Dalam lanskap geopolitik abad ke-21, Rusia selalu menjadi teka-teki yang sulit diurai. Sejak runtuhnya Uni Soviet pada tahun 1991, dunia menyaksikan transisi penuh gejolak dari ekonomi terpusat menuju kapitalisme oligarkis yang brutal. Namun, di balik kekacauan itu, tersimpan narasi yang lebih dalam: kebangkitan kembali jaringan intelijen yang dahulu dikenal sebagai KGB, dan transformasi Vladimir Putin dari seorang perwira intelijen Soviet di Dresden menjadi penguasa Kremlin yang paling berpengaruh di era modern. Buku Catherine Belton, Putin’s People, adalah salah satu karya investigatif paling berani yang menguraikan kisah ini. Belton, mantan koresponden Financial Times di Moskow, menulis dengan detail yang memukau dan riset yang menggetarkan. Ia menelusuri bagaimana Putin dan lingkaran dekatnya—para “siloviki” (orang-orang keamanan)—mengambil alih aset vital negara, menciptakan jaringan oligarki baru, dan mengubah demokrasi Rusia menjadi sistem otoriter yang berpadu dengan kapitalisme predator. Yang lebih mengkhawatirkan, Belton menunjukkan bagaimana jaringan ini tidak berhenti di dalam negeri, tetapi merambah ke dunia Barat, menanamkan pengaruh lewat aliran uang gelap, operasi intelijen, hingga kooptasi politik. Buku ini terbagi ke dalam tiga bagian utama. Pada bagian awal, Belton membawa kita ke masa lalu Putin di Dresden, Jerman Timur, saat ia menjadi perwira KGB muda yang menyaksikan keruntuhan Soviet. Di sinilah kita melihat cikal bakal pandangan dunianya: trauma terhadap kehancuran negara adidaya dan tekad untuk mengembalikan kejayaan Rusia, dengan cara apa pun. Bagian kedua menjelaskan fase awal karier Putin di St. Petersburg hingga kemudian diangkat menjadi Presiden Rusia. Belton menunjukkan bahwa Putin tidak muncul sebagai pemimpin yang netral atau teknokrat, tetapi sebagai figur yang dibentuk dan dipromosikan oleh jaringan KGB lama yang ingin merebut kembali kekuasaan setelah periode “kebebasan” singkat di era Boris Yeltsin. Alih-alih reformasi demokratis, yang terjadi justru konsolidasi kekuasaan melalui perang Chechnya, penyingkiran lawan politik, dan pengendalian media.TrendingConsciousness 2045: From Artificial Intelligence to Artificial Consciousness and the Future of Humanity Di bagian
Artikel ini tersedia untuk pelanggan. Silakan berlangganan untuk membaca selengkapnya.
Leave a Reply