membuka Jalan yang Tidak Bisa Dibuka oleh Kekuasaan
Sherman tidak membesar-besarkan momen ini. Ia menuliskannya hampir seperti catatan pinggir. Tetapi jika dibaca dengan serius, bagian tentang handshake diplomacy justru memperlihatkan lapisan terdalam dari negosiasi yang selama ini tersembunyi di balik angka dan dokumen.
Masalahnya sederhana secara permukaan: ia tidak bisa berjabat tangan dengan mitra negosiasi Iran karena norma budaya. Dalam konteks diplomasi Barat, ini tampak remeh. Tetapi di ruang negosiasi, hal semacam ini bukan detail kecil. Ia menentukan bagaimana seseorang dilihat—apakah sebagai manusia yang bisa didekati, atau sebagai representasi negara yang kaku dan berjarak.
Sherman tidak memaksakan norma Barat. Ia tidak mencoba “melawan” aturan itu. Ia mengikuti praktik yang digunakan oleh diplomat lain: meletakkan tangan di dada dan sedikit menunduk. Secara teknis, ini hanya pengganti gestur. Tetapi di titik ini, yang bekerja bukan gestur itu sendiri, melainkan penerimaan terhadap batas budaya pihak lain.
Namun, yang membuat bagian ini penting bukan tindakan itu, melainkan apa yang terjadi setelahnya. Sherman tidak berhenti pada adaptasi. Ia menggunakan momen itu untuk membuka percakapan yang tidak bersifat formal. Ia menceritakan bahwa ia tumbuh di lingkungan Yahudi Ortodoks, di mana larangan menyentuh lawan jenis juga dikenal. Ini bukan strategi retoris yang besar. Ini bukan argumen diplomatik. Ini adalah pengungkapan diri yang sangat spesifik dan sangat personal.
Di sini terjadi sesuatu yang tidak bisa diproduksi oleh tekanan atau kalkulasi strategis. Para negosiator Iran, menurut Sherman, mulai melihatnya bukan hanya sebagai wakil Amerika, tetapi sebagai individu yang memahami—setidaknya sebagian—logika budaya mereka. Ini bukan soal kesamaan total. Ini soal pengurangan jarak.
Efeknya tidak langsung terlihat dalam bentuk kesepakatan. Tetapi ia mengubah atmosfer. Dan dalam negosiasi yang berlangsung lama, atmosfer adalah variabel yang menentukan apakah percakapan bisa bergerak atau akan terus berputar di tempat. Sherman menyadari bahwa tanpa hubungan personal yang minimum, setiap posisi akan dibaca sebagai ancaman, bukan sebagai tawaran.
Ia juga menekankan perbedaan tekanan yang dirasakan oleh kedua pihak. Bagi tim Amerika, kegagalan negosiasi tidak akan mengakhiri karier mereka. Reputasi mungkin terganggu, tetapi sistem tetap berjalan. Bagi tim Iran, risikonya jauh lebih besar. Mereka bernegosiasi di bawah tekanan internal yang keras, di mana kegagalan bisa berimplikasi langsung pada posisi politik mereka. Ini menciptakan asimetri psikologis yang tidak bisa diatasi hanya dengan argumen rasional.
Dalam konteks ini, hubungan personal menjadi alat untuk menyeimbangkan sebagian tekanan tersebut. Bukan dengan menghilangkannya, tetapi dengan menciptakan ruang di mana lawan tidak selalu dipersepsikan sebagai ancaman eksistensial. Ini memungkinkan percakapan bergerak dari posisi defensif menuju kemungkinan kompromi.
Sherman tidak mengidealkan momen ini. Ia tidak mengatakan bahwa empati menyelesaikan konflik. Tetapi ia menunjukkan bahwa tanpa dimensi personal, bahkan kerangka kesepakatan terbaik pun tidak akan berjalan. Karena pada akhirnya, keputusan untuk menerima atau menolak tidak dibuat oleh sistem abstrak, tetapi oleh individu yang membawa beban sejarah, tekanan politik, dan persepsi terhadap pihak lain.
Jika ditarik ke konteks hari ini, bagian ini menjadi semakin relevan. Diplomasi modern semakin kehilangan ruang untuk interaksi semacam ini. Segalanya menjadi terbuka, direkam, dan dikonsumsi publik. Dalam kondisi seperti itu, kerentanan menjadi risiko, bukan alat. Akibatnya, hubungan personal yang dulu menjadi pelumas negosiasi semakin jarang muncul.
Padahal yang ditunjukkan Sherman sangat jelas: dalam konflik yang dipenuhi ketidakpercayaan, kemajuan tidak selalu datang dari tekanan yang lebih besar, tetapi dari momen kecil yang menggeser cara satu pihak melihat pihak lain. Dan momen semacam itu tidak bisa diproduksi oleh kekuasaan. Ia hanya muncul ketika seseorang bersedia keluar dari peran formalnya, walau sebentar.
Perang dari Dalam: Ketika Kongres dan Netanyahu Masuk ke Meja Negosiasi Tanpa Duduk di Kursinya
Sherman tidak menulis bagian ini sebagai keluhan, tetapi jika dibaca dengan jeli, ia sedang memperlihatkan bahwa negosiasi dengan Iran tidak pernah benar-benar hanya antara Washington dan Teheran. Ada aktor ketiga—bahkan keempat—yang terus masuk, mengganggu, dan mencoba menggeser arah tanpa berada di ruang formal perundingan.
Sejak awal, ia menjelaskan bahwa kesepakatan ini tidak mungkin dibawa sebagai treaty ke Senat. Bukan karena kurang penting, tetapi karena secara matematis tidak akan lolos. Dibutuhkan 60 suara. Dalam komposisi politik saat itu, itu mustahil. Maka, JCPOA diposisikan sebagai executive agreement. Ini keputusan teknis, tetapi sekaligus pengakuan politik: bahwa sistem formal Amerika tidak bisa menopang kesepakatan ini.
Keputusan ini membawa konsekuensi langsung. Ia memberi fleksibilitas untuk menandatangani, tetapi sekaligus membuka pintu untuk pembatalan di masa depan. Artinya, sejak awal, kesepakatan ini hidup dalam kondisi setengah stabil—cukup kuat untuk dijalankan, tetapi tidak cukup kuat untuk dilindungi.
Tekanan dari Kongres kemudian tidak berhenti pada kritik biasa. Sherman menulis tentang surat terbuka yang dipimpin oleh Senator Tom Cotton, ditandatangani oleh puluhan senator Republik, yang secara langsung dikirim ke pemimpin Iran. Isi surat itu sederhana tetapi destruktif: kesepakatan dengan Obama tidak akan mengikat pemerintahan berikutnya, dan bisa dibatalkan “dengan satu pena.” Ini bukan sekadar oposisi politik. Ini adalah intervensi langsung ke dalam proses negosiasi yang sedang berjalan.
Dampaknya bukan hanya simbolik. Di mata Iran, surat ini mengonfirmasi semua kecurigaan mereka sejak awal. Bahwa Amerika tidak berbicara dengan satu suara. Komitmen yang diberikan oleh satu pemerintahan bisa ditarik oleh yang lain. Dengan kata lain, apa yang sebelumnya hanya kekhawatiran kini memiliki bukti konkret.
Namun, Sherman tidak berhenti di situ. Ia juga membawa masuk peran Israel, khususnya Benjamin Netanyahu. Ini bagian yang sangat tajam dalam teksnya. Netanyahu tidak hanya mengkritik kesepakatan dari luar. Ia masuk langsung ke dalam arena politik Amerika, dengan pidato di Kongres pada 2015—tanpa koordinasi dengan Gedung Putih. Ini bukan prosedur normal. Ini adalah langkah yang, dalam istilah Sherman sendiri, setara dengan “melempar granat” ke dalam proses negosiasi.
Pidato itu tidak hanya menolak kesepakatan. Ia berfungsi sebagai sinyal politik bagi oposisi di Amerika untuk memperkeras posisi. Dengan kata lain, tekanan terhadap JCPOA tidak hanya datang dari dinamika domestik Amerika, tetapi juga diperkuat oleh aktor eksternal yang memiliki kepentingan langsung.
Sherman menggambarkan bagaimana semua ini menciptakan situasi yang tidak biasa. Tim negosiasi Amerika harus bernegosiasi dengan Iran di satu sisi, sambil pada saat yang sama mempertahankan kesepakatan itu dari serangan politik di dalam negeri sendiri. Ini bukan kondisi ideal. Ini adalah negosiasi di bawah tekanan ganda.
Yang menarik, Sherman tidak membalas tekanan ini dengan retorika. Ia tidak mencoba “mengalahkan” kritik tersebut secara langsung. Ia justru menggunakan fakta bahwa tekanan juga datang dari dalam Amerika sebagai alat dalam negosiasi. Ketika Iran mengeluh bahwa kesepakatan sulit dijual di Teheran, tim Amerika menunjukkan bahwa mereka juga menghadapi risiko politik yang besar di Washington. Ini menciptakan semacam keseimbangan risiko.
Tetapi keseimbangan ini rapuh. Karena pada akhirnya, tekanan di dalam Amerika tidak pernah benar-benar bisa dikendalikan oleh tim negosiasi. Mereka bisa mengelola persepsi Iran, tetapi tidak bisa menghentikan dinamika politik domestik yang terus bergerak.
Jika bagian ini dibaca dengan serius, maka terlihat bahwa JCPOA sejak awal tidak hanya berhadapan dengan masalah teknis nuklir Iran, tetapi juga dengan masalah yang jauh lebih kompleks: ketidakmampuan sistem politik Amerika untuk berbicara sebagai satu entitas dalam kebijakan luar negeri. Dan di sinilah ironi terbesar muncul. Kesepakatan yang berhasil melewati semua tekanan ini—dari Kongres, dari sekutu, dari oposisi internal—justru akhirnya runtuh bukan karena faktor eksternal baru, tetapi karena tekanan yang sejak awal sudah ada, hanya menunggu momentum politik untuk menjadi keputusan resmi. Jika kita tarik ke konteks hari ini, pola ini tidak berubah. Dalam hampir semua isu strategis besar, Amerika tetap menghadapi masalah yang sama: kebijakan luar negeri tidak hanya ditentukan oleh kalkulasi eksternal, tetapi oleh pertarungan internal yang sering kali lebih menentukan.
Ketika Amerika Pergi: Runtuhnya Bukan Sekadar Kesepakatan, Tetapi Mekanisme Kepercayaan Itu Sendiri
Sherman tidak menulis bagian ini dengan emosi yang berlebihan. Ia justru dingin. Tetapi justru di situlah kerasnya. Ia menunjukkan bahwa ketika Amerika keluar dari JCPOA, yang dihancurkan bukan hanya sebuah perjanjian, melainkan seluruh logika yang membuat perjanjian itu mungkin sejak awal.
Kesepakatan itu tidak lahir dari kepercayaan. Ia lahir dari ketidakpercayaan yang diatur. Setiap bagian dirancang untuk mengunci kemungkinan pelanggaran: pembatasan jumlah centrifuge, batas tingkat pengayaan, pengurangan stok uranium, dan akses inspeksi yang luas. Artinya, JCPOA tidak meminta Iran “dipercaya.” Ia membangun sistem di mana Iran tidak bisa bergerak tanpa terdeteksi. Inilah inti kekuatannya.
Ketika Amerika menarik diri, sistem itu tidak digantikan oleh sesuatu yang lebih kuat. Ia justru ditinggalkan tanpa pengganti. Sherman tidak perlu mengatakan secara eksplisit bahwa ini adalah kesalahan strategis. Urutan faktanya sudah cukup: Iran sebelumnya mematuhi pembatasan, kemudian Amerika keluar, lalu Iran mulai melampaui batas yang telah disepakati. Ini bukan eskalasi spontan. Ini adalah konsekuensi langsung dari runtuhnya kerangka yang mengatur perilaku.
Yang lebih dalam dari itu adalah dampak terhadap persepsi global. Jika sebuah kesepakatan yang dirancang dengan sangat rinci, dinegosiasikan oleh banyak negara, dan dijalankan sesuai mekanisme, tetap bisa dibatalkan secara sepihak oleh satu pemerintahan, maka pesan yang dikirim ke dunia sangat jelas: komitmen Amerika bersifat sementara.
Ini bukan hanya masalah Iran. Negara lain membaca hal yang sama. Korea Utara melihatnya sebagai alasan untuk tidak menyerahkan apa pun tanpa jaminan yang tidak bisa dibatalkan. Negara-negara lain melihat bahwa negosiasi dengan Amerika mengandung risiko yang tidak bisa dikontrol. Dalam sistem internasional, kepercayaan tidak dibangun dari niat, tetapi dari konsistensi. Dan di titik ini, konsistensi itu pecah.
Sherman tidak mengembangkan analisis geopolitik yang luas, tetapi implikasinya mengarah ke sana. Ketika Amerika keluar, ruang tidak menjadi kosong. Ia diisi oleh aktor lain. Rusia dan China tidak perlu menawarkan sistem yang lebih baik. Mereka hanya perlu terlihat lebih stabil. Dalam konteks ini, kesalahan Amerika bukan hanya kehilangan satu kesepakatan, tetapi juga melemahkan posisinya sendiri dalam arsitektur global.
Ada juga dimensi lain yang lebih sunyi tetapi tidak kalah penting. JCPOA memberikan insentif ekonomi bagi Iran untuk tetap berada dalam kerangka pembatasan. Ketika Amerika kembali memberlakukan sanksi, insentif itu hilang. Maka rasionalitas Iran berubah. Jika keuntungan dari kepatuhan tidak ada, maka pembatasan tidak lagi memiliki nilai. Ini bukan soal niat jahat. Ini soal kalkulasi.
Di titik ini, Sherman sebenarnya memperlihatkan sesuatu yang sederhana tetapi sering diabaikan: kesepakatan internasional bukan berdiri pada moralitas, tetapi pada keseimbangan insentif dan pembatasan. Jika salah satu hilang, sistem tidak lagi bekerja. Dan itulah yang terjadi setelah Amerika keluar.
Jika kita tarik ke konteks hari ini—ketegangan Iran dengan Israel, peningkatan pengayaan uranium, dan ketidakpastian kawasan—semua ini bukan perkembangan yang terpisah. Ia adalah kelanjutan dari satu momen: ketika kerangka yang membatasi dibongkar tanpa diganti.
Dengan demikian, bagian akhir tulisan Sherman tidak hanya berbicara tentang masa lalu. Ia menjelaskan kondisi sekarang. Bahwa dunia yang kehilangan mekanisme pembatasan akan kembali ke logika lama: tekanan, ancaman, dan eskalasi. Dan dalam logika seperti itu, tidak ada pihak yang benar-benar mengontrol arah.
Kesepakatan bisa gagal. Itu hal biasa. Tetapi dalam kasus ini, yang terjadi lebih dari kegagalan. Ia adalah pembongkaran terhadap satu-satunya struktur yang pernah berhasil mengubah konflik yang tidak terkendali menjadi sesuatu yang bisa dihitung.
Dan ketika struktur itu hilang, yang tersisa bukan kebebasan, tetapi ketidakpastian yang jauh lebih berbahaya.
Dari JCPOA ke Hari Ini: Ketika Pembatasan Hilang, Kapasitas Bergerak Tanpa Rem
Apa yang ditulis Sherman berhenti pada satu titik: Amerika keluar, kerangka runtuh, dan Iran mulai bergerak kembali. Tetapi jika kita lanjutkan logika itu ke hari ini, yang terlihat bukan sekadar “Iran melanggar,” melainkan sesuatu yang jauh lebih sistematis: kapasitas yang dulu dikunci kini kembali bekerja tanpa mekanisme pengendali.
Dalam JCPOA, masalah utama bukan apakah Iran memiliki kemampuan nuklir. Sherman sudah jelas: kemampuan itu tidak bisa dihapus. Yang dilakukan adalah membatasi—berapa banyak uranium diperkaya, pada tingkat berapa, dengan berapa centrifuge, dan di bawah pengawasan siapa. Artinya, yang dikendalikan adalah laju dan arah dari kapasitas itu.
Ketika Amerika keluar, semua variabel itu kehilangan fungsi. Bukan karena Iran tiba-tiba berubah, tetapi karena sistem yang memberi insentif untuk patuh hilang. Maka yang terjadi hari ini bukan anomali. Ia adalah kelanjutan logis: pengayaan meningkat, batas-batas dilampaui, dan waktu yang dibutuhkan untuk mencapai tingkat tinggi menjadi jauh lebih pendek.
Di titik ini, banyak analisis hari ini jatuh pada kesalahan lama—yang sebenarnya sudah dibongkar Sherman. Mereka kembali berpikir bahwa tekanan tambahan akan memaksa Iran kembali tunduk. Padahal teks Sherman sudah menunjukkan bahwa tekanan, tanpa kerangka pembatasan, hanya menghasilkan adaptasi. Iran hari ini bukan Iran 2006. Ia jauh lebih siap menghadapi sanksi, jauh lebih berpengalaman mengelola isolasi, dan jauh lebih dalam dalam kapasitas teknologinya.
Apa yang terjadi sekarang di kawasan—Gaza, Lebanon, ketegangan langsung dengan Israel—tidak bisa dipisahkan dari kerangka yang hilang itu. Dalam JCPOA, program nuklir Iran dipisahkan dari konflik regional. Ini bukan karena konflik itu tidak penting, tetapi karena tanpa mengunci isu nuklir, tidak ada ruang untuk mengelola isu lain.
Hari ini, pemisahan itu hilang. Ketika tidak ada lagi pembatasan nuklir yang stabil, setiap konflik regional langsung terbaca dalam kerangka eskalasi yang lebih besar. Serangan di satu titik tidak lagi hanya lokal; ia selalu membawa bayangan potensi eskalasi strategis.
Inilah yang tidak diucapkan Sherman secara eksplisit, tetapi sudah ada dalam logikanya: tanpa pembatasan nuklir, semua konflik lain menjadi lebih berbahaya. Bukan karena Iran pasti akan menggunakan senjata nuklir, tetapi karena ketidakpastian itu sendiri menjadi faktor eskalasi.
Israel membaca ini sebagai ancaman eksistensial. Karena itu pendekatannya kembali ke opsi yang sudah dinilai Sherman tidak efektif: sabotase, serangan terbatas, dan ancaman militer. Tetapi seperti yang sudah dijelaskan dalam teks, tindakan semacam itu tidak mengakhiri program. Ia hanya menunda—dan sering kali mempercepat dalam jangka panjang.
Jika kita lihat posisi Amerika sekarang, pola yang digambarkan Sherman tidak berubah. Kebijakan terhadap Iran tetap bergerak di antara tekanan maksimal dan upaya negosiasi yang tidak stabil. Tetapi masalah dasarnya tetap sama: tidak ada jaminan kontinuitas.
Iran hari ini tidak hanya bernegosiasi dengan satu pemerintahan. Mereka bernegosiasi dengan kemungkinan perubahan pemerintahan berikutnya. Ini membuat setiap upaya untuk menghidupkan kembali kesepakatan menjadi lebih sulit daripada sebelumnya. Karena sekarang, skeptisisme Iran tidak lagi bersifat asumsi. Ia berbasis pengalaman. Ini adalah dampak paling dalam dari keputusan keluar dari JCPOA. Bukan hanya kerangka yang hilang, tetapi kepercayaan bahwa kerangka baru bisa bertahan juga ikut hilang.
Apa yang kita lihat hari ini sebenarnya bukan situasi baru. Ia adalah kembalinya pola lama yang sebelumnya sempat ditahan oleh JCPOA: tekanan, respons, eskalasi, lalu tekanan lagi. Tanpa mekanisme pembatasan, tidak ada titik stabil. Sherman menunjukkan bahwa diplomasi berhasil bukan karena ia ideal, tetapi karena ia menciptakan struktur yang memaksa perilaku. Hari ini, struktur itu tidak ada. Maka yang tersisa hanya niat dan kekuatan. Dan keduanya tidak cukup untuk mengelola konflik kompleks. China dan Rusia masuk di ruang ini bukan karena mereka menawarkan solusi lebih baik, tetapi karena mereka tidak memiliki masalah kontinuitas yang sama. Dalam dunia yang kehilangan kepercayaan pada komitmen Amerika, stabilitas relatif—meskipun tidak ideal—menjadi nilai strategis.
Kesimpulan yang Tidak Diucapkan, Tetapi Tak Terhindarkan
Jika seluruh argumen Sherman ditarik ke hari ini, maka kesimpulannya bukan bahwa JCPOA sempurna. Justru sebaliknya. Ia terbatas, kompromistis, dan penuh kekurangan. Tetapi ia bekerja pada satu hal yang paling penting: mengubah ancaman menjadi sesuatu yang bisa dikendalikan.
Hari ini, yang kita hadapi bukan kegagalan Iran untuk patuh, tetapi ketiadaan sistem yang membuat kepatuhan itu rasional. Ini pergeseran yang sangat penting. Karena selama sistem itu tidak ada, setiap upaya kembali ke tekanan maksimal hanya akan mengulang siklus yang sama.
Dengan kata lain, dunia hari ini sedang hidup dalam konsekuensi dari satu keputusan: membongkar kerangka tanpa menggantinya. Dan seperti yang sudah ditunjukkan Sherman, dalam situasi seperti itu, yang bergerak bukan solusi—tetapi kapasitas yang tidak lagi dibatasi.
Konteks Hari Ini dalam Kerangka Wendy Sherman: Bukan Situasi Baru, tetapi Kelanjutan yang Sudah Ia Peringatkan
Jika dibaca secara disiplin, tulisan Sherman sebenarnya sudah mengandung kerangka untuk membaca kondisi hari ini. Ia tidak berbicara tentang Gaza, Israel, atau eskalasi terbaru secara langsung. Tetapi ia menjelaskan mekanisme dasar yang membuat situasi sekarang menjadi seperti ini.
Pertama, Sherman menegaskan bahwa sebelum JCPOA, Iran terus memperluas kapasitas nuklirnya meskipun berada di bawah sanksi berat. Ini bukan opini. Ia menyebut angka: dari ratusan centrifuge menjadi puluhan ribu. Artinya, dalam kerangka Sherman, tekanan ekonomi tidak menghentikan kemajuan nuklir. Ia hanya berjalan bersamaan dengan kemajuan tersebut.
Jika kita lihat hari ini, pola itu kembali persis seperti yang ia jelaskan. Ketika Amerika keluar dari JCPOA dan sanksi dikembalikan, Iran tidak berhenti. Ia kembali meningkatkan tingkat pengayaan dan kapasitasnya. Ini bukan perubahan perilaku baru. Ini adalah pola lama yang kembali muncul setelah mekanisme pembatasan hilang.
Kedua, Sherman menyatakan bahwa opsi militer hanya dapat menunda program nuklir Iran selama beberapa tahun, bukan mengakhirinya. Ini penting, karena dalam konteks hari ini, diskusi tentang serangan terhadap fasilitas nuklir Iran kembali muncul. Dalam logika Sherman, tindakan semacam itu tidak menyelesaikan masalah. Ia hanya menggeser waktu, sementara kapasitas dasar tetap ada.
Ketiga, Sherman menjelaskan bahwa JCPOA bekerja karena ia membatasi dan memverifikasi, bukan karena ia menghapus kemampuan Iran. Ini inti argumennya. Jadi ketika Amerika keluar dari kesepakatan, yang hilang bukan “niat baik Iran,” tetapi struktur pembatasan itu sendiri.
Jika ditarik ke hari ini, maka peningkatan aktivitas nuklir Iran bukan sesuatu yang terlepas dari keputusan tersebut. Ia adalah konsekuensi langsung dari tidak adanya lagi batas yang disepakati dan diawasi. Dalam kerangka Sherman, ini bukan eskalasi yang tiba-tiba, tetapi kembalinya kondisi sebelum JCPOA.
Keempat, Sherman mengakui bahwa kekhawatiran Iran sejak awal adalah apakah Amerika akan mematuhi kesepakatan dalam jangka panjang. Ketika Amerika keluar, kekhawatiran itu terbukti benar. Dalam konteks hari ini, hal ini menjelaskan mengapa upaya untuk menghidupkan kembali kesepakatan menjadi sangat sulit. Bukan karena isu teknis, tetapi karena kepercayaan terhadap keberlanjutan komitmen Amerika telah terganggu.
Kelima, Sherman menekankan bahwa diplomasi hanya bekerja jika ada kombinasi antara tekanan dan jalan keluar. Dalam situasi sekarang, tekanan tetap ada, tetapi jalan keluar yang kredibel tidak jelas. Dalam kerangka yang ia bangun, kondisi seperti ini tidak akan menghasilkan pembatasan baru. Ia hanya akan mempertahankan kebuntuan.
About The Author
Kamaruzzaman Bustamam Ahmad
Prof. Kamaruzzaman Bustamam Ahmad (KBA) has followed his curiosity throughout life, which has carried him into the fields of Sociology of Anthropology of Religion in Southeast Asia, Islamic Studies, Sufism, Cosmology, and Security, Geostrategy, Terrorism, and Geopolitics. Prof. KBA is the author of over 30 books and 50 academic and professional journal articles and book chapters. His academic training is in social anthropology at La Trobe University, Islamic Political Science at the University of Malaya, and Islamic Legal Studies at UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. He received many fellowships: Asian Public Intellectual (The Nippon Foundation), IVLP (American Government), Young Muslim Intellectual (Japan Foundation), and Islamic Studies from Within (Rockefeller Foundation). Currently, he is Dean of Faculty and Shariah, Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry, Banda Aceh, Indonesia.
