#26 Cerita Dibalik Touring Indonesia Harmoni

Kamaruzzaman Bustamam Ahmad

 


Berita
meninggal Abang Syamsul juga tersebar luas di Banda Aceh. Sembari menanti tamu
yang datang bersilih ganti, kami juga mendapatkan kabar bahwa ada Seminar
Proposal di UIN Imam Bonjol yang harus kami hadiri.  Acara tersebut dilaksanakan pada tanggal 3-5 di
Padang. Di samping, ada juga acara lain yang harus kami hadiri di Banda Aceh,
dalam rangka penyusunan Rancangan Pergub Grand Desain Syariat Islam Aceh. Jadi,
saya memastikan bahwa kami akan ke Surabaya menjemput Nyak Ver, setelah dua
agenda tersebut terselesaikan oleh saya.

Jadi,
tanggal 3 November 2021, kami memutuskan kembali menjemput Nyak Ver, yang sudah
sampai di Surabaya pada tanggal 30 Oktober 2021. Adapun rute kali ini adalah
Banda Aceh – Padang Surabaya. Awalnya, saya membeli tiket pesawat dari Banda
Aceh hingga ke Surabaya, dengan transit di Padang menghadiri acara Seminar
Proposal Penelitian di UIN Imam Bonjol. Hanya saja, kali ini kami harus
melakukan Swab Anti Gen, bukan PCR
untuk naik ke pesawat. Dengan begitu, dana kami tidak akan lagi terkuras,
sebagaimana pengalaman di Pulau Jawa dan Makassar.

Tanggal
3 November, kami naik pesawat dengan membawakan kembali semua peralatan
touring: baju, helm, baju, dan peralatan lainnya. Begitu naik pesawat, istri
saya mulai lemas dan mengeluh takut naik pesawat Wing Air. Awalnya, dia memang ngotot
ingin naik bus ke Padang dan Surabaya. Namun, untuk hemat tenaga, saya
tetap memesan tiket pesawat. Sejak take
off
hingga sampai di Medan, dia terus mengeluh dengan keadaan pesawat dan
cuaca yang tidak bersahabat. Bahkan dia hampir pinsang begitu naik dari
Kualanamu menuju Padang.

See also  Inspirasi Dari Para Biker Terhadap Touring Keilling Indonesia Harmoni: Naik Motor dari Aceh ke Papua

Sesampai
di Padang, dia terus mengeluh bahwa tidak mau naik pesawat ke Surabaya. Takut.
Akhirnya, saya mengalah untuk tidak naik pesawat, walaupun tiketnya sudah
terbeli. Tentu saja, untuk refund ada
dana yang harus diambil oleh maskapai. Namun, saya tidak memperhatikan
tersebut. Lalu dia memilih naik bus dari Padang ke Surabaya. Kali ini, dia
memesan bus Sembodo, yang berangkat dari Bukit Tinggi ke Jakarta. Saya hanya
mengiyakan saja. Melalui agen bus di Bukit Tinggi terbeli, walaupuan lebih
mahal pesawat Cuma 250 ribu ke Surabaya. Mungkin dia ketagihan naik bus, saat
kembali dari Surabaya ke Aceh.

Tanggal
7 November 2021, kami naik lagi bus dari Padang ke Surabaya. Kebetulan bus
Sembodo menjemput penumpang yang ke Jakarta di Padang, kemudian di bawa ke
Solok. Lantas, di sana baru dinaikkan bus yang akan menuju Jakarta. Bus Sembodo
lumayan bagus dan mewah, sebagaimana tertera dalam berita di media sosial.
Namun, semua itu rupanya tidak seperti yang diharapkan oleh istri saya. Lalu
dia kembali agak kecewa dengan keadaan bus. Rupanya bus yang tampak di brosur bukan bus yang kami naiki.

Also Read

Bagikan:

Tags

Leave a Comment