Social Man Karl Marx: Membaca Ulang Antropologi Sosial dalam Pemikiran Marx menurut Shlomo Avineri
Social Man: Ketika Manusia Tidak Lagi Sendiri, tetapi Menjadi Dunia bagi Sesamanya
Daftar Isi
ToggleSocial Man sebagai Inti Antropologi Marx
Esai ini merupakan telaahan dari isi buku tentang konsep social man yang terdapat dalam karya Shlomo Avineri yang berjudul The Social and Political Thought of Karl Marx. Dalam pembacaan Shlomo Avineri, gagasan tentang social man pada Marx tidak boleh dipahami sebagai tambahan etis di atas teori ekonomi, seolah-olah setelah membahas kerja, produksi, dan revolusi, Marx lalu menambahkan seruan agar manusia menjadi lebih sosial. Dapat dikatakan bahwa “manusia sosial” adalah pusat dari seluruh bangunan pikir Marx muda, bahkan menjadi jembatan antara kritik atas alienasi dan kritik atas ekonomi politik. Avineri menunjukkan bahwa ketika Marx berbicara tentang manusia, yang dibicarakan bukan individu yang sudah lengkap lalu kemudian berhubungan dengan orang lain, melainkan makhluk yang sejak awal hanya dapat ada melalui relasi timbal balik. Karena itu, social man bukan slogan politik, tetapi definisi tentang apa artinya menjadi manusia.
Hal ini tampak ketika Avineri menjelaskan istilah Gattungswesen atau species-being. Istilah tersebut bukan sekadar penamaan metafisis yang kabur, melainkan cara Marx menolak pandangan bahwa manusia adalah makhluk atomistik yang tertutup pada dirinya sendiri. Dalam model individualistik, manusia dibayangkan memiliki ruang aktivitas yang sepenuhnya privat, sepenuhnya milik diri, lalu dari ruang tertutup itu manusia keluar untuk membuat kontrak, bertukar, atau bersaing. Marx menolak gambaran ini sampai ke akarnya. Aktivitas manusia, menurut garis baca Avineri, selalu sudah bersifat transsubjektif: selalu bergantung pada orang lain, memengaruhi orang lain, dan mengambil bentuknya melalui dunia yang telah dibentuk oleh orang lain. Maka manusia tidak lebih dahulu menjadi individu, baru kemudian menjadi sosial. Manusia menjadi individu justru di dalam dunia sosial yang telah mendahuluinya.
Di sinilah Avineri menempatkan serangan Marx terhadap homo economicus. Yang ditolak Marx bukan hanya teori ekonomi tertentu, tetapi suatu gambaran tentang manusia. Jika manusia dipahami sebagai makhluk yang kepentingannya semata-mata privat, maka hubungan dengan orang lain akan selalu tampak sebagai ancaman, transaksi, atau alat. Avineri menegaskan bahwa dari model seperti ini, solidaritas tidak mungkin lahir dari dalam. Kalaupun solidaritas ingin dipertahankan, solidaritas harus ditambahkan dari luar sebagai aturan moral, sebagai regulasi, atau sebagai kewajiban. Bagi Marx, itu pertanda bahwa model manusianya sudah salah sejak awal. Sebab bila hubungan sosial yang sehat hanya bisa ditempelkan dari luar, maka teori tersebut telah gagal memahami watak dasar manusia sebagai makhluk yang sejak asalnya hidup dalam saling ketergantungan.
Karena itu, social man pada Marx bukan pertama-tama soal perasaan kebersamaan, tetapi soal struktur keberadaan. Avineri memperlihatkan bahwa produksi menjadi titik masuk yang paling jelas. Tidak ada produksi yang sungguh-sungguh tunggal. Bahkan ketika suatu kerja tampak dilakukan sendirian, kerja itu tetap berdiri di atas bahasa, alat, pengetahuan, kebutuhan, dan horizon makna yang bersifat sosial. Dari sini Marx menarik kesimpulan yang sangat penting: objektivitas manusia, yakni kemampuan manusia untuk mewujudkan diri ke dalam dunia, selalu sekaligus menyingkapkan keterarahan kepada yang lain. Manusia bekerja bukan di ruang kosong, tetapi di dalam jaringan kehidupan bersama. Maka kerja bukan sekadar cara mencari nafkah; kerja adalah bukti bahwa manusia tidak pernah lengkap dalam kesendirian. Pada titik ini Avineri sedang menunjukkan bahwa antropologi Marx bukan antropologi kesendirian, melainkan antropologi ko-produksi dunia.
Dari sini dapat dipahami mengapa Avineri berulang kali menekankan bahwa Marx menolak pemisahan abstrak antara individu dan masyarakat. Pada halaman 88 dan 92, gagasan ini tampil sangat tegas: individu bukan lawan dari masyarakat, dan masyarakat bukan entitas raksasa yang berdiri di hadapan individu. Rumusan Marx yang dibaca Avineri sangat tajam: individu adalah makhluk sosial; manifestasi hidup individual, bahkan ketika tidak tampak sebagai tindakan komunal langsung, tetap merupakan penegasan kehidupan sosial. Ini adalah pukulan telak terhadap dua kesalahan sekaligus. Yang pertama adalah individualisme liberal yang membayangkan individu sebagai pusat yang otonom. Yang kedua adalah kolektivisme kasar yang mengorbankan individu atas nama “masyarakat.” Marx menolak keduanya karena keduanya masih terjebak dalam oposisi yang salah. Bagi Marx, individu dan masyarakat bukan dua substansi yang harus diperdamaikan dari luar; keduanya adalah dua momen dari kenyataan yang sama.
Dengan dasar itu, Avineri lalu memperlihatkan bahwa kritik Marx terhadap properti privat, keluarga borjuis, dan hubungan antarjenis kelamin tidak boleh dibaca sebagai ledakan emosional yang terpisah-pisah. Semua kritik itu mengalir dari satu pusat: pertanyaan apakah hubungan antarmanusia memungkinkan manusia hadir sebagai tujuan, atau justru merosot menjadi alat. Pada halaman 89–91, Avineri menyoroti pernyataan Marx bahwa hubungan antara laki-laki dan perempuan adalah relasi paling alamiah antarmanusia, sebab di sana dapat diuji seberapa jauh kebutuhan manusia telah menjadi kebutuhan yang manusiawi, dan seberapa jauh orang lain diakui sebagai pribadi, bukan benda. Di sini kedalaman Marx tampak jelas. Penilaian atas suatu masyarakat tidak cukup diambil dari hukum atau pidato moralnya, tetapi dari bentuk konkret relasi antarmanusianya. Bila relasi paling dekat pun dirusak oleh logika milik, dominasi, dan pemanfaatan, maka kerusakan itu menyingkap kebusukan dari struktur sosial secara keseluruhan.
Akhirnya, Avineri menunjukkan bahwa konsep sosial man menjelaskan mengapa jalan keluar Marx tidak berupa nasihat moral, melainkan transformasi kondisi produksi dan kehidupan bersama. Selama dunia sosial diatur oleh bentuk-bentuk yang memecah manusia ke dalam kepentingan privat yang saling bermusuhan, selama itu pula manusia akan gagal mengenali kodrat sosialnya sendiri. Maka komunisme dalam horizon ini bukan pertama-tama soal negara, partai, atau slogan, tetapi soal pemulihan manusia kepada dirinya sebagai makhluk sosial. Bukan kembali ke massa tanpa wajah, melainkan ke suatu bentuk kehidupan di mana perkembangan masing-masing tidak bertentangan dengan perkembangan semua. Itulah sebabnya social man pada Marx, menurut Avineri, bukan tema pinggiran. Konsep tersebut adalah pusat antropologi Marx: manusia menjadi manusia hanya ketika dunia sosial tidak lagi membuat manusia asing terhadap sesamanya, terhadap kerja, dan terhadap dirinya sendiri.
Kritik terhadap Individualisme: Ketika Manusia Direduksi Menjadi Alat
Avineri membaca Marx sebagai pengkritik tajam terhadap model manusia yang mendominasi ekonomi politik klasik: manusia sebagai individu yang berdiri sendiri dan memiliki ruang aktivitas yang sepenuhnya privat. Model ini tampak sederhana, tetapi justru di sinilah, menurut Marx, kesalahan paling mendasar terjadi. Ketika manusia dipahami sebagai pusat kepentingan pribadi, maka seluruh hubungan sosial akan ditafsirkan sebagai pertemuan antara kepentingan-kepentingan yang saling berhadapan, bukan sebagai bagian dari satu kehidupan bersama.
Avineri menunjukkan bahwa konsekuensi pertama dari model ini adalah lahirnya relasi yang bersifat antagonistik. Jika setiap individu memiliki wilayah yang sepenuhnya miliknya, maka hubungan dengan orang lain hanya mungkin terjadi sebagai benturan atau negosiasi. Tidak ada dasar internal untuk solidaritas. Bahkan ketika konflik tidak muncul secara terbuka, struktur hubungan tersebut tetap menyimpan potensi permusuhan, karena setiap individu melihat yang lain sebagai batas bagi kepentingannya sendiri.
Lebih jauh, Marx melihat bahwa dalam kerangka ini manusia mulai memperlakukan manusia lain sebagai sarana. Pada titik ini Avineri menghubungkan Marx dengan Kant, tetapi dengan arah yang berbeda. Kant menyatakan bahwa manusia harus diperlakukan sebagai tujuan, bukan sebagai alat. Marx menunjukkan bahwa dalam masyarakat yang dibangun atas individualisme ekonomi, prinsip ini tidak dapat dijalankan. Bukan karena manusia tidak bermoral, tetapi karena struktur hubungan sosial memang mendorong manusia untuk melihat yang lain secara instrumental.
Di sinilah kritik Marx menjadi lebih tajam daripada sekadar kritik moral. Avineri menekankan bahwa menambahkan norma atau kewajiban etis ke dalam sistem ini tidak akan menyelesaikan persoalan. Jika dasar hubungan sudah dibangun di atas kepentingan privat yang eksklusif, maka setiap upaya untuk menanamkan solidaritas hanya akan menjadi sesuatu yang eksternal, sesuatu yang dipaksakan dari luar. Sistem tersebut tetap akan memproduksi kontradiksi yang sama, karena akar masalahnya tidak disentuh.
Hal ini terlihat jelas dalam pembahasan tentang properti privat. Avineri menunjukkan bahwa dalam teori modern, properti dipahami sebagai hak eksklusif yang memisahkan individu satu dari yang lain. Konsep Romawi tentang plenum dominium menjadikan kepemilikan sebagai kekuasaan penuh atas sesuatu, tanpa ruang bagi relasi sosial. Marx menolak pandangan ini dengan menyatakan bahwa properti sebenarnya adalah atribut sosial. Ketika properti dipahami secara eksklusif, yang hilang bukan hanya solidaritas, tetapi juga dasar rasional dari kepemilikan itu sendiri.
Kontradiksi ini semakin jelas ketika konsep “kepentingan umum” dimunculkan dalam kerangka individualisme. Avineri menunjukkan bahwa dalam model tersebut, “kepentingan umum” sebenarnya hanyalah hasil sampingan dari kepentingan privat, bukan sesuatu yang berdiri sendiri. Namun, pada saat yang sama, sistem tersebut membutuhkan kepentingan umum untuk bertahan. Di sinilah muncul paradoks: sistem yang bergantung pada solidaritas justru menolak dasar sosial yang memungkinkan solidaritas itu ada.
Marx, melalui pembacaan Avineri, tidak berhenti pada pembongkaran kontradiksi ini. Kritik terhadap individualisme membuka jalan bagi pemahaman bahwa manusia tidak dapat direduksi menjadi agen kepentingan pribadi. Ketika manusia dipaksa hidup dalam kerangka seperti itu, yang terjadi bukan hanya konflik sosial, tetapi juga degradasi kemanusiaan itu sendiri. Manusia kehilangan kemampuannya untuk melihat yang lain sebagai bagian dari dirinya. Di titik ini, kritik terhadap individualisme berubah menjadi kritik terhadap kondisi yang membuat manusia gagal menjadi manusia.
Produksi sebagai Relasi Sosial: Di Mana Manusia Mewujudkan Diri
Dalam pembacaan Shlomo Avineri atas Karl Marx, konsep produksi tidak pernah berhenti pada makna ekonomi yang sempit. Produksi adalah ruang di mana manusia mewujudkan dirinya, tetapi sekaligus ruang di mana sifat sosial manusia menjadi nyata. Karena itu, produksi tidak dapat dipahami sebagai aktivitas individu yang berdiri sendiri. Bahkan bentuk kerja yang tampak paling sederhana sekalipun selalu berdiri di atas jaringan relasi yang lebih luas.
Avineri menunjukkan bahwa bagi Marx, setiap aktivitas produktif selalu mengandung dimensi bersama. Alat yang digunakan, bahasa yang dipakai, kebutuhan yang ingin dipenuhi, semuanya merupakan hasil dari sejarah sosial. Dengan demikian, ketika manusia bekerja, manusia tidak pernah benar-benar bekerja sendirian. Kerja selalu membawa jejak kehadiran orang lain, baik yang hidup sezaman maupun yang telah membentuk kondisi sebelumnya.
Namun di sinilah letak ironi yang dibaca Marx. Produksi dalam kapitalisme tetap bersifat sosial, tetapi hasilnya dipisahkan dari sifat sosial tersebut. Hasil kerja menjadi milik privat, sementara prosesnya melibatkan banyak orang. Avineri menekankan bahwa pemisahan ini bukan sekadar ketidakadilan distribusi, tetapi pemutusan antara manusia dan realitas sosial dari aktivitasnya sendiri.
Akibatnya, manusia tidak lagi mengenali dirinya dalam hasil kerja. Kerja yang seharusnya menjadi cara manusia mengekspresikan diri berubah menjadi sesuatu yang asing. Dalam kondisi ini, manusia tidak bekerja sebagai manusia, tetapi sebagai fungsi dalam sistem. Relasi yang muncul bukan relasi kebersamaan, melainkan relasi yang diatur oleh kebutuhan dan keterpaksaan.
Avineri membaca ini sebagai bentuk konkret dari alienasi. Bukan hanya karena manusia tidak memiliki hasil kerjanya, tetapi karena manusia kehilangan hubungan dengan sesama melalui kerja itu sendiri. Kerja tidak lagi menghubungkan manusia dengan manusia lain dalam arti yang utuh. Yang muncul justru hubungan yang terfragmentasi, di mana setiap orang terpisah dalam perannya masing-masing.
Lebih jauh, Marx melihat bahwa dalam kondisi seperti ini, sifat sosial manusia tidak hilang, tetapi terdistorsi. Manusia tetap bergantung pada orang lain, tetapi ketergantungan itu tidak disadari sebagai hubungan yang bermakna. Ketergantungan tersebut muncul sebagai tekanan, bukan sebagai bentuk kebersamaan. Di sinilah Avineri menunjukkan bahwa masalahnya bukan pada fakta sosialitas, tetapi pada bentuk sosialitas yang dihasilkan oleh struktur tertentu.
Dari sini menjadi jelas bahwa perubahan yang diinginkan Marx tidak berhenti pada distribusi hasil, tetapi menyentuh cara produksi itu sendiri. Produksi harus kembali menjadi ruang di mana manusia dapat mengenali dirinya dalam hubungan dengan orang lain. Ketika produksi tidak lagi memisahkan manusia dari manusia lain, di situlah social man mulai menemukan bentuknya yang nyata.
Alienasi sebagai Kerusakan Relasi Sosial
Dapat dikatakan bahwa alienasi tidak pernah dipahami sebagai sekadar perasaan terasing atau kondisi psikologis yang dapat dijelaskan melalui kelelahan kerja atau ketidakpuasan hidup. Yang dibongkar Marx jauh lebih dalam: alienasi adalah kerusakan dalam cara manusia berhubungan—baik dengan hasil kerjanya, dengan aktivitasnya sendiri, maupun dengan manusia lain. Maka pusat persoalan bukan pada batin manusia, tetapi pada bentuk relasi yang mengikat manusia dalam kehidupan sehari-hari.
Avineri menekankan bahwa dalam kondisi normal—dalam arti kondisi yang tidak terdistorsi—hubungan manusia dengan dunia adalah hubungan yang mencerminkan dirinya sendiri. Manusia bekerja, menghasilkan sesuatu, dan dalam hasil itu manusia mengenali dirinya. Tetapi dalam struktur yang dianalisis Marx, hubungan ini terputus. Hasil kerja berdiri berhadapan dengan manusia sebagai sesuatu yang asing. Yang dihasilkan tidak lagi menjadi cermin, melainkan menjadi kekuatan yang terpisah.
Namun Avineri menunjukkan bahwa titik paling tajam dari alienasi bukan pada hubungan manusia dengan benda, melainkan pada hubungan manusia dengan manusia lain. Ketika struktur produksi mengubah kerja menjadi aktivitas yang dipaksakan oleh kebutuhan, maka orang lain tidak lagi hadir sebagai sesama yang berbagi dunia, tetapi sebagai bagian dari mekanisme yang sama-sama menekan. Hubungan sosial kehilangan sifat langsungnya sebagai hubungan antarmanusia dan berubah menjadi hubungan yang dimediasi oleh fungsi, peran, dan kepentingan.
Lebih lanjut, Avineri mengaitkan ini dengan analisis Marx tentang relasi antara laki-laki dan perempuan. Relasi ini disebut sebagai relasi paling “alamiah,” bukan dalam arti biologis semata, tetapi karena di dalamnya terlihat dengan jelas apakah manusia mampu hadir bagi manusia lain sebagai pribadi, atau justru mereduksinya menjadi objek. Jika dalam relasi paling dekat pun manusia memperlakukan yang lain sebagai milik atau alat, maka seluruh struktur sosial telah mengalami distorsi yang mendalam. Di sini, alienasi tidak lagi abstrak; alienasi menjadi nyata dalam cara manusia menyentuh, menginginkan, dan mengakui yang lain.
Lebih jauh, Avineri membaca bahwa alienasi bukanlah sesuatu yang dapat diperbaiki dengan niat baik. Bahkan jika individu berusaha bersikap adil atau penuh empati, struktur yang ada tetap memaksa hubungan ke arah yang sama. Karena itu, Marx tidak berbicara tentang perbaikan moral, tetapi tentang perubahan kondisi yang membuat hubungan manusiawi menjadi mungkin. Selama hubungan sosial dibangun di atas kepemilikan eksklusif dan kerja yang terpisah dari pelakunya, selama itu pula manusia akan terus mengalami keterasingan.
Dalam kondisi alienasi, sifat sosial manusia tidak hilang. Manusia tetap bergantung satu sama lain, tetapi ketergantungan itu tidak dikenali sebagai hubungan yang bermakna. Ketergantungan tersebut hadir sebagai tekanan yang tidak dipahami, sebagai kebutuhan yang harus dipenuhi tanpa pernah menjadi hubungan yang disadari. Inilah yang membuat alienasi begitu dalam: manusia tetap hidup bersama, tetapi tidak mengalami kebersamaan itu sebagai bagian dari dirinya.
Dengan demikian, Avineri menunjukkan bahwa alienasi adalah bentuk di mana social man tidak dihapus, tetapi dibalik. Sifat sosial manusia tetap ada, tetapi muncul dalam bentuk yang terdistorsi. Karena itu, jalan keluar tidak mungkin dengan kembali ke individu yang tertutup, melainkan dengan memulihkan bentuk relasi itu sendiri. Ketika hubungan antarmanusia kembali memungkinkan pengakuan yang utuh—bukan sebagai alat, bukan sebagai milik—di situlah manusia mulai keluar dari kondisi keterasingannya.
Properti, Keluarga, dan Relasi Intim: Ujian Paling Konkret bagi Social Man
Ketika Shlomo Avineri memahami Karl Marx, kritik terhadap properti privat tidak pernah berdiri sendiri sebagai isu ekonomi semata. Properti adalah bentuk relasi sosial yang paling telanjang, karena di dalamnya terlihat bagaimana manusia menempatkan manusia lain. Apakah hubungan tersebut membuka ruang pengakuan, atau justru menciptakan pemisahan yang kaku. Karena itu, ketika Marx membahas properti, yang dipersoalkan bukan hanya distribusi benda, tetapi bentuk hubungan yang tercipta dari cara manusia memiliki.
Avineri menyoroti bahwa dalam tradisi modern, properti dipahami sebagai hak eksklusif yang memberi kuasa penuh atas sesuatu. Konsep ini menjadikan kepemilikan sebagai wilayah tertutup, di mana orang lain tidak memiliki tempat kecuali sebagai pihak luar. Dalam kerangka ini, relasi sosial secara perlahan dipindahkan menjadi relasi antara pemilik dan yang tidak memiliki. Yang satu menguasai, yang lain berada dalam posisi bergantung. Di titik ini, properti tidak lagi netral; properti menjadi mekanisme yang membentuk jarak antarmanusia.
Namun yang lebih tajam dalam pembacaan Avineri adalah bagaimana Marx melihat dampak logika ini pada relasi paling dekat: keluarga dan hubungan antara laki-laki dan perempuan. Marx tidak berbicara tentang keluarga sebagai institusi moral yang stabil, tetapi sebagai bentuk hubungan yang juga dapat terdistorsi oleh logika kepemilikan. Ketika relasi intim dibangun atas dasar penguasaan, maka yang terjadi bukan pertemuan dua pribadi, tetapi hubungan antara yang memiliki dan yang dimiliki.
Di sini, relasi antara laki-laki dan perempuan menjadi semacam cermin bagi seluruh masyarakat. Marx menyebutnya sebagai relasi yang paling “alamiah,” karena di dalamnya kebutuhan manusia muncul secara langsung, tanpa banyak perantara. Justru karena kedekatannya, relasi ini memperlihatkan dengan jelas apakah manusia mampu mengakui yang lain sebagai pribadi yang setara, atau justru mereduksinya menjadi objek dari kebutuhan dan keinginan. Jika dalam hubungan sedekat ini manusia gagal hadir sebagai manusia, maka kegagalan itu bukan kasus individual, tetapi gejala dari struktur yang lebih luas.
Avineri membaca bagian ini sebagai titik di mana konsep social man diuji secara konkret. Tidak cukup mengatakan bahwa manusia adalah makhluk sosial; yang harus dilihat adalah bagaimana sosialitas itu mengambil bentuk dalam relasi sehari-hari. Jika relasi tersebut didominasi oleh logika kepemilikan, maka sosialitas yang muncul adalah sosialitas yang rusak. Manusia tetap berhubungan, tetapi hubungan itu tidak memungkinkan pengakuan yang utuh.
Lebih jauh, Marx menunjukkan bahwa konsep “kepentingan umum” tidak dapat berdiri jika relasi konkret antarmanusia telah terfragmentasi. Kepentingan umum tidak lahir dari abstraksi, tetapi dari pengalaman nyata hidup bersama. Ketika hubungan paling dekat pun telah dipecah oleh kepentingan privat, maka gagasan tentang kebersamaan hanya menjadi kata-kata tanpa dasar.
Dengan demikian, Avineri menegaskan bahwa kritik Marx terhadap properti dan keluarga bukan serangan terhadap institusi itu sendiri, tetapi terhadap bentuk relasi yang membuat manusia gagal menjadi manusia bagi manusia lain. Social man tidak dapat diwujudkan dalam dunia di mana yang lain selalu hadir sebagai sesuatu yang dapat dimiliki. Ia hanya mungkin muncul ketika hubungan antarmanusia tidak lagi diatur oleh logika penguasaan, tetapi oleh pengakuan yang tidak memisahkan.
Menghapus Oposisi Palsu: Individu dan Masyarakat sebagai Satu Realitas
Salah satu titik paling halus namun menentukan dalam pemikiran Karl Marx adalah penolakannya terhadap pemisahan tegas antara individu dan masyarakat. Pemisahan ini tampak begitu wajar dalam tradisi modern, seolah-olah individu adalah sesuatu yang nyata, sementara masyarakat hanyalah kumpulan dari individu-individu tersebut. Marx membalik arah pemahaman ini sampai ke dasarnya.
Individu tidak pernah hadir sebelum masyarakat. Yang ada adalah manusia yang sejak awal terbentuk di dalam jaringan relasi yang telah ada sebelumnya. Cara berpikir, cara bekerja, bahkan cara memahami diri, semuanya mengambil bentuk dari dunia sosial yang lebih dahulu hadir. Maka ketika individu tampak berdiri sendiri, yang terlihat sebenarnya adalah hasil dari proses sosial yang panjang, bukan titik awal yang otonom.
Avineri membaca ini sebagai pembongkaran terhadap cara berpikir yang memisahkan kehidupan pribadi dan kehidupan sosial. Dalam kerangka Marx, kehidupan individual selalu merupakan ekspresi dari kehidupan sosial. Bahkan tindakan yang paling personal tetap membawa jejak dunia bersama. Tidak ada pengalaman yang sepenuhnya terisolasi dari struktur relasi yang lebih luas.
Pemisahan antara individu dan masyarakat menciptakan masalah yang tidak pernah selesai. Di satu sisi, individu ingin mempertahankan kebebasannya. Di sisi lain, masyarakat menuntut keteraturan. Ketegangan ini terus muncul karena keduanya diperlakukan sebagai entitas yang saling berhadapan. Marx melihat bahwa ketegangan tersebut bukan masalah yang harus diseimbangkan, melainkan tanda bahwa cara berpikirnya keliru.
Avineri menegaskan bahwa bagi Marx, individu dan masyarakat bukan dua kutub yang harus dipertemukan. Keduanya adalah dua sisi dari satu kenyataan yang sama. Individu tidak hilang dalam masyarakat, tetapi hanya dapat berkembang di dalamnya. Sebaliknya, masyarakat tidak berdiri di luar individu, tetapi hidup melalui aktivitas konkret manusia.
Pemahaman ini mengubah cara melihat kebebasan. Kebebasan tidak lagi dipahami sebagai ketiadaan hubungan, tetapi sebagai kemampuan untuk hadir dalam relasi yang tidak bersifat menekan. Individu tidak menjadi bebas dengan menarik diri dari yang lain, melainkan dengan berada dalam hubungan yang memungkinkan pengakuan timbal balik.
Dengan demikian, Avineri menunjukkan bahwa konsep social man tidak menghapus individu, tetapi mengembalikannya ke tempat yang sebenarnya. Individu bukan pusat yang tertutup, melainkan titik di mana kehidupan sosial mengambil bentuk. Ketika oposisi palsu ini dihapus, yang muncul bukan dominasi kolektif atas individu, tetapi kemungkinan bagi manusia untuk hidup tanpa harus memisahkan dirinya dari yang lain.
Komunisme sebagai Pemulihan Manusia Sosial
Komunisme pada Karl Marx tidak dapat dipahami sebagai sekadar rancangan sistem ekonomi atau bentuk negara tertentu. Komunisme muncul sebagai konsekuensi dari analisis tentang manusia itu sendiri. Ketika manusia dipahami sebagai makhluk yang hanya dapat ada melalui relasi, maka bentuk masyarakat yang memisahkan manusia dari relasinya harus dilampaui. Di sinilah komunisme memperoleh maknanya.
Komunisme tidak dimulai dari gagasan tentang distribusi, tetapi dari pemulihan hubungan. Yang ingin diubah bukan hanya siapa yang memiliki apa, tetapi bagaimana manusia berhubungan satu sama lain dalam seluruh aktivitas hidup. Jika dalam kondisi sebelumnya relasi dibentuk oleh kepemilikan, kebutuhan, dan keterpaksaan, maka dalam kondisi baru relasi tersebut harus memungkinkan manusia hadir tanpa perantara yang memisahkan.
Avineri menekankan bahwa tujuan ini tidak dapat dicapai melalui perubahan moral semata. Seruan untuk saling menghargai tidak cukup ketika struktur kehidupan sehari-hari justru mendorong arah sebaliknya. Karena itu, perubahan harus menyentuh kondisi konkret di mana manusia bekerja, berproduksi, dan memenuhi kebutuhannya. Tanpa perubahan pada tingkat ini, relasi yang diharapkan tidak akan pernah muncul.
Dalam kerangka ini, komunisme tidak menghapus individualitas. Yang dihapus adalah bentuk hubungan yang membuat individu terpisah dari yang lain. Individu tetap berbeda, tetapi perbedaan tersebut tidak lagi menjadi dasar dominasi. Perkembangan seseorang tidak berdiri berlawanan dengan perkembangan orang lain. Justru perkembangan itu saling membuka kemungkinan.
Avineri membaca bahwa dalam kondisi seperti ini, kerja tidak lagi menjadi aktivitas yang memisahkan manusia dari dirinya. Kerja kembali menjadi cara manusia menegaskan dirinya dalam dunia bersama. Hasil kerja tidak berdiri sebagai kekuatan asing, melainkan sebagai bagian dari kehidupan yang diakui bersama. Dengan demikian, hubungan manusia dengan dunia dan dengan sesama tidak lagi terpecah.
Perubahan ini juga menyentuh cara manusia memahami kebutuhan. Kebutuhan tidak lagi dilihat sebagai dorongan privat yang harus dipenuhi secara terpisah, tetapi sebagai bagian dari kehidupan yang saling terkait. Dalam kondisi ini, kebutuhan seseorang tidak secara otomatis menjadi ancaman bagi yang lain. Yang muncul adalah kemungkinan untuk melihat kebutuhan sebagai sesuatu yang dapat dipenuhi dalam kerangka bersama.
Dengan demikian, komunisme dalam pembacaan Avineri bukanlah utopia yang berdiri di luar realitas, tetapi arah yang muncul dari analisis tentang kondisi manusia itu sendiri. Ketika relasi yang memisahkan digantikan oleh relasi yang memungkinkan pengakuan, di situlah social man tidak lagi menjadi konsep, tetapi menjadi bentuk kehidupan.
Social Man sebagai Kesadaran: Dari Realitas yang Tersembunyi ke Pengakuan
Dalam pembacaan Shlomo Avineri, satu hal yang sering luput adalah bahwa manusia dalam pengertian sosial menurut Karl Marx sebenarnya sudah selalu ada. Yang menjadi persoalan bukan ketiadaan sosialitas, melainkan ketidaksadaran atasnya. Manusia hidup dalam jaringan relasi, tetapi tidak mengenali jaringan tersebut sebagai bagian dari dirinya sendiri. Di sinilah letak kedalaman konsep social man—bukan sebagai sesuatu yang harus diciptakan dari nol, tetapi sesuatu yang harus disadari kembali.
Kesadaran ini tidak muncul secara otomatis. Dalam kondisi yang dianalisis Marx, relasi sosial justru tampil dalam bentuk yang terbalik. Hubungan antarmanusia tampak sebagai hubungan antara benda, antara kepemilikan, atau antara fungsi. Yang sebenarnya merupakan hubungan hidup menjadi tampak seperti sesuatu yang kaku dan terpisah. Manusia tidak melihat dirinya dalam relasi tersebut, karena relasi itu tidak lagi mencerminkan dirinya.
Avineri menekankan bahwa kondisi ini membuat manusia hidup dalam dunia yang tidak dikenali. Dunia yang sebenarnya dibentuk oleh aktivitas manusia sendiri justru tampil sebagai sesuatu yang asing. Ini bukan sekadar masalah persepsi, tetapi akibat dari struktur yang membuat hasil aktivitas manusia berdiri terpisah dari pelakunya. Kesadaran pun mengikuti bentuk dunia tersebut: terpecah, tidak utuh, dan kehilangan arah.
Di titik ini, kesadaran tentang social man menjadi penting. Bukan sebagai teori abstrak, tetapi sebagai cara untuk melihat kembali realitas yang selama ini tersembunyi. Ketika manusia mulai memahami bahwa kehidupannya selalu terkait dengan kehidupan orang lain, cara melihat dunia pun berubah. Yang sebelumnya tampak sebagai hubungan antara benda mulai terlihat sebagai hubungan antara manusia.
Namun, Avineri menunjukkan bahwa kesadaran saja tidak cukup. Kesadaran tanpa perubahan kondisi hanya akan menghasilkan ketegangan baru. Manusia mungkin memahami keterhubungannya dengan yang lain, tetapi tetap terjebak dalam struktur yang memaksanya bertindak seolah-olah terpisah. Karena itu, kesadaran harus berjalan bersama perubahan nyata dalam cara hidup bersama.
Dalam kerangka ini, social man bukan sekadar deskripsi tentang manusia, tetapi juga arah bagi perubahan. Kesadaran tentang sifat sosial manusia membuka kemungkinan untuk mengubah relasi yang ada. Bukan dengan menambahkan aturan, tetapi dengan mengubah cara manusia berhubungan dalam produksi, dalam kepemilikan, dan dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan demikian, Avineri menutup pembacaannya dengan satu titik penting: manusia tidak perlu menjadi sesuatu yang lain untuk menjadi manusia. Yang diperlukan adalah menghapus bentuk-bentuk relasi yang menyembunyikan sifat sosial tersebut. Ketika relasi itu berubah, manusia tidak menemukan sesuatu yang baru, tetapi menemukan dirinya sendiri—sebagai makhluk yang sejak awal hanya dapat hidup dalam kebersamaan.
Social Man dan Sejarah: Manusia sebagai Proses, Bukan Entitas Tetap
Manusia sosial tidak pernah dipahami sebagai sesuatu yang statis. Tidak ada “hakikat manusia” yang berdiri di luar waktu. Yang ada adalah manusia yang terus terbentuk melalui proses sejarah, melalui perubahan dalam cara manusia berhubungan satu sama lain dalam produksi dan kehidupan bersama.
Ini berarti bahwa social man bukan gambaran ideal yang berada di luar realitas, melainkan sesuatu yang bergerak di dalam sejarah itu sendiri. Bentuk relasi sosial selalu berubah, dan bersama itu, bentuk manusia juga berubah. Manusia tidak membawa sifat sosial sebagai sesuatu yang tetap, tetapi terus membentuk dan dibentuk oleh kondisi sosial yang ada.
Avineri menekankan bahwa inilah perbedaan penting antara Marx dan pendekatan yang lebih abstrak. Jika manusia dipahami secara tetap, maka perubahan sosial hanya akan dilihat sebagai perubahan eksternal. Namun dalam kerangka Marx, perubahan sosial berarti perubahan dalam diri manusia itu sendiri. Ketika cara manusia bekerja berubah, cara manusia melihat dirinya juga berubah.
Di sini terlihat bahwa alienasi bukan sekadar kondisi sementara, tetapi bagian dari fase historis tertentu. Manusia tidak selalu teralienasi, tetapi menjadi teralienasi dalam kondisi tertentu. Ini membuka kemungkinan bahwa kondisi tersebut juga dapat diubah. Dengan kata lain, keterasingan bukan nasib, melainkan hasil dari struktur yang dapat diganti.
Lebih jauh, Avineri membaca bahwa sejarah dalam Marx bukan sekadar rangkaian peristiwa, tetapi proses di mana manusia secara perlahan mengenali dirinya. Setiap bentuk masyarakat mengandung kemungkinan untuk melampaui dirinya sendiri. Kontradiksi yang muncul dalam relasi sosial bukan kebetulan, tetapi tanda bahwa bentuk tersebut tidak lagi mampu menampung potensi manusia.
Dalam konteks ini, social man menjadi arah yang tersembunyi dalam sejarah. Bukan karena sejarah memiliki tujuan yang sudah ditentukan, tetapi karena sifat sosial manusia terus menekan batas-batas yang membatasinya. Ketika relasi yang ada tidak lagi memungkinkan pengakuan yang utuh, maka dorongan untuk mengubahnya akan muncul dari dalam kehidupan itu sendiri.
Akhirnya, Avineri menunjukkan bahwa manusia dalam Marx bukan entitas yang harus disesuaikan dengan dunia, tetapi makhluk yang mengubah dunia sekaligus dirinya. Sejarah bukan panggung di mana manusia sekadar bergerak, tetapi proses di mana manusia menjadi. Dalam proses ini, social man bukan titik akhir yang sudah selesai, melainkan gerak terus-menerus menuju bentuk kehidupan di mana manusia tidak lagi terpisah dari manusia lain.
Praksis dan Social Man: Manusia sebagai Tindakan yang Mengubah Dunia
Social man tidak pernah berhenti pada deskripsi tentang manusia. Konsep ini selalu bergerak menuju tindakan. Manusia tidak hanya dipahami sebagai makhluk yang hidup dalam relasi, tetapi juga sebagai makhluk yang secara aktif membentuk relasi tersebut melalui aktivitasnya. Di sinilah praksis menjadi pusat.
Praksis bukan sekadar kerja dalam arti sempit. Praksis adalah seluruh aktivitas di mana manusia berhubungan dengan dunia dan dengan manusia lain secara sadar. Dalam aktivitas ini, manusia tidak hanya menyesuaikan diri dengan kondisi yang ada, tetapi juga mengubahnya. Dunia sosial bukan sesuatu yang tetap; dunia tersebut terus dibentuk oleh tindakan manusia itu sendiri.
Avineri menekankan bahwa dalam kerangka ini, kesadaran tidak berdiri terpisah dari tindakan. Manusia tidak terlebih dahulu memahami dunia secara utuh, baru kemudian bertindak. Pemahaman justru tumbuh dalam proses tindakan. Ketika manusia bekerja, berinteraksi, dan berjuang, di situlah kesadaran tentang dirinya sebagai makhluk sosial mulai terbentuk.
Namun dalam kondisi yang dianalisis Marx, praksis manusia terpecah. Aktivitas manusia tidak lagi menjadi ekspresi dari dirinya, tetapi menjadi sesuatu yang diarahkan oleh kebutuhan eksternal. Tindakan kehilangan maknanya sebagai tindakan manusia, dan berubah menjadi respon terhadap tekanan. Di sini, manusia tidak berhenti bertindak, tetapi kehilangan dirinya di dalam tindakan tersebut.
Karena itu, pemulihan social man tidak mungkin terjadi tanpa pemulihan praksis. Hubungan sosial tidak akan berubah jika cara manusia bertindak tetap berada dalam kerangka lama. Perubahan harus muncul dalam aktivitas konkret: dalam cara bekerja, dalam cara berhubungan, dalam cara memenuhi kebutuhan bersama. Tanpa perubahan ini, konsep hanya akan tinggal sebagai pemahaman yang tidak memiliki daya.
Avineri membaca bahwa di sinilah letak radikalitas Marx. Perubahan tidak dimulai dari ide yang berdiri di atas realitas, tetapi dari tindakan yang mengubah realitas itu sendiri. Manusia tidak menunggu kondisi ideal untuk menjadi sosial; manusia menjadi sosial melalui proses mengubah kondisi yang menghalangi hubungan tersebut.
Akhirnya, social man menemukan bentuknya bukan dalam teori, tetapi dalam praksis yang hidup. Ketika manusia bertindak bersama tanpa menjadikan yang lain sebagai alat, ketika kerja menjadi ruang pengakuan, dan ketika hubungan tidak lagi dimediasi oleh kepemilikan yang memisahkan, di situlah manusia tidak hanya memahami dirinya sebagai makhluk sosial, tetapi benar-benar menjalaninya.
About The Author
Kamaruzzaman Bustamam Ahmad
Prof. Kamaruzzaman Bustamam Ahmad (KBA) has followed his curiosity throughout life, which has carried him into the fields of Sociology of Anthropology of Religion in Southeast Asia, Islamic Studies, Sufism, Cosmology, and Security, Geostrategy, Terrorism, and Geopolitics. Prof. KBA is the author of over 30 books and 50 academic and professional journal articles and book chapters. His academic training is in social anthropology at La Trobe University, Islamic Political Science at the University of Malaya, and Islamic Legal Studies at UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. He received many fellowships: Asian Public Intellectual (The Nippon Foundation), IVLP (American Government), Young Muslim Intellectual (Japan Foundation), and Islamic Studies from Within (Rockefeller Foundation). Currently, he is Dean of Faculty and Shariah, Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry, Banda Aceh, Indonesia.
