#37 Cerita Dibalik Touring Indonesia Harmoni: Rute Pulau Jawa

Kamaruzzaman Bustamam Ahmad

 

Jam
12:30 saya minta izin menuju ke Magelang dan seterusnya ke Yogyakarta. Hujan
pun sangat lebat sekali. Saat keluar dari rumah Wardayani, dia memberitahukan
bahwa kami akan melewati jalan yang akan sedikit mendaki. Karena jalan tersebut
dekat dengan Gunung Merbabu Begitu turun dari puncaknya, akan sampai ke
Magelang. Sore itu, kami berniat menuju rumah sahabat, Mohd. Iflah di Pabelan.
Dalam suasana hujan rintik-rintik saya mengendarai Nyak Ver. Begitu mengarah ke
Magelang, jalanan mulai menanjak. Inilah yang paling saya khawatirkan. Sebab,
terkadang begitu hendak jalan menanjak, sering kendaraan di depan kami berhenti
tiba-tiba. Walhasil, hari itu adalah hari Minggu. Banyak masyarakat yang
menggunakan jalan tersebut.


Dugaan
saya tidak keliru. Begitu menaiki jalan yang menanjak, kendaraan berhenti
mendadak persis di hadapan kami. Saya ingin memotong, namun kendaraan dari arah
berlawanan juga seperti mengepung kami menuju turunan. Ternyata ada kendaraan
yang mogoh di depan kami. Saya harus menghentikan Nyak Ver. Keseimbangan motor
ini hampir hilang. Kami mau jatuh. Sebab, menahan kendaraan motor ini di
tanjakan, tanpa tahu teknik yang benar, maka celaka akan hadir di depan mata.
Untuk menahan bebab motor, saya turunkan gigi ke angka satu, sambil menjaga
keseimbangan. Di belakang kami, mobil mulai klakson, karena saya harus menjaga
keseimbangan dengan mengurangi laju kendaraan, mengikuti kendaraan di hadapan
kami. Karena itu, Nyak Ver tidak kami gas secara spontan.

See also  #23 Cerita Dibalik Touring Indonesia Harmoni

Melihat
tanjakan yang begitu ngeri. Jalan licin. Saya hampir putar balik  ke Salatiga untuk mencari jalur lain, menuju
Magelang. Namun, kami berusaha tenang dan terus menjaga jarak dengan kendaraan
di depan dan belakang. Klakson mobil di depan dan belakang, betul-betul
mengintimadi konsentrasi saya. Kunci lain yang saya pegang memang harus menjaga
jarak aman, kemudian gigi tetap di angka satu, sambil menjaga keseimbang, jika
sewaktu-waktu ada lobang atau kendaraan berhenti mendadak.


Drama
di jalan ini memang sudah sering saya hadapi, saat berada di tanjakan,
khususnya jika ada truk atau bus di depan. Jadi, ketenangan dan konsentrasi
adalah hal yang mutlak saya fokuskan. Jalan yang terus naik dan kendaraan yang
tidak tertib, ditambah hujan, memang bukan keadaan yang cocok untuk menikmati
pemandangan. Belum lagi, dari arah berlawanan, ada romgongan Harley Davidson
yang turun dengan suara mesin yang memekakkan telinga. Perlahan-lahan saya pacu
Nyak Ver sambil mengingatkan istri supaya tidak banyak bergerak di atas motor
ini, karena akan berefek pada keseimbangan. Sebab, barang di motor kami pun
semakin bertambah. Wardayani juga menitipkan oleh-oleh untuk kami.

Begitu
arah turunan, saya mulai menikmati perjalanan. Mohd. Iflah lalu mengirimkan
GPS, arah ke rumahnya di Pabelan. Dengan begitu, kami harus keluar dari kota
Magelang menuju Pabelan. Rumahnya persis di areal Pesantren Pabelan. Jam 4 sore
kami sampai di rumah Mohd. Iflah. Rumahnya sangat sederhana dan sejuk sekali.
Sebab berada di pinggir sawah. Di depan rumah ada pohon Bambun dan aliran air
yang berbunyi sangat merdu sekali. Kami sangat suka berada di rumah Mohd.
Iflah. Dia juga sahabat saya saat kuliah di Yogyakarta. Kami akhirnya bertukar
cerita dan menikmati secangkir teh sore. Keluarganya sangat ramah.

See also  The Stories of Perantau in Nusantara (#03)


Mohd.
Iflah sudah pernah bekerja di beberapa tempat di Nusantara. Bahkan dia pernah
bekerja di Malaysia. Pengalaman merantau juga tidak kalah untuk dinikmati.
Sekarang sudah pulang kampung dan menikmati hidup sebagai aparatur pedesaan.
Anaknya sudah mulai selesai kuliah. Kebetulan, Iflah menikah saat masih duduk
di bangku kuliah. Jadi, sangat wajar, jika anaknya sudah mau selesai kuliah.
Kami memang akrab semasa kuliah. Dia kerap pergi kuliah bersama istri, sambil
membawa anak di gendongan. Kebetulan istri Iflah satu kampus dengan kami.


Also Read

Bagikan:

Tags

Leave a Comment