Ontologi Intelijen: Ketika Pulbaket Bekerja Tanpa Fisika Realitas Sosial Aceh Produksi intelijen selalu dimulai dari klaim ontologisโapa yang dianggap โadaโ, apa yang dianggap โancamanโ, dan apa yang dianggap โtandaโ. Dalam praktik pulbaket yang tidak berfondasi, ontologi digeser menjadi sekadar inventarisasi peristiwa: siapa bertemu siapa, di mana, kapan, dengan siapa, dan apa yang tampak di permukaan. Itu bukan ontologi; itu katalog. Katalog bisa rapi, tetapi tidak pernah memberi akses pada struktur kausal, intensionalitas, dan logika reproduksi makna yang hidup di bawah fenomena. Aceh tidak beroperasi sebagai ruang sosial yang patuh pada positivisme administrasi. Ia memiliki lapisan kosmologi, genealogis, moral economy, dan โregime of legitimacyโ yang bekerja sebagai mesin makna. Pulbaket yang memutlakkan indikator permukaanโjumlah massa, narasi media, daftar tokoh, peta organisasiโakan memproduksi realitas palsu: seolah Aceh dapat dipahami melalui parameter statis, padahal yang bergerak adalah konfigurasi kehormatan, rasa keadilan, ingatan konflik, dan mekanisme keharmonisan komunitas yang tidak selalu artikulatif di ruang formal. Di titik ini, problem pulbaket bukan kekurangan data, melainkan kekeliruan โstatus ontologisโ dari data. Data diperlakukan sebagai representasi realitas, padahal ia hanya residu dari interaksi pengumpulโtarget, residu dari relasi kuasa, dan residu dari apa yang โmau ditampilkanโ atau โterpaksa ditampilkanโ. Tanpa kritik ontologis, pulbaket menjadi mesin yang memproduksi ilusi objektivitas: semakin banyak data, semakin yakinโpadahal semakin banyak data, semakin tebal pula kabut distorsi. Kerangka โpre-fracture environmentโ atau โlatent delegitimationโ tidak pernah muncul dari pulbaket yang sekadar menghitung gejala. Ia menuntut pembacaan terhadap ambang-ambang: kapan loyalitas berubah menjadi kepatuhan semu, kapan harmoni berubah menjadi disiplin sosial pasif, kapan ketaatan berubah menjadi penghindaran. Aceh bisa tampak โtenangโ secara event-data, tetapi secara ontologi politik ia berada dalam mode โsilent dissonanceโ, yakni disonansi yang disalurkan melalui etika komunitas, bukan melalui aksi terbuka. Ketiadaan pijakan ontologis membuat intelijen jatuh pada kesalahan klasik: menyamakan ketidakhadiran pemberontakan dengan hadirnya integrasi. Ini keliru secara filsafat realitas sosial.
Artikel ini tersedia untuk pelanggan. Silakan berlangganan untuk membaca selengkapnya.
Leave a Reply